Shalat Tarawih (3): Aturan Shalat Tarawih

Shalat Tarawih (3): Aturan Shalat Tarawih

 

Salam Setiap Dua Raka’at

Para pakar fiqih berpendapat bahwa shalat tarawih dilakukan dengan salam setiap dua raka’at. Karena tarawih termasuk shalat malam. Sedangkan shalat malam dilakukan dengan dua raka’at salam dan dua raka’at salam. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.”[1] [2]

Istrihat Tiap Selesai Empat Raka’at

Para ulama sepakat tentang disyariatkannya istirahat setiap melaksanakan shalat tarawih empat raka’at. Inilah yang sudah turun temurun dilakukan oleh para salaf. Namun tidak mengapa kalau tidak istirahat ketika itu. Dan juga tidak disyariatkan untuk membaca do’a tertentu ketika melakukan istirahat. Inilah pendapat yang benar dalam madzhab Hambali.[3]

Dasar dari hal ini adalah perkataan ‘Aisyah yang menjelaskan tata cara shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat 4 raka’at, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat 4 raka’at lagi, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya.”[4] Yang dimaksud dalam hadits ini adalah shalatnya dua raka’at salam, dua raka’at salam, namun setiap empat raka’at ada duduk istrirahat.

Sebagai catatan penting, tidaklah disyariatkan membaca dzikir-dzikir tertentu atau do’a tertentu ketika istirahat setiap melakukan empat raka’at shalat tarawih, sebagaimana hal ini dilakukan sebagian muslimin di tengah-tengah kita yang mungkin saja belum mengetahui bahwa hal ini tidak ada tuntunannya dalam ajaran Islam.[5]

Ulama-ulama Hambali mengatakan, “Tidak mengapa jika istirahat setiap melaksanakan empat raka’at shalat tarawih ditinggalkan. Dan tidak dianjurkan membaca do’a-do’a tertentu ketika waktu istirahat tersebut karena tidak adanya dalil yang menunjukkan hal ini.”[6]

“Ash Sholaatul Jaami’ah” untuk Menyeru Jama’ah dalam Shalat Tarawih?

Tidak ada tuntunan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan Ash Sholaatul Jaami’ah. Ini termasuk perkara yang diada-adakan (baca: bid’ah). Juga dalam shalat tarawih tidak ada seruan adzan ataupun iqomah untuk memanggil jama’ah karena adzan dan iqomah hanya ada pada shalat fardhu.[7]

Surat yang Dibaca Ketika Shalat Tarawih

Tidak ada riwayat mengenai bacaan surat tertentu dalam shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, surat yang dibaca boleh berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Imam dianjurkan membaca bacaan surat yang tidak sampai membuat jama’ah bubar meninggalkan shalat. Seandainya jama’ah senang dengan bacaan surat yang panjang-panjang, maka itu lebih baik berdasarkan riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan.

Ada anjuran dari sebagian ulama semacam ulama Hanafiyah dan Hambali untuk mengkhatamkan Al Qur’an di bulan Ramadhan dengan tujuan agar manusia dapat mendengar seluruh Al Qur’an ketika melaksanakan shalat tarawih.[8]

Mengerjakan Shalat Tarawih Bersama Imam Hingga Imam Selesai Shalat

Sudah selayaknya bagi makmum untuk menyelesaikan shalat malam hingga imam selesai. Dan kuranglah tepat jika jama’ah bubar sebelum imam selesai. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.”[9] Jika imam melaksanakan shalat tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut menyelesaikan bersama imam. Itulah yang lebih tepat.

Shalat Tarawih bagi Wanita

Jika menimbulkan godaan ketika keluar rumah (ketika melaksanakan shalat tarawih), maka shalat di rumah lebih utama  bagi wanita daripada di masjid. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummu Humaid, istri Abu Humaid As Saa’idiy. Ummu Humaid pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata bahwa dia sangat senang sekali bila dapat shalat bersama beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ … وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى

Aku telah mengetahui bahwa engkau senang sekali jika dapat shalat bersamaku. …  (Namun ketahuilah bahwa) shalatmu di rumahmu lebih baik dari shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.”[10]

Namun jika wanita tersebut merasa tidak sempurna mengerjakan shalat tarawih tersebut di rumah atau malah malas-malasan, juga jika dia pergi ke masjid akan mendapat faedah lain bukan hanya shalat (seperti dapat mendengarkan nasehat-nasehat agama atau pelajaran dari orang yang berilmu atau dapat pula bertemu dengan wanita-wanita muslimah yang sholihah atau di masjid para wanita yang saling bersua bisa saling mengingatkan untuk banyak mendekatkan diri pada Allah, atau dapat menyimak Al Qur’an dari seorang qori’ yang bagus bacaannya), maka dalam kondisi seperti ini, wanita boleh saja keluar rumah menuju masjid. Hal ini diperbolehkan bagi wanita asalkan dia tetap menutup aurat dengan menggunakan hijab yang sempurna, keluar tanpa memakai harum-haruman (parfum)[11], dan keluarnya pun dengan izin suami. Apabila wanita berkeinginan menunaikan shalat jama’ah di masjid (setelah memperhatikan syarat-syarat tadi), hendaklah suami tidak melarangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (para wanita) tentu lebih baik.”[12]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ

Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.”[13] Inilah penjelasan Syaikh Musthofa Al Adawi hafizhohullah yang penulis sarikan.[14]

Dari penjelasan para ulama di atas dapat kita simpulkan bahwa shalat tarawih untuk wanita lebih baik adalah di rumahnya apalagi jika dapat menimbulkan fitnah atau godaan. Lihatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih mengatakan bahwa shalat bagi wanita di rumahnya lebih baik daripada di masjidnya yaitu Masjid Nabawi. Padahal kita telah mengetahui bahwa pahala yang diperoleh akan berlipat-lipat apabila seseorang melaksanakan shalat di masjid beliau yaitu Masjid Nabawi.

Namun apabila pergi ke masjid tidak menimbulkan fitnah (godaan) dan sudah berhijab dengan sempurna, juga di masjid bisa dapat faedah lain selain shalat seperti dapat mendengar nasehat-nasehat dari orang yang berilmu, maka shalat tarawih di masjid diperbolehkan dengan memperhatikan syarat-syarat ketika keluar rumah. Di antara syarat-syarat tersebut adalah: (1) menggunakan hijab dengan sempurna ketika keluar rumah sebagaimana perintah Allah agar wanita memakai jilbab dan menutupi seluruh tubuhnya selain wajah dan telapak tangan, (2) minta izin kepada suami atau mahrom terlebih dahulu dan hendaklah suami atau mahrom tidak melarangnya, dan (3) tidak menggunakan harum-haruman dan perhiasan yang dapat menimbulkan godaan.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id


[1] HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749.

[2] Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah (2/9640), ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa seandainya seseorang melaksanakan shalat tarawih empat raka’at dengan sekali salam, shalatnya tidak sah. Shalatnya batal jika sengaja melakukannya dan mengetahui hal ini. Jika tidak batal, minimal yang ia kerjakan hanyalah shalat sunnah mutlak. Bisa seperti ini karena shalat tarawih mirip dengan shalat fardhu karena sama-sama dilaksanakan secara berjama’ah. Maka seharusnya tidak diubah sesuai yang diajarkan. Demikian dikatakan dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah. Kami pun menemukan penjelasan yang sama sebagaimana dalam kitab Kifayatul Akhyar, hal. 138.

Akan tetapi ada keterangan berbeda dari ulama Syafi’iyah lainnya. Ulama besar Syafi’iyah, An Nawawi ketika menjelaskan hadits “shalat sunnah malam dan siang itu dua raka’at, dua raka’at”, beliau rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud hadits ini adalah bahwa yang lebih afdhol adalah mengerjakan shalat dengan setiap dua raka’at salam baik dalam shalat sunnah di malam atau siang hari. Di sini disunnahkan untuk salam setiap dua raka’at. Namun jika menggabungkan seluruh raka’at yang ada dengan sekali salam atau mengerjakan shalat sunnah dengan satu raka’at saja, maka itu dibolehkan menurut kami.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/30)

[3] Lihat Al Inshof, 3/117.

[4] HR. Bukhari no. 3569 dan Muslim no. 738.

[5] Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1/420.

[6] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2/9639

[7] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2/9634

[8] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/420.

[9] HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi. Hadits ini shahih.

[10] HR. Ahmad no. 27135. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.

[11] “Jika salah seorang di antara kalian ingin mendatangi masjid, maka janganlah memakai harum-haruman.” (HR. Muslim no. 443)

[12] HR. Abu Daud no. 567 dan Ahmad 7/62. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih

[13] HR. Muslim no. 442.

[14] Periksa http://www.islamfeqh.com/News/NewsItem.aspx?NewsItemID=1914

 

53 Komentar

  1. Liyundira
    07 Agu 2010 [#]

    assalamualaikum …..,
    yang aku tanyakan,,,
    bgmn dengan seseorang yang baru memeluk agama islam, dan belum sempat dia berterus terang pada keluarganya klw dia muslim, dan dia meninggal, dan akhirnya dia d makamkan dengan cara agama sebelum Muslim …….,
    apa hukum bagi yang mengislamkan dia???????????
    mohon penjelasannya ,,,,,,
    maaf klw g pas Topiknya….,ya Akhi ..,tapi ana Butuh jawabannya

  2. lutfi
    07 Agu 2010 [#]

    Assalaa’mu’alaykum.
    alhamdulillah, washsholaatu ‘alaa rasulillah shollallahu ‘alihi wa sallam. ustadz ana mau bertanya. apakah shalat tarawih 4-4 harus menggunakan tahiyat awal? jazakumullahu khayran

  3. abdulj
    08 Agu 2010 [#]

    Kami mohon pencerahannya pak Ustadz, kalau setiap 4 rakaat dengan satu kali salam.. apakah ada pendapat yang shoheh, karena selama ini kami melaksanakannya..alasannya adalah hadist dari Aisyiah yang ustadz sampaikan diatas..
    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat 4 raka’at, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat 4 raka’at lagi, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya.”[4

  4. juwani
    08 Agu 2010 [#]

    assalamualaikum,
    Bagaimana bila kita sholat tarawih, yang di masjid tersebut jumlah rakaatnya 23, apakah kita sebaiknya menyelesaikan semua bersama imam, atau kita selesaikan sampai rakaat 8 dan saya melakukan witir di rumah, tolong solusinya sesuai sunah, sukron.

  5. Abduh Tuasikal
    09 Agu 2010 [#]

    @ Liyundira.
    Wa’alaikumus salam.
    Sebagaimana Raja Najasi, sama halnya dg yg diceritakan. Bagi yg tahu dia muslim, silakan lakukan shalat ghoib.

  6. Abduh Tuasikal
    09 Agu 2010 [#]

    Wa’alaikumus salam.
    @ Lutfi
    Tdk ada tahiyat awwal, namun langsung tahiyatr akhir dan salam pada raka’at keempat.

  7. Abduh Tuasikal
    09 Agu 2010 [#]

    @ Abdulj
    Betul sekali haditsnya benar sebagaimana yg antum sebutkan dan telah kami sebutkan dalam tulisan di atas. Kalau mau ditanyakan sah, maka tetap sah. Namun coba perhatikan perkataan Imam An Nawawi di footnote.
    Ulama besar Syafi’iyah, An Nawawi ketika menjelaskan hadits “shalat sunnah malam dan siang itu dua raka’at, dua raka’at”, beliau rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud hadits ini adalah bahwa yang lebih afdhol adalah mengerjakan shalat dengan setiap dua raka’at salam baik dalam shalat sunnah di malam atau siang hari. Di sini disunnahkan untuk salam setiap dua raka’at. Namun jika menggabungkan seluruh raka’at yang ada dengan sekali salam atau mengerjakan shalat sunnah dengan satu raka’at saja, maka itu dibolehkan menurut kami.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/30)
    Adapun hadits yang nyatakan beliau kerjakann empat-empat, yang dimaksud adalah istirahat pada raka’at keempat, sedangkan shalatnya tetap dikerjakan dua raka’at salam.

  8. Abduh Tuasikal
    09 Agu 2010 [#]

    @ Juwani
    Wa’alaikumus salam.
    1. Jika shalat 23 raka’at itu khusyu’ dan thuma’ninah, maka silakan bermakmum sampai selesai, itulah yang lebih afdhol. Jangan dulu bubar pada 8 raka’at. Karena dalam hadits shahih disebutkan, “Barangsiapa yg shalat malam bersama imam hingga imam selesai, maka ia akan mendapatkan shalat semalam suntuk.” Jd tidak tepat bubar ketika 8 raka’at, keutamaan yg begitu besar akan hilang. Namun ingat ini bila shalat 23 raka’at itu khusyu’ dan thuma’ninah.
    2. Jika shalat 23 raka’at tdk khusyu’ dan thuma’ninah, sebaiknya cari shalat di tempat lain.

  9. Andy
    09 Agu 2010 [#]

    Andy
    assalamualaikum ustad..
    Smua kesalahan diatas ada ditmpat saya dan pd rekaat kedua dikhususkan membaca surat al iklas, bagaimana klau sy sholat di tmpt itu apakah sy berdosa? Krn sy blm mempunyai ilmu utk mendakwahi mereka..mhn sarannya..

  10. Liyundira
    09 Agu 2010 [#]

    Terima Kasih ya mas atas jawabannya …..,

    BarokALLAHu laka …..,

  11. yusuf
    09 Agu 2010 [#]

    Assalamu’alaikum..
    tanya Ust, sehubungnan dg sunnah shalat sunnah yang dikerjakan dengan 2 rekaat salam, trus bagaimana dengan sholat witir yang tiga rekaat itu Ustadz?

  12. Liyundira
    09 Agu 2010 [#]

    tapi alm. telah meninggal 10 hari yang lalu ,
    apakah , shalat GAIB nya masih berlaku ….????????

  13. Abduh Tuasikal
    09 Agu 2010 [#]

    @ Liyundira
    Iya betul masih berlaku.

  14. Abduh Tuasikal
    09 Agu 2010 [#]

    @ Yusuf
    Untuk shalat witir 3 raka’at bisa lakukan dg 2 cara:
    1. 2 raka’at salamm plus 1 raka’at salam.
    2. 3 raka’at sekaligus salam.
    Silakan baca selengkapnya di sini:
    http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3031-panduan-shalat-witir.html

  15. Abduh Tuasikal
    09 Agu 2010 [#]

    @ Andy
    Kalau ada jama’ah di masjid lain yg tidak spt itu, itu lebih baik.

  16. Abu Lutfi
    11 Agu 2010 [#]

    Assalamu’alaykum, ustadz.. Setelah mengerjakan shalat terawih dan witir apakah boleh kita mengerjakan shalat tahajud 1/3 malam pada bulan ramadhan? Dan apakah ada dalilnya?

  17. husni
    11 Agu 2010 [#]

    ustad, mau tanya apakah ada dalil shohih tentang dzikir2 khusus dalam sholat teraweh dan witir ? biasanya yg terjadi di masyarakat ada dzikir di sela2 2 rokaat salam dan waktu istirahat setelah 4 rokaat ? dan juga ada doa khusus setelah taraweh dan juga setelah witir ? mohon dijelaskan dzikir2 apa saya yg shohih dan dzikir2 apa saja yg bid’ah ?
    makasih

  18. Ardian
    11 Agu 2010 [#]

    Assalamu’alaikum ww.,

    bagaimana tuntunan yang benar dalam sholat tarowih, apa yang semestinya kita baca dalam jeda/istirahat diantara rokaat sholat tarowih. Do’a apa juga yang afdhol dan ma’tsur yang kia bca setelah sholat tarowih dan witir (selain subhaanal malikil quddus) ?

    Syukran katsiir atas jawabannya,

    Wassalamu’alaikum ww.,

  19. Yulian Purnama
    11 Agu 2010 [#]

    #Ardian
    Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh,
    Tidak ada bacaan khusus yang shahih. Bisa dimanfaatkan untuk berdzikir atau berdoa apa saja.

  20. zahrah
    12 Agu 2010 [#]

    Assalamu’alaikum

    Afwan Ustadz, sy ijin copas untuk disebar ke beberapa teman.

    Jazakallahu khaira

    Wassalamu’alaikum

  21. baba
    12 Agu 2010 [#]

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Mohon tuntunannya, bagaimana hukumnya apakah boleh kita melakukan sholat tahajud di 1/3 malam akhir di bulan puasa ini sementara kita sudah melakukan sholat tarawih 8 rakaat + 3 witir (11 rakaat). jika bisa sebaiknya berapa rakaat yang harus kita lakukan apakah menggenapkan 23 rakaat dari 11 rakaat yang sudah kita lakukan pada sholat tarawih di awal malam itu.

    Mohon penjelasannya
    trimakasih
    Wasalamu’alaikum wr.wb

  22. Yulian Purnama
    12 Agu 2010 [#]

    #Abu Lufti
    Boleh, dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
    “Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.”
    Dari hadits ini diambil kesimpulan bahwa shalat malam itu tidak dibatasi.

  23. yusri
    13 Agu 2010 [#]

    Assalamualikum Warahmatullah Wabarakatuh.
    Berapakah minimal rakaat tarawih? mengingat tarawih adalah shalat sunah dan shalat sunah itu minimal rakaatnya adalah 2 dan witir min adalah 1. Dan mengingat salat tarawih sama dengan salat sunah malam di luar ramadhan seperti perkataan para ulama-ulama.(Hanya ditegaskan bahwa tidak ada perbedaan jumlah rakaat shalat malam yang dilakukan Rasulullah di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan). Dan Nabi Saw mengatakan min salat sunah adlh 2 dan witir adlah 1. dan bgmanai hukumnya org yg mnegerjakan tarawih 3 rakaat dengan 1 witir?? mengingat hukum shalat tarawih sama dengan shalat sunah yg lain.(co: tahajud,sunat mutlak)

  24. tataQ
    13 Agu 2010 [#]

    AsLm…
    maaf Ust, saya mau tanya, kan disini dikatakan bahwa shalat tarawih untuk wanita lebih baik adalah di rumahnya apalagi jika dapat menimbulkan fitnah atau godaan.
    maksudnya disini apa Ust ??
    apakah boleh untuk melaksanakan sholat tarawih itu sendiri dirumah saja,walaupun tidak ada yang mengimammi atau tidak dilaksanakan secara berjama’ah ?
    sedangkan disini ketentuan untuk sholat tarawih sendiri dilaksanakan secara berjama’ah..
    makasi byak ya Ust..^

  25. Tony Arianto
    13 Agu 2010 [#]

    Assalamu’alaikum.wrwb

    jika yang ustad paparkan diatas bahwa shalat terawih wajib berjama’ah dan mengikuti Imam. lantas bagaimana pendapat ustad tentang hadist yang mengisahkan bahwa Rasulullah saw hanya melakukan shalat terawih selama 3 malam selebihnya Beliau tidak melaksanakannya lagi dengan berjama’ah.
    dan apakah para sahabat melakukan shalat tarawih berjama’ah di masjid ?
    tolong berikan perjelasannya berikut dalil nya , syukron Ustad.

  26. Luqman
    13 Agu 2010 [#]

    Assalamualaikum Warohmatullohiwabarokatuh,

    Mohon pencerahan seputar Ramadhon, bagaiamana cara imam mengumumkan bahwa Sholat
    Tarawih / witir dimulai, tanpa harus menyaringkan lafaz “assholatu jami’ah..”
    yang katanya perbuatan ini bid’ah. padahal makmun yang jauh dibelakang harus
    mengetahui pengumuman tersebut.

    Dalam hal yang sama apakah pengumuman akan (mulai) dilakukannya Sholat Jenazah
    pada setiap setelah sholat fardhu di Masjidil Harom (pada saat musim Haji)
    termasuk perbuatan bid’ah?.

    Terima kasih atas penjelasannya.
    Wassalamualaikum Warohmatullohiwabarokatuh.
    A. Luqman yang fakir ilmu

  27. Abduh Tuasikal
    13 Agu 2010 [#]

    @ Luqman
    Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barakatuh.
    Sebagaimana praktek yg kami lakukan, cukup imam berdiri saja itu tanda akan mulai shalat tarawih. Ini kami lakukan di kalangan orang desa yang notabene jauh sekali dari intelektual. Mereka saja manut. Maka lebih pantas lagi yang mau berpikir bisa menerapkan hal yang sama.

  28. Abduh Tuasikal
    14 Agu 2010 [#]

    @ Tony
    Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.
    Hadits yg saudara maksudkan memang benar. Namun beliau hanya shalat selama 3 hari krn khawatir wajib. Lalu di zaman Umar tdk ada lagi kekhawatiran shalat tarawih wajib, jadinya beliau mengumpulkan para jamaah untuk melaksanakan scara berjamaah, dipimpin oleh Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari. Dan secara berjama’ah ini berlaku terus menerus dari zaman ke zaman. Jadi sungguh keliru katakan shalat tarawih cukup beberapa hari saja. Lihat maksud nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan 3 kali.
    Adapun riwayat yang membicarakan hal tersebut silakan baca di sini:
    http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3158-dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-rakaat.html

  29. Abduh Tuasikal
    14 Agu 2010 [#]

    @ TataQ
    Untuk wanita, ia punya piliha mau berjama’ah ataukah tidak. Namun sebagaimana hukum shalat berjamaah, lebih baik shalat wanita itu di rumah. Ia boleh kerjakan di awal malam atau di akhir malam, baik berjamaah atau sendirian di rumahnya.

  30. abu husain mu’awiyah
    15 Agu 2010 [#]

    assalamu’alaikum ustadz,

    tentang Surat yang Dibaca Ketika Shalat Tarawih.

    di mushola tempat saya jamaahnya seakan terbagi 2, yaitu yang senang bacaan suratnya agak panjang dan yang senang bacaan suratnya lebih pendek seperti almu’awizatain dll.

    manakah yang lebih utama untuk dituruti, sebab jika menuruti salah satu pasti ada yg kasak kusuk diantara jamaah yang tidak suka.
    kalau sudah begitu kasihan imamnya

  31. Yulian Purnama
    17 Agu 2010 [#]

    #abu husain mu’awiyah
    Wa’alaikumussalam, menyesuaikan dengan kondisi ma’mum hukumnya wajib, berdasarkan hadits:
    إذا أم أحدكم الناس فليخفف . فإن فيهم الصغير والكبير والضعيف والمريض . فإذا صلى وحده فليصل كيف شاء
    Jika seseorang menjadi imam, hendaknya ia ringankan shalatnya. Karena di barisan ma’mum terdapat anak kecil, orang tua, orang lemah, dan orang sakit. Jika ia shalat sendirian, silakan shalat sesuai keinginannya” (HR. Muslim no.467)
    Sedangkan membaca surat-surat panjang hukumnya mustahab (dianjurkan). Yang wajib lebih didahulukan dari yang mustahab.

  32. Yulian Purnama
    17 Agu 2010 [#]

    #baba
    Wa’alaikumussalam. Boleh dan shalat malam tidak ada batasan rakaatnya, jadi anda dapat menambah shalat malam sesuka anda. Wallahu’alam

  33. Mochtar
    18 Agu 2010 [#]

    Assalamu’alaykum..ustad saya mau tanya, sebenarnya ada gak dalil tentang sholat iftitah (sholat dua rokaat sebelum sholat tarawih? syukron

  34. Yulian Purnama
    18 Agu 2010 [#]

    #Mochtar
    Wa’alaikumussalam. Ada, hadits shahih riwayat Muslim. Tolong simak artikel berikut:
    http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tata-cara-shalat-malam-dan-witir-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

  35. Franc BS
    02 Sep 2010 [#]

    Beberapa kawan kami laki dan wanita, setelah tarowih 8 rakaat hanya duduk2 tidak ikut witir. Alasannya dia mau salat tahajut dll lagi di rumah baru witir di rumah juga.
    Dosakah yang begitu pak ustad?

  36. aam
    02 Sep 2010 [#]

    assalamualaykum…

    jadi, sebaiknya kita mengikuti imam hingga selesai sholat witir ya??
    jika kita ingin menambahkan sholat tahajud dimalam hari, apakah sah sholat tahajudnya??karena ada yg bilang, witir merupakan sholat penutup, yg menandakan kita telah selesai melakukan sholat sunnah
    mohon penjelasannya.. terima kasih

  37. Abduh Tuasikal
    03 Sep 2010 [#]

    @ aam
    Wa’alaikumus salam.
    Jawabannya bisa ditemukan dalam artikel berikut: http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2683-setelah-shalat-witir-bolehkah-shalat-sunnah-lagi.html

  38. Abduh Tuasikal
    03 Sep 2010 [#]

    @ Franc
    Tdk berdosa, namun ia meninggalkan sesuatu yg lebih utama. Coba baca artikel berikut: http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2683-setelah-shalat-witir-bolehkah-shalat-sunnah-lagi.html

  39. hanifianto
    08 Sep 2010 [#]

    bagai mana jika seorang makmum masbuk saat shalat tarawih misalnya karena ingin buang air kecil, sehingga dia hanya shalat 6 rakaat saja dan disambung witir bersama imam,bolehkah begitu ?

  40. Yulian Purnama
    16 Sep 2010 [#]

    #hanifianto
    Boleh. Bahkan makruh hukumnya menahan buang air demi menunaikan shalat.

  41. muhyani
    16 Sep 2010 [#]

    salam kenal dan uhkuwah

  42. Aris Munandar
    20 Sep 2010 [#]

    #yusri
    Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh,
    Coba baca:
    http://muslim.or.id/ramadhan/shalat-tarawih-2-11-atau-23-rakaat.html
    Seingat saya tidak ada ulama yang menyatakan bolehnya bilangan rakaat sebagaimana yang ditanyakan.

  43. M. ABDUL HADI
    23 Sep 2010 [#]

    Assalamu’alakum wr.wb.
    maaf ust minta kejelasan mengenai hadits salat tarawih yang 8 rakaat. karena sebagian pendapat bahwa hadist yang 8 rakaat yang diambil dari riwayat siti ‘aisah itu adalah dalil untuk shalat witir (fi romadhona wa gairihi ) sukron

  44. Yulian Purnama
    11 Okt 2010 [#]

    #M. Abdul Hadi
    Wa’alaikumussalam, silakan simak:
    http://muslim.or.id/ramadhan/shalat-tarawih-2-11-atau-23-rakaat.html
    http://muslim.or.id/ramadhan/dalil-pendukung-shalat-tarawih-23-raka%E2%80%99at.html

  45. Rifqy
    03 Des 2010 [#]

    Dalam artikel ini disebutkan :
    “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat 4 raka’at, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat 4 raka’at lagi, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya.”[4] Yang dimaksud dalam hadits ini adalah shalatnya dua raka’at salam, dua raka’at salam, namun setiap empat raka’at ada duduk istrirahat.
    apa dasar penulis sehinga menyebutkan “Yang dimaksud dalam hadits ini adalah shalatnya dua raka’at salam, dua raka’at salam, namun setiap empat raka’at ada duduk istrirahat.
    setahu saya hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah shalat malam 4 raka’at-4 raka’at, bukan 2 raka’at-2 raka’at.

  46. Rifqy
    03 Des 2010 [#]

    Memperhatikan pelaksanaan shalat qiyamur-ramadhan, mayoritas melaksanakan 23 raka’at (2,2,2…,1).
    Dari keterangan (baik hadits ataupun artikel terkait) qiyamur-ramadhan dilaksanakan 20 + witir. sedangkan witir hanya sekali salam, berapapun jumlah raka’atnya 1,3,…atau sampai 11 raka’at seklaipun salamnya tetap 1 kali.
    Berarti mayoritas umat Islam keliru dalam pelaksanaannya, bukan 20 + witir, tapi 22 + witir.
    Mohon penjelasnnya Ustadz !!

  47. Rifqy
    03 Des 2010 [#]

    1 lagi !!!!
    Sepengetahuan saya, Istilah “TARAWIH” belum ada pada zaman Rasulullah. yang ada hanya qiyamul-lail atau qiyamur-ramadhan, ini bisa dilihat dari hadits tentang shalat malam. Istilah tarawih muncul pada zaman tabi’in, sebab karakter dari shalat malam yang dilakukan dengan santai/panjang kemudian diistilahkan seperti itu.
    Namun jika kita perhatikan, masih banyak kaum muslimin yang shalat tarawih dengan bacaan “super cepat, pendek pula bacaannya” (terutama yang 23) hanya juz ‘amma dan raka’at keduanya selalu membaca AL_Ikhlash. bahkan yang 11 raka’at pun kalah cepat. (maaf bukan saya menganggap yang 11 raka’at shalatnya lebih baik)
    Bagaimana kita menyikapi hal ini ?
    Dianggap apakah shalat “Tarawih” ?

  48. Yulian Purnama
    08 Feb 2011 [#]

    #Rifqy
    Karena hadits tersebut dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, padahal dalam hadits lain beliau berkata:
    كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي فيما بين أن يفرغ من صلاة العشاء إلى الفجر إحدى عشرة ركعة يسلم بين كل ركعتين
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam, antara shalat isya sampai shubuh sebanyak 11 rakaat, ia salam setiap 2 rakaat” (HR. Muslim 122)

  49. Yulian Purnama
    13 Feb 2011 [#]

    #Rifqy
    Mengenai witir, sudah dibahas dengan lengkap di :
    http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tata-cara-shalat-malam-dan-witir-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

    Seperti anda ketahui, tarawih adalah sekedar istilah yang digunakan oleh para ulama mengambil dari SIFAT shalat tersebut. Oleh karena itu kita tidak bisa menghukuminya dari sekedar istilah ini saja. Selama masih sesuai dengan praktek-praktek yang diajarkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam maka masih dianggap dan sah.

Previous

Next

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: