JAWABAN SINGKAT TERHADAP PERTANYAAN SEPUTAR MASALAH KEDOKTERAN

JAWABAN SINGKAT TERHADAP PERTANYAAN SEPUTAR MASALAH KEDOKTERAN
Dr. Yusuf Qardhawi                                       
 
Pertanyaan-pertanyaan  berikut  ini  cukup  menggoda   pikiran
dokter-dokter   muslim,  khususnya  yang  bertugas  di  negara
non-lslam. Maka dalam hal ini, kami memerlukan jawaban  secara
singkat agar mudah merincinya.
 
A. Wanita dan Kelahiran
 
Pertanyaan: Apa yang harus diucapkan saat bayi dilahirkan?
 
Jawaban: Diazani pada  telinga  kanannya  seperti  azan  untuk
shalat, sebagaimana yang dilakukan Nabi saw. ketika Hasan anak
Fatimah  dilahirkan,  agar  kalimat  pertama  yang  masuk   ke
telinganya adalah kalimat takbir dan tauhid.
 
Pertanyaan: Apakah bayi yang gugur wajib dishalati?
 
Jawaban: Bayi yang gugur tidak perlu dishalati kecuali jika ia
lahir dalam keadaan hidup, meskipun hanya beberapa menit.
 
Pertanyaan:  Sebagian  orang  beranggapan  bahwa  menggugurkan
kandungan  diperbolehkan  asalkan  janin  belum  berusia  tiga
bulan. Apakah pendapat ini benar?  Apa  yang  harus  dilakukan
orang  yang membantu menggugurkan kandungan yang belum berusia
tiga bulan, kalau pada waktu itu ia belum  mengerti  hukumnya?
Apakah  ia harus membayar kafarat pembunuhan suatu jiwa karena
perbuatannya itu?
 
Jawaban: Pada dasarnya --menurut pendapat  yang  saya  pandang
kuat-menggugurkan kandungan tidak diperbolehkan kecuali karena
udzur. Apabila dilakukan sebelum kandungan berusia empat puluh
hari,  maka  hal  itu  masih  ringan,  lebih-lebih  jika udzur
(alasannya) kuat. Adapun setelah kandungan berusia lebih  dari
empat puluh hari yang ketiga (yakni 120 hari) maka tidak boleh
digugurkan sama sekali.
 
Pertanyaan: Bagaimana  hukum  memasang  alat-alat  kontrasepsi
pada  wanita  dan  laki-laki  untuk  mencegah  kehamilan, baik
terhadap kaum muslim maupun terhadap orang nonmuslim?
 
Jawaban: Tidak boleh, karena hal itu berarti mengubah  ciptaan
Allah,  serta  termasuk  perbuatan dan penghias setan. Kecuali
dalam  keadaan  sangat  darurat,   misalnya   jika   kehamilan
membahayakan  si  ibu,  sedangkan  cara penanggulangan lainnya
tidak ada. Maka hal  ini  merupakan  darurat  individual  yang
jarang  terjadi, dan diukur dengan kadarnya, serta tidak boleh
dijadikan kaidah umum.
 
B. Masalah Amaliah
 
Pertanyaan: Bolehkah melakukan  shalat  sementara  di  pakaian
terdapat darah?
 
Jawaban:  Boleh,  apabila  darahnya  hanya sedikit, atau sukar
dibersihkan, karena menurut kaidah: "segala sesuatu yang sulit
dipelihara, maka ia dimaafkan."
 
Pertanyaan:   Bolehkah   melakukan   shalat   jika   kesulitan
mengetahui arah kiblat?
 
Jawaban: Apabila ia telah  berusaha  mencarinya  tetapi  belum
juga  dapat  mengetahui  arah  kiblat, atau yang mendekatinya,
maka bolehlah ia menghadap ke arah mana saja.  Dalam  hal  ini
Allah berfirman:
 
    "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun
    kamu menghadap, disitulah wajah Allah ..."(al-Baqarah:
    115)
 
Pertanyaan: Bagaimana hukum menjama'  shalat  apabila  seorang
dokter sangat sibuk misalnya ketika menghadapi persalinan?
 
Jawaban:  Dia  boleh  menjama  shalat  zuhur dengan asar, atau
shalat magrib dengan shalat isya',  baik  dengan  jama  taqdim
maupun  jama  ta'khir, mana yang dianggap mudah baginya, yaitu
dengan jama saja tanpa diqashar. Memperbolehkan menjama karena
udzur  adalah mazhab Imam Ahmad, berdasarkan hadits Ibnu Abbas
dalam kitab sahih (Muslim) .
 
Pertanyaan: Bagaimana hukum mengusap kaos kaki?
 
Jawaban: Enam belas orang  sahabat  Nabi  saw.  memperbolehkan
mengusap  kaos  kaki dengan syarat pada waktu memakainya harus
dalam keadaan suci. Orang yang mukim (berdomisili  di  kampung
halaman)  boleh  mengusap  kaos  kaki selama semalam, dan bagi
musafir selama tiga hari tiga malam.
 
Pertanyaan: Bagaimana cara mandi jinabat apabila terdapat  air
tetapi  tidak  dijumpai  tempat  untuk mandi, misalnya setelah
persalinan?
 
Jawaban: Dalam kondisi seperti  ini  air  dianggap  tidak  ada
menurut  hukum,  meskipun sebenarnya ada, sebab yang dijadikan
acuan ialah dapat mempergunakannya.  Sedangkan  dalam  kondisi
seperti  ini  kemampuan untuk mempergunakannya tidak ada. Oleh
karena itu bolehlah ia bertayamum.
 
Pertanyaan: Bolehkah melakukan shalat di sekitar  pancuan  air
jika   hanya   tempat  itu  satu-satunya  tempat  yang  cocok,
khususnya di negara-negara Barat?
 
Jawaban: Keadaan darurat  mempunyai  hukum  tersendiri.  Dalam
suatu hadits Rasulullah saw. bersabda:
 
    "Dan bumi itu dijadikan untukku sebagai tempat sujud
    (tempat shalat)." [HR Bukhari dalam "ash-Shalah," juz 1,
    hlm. 533, hadits nomor 438; dan Muslim dalam
    "al-Masajid," juz 1, him.370, hadits nomor 521 dan 522.]
 
Pertanyaan: Apakah bersentuhan  dengan  suster  (perawat  atau
dokter  perempuan)  sebagaimana yang biasa terjadi membatalkan
wudhu, lebih-lebih jika wanita itu musyrikah?
 
Jawaban:  Menurut  pendapat  yang  rajih  (kuat),  bersentuhan
dengan wanita tanpa syahwat tidaklah membatalkan wudhu.
 
Pertanyaan:  Apa  yang  harus  dilakukan  oleh  dokter  muslim
apabila  tampak  olehnya  bahwa  temannya   atau   direkturnya
menghisap/meminum benda-benda memabukkan?
 
Jawaban:  Menggunakan  metode yang paling bijaksana dan paling
lemah-lembut untuk menghilangkan kemunkaran tersebut,  menurut
kemampuannya,  dan  hendaklah  ia  menganggap  dirinya  sedang
menghadapi pasien yang menderita penyakit tertentu. Di samping
itu,  hendaklah  meminta  tolong kepada setiap ahli pikir agar
dapat memecahkan masalah tersebut secara bijak.
 
Pertanyaan: Apa yang menjadi kewajiban kita  dalam  menghadapi
masalah  menutup  aurat  orang sakit dan anggota tubuhnya yang
terbuka bukan dalam keadaan darurat, apakah kita  menganjurkan
kepadanya?
 
Jawaban:  Ini merupakan sesuatu yang wajib disebarluaskan agar
diketahui  setiap  muslimah  dan  dilakukan  mana  yang  lebih
positif,  kecuali  dalam  keadaan  darurat, meskipun kebolehan
karena darurat haruslah diukur dengan kadar kedaruratannya.
 
Pertanyaan: Bagaimana hukum mempergunakan alkohol yang  bersih
untuk kulit?
 
Jawaban:  Tidak  apa-apa,  ia  bukan  khamar  yang diharamkan,
karena khamar sengaja disiapkan untuk diminum. Dalam  hal  ini
ada  fuqaha  yang  menganggap  najisnya  khamar  adalah  najis
maknawiyah, bukan najis hissiyyah  (menurut  pancaindra),  dan
ini   merupakan  pendapat  Rabi'ah  --guru  Imam  Malik--  dan
lain-lainnya. Dalam kaitan  ini,  Lembaga  Fatwa  di  al-Azhar
sejak dulu memperbolehkan penggunaan alkohol untuk kepentingan
tersebut. Adapun  Sayid  Rasyid  Ridha  mempunyai  fatwa  yang
terinci   dan   argumentatif   tentang  kebolehannya.  Silakan
mengkaji fatwa-fatwa beliau.
 
C. Pada Waktu Seseorang Meninggal Dunia
 
Pertanyaan:
 
 1. Apa yang harus diucapkan terhadap orang sakit yang
    hampir meninggal dunia?
    
 2. Apa yang harus diucapkan terhadap keluarganya untuk
    menyabarkan mereka?
    
 3. Apa yang harus dilakukan dokter tepat ketika si sakit
    meninggal dunia?
    
 4. Bagaimana hukum transplantasi (pencangkokan) organ
    tubuh dari orang hidup atau dari orang mati?
    
 5. Apakah definisi mati "ketika si sakit masih bernapas
    dengan pernapasan buatan dan jantungnya masih berdenyut
    hanya karena perantaraan obat perangsang," berarti
    kematian bagian utama otak (brain stem) sebagaimana yang
    ditetapkan dokter-dokter dari Barat?
 
Jawaban:   Saya   telah   menjelaskan   masalah-masalah   yang
ditanyakan  di  atas dalam fatwa-fatwa sebelum ini, karena itu
dipersilakan  membacanya   kembali.   [Lihat   fatwa   tentang
"Eutanasia,"  "Seputar  Pencangkokan  Organ Tubuh," serta "Hak
dan Kewajiban Keluarga dan Teman-teman Si Sakit."]
 
D. Beberapa Pertanyaan Umum
 
Pertanyaan: Bagaimana jalan keluarnya apabila  seorang  dokter
pria  berduaan  dengan  pasien  wanita  atas permintaan pasien
tersebut?
 
Jawaban: Duduk bersamanya  dengan  pintu  tetap  terbuka,  dan
menundukkan pandangan.
 
Pertanyaan:  Dalam  suatu kongres kedokteran ada salah seorang
peserta yang  mengemukakan  pendapat  yang  aneh-aneh  tentang
penciptaan  jagad  raya ini. Apakah pendapat seperti itu wajib
disanggah ataukah didiamkan saja?
 
Jawaban: Hal itu terserah kepada kemampuan  dan  kebijakan  si
muslim,  karena  pada  suatu  saat  meluruskan  dan memberikan
komentar terkadang ada manfaatnya, tetapi pada saat yang  lain
kadang-kadang  tidak  ada gunanya; terkadang diperkenankan dan
kadang-kadang tidak diperkenankan. Hal  ini  memang  merupakan
suatu  bencana  yang sudah kita kenal diantara bencana-bencana
yang ditimbulkan kaum materialis terhadap  ketetapan-ketetapan
ilmu alam yang jauh dari sentuhan iman.
 
Pertanyaan:   Bagaimana  hukum  bermuamalah  (bergaul)  dengan
pemeluk agama lain, sejak memulai salam dan lainnya,  baik  di
timur  maupun  di  barat,  sementara  diantara mereka ada yang
menjadi direktur kami?
 
Jawaban: Allah berfirman --ketika mengambil janji kepada  Bani
Israil:
 
    "... dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia
    ..." (al-Baqarah: 83)
 
Dia  pun  berfirman  mengenai  sesuatu  yang  disyariatkan-Nya
kepada kaum muslim.
 
    "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'Hendaklah mereka
    mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar) ..."
    (al-Isra': 53)
 
Diantara perkataan  yang  baik  atau  yang  lebih  baik  ialah
mendahului   menyapanya   dengan   sapaan   yang   sesuai  dan
mempergauli mereka secara  baik.  Hal  demikian  bahkan  dapat
dianggap sebagai wasilah dakwah kepada mereka.
 
Pertanyaan:  Apa  yang wajib dilakukan seorang dokter mengenai
pemerkosaan jika ia  mengetahui  pelakunya?  Apakah  ia  harus
memberitahukannya    kepada    keluarga   si   wanita   dengan
menceritakan keseluruhannya ataukah menutupinya?
 
Jawaban:  Hal  ini  berbeda-beda   sesuai   dengan   perbedaan
lingkungan  dan  kondisinya,  sebab  seorang  mukmin  haruslah
cerdas dan cekatan (pandai membaca keadaan dan menyikapinya).
 
Pertanyaan: Bagaimana hukum duduk  di  tempat  pertemuan  yang
dihidangkan  khamar  di  sana,  sementara tempat itu merupakan
satu-satunya tempat yang penuh dengan makanan,  dan  pertemuan
itu diselenggarakan sehari penuh?
 
Jawaban:  Seorang muslim harus berusaha menghindarinya sedapat
mungkin, mengingat hadits syarif yang berbunyi:
 
    "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
    maka janganlah ia duduk di depan meja yang dihidangkan
    khamar padanya." [HR Tirmidzi dalam "al-Adab," juz 5,
    hlm. 104, hadits no. 2801, dan beliau berkata, "Hasan
    gharib."]
 
Kecuali jika dalam keadaan terpaksa. Allah berfirman:
 
    "... sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu apa
    yang diharamkan-Nya atas kamu, kecuali apa yang terpaksa
    kamu memakannya ..." (al-An'am: 119)
 
Pertanyaan: Dalam situasi  tertentu,  suatu  kelompok  rahasia
tidak  dapat mengumpulkan anggotanya kecuali di bar --seminggu
sekali-- untuk mengkaji berbagai situasi dan  kondisi,  dengan
alasan  bahwa  tempat  tersebut  jauh  dari udara rumah sakit.
Mereka adalah para pemimpin muslim, sedangkan si anggota perlu
membantu   mereka   untuk   merencanakan  kegiatan  pada  masa
mendatang. Nah, apakah dia harus  memutuskan  hubungan  dengan
mereka ataukah harus pergi bersama mereka dengan terpaksa?
 
Jawaban:  Orang muslim adalah mufti bagi dirinya sendiri dalam
persoalan-persoalan  tertentu,  dia   mengetahui   mana   yang
dianggap  darurat dan mana yang bukan darurat. Sedangkan orang
mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah  daripada
orang mukmin yang lemah.
 
Pertanyaan:  Ikut  serta dalam berbagai acara/resepsi di rumah
sakit berkenaan  dengan  hari  ulang  tahun  dan  tahun  baru.
Bagaimana   hukum   menghadiri   acara-acara   tersebut,  atau
mengirimkan kartu ucapan selamat kepada  direktur  dan  handai
taulan,  atau  menjawab  ucapan selamat ulang tahun atau tahun
baru?
 
Jawaban:  Bersikap   baik   terhadap   mereka   cukup   dengan
menggunakan  kartu  dan  sejenisnya, tidak usah menghadirinya,
kecuali jika  kehadiran  tersebut  membawa  kemaslahatan  bagi
Islam dan kaum muslim.
 
Pertanyaan:  Bila  seseorang berpuasa pada waktu sebelum ujian
atau pada waktu ujian yang kadang-kadang memakan waktu 18 atau
20 jam, maka dalam hal ini bolehkah ia berbuka?
 
Jawaban:  Seyogyanya  seorang  muslim  makan sahur dan berniat
puasa  lantas  mencoba.  Jika  ia  mampu  melakukannya,   maka
alhamdulillah;  dan  jika  merasa  sangat  berat  hendaklah ia
berbuka dan mengqadhanya setelah itu.  Dalam  mengakhiri  ayat
yang mewajibkan puasa, Allah berfirman:
 
    "... Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
    menghendaki kesukaran bagimu ..." (al-Baqarah: 185)
 
Pertanyaan: Menyebut-nyebut  teman  mengenai  keadaannya  yang
tidak  disukai  sering  terjadi di rumah-rumah sakit, misalnya
perkataan  "dia  dokter  yang  lamban  atau  bodoh,"  meskipun
pembicaraan  seperti  itu  kadang-kadang  untuk kebaikan kerja
yang bersangkutan. Apakah hal itu diperbolehkan? Dan apa  yang
harus dilakukan oleh dokter yang masih muda-muda ini bila yang
melakukan  ghibah  tersebut   adalah   direkturnya,   haruskah
menasihatinya atau diam saja?
 
Jawaban: Bedakanlah antara ghibah dengan kritik. Yang termasuk
bab ghibah adalah haram hukumnya, sedangkan yang termasuk  bab
kritik,  maka memberi nasihat dalam kritik ini harus dilakukan
dengan lemah lembut dan menurut kadar kemampuannya.
 
Pertanyaan: Apakah ada perbedaan menurut hukum antara menyebut
aib orang muslim dengan orang nonmuslim, atau menasihati orang
muslim dengan orang nonmuslim?
 
Jawaban: Islam memelihara dan menjaga kehormatan manusia siapa
pun  orangnya,  muslim  atau  nonmuslim. Hanya saja kehormatan
orang muslim lebih besar, dan kehormatan orang yang punya  hak
yang  lebih  besar  itu lebih besar lagi, misalnya kedua orang
tua, sanak keluarga, tetangga, dan guru.
 
Pertanyaan: Bagaimana hukum menunda giliran (mendatangi istri)
hingga selesainya ulangan atau ujian?
 
Jawaban:  Tidak  ada  larangan apabila kedua suami-istri telah
sepakat dan tidak menimbulkan  mudarat  bagi  si  istri.  Para
sahabat  juga  ada  yang  melakukan 'azl (mencabut dzakar dari
faraj istri untuk menumpahkan sperma di luar faraj pada  waktu
ejakulasi)  karena alasan dan sebab-sebab tertentu, tetapi hal
itu  tidak  dilarang   oleh   Rasulullah   saw.,   sebagaimana
disebutkan dalam hadits-hadits sahih.
 
Pertanyaan: Bagaimana hukum tertidur dari shalat wajib setelah
berjaga terus-menerus dalam bekerja,  apakah  si  istri  wajib
membangunkan   suaminya  dalam  keadaan  seperti  ini  ataukah
membiarkannya?
 
Jawaban: Pena penugasan dan  pemberian  sanksi  diangkat  dari
orang yang tidur hingga ia bangun, lebih-lebih jika ia berjaga
--sebelum  tidur-untuk  melakukan  pekerjaan  yang  dibenarkan
syara'  dan  hendaklah  ia melakukan shalat sewaktu ia bangun.
Selain itu, berdasarkan prinsip kemudahan yang menjadi fondasi
bangunan    hukum   syariat,   tidaklah   wajib   bagi   istri
membangunkannya jika ia dalam keadaan lelah dan payah,  karena
kasihan  terhadap  keadaannya,  dan  bertujuan  agar  ia mampu
melanjutkan pekerjaannya:
 
    "... Dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk
    kamu dalam agama suatu kesempitan." (al-Hajj: 78)
 
Pertanyaan: Bagaimana hukum meninggalkan  shalat  Jum'at  satu
kali  atau  lebih  yang  disebabkan  kondisi kerjanya, seperti
terus-menerus memantau  kondisi  orang  sakit  atau  melakukan
pekerjaan/tugas pada waktu shalat itu sendiri?
 
Jawaban:  Yang  dilarang dan diancam ialah meninggalkan shalat
Jum'at tiga kali tanpa udzur, sedangkan udzur dalam kasus  ini
sangat   jelas.   Maka   seyogyanya  seorang  muslim  berusaha
sungguh-sungguh untuk  menanggulangi  udzur  tersebut  sedapat
mungkin,  dan  tiap-tiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai
dengan niatnya.
 

Sumber: http://media.isnet.org

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: