Tak Ada Kata “SULIT!” Dalam Menghapal Al-Qur’an ^_^


Pada umumnya, biografi para tokoh dari ulama yang sering kita baca menggambarkan mereka telah hebat sejak belia. Ketika usia balita telah mampu menghapal Al-Qur’an, masa kanak-kanak yang dihiasi dengan thalabul ‘ilmi dan kecerdasan yang telah nampak sejak usia dini. Bagi orang yang ‘terlanjur’ dewasa, kisah seperti itu terkadang hanya sebagai hiburan dan hanya bisa menikmati kekaguman terhadap figur ulama. Sebagian lagi menjadikannya sebagai motivasi dalam mendidik anak-anaknya.

Peluang Masih Ada

Yang paling disayangkan, kisah-kisah seperti itu malah ‘membunuh’ motivasi sebagian orang dewasa yang merasa masih biasa-biasa saja dan tak memiliki kemampuan istimewa. Timbul rasa pesimis dibenaknya, “Masa kecilku tak sehebat mereka, masa mudaku tak sebrilian mereka, kini aku sudah tua, tak mungkin lagi bisa hebat seperti mereka.”

Motto salah alamat pun sering dijadikan alasan. “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar di usia dewasa bagai mengukir di atas air.” Ia pun merasa sia-sia untuk belajar. Sesekali mendendangkan motto, “Barangsiapa tidak menanam benih (di usia muda) tak akan menuai hasil panen (di usia tua)”. Kemudian ia merasa sudah tua dan terlambat untuk mencoba. Mengapa kita tidak ambil motto lain yang lebih cocok dengan usia kita dan lebih memotivasi diri. Seperti perkataan Ahnaf bin Qais untuk mengimbangi motto yang pertama, “Wal kabiiru aktsaru ‘aqlan”, tetapi orang tua lebih banyak akal. Orang dewasa memiliki kreativitas untuk mengembangkan potensi. Mereka punya banyak cara yang bisa dicoba, tidak sebagaimana anak kecil yang hanya bisa berbuat sesuai dengan apa yang dicontohkan kepadanya.

Kenapa pula kita tidak menggunakan motto, “Jangan katakan kesempatan telah berlalu, karena siapa berusaha niscaya sampailah ia ke tempat yang dituju.” Bukankah seandainya kiamat tinggal sehari, lalu di tangan kita ada biji tanaman yang siap kita tanam, kita diperintahkan untuk menanamnya? Ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan yang kita usahakan tidaklah sia-sia.

Sejarah juga tidak hanya menyajikan sosok-sosok yang istimewa sedari kanak-kanak. Ada yang biasa-biasa saja seperti Malik bin Dinar, setelah putrinya meninggal ia bertaubat sekaligus memulai belajar agama di usia dewasa. Bahkan ulama kenamaan di zaman tabi’in Fudhail bin ‘Iyadh lebih gelap lagi latar belakangnya. Dahulunya ia seorang perampok. Setelah bertaubat dan belajar akhirnya menjadi ulama besar.

Dari zaman ke zaman, selalu ada contoh-contoh yang mewakili sebagai orang-orang biasa, namun menjadi luar biasa karena kesungguhannya yang luar biasa. Seperti yang dilakukan oleh seorang warga Saudi bernama Malik Muhammad Abdul Malik. Meski sudah lebih dari 60 tahun usianya dan mata pencahariannya sebagai seorang sopir, tak menghalangi dirinya untuk mengikuti halaqoh tahfizh Al-Qur’an. Hingga akhirnya beliau mampu menyelesaikan hapalan 30 juz selama 15 tahun.

Motivasi yang beliau pegang adalah, “Jika tekad sudah bulat, maka yang susah akan terasa mudah.”

Muna Sa’id al-Ulaiwah dalam bukunya Qishshati fi hifzhil Qur’an mengisahkan ada kakek tua berumur 80 tahun mendatangi salah seorang ustadz di Masjid Nabawi dan berkata, “Saya ingin menghapal Al-Qur’an, tolong ajari saya.”  Ustadz menjawab, “Wahai Bapak, umur Anda sudah tua, duduk saja bersama kami untuk mendengarkan.” Tapi dia tetap bersikukuh pada pendiriannya, “Tapi saya ingin menghapal.” Sang guru menyuruhnya membaca Al-Qur’an, tapi ia berkata, “Saya belum lancar membacanya, tolong ajari saya dari awal.” Tapi, siapa sangka lima tahun kemudian sang kakek telah hapal 30 juz, Allah tidak menyia-nyiakan usaha hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

Bagi sebagian kita yang merasa sibuk dengan urusan ma’isyah (pencaharian), ada baiknya menyimak kisah yang disebutkan Muna al-Ulawiah di buku tersebut. Yakni tentang sopir yang senantiasa menyempatkan diri untuk menghapal Al-Qur’an saat menanti pergantian lampu merah di persimpangan jalan. Ia bekerja sebagai sopir. Ia sengaja menyimpan musshaf di mobilnya, saat lampu merah menyala, ia sempatkan untuk membuka musshaf dan menghapalkan satu-dua baris dari ayat-ayat Al-Qur’an. Dia memberikan kesaksian tentang dirinya. “Aku hapal surat Al-Baqarah sepenuhnya di jalan saat menanti lampu merah.” Sangat berbeda dengan kebiasaan orang yang hanya melihat mobil di sekitarnya atau bahkan menggerutu dan mengungkapkan kekesalannya.

Jangan Berkata “Sulit!”

DR.Abdullah Mulhim menegaskan, “Seseorang bisa mewujudkan mimpi-mimpinya dengan cara mengubah pola pikirnya.” Ketika seseorang mengubah persepsi susah, sulit, sukar, mustahil diganti dengan mudah dan mungkin, ini sangat membantu seseorang untuk mewujudkan cita-citanya. Begitupun sebaliknya.

Masih di buku yang sama, Muna al-Ulaiwah mengisahkan seorang bapak yang memiliki anak yang sedang menghapalkan Al-Qur’an. Bapak itu bercerita, “Saya memiliki anak yang masih kecil, hapalannya sangat bagus. Setiap hari ia menghapal dan menyetorkan hapalannya kepada ustadznya satu setengah halaman dengan lancar. Dengan cara ini, ia telah hapal juz Amma, juz 29 dan juz 28. Saat hendak memulai juz ke-27, ia bertanya kepadaku, “Ayah, apakah saya memulai dari depan atau belakang?”. “Dari belakang saja, nak.” Kataku. Ia bertanya, “Kenapa dari belakang?”. Ku katakan, “Karena surat Al-Hadid itu sulit.”

Sang anak pun menurut, seperti biasanya ia mampu melalui surat demi surat dengan mudah. Namun, tatkala smapai pada Surat Al-Hadid, ia merasa kesulitan untuk menghapalnya, hingga butuh waktu selama satu setengah bulan untuk menghapalnya. Kenapa bisa sesulit itu? Karena telah ter-install di pikirannya bahwa menghapal Surat Al-Hadid itu sulit. Maka persepsi itu sangat mempengaruhi kemampuan seseorang. Begitupun dengan orang yang sudah dewasa, ketika telah terpatri dibenaknya bahwa menghapal itu sulit, maka kesulitan akan dialaminya.

Singkat kata, orang yang optimis, satu tekad saja sudah cukup baginya untuk menepis seribu halangan. Berbeda dengan orang yang pesimis, seribu alasan akan diungkapkan untuk menghindari satu tantangan. Pilihan selanjutnya terserah kita. Wallahu a’lam…,

Referensi : Majalah Ar-Risalah edisi 139


Sobat, pernah nggak kita bercita-cita atau mempunyai keinginan untuk menghapal 30 Juz Al-Qur’an. Dalam benak kita langsung terbayang Al-Qur’an yang begitu tebal dengan bahasa arab yang susah. Boro-boro 30 juz, juz 30 aja belum hapal semuanya. Tapi kenapa ada banyak orang yang bisa hapal Al-Qur’an. Tidak hanya orang arab saja. tapi orang selain arab juga banyak hapal Al-Qur’an.

Beberapa hari kemarin dirumah saya kebetulan ada dua orang adik yang masih berumur 15 tahun sudah hapal Al-Qur’an. Rencananya ia akan melanjutkan daurah Al-Qur’an di Gaza. Tempat anak-anak penghapal Al-Qur’an. Kita masih beruntung disini masih bisa belajar dan menghapal dengan tenang. Tapi disana, anak-anak Gaza menghapal Al-Qur’an di bawah desingan peluru dan bom.

Ada sebuah pertanyaan mungkin dalam diri kita, kenapa sih kita pusing-pusing ngapalin Qur’an? Apa manfaatnya bagi kita? Karena kita tidak mungkin mau melakukan sesuatu tanpa tahu apa manfaatnya bagi kita. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa orang yang hapal Al-Qur’an, maka pada hari kiamat nanti orang tuanya akan diberikan mahkota. Ya, mahkota dari surga.

Tidak hanya itu kawan, orang yang hapal Al-Qur’an sangat dimuliakan oleh Allah Swt. Sehingga dimanapun kita berada dan tanpa ada mushaf-pun, kita masih bisa tetap membaca Al-Qur’an. Maka tidak heran para sahabat dan tabi’in bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam seminggu. Karena mereka bisa membacanya dimana saja.

Setiap huruf yang kita baca akan dibalasi sepuluh kebaikan oleh Allah Swt. Maka beruntung sekali orang yang hidupnya dibawah naungan Al-Qur’an. Sebaliknya merugi sangat kata kawan saya orang Malaysia jika orang yang jauh dari Al-Qur’an. Jangankan untuk menghapal Al-Qur’an, membacanya saja tidak tahu berapa kali dalam seminggu.

Saya melihat orang-orang yang hapal Al-Qur’an dan mengamalakannya hidup mereka begitu tenang. Sebab lidah mereka selalu basah dengan Al-Qur’an. Tapi lihatlah wajah-wajah yang jauh dari Al-Qur’an, begitu kusam dan hidup dalam ketidak tenangan. Kata anak muda anak sekarang hidupnya selalu galau. Yah, karena sudah janji Allah.  Orang-orang yang membantah peringatan Kami kata Allah, maka akan Kami jadikan hidup mereka sempit.

Dari sekarang mari kita mulai untuk mengahapal Al-Qur’an. One Day One Ayat. Perlahan insya Allah bisa. Yang paling penting ada kemauan dalam diri dan optimis bahwa kita bisa menghapal seluruh Al-Qur’an. Sebab Allah akan memudahkan Al-Qur’an bagi yang ingin mengahapalnya. Berbeda dengan injil, tak pernah kita dengar orang yang hapal seluruh injil, apalagi Injil sekarang sesuai dengan bahasa masing-masing. Tapi tetap saja tidak ada yang hapal injil.

Masih banyak manfaat dan keuntungan orang yang hapal Al-Qur’an. Di sini di negeri kinanah terkadang kita malu dengan anak-anak SD yang masih kecil-kecil, tapi sudah hapal belasan juz, bahkan sudah selesai 30 juz. Itulah bedanya anak-anak Mesir dengan anak-anak Indonesia. Anak-anak Mesir dari kecil sudah diajari oleh orang tua mereka untuk menghapal Al-Qur’an. Bahkan saat ini musim panas, hampir rata-rata di masjid banyak terdapat daurah tahfidz Al-Qur’an.

Beruntunglah bagi orang tua yang anaknya hapal Al-Qur’an. Karena kunci kecerdasan anak itu adalah pada Al-Qur’an. jika ia sudah hapal Al-Qur’an maka akan mudah baginya untuk menguasai ilmu-ilmu lainnya. Insya Allah!

Tak ada kata terlambat dalam menghapal Al-Qur’an. Selagi kita masih hidup berarti kita masih punya kesempatan untuk menghapal Al-Qur’an. Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi 30 juz, hehehe

Semoga kita termasuk ahli Al-Qur’an. Orang yang hidupnya selalu bersama Al-Qur’an. Jadi seorang aktivis dakwah itu di dalam tasnya itu ada hape untuk berhubungan dengan manusia, dan ada Al Qur’an untuk selalu on with Allah. Kalo sekarang pada marak nikah dini, maka kita marakkan hafidz dini. Setuju.! 🙂

Betapa indahnya hidup bersama Al Qur’an, membacanya, mendengarkannya, merenungkannya, mentadabburinya dan menghapalkannya !

Postingan dari blog tetangga sebelah 🙂

http://yusuf-alfakhri.blogspot.com/2012/07/kecil-kecil-jadi-hafidz.html


Fatih Saferagic.

Dialah pemuda itu. Hafiz Qur’an, bersuara indah dan tampan pula 🙂
Masya Allah..
Tinggal dan menetap di Amerika Serikat bukan menjadi alasan baginya untuk tidak menghapal Al-Qur’an.
Akhi berkebangsaan Bosnia ini lahir di Stuttgart, Jerman dan sekarang tinggal di Texas, AS.
Pada umur 4 tahun ia pindah ke AS, tinggal di Arizona selama 3-4 tahun sebelum menetap di Baltimore, Maryland selama 7 tahun dimana ia memulai dan menuntaskan hapalan Al-Qurannya.

Sejatinya ia baru memulai menghapal Al-Qur’an pada usia 9 tahun dan menuntaskan hapalannya dalam 3 tahun, alias menjadi hafiz pada usia 12 tahun (catat! 12 tahun!). Ia melatih hapalannya itu di bawah bimbingan Syekh Qari Zahid dan Qari Abid.  Sekarang sambil sekolah, ia juga mengajar Al Qur’an dan menjadi ketua remaja mesjid Shaykh Yasir Birjas di Dallas, Texas.

Itu di Amerika loh, di negara adikuasa yang sama-sama kita tahu Islam masih menjadi minoritas.
So, bagaimana dengan kita?
di negara INDONESIA yang mayoritas adalah umat Islam.
Sudah hapal berapa juz?
Sudah berapa ayat hari ini?
#tanyakan pada diri sendiri

MANJADDA WAJADA!
Bukan masalah tempat, bukan masalah usia.
Hanya masalah kemauan dan kesungguhan.
Sungguh, betapa indahnya jika mampu menghapal 30 juz 🙂
#TARGETKAN!

Postingan dari blog tetangga sebelah 🙂

http://hadiahdi.wordpress.com/2012/06/16/fatih-seferagic/

Jujur, saya jadi termotivasi setelah membaca artikel-artikel di atas. Bagaimana dengan kamu sob?

Jadi termotivasi juga tho? So, pasti kan.., 🙂

Dan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits di bawah ini mengenai keutamaan menghapal Al-Qur’an:

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Sawbersabda:  “Penghapal Al-Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al-Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al-Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan jubah karamah. Kemudian Al-Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan”

[HR. Tirmidzi, hadits hasan (2916), Inu Khuzaimah, Al Hakim, ia menilainya hadits shahih]

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikanlah mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an” [Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilainya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568), dan disetujui oleh Adz Dzahabi]

Bismillah.., OPTIMIS PASTI BISA!
 Jika juz 30 sudah lancar dihapal setelah itu bener-bener bisa hapal 30 juz. Aamiin. 🙂


NB: Saya pernah berkata kepada anak saya, “Cita-cita Rasyid ingin jadi apa nanti?” Dijawab, “Ingin jadi pemain bola?”. Saya kaget, saya tanya kembali ke anaknya, “Kenapa ingin menjadi pemain bola ?”. Dijawab lagi oleh anak saya, “Pemain bola yang Hafal Al-Qur’an“. Alhamdulillah, baru deh lega hati saya mendengarnya 🙂

Sumber: http://pengukirpelangisenja.wordpress.com/2013/02/05/tak-ada-kata-sulit-dalam-menghafal-kalam-nya-_/

Editing kembali oleh Sofyan Efendi

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Sofyan Efendi

Leave a Reply

%d bloggers like this: