Sifat : Orang-Orang Mukmin Melihat Allah Pada Hari Kiamat, Allah Turun Ke Langit Dunia Setiap Malam

Kategori Aqidah Al-Wasithiyah

Minggu, 25 Februari 2007 12:23:50 WIB

AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

Oleh
Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qathani

[39]. Orang-Orang Mukmin Melihat Allah Pada Hari Kiamat

“Artinya : Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat.”[Al-Qiyamah : 22-23]

Pada bab ini penulis Rahimahullah Ta’ala menyebutkan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang mukmin melihat Rabb mereka pada hari kiamat, secara langsung dengan mata kepala mereka, dengan cara yang layak dengan kebesaran-Nya, yang mana hal itu tidak mirip dengan satu pun di antara para makhluk-Nya. Hal itu juga telah disebutkan di dalam As Sunnah. Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Bila penduduk jannah telah masuk jannah, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Inginkah kalian jika aku menambahkan sesuatu untuk kalian ?’ Mereka berkata, ‘Tidakkah Engkau telah menjadikan wajah kami menjadi putih, Engkau masukkan kami ke jannah, dan Engkau selamatkan kami dari naar? Maka, Allah menyingkapkan hijab. Tidak ada sesuatupun yang diberikan kepada mereka, yang lebih mereka sukai daripada kenikmatan melihat kepada Rabb mereka ‘Azza wa Jalla.”

Kemudian, Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam, membaca ayat ini :

“Artinya : Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Jannah) dan tambahannya.(yaitu melihat wajah Allah.) [1] [Yunus : 26]

Pendapat bahwa orang-orang mukmin melihat Rabb mereka pada Hari Kiamat ini, disepakati oleh para nabi, rasul, seluruh shahabat, tabi’in, dan imam kaum muslimin dalam berbagai masa. Yang menentang pendapat ini hanyalah orang-orang Jahmiyah dan Mu’tazilah serta orang-orang yang mengikuti mereka. Pendapat mereka itu bathil dan tertolak dengan Al-Kitab dan As-Sunnah. [2]

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berjubel dalam melihat-Nya. Maka, apabila kalian bisa dengan sepenuh daya menjaga shalat sebelum matahari terbit (shalat fajar) dan shalat sebelum matahari tenggelam (shalat ‘ashar) maka lakukanlah.” [3]

[40]. Allah Turun Ke Langit Dunia Setiap Malam

Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Artinya : Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada “Sesungguhnya kalian akan mclilwt Rabb kalian seba-gaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berjiibd dalam melihat-Nya. Maka, apabila kalian bisa dcngan sepenuh daya menjaga shalat sebelum rnatahari tcrbit (shalat fajar) dan shalat sebelum matahari tenggelam (shalat ‘ashar) maka lakukanlah.”

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

”Artinya : Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman : ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya, siapa yang memohon kepada-Ku, niscaya Aku memberinya, siapa yang meminta ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampuninya?” [4]

Hadits yang disepakati keshahihannya ini, merupakan dalil yang sahih dan gamblang, yang menyatakan turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia pada setiap malam, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Turunnya Allah Ta’ala ini sesuai dengan kebesaran dan keagunganNya. Turun merupakan salah satu sifat Fi’liyah. Dia turun ketika Dia menghendaki dan kapan saja Dia menghendaki. Arti turun telah diketahui, tetapi bagaimana keadaan turun-Nya itu tidak diketahui, mengimaninya merupakan kewajiban, sedangkan bertanya mengenainya adalah bid’ah. Demikian pula turunnya Allah pada Hari Kiamat, sebagaimana disebutkan dalam Al-Kitab-dan As-Sunnah. Turun-Nya tidak sama dengan turunnya tubuh manusia dari atap rumah ke tanah, yang mana atap tetap berada di atasnya, tetapi Allah Maha Suci dari hal yang demikian itu. [5]

[41]. Sifat Al-Farh (Gembira)

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Artinya : Allah lebih gernbira dengan taubat seorang hamba-Nya, dibanding dengan kegembiraan salah seorang dari kalian yang menemukan untanya, yang telah hilang di padang pasir yang luas.” [6]

Ini merupakan salah satu sifat Fi’liyah dengan keadaan yang sesuai dengan kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla.

[42]. Sifat Adh-Dhahik (Tertawa)

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam Bersabda :

“Artinya : Allah tertawa terhadap dua orang, salah satu membunuh yang lain, tetapi keduanya masuk jannah.” (Para shahabat) bertanya, “Bagaimana bisa demikian wahai Rasulullah ?” Beliau bersabda, :Yang seorang berperang dijalan Allah ‘Azza wa Jalla, lalu gugur sebagai syahid. Kemudian Allah menerima taubat si pembunuh, ia masuk Islam, lalu berperang dijalan Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian gugur sebagai syahid. [7]

Dalam hadits ini terdapat dalil yang sahih dan tegas, yang menyatakan sifat tertawa bagi Allah, yang layak dengan kebesaranNya. Ini merupakan salah satu sifat Fi’liyah yang dilakukan oleh Allah apabila Dia menghendaki dan kapan saja Dia menghendaki. [8]

[43]. Sifat Al-‘Ajab (Ta’ajub)

Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Artinya ; Allah sungguh ta’ajub atau tertawa oleh si Fulan dan Fulanah. Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan : ‘Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”[9]

Dalam hadits sahih ini dinyatakan sifat ta’ajub, yang merupakan salah satu sifat Fi’liyah. Jadi, Allah Ta’ala ta’ajub apabila Dia menghendaki dan kapan saja Dia menghendaki, dengan keadaan yang layak dengan kebesaran-Nya.
“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Melihat.”

[44]. Sifat Qodamur Rahman (Telapak Kaki Allah)

“ Artinya : Setiap kali jahanam dilempari (dengan penghuninya), ia senantiasa mengatakan, Masih adakah tambahan?’ Sehingga Rabbul ‘Izzah (Allah Subhanallahu wa ta’ala) meletakkan telapak kaki-Nya di dalamnya dalam riwayat lain, meletakkan telapak kaki-Nya di atasnya-. Maka, sebagiannya mengisut kepada sebagian lainnya, lalu ia berkata, Cukup… cukup… !”[10]

Dalam hadits ini dinyatakan adanya kaki bagi Allah Yang Maha Rahman, dengan keadaan yang layak dengan kebesaran-Nya, sebagaimana telah dijelaskan terdahulu. [11]

SIFAT FI’LIYAH DAN SIFAT DZATTYAH BAGI ALLAH

Sifat-sifat Allah dibagi menjadi dua :

Yang Pertama : Sifat Dzatiyah : yaitu sifat yang tidak terpisahkan dari Allah Ta’ala. Maka, la sejak dahulu dan tetap menyandang sifat tersebut. Misalnya : Ilmu, Hidup, Kuasa, Mendengar, Melihat, Wajah, Telapak, Tangan, Mata, Kaki, Raja, Agung, Besar, Perkasa, Tinggi, Tari, Telapak Kaki, Kaya, Kasih Sayang, dan Berbicara.

Yang Kedua : Sifat Fi’liyah : yaitu sifat yang berkaitan dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Misalnya : Bersemayan, Turun, Tiba, Tertawa, Ridha, Ta’ajub, Murka, Datang, Menghidupkan, Mematikan, Gembira, Marah, Benci, Cinta. Semua sifat ini disebut Qadim (ada sejak dahulu) dari segi jenisnya dan baru dari segi terjadinya satu persatu. Sifat-sifat tersebut, juga sifat-sifat Fi’liyah yang lain, berkaitan dengan kehendak Allah. Bila Dia berkehendak, Dia melakukannya sedangkan bila Dia tidak berkehendak, Dia tidak melakukannya.[12]

SIFAT FI’LIYAH SEKALIGUS DZATIYAH

Kadang-kadang suatu sifat bisa dikategorikan dalam sifat Fi’liyah sekaligus Dzatiyah. Misalnya sifat berbicara (kalam), asalnya merupakan sifat Dzatiyah, karena Dia sejak dahulu dan tetap berbicara. Tetapi bila dilihat dari terjadinya satu persatu, berbicara merupakan sifat Fi’liyah, karena berbicara itu berkaitan dengan kehendak-Nya. Dia berbicara kalau menghendaki. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah mengatakan, Jadilah !’, maka terjadilah ia.”

Setiap sifat yang berkaitan dengan kehendak Allah Ta’ala, adalah mengikuti kebijaksanaan-Nya. Kadang-kadang hikmah tersebut kita mengerti, tetapi kadang-kadang kita tidak mampu mengetahuinya. Akan tetapi kita yakin dengan seyakin-yakinnya bah-wa Allah tidak menghendaki sesuatu apapun, kecuali hal itu sesuai dengan hikmah. Hal ini diisyaratkan dalam firman Allah :

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”[13] [Al-Insaan : 30]

[Disalin dari kitab Syrah Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Terbitan At-Tibyan]
_________
[1]. Diriwayatkan oleh Muslim I/163, sedangkan ayat dalam hadits ini adalah ayat ke-26 dari Surah Yunus
[2]. “Al-Kawasyif Al-Jaliyah”, hal.401.
[3]. Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” III/29 dan Muslim I/521
[4]. Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” XI/377 dan Muslim I/201
[5]. “Syarh Hadits An-Nuzul”, Ibnu Taimiyah, hal.33 dan “Ar-Raudhah An-Nadiyah”, hal. 175 Lafazh hadits ini milik Muslim
[6]. Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” XI/102 dan Muslim IV/2104. Lihat pula “Al-Kawasyif Al-Jaliyah”, hal. 457 dan Ar-Raudhah An-Nadiyah”, hal. 175, Lafazh ini ada pada Muslim
[7]. Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” VI/39 dan Muslim III/1504
[8]. Lihat “Ar-Raudhah An-Nadiyah”, hal 175 dan “Al-Kawasyif Al-Jaliyah” hal. 457
[9]. Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” VIII/631 sedangkan ayat dalam hadits ini adalah yang ke-9 dari Surah Al-Hasyr.
[10]. Diriwayatkan Al-Bukhari, “Fathul Bari” XIII/368 dan Muslim IV/2187
[11]. Lihat “Mukhtashar Al-Ajwibah Al-Ushuliyah”, hal. 103
[12]. Ibid hal.30
[13]. Ad-Dahr : 30 Lihat “Al-Qawa’id Al-Mutsla fi Shifatillah wa Asma’ihi Al-Husna”, hal.24

Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/2057/slash/0

Leave a Reply

%d bloggers like this: