Setahun Meninggalkan Keluarga ke Luar Negeri, Berdosakah?

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh

Singkat saja, saya seorang suami yang telah menikah dan dikaruniai anak 2. Alhamdulillah dari kecil sudah terbiasa berjilbab mengikuti uminya. Sudah 6 tahun saya bekerja di luar negeri. Yang mana hanya bisa pulang menjenguk anak isteri setahun sekali. Tapi komunikasi tetap kami lakukan dengan anak isteri melalui SMS ataupun telpon. Ingin saya tanyakan: dosakah apa yang saya lakukan ini terhadap keluarga saya dan dengan tidak memberikan kebutuhan batin terhadap isteri selama setahun tersebut?

Matur suwun dan jazakumullah.

Wassalamu’alaikum,
BAMBANGXXXXXX@yahoo.com

BW

Jawaban

Assalammu’alaikum wr. wb.

Bapak BW yang dimuliakan Allah,

Sedih, ya pak rasanya jauh dari keluarga, meski hal itu pun disebabkan untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarga. Nampaknya bapakpun punya perasaan bersalah juga dengan kondisi ini, karena jarak yang jauh juga membuat peranan bapak sebagai suami dan ayah menjdi terbatas, termasuk tak dapat menjalankan kewajiban dalam memberikan nafkah batin kepada isteri tercinta dalam jangka waktu yang demikian lama.

Dalam Islam memang dianjurkan bagi seorang suami, jika harus meninggalkan isterinya maka waktu maksimal yang diperbolehkan adalah 4 bulan. Hal ini pernah terjadi di zaman kekhalifahan Umar bin Khatab ketika dia mendengar keluhan seorang wanita yang ditinggalkan suaminya berjihad, wanita itu mengatakan “jika bukan karena rasa takut kepada Allah maka niscaya ranjang ini akan bergoyang.” Sejak itu Umar tidak memperbolehkan lelaki meninggalkan isterinya, meski untuk berjihad, lebih dari 4 bulan.

Sedangkan waktu iddah bagi seorang wanita yang dicerai oleh suaminya adalah 3x masa sucinya, artinya batasan yang aman bagi seorang wanita tidak menerima nafkah batin mungkin selama jangka waktu tersebut. Dalam hal ini bapak tentu dapat mempertimbangkan kembali kunjungan kepada keluarga yang hanya dilakukan setahun sekali. Apakah berdosa atau tidak masalah ini akan dikembalikan kepada isteri bapak, relakah ia hanya memperoleh haknya dengan cara demikian?

Namun terlepas dari kerelaan isteri atas kondisi saat ini, kondisi seperti yang bapak alami saat ini memang sangat rentan terhadap konflik serta godaan. Selain masalah hubungan suami-isteri, tentu komunikasi dan hubungan dengan anak pun jadi terbatas. Hal tersebut tentu juga mempengaruhi perkembangan buah hati tercinta. Saran saya mungkin perlu kembali mendiskusikan bersama isteri untuk mencari alternatif solusi agar kondisi saat ini tidak berlangsung terlalu lama atau mengupayakan ada perubahan yang lebih baik dalam keluarga. Wallahu’alambishawab.

Wassalammu’alaikum wr. wb.

Rr. Anita W.

Sebelumnya: “Berdusta” pada Orang Tua demi Pekerjaan Perbedaan Umur dalam Pernikahan Sejak Menikah, Suami Tidak Menafkahi Sudah Shalat Malam dan Do’a, Tapi Belum Jadi PNS Sesuai Keinginan Orang Tua Bakti untuk Suami yang tidak Menghormati Mertua

Leave a Reply

%d bloggers like this: