HAK DAN KEWAJIBAN KELUARGA SI SAKIT DAN TEMAN-TEMANNYA



HAK DAN KEWAJIBAN KELUARGA SI SAKIT DAN TEMAN-TEMANNYA
Dr. Yusuf Qardhawi
 
Insya Allah pada bagian ini akan dibahas:
    Menjenguk Orang Sakit dan Hukumnya
    Keutamaan dan Pahala Menjenguk Orang Sakit
    Disyariatkan Menjenguk Setiap Orang Sakit
    Menjenguk Anak Kecil dan Orang yang Tidak Sadar
    Wanita Menjenguk Laki-laki yang Sakit
    Laki-laki Menjenguk Perempuan yang Sakit
    Menjenguk Orang Non-Muslim
    Menjenguk Ahli Maksiat
    Berapa Kali Menjenguk Orang Sakit?
    Mendoakan Si Sakit
    Menguatkan Harapan Sembuh Ketika Sakit
    Menjampi Si Sakit dan Syarat-syaratnya
    Menyuruh Si Sakit Berbuat Ma'ruf dan Mencegahnya dari yang Mungkar
    Mendonorkan Darah untuk Si Sakit
    Keutamaan Kesabaran Keluarga Si Sakit
    Penderita Sakit Jiwa
    Biaya Pengobatan Si Sakit
    Orang Sakit yang Mati Otaknya Dianggap Mati Menurut Syara'
    Melepas Peralatan dari Penderita yang Tidak Ada Harapan Sembuh
    Mengingatkan Penderita Agar Bertobat dan Berwasiat
    Rukhshah bagi Si Sakit untuk Mengeluarkan Deritanya
    Si Sakit Mengharapkan Kematian
    Berbaik Sangka kepada Allah Ta'ala
    Ketika Sekarat dan Mendekati Kematian
    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Mati?
 
Fakultas Kedokteran Universitas  al-Malik  Faishal  di  Dammam
melaksanakan  suatu  kegiatan  yang  bagus  dan  mulia,  yaitu
menyusun sebuah buku yang membicarakan  kode  etik  kedokteran
dalam Islam.
 
Programnya   disusun  sedemikian  bagus,  masing-masing  topik
pembahasan  diserahkan  kepada  sejumlah   pemerhati   masalah
kedokteran  dan  syariah,  dari  kalangan  ahli fiqih dan ahli
kedokteran.  Pihak  fakultas  menegaskan  bahwa   proyek   ini
semata-mata  sebagai  amal  kebajikan  karena  Allah dan untuk
mencari ridha-Nya, tidak  ada  tujuan  materiil  sama  sekali.
Orang-orang yang ikut andil menyumbangkan tulisannya pun tidak
mendapatkan honorarium, pahala mereka hanya  pada  sisi  Allah
SWT.
 
Dewan  redaksi  meminta  kepada  saya untuk menulis salah satu
dari topik yang berkaitan dengan "Hak dan  Kewajiban  Keluarga
Si Sakit dan Teman-temannya." Topik ini membuat beberapa unsur
penting yang layak untuk dijelaskan menurut tinjauan dalil dan
ushul (prinsip) syar'iyah, antara lain:
 
A. Menjenguk orang sakit;
B. Adab menjenguk orang sakit;
C. Menanggung biaya pengobatan, seluruhnya atau sebagian;
D. Mendermakan (mendonorkan) darah untuk si sakit;
E. Mendonorkan organ tubuh;
F. Hak si sakit yang tidak normal pikirannya (karena
   terbelakang, karena di bawah ancaman, atau karena hilang
   akal);
G. Hak-hak si sakit menjelang kematiannya, dan adab
   bergaul dengannya;
H. Hak-hak si sakit yang mati otaknya, dan hukum
   kematian otak.
 
Saya meminta pertolongan kepada Allah, dan saya tulis apa yang
diminta  oleh  panitia, meskipun kesibukan saya sangat banyak.
Tulisan  itu  saya  kirimkan  kepada  saudara   A.D.   Zaghlul
an-Najjar untuk disampaikan kepada pihak yang berkepentingan.
 
Oleh  karena  proses penerbitan buku tersebut cukup lama, maka
saya memandang perlu memuat pembahasan  tersebut  dalam  kitab
ini  agar  manfaatnya  lebih  luas dan merata, disamping dapat
segera dimanfaatkan. Segala puji  teruntuk  Allah  yang  telah
memberikan taufiq-Nya.
 
Alhamdulillah, segala puji kepunyaan Allah, shalawat dan salam
semoga tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya, dan  kepada
orang- orang yang mengikuti petunjuknya.
 
Amma ba'du.
 
Sesungguhnya perubahan merupakan salah satu gejala  umum  bagi
makhluk  di  alam semesta ini, khususnya makhluk hidup. Karena
itu, makhluk-makhluk ini senantiasa menghadapi  kondisi  sehat
dan sakit, yang berujung pada kematian.
 
Adapun   manusia   adalah   makhluk   hidup   yang   tertinggi
peringkatnya, karena itu tidaklah  mengherankan  bila  manusia
ditimpa  berbagai  hal. Bahkan ia lebih banyak menjadi sasaran
musibah tersebut dibandingkan makhluk lainnya,  karena  adanya
faktor    kemauan   dan   faktor   alami   yang   mempengaruhi
kehidupannya.
 
Oleh karena itu, syariat Islam menganggap penyakit atau  sakit
merupakan  fenomena yang biasa dalam kehidupan manusia, mereka
diuji dengan penyakit  sebagaimana  diuji  dengan  penderitaan
lainnya,  sesuai dengan sunnah dan undang-undang yang mengatur
alam semesta dan tata kehidupan manusia.
 
Sebab itu pula terdapat berbagai macam  hukum  dalam  berbagai
bab  dari  fiqih  syariah yang berkaitan dengan penyakit, yang
seharusnya diketahui oleh seorang muslim, atau diketahui  mana
yang terpenting, supaya dia dapat mengatur hidupnya pada waktu
dia sakit --sebagaimana dia  mengaturnya  ketika  dia  sehat--
sesuai  dengan apa yang dicintai dan diridhai Allah, jauh dari
apa yang dibenci dan dimurkai-Nya.
 
Diantara  hukum-hukum  ini  adalah  yang  berhubungan   dengan
pengobatan    orang   sakit,   hukum   berobat,   siapa   yang
melakukannya, bagaimana hubungannya dengan masalah kedokteran,
pengobatan,  dan  obat itu sendiri, bagaimana bentuk kemurahan
dan keringanan yang diberikan kepada si sakit berkenaan dengan
kewajiban  dan  ibadahnya, dan bagaimana pula yang berhubungan
dengan perkara-perkara yang dilarang dan diharamkan.
 
Misalnya yang berhubungan dengan hak dan kewajiban  si  sakit,
serta  hak  dan  kewajiban  orang-orang di sekitarnya, seperti
keluarga, sanak kerabat, dan teman-temannya.
 
Orang yang memperhatikan Al-Qur'anul  Karim  niscaya  ia  akan
menjumpai  kata  al-maradh  (penyakit/sakit)  dengan kata-kata
bentukannya yang disebutkan sebanyak lima belas kali, sebagian
berhubungan  dengan  penyakit hati, dan kebanyakan berhubungan
dengan penyakit tubuh. Sebagaimana Al-Qur'an juga  menyebutkan
kata-kata  syifa'  (obat)  beserta  variasi bentuknya sebanyak
enam kali, yang kebanyakan berhubungan dengan penyakit hati.
 
Masalah ini juga mendapat perhatian dari para ahli hadits  dan
ahli  fiqih,  sehingga  dapat  kita  jumpai  dalam kitab-kitab
hadits yang disusun menurut bab dan maudhu' (topik)-nya,  yang
di  antaranya  ialah "Kitab ath-Thibb" (obat/pengobatang)1 dan
di antaranya --seperti  Shahih  al-Bukhari--  terdapat  "Kitab
al-Mardha"  (orang-orang  sakit).  Ini  berkaitan  dengan "Bab
ar-Ruqa"  (mantra-mantra/jampi-jampi)  jimat,  penyakit  'ain,
sihir,  dan  lain-lainnya.  Kemudian  ada  pula  masalah  yang
berkaitan dengan penyakit yang dimuat di dalam kitab al-Janaiz
(jenazah).
 
Dalam  kehidupan  kita  pada  zaman  modern  ini  telah timbul
berbagai persoalan dan permasalahan dalam dunia  penyakit  dan
kedokteran yang belum dikenal oleh para fuqaha kita terdahulu,
bahkan tidak pernah terpikir dalam benak  mereka.  Karena  itu
fiqih  modern  harus  dapat  memahaminya dan menjelaskan hukum
syara' yang berkaitan dengannya, sesuai dengan dalil-dalil dan
prinsip-prinsip syariat.
 
Diantara  ketetapan  yang sudah disepakati ialah bahwa syariat
menghukumi semua perbuatan orang mukallaf, yang besar  ataupun
yang  kecil,  dan tidak satu pun perbuatan mukallaf yang lepas
dari bingkainya. Karena itu  setiap  perbuatan  mukallaf  yang
dilakukan  dengan  sadar,  pasti  terkena kepastian hukum dari
lima macam hukumnya, yaitu  wajib,  mustahab,  haram,  makruh,
atau mubah.
 
Pada   halaman-halaman   berikut   ini   akan  saya  kemukakan
hukum-hukum syara' yang terpenting  dan  pengarahan-pengarahan
Islam   yang   berhubungan   dengan  kedokteran  (pengobatan),
kesehatan,  dan  penyakit,  dengan  mengacu   pada   nash-nash
Al-Qur'an, As-Sunnah, dan maksud syariat juga dengan mengambil
sebagian  dari  perkataan  ulama-ulama  umat   yang   mendalam
ilmunya,  dengan mengaitkannya dengan kenyataan sekarang. Kita
mohon kepada Allah semoga  Dia  menjadikannya  bermanfaat  ...
amin.

MENJENGUK ORANG SAKIT DAN HUKUMNYA
 
Orang  sakit  adalah  orang  yang   lemah,   yang   memerlukan
perlindungan   dan   sandaran.   Perlindungan   (pemeliharaan,
penjagaan) atau  sandaran  itu  tidak  hanya  berupa  materiil
sebagaimana  anggapan  banyak  orang,  melainkan  dalam bentuk
materiil dan spiritual sekaligus.
 
Karena  itulah  menjenguk  orang  sakit  termasuk  dalam   bab
tersebut.  Menjenguk  si  sakit ini memberi perasaan kepadanya
bahwa  orang  di  sekitarnya   (yang   menjenguknya)   menaruh
perhatian   kepadanya,   cinta  kepadanya,  menaruh  keinginan
kepadanya,  dan   mengharapkan   agar   dia   segera   sembuh.
Faktor-faktor  spiritual  ini  akan  memberikan kekuatan dalam
jiwanya untuk melawan serangan penyakit lahiriah.  Oleh  sebab
itu,   menjenguk   orang  sakit,  menanyakan  keadaannya,  dan
mendoakannya  merupakan   bagian   dari   pengobatan   menurut
orang-orang  yang  mengerti.  Maka pengobatan tidak seluruhnya
bersifat materiil (kebendaan).
 
Karena itu, hadits-hadits Nabawi menganjurkan "menjenguk orang
sakit"  dengan  bermacam-macam  metode  dan dengan menggunakan
bentuk targhib  wat-tarhib  (menggemarkan  dan  menakut-nakuti
yakni  menggemarkan  orang yang mematuhinya dan menakut-nakuti
orang yang tidak melaksanakannya).
 
Diriwayatkan di dalam hadits sahih muttafaq  'alaih  dari  Abu
Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda:
 
    "Hak orang muslim atas orang muslim lainnya ada lima:
    menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantarkan
    jenazahnya, mendatangi undangannya, dan mendoakannya
    ketika bersin."2
 
Imam  Bukhari  meriwayatkan  dari  Abu  Musa  al-Asy'ari,   ia
berkata: Rasulullah saw. bersabda:
 
    "Berilah makan orang yang lapar, jenguklah orang yang
    sakit, dan tolonglah orang yang kesusahan."3
 
Imam Bukhari juga meriwayatkan dari  al-Barra'  bin  Azib,  ia
berkata:
 
    "Rasulullah saw. menyuruh kami melakukan tujuh perkara
    ... Lalu ia menyebutkan salah satunya adalah menjenguk
    orang sakit."4
 
Apakah perintah dalam hadits di  atas  dan  hadits  sebelumnya
menunjukkan  kepada  hukum  wajib ataukah mustahab? Para ulama
berbeda pendapat mengenai masalah ini.
 
Imam Bukhari berpendapat  bahwa  perintah  disini  menunjukkan
hukum  wajib,  dan beliau menerjemahkan hal itu di dalam kitab
Shahih-nya dengan mengatakan:  "Bab  Wujubi  'Iyadatil-Maridh"
(Bab Wajibnya Menjenguk Orang Sakit).
 
Ibnu  Baththal  berkata, "Kemungkinan perintah ini menunjukkan
hukum wajib dalam arti wajib kifayah,  seperti  memberi  makan
orang yang lapar dan melepaskan tawanan; dan boleh jadi mandub
(sunnah),  untuk  menganjurkan  menyambung  kekeluargaan   dan
berkasih sayang."
 
Ad-Dawudi memastikan hukum yang pertama (yakni fardhu kifayah;
Penj.). Beliau berkata, "Hukumnya adalah fardhu, yang  dipikul
oleh sebagian orang tanpa sebagian yang lain."
 
Jumhur  ulama berkata, "Pada asalnya hukumnya mandub (sunnah),
tetapi kadang-kadang bisa menjadi wajib bagi orang tertentu."
 
Sedangkan ath-Thabari menekankan bahwa menjenguk  orang  sakit
itu  merupakan kewajiban bagi orang yang diharapkan berkahnya,
disunnahkan bagi orang yang memelihara kondisinya,  dan  mubah
bagi orang selain mereka.
 
Imam  Nawawi  mengutip kesepakatan (ijma') ulama tentang tidak
wajibnya, yakni tidak wajib 'ain.5
 
Menurut zhahir hadits, pendapat yang  kuat  menurut  pandangan
saya  ialah  fardhu  kifayah,  artinya jangan sampai tidak ada
seorang pun yang menjenguk si sakit.  Dengan  demikian,  wajib
bagi   masyarakat   Islam   ada  yang  mewakili  mereka  untuk
menanyakan  keadaan   si   sakit   dan   menjenguknya,   serta
mendoakannya agar sembuh dan sehat.
 
Sebagian  ahli  kebajikan dari kalangan kaum muslim zaman dulu
mengkhususkan  sebagian  wakaf  untuk  keperluan   ini,   demi
memelihara sisi kemanusiaan.
 
Adapun masyarakat secara umum, maka hukumnya sunnah muakkadah,
dan kadang-kadang bisa  meningkat  menjadi  wajib  bagi  orang
tertentu  yang  mempunyai  hubungan  khusus dan kuat dengan si
sakit. Misalnya, kerabat, semenda, tetangga yang  berdampingan
rumahnya, orang yang telah lama menjalin persahabatan, sebagai
hak guru dan kawan akrab,  dan  lain-lainnya,  yang  sekiranya
dapat   menimbulkan  kesan  yang  macam-macam  bagi  si  sakit
seandainya mereka tidak menjenguknya,  atau  si  sakit  merasa
kehilangan    terhadap    yang    bersangkutan   (bila   tidak
menjenguknya).
 
Barangkali  orang-orang  macam  inilah  yang  dimaksud  dengan
perkataan  haq  (hak) dalam hadits: "Hak orang muslim terhadap
muslim lainnya ada lima," karena tidaklah  tergambarkan  bahwa
seluruh  kaum  muslim harus menjenguk setiap orang yang sakit.
Maka yang dituntut ialah orang yang memiliki  hubungan  khusus
dengan si sakit yang menghendaki ditunaikannya hak ini.
 
Disebutkan  dalam  Nailul-Authar:  "Yang dimaksud dengan sabda
beliau (Rasulullah saw.) 'hak orang muslim' ialah tidak  layak
ditinggalkan,  dan  melaksanakannya ada kalanya hukumnya wajib
atau  sunnah  muakkadah  yang  menyerupai   wajib.   Sedangkan
menggunakan  perkataan  tersebut  --yakni  haq  (hak)-- dengan
kedua arti di atas termasuk bab  menggunakan  lafal  musytarik
dalam   kedua   maknanya,   karena   lafal  al-haq  itu  dapat
dipergunakan dengan arti 'wajib', dan dapat juga  dipergunakan
dengan arti 'tetap,' 'lazim,' 'benar,' dan sebagainya."6

KEUTAMAAN DAN PAHALA MENJENGUK ORANG SAKIT
 
Diantara yang  memperkuat  kesunnahan  menjenguk  orang  sakit
ialah  adanya  hadits-hadits  yang  menerangkan  keutamaan dan
pahala orang yang melaksanakannya, misalnya:
 
1. Hadits Tsauban yang marfu' (dari Nabi saw.):
 
    "Sesungguhnya apabila seorang muslim menjenguk orang
    muslim lainnya, maka ia berada di dalam khurfatul
    jannah."7
 
    Dalam riwayat lain ditanyakan kepada Rasulullah saw.:
 
    "Wahai Rasulullah, apakah khurfatul jannah itu?" Beliau
    menjawab, "Yaitu taman buah surga."
 
2. Hadits Jabir yang marfu':
 
    "Barangsiapa yang menjenguk orang sakit berarti dia
    menyelam dalam rahmat, sehingga ketika dia duduk berarti
    dia berhenti disitu (didalam rahmat)."8
 
3. Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata:
   Rasulullah saw. bersabda:
 
    "Barangsiapa menjenguk orang sakit maka berserulah
    seorang penyeru dari langit (malaikat), 'Bagus engkau,
    bagus perjalananmu, dan engkau telah mempersiapkan
    tempat tinggal di dalam surga."9
 
4. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.
   bahwa Rasulullah saw. bersabda:
 
    "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan berfirman pada
    hari kiamat, 'Hai anak Adam, Aku sakit, tetapi kamu
    tidak menjenguk-Ku.' Orang itu bertanya, 'Oh Tuhan,
    bagaimana aku harus menjengukMu sedangkan Engkau adalah
    Tuhan bagi alam semesta?' Allah menjawab, 'Apakah kamu
    tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tetapi
    kamu tidak menjenguknya?Apakah kamu tidak tahu bahwa
    seandainya kamu menjenguknya pasti kamu dapati Aku di
    sisinya?' 'Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu,
    tetapi tidak kamu beri Aku makan.' Orang itu menjawab,
    'Ya Rabbi, bagaimana aku memberi makan Engkau, sedangkan
    Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?' Allah menjawab,
    'Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan meminta
    makan kepadamu, tetapi tidak kauberi makan? Apakah kamu
    tidak tahu bahwa seandainya kamu beri makan dia niscaya
    kamu dapati hal itu di sisiKu?' 'Wahai anak Adam, Aku
    minta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum.'
    Orang itu bertanya, 'Ya Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu
    minum sedangkan Engkau Tuhan bagi alam semesta?'Allah
    menjawab, 'Hamba-Ku si Fulan meminta minum kepadamu,
    tetapi tidak kamu beri minum. Apakah kamu tidak tahu
    bahwa seandainya kamu memberinya minum niscaya akan kamu
    dapati (balasannya) itu di sisi-Ku?"10
 
5. Diriwayatkan dari Ali  r.a.,  ia  berkata:  Saya  mendengar
   Rasulullah saw. bersabda:
 
    "Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim
    lainnya pada pagi hari kecuali ia didoakan oleh tujuh
    puluh ribu malaikat hingga sore hari; dan jika ia
    menjenguknya pada sore hari maka ia didoakan oleh tujuh
    puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan baginya kurma
    yang dipetik di taman surga." (HR Tirmidzi, dan beliau
    berkata, "Hadits hasan.")11

DISYARIATKAN MENJENGUK SETIAP ORANG SAKIT
 
Dalam hadits-hadits yang menyuruh dan  menggemarkan  menjenguk
orang sakit terdapat indikasi yang menunjukkan disyariatkannya
menjenguk setiap orang yang sakit, baik sakitnya berat  maupun
ringan.
 
Imam Baihaqi dan Thabrani secara marfu' meriwayatkan:
 
    "Tiga macam penderita penyakit yang tidak harus dijenguk
    yaitu sakit mata, sakit bisul, dan sakit gigi."
 
Mengenai hadits ini, Imam Baihaqi  sendiri  membenarkan  bahwa
riwayat  ini mauquf pada Yahya bin Abi Katsir. Berarti riwayat
hadits ini tidak marfu' sampai Nabi saw., dan tidak  ada  yang
dapat dijadikan hujjah melainkan yang beliau sabdakan.
 
Al-Hafizh  Ibnu  Hajar berkata, "Mengenai menjenguk orang yang
sakit mata terdapat hadits khusus yang membicarakannya,  yaitu
hadits Zaid bin Arqam, dia berkata:
 
    "Rasulullah saw. menjenguk saya karena saya sakit
    mata."12
 
Menjenguk orang sakit itu  disyariatkan,  baik  ia  terpelajar
maupun  awam,  orang  kota  maupun  orang desa, mengerti makna
menjenguk orang sakit maupun tidak.
 
Imam Bukhari meriwayatkan dalam "Kitab al-Mardha"  dari  kitab
Shahih-nya,  "Bab  'Iyadatul-A'rab,"  hadits  Ibnu  Abbas r.a.
bahwa Nabi saw. pernah  menjenguk  seorang  Arab  Badui,  lalu
beliau bersabda, "Tidak apa-apa, suci insya Allah." Orang Arab
Badui itu berkata, "Engkau katakan  suci?  Tidak,  ini  adalah
penyakit  panas  yang  luar  biasa pada seorang tua, yang akan
mengantarkannya ke kubur." Lalu Nabi saw.  bersabda,  "Oh  ya,
kalau begitu."13
 
Makna  perkataan Nabi saw., "Tidak apa-apa, suci insya Allah,"
itu adalah bahwa beliau mengharapkan  lenyapnya  penyakit  dan
kepedihan  dari  orang  Arab  Badui  itu,  sebagaimana  beliau
mengharapkan penyakitnya akan menyucikannya dari  dosa-dosanya
dan  menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Jika ia sembuh, maka
ia mendapatkan dua macam faedah; dan jika tidak  sembuh,  maka
dia  mendapatkan  keuntungan  dengan  dihapuskannya  dosa  dan
kesalahannya.
 
Tetapi orang Badui itu sangat  kasar  tabiatnya,  dia  menolak
harapan  dan  doa  Nabi  saw.,  lalu Nabi mentolerirnya dengan
menuruti jalan pikirannya seraya  mengatakan,  "Oh  ya,  kalau
begitu."  Artinya,  jika  kamu tidak mau, ya baiklah, terserah
anggapanmu.
 
Disebutkan  juga  dalam  Fathul-Bari  bahwa  ad-Daulabi  dalam
al-Kuna  dan  Ibnu Sakan dalam ash-Shahabah meriwayatkan kisah
orang Badui itu, dan dalam riwayat tersebut  disebutkan:  Lalu
Nabi  saw.  bersabda,  "Apa  yang telah diputuskan Allah pasti
terjadi." Kemudian orang Badui itu meninggal dunia.
 
Diriwayatkan dari  al-Mahlab  bahwa  ia  berkata,  "Pengertian
hadits  ini adalah bahwa tidak ada kekurangannya bagi pemimpin
menjenguk rakyatnya yang sakit,  meskipun  dia  seorang  Badui
yang  kasar tabiatnya; juga tidak ada kekurangannya bagi orang
yang  mengerti  menjenguk  orang  bodoh   yang   sakit   untuk
mengajarinya  dan mengingatkannya akan hal-hal yang bermanfaat
baginya, menyuruhnya bersabar  agar  tidak  menggerutu  kepada
Allah   yang   dapat   menyebabkan   Allah   benci  kepadanya,
menghiburnya  untuk  mengurangi   penderitaannya,   memberinya
harapan  akan  kesembuhan penyakitnya, dan lain-lain hal untuk
menenangkan hatinya dan hati keluarganya.
 
Diantara faedah lain hadits itu ialah bahwa  seharusnya  orang
yang  sakit  itu  menerima  nasihat orang lain dan menjawabnya
dengan jawaban yang baik."14

MENJENGUK ANAK KECIL DAN ORANG YANG TIDAK SADAR
 
Menjenguk orang sakit bukan  berarti  semata-mata  membesarkan
penderita,   tetapi   hal  itu  juga  merupakan  tindakan  dan
perbuatan baik kepada  keluarganya.  Oleh  karena  itu,  tidak
apalah  menjenguk  anak  kecil yang belum mumayyiz (belum bisa
membedakan antara satu hal dengan lainnya) yang  jatuh  sakit,
karena  yang  demikian  itu akan menyenangkan hati keluarganya
dan menyebabkannya terhibur. Demikian  pula  dengan  menjenguk
orang  sakit yang tidak sadarkan diri, karena menjenguknya itu
dapat menyenangkan  hati  keluarganya  dan  meringankan  beban
mentalnya.  Kadang-kadang  setelah  yang  sakit  itu sadar dan
diberi  kesembuhan  oleh   Allah,   maka   keluarganya   dapat
menceritakan  kepadanya  siapa  saja  yang datang menjenguknya
ketika ia tidak sadar, dan dengan  informasi  itu  dia  merasa
senang.
 
Didalam  kitab  Shahih  al-Bukhari,  "Bab 'Iyadatush-Shibyan,"
disebutkan hadits Usamah bin Zaid r.a. bahwa putri  Nabi  saw.
mengirim  utusan  kepada beliau --pada waktu itu Usamah sedang
bersama Nabi saw., Sa'ad, dan Ubai-- untuk menyampaikan  pesan
yang  isinya:  "Saya  kira  anak  perempuan  saya sudah hampir
meninggal dunia, oleh karena  itu  hendaklah  Ayahanda  datang
kepada   kami  --dalam  satu  riwayat  menggunakan  kata-kata:
hendaklah Ayahanda datang  kepadanya."  Lalu  beliau  mengirim
utusan  kepada putri beliau untuk menyampaikan salam dan pesan
yang  isinya:   "Sesungguhnya   kepunyaan   Allah   apa   yang
diambil-Nya  dan  apa  yang  diberikan-Nya, dan segala sesuatu
bergantung pada ajal yang telah ditentukan di sisiNya,  karena
itu  hendaklah  ia rela dan sabar." Lalu putrinya itu mengirim
utusan lagi  sambil  bersumpah  agar  Rasulullah  saw.  datang
kepadanya.  Lalu  pergilah Nabi saw. bersama kami ... Kemudian
dibawalah anak yang sakit  itu  ke  pangkuan  Rasulullah  saw.
dengan  nafas  yang tersendat-sendat. Maka meneteslah air mata
beliau. Lalu Sa'ad bertanya, "Apakah ini,  wahai  Rasulullah?"
Beliau menjawab:
 
    "Ini adalah rahmat yang diletakkan Allah di dalam hati
    hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Dan Allah tidak
    memberikan rahmat kepada hamba-hamba-Nya kecuali yang
    penyayang."15
 
Diriwayatkan juga  dalam  Shahih  al-Bukhari,  "Bab  'Iyadatil
Mughma  'alaihi,"  hadits Jabir bin Abdullah r.a., ia berkata,
"Saya pernah jatuh sakit, lalu Rasulullah saw. menjenguk  saya
bersama  Abu  Bakar  dengan  berjalan kaki. Lalu beliau berdua
mendapati saya dalam keadaan tidak  sadar,  lantas  Nabi  saw.
berwudhu,  kemudian menuangkan bekas air wudhunya kepada saya,
kemudian saya sadar, ternyata beliau adalah  Nabi  saw.,  lalu
saya  bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang harus saya lakukan
terhadap harta saya? Bagaimana saya memperlakukan harta  saya?
Maka  beliau  tidak  menjawab  sedikit pun sehingga turun ayat
tentang waris."16
 
Ibnul Munir berkata, "Faedah  terjemah  --maksudnya  pemberian
judul  bab--  ialah  agar tidak dipahami bahwa menjenguk orang
yang  tidak  sadar  itu  gugur  (tidak  perlu)   karena   yang
bersangkutan   tidak   mengetahui  orang  yang  menjenguknya."
Al-Hafizh  berkata,  "Disyariatkannya  menjenguk  orang  sakit
tidak  semata-mata  bergantung  pada  tahunya  si sakit kepada
orang yang menjenguknya,  karena  menjenguk  orang  sakit  itu
dapat  juga  menghibur  hati  keluarganya,  dan  diharapkannya
berkah doa orang yang menjenguk, usapan dan belaian  tangannya
ke  tubuh si sakit, tiupannya ketika memohon perlindungan, dan
lain-lainnya."17

WANITA MENJENGUK LAKI-LAKI YANG SAKIT
 
Disyariatkannya menjenguk  orang  sakit  meliputi  penjengukan
wanita   kepada   laki-laki,  meskipun  bukan  muhrimnya,  dan
laki-laki kepada wanita.
 
Diantara  bab-bab  dalam   Shahih   al-Bukhari   pada   "Kitab
al-Mardha"  terdapat judul "Bab 'Iyadatin-Nisa' ar-Rijal" (Bab
Wanita Menjenguk      Laki-laki).   Dalam   hal   ini   beliau
meriwayatkan  suatu  hadits secara mu'allaq (tanpa menyebutkan
rentetan  perawinya):  Bahwa  Ummu  Darda'  pernah   menjenguk
seorang laki-laki Anshar dari ahli masjid. Tetapi Imam Bukhari
memaushulkan (meriwayatkan secara bersambung sanadnya) didalam
al-Adabul-Mufrad dari jalan al-Harits bin Ubaid, ia berkata:
 
    "Saya melihat Ummu Darda' di atas kendaraannya yang ada
    tiangnya tetapi tidak bertutup, mengunjungi
    seoranglaki-laki Anshar di masjid."18
 
Bukhari juga meriwayatkan hadits Aisyah r.a., ia berkata:
 
    "Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, Abu Bakar dan
    Bilal r.a. jatuh sakit, lalu aku datang menjenguk
    mereka, seraya berkata, Wahai Ayahanda, bagaimana
    keadaanmu? Wahai Bilal, bagaimana keadaanmu?" Aisyah
    berkata, "Abu Bakar apabila terserang penyakit panas,
    beliau berkata: 'Semua orang berada di tengah
    keluarganya, sedang kematian itu lebih dekat daripada
    tali sandalnya.' Dan Bilal apabila telah hilang
    demamnya, ia berkata:
 
'Wahai, merinding bulu romaku
Apakah aku akan bermalam di suatu lembah
Yang dikelilingi rumput-rumput idzkhir dan jalil
Apakah pada suatu hari aku menginginkan air Majnah
Apakah mereka akan menampakkan kebagusan dan kekeruhanku?"
 
Aisyah  berkata,  "Lalu  aku  datang  kepada  Rasulullah  saw.
memberitahukan  hal  itu,  lantas  beliau  berdoa,  Ya  Allah,
jadikanlah kami mencintai Madinah seperti kami mencintai Mekah
atau melebihinya."19
 
Yang  menjadi dalil kebolehan wanita menjenguk laki-laki dalam
hadits tersebut ialah masuknya Aisyah  menjenguk  ayahnya  dan
menjenguk   Bilal,  serta  perkataannya  kepada  masing-masing
mereka, "Bagaimana engkau dapati dirimu?"  Yang  dalam  bahasa
kita  sekarang  sering  kita  ucapkan: "Bagaimana kesehatanmu?
Bagaimana keadaanmu?" Padahal  Bilal  ini  bukan  mahram  bagi
Aisyah Ummul Mukminin.
 
Tetapi suatu hal yang tidak diragukan ialah bahwa menjenguknya
itu  terikat  dengan   syarat-syarat   tertentu   yang   telah
ditetapkan  syara',  bersopan  santun  sebagai  muslimah dalam
berjalan, gerak-gerik, memandang,  berbicara,  tidak  berduaan
antara  seorang lelaki dengan seorang perempuan tanpa ada yang
lain,  aman  dari  fitnah,  diizinkan  oleh  suami  bagi  yang
bersuami, dan diizinkan oleh wali bagi yang tidak bersuami.
 
Dalam  hal  ini, janganlah suami atau wali melarang istri atau
putrinya  menjenguk  orang  yang  punya  hak  untuk   dijenguk
olehnya,  seperti  kerabatnya  yang  bukan  muhrim, atau besan
(semenda), atau gurunya,  atau  suami  kerabatnya,  atau  ayah
kerabatnya,  dan  sebagainya dengan syarat-syarat seperti yang
telah disebutkan di atas.

LAKI-LAKI MENJENGUK PEREMPUAN YANG SAKIT
 
Sebagaimana  terdapat  beberapa  hadits  yang   memperbolehkan
perempuan  menjenguk  laki-laki  dengan syarat-syaratnya, jika
diantara mereka terjalin hubungan, dan laki-laki itu punya hak
terhadap  wanita  tersebut,  maka  laki-laki juga disyariatkan
untuk menjenguk wanita dengan syarat-syarat yang sama. Hal ini
jika  diantara  mereka  terjalin  hubungan yang kokoh, seperti
hubungan  kekerabatan  atau   persemendaan,   tetangga,   atau
hubungan-hubungan  lain  yang  menjadikan  mereka memiliki hak
kemasyarakatan yang lebih banyak daripada orang lain.
 
Diantara   dalilnya   ialah   keumuman   hadits-hadits    yang
menganjurkan  menjenguk  orang  sakit,  yang  tidak membedakan
antara laki-laki dan perempuan.
 
Sedangkan diantara dalil  khususnya  ialah  yang  diriwayatkan
oleh  Imam  Muslim  dalam  Shahih-nya  dari Jabir bin Abdullah
r.a.:
 
    "Bahwa Rasulullah saw. pernah menjenguk Ummu Saib --atau
    Ummul Musayyib-- lalu beliau bertanya, 'Wahai Ummus
    Saib, mengapa engkau menggigil?' Dia menjawab, 'Demam,
    mudah-mudahan Allah tidak memberkatinya.' Beliau
    bersabda, 'Janganlah engkau memaki-maki demam, karena
    dia dapat menghilangkan dosa-dosa anak Adam seperti
    ububan (alat pengembus api pada tungku pandai besi)
    menghilangkan karat besi.'"20
 
Padahal, Ummus Saib tidak termasuk salah seorang  mahram  Nabi
saw. Meskipun begitu, dalam hal ini harus dijaga syarat-syarat
yang  ditetapkan  syara',  seperti  aman   dari   fitnah   dan
memelihara  adab-adab  yang  sudah  biasa  berlaku  (dan tidak
bertentangan  dengan  prinsip  Islam;  Penj.),   karena   adat
kebiasaan itu diperhitungkan oleh syara'.

MENJENGUK ORANG NON-MUSLIM
 
Dijadikannya  menjenguk  orang  sebagai  hak  seorang   muslim
terhadap   muslim   lainnya,   sebagaimana   disebutkan  dalam
hadits-hadits  itu,  tidak  berarti  bahwa  orang  sakit  yang
nonmuslim  tidak  boleh  dijenguk. Sebab menjenguk orang sakit
itu,  apa  pun  jenisnya,  warna  kulitnya,   agamanya,   atau
negaranya,  adalah  amal  kemanusiaan  yang oleh Islam dinilai
sebagai ibadah dan qurbah (pendekatan diri kepada Allah).
 
Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika  Nabi  saw.  menjenguk
anak  Yahudi  yang  biasa melayani beliau ketika beliau sakit.
Maka Nabi saw. menjenguknya dan  menawarkan  Islam  kepadanya,
lalu  anak  itu  memandang  ayahnya, lantas si ayah berisyarat
agar dia mengikuti Abul Qasim  (Nabi  Muhammad  saw.;  Penj.),
lalu  dia  masuk  Islam sebelum meninggal dunia, kemudian Nabi
saw. bersabda:
 
    "Segala puji kepunyaan Allah yang telah menyelamatkannya
    dari neraka melalui aku." (HR Bukhari)
 
Hal ini menjadi  semakin  kuat  apabila  orang  nonmuslim  itu
mempunyai  hak  terhadap  orang  muslim  seperti hak tetangga,
kawan, kerabat, semenda, atau lainnya.
 
Hadits-hadits yang telah disebutkan  hanya  untuk  memperkokoh
hak  orang muslim (bukan membatasi) karena adanya hak-hak yang
diwajibkan  oleh  ikatan  keagamaan.  Apabila  si  muslim  itu
tetangganya,  maka  ia  mempunyai  dua  hak: hak Islam dan hak
tetangga. Sedangkan jika yang bersangkutan masih kerabat, maka
dia mempunyai tiga hak, yaitu hak Islam, hak tetangga, dan hak
kerabat. Begitulah seterusnya.
 
Imam Bukhari membuat satu bab tersendiri  mengenai  "Menjenguk
Orang  Musyrik"  dan  dalam  bab itu disebutkannya hadits Anas
mengenai anak Yahudi yang dijenguk oleh Nabi saw. dan kemudian
diajaknya  masuk Islam, lalu dia masuk Islam, sebagaimana saya
nukilkan tadi.
 
Beliau juga menyebutkan  hadits  Sa'id  bin  al-Musayyab  dari
ayahnya,  bahwa  ketika  Abu Thalib akan meninggal dunia, Nabi
saw. datang kepadanya.21
 
Diriwayatkan juga dalam Fathul-Bari dari Ibnu  Baththal  bahwa
menjenguk  orang  nonmuslim  itu  disyariatkan  apabila  dapat
diharapkan dia akan masuk Islam, tetapi jika tidak ada harapan
untuk itu maka tidak disyariatkan.
 
Al-Hafizh  berkata,  "Tampaknya  hal itu berbeda-beda hukumnya
sesuai dengan tujuannya. Kadang-kadang menjenguknya juga untuk
kemaslahatan lain."
 
Al-Mawardi  berkata,  "Menjenguk  orang dzimmi (nonmuslim yang
tunduk pada pemerintahan Islam) itu boleh,  dan  nilai  qurbah
(pendekatan  diri  kepada  Allah)  itu  tergantung  pada jenis
penghormatan  yang  diberikan,  karena  tetangga  atau  karena
kerabat."22

MENJENGUK AHLI MAKSIAT
 
Apabila  menjenguk  orang  nonmuslim  itu  dibenarkan syariat,
bahkan kadang-kadang bernilai qurbah dan  ibadah,  maka  lebih
utama  pula  disyariatkan  menjenguk  sesama  muslim yang ahli
maksiat. Sebab, hadits-hadits yang  menyuruh  menjenguk  orang
sakit  dan  menjadikannya  hak  orang  muslim  terhadap muslim
lainnya, tidak mengkhususkan untuk  ahli  taat  dan  kebajikan
saja tanpa yang lain, meskipun hak mereka lebih kuat.
 
Imam  al-Baghawi  mengatakan  didalam Syarhus- Sunnah, setelah
menerangkan  hadits  Abu  Hurairah  mengenai  enam  macam  hak
seorang  muslim  terhadap  muslim lainnya dan hadits al-Barra'
bin Azib mengenai  tujuh  macam  perkara  yang  diperintahkan,
"Semua yang diperintahkan ini termasuk hak Islam, yang seluruh
kaum muslim sama kedudukannya terhadapnya, yang  taat  ataupun
yang  durjana. Hanya saja untuk orang yang taat perlu disikapi
dengan  wajah  yang  ceria,  ditanya  keadaannya,  dan  diajak
berjabat  tangan,  sedangkan  orang  yang  durjana yang secara
terang-terangan   menampakkan   kedurjanaannya   tidak   perlu
diperlakukan seperti itu."23
 
Dalam  hal ini, sebagian ulama mengecualikan ahli-ahli bid'ah,
bahwa mereka  tidak  perlu  dijenguk  untuk  menampakkan  rasa
kebencian mereka karena Allah.
 
Tetapi,   menurut   pentarjihan   saya,   bahwa   bid'ah  atau
kemaksiatan mereka tidaklah mengeluarkan  mereka  dari  daerah
Islam  dan  tidak  menghalangi  mereka  untuk  mendapatkan hak
sebagai seorang muslim  atas  muslim  lainnya.  Dan  menjenguk
mereka  yang  tanpa  diduga-duga  sebelumnya itu --lebih-lebih
oleh seorang muslim yang saleh, orang alim, atau juru dakwah--
dapat  menjadi  duta kebaikan dan utusan kebenaran kepada hati
mereka, sehingga hati mereka terbuka untuk menerima  kebenaran
dan  mendengarkan tutur kata yang bagus, karena manusia adalah
tawanan  kebaikan.  Sebagaimana   Islam   mensyariatkan   agar
menjinakkan  hati  orang  lain  dengan  harta,  maka  tidaklah
mengherankan jika Islam juga menyuruh menjinakkan  hati  orang
lain  dengan  kebajikan,  kelemahlembutan,  dan pergaulan yang
baik. Hal ini pernah dicoba oleh juru-juru dakwah yang  benar,
lalu Allah membuka hati banyak orang yang selama ini tertutup.
 
Para  ulama  mengatakan,  "Disunnahkan  menjenguk  orang sakit
secara umum, teman atau lawan, orang yang dikenalnya atau yang
tidak dikenalnya, mengingat keumuman hadits."24

BERAPA KALI MENJENGUK ORANG SAKIT?
 
Apabila  menjenguk  orang  sakit  itu  wajib  atau sunnah bagi
keluarganya, tetangganya, dan teman-temannya,  maka  sebaiknya
berapa  kalikah  hal  itu  dilakukan?  Dan  berapa  lama waktu
menjenguk itu?
 
Dalam hal ini, saya yakin  bahwa  hal  itu  diserahkan  kepada
kebiasaan,  kondisi  penjenguk, kondisi si sakit, dan seberapa
jauhnya hubungan yang bersangkutan dengan si sakit.
 
Orang yang lama jatuh sakit, maka dia dijenguk dari  waktu  ke
waktu, dalam hal ini tidak terdapat batas waktu yang tertentu.
 
Sebagian  ulama  mengatakan,  "Hendaknya menjenguk orang sakit
itu dilakukan secara berkala, jangan setiap hari, kecuali bagi
yang  sudah  terbiasa."  Sebagian  lagi  mengatakan, "Seminggu
sekali."
 
Imam Nawawi mengomentari hal ini sebagai berikut:
 
    "Ini bagi orang lain. Adapun bagi kerabat si sakit atau
    teman-temannya dan lainnya, yang kedatangannya
    menenangkan dan menggembirakan hati si sakit, atau
    menjadikan si sakit rindu kepadanya jika tidak
    melihatnya setiap hari, maka hendaklah orang itu selalu
    menjenguknya asalkan tidak dilarang, atau ia tahu bahwa
    si sakit sudah tidak menyukai hal itu.
 
Selain itu, tidak disukai duduk berlama-lama ketika  menjenguk
orang  sakit,  karena  hal demikian dapat menyebabkan si sakit
merasa jenuh, merasa repot,  dan  merasa  kurang  bebas  untuk
berbuat sesuatu."25
 
Namun  begitu,  hal  ini tidak berlaku bagi setiap pengunjung,
karena ada kalanya  si  sakit  menyukai  orang-orang  tertentu
untuk  berlama-lama  berada  di sisinya --khususnya bagi orang
yang  telah  lama  sakit--  dan   kunjungan   orang   tersebut
menyenangkan  dan  meringankannya,  apalagi  jika si sakit itu
sendiri yang memintanya.
 
Al-Hafizh berkata, "Adab menjenguk orang sakit ada sepuluh, di
antaranya ada yang tidak khusus untuk menjenguk orang sakit;
 
 1. Jangan meminta izin masuk dari depan pintu
    (tengah-tengah).
 
 2. Jangan mengetuk pintu terlalu pelan.
 
 3. Jangan menyebutkan identitas diri secara tidak jelas,
    misalnya dengan mengatakan "saya," tanpa menyebut
    namanya.
 
 4. Jangan berkunjung pada waktu yang tidak layak untuk
    berkunjung, seperti pada waktu si sakit minum obat, atau
    waktu mengganti pembalut luka, waktu tidur, atau waktu
    istirahat.
 
 5. Jangan terlalu lama (kecuali bagi orang yang
    mempunyai hubungan khusus dengan si sakit seperti yang
    saya sebutkan di atas).
 
 6. Menundukkan pandangan (apabila di tempat itu terdapat
    wanita yang bukan mahramnya).
 
 7. Jangan banyak bertanya, dan hendaklah menampakkan
    rasa belas kasihan.
 
 8. Mendoakannya dengan ikhlas.
 
 9. Menimbulkan optimisme kepada si sakit.
 
10. Menganjurkannya berlaku sabar, karena sabar itu
    besar pahalanya, dan melarangnya berkeluh kesah, karena
    berkeluh-kesah itu dosa."26
 
Sebagian adab-adab tersebut akan dijelaskan lebih lanjut.
 
Cara menjenguk orang sakit yang jauh tempatnya  --yang  memang
mempunyai   hak   untuk  dijenguk--  ialah  dengan  menanyakan
keadaannya melalui telepon,  bagi  orang  yang  punya  pesawat
telepon, maupun lewat telegram atau surat. Lebih-lebih jika si
sakit baru saja menjalani operasi dengan selamat.
 
Saya masih ingat ketika  saya  ditakdirkan  menjalani  operasi
tulang-  rawan  di  Bonn, Jerman, pada musim panas tahun 1985,
dan ketika saya melewati masa perawatan sebagaimana  biasanya,
betapa   telepon  selalu  berdering  dari  saudara-saudara  di
Dauhah, Kairo, Eropa, dan  Amerika,  yang  menanyakan  keadaan
saya  dan  mendoakan saya. Hal ini ternyata mempunyai pengaruh
yang  baik  dalam  hati  saya,  meringankan  penderitaan,  dan
mempercepat kesembuhan.

MENDOAKAN SI SAKIT
 
Cara  seorang  muslim  menjenguk saudaranya yang sakit berbeda
dengan cara yang dilakukan orang lain (selain  Islam),  karena
disertai  dengan  jampi dan doa. Maka diantara sunnahnya ialah
si penjenguk mendoakan si sakit  dan  menjampinya  (membacakan
bacaan-bacaan  tertentu)  yang  ada riwayatnya dari Rasulullah
saw..
 
Imam Bukhari menulis "Bab Du'a al-'Aa'id lil-Maridh" (Bab  Doa
Pengunjung  untuk  Orang Sakit), dan menyebutkan hadits Aisyah
r.a. bahwa Rasulullah saw. apabila menjenguk orang sakit  atau
si sakit yang dibawa kepada beliau, beliau mengucapkan:
 
    "Hilangkanlah penyakit ini, wahai Tuhan bagi manusia,
    sembuhkanlah, Engkau adalah Maha Penyembuh. Tidak ada
    kesembuhan selain kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak
    meninggalkan penyakit."27
 
Dan Nabi saw. pernah menjenguk Sa'ad bin Abi  Waqash  kemudian
mendoakannya:
 
    "Ya Allah sembuhkanlah Sa'ad, dan sempurnakanlah
    hijrahnya."28
 
Ada  suatu  keanehan  sebagaimana  dikemukakan  dalam  al-Fath
(Fathul-Bari),  yaitu  adanya  sebagian  orang yang menganggap
musykil mendoakan kesembuhan si sakit. Mereka beralasan  bahwa
sakit   dapat   menghapuskan  dosa  dan  mendatangkan  pahala,
sebagaimana disebutkan dalam beberapa  hadits.  Maka  terhadap
kemusykilan   ini  al-Hafizh  Ibnu  Hajar  memberikan  jawaban
demikian, "Sesungguhnya doa itu adalah  ibadah,  dan  tidaklah
saling  meniadakan  antara  pahala dan kafarat, sebab keduanya
diperoleh  pada  permulaan  sakit  dan  dengan   sikap   sabar
terhadapnya.  Adapun  orangyang  mendoakan  akan  mendapat dua
macam kebaikan,  yaitu  mungkin  berhasil  apa  yang  dimaksud
--atau  diganti  dengan  mendapatkan  kemanfaatan  lain-- atau
ditolaknya suatu bahaya, dan semua itu merupakan karunia Allah
Ta'ala."29
 
Memang,  seorang  muslim harus bersabar ketika menderita sakit
atau ditimpa musibah, tetapi hendaklah ia meminta  keselamatan
kepada Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
 
    "Janganlah kamu mengharapkan bertemu musuh, dan mintalah
    keselamatan kepada Allah. Tetapi apabila kamu bertemu
    musuh, maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwasanya surga
    itu di bawah bayang-bayang pedang."30
 
Di dalam hadits lain beliau bersabda:
 
    "Mintalah ampunan dan keselamatan kepada Allah, sebab
    tidaklah seseorang diberi sesuatu setelah keyakinan,
    yang lebih baik daripada keselamatan."31
 
Juga dalam hadits Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw. bersabda:
 
    "Perbanyaklah berdoa memohon keselamatan."32
 
Salah satu doa beliau saw. adalah:
 
    "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu penjagaan dari yang
    terlarang dan keselamatan dalam urusan dunia dan agamaku,
    keluarga dan hartaku."33
 
Di antara doa yang ma'tsur  lainnya  ialah  yang  diriwayatkan
oleh Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
 
    "Apabila seseorang menjenguk orang sakit, maka hendaklah
    ia mendoakannya dengan mengucapkan, "Ya Allah,
    sembuhkanlah hamba-Mu, agar dia dapat membunuh musuh-Mu,
    atau berjalan kepada-Mu untuk melakukan shalat."34
 
Artinya, dalam kesembuhan orang mukmin itu  terdapat  kebaikan
untuk  dirinya  dengan  dapatnya  ia melaksanakan shalat, atau
kebaikan untuk umatnya karena mampu menunaikan jihad.
 
Sedangkan  yang  dimaksud  dengan  "musuh"  di  sini   mungkin
orang-orang  kafir  yang  memerangi umat Islam, atau iblis dan
tentaranya. Maka  dengan  kesehatannya  seorang  muslim  dapat
menumpas   mereka   dengan   serangan-serangannya,  dan  dapat
mematahkan  argumentasi  mereka  dengan  hujjah   yang   dapat
dipercaya.35
 
Selain  itu, ada lagi hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas
dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda:
 
    "Barangsiapa yang menjenguk orang sakit yang belum tiba
    ajalnya, lalu ia mengucapkan doa ini disampingnya
    sebanyak tujuh kali: (Aku mohon kepada Allah Yang Maha
    Agung Tuhan bagõ 'arsy yang agung, semoga la berkenan
    menyembuhkanmu), niscaya Allah akan menyembuhkannya dari
    penyakit tersebut."36

MENGUATKAN HARAPAN SEMBUH KETIKA SAKIT
 
Apabila  seorang  muslim  menjenguk  saudaranya  yang   sakit,
sebaiknya   ia   memberikan  nasihat  agar  dapat  menumbuhkan
perasaan  optimisme  dan  harapan  akan  sembuh.  Selain  itu,
seyogianya ia memberikan pengertian bahwa seorang mukmin tidak
boleh berputus asa dan berputus harapan terhadap rahmat  Allah
dan  kasih  sayang-Nya  karena  Dzat  yang telah menghilangkan
penyakit Nabi Ayub dan mengembalikan penglihatan  Nabi  Ya'qub
pasti  berkuasa  menghilangkan  penyakitnya  dan mengembalikan
kesehatannya, kemudian Dia mengganti penyakit dengan kesehatan
dan kelemahan dengan kekuatan.
 
Tidak   baik  menyebut-nyebut  orang  yang  sakit  yang  telah
meninggal dunia  di  hadapan  orang  sakit  yang  dijenguknya.
Sebaliknya,  sebutlah  orang-orang  yang  telah  sehat kembali
setelah menderita sakit  yang  lama,  atau  setelah  menjalani
operasi   yang   membahayakan.   Hal   ini  dimaksudkan  untuk
menguatkan jiwanya, dan merupakan bagian dari cara  pengobatan
menurut dokter-dokter ahli pada zaman dulu dan sekarang, sebab
antara jiwa dan tubuh tidak dapat  dipisahkan,  kecuali  dalam
pembahasan  secara teoretis atau filosofis. Karena itulah Nabi
saw. apabila menjenguk orang sakit, beliau  mengatakan  "tidak
apa-apa,  bersih (sembuh) insya Allah," sebagaimana disebutkan
dalam kitab sahih.
 
Adapun makna perkataan laa ba'sa (tidak apa-apa) ialah  'tidak
berat'   dan   'tidak   mengkhawatirkan.'   Ucapan  ini  untuk
menimbulkan optimisme sekaligus doa semoga hilang penyakit dan
penderitaannya,    serta    kembali   kepadanya   kesehatannya
--disamping   itu   dapat    menyucikan    dan    menghapuskan
dosa-dosanya.
 
Imam  Tirmidzi  dan  Ibnu  Majah  meriwayatkan hadits dari Abu
Sa'id al-Khudri secara marfu':
 
    "Apabila kamu menjenguk orang sakit, maka hendaklah kamu
    beri harapan akan panjang umur. Karena yang demikian itu
    meskipun tidak dapat menolak takdir sedikit pun, tetapi
    dapat menyenangkan hatinya."37
 
Maksud perkataan naffisuu  lahu  (berilah  harapan  kepadanya)
yakni  berilah  harapan  kepadanya  untuk  hidup  dan  berumur
panjang, seperti mengucapkan perkataan kepadanya, "insya Allah
engkau  akan  sehat kembali," "selamat sejahtera," "Allah akan
memberikan kamu umur panjang dan aktivitas  yang  bagus,"  dan
ungkapan  lainnya.  Karena  ucapan-ucapan  seperti  itu  dapat
melapangkan  hatinya  dari  kesedihan  yang   menimpanya   dan
sekaligus  dapat  menenangkannya. Imam Nawawi berkata, "Itulah
makna perkataan Nabi saw.  kepada  orang  Arab  Badui:  'Tidak
apa-apa.'"38
 
Disamping itu, diantara hal yang dapat menghilangkan kepedihan
si sakit dan menyenangkan  hatinya  ialah  menaruh  tangan  ke
badannya   atau   ke   bagian   tubuhnya   yang  sakit  dengan
mendoakannya, khususnya oleh orang yang dianggap ahli kebaikan
dan  kebajikan,  sebagaimana yang dilakukan Nabi saw. terhadap
Sa'ad bin Abi Waqqash. Beliau pernah mengusap wajah dan  perut
Sa'ad  sambil  mendoakan  kesembuhan  untuknya. Sa'ad berkata,
"Maka aku selalu merasakan dinginnya tangan beliau di  jantung
saya, menurut perasaan saya, hingga saat ini." (HR Bukhari).
 
Sementara  itu,  terhadap  orang  sakit  yang kondisinya sudah
tidak dapat diharapkan sembuh,  --menurut  sunnatullah--  maka
hendaklah   si   pengunjung  memohon  kepada  Allah  agar  Dia
memberikan  kasih  sayang   dan   kelemahlembutan   kepadanya,
meringankan  penderitaannya, dan memilihkan kebaikan untuknya.
Tetapi hal itu hendaknya diucapkan  dalam  hati  saja,  jangan
sampai  diperdengarkan kepada si sakit agar tidak mempengaruhi
pikiran dan perasaannya.

MENJAMPI SI SAKIT DAN SYARAT-SYARATNYA
 
Diantara hal yang berdekatan dengan bab ini ialah  jampi-jampi
syar'iyah  yang bersih dari syirik, terutama yang diriwayatkan
dari Rasulullah saw., dan khususnya jika dilakukan oleh  orang
muslim yang saleh.
 
Imam Muslim meriwayatkan dari Auf bin Malik, ia berkata:
 
    "Kami menggunakan jampi-jampi pada zaman jahiliah, lalu
    kami tanyakan, Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu
    mengenai hal itu?' Beliau menjawab, 'Tunjukkanlah
    kepadaku jampi-jampimu itu. Tidak mengapa menggunakan
    jampi-jampi, asalkan tidak mengandung kesyirikan.'"39
 
Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jabir, katanya:
 
    "Rasulullah saw. pernah melarang jampi-jampi Kemudian
    datanglah keluarga Amr bin Hazm seraya berkata, 'Wahai
    Rasulullah, kami mempunyai jampi-jampi yang biasa kami
    pergunakan kalau disengat kala.' Jabir berkata, 'Lalu
    mereka menunjukkannya kepada Rasulullah.' Kemudian
    beliau bersabda, 'Saya lihat tidak apa-apa, barangsiapa
    yang dapat memberikan manfaat kepada saudaranya maka
    hendaklah ia memberikan manfaat kepadanya.'"40
 
Al-Hafizh berkata, "Suatu kaum berpegang  pada  keumuman  ini,
maka mereka memperbolehkan semua jampi-jampi yang telah dicoba
kegunaannya, meskipun tidak masuk akal maknanya. Tetapi hadits
Auf   itu   menunjukkan   bahwa  jampi-jampi  yang  mengandung
kesyirikan dilarang. Dan  jampi-jampi  yang  tidak  dimengerti
maknanya  yang  tidak  ada  jaminan  keamanan dari syirik juga
terlarang,  sebagai  sikap  kehati-hatian,   disamping   harus
memenuhi persyaratan lainnya."41
 
Kebolehan  menggunakan jampi-jampi ini sudah ada dasarnya dari
sunnah qauliyah (sabda Nabi saw.), sunnah fi'liyah  (perbuatan
beliau),  dan  sunnah  taqririyah  (pengakuan  atau pembenaran
beliau terhadap jampi-jampi yang dilakukan orang lain).
 
Bahkan  Nabi  saw.  sendiri  pernah  menjampi  beberapa  orang
sahabat,  dan beliau pernah dijampi oleh Malaikat libril a.s..
Beliau  juga  menyuruh  sebagian  sahabat   agar   menggunakan
jampi-jampi,   dan   menasihati   sebagian  sanak  keluarganya
dengannya. Dan beliau membenarkan sahabat-sahabat beliau  yang
menggunakan jampi-jampi.
 
Diriwayatkan  dari  Aisyah  bahwa  Rasulullah saw. apabila ada
seseorang  yang  mengeluhkan  sesuatu  kepada   beliau,   atau
terluka,  maka  beliau  berbuat demikian dengan tangan beliau.
Lalu  Sufyan  --yang  meriwayatkan  hadits--  meletakkan  jari
telunjuknya  ke  tanah,  kemudian mengangkatnya kembali seraya
mengucapkan:
 
    "Dengan menyebut nama Allah, debu bumi kami, dengan
    ludah sebagian kami, disembuhkan dengannya orang sakit
    dari kami dengan izin Tuhan kami."42
 
Dari keterangan hadits ini dapat  kita  ketahui  bahwa  beliau
mengambil  ludah  beliau  sedikit dengan jari telunjuk beliau,
lalu ditaruh di atas tanah (debu), dan debu  yang  melekat  di
jari  tersebut  beliau usapkan di tempat yang sakit atau luka,
dan beliau  ucapkan  perkataan  tersebut  (jampi)  pada  waktu
mengusap.
 
Diriwayatkan juga dari Aisyah, dia berkata, "Adalah Rasulullah
saw. apabila beliau  jatuh  sakit,  Malaikat  Jibril  menjampi
beliau."43
 
Juga dari Abu Sa'id bahwa Malaikat Jibril pernah datang kepada
Nabi saw. dan bertanya, "Wahai Muhammad, apakah  Anda  sakit?"
Beliau menjawab, "Ya." Lantas Jibril mengucapkan:
 
    "Dengan menyebut nama Allah, saya jampi engkau dari
    segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan semua
    jiwa atau mata pendengki. Allah menyembuhkan engkau.
    Dengan menyebut narna Allah saya menjarnpi engkau."44
 
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi saw. apabila sakit membaca
dua  surat al-Mu'awwidzat (Qul A'uudzu bi Rabbil-Falaq dan Qul
A'uudzu bi Rabbin-Naas) untuk diri beliau sendiri  dan  beliau
meniup  dengan  lembut  tanpa  mengeluarkan  ludah. Dan ketika
sakit beliau berat, aku (Aisyah) yang membacakan  atas  beliau
dan  aku  usapkannya dengan tangan beliau, karena mengharapkan
berkahnya.45
 
Diriwayatkan dari Aisyah juga  bahwa  Rasulullah  saw.  pernah
menyuruhnya meminta jampi karena sakti mata.46
 
Juga  diriwayatkan  dari Jabir bahwa Nabi saw. pernah bertanya
kepada Asma' binti Umais:
 
    "Mengapa saya lihat tubuh anak-anak saudaraku
    kurus-kurus, apakah mereka ditimpa kebutuhan?" Asma'
    menjawab, 'Tidak tetapi penyakit 'ain yang menimpa
    mereka.' Nabi bersabda, 'Jampilah mereka.' Asma'
    berkata, 'Lalu saya menolak.' Kemudian beliau bersabda,
    "Jampilah mereka."47
 
Disamping itu, pernah salah seorang  sahabat  menjampi  pemuka
suatu  kaum  --ketika  mereka  sedang  bepergian  dengan surat
al-Fatihah, lalu pemuka kaum  itu  memberinya  seekor  kambing
potong,  tetapi  sahabat  itu  tidak  mau  menerimanya sebelum
menanyakannya kepada Nabi saw.. Lalu  ia  datang  kepada  Nabi
saw.   dan  menginformasikan  hal  itu  kepada  beliau  seraya
berkata, "Demi Allah, saya tidak  menjampinya  kecuali  dengan
surat   al-Fatihah."   Lalu  Nabi  saw.  bersabda,  "Terimalah
pemberian mereka itu, dan berilah  saya  sebagian  untuk  saya
makan bersama kamu."48

MENYURUH SI SAKIT BERBUAT MA'RUF
DAN MENCEGAHNYA DARI YANG MUNGKAR
 
Sudah selayaknya bagi seorang yang menjenguk saudaranya sesama
muslim  yang  sakit  untuk  memberinya  nasihat  dengan jujur,
menyuruhnya berbuat ma'ruf dan  mencegahnya  dari  kemunkaran,
karena  ad-Din itu adalah nasihat, dan amar ma'ruf nahi munkar
merupakan suatu kewajiban, sedangkan sakitnya  seorang  muslim
tidak  membebaskannya  dari  menerima  perkataan yang baik dan
nasihat yang tulus. Dan  semua  yang  dituntut  itu  hendaklah
dilakukan   oleh   si  pemberi  nasihat  dengan  memperhatikan
kondisinya, yaitu hendaklah dilakukan dengan lemah lembut  dan
jangan    memberatkan,    karena    Allah    Ta'ala   menyukai
kelemahlembutan dalam segala hal dan terhadap  semua  manusia,
lebih-lebih terhadap orang sakit. Dan tidaklah kelemahlembutan
itu  memasuki  sesuatu  melainkan  menjadikannya  indah,   dan
tidaklah   ia   dilepaskan   dari   sesuatu   melainkan   akan
menjadikannya buruk.
 
Kelemahlembutan semakin  ditekankan  apabila  si  sakit  tidak
mengerti   terhadap   kebajikan   yang   ditinggalkannya  atau
kemunkaran  yang  dilakukannya,  seperti  terhadap  kebanyakan
putra kaum muslim yang tidak mengerti keunggulan Islam.
 
Oleh  sebab  itu,  seseorang  yang  menjenguk orang sakit yang
kebetulan tidak mau  melaksanakan  shalat  karena  malas  atau
karena  tidak  mengerti,  yang  mengira tidak dapat menunaikan
shalat, karena tidak dapat berwudhu, atau karena  tidak  dapat
berdiri,  ruku',  sujud,  atau  tidak  dapat menghadap ke arah
kiblat,   atau   lainnya,   maka   wajiblah   si    pengunjung
mengingatkannya.  Dia  harus  menjelaskan  bahwa  shalat wajib
dilaksanakan oleh orang yang sakit sebagaimana diwajibkan atas
orang  yang  sehat, dan kewajibannya itu tidak gugur melainkan
bagi orang yang hilang  kesadarannya.  Dijelaskan  juga  bahwa
orang  sakit yang tidak dapat berwudhu boleh melakukan tayamum
dengan  tanah  jenis  apa  pun,  dan  boleh   dibantu   dengan
diambilkan  pasir/tanah  yang bersih yang ditempatkan di dalam
kaleng atau tempat lainnya, juga bisa dengan batu atau  lantai
tergantung  mazhab  yang  memandang  hal itu sebagai permukaan
bumi yang bersih.
 
Begitu pula si sakit, ia boleh melaksanakan shalat dengan cara
bagaimanapun  yang  dapat  ia  lakukan,  dengan duduk kalau ia
tidak mampu berdiri, atau dengan berbaring di atas lambungnya,
atau  telentang  di  atas  punggungnya  (yakni  punggungnya di
bawah),  jika  ia  tidak  dapat  duduk,   dan   cukup   dengan
berisyarat. Nabi saw. bersabda kepada Imran bin Hushain:
 
    "Shalatlah engkau dengan berdiri. Jika tidak dapat, maka
    hendaklah dengan duduk; dan jika tidak dapat (dengan
    duduk) maka hendaklah dengan berbaring."49
 
Demikian pula jika  ia  tidak  dapat  menghadap  kiblat,  maka
gugurlah   kewajiban   menghadap  kiblat  itu,  dan  boleh  ia
menghadap ke arah mana saja. Maka, setiap syarat  shalat  yang
tidak   dapat   ditunaikan  menjadi  gugur,  dan  Allah  telah
berfirman:
 
    "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana
    pun kamu menghadap di situlah wajah Allah ..."
    (al-Baqarah: 115)
 
Apabila tampak si sakit merasa kesal terhadap penyakitnya atau
merasa  sempit  dada  karenanya,  maka hendaklah ia diingatkan
akan besarnya pahala bagi si sakit di sisi Allah. Selain  itu,
sebaiknya  diingatkan  bahwa  Allah  hendak menyucikannya dari
dosa-dosanya dengan penyakit tersebut, dan  bahwa  orang  yang
paling  berat  ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang
yang dibawahnya, kemudian yang dibawahnya lagi, dan ujian  itu
akan  senantiasa  menimpa  seseorang sehingga ia hidup di muka
bumi  dengan  tidak   menanggung   suatu   dosa,   sebagaimana
dinyatakan dalam beberapa hadits sahih.
 
Maka  apabila  didapati  sesuatu  yang dilarang syara' pada si
sakit,  hendaklah  ia  dilarang  dengan   lemah   lembut   dan
bijaksana,  dan  dikemukakannya  kepadanya  dalil-dalil syara'
yang dapat menghilangkan ketidaktahuan dan kelalaiannya.  Cara
yang  dilakukan tidak boleh kasar dan terkesan menyombonginya,
khususnya mengenai bencana  yang  banyak  melanda  masyarakat,
misalnya    mereka   yang   menggantungkan   jimat-jimat   dan
sebagainya.
 
Disini,  hendaklah  ia  memberitahukannya  tentang   ayat-ayat
Al-Qur'an  dan  Sunnah Rasulullah saw. yang menuntunnya kepada
kebenaran dan membimbingnya ke jalan yang benar, seperti sabda
Nabi saw.:
 
    "Barangsiapa yang menggantungkan jimat-jimat, maka
    sesungguhnya ia telah melakukan perbuatan syirik." (HR
    Ahmad dan Hakim dari Uqbah bin Amir)50
 
Selain itu, tidak boleh ia (si penjenguk) mengingkari  sesuatu
terhadap  si sakit kecuali apa yang telah disepakati oleh para
ulama  akan   kemunkarannya.   Adapun   hal-hal   yang   masih
diperselisihkan  oleh  para  ahli  ilmu yang tepercaya, antara
yang memperbolehkan dan yang  melarang,  maka  dalam  hal  ini
terdapat kelonggaran bagi orang yang mengambil salah satu dari
kedua pendapat itu, baik ia memilih  melalui  ijtihadnya  atau
sekedar  ikut-ikutan.  Dan jangan sampai diperdebatkan seputar
pendapat ini mana yang  lebih  tepat  atau  yang  lebih  kuat,
karena  kondisi  sakit  tidak mentolerir hal tersebut, kecuali
jika  si  sakit  menanyakannya  atau  memang   menyukai   yang
demikian.  Misalnya  tentang  hukum  menggantungkan jimat yang
terdiri dari ayat-ayat  Al-Qur'an  atau  hadits  syarif,  atau
berisi  dzikir  kepada  Allah,  sanjungan  kepada-Nya, dan doa
kepada-Nya. Karena masalah ini  masih  diperselisihkan  antara
orang yang memperbolehkannya dan yang menganggapnya makruh.
 
Imam  Ahmad  meriwayatkan  dari  Abdullah bin Amr, ia berkata,
"Rasulullah saw. mengajari kami  beberapa  kalimat  yang  kami
ucapkan apabila terkejut pada waktu tidur:
 
    "Dengan nama Allah, aku berlindung dengan
    kalimat-kalimat Allah yang sempurna dan kemurkaan dan
    siksa-Nya, dan kejahatan hamba-hamba-Nya, dan gangguan
    setan, dan dan kehadiran setan."
 
Maka Abdullah mengajarkan  kalimat  ini  kepada  anaknya  yang
sudah   balig   untuk   mengucapkannya  ketika  hendak  tidur,
sedangkan terhadap anaknya yang masih kecil dan belum mengerti
atau  belum  dapat  menghafalkannya,  kalimat  itu  ditulisnya
kemudian digantungkan di lehernya.51
 
Akan tetapi, Ibrahim an-Nakhati berkata,  "Mereka  memakruhkan
semua  macam  jimat,  baik  dari Al-Qur'an maupun bukan." Yang
dimaksud dengan "mereka" disini  adalah  sahabat-sahabat  Ibnu
Mas'ud  seperti  al-Aswad, 'Alqamah, Masruq, dan lain-lainnya.
Sedangkan makna "makruh" disini adalah "di awah haram."
 
Tidak mengapa diingatkan kepada si sakit dengan  lemah  lembut
bahwa yang lebih utama dan lebih hati-hati adalah meninggalkan
semua macam jimat, mengingat keumuman larangannya,  dan  untuk
menutup  jalan  kepada  yang  terlarang (saddan lidz-dzari'ah,
usaha preventif), juga karena khawatir dia membawanya masuk ke
kakus  (WC)  dan  sebagainya. Hanya saja janganlah ia bersikap
keras dalam masalah ini, karena masih diperselisihkan hukumnya
di kalangan ulama.

MENDONORKAN DARAH UNTUK SI SAKIT
 
Diantara  hal  paling  utama yang diberikan oleh keluarga atau
sahabat kepada si sakit ialah mendonorkan darah untuknya  bila
diperlukan  ketika  ia  menjalani operasi, atau untuk membantu
dan  mengganti  darah  yang  dikeluarkannya.   Ini   merupakan
pengorbanan  yang  paling besar dan sedekah yang paling utama,
sebab memberikan darah pada saat seperti itu kedudukannya sama
dengan  menyelamatkan hidupnya, dan Al-Qur'an telah menetapkan
dalam menjelaskan nilai jiwa manusia:
 
    "... bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia,
    bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan
    karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan
    dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa
    yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka
    seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia
    semuanya ..." (al-Ma'idah: 32)
 
Apabila  bersedekah  dengan  harta  memiliki  kedudukan   yang
demikian  tinggi  dalam  agama  dan  mendapatkan  pahala  yang
demikian  besar  di  sisi  Allah   --sehingga   Allah   Ta'ala
menerimanya  dengan  tangan  kanan-Nya  dan melipatgandakannya
hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan entah sampai berapa kali
lipat  menurut yang dikehendaki Allah-- maka mendermakan darah
lebih tinggi kedudukannya  dan  lebih  besar  lagi  pahalanya.
Karena  orang  yang mendermakan darah menjadi sebab kehidupan,
dan  darah  juga  merupakan  bagian  dari  manusia,  sedangkan
manusia  jauh  lebih  mahal  daripada harta. Selain itu, orang
yang mendonorkan darahnya seakan-akan  menyumbangkan  sebagian
wujud  materiil  dirinya  kepada  saudaranya  karena cinta dan
karena mengalah.
 
Disisi lain, bentuk  amal  saleh  yang  memiliki  nilai  lebih
tinggi  lagi  dari  nilai  tersebut  ialah memberi pertolongan
kepada orang yang membutuhkan  pertolongan  dan  menghilangkan
kesusahan   orang   yang   dilanda  kesusahan.  Ini  merupakan
kelebihan lain yang menambah  pahala  di  sisi  Allah  Ta'ala.
Dalam suatu hadits Rasulullah saw. bersabda:
 
    "Sesungguhnya Allah mencintai perbuatan memberi
    pertolongan kepada orang yang membutuhkan pertolongan."
    (HR Abu Ya la, ad-Dailami, dan Ibnu Asakir dari Anas)52
 
Di dalam kitab sahih juga diriwayatkan hadits Rasulullah  saw.
yang berbunyi:
 
    "Barangsiapa yang menghilangkan dari seorang muslim
    suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, maka
    Allah akan menghilangkan dari orang itu suatu kesusahan
    dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat." (HR Bukhari
    dan Muslim dari hadits Ibnu Umar)53
 
Bahkan  terdapat  hadits  sahih  dari  Rasulullah  saw.  bahwa
menolong  binatang  yang  membutuhkan makanan atau minuman itu
juga mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah,  sebagaimana
disebutkan  dalam  hadits  yang menceritakan tentang seseorang
yang memberi minum anjing yang tengah kehausan. Anjing itu  ia
dapatkan  menjulur-julurkan  lidahnya  menjilati  tanah karena
sangat kehausan, maka orang itu mengambil air ke sumur  dengan
sepatunya  dan  digigitnya  sepatu itu dengan giginya kemudian
diminumkannya kepada anjing tersebut hingga  puas.  Nabi  saw.
bersabda, "Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni
dosanya."  Lalu  para  sahabat  bertanya   keheranan,   "Wahai
Rasulullah,  apakah  kami  mendapatkan  pahala  dalam menolong
binatang?" Beliau menjawab:
 
    "Benar, (berbuat baik) kepada tiap-tiap (sesuatu yang
    memiliki) jantung yang basah (makhluk hidup) itu
    berpahala." (HR Muttafaq 'alaih dari Abu Hurairah)54
 
Tampaknya para sahabat beranggapan bahwa berbuat  baik  kepada
makhluk  (binatang) ini tidak mendapatkan pahala di sisi Allah
dan bahwa ad-Din tidak memperhatikannya. Maka Rasulullah  saw.
menjelaskan  kepada  mereka  bahwa berbuat baik kepada makhluk
hidup yang mana pun akan mendapatkan pahala,  meskipun  berupa
binatang  semisal  anjing.  Maka  bagaimana  lagi berbuat baik
kepada manusia? Betapa lagi terhadap manusia yang beriman?
 
Mendermakan darah itu mendapatkan  pahala  yang  besar  secara
umum,  dan  bersedekah  kepada  kerabat  akan  dilipatgandakan
pahalanya  secara  khusus,  karena  yang  demikian  itu   akan
memperkuat   hubungan   kekerabatan  dan  memperkokoh  jalinan
kekeluargaan. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda:
 
    "Bersedekah kepada orang miskin itu mendapatkan pahala
    satu sedekah; sedang kepada keluarga itu mendapatkan dua
    pahala, yaitu pahala sedekah dan pahala menyambung
    kekeluargaan." (HR Ahmad, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah,
    dan Hakim dari Salman bin Amir)55
 
Pahala menyumbangkan darah ini lebih  berlipat  ganda  apabila
pada  asalnya  hubungan  antara  penyumbang dan si sakit tidak
harmonis,  mengikuti  bujukan  setan   yang   menyalakan   api
permusuhan  dan  pertentangan  di antara mereka. Apabila salah
seorang  dari  mereka  berhasil   mengalahkan   nafsunya   dan
setannya,  lalu  menyingkirkan dan membuang sikap yang tercela
menurut pandangan Allah dan pandangan manusia ini,  lantas  ia
menyumbangkan   harta   atau   darahnya  kepada  kerabat  yang
membutuhkannya (yang sebelumnya  bermusuhan  dengannya),  maka
tindakan demikian oleh Rasulullah saw. dinilai sebagai sedekah
yang paling utama bila dinisbatkan kepada  siapa  yang  diberi
sedekah. Beliau bersabda:
 
    "Sedekah yang paling utama ialah kepada keluarga yang
    memusuhi (al-kaasyih)." (HR Ahmad dan Thabrani dari Abi
    Ayyub dan Hakim bin Hizam)56
 
Yang dimaksud  dengan  dzir-rahmi  al-kaasyih  (keluarga  yang
memusuhi)  ialah  yang  menyembunyikan  rasa  permusuhan dalam
hati,  tidak   terang-terangan,   dan   tidak   cinta   kepada
kerabatnya.

KEUTAMAAN KESABARAN KELUARGA SI SAKIT
 
Keluarga  si  sakit  wajib  bersabar terhadap si sakit, jangan
merasa sesak dada karenanya  atau  merasa  bosan,  lebih-lebih
bila  penyakitnya itu lama. Karena akan terasa lebih pedih dan
lebih sakit dari penyakit itu sendiri  jika  si  sakit  merasa
menjadi  beban bagi keluarganya, lebih-lebih jika keluarga itu
mengharapkan dia segera dipanggil ke  rahmat  Allah.  Hal  ini
dapat  dilihat  dari  raut wajah mereka, dari cahaya pandangan
mereka, dan dari gaya bicara mereka.
 
Apabila kesabaran si sakit atas penyakit yang dideritanya akan
mendapatkan pahala yang sangat besar --sebagaimana diterangkan
dalam beberapa hadits  sahih--  maka  kesabaran  keluarga  dan
kerabatnya  dalam merawat dan mengusahakan kesembuhannya tidak
kalah  besar  pahalanya.  Bahkan  kadang-kadang   melebihinya,
karena  kesabaran si sakit menyerupai kesabaran yang terpaksa,
sedangkan  kesabaran  keluarganya  merupakan  kesabaran   yang
diikhtiarkan   (diusahakan).  Maksudnya,  kesabaran  si  sakit
merupakan kesabaran karena ditimpa cobaan, sedangkan kesabaran
keluarganya merupakan kesabaran untuk berbuat baik.
 
Diantara  orang yang paling wajib bersabar apabila keluarganya
ditimpa sakit ialah  suami  atas  istrinya,  atau  istri  atas
suaminya.  Karena  pada  hakikatnya kehidupan adalah bunga dan
duri, hembusan angin sepoi  dan  angin  panas,  kelezatan  dan
penderitaan,  sehat dan sakit, perputaran dari satu kondisi ke
kondisi lain. Oleh sebab itu, janganlah  orang  yang  beragama
dan  berakhlak  hanya  mau  menikmati istrinya ketika ia sehat
tetapi merasa jenuh ketika ia menderita sakit.  Ia  hanya  mau
memakan  dagingnya untuk membuang tulangnya, menghisap sarinya
ketika masih muda lalu  membuang  kulitnya  ketika  lemah  dan
layu.  Sikap  seperti  ini  bukan  sikap  setia tidak termasuk
mempergauli  istri  dengan  baik,  bukan  akhlak  lelaki  yang
bertanggung jawab, dan bukan perangai orang beriman.
 
Demikian   juga   wanita,  ia  tidak  boleh  hanya  mau  hidup
bersenang-senang  bersama  suaminya  ketika  masih  muda   dan
perkasa,  sehat  dan kuat, tetapi merasa sempit dadanya ketika
suami jatuh sakit dan  lemah.  Ia  melupakan  bahwa  kehidupan
rumah  tangga  yang  utama ialah yang ditegakkan di atas sikap
tolong-menolong dan bantu-membantu pada waktu manis dan ketika
pahit, pada waktu selamat sejahtera dan ketika ditimpa cobaan.
 
Seorang  penyair  Arab  masa  dulu  pernah  mengeluhkan  sikap
istrinya "Sulaima" ketika merasa bosan terhadapnya  karena  ia
sakit,  dan  ketika  si istri ditanya tentang keadaan suaminya
dia menjawab, "Ia tidak hidup sehingga  dapat  diharapkan  dan
tidak  pula mati sehingga patut dilupakan." Sementara ibu sang
penyair sangat sayang kepadanya, berusaha untuk kesembuhannya,
dan  sangat  mengharapkan  kehidupannya. Lalu sang penyair itu
bersenandung duka:
 
"Kulihat Ummu Amr tidak bosan dan tidak sempit dada
Sedang Sulaima jenuh kepada tempat tidurku dan tempat tinggalku
Siapakah gerangan yang dapat menandingi bunda nan pengasih
Maka tiada kehidupan kecuali dalam kekecewaan dan kehinaan
Demi usiaku, kuingatkan kepada orang yang tidur
Dan kuperdengarkan kepada orang yang punya telinga."
 
Yang lebih wajib lagi daripada  kesabaran  suami-istri  ketika
teman  hidupnya  sakit ialah kesabaran anak laki-laki terhadap
penyakit kedua orang tuanya. Sebab hak mereka  adalah  sesudah
hak  Allah  Ta'ala, dan berbuat kebajikan atau berbakti kepada
mereka termasuk pokok keutamaan yang  diajarkan  oleh  seluruh
risalah  Ilahi.  Karena  itu  Allah  menyifati Nabi Yahya a.s.
dengan firman-Nya:
 
    "Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan
    bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka." (Maryam:
    14)
 
Allah menjadikannya  --yang  masih  bayi  dalam  buaian  itu--
berkata menyifati dirinya:
 
    "Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku
    seorang yang sombong lagi celaka." (Maryam: 32)
 
Demikian juga dengan anak perempuan, bahkan dia  lebih  berhak
memelihara  dan  merawat  kedua  orang tuanya, dan lebih mampu
melaksanakannya karena Allah telah mengaruniainya  rasa  kasih
dan  sayang  yang  melimpah,  yang tidak dapat ditandingi oleh
anak laki-laki.
 
Al-Qur'an sendiri menjadikan  kewajiban  berbuat  baik  kepada
kedua  orang  tua  ini dalam urutan setelah mentauhidkan Allah
Ta'ala, sebagaimana difirmankan-Nya:
 
    "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
    dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua
    orang ibu bapak..." (an-Nisa': 36)
 
    "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
    menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik
    kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya ..." (al-lsra':
    23)
 
Dalam ayat  yang  mulia  ini  Al-Qur'an  mengingatkan  tentang
kondisi khusus atau pencapaian usia tertentu yang mengharuskan
bakti dan perbuatan baik  seorang  anak  kepada  orang  tuanya
semakin  kokoh.  Yaitu, ketika keduanya telah lanjut usia, dan
pada saat-saat seusia itu mereka amat sensitif terhadap setiap
perkataan  yang  keluar  dari  anak-anak  mereka,  yang sering
rasakan sebagai bentakan  atau  hardikan  terhadap  keberadaan
mereka.  Kata-kata  yang  mempunyai konotasi buruk inilah yang
dilarang dengan tegas oleh Al-Qur~an:
 
    "... Jika salah seorang diantara keduanya atau
    kedua-duanya sampai ke umur lanjut dalam pemeliharaanmu,
    maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
    keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak
    mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang
    mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua
    dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: 'Wahai Tuhanku,
    kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua
    telah mendidik aku waktu kecil.'" (al-Isra': 23-24)
 
Diriwayatkan  dari  Ali  bin  Abi  Thalib  r.a.  bahwa  beliau
berkata,  "Kalau  Allah  melihat  ada  kedurhakaan  yang lebih
rendah daripada perkataan 'uff (ah), niscaya diharamkan-Nya."
 
Ungkapan   Al-Qur'an   "sampai   ke    usia    lanjut    dalam
pemeliharaanmu"  menunjukkan  bahwa  si anak bertanggung jawab
atas  kedua   orang   tuanya,   dan   mereka   telah   menjadi
tanggungannya.  Sedangkan  bersabar terhadap keduanya --ketika
kondisi mereka telah lemah atau  tua--  merupakan  pintu  yang
paling  luas  yang  mengantarkannya  ke surga dan ampunan; dan
orang  yang   mengabaikan   kesempatan   ini   berarti   telah
mengabaikan  keuntungan  yang besar dan merugi dengan kerugian
yang nyata.
 
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda:
 
    "Merugi, merugi, dan merugi orang yang mendapat kedua
    orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau
    kedua-duanya, lantas ia tidak masuk surga."57 (HR Ahmad
    dan Muslim)58
 
Juga diriwayatkan dalam hadits lain dari Ka'ab bin  Ujrah  dan
lainnya  bahwa  Malaikat  Jibril pembawa wahyu mendoakan buruk
untuk orang yang menyia-nyiakan kesempatan ini, dan doa Jibril
ini diaminkan oleh Nabi saw.59
 
Sedangkan  yang  sama  kondisinya  dengan  usia  lanjut  ialah
kondisi-kondisi sakit yang menjadikan  manusia  dalam  keadaan
lemah  dan  memerlukan perawatan orang lain, serta tidak mampu
bertindak sendiri untuk menyelenggarakan keperluannya.
 
Jika demikian sikap umum terhadap kedua orang tua, maka secara
khusus   ibu   lebih   berhak   untuk  dijaga  dan  dipelihara
berdasarkan penegasan Al-Qur'an dan pesan Sunnah Rasul.
 
Allah berfirman:
 
    "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik
    kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya mengandungnya
    dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah
    (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga
    puluh bulan ..." (al-Ahqaf: 15)
 
    "Dan Kami perintahkan manusia (berbuat baik) kepada dua
    orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam
    keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya
    dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua
    orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."
    (Luqman: 14)
 
Imam Thabrani  meriwayatkan  dalam  al-Mu'jamush-Shaghir  dari
Buraidah bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi saw., lalu
ia berkata:
 
    "Wahai Rasululah, saya telah menggendong ibu saya di
    pundak saya sejauh dua farsakh melewati padang pasir
    yang amat panas, yang seandainya sepotong daging
    dilemparkan ke situ pasti masak maka apakah saya telah
    menunaikan syukur kepadanya?" Nabi menjawab, "Barangkali
    itu hanya seperti talak satu."60
 
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada  Umar  bin
Khattab,  "Ibuku  sangat  lemah  dan  tua renta sehingga tidak
dapat  memenuhi  keperluannya  kecuali  punggungku  ini  telah
menjadi  hamparan  tunggangannya  --dia  berbuat  untuk ibunya
seperti ibunya berbuat untuk dia  dahulu--  maka  apakah  saya
telah   melunasi   utang   saya   kepadanya?"  Umar  menjawab,
"Sesungguhnya engkau berbuat  begitu  terhadap  ibumu,  tetapi
engkau  menantikan  kematiannya esok atau esok lusa; sedangkan
ibumu berbuat begitu  terhadapmu  justru  mengharapkan  engkau
berusia panjang."
 
Selain   itu,   tanggung  jawab  keluarga  terhadap  si  sakit
bertambah  berat  apabila  ia  tidak  punya  atau   kehilangan
kelayakan untuk berbuat sesuatu, misalnya anak kecil --apalagi
belum  sampai  mumayiz--  atau  seperti   orang   gila,   yang
masing-masing membutuhkan perawatan ekstra dan penanganan yang
serius. Karena orang yang mumayiz dan berpikiran normal  dapat
meminta  apa  saja yang ia inginkan dapat menjelaskan apa yang
ia  butuhkan,  dapat  minta  disegerakan   kebutuhannya   bila
terlambat,  dan  dapat  memuaskan  orang  yang  mengobati atau
merawatnya.
 
Sedangkan anak kecil, orang gila, dan  yang  sejenisnya,  maka
tidak   mungkin  dapat  melakukan  hal  demikian.  Karena  itu
berlipatgandalah beban keluarganya.  Dengan  demikian,  mereka
harus   benar-benar   menyadari   kondisi   kesehatannya   dan
mengusahakan   pengobatannya,   sehingga    terkadang    harus
membawanya  ke  dokter,  memasukkannya  ke  rumah  sakit, atau
hal-hal lain yang tidak dapat dibatasi.

PENDERITA SAKIT JIWA
 
Diantara hal yang perlu diingatkan disini ialah yang berkenaan
dengan  penderita  gangguan  jiwa, karena dalam hal ini banyak
orang --hingga keluarganya sendiri bahkan  orang  yang  paling
dekat   dengannya--   melupakannya   dan  tidak  memperhatikan
hak-haknya, sebab mereka tidak melihat wujud penyakit ini pada
organ  tubuh.  Maka  mereka menganggapnya sebagai orang sehat,
padahal anggapan demikian tidak benar.
 
Oleh karena penyakitnya yang tidak  tampak  --sebab  berkaitan
dengan  perasaan,  pikiran,  dan pandangannya terhadap manusia
dan kehidupan-- maka ia harus dipergauli secara baik. Ia harus
disikapi  dengan  lemah  lembut  dalam  berbicara  dan menilai
sesuatu, dan diperlakukan dengan kasih sayang.
 
BIAYA PENGOBATAN SI SAKIT
 
Diantara hak terpenting bagi si sakit  yang  harus  ditunaikan
oleh  keluarga  dan  kerabatnya  --yang memiliki kemampuan dan
kelapangan untuk itu-- ialah  menanggung  biaya  pengobatannya
jika  si sakit tidak mempunyai harta. Misalnya memeriksakan si
sakit kedokter spesialis, membeli obat, biaya opname di  rumah
sakit,  biaya  operasi, dan sebagainya sesuai dengan kemampuan
dan  kebutuhan,  tanpa  israf  (berlebih-lebihan)  dan   tanpa
bersikap kikir. Allah berfirman:
 
    "... Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang
    yang miskin menurut kemampuannya (pula) ..."
    (al-Baqarah: 236)
 
    "... Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang
    melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya
    ..." (ath-Thalaq: 7)
 
Namun, hal ini  tidak  menjadi  keharusan  bagi  setiap  jenis
penyakit,  melainkan  untuk  penyakit  yang sangat parah, atau
yang dikhawatirkan akan bertambah parah,  juga  penyakit  yang
dapat menjadikan penderita mengabaikan kewajibannya. Sedangkan
dalam hal ini terdapat obat yang mujarab  dan  manjur,  sesuai
dengan sunnah Allah pada manusia.
 
Bila  penyakitnya benar-benar berat dan obatnya lebih mujarab,
sementara penderita benar-benar membutuhkan  pengobatan,  maka
memberi  biaya  untuk  pengobatannya merupakan pendekatan diri
kepada  Allah   yang   sangat   mulia.   Karena   orang   yang
menghilangkan  suatu  kesusahan  seorang muslim di dunia, maka
akan dihilangkan oleh Allah kesusahannya pada hari kiamat, dan
Allah   senantiasa   menolong  hamba-Nya  selama  ia  menolong
saudaranya:
 
    "... Dan barangsiapa yangmemelihara kehidupan seorang
    manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan
    manusia semuanya ..." (al-Ma'idah: 32)
 
Namun begitu,  tidak  lazim  bagi  kerabat  atau  teman  untuk
memikul seluruh biaya pengobatannya sendirian, melainkan harus
berbagi dengan yang lain:
 
    "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah
    pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula."
    (az-Zalzalah: 7)
 
Boleh jadi biaya itu dibutuhkan sebelum berobat  atau  sesudah
berobat,  yaitu  ketika  si sakit keluar dari rumah sakit yang
membutuhkan biaya sangat besar sehingga tidak  dapat  dipenuhi
olehnya.
 
Maka barangsiapa yang menolong menghilangkan kesulitannya pada
saat yang kritis ini niscaya dia  akan  mendapatkan  kedudukan
tersendiri di sisi Allah.
 
Pada  kenyataannya, keluarga si sakit --dalam kaitannya dengan
biaya pengobatan-- dapat dikelompokkan dalam dua golongan:
 
 1. Orang-orang bakhil yang tidak mau membantu memenuhi
    kebutuhan si sakit, baik untuk biaya pengobatan, makan,
    maupun segala sesuatu yang diperlukan si sakit demi
    memulihkan kesehatannya, meskipun yang sakit adalah
    ibunya sendiri yang telah melahirkannya, atau ayahnya
    yang telah mendidik dan memeliharanya, atau anaknya yang
    menjadi buah hatinya, atau istri dan ibu anak-anaknya.
    Bagi orang seperti ini harta lebih berharga daripada
    keluarga dan kerabatnya.
 
    Kadang-kadang si sakit membutuhkan obat yang berkualitas
    sesuai resep yang diberikan dokter spesialis, atau perlu
    menjalani operasi, perlu opname di rumah sakit, atau
    perlu dikarantina selama beberapa waktu untuk
    mendapatkan pemeliharaan dan perawatan secara sempurna,
    yang semua itu membutuhkan biaya. Tetapi hati familinya
    tidak ada yang merasa iba, tangan mereka pun tidak ada
    yang terulur memberikan bantuan, karena mereka
    benar-benar telah dilanda penyakit syuhh (bakhil dan
    kikir), suatu penyakit hati yang merusak. Didalam hadits
    sahih Rasulullah saw. bersabda:
 
        "Jagalah dirimu dari penyakit syuhh, karena penyakit
        syuhh ini telah membinasakan orang-orang sebe1um kamu,
        mendorong mereka untuk melalcukan pertumpahan darah dan
        menghalalkan apa yang diharamkan atas mereka."61
 
 2. Keluarga si sakit yang berlebih-lebihan dalam
    membiayai si sakit untuk sesuatu yang layak ataupun
    tidak layak, yang dibutuhkan maupun yang tidak
    diperlukan, demi memamerkan kekayaan, menunjukkan bahwa
    mereka berharta banyak, dan berharap mendapatkan
    sanjungan orang lain.
 
    Anda lihat mereka memindah-mindahkan si sakit dari
    dokter yang satu kepada dokter yang lain, dari satu
    rumah sakit ke rumah sakit lain, dari satu negara ke
    negara lain, padahal penyakitnya sudah diketahui dan
    diagnosisnya sudah jelas, bahkan para dokter sudah
    mencurahkan segenap kemampuannya secara maksimal dan
    optimal, sehingga tinggal terserah pada keputusan Allah
    yang tidak dapat ditolak, apakah sembuh atau meninggal
    dunia. Di dalam pemindahan ini sudah barang tentu
    menambah beban dan kepayahan bagi si sakit, padahal
    pemindahan itu sendiri tidak mendesak, belum lagi
    beban-beban di balik itu semua.
 
    Selain itu, sering juga kondisi si sakit sudah lebih
    dekat kepada kematian, dan dia lebih utama mati di
    kampung halamannya, di tengah-tengah keluarganya,
    familinya, dan handai tolannya. Tetapi sikap berlebihan
    pihak famili untuk menampakkan bantuannya,
    ketidakbakhilannya, dan demi menunjukkan kemampuannya
    membiayai betapapun besarnya, hal itulah yang terkadang
    mendorong mereka melakukan tindakan berlebihan.
 
    Padahal dalam kondisi seperti itu lebih utama jika dia
    menginfakkan harta tersebut --atas namanya sendiri-- di
    jalan kebaikan, khususnya untuk rumah-rumah sakit, untuk
    biaya pengobatan fakir miskin yang penghasilannya sangat
    terbatas. Pemberian sedekah seperti ini kadang-kadang
    mendorong orang-orang yang mendapatkan bantuan itu untuk
    mendoakan si sakit agar diberi kesembuhan oleh Allah,
    lalu Allah mengabulkannya. Untuk ini Rasulullah saw.
    bersabda:
 
        "Obatilah orang-orang sakitmu dengan sedekah."62
 
    Seandainya uang yang dihambur-hamburkan itu
    disedekahjariahkan, niscaya ia akan terus mendapatkan
    pahala selama sedekah jariahnya itu dimanfaatkan orang
    sampai hari kiamat.

ORANG SAKIT YANG MATI OTAKNYA DIANGGAP MATI MENURUT SYARA'
 
Sekarang sampailah pembahasan kita pada kondisi tertentu  bagi
sebagian  orang yang sakit, yang belum meninggal dunia, tetapi
otak dan sarafnya sudah mati, tidak berfungsi, dan tidak dapat
kembali  normal  menurut  analisis  para  dokter  ahli.  Dalam
kondisi seperti ini keluarga dan  familinya  harus  merawatnya
dengan  mempergunakan  instrumen-instrumen  tertentu  misalnya
untuk  memasukkan   makanan,   pernapasan,   dan   kontinuitas
peredaran darahnya. Kadang-kadang kondisi seperti ini dijalani
berbulan-bulan atau bertahun-tahun dengan biaya yang besar dan
harus  menunggunya  secara  bergantian.  Mereka  mengira bahwa
dengan cara demikian mereka  telah  memelihara  si  sakit  dan
tidak  mengabaikannya.  Padahal  dalam kondisi seperti itu, si
sakit tidak  dianggap  berada  di  alam  orang  sakit,  tetapi
menurut  kenyataannya  dia  telah  berada  di alam orang mati,
semenjak otak atau pusat sarafnya  mengalami  kematian  secara
total.
 
Karena   itu   meneruskan   pengobatan   dengan  mempergunakan
instrumen-instrumen  seperti  tersebut   di   atas   merupakan
perbuatan sia-sia, membuang-buang tenaga, uang, dan waktu yang
tidak keruan ujungnya, dan  yang  demikian  ini  tidak  sesuai
dengan ajaran Islam.
 
Kalau  keluarga  si sakit memahami agama dengan baik dan benar
serta mengerti hakikat masalah yang sebenarnya,  niscaya  akan
timbul keyakinan dalam hati mereka bahwa yang lebih utama bagi
mereka dan lebih mulia bagi si mayit --yang mereka kira  masih
dalam keadaan sakit-- adalah menghentikan penggunaan peralatan
tersebut. Maka ketika itu akan  berhentilah  aliran  darahnya,
dan  dengan  demikian  semua  orang tahu bahwa dia benar-benar
sudah meninggal dunia.
 
Dengan begitu, keluarga si sakit dapat  menghemat  tenaga  dan
biaya.   Disamping  itu,  tempat  tidur  bekas  si  sakit  dan
peralatan-peralatan tersebut --yang biasanya  sangat  terbatas
jumlahnya--  dapat  dimanfaatkan pasien lain yang memang masih
hidup.
 
Apa yang saya katakan  ini  bukanlah  pendapat  saya  seorang,
tetapi  merupakan  keputusan  Lembaga  Fiqih  Islami  al-Alami
(Internasional), sebuah lembaga  milik  Organisasi  Konferensi
Islam,  yang  telah  mengkaji  masalah  ini  dengan cermat dan
serius dalam  dua  kali  muktamar  --setelah  terlebih  dahulu
diadakan  presentasi  dari  para  pembicara dari kalangan ahli
fiqih dan dokter-dokter ahli. Melalui berbagai pembahasan  dan
diskusi  --termasuk  menyelidiki  semua  segi  yang  berkaitan
dengan peralatan medis tersebut  dan  menerima  pendapat  dari
para  dokter  ahli-- Lembaga Fiqih Islam akhirnya menghasilkan
keputusannya   yang    bersejarah    dalam    muktamar    yang
diselenggarakan  di  kota  Amman,  Yordania, pada tanggal 8-13
Shafar 1407  H/11-16  Oktober  1986  M.  Diktum  itu  berbunyi
demikian:
 
"Menurut   syara',   seseorang   dianggap   telah   mati   dan
diberlakukan atasnya semua hukum syara' yang berkenaan  dengan
kematian,  apabila  telah  nyata  padanya  salah satu dari dua
indikasi berikut ini:
 
1. Apabila denyut jantung  dan  pernapasannya  sudah  berhenti
secara   total,   dan   para  dokter  telah  menetapkan  bahwa
keberhentian ini tidak akan pulih kembali.
 
2. Apabila  seluruh  aktivitas  otaknya  sudah  berhenti  sama
sekali, dan para dokter ahli sudah menetapkan tidak akan pulih
kembali, otaknya sudah tidak berfungsi.
 
Dalam    kondisi    seperti    ini    diperbolehkan    melepas
instrumen-instrumen  yang  dipasang pada seseorang (si sakit),
meskipun sebagian organnya seperti jantungnya masih  berdenyut
karena kerja instrumen tersebut.
 
Wallahu a'lam."
 
Dari  diktum  ini  dapat  dihasilkan sejumlah hukum syar'iyah,
antara lain:
 
Pertama: boleh melepas alat-alat pengaktif (perangsang)  organ
dan pernapasan dari si sakit, karena tidak berguna lagi.
 
Bahkan saya katakan wajib melepas atau menghentikan penggunaan
alat-alat ini, karena tetap mempergunakan  alat-alat  tersebut
bertentangan  dengan ajaran syariah dalam beberapa hal, antara
lain:
 
Menunda  pengurusan  mayit  dan  penguburannya  tanpa   alasan
darurat,  menunda pembagian harta peninggalannya, mengundurkan
masa iddah istrinya, dan lain-lain hukum yang berkaitan dengan
kematian.
 
Diantaranya    lagi    adalah    menyia-nyiakan    harta   dan
membelanjakannya  untuk  sesuatu  yang  tidak   ada   gunanya,
sedangkan tindakan seperti ini terlarang.
 
Selain  itu,  diantara  akibat  yang ditimbulkannya lagi ialah
memberi mudarat kepada orang lain  dengan  menghalangi  mereka
memanfaatkan  alat-alat  yang  sedang  dipergunakan orang yang
telah mati otak dan sarafnya  itu.  Hadits  Nabawi  menetapkan
sebuah kaidah qath'iyah yang berbunyi:
 
    "Tidak boleh memberi mudarat kepada diri sendiri dan
    tidak boleh memberi mudarat kepada orang lain."63
 
Kedua: boleh mendermakan (mendonorkan) sebagian organ tubuhnya
pada  kondisi  seperti  ini, yang akan menjadi sedekah baginya
dan kelak ia akan memperoleh pahala, meskipun  ia  (si  sakit)
tidak  mewasiatkannya  Disebutkan  dalam  hadits  sahih  bahwa
seseorang itu akan mendapatkan pahala karena  buah  tanamannya
yang  dimakan oleh orang lain, burung, atau binatang lain, dan
yang demikian itu merupakan sedekah baginya, meskipun ia tidak
bermaksud bersedekah:
 
    "Tiada seorang muslimpun yang menanam suatu tanaman atau
    menabur benih, lantas buahva dimakan burung, manusia,
    atau binatang melainkan yang demikian itu menjadi
    sedekah baginya."64
 
Bahkan disebutkan juga dalam hadits sahih bahwa  orang  mukmin
mendapatkan pahala karena ditimpa kepayahan, sakit, kesusahan,
duka cita, gangguan, atau bala bencana, hingga  tertusuk  duri
sekalipun, semuanya dapat menghapuskan dosa-dosanya.
 
Maka  tidaklah  mengherankan  bila  seorang muslim mendapatkan
pahala jika ia mendermakan sebagian  organ  tubuh  keluarganya
ketika  telah  mati otaknya kepada pasien lain yang memerlukan
organ tubuh tersebut untuk  menyelamatkan  kehidupannya,  atau
untuk  mengembalikan  kesehatannya.  Maka seorang muslim tidak
perlu meragukan betapa utamanya amal ini dan  betapa  besarnya
nilai dan pahalanya di sisi Allah Ta'ala.
 
Apabila  pemberian  derma  (donor)  ini sudah dipastikan, maka
bolehlah mengambil organ yang dibutuhkan itu sebelum peralatan
yang  dipasang  pada  tubuhnya  dilepaskan,  karena jika tidak
demikian berarti mengambil organ dari orang yang  sudah  mati
bila  ditinjau  dari  segi  aktivitasnya  menurut keputusan di
atas. Sebab pengambilan  organ  setelah  dilepas  peralatannya
tidaklah   berguna   untuk  dicangkokkan  kepada  orang  lain,
dikarenakan organ itu telah kehilangan daya hidup,  dan  telah
menjadi organ mati.

MELEPAS PERALATAN DARI PENDERITA YANG TIDAK ADA HARAPAN SEMBUH
 
Lebih  dari itu, bahwa orang sakit yang telah lama menggunakan
peralatan untuk membantu kehidupannya (seperti infus, oksigen,
dan  sebagainya)  namun  tidak  membawa  kemajuan sama sekali,
bahkan  para   dokter   yang   merawatnya   menetapkan   bahwa
kesembuhannya   --menurut   sunnatullah--   tidak  lagi  dapat
diharapkan, sehingga meneruskan penggunaan peralatan  tersebut
sudah  tidak  ada  manfaatnya,  dan  bahwa  yang menjadikannya
tampak hidup adalah ketergantungannya pada peralatan tersebut,
yang  jika dilepas tentu tidak lama lagi meninggal dunia, maka
saya katakan bahwa menurut syara' tidak terlarang  keluarganya
melepas  peralatan  tersebut  dari  si sakit dan membiarkannya
menurut kadar kemampuannya sendiri tanpa campur  tangan  orang
lain.
 
Tindakan ini tidak termasuk kategori qatlur-rahmah (eutanasia)
sebab kita  tidak  membunuhnya.  Yang  kita  lakukan  hanyalah
menghentikan pengobatannya melalui peralatan buatan.
 
Tidak  seorang  pun  ahli  fiqih  yang  dapat mengatakan bahwa
pengobatan dengan  menggunakan  peralatan  tersebut  merupakan
kewajiban  syara'  yang  tidak  boleh diabaikan, sehingga jika
dihentikan bertentangan dengan hukum syara'. Bahkan  ketetapan
yang  sudah  dimaklumi  di kalangan ulama-ulama syariat adalah
bahwa  berobat  --menurut  mazhab  empat  dan  jumhur  ulama--
hukumnya  mubah,  bukan  kewajiban  yang pasti. Sedikit sekali
fuqaha yang berpendapat mustahab, dan lebih sedikit lagi  yang
mewajibkannya.65  Dalam  kaitan  ini  Imam Ghazali menulis bab
tersendiri dalam al-Ihya' untuk menyangkal pendapat orang yang
mengatakan  bahwa  "meninggalkan  berobat  lebih  utama  dalam
segala kondisi."
 
Tetapi, yang saya pandang kuat ialah pendapat yang  mewajibkan
berobat  bila penyakitnya parah dan obatnya manjur (berfaedah)
menurut kebiasaannya. Adapun jika  harapan  untuk  sembuh  itu
tipis  --bahkan  kadang-kadang  sudah tidak ada harapan sembuh
menurut para ahlinya-- maka tidak ada alasan untuk  mengatakan
wajib atau sunnah dalam hal berobat.
 
Karena  itu,  menghentikan  penggunaan peralatan dari si sakit
yang keadaannya seperti  itu  tidak  lebih  dari  meninggalkan
perkara  mubah,  kalau  tidak lebih utama sebagaimana pendapat
Imam Ahmad dan  lainnya.  Bahkan,  saya  lihat  pendapat  yang
terkuat ialah yang mewajibkan penghentian penggunaan peralatan
tersebut.

MENGINGATKAN PENDERITA AGAR BERTOBAT DAN BERWASIAT
 
Disukai bagi keluarga si sakit, teman-temannya, dan orang yang
menjenguknya  dari kalangan ahli kebaikan dan kebajikan, untuk
mengingatkan  si  sakit  agar  segera  bertobat  kepada  Allah
Ta'ala.   Supaya   si   sakit  menyesali  kekurangannya  dalam
melaksanakan  ajaran  Allah,  bertekad  untuk  menaati  Allah,
membersihkan  diri  dari  menganiaya  hamba-hamba  Allah,  dan
mengembalikan hak-hak  mereka  bagaimanapun  kecilnya,  karena
hak-hak Allah itu didasarkan pada toleransi, dan hak-hak hamba
itu  didasarkan  pada  kesungguhan,  serta  karena  tobat  itu
dituntut dari seluruh orang mukmin sebagaimana firman Allah:
 
    "... Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai
    orarg-orang yang beriman, supaya kamu beruntung."
    (an-Nur: 31)
 
Adapun tobat bagi  orang  sakit  lebih  wajib  lagi  hukumnya,
disamping   ia   lebih   membutuhkannya  karena  memang  besar
keuntungannya, sedangkan bagi orang yang  mengabaikannya  akan
mendapatkan   kerugian   yang   amat  besar.  Dan  orang  yang
berbahagia adalah orang yang  segera  bertobat  sebelum  habis
waktunya:
 
    "Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang
    yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang
    ajal kepada seseorang diantara mereka, (barulah) ia
    mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertobat sekarang...'"
    (an-Nisa': 18)
 
Disamping  itu,  seyogianya  kita  ingatkan  si   sakit   agar
berwasiat jika ia belum berwasiat. Rasulullah saw. bersabda:
 
    "Tidak ada hak seorang muslim yang mempunyai sesuatu
    yang pantas diwasiatkan, sesudah bermalam selama dua
    malam, melainkan hendaklah wasiatnya tertulis di
    sisinya."66
 
Apabila si sakit ditakdirkan Allah sembuh dari sakitnya,  maka
sebaiknya  ia  dinasihati  dan  diingatkan agar menunaikan apa
yang  telah  dijanjikannya  kepada  Allah  sewaktu  dia  sakit
sebagai tanda syukur kepada Allah dan untuk memenuhi janjinya.
Sudah seharusnya si sakit menjaga hal itu. Allah berflrman:
 
    "... dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti
    dimintai pertanggungjawabannya." (al-Isra': 34)
 
Allah juga telah memuji ahli kebajikan dan ahli  takwa  dengan
firman-Nya:
 
    "... dan orang-orang yang menepati janjinya apabila
    mereka berjanji..." (al-Baqarah: 177)
 
Para ulama berkata, "Seharusnya si sakit  mempunyai  keinginan
keras  untuk  memperbaiki  akhlaknya,  menjauhi pertikaian dan
pertentangan mengenai urusan  dunia,  merasa  bahwa  saat  ini
merupakan  saat  terakhirnya  di ladang amal sehingga ia harus
mengakhirinya   dengan   kebajikan.   Hendaklah   ia   meminta
kelapangan    dan    maaf   kepada   istrinya,   anak-anaknya,
keluarganya,  pembantunya,  tetangganya,  teman-temannya,  dan
semua   orang   yang   punya   hubungan  muamalah,  pergaulan,
persahabatan, dan sebagainya, serta meminta  keridhaan  mereka
sedapat  mungkin. Selain itu, hendaklah ia menyibukkan dirinya
dengan membaca Al-Qur'an, dzikir, kisah-kisah orang saleh  dan
keadaan   mereka  ketika  menghadapi  kematian.  Hendaklah  ia
memelihara   shalatnya,   menjauhi   najis,   dan    mengikuti
kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Janganlah ia menghiraukan
perkataan orang yang mencela atas apa yang ia  lakukan,  sebab
ini  merupakan  ujian  baginya,  dan orang yang mencelanya itu
adalah teman yang bodoh dan musuh yang terselubung.  Disamping
itu,  hendaklah  ia  berpesan kepada keluarganya agar bersabar
jika ia menghadap-Nya dan jangan meratapinya,  karena  meratap
termasuk   perbuatan   jahiliah,  demikian  pula  memperbanyak
menangis. Hendaklah ia juga berpesan kepada  keluarganya  agar
menjauhi   tradisi-tradisi   bid'ah   terhadap   jenazah,  dan
hendaklah mereka bersungguh-sungguh mendoakannya,  karena  doa
orang-orang  yang  hidup  itu  berguna  bagi  orang yang telah
mati."67
 
Diantara indikasi kebaikan ialah jika seseorang diberi  taufiq
oleh Allah untuk melakukan amal saleh sebelum meninggal dunia,
untuk mengakhiri kehidupannya, sebab amal-amal itu  tergantung
pada kesudahannya. Dan di antara doa yang ma'tsur ialah:
 
    "Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik usiaku pada bagian
    akhirnya."68
 
Mengenai  hal  ini   telah   diriwayatkan   beberapa   hadits,
diantaranya adalah hadits Anas:
 
    "Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba,
    maka dipekerjakan-Nyalah orang itu." Ditanyakan kepada
    beliau, "Bagaimana mempekerjakannya?" Beliau menjawab,
    "Memberinya taufiq (pertolongan) untuk melakukan amal
    saleh sebelum meninggal dunia, lalu Dia (Allah)
    mematikannya atas amal saleh itu."69
 
Dalam sebagian jalannya diriwayatkan  dengan  lafal:  [tulisan
Arab]   sebagai   pengganti   lafal   [tulisan   Arab]   yakni
'memperbagus pujiannya diantara manusia.'
 
Diantaranya lagi adalah hadits Abu Umamah:
 
    "Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba
    maka disucikan-Nya orang itu sebelum meninggal dunia."
    Para sahabat bertanya, "Apa yang buat menyucikan hamba
    itu?" Beliau menjawab, "Amal saleh yang diilhamkan Allah
    kepada orang itu, lantas dimatikannya orang itu atas
    amal saleh tersebut." (HR Thabrani)70

RUKHSHAH BAGI SI SAKIT UNTUK MENGELUARKAN DERITANYA
 
Tidak mengapa bagi si sakit untuk mengeluhkan rasa  sakit  dan
penderitaannya  kepada  dokter  atau  perawatnya, kerabat atau
temannya, selama hal itu  dilakukan  tidak  untuk  menunjukkan
kebencian  kepada  takdir,  atau untuk menunjukkan keluh kesah
dan kekesalannya.
 
Hal  ini  disebabkan  orang  yang  dijadikan  tempat  mengaduh
--lebih-lebih  jika  ia  dokter  atau  perawat-- kadang-kadang
punya  obat  yang  dapat  menghilangkan  rasa  sakitnya,  atau
minimal  meringankannya.  Disamping  itu, menyampaikan keluhan
kepada  orang  yang  dipercayainya  dapat  meringankan   beban
psikologis,  lebih-lebih  jika  orang  itu  mau menanggapinya,
merasa  iba  padanya,  dan  ikut  merasakan  penderitaan  yang
dialaminya. Seorang penyair kuno mengatakan:
 
    "Aku mengaduh dan mengeluh
    Padahal mengeluh seperti ini tak biasa kulakukan
    Tapi memang
    Bila gelas sudah penuh isinya
    Ia akan tumpah keluar."
 
Pujangga lain mengatakan:
 
    "Tak apalah engkau mengaduh
    Kepada orang yang berbudi luhur
    Agar ia iba padamu
    Atau menenangkan jiwamu
    Atau turut merasakan penderitaanmu."
 
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu  Mas'ud  r.a.  bahwa  Nabi
saw. pernah berkata:
 
    "Aku demam yang panasnya setinggi yang dialami dua orang
    dari kalian."
 
Diriwayatkan dari al-Qasim  bin  Muhammad  bahwa  Aisyah  r.a.
pernah   berkata,   "Aduh,  kepalaku  sakit."  Dan  Nabi  saw.
menimpali, "Aduh, kepalaku juga sakit!"
 
Dan diriwayatkan dari  Sa'ad,  ia  berkata,  "Rasulullah  saw.
datang  menjenguk  saya  ketika  penyakit saya bertambah berat
pada waktu haji wada',  lalu  saya  berkata,  'Saya  menderita
sakit sebagaimana yang engkau lihat ..."71
 
Imam  Bukhari  meriwayatkan  dalam al-Adabul-Mufrad dari Urwah
bin Zuber, ia berkata, Saya  dan  Abdullah  bin  Zuber  pernah
menjenguk  Asma'  --binti  Abu Bakar yang nota bene ibu mereka
sendiri-- lalu  Abdullah  bertanya  kepada  Asma',  'Bagaimana
keadaan Ibunda?' Asma' menjawab, 'Sakit.'"72
 
Riwayat-riwayat  ini  menolak  anggapan  sebagian  ulama  yang
mengatakan bahwa orang  sakit  dimakruhkan  mengeluh/mengaduh.
Imam  Nawawi  mengomentari  pendapat  sebagian  ulama tersebut
dengan mengatakan, "Ini adalah pendapat yang lemah atau batil,
karena  sesuatu  yang makruh ditetapkan dengan adanya larangan
yang  dimaksud,  sedangkan  yang  demikian  tidak   didapati."
Kemudian  beliau berhujjah dengan hadits Aisyah dalam bab ini,
lalu berkata, "Barangkali yang mereka  maksud  dengan  karahah
(makruh)  disini  adalah khilaful-aula (menyalahi sesuatu yang
lebih utama),  sebab  tidak  diragukan  lagi  bahwa  melakukan
dzikir lebih utama (daripada mengaduh/mengerang)."73
 
Al-Qurthubi  berkata, "Sebenarnya tidak seorang pun yang dapat
menolak rasa sakit, dan memang jiwa manusia  diciptakan  untuk
dapat  merasakan yang demikian, maka apa yang telah diciptakan
Allah pada manusia tidaklah dapat diubah. Hanya saja,  manusia
dibebani  tugas  untuk melepaskan diri dari sesuatu yang dapat
ditinggalkan  apabila  ditimpa  musibah,  misalnya  berlebihan
dalam  mengeluh dan mengaduh, karena orang yang berbuat begitu
berarti telah keluar dari artian sebagai  ahli  sabar.  Adapun
semata-mata mengaduh tidaklah tercela, kecuali ia membenci apa
yang ditakdirkan atas dirinya."74
 
Bahkan Imam Muslim meriwayatkan  dari  Utsman  bin  Abil  'Ash
bahwa   dia   mengeluhkan  rasa  sakit  pada  tubuhnya  kepada
Rasulullah saw., lalu beliau bersabda kepadanya:
 
    "Letakkan tanganmu pada badan tubuhmu yang sakit, dan
    ucapkan 'bismillah' (dengan nama Allah) tiga kali, dan
    ucapkan doa ini sebanyak tujuh kali: 'Aku berlindung
    dengan kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya dari apa yang
    aku derita dan aku khawatirkan.'"75
 
Para ulama mengatakan,  "Dari  riwayat  ini  dirumuskan  hukum
sunnahnya   menyampaikan   keluhan   kepada  orang  yang  bisa
memohonkan berkah, karena mengharapkan keberkahan doanya"76
 
Imam Ahmad biasanya memuji Allah terlebih dahulu, baru setelah
itu  beliau  memberitahukan  apa  yang  dideritanya, mengingat
riwayat dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan, "Apabila menyampaikm
syukur  terlebih  dahulu  sebelum  menyampaikan  keluhan, maka
tidaklah dia dinilai berkeluh kesah."77
 
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentari perkataan  Nabi  saw.  dalam
hadits Aisyah ("kepala saya juga sakit") dengan mengatakan:
 
    "Riwayat ini menunjukkan bahwa mengatakan sakit tidak
    termasuk berkeluh kesah. Sebab betapa banyak orang yang
    hanya berdiam tetapi hati mereka merasa jengkel (marah),
    dan betapa banyak orang yang mengadukan sakitnya tetapi
    hatinya merasa ridha. Maka yang perlu diperhatikan di
    sini adalah amalan hati, bukan amalan lisan.78 Wallahu
    a'lam.
 
Disisi lain, bagi orang yang  menerima  keluhan  hendaklah  ia
berusaha  meringankan  penderitaan si sakit dengan membelainya
atau menyentuhnya dengan penuh kasih sayang, dengan  perkataan
yang  menyejukkan hati, dan dengan doa yang baik, sebaggõimana
yang dilakukan Rasulullah saw. terhadap  Sa'ad.  Aisyah  binti
Sa'ad  meriwayatkan  bahwa  ayahnya bercerita, "Ketika saya di
Mekah, saya mengadukan sakit yang  berat,  kemudian  Nabi  saw
menjenguk  saya.  Kemudian  beliau  menaruh  tangan beliau dan
mengusapkannya pada muka dan perut saya, seraya berdoa:
 
    "Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad, dan sempurnakanlah
    hijrahnya."
 
Sa'ad  berkata,  "Maka  saya  senantiasa  merasakan  dinginnya
tangan  beliau  di  hati saya --menurut perasaan saya-- hingga
hari kiamat."79
 
Ibnu  Mas'ud  juga  berkata,  "Saya  pernah  masuk  ke  tempat
Rasulullah  saw.  ketika  beliau sedang sakit parah, lalu saya
belai  beliau  dengan  tangan  saya  sembari  berkata,  'Wahai
Rasulullah,  sakitmu  sangat  berat.' Beliau menjawab, 'Benar,
sebagaimana yang diderita oleh dua orang diantara kamu.'  Saya
berkata,  'Hal  itu karena engkau mendapat dua pahala?' Beliau
menjawab, 'Benar.' Kemudian beliau bersabda:
 
    "Tidak seorang muslim yang ditimpa suatu gangguan berupa
    penyakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan
    dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan
    daun-daunnya."80
 
Selain itu, hendaklah ia berusaha meringankan  penderitaan  si
sakit  dengan  mengingatkannya  akan  keutamaan sabar terhadap
cobaan Allah dan  ridha  menerima  qadha-Nya,  mengingatkannya
akan  pahala  orang  yang mendapatkan ujian lantas ia bersabar
dan rela menerimanya. Hendaklah ia mengingatkan bahwa penyakit
yang   menimpanya   adalah   untuk   menyucikan   dan  menebus
dosa-dosanya,   untuk   menambah   kebaikannya,   atau   untuk
meninggikan  derajatnya.  Disamping  itu!  ia  juga  sebaiknya
diberi pengertian bahwa  orang  yang  paling  berat  cobaannya
ialah para nabi, kemudian orang-orang yang memiliki derajat di
bawahnya, dan  seterusnya.  Perlu  juga  diingatkan  kepadanya
tentang  ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi, serta biografi para
shalihin yang  sekiranya  dapat  menenangkan  dan  memantapkan
hatinya,   tidak   menjadikannya  jenuh  dan  berat.  Kemudian
sebaiknya ia diajari dengan  sesuatu  yang  dapat  meninggikan
jiwanya,  sebagaimana yang dilakukan Nabi saw. terhadap Utsman
bin Abil 'Ash.
 
Adapun mengenai  pengaduan  kepada  Sang  Pencipta  Yang  Maha
Luhur,  maka  Al-Qur'an  telah mengisahkan beberapa orang Nabi
a.s. yang mulia. Diantaranya Al-Qur'an mengisahkan Nabi Ya'qub
a.s. yang mengatakan:
 
    "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan
    kesusahan dan kesedihanku ..." (Yusuf: 86)
 
Demikian pula ketika mengisahkan Nabi Ayub a.s.:
 
    "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya:
    '(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit,
    dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara
    semua penyayang." (al-Anbiya': 83)
 
Ayat-ayat ini sekaligus menyangkal anggapan golongan sufi yang
mengatakan  bahwa  berdoa  merusak keridhaan dan penyerahan.81
Dalam  hal  ini  sebagian  mereka  berkata,   "Pengetahuan-Nya
tentang keadaanku tidak memerlukan aku meminta kepada-Nya."
 
Tetapi  yang  perlu ditegaskan disini bahwa berdoa dan memohon
kepada  Allah  adalah  ibadah,  sebagaimana  yang   disabdakan
Rasulullah saw.
 
Sebenarnya,  menurut  kesepakatan  para  ulama, yang tergolong
makruh dalam hal ini ialah berkeluh kesah  terhadap  Tuhannya,
yaitu  menyebut-nyebut  penderitaannya  kepada  manusia dengan
jalan memaki-maki.82 Inilah yang dilakukan oleh sebagian orang
yang  melupakan  nikmat Allah, yang mereka ingat hanyalah bala
dan bencana semata.

SI SAKIT MENGHARAPKAN KEMATIAN
 
Apabila  si  sakit  diperbolehkan  mengeluhkan  penderitaannya
sebagaimana   saya   sebutkan,   maka  tidaklah  baik  baginya
mengharapkan kematian atau meminta kematian karena penderitaan
yang  dialaminya, mengingat hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dan Muslim dari Anas bahwa Nabi saw. bersabda:
 
    "Jangan sekali-kali seseorang diantara kamu mengharapkan
    kematian karena penderitaan yang dialaminya. Jika ia
    harus berbuat begitu, maka hendaklah ia mengucapkan, 'Ya
    Allah, hidupkanlah aku jika hidup itu lebih baik bagiku;
    dan matikanlah aku jika kematian itu lebih baik
    bagiku."83
 
Hadits Abu Hurairah r.a. yang diriwayatkan  oleh  Bukhari  dan
lainnya  menjelaskan  hikmah  larangan  ini,  maka  Nabi  saw.
bersabda:
 
    "Dan jangan sekali-kali salah seorang diantara kamu
    mengharapkan kematian, karena kalau ia orang baik maka
    boleh jadi akan menambah kebaikannya; dan jika ia orang
    yang jelek maka boleh jadi ia akan bertobat dengan
    tulus."84
 
Makna kata yasta'tibu ialah kembali dari segala  sesuatu  yang
menjadikannya  tercela,  caranya  ialah dengan melakukan tobat
nashuha (tobat yang tulus).
 
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya  dari  Abu  Hurairah
bahwa Nabi saw. bersabda:
 
    "Jangan sekali-kali salah seorang diantara kamu
    mengharapkan kematian dan jangan pula berdoa memohon
    kematian sebelum datang waktunya. Sesungguhnya kematian
    itu apabila datang kepada salah seorang diantara kamu
    maka putuslah amalnya, dan sesungguhnya tidak bertambah
    umur orang mukmin itu melainkan hanya menambah kebaikan
    baginya."85
 
Para ulama mengatakan, "Sebenarnya dimakruhkannya mengharapkan
kematian  itu  hanyalah  apabila  berkenaan dengan kemudaratan
atau  kesempitan  hidup  duniawi,  tetapi  tidak   dimakruhkan
apabila  motivasinya  karena  takut  fitnah terhadap agamanya,
karena kerusakan zaman, sebagaimana dipahami dari hadits  Anas
di   atas.   Banyak  diriwayatkan  dari  kalangan  salaf  yang
mengharapkan kematian  ketika  mereka  takut  fitnah  terhadap
agamanya."86
 
Hal  ini  diperkuat  oleh hadits Mu'adz bin Jabal mengenai doa
Nabi saw.:
 
    "Ya Allah, aku mohon kepada-Mu (agar Engkau menolongku
    untuk) melakukan kebaikan, meninggalkan kemunkaran, dan
    mencintai orang-orang miskin. Dan apabila Engkau
    menghendaki suatu fitnah kepada suatu kaum, maka
    wafatkanlah aku untuk menghadapMu tanpa terkena
    fitnah."87
 
Selain  itu,  juga  disebutkan  dalam  beberapa  hadits   yang
membicarakan  tanda-tanda  hari  kiamat  bahwa  kelak akan ada
seseorang yang melewati kubur saudaranya, lalu ia  mengatakan,
"Alangkah   baiknya   kalau   aku   yang  menempati  tempatnya
(kuburnya)."
 
Tidak disukainya (dimakruhkannya)  mengharapkan  kematian  ini
dengan  ketentuan  apabila hal itu dilakukan sebelum datangnya
pendahuluan kematian; namun jika setelah pendahuluan  kematian
itu  datang,  maka  tidak terlarang dia mengharapkannya karena
merasa rela bertemu Allah, dan tidak terlarang pula bagi orang
yang meminta kematian karena kerinduannya untuk bertemu dengan
Allah Azza wa Jalla.
 
Karena itu, dalam bab ini pula Imam  Bukhari  mencatat  hadits
Aisyah  yang  mengatakan,  "Saya  mendengar  Nabi saw., sambil
bersandar pada saya, berdoa:
 
    "Ya Allah, ampunilah aku dan kasih sayangilah aku, dan
    pertemukanlah aku dengan teman yang luhur."88
 
Hal ini sebagai isyarat bahwa larangan tersebut  khusus  untuk
keadaan sebelum datangnya pendahuluan kematian.89

Berbaik Sangka kepada Allah Ta'ala
 
Disukai  bagi  si sakit --khususnya bagi yang telah kedatangan
tanda-tanda  mendekati  kematian--  untuk  berprasangka   baik
kepada  Allah Ta'ala. Dalam arti, pengharapannya kepada rahmat
Allah  melebihi  perasaan  takutnya  kepada  azab-Nya,  selalu
mengingat    betapa    besar   kemurahan-Nya,   betapa   indah
pengampunan-Nya,  betapa  luas  rahmat-Nya,  betapa   sempurna
karunia-Nya,   dikedepankan-Nya  kebaikan  dan  kebajikan-Nya,
membayangkan apa yang dijanjikan-Nya kepada  ahli  tauhid  dan
rahmat  yang  disediakan-Nya  untuk  mereka  pada hari kiamat.
Jabir meriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda:
 
    "Jangan sekali-kali salah seorang diantara kamu
    meninggal dunia melainkan dalam keadaan dia berbaik
    sangka kepada Allah Ta'ala."90
 
Hal ini diperkuat oleh  hadits  qudsi  yang  telah  disepakati
kesahihannya, bahwa Allah berfirman:
 
    "Aku menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku."91
 
Ibnu Abbas berkata, "Apabila Anda melihat seseorang kedatangan
tanda-tanda kematian maka gembirakanlah dia agar dia menghadap
kepada Allah dengan berbaik  sangka  kepada-Nya;  dan  apabila
Anda   lihat   orang   yang   hidup   --yakni   sehat--   maka
takut-takutilah dia akan Tuhannya Azza wa Jalla."
 
Mu'tamir bin Sulaiman berkata, "Ketika akan  meninggal  dunia,
ayah  berkata  kepadaku,  'Wahai  Mu'tamir, bicaralah kepadaku
tentang rukhshah-rukhshah  (kemurahan-kemurahan),  supaya  aku
menghadap Allah Ta'ala dengan berbaik sangka kepada-Nya."92
 
Imam  Nawawi  berkata,  "Orang yang sedang menunggu orang yang
akan meninggal dunia disukai membangkitkan  harapannya  kepada
rahmat  Allah,  menganjurkannya  untuk  berbaik  sangka kepada
Allah,  mengingatkannya  dengan  ayat-ayat  dan  hadits-hadits
mengenai  pengharapan  dan  ditimbulkan  semangatnya. Petunjuk
mengenai apa yang saya  sebutkan  ini  banyak  terdapat  dalam
hadits-hadits  sahih,  diantaranya  sejumlah  hadits yang saya
sebutkan dalam "Kitab al-Jana'iz" dari  kitab  al-Adzkar.  Hal
ini  juga  dilakukan oleh Ibnu Abbas terhadap Umar bin Khattab
r.a.  ketika  menghadapi  maut,  juga  dilakukan  Ibnu   Abbas
terhadap  Aisyah,  dan  dilakukan  pula  oleh Ibnu Amr bin Ash
terhadap ayahnya. Semua ini tersebut dalam hadits dan  riwayat
yang sahih."93

KETIKA SEKARAT DAN MENDEKATI KEMATIAN
 
Apabila  keadaan  si  sakit  sudah berakhir dan memasuki pintu
maut  --yakni  saat-saat  meninggalkan  dunia  dan  menghadapi
akhirat,   yang   diistilahkan  dengan  ihtidhar  (detik-detik
kematian/kedatangan tanda-tanda  kematian)--  maka  seyogianya
keluarganya   yang   tercinta  mengajarinya  atau  menuntunnya
mengucapkan kalimat  laa  ilaaha  illallah  (Tidak  ada  tuhan
selain  Allah)  yang merupakan kalimat tauhid, kalimat ikhlas,
dan kalimat takwa, juga merupakan perkataan paling utama  yang
diucapkan Nabi Muhammad saw. dan nabi-nabi sebelumnya.
 
Kalimat  inilah  yang  digunakan seorang muslim untuk memasuki
kehidupan  dunia  ketika  ia  dilahirkan  dan   diazankan   di
telinganya   (bagi  yang  berpendapat  demikian;  Penj.),  dan
kalimat ini pula yang ia pergunakan untuk mengakhiri kehidupan
dunia.  Jadi,  dia  menghadapi  atau memasuki kehidupan dengan
kalimat tauhid dan meninggalkan kehidupan pun  dengan  kalimat
tauhid.
 
Ulama-ulama   kita   mengatakan,  "Yang  lebih  disukai  untuk
mendekati si sakit ialah famili yang paling sayang  kepadanya,
paling  pandai  mengatur,  dan  paling  takwa kepada Tuhannya.
Karena tujuannya adalah mengingatkan  si  sakit  kepada  Allah
Ta'ala, bertobat dari maksiat, keluar dari kezaliman, dan agar
berwasiat.  Apabila  ia  melihat  si  sakit  sudah   mendekati
ajalnya,   hendaklah   ia   membasahi   tenggorokannya  dengan
meneteskan air atau meminuminya dan membasahi  kedua  bibirnya
dengan   kapas,   karena   yang   demikian   dapat  memadamkan
kepedihannya    dan    memudahkannya    mengucapkan    kalimat
syahadat."94
 
Kemudian  dituntunnya  mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah
mengingat hadits  yang  diriwayatkan  Muslim  dari  Abi  Sa'id
secara marfu':
 
    "Ajarilah orang yang hampir mati diantara kalian dengan
    kalimat laa illaaha illallah."95
 
Orang yang hampir  mati  didalam  hadits  ini  disebut  dengan
"mayit"  (orang mati) karena ia menghadapi kematian yang tidak
dapat dihindari.
 
Jumhur  ulama  berpendapat  bahwa  menalkin  (mengajari   atau
menuntun)  orang  yang  hampir  mati dengan kalimat laa ilaaha
illallah ini hukumnya mandub (sunnah), tetapi  ada  pula  yang
berpendapat wajib berdasarkan zhahir perintah. Bahkan sebagian
pengikut mazhab Maliki mengatakan telah disepakati wajibnya.96
 
Hikmah menalkin  kalimat  syahadat  ialah  agar  akhir  ucapan
ketika  seseorang  meninggal  dunia  adalah  kalimat tersebut,
mengingat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad  dan  Hakim
serta disahkan olehnya dari Mu'adz secara marfu':
 
    "Barangsiapa yang akhir perkataannya kalimat laa
    ilaaha illallah, maka ia akan masuk surga."97
 
Dicukupkannya  dengan  ucapan  laa  ilaaha   illallah   karena
pengakuan akan isi kalimat ini berarti pengakuan terhadap yang
lain, karena dia mati berdasarkan tauhid yang  diajarkan  Nabi
Muhammad saw., disamping itu agar jangan terlalu banyak ucapan
yang diajarkan kepadanya.
 
Sebagian  ulama  berpendapat  agar  menalkinkan  dua   kalimat
syahadat, karena kalimat kedua (Muhammad Rasulullah) mengikuti
kalimat pertama. Tetapi yang lebih utama ialah  mencukupkannya
dengan syahadat tauhid, demi melaksanakan zhahir hadits.
 
Seyogyanya,   dalam   menalkinkan   kalimat   tersebut  jangan
diperbanyak dan jangan diulang-ulang, juga  janganlah  berkata
kepadanya:    "Ucapkanlah   laa   ilaaha   illallah,"   karena
dikhawatirkan ia merasa dibentak sehingga merasa  jenuh,  lalu
ia  mengatakan,  "Saya  tidak mau mengucapkannya," atau bahkan
mengucapkan perkataan lain yang tidak layak. Hendaklah kalimat
ini  diucapkan  kepadanya  sekiranya  ia  mau mendengarnya dan
memperhatikannya, kemudian mau mengucapkannya .
 
Atau mengucapkan apa yang dikatakan oleh sebagian ulama, yaitu
berdzikir   kepada  Allah  dengan  mengucapkan:  "Subhanallah,
walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah."
 
Apabila ia sudah mengucapkan kalimah syahadat satu kali,  maka
hal  itu  sudah cukup dan tidak perlu diulang, kecuali jika ia
mengucapkan perkataan lain sesudah  itu,  maka  perlu  diulang
menalkinnya  dengan  lemah  lembut  dan  dengan cara persuasif
(membujuknya agar mau mengucapkannya), karena  kelemahlembutan
dituntut  dalam  segala  hal  terlebih  lagi  dalam kasus ini.
Pengulangan  ini  bertujuan  agar  perkataan   terakhir   yang
diucapkannya adalah kalimat laa ilaaha illallah.
 
Diriwayatkan  dari  Abdullah  bin  al-Mubarak  bahwa ketika ia
kedatangan tanda-tanda kematian (yakni hampir meninggal dunia)
ada    seorang    laki-laki    yang    menalkinkannya   secara
berulang-ulang, lantas Abdullah  berkata,  "Seandainya  engkau
ucapkan  satu  kali  saja,  maka  saya  tetap atas kalimat itu
selama saya tidak berbicara lain."
 
Dalam hal ini, sebaiknya orang yang menalkinkannya ialah orang
yang  dipercaya oleh si sakit, bukan orang yang diduga sebagai
lawannya (ada rasa permusuhan dengannya) atau orang yang hasad
kepadanya, atau ahli waris yang menunggu-nunggu kematiannya.98
 
Sementara  itu,  sebagian ulama menyukai dibacakan surat Yasin
kepada orang yang hampir mati berdasarkan hadits:
 
    "Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang hampir mati
    diantara kamu."99
 
Namun demikian, derajat hadits ini tidak sahih,  bahkan  tidak
mencapai derajat hasan, sehingga tidak dapat dijadikan hujjah.
 
Disamping  itu, disukai menghadapkan orang yang hampir mati ke
arah kiblat jika memungkinkan --karena kadang-kadang si  sakit
tengah  menjalani perawatan di rumah sakit hingga ia menghadap
ke arah yang sesuai dengan posisi ranjang tempat ia tidur.
 
Yang menjadi dalil bagi hal ini adalah hadits Abu Qatadah yang
diriwayatkan  oleh  Hakim,  bahwa  ketika  Nabi saw. datang di
Madinah, beliau bertanya tentang al-Barra'  bin  Ma'rur,  lalu
para  sahabat menjawab bahwa dia telah wafat, dan dia berpesan
agar dihadapkan ke kiblat ketika hampir wafat, lalu Rasulullah
saw. bersabda:
 
    "Sesuai dengan fitrah."100
 
Imam Hakim berkata, "Ini adalah hadits sahih, dan  saya  tidak
mengetahui  dalil  tentang menghadapkan orang yang hampir mati
ke arah kiblat melainkan hadits ini."101
 
Ada  dua  macam  pendapat  dari  para  ulama   mengenai   cara
menghadapkan orang sakit ke arah kiblat ini:
 
Pertama,  ditelentangkan  di  atas  punggungnya, kedua telapak
kakinya ke arah kiblat, dan kepalanya  diangkat  sedikit  agar
wajahnya  menghadap  ke arah kiblat, seperti posisi orang yang
dimandikan. Pendapat  ini  dipilih  oleh  beberapa  imam  dari
mazhab Syafi'i, dan ini merupakan pendapat dalam mazhab Ahmad.
 
Kedua, miring ke kanan dengan menghadap kiblat, seperti posisi
dalam liang lahad. Ini merupakan pendapat mazhab  Abu  Hanifah
dan  Imam  Malik, dan nash Imam Syafi'i dalam al-Buwaithi, dan
pendapat yang mu'tamad (valid) dalam mazhab Imam Ahmad.
 
Sebagian ulama memperbolehkan kedua cara tersebut,  mana  yang
lebih  mudah.  Sedangkan Imam Nawawi membenarkan pendapat yang
kedua,  kecuali  jika  tidak  memungkinkan  cara  itu   karena
tempatnya  yang sempit atau lainnya, maka pada waktu itu boleh
dimiringkan  ke  kiri  dengan  menghadap  kiblat.  Jika  tidak
memungkinkan, maka di atas tengkuknya atau punggungnya.102
 
Imam  Syaukani  berkata,  "Yang  lebih  cocok  ialah menghadap
kiblat dengan miring ke kanan,  berdasarkan  hadits  al-Barra'
bin Azib dalam Shahihain:
 
    "Apabila engkau hendak naik ke tempat tidurmu maka
    berwudhulah seperti wudhumu ketika hendak shalat,
    kemudian berbaringlah di atas lambungmu sebelah kanan."
 
Dalam riwayat lain disebutkan:
 
    "Jika engkau meninggal dunia pada malam harimu itu, maka
    engkau berada pada fitrah (kesucian)."103
 
Dari riwayat ini tampak bahwa  seyogyanya  orang  yang  hampir
meninggal dunia hendaklah dalam posisi seperti itu.
 
Diriwayatkan  juga  dalam  al-Musnad dari Salma Ummu Walad Abu
Rafi' bahwa Fatimah binti Rasulullah saw. radhiyallahu  'anha,
ketika  akan meninggal dunia beliau menghadap kiblat, kemudian
berbantal dengan miring ke kanan.104

APA YANG HARUS DILAKUKAN SETELAH MATI?
 
Ada  beberapa  adab  syar'iyah  yang  harus  dilakukan  secara
langsung  setelah  mati dan sebelum dimandikan yang perlu saya
kemukakan  disini,  karena  berkaitan  dengan  saat   ihtidhar
(menghadapi  kematian). Selain itu, banyak hal yang memerlukan
penanganan dokter  yang  merawatnya,  sebab  kadang-kadang  si
sakit   meninggal  dunia  di  hadapannya.  Apakah  yang  harus
dilakukan saat itu?
 
Pertama:  dipejamkan  kedua  matanya,  mengingat  hadits  yang
diriwayatkan Imam Muslim bahwa Rasulullah saw. pernah masuk ke
tempat Abu Salamah setelah dia  meninggal  dunia  dan  matanya
dalam   keadaan  terbuka,  lalu  beliau  memejamkannya  seraya
bersabda:
 
    "Sesungguhnya ruh apabila dicabut, ia diikuti oleh
    pandangan."105
 
Disamping itu, apabila kedua  matanya  tidak  dipejamkan  maka
akan terbuka dan melotot, sehingga timbul anggapan yang buruk.
 
Kedua:  diikat  janggutnya  (dagunya)  dengan bebat yang lebar
yang dapat mengenai  seluruh  dagunya,  dan  diikatkan  dengan
bagian atas kepalanya, supaya mulutnya tidak terbuka.
 
Ketiga: dilemaskan persendian atau pergelangan-pergelangannya,
yaitu  dilipat  lengannya  ke  pangkal   lengannya,   kemudian
dijulurkan  lagi;  dilipat  (ditekuk) betisnya ke pahanya, dan
pahanya ke perutnya, kemudian dikembalikan lagi; demikian juga
jari-jemarinya  dilemaskan  supaya  lebih mudah memandikannya.
Sebab beberapa saat setelah menghembuskan napas terakhir badan
seseorang   masih   hangat,   sehingga   jika   sendi-sendinya
dilemaskan pada saat itu ia akan menjadi  lemas.  Tetapi  jika
tidak  segera  dilemaskan,  tidak  mungkin dapat melemaskannya
sesudah itu.
 
Keempat: dilepas pakaiannya, agar badannya tidak  cepat  rusak
dan  berubah karena panas, selain kadang-kadang keluar kotoran
(najis) yang akan mengotorinya.
 
Kelima:  diselimuti  dengan  kain  yang   dapat   menutupinya,
berdasarkan  riwayat  Aisyah  bahwa  Nabi  saw.  ketika  wafat
diselimuti dengan selimut yang bergaris-garis.106
 
Keenam: di atas perutnya ditaruh suatu beban yang sesuai  agar
tidak mengembung.
 
Para  ulama  mengatakan, "Yang melakukan hal-hal ini hendaklah
orang yang lebih lemah lembut di antara keluarga dan mahramnya
dengan cara yang paling mudah."107
 
Adapun   hal-hal   lain  setelah  itu  yang  berkenaan  dengan
pengurusan mayit, seperti memandikan,  mengafani,  menshalati,
dan  lainnya  tidaklah  termasuk  dalam  kerangka  hukum orang
sakit, bahkan termasuk dalam kandungan hukum orang  mati  atau
ahkamul-jana'iz. Dengan demikian, perlu pembahasan tersendiri.
 
Wa  billahit taufiq, dan akhir seruan saya adalah bahwa segala
puji kepunyaan Allah, Tuhan bagi alam semesta.

Catatan kaki:
 
  1 Seperti dalam Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim,
    Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, dan Sunan lbnu Majah.
 
  2 Al-Lu'lu' wal-Marjan. nomor 1397.
 
  3 Shahih al-Bukhari, "Kitab al-Mardha," "Bab Wujubi
    'Iyadatil-Maridh," hadits nomor 5649. Al-Bukhari dalam
    Fathul-Bari, terbitan Darul-Fikri, al-Mushawwirah 'an
    as-Salafiyah, Kairo, 10: 122.
 
  4 Fathul-Bari bi Syarhi Shahihil-Bukhari, juz 10, hlm.
    112-113.
 
  5 Ibid hadits nomor 5650.
 
  6 Nailul-Authar, karya Asy-Syaukani, juz 4, hlm.
    43-44.
 
  7 Riwayat Muslim dalam "Kitab al-Birr," hadits nomor
    2568, dengan tahqiq Fuad Abdul Baqi, dan diriwayatkan
    oleh Tirmidzi dalam al-Jana'iz, hadits nomor 967, dan
    beliau berkata, "Hasan sahih." Terbitan Himsh, dengan
    ta'liq Azat Da'as.
 
  8 Bukhari dalam al-Adabul-Mufrad, nomor 522, Ahmad dan
    al-Bazzar, dan disahkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim dari
    jalan ini. Lafal mereka berbeda-beda, dan Ahmad
    meriwayatkan seperti ini dari hadits Ka'ab bin Malik
    dengan sanad hasan. Al-Fath, 10: 113.
 
  9 Ibnu Majah dalam al-Jana'iz, 1442; Tirmidzi no.
    1006.
 
 10 HR Muslim, hadits nomor 2569.
 
 11 HR Tirmidzi, nomor 969. Beliau berkata, "Hasan gharib."
 
 12 HR Abu Daud dan disahkan oleh Hakim. Diriwayatkan
    juga oleh Bukhari dengan susunan redaksional yang lebih
    lengkap, sebagaimana terdapat dalam Fathul-Bari, juz 10,
    hlm. 113. Lihat juga al-Adabul-Mufrad, karya Imam
    Bukhari, "Bab al-'Iyadah minar-Ramad," hadits no. 532.
 
 13 Al-Bukhari dalam Fathul-Bari, hadits nomor 5656.
 
 14 Fathul-Bari, juz 10, hlm. 119.
 
 15 Diriwayatkan oleh Bukhari sebagaimana tertera dalam
    Fathul-Bari, juz 10, hlm. 118, hadits 5655. Beliau juga
    meriwayatkannya dalam al-Jana'iz.
 
 16 Al-Bukhari dalam Fathul-Bari, 10: 114, hadiz no.
    5651.
 
 17 Ibid.
 
 18 Al-Adabul-Mufrad, karya al-Bukhari "Bab
    'Iyadatin-Nisa' ar-Rijal al-Maridh," hadits nomor 530.
 
 19 Al-Bukhari dalam Fathul-Bari, hadits nomor 5654.
 
 20 Muslim dalam "Kitab al-Birr," hadits nomor 4575.
 
 21 Al-Bukhari dalam Fathul-Barin, hadits, nomor 5657.
 
 22 Fathul-Bari, juz 10, hlm. 119
 
 23 Syarhus-Sunnah, terbitan al-Maktab al-Islami, dengan
    tahqiq Syu'aib al-Arnauth, juz 5, hlm. 211-212.
 
 24 Al-Majmu', kalya an-Nawawi, juz 5. hlm. 111-112.
 
 25 Ibid., hlm. 112.
 
 26 Fathul-Bari, juz 10, hlm. 126, "Bab Qaulil-Maridh:
    'Quumuu 'Annii'."
 
 27 Al-Bukhari dalam Fathul-Bari, hadits nomor 5675.
 
 28 Ibid., hadits nomor 5659.
 
 29 Ibid., juz 10, hlm. 132
 
 30 Muttafaq 'alaih dari hadits Abdullah bin Abi Aufa.
 
 31 HR Ahmad dan Tirmidzi dari hadits Abu Bakar,
    sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jami'ush-Shaghir,
    hadits nomor 3632.
 
 32 Ath-Thabrani dan adh-Dhiya', dan dihasankan dalam
    Shahih al-Jami'ush-Shaghir, nomor 1198.
 
 33 HR al-Bazzar dari Ibnu Abbas, sebagaimana disebutkan
    dalam Shahih al-Jami'ush-Shaghir, hadits nomor 1274.
 
 34 HR Abu Daud dalam al-Jana'iz (2107), Ibnu Hibban,
    dan al-Hakim. Beliau mengesahkannya menurut syarat
    Muslim, dan adz-Dzahabi menyetujuinya (1: 344).
 
 35 Syarah al-Misykat, juz 2, hlm. 307.
 
 36 HR Abu Daud dalam al-Jana'iz (hadits nomor 3106),
    at-Tirmidzi dalam ath-Thibb (hadits nomor 2083) dan
    beliau berkata, "Hasan gharib." Juga dihasankan oleh
    al-Hafizh dalam Syarah al-Adzkar karya Ibnu 'Allan, juz
    4, hlm. 61-62, dan diriwayatkan oleh al-Hakim serta
    disahkan olehnya menurut syarat Bukhari, dan disetujui
    oleh adz-Dzahabi dalam juz 1, hlm. 342.
 
 37 Ibnu Majah dalam "al-Jana'iz," hadits nomor 1438,
    dan at-Tirmidzi dalam "ath-Thibb" nomor 2087 dan beliau
    menilainya gharib. Al-Hafizh berkata, "Dalam sanadnya
    terdapat kelemahan." (Fathul-Bari, 10: 121).
 
 38 Fathul-Bari, juz 10, hlm. 121-122.
 
 39 Muslim, "Kitab as-Salam," "Bab Laa Ba'sa bir-Ruqa
    Maa lam Yakun fihi Syirkun," hadits no. 2200.
 
 40 Ibid., "Bab Istihbabur-Ruqyah minal-'Ain wan-Namlah
    wal-Hummah wan-Nazhrah," hadits nomor 2199.
 
 41 Fathul-Bari, juz 10, hlm. 195-196.
 
 42 Muttafaq 'alaih, sebagaimana disebutkan dalam
    al-Lu'lu' wal-Marjan fii Maa Ittafaqa 'alaihi
    asy-Syaikhaani, hadits no. 1417.
 
 43 Muslim, "Bab ath-Thibb wal-Maradh war-Ruqa," hadits
    no. 2185.
 
 44 Muslim, hadits nomor 2186.
 
 45 Muttafaq 'alaih, hadits nomor 1415.
 
 46 Muttafaq 'alaih, hadits nomor 1418.
 
 47 Muslim, hadits nomor 2198. Yang dimaksud "mereka" di
    sini ialah anak-anak dari putra paman beliau Ja'far.
 
 48 Muttafaq 'alaih, hadits nomor 1420.
 
 49 HR Bukhari, Ahmad, dan Ashhabus-Sunan sebagaimana
    disebut dalam Shahih al-Jami'ush-Shaghir, hadits nomor
    3778.
 
 50 Shahih al-Jami'ush-Shaghir, hadits nomor 6394.
 
 51 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, hadits nomor 6696. dan
    Syekh Syakir mengesahkan isnadnya, meskipun diriwayatkan
    oleh Ibnu Ishaq secara mu'an'an (dengan menggunakan
    lafal 'an = dari). Juga diriwayatkan oleh Abu Daud dalam
    "ath-Thibb" (nomor 3843); Tirmidzi dalam "ad-Da'awat"
    (nomor 3519) dan beliau berkata, "Hasan gharib"; Nasa-i
    dalam "Amalul-Yaum wal-Lailah," nomor 765 hingga pada
    lafal: "Wa an yahdhuruuni."
 
 52 Faidhul-Qadar, juz 2, hlm. 287.
 
 53 Al-Lu'lu' wa-Marjan, hadits nomor 1667.
 
 54 Al-Lu'lu' wa-Marjan, hadits nomor 1447.
 
 55 Dihasankan oleh Tirmidzi, disahkan oleh Hakim, dan
    disetujui oleh Dzahabi, sebagaimana diterangkan dalam
    Faidhul-Qadir, karya Imam Munawi, juz 4, hlm. 237.
 
 56 Diriwayatkan juga oleh Abu Daud, Tirmidzi, dan
    Bukhari dalam al-Adabul-Mufrad dari Abi Sa'id, dan
    diriwayatkan oleh Thabrani dan Hakim dari Ummu Kultsum
    bind 'Uqbah, serta disahkan oleh Hakim menurut syarat
    Muslim dan disetujui Dzahabi (Faidhul-Qadir, juz 2, hlm.
    38).
 
 57 Artinya, dia tidak berbakti kepada mereka yang akan
    mengantarkannya ke surga (Penj.).
 
 58 Shahih al-Jami'ush-Shaghir, hadits nomor 3511.
 
 59 Doa Malaikat Jibril itu berbunyi demikian: "Jauhlah
    (dari rahmat Allah) orang yang mendapat kedua orang
    tuanya atau salah satunya telah berusia lanjut, tetapi
    dia tidak masuk surga." Diriwayatkan oleh Thabrani
    dengan perawi-perawi tepercaya, sebagaimana diterangkan
    dalam Majma'uz-Zawaid, 1: 166. Dan ia mempunyai sejumlah
    syahid.
 
 60 HR Thabrani dalam ash-Shaghir. Di dalam sanadnya
    terdapat al-Hasan bin Abi Ja'far yang lemah tetapi bukan
    pendusta, dan terdapat Laits bin Abi Sulaim, seorang
    perawi mudallis (suka menyamarkan hadits).
    (Majma'uz-Zawaid, karya al-Haitsami, juz 8, hlm. 137).
 
 61 HR Muslim dalam "Kitab al-Birr wash-Shilah" dari
    hadits Jabir. Shahih Muslim, hadits nomor 2578.
 
 62 HR Abu Syaikh dalam ats-Tsawab dari Abu Umamah.
    Dihasankan (oleh al-Albani) dalam Shahih
    Jami'ush-Shaghir.

 63 HR Ahmad dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas, dan Ibnu
    Majah meriwayatkannya pula dari Ubadah. Sahih dengan
    semua jalannya. Lihat, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah,
    karya al-Albani, nomor 250. Dan lihat pula al-Asybah
    wan-Nazhair karya Ibnu Najim, Kaidah Kelima "adh-Dhararu
    Yuzalu" dan cabang-cabangnya, hlm. 8542, terbitan
    al-Halabi.
 
 64 Muttafaq 'alaih dari hadits Anas. Al-Lu'lu'
    wal-Marjan. nomor 1001.
 
 65 Lihat, al-Hidayah ma'a Takmilati Fat-hil Qadir, 8:
    164; al-Majmu', 5: 106; al-Mabdi', 2: 213-214; dan
    al-Inshaf, 2: 463.
 
 66 Muttafaq 'alaih dari hadits Ibnu Umar. Al-Lu'lu'
    wal-Marjan fii Maa ittafaqa 'alaihi asy-Syaikhaani,
    hadits nomor 1052.
 
 67 Al-Majmu karya Imam Nawawi, juz 5, hlm. 118-119.
 
 68 HR Thabrani dalam al-Ausath. Dalam sanadnya terdapat
    perawi bernama Abu Malik an-Nakha'i, sedangkan dia itu
    lemah. (Majma'uz-Zawaid, karya al-Haitsami, juz 10, hlm.
    113).
 
 69 HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim. Shahih
    al-Jami'ush-Shaghir, hadits nomor 305.
 
 70 Shahih al-Jami'ush-Shaghir, hadits nomor 306.
 
 71 Periksa hadits ini dan dua hadits sebelumnya dalam
    Shahih al-Bukhari dan Fathul-Bari: "Kitab al-Mardha."
    "Bab Maa Rakhkhisha lil Maridh an Yaquula: 'Inni
    waja'un, au waara'saahu, au isytadda bii al-waja'u'."
    Hadits nomor 5666, 5667, 5668.
 
 72 Al-Adabul-Mufrad, karya Imam Bukhari, hadits no.
    509.
 
 73 Fathul-Bari, juz 10., hlm. 124.
 
 74 Ibid.
 
 75 Muslim dalam "as-Salam," hadits no. 2202; Abu Daud
    no. 3891, dan Tirmidzi no 2081.
 
 76 Al-Allamah al-Qari dalam Mirqatul-Mafatih Syarah
    Misykatil-Mashabih, juz 2, hlm. 298.
 
 77 Al-Mubdi' fi Syarh al-Muqni, juz 2, hlm. 215.
 
 78 Fathul-Bari, juz 10, hlm 125 dan 126.
 
 79 Al-Adabul-Mufrad, karya al-Bukhari, hadits nomor
    509.
 
 80 Al-Bukhari, hadits nomor 5660.
 
 81 Lihat, Fathul-Bari, juz 10, hlm. 124.
 
 82 Ibid.
 
 83 Al-Bukhari dalam Fathul-Bari, hadits nomor 5671,
    "Bab Tamanni al-Maridh al-Mauta;" dan Muslim dalam
    "adz-Dzikir wad-Du'a," hadits nomor 2680.
 
 84 Al-Bukhari dalam Fathul-Bari, nomor 5673.
 
 85 HR Muslim dalam "adz-Dzikr wad-Du'a wat-Taubah,"
    hadits nomor 2662.
 
 86 Lihat, Syarh as-Sunnah, karya al-Baghawi, juz 5,
    hlm. 259. dan al-Majmu', karya an-Nawawi, juz 5, hlm.
    106-107.
 
 87 HR Tirmidzi dan beliau berkata, "Hasan sahih."
    Hadits nomor 3235. Diriwayatkan juga dalam Musnad Ahmad
    dan disahkan oleh Hakim, sebagaimana juga diriwayatkan
    oleh Tirmidzi dari hadits Ibnu Abbas, nomor 3233, dan
    Imam Ahmad yang disahkan oleh Syakir, hadits nomor 3484.
 
 88 Al-Bukhari, hadits nomor 5674.
 
 89 Fathul-Bari, juz 10, hlm. 130.
 
 90 Muslim dalam "Kitab al-Jannah wa Shifatu Na'imiha,"
    nomor 2877.
 
 91 Bukhari dalam "at-Tauhid" dan Muslim dalam
    "adz-Dzikr," nomor 2675.
 
 92 Syarah as-Sunnah, karya al-Baghawi, juz 5, hlm. 275.
 
 93 Al-Majmu', karya an-Nawawi, juz 5, hlm. 108-109.
 
 94 Lihat, al-Mughni maa asy-Syarhil-Kabir, juz 2, hlm.
    304; dan al-Mubdi', karya Ibnu Muflih, juz 2, hlm. 216.
 
 95 Muslim dalam "al-Jana'iz," hadits nomor 916; Abu
    Daud, hadits nomor 3117; Nasa'i, juz 4, hlm. 5; dan Ibnu
    Majah, nomor 1445.
 
 96 Dikemukakan oleh al-Qari dalam Syarah al-Misykat 2:
    329. Imam Syaukani mengutip perkataan Imam Nawawi
    mengenai sunnahnya menalkin, kemudian beliau berkata,
    "Perlu diperhatikan, alasan apa yang memalingkan
    perintah ini dari hukum wajib7" Nailul-Authar, juz 4,
    hlm. 50.
 
 97 Abu Daud (3117); dan Hakhim (1: 351), beliau
    berkata, "Sahih isnadnya." Dan disetujui oleh
    adz-Dzahabi.
 
 98 Lihat, al-Mughni ma'a asy-Syarhil-Kabir, juz 2, hlm.
    304; al-Mubdi', karya Ibnu Muflih, juz 2, hlm. 216; dan
    al-Majmu', juz 5, hlm. 114-115.
 
 99 HR Ahmad, juz 5, hlm. 26; Abu Daud (nomor 312); Ibnu
    Majah (nomor 1448); Ibnu Hibban (nomor 720); dan Hakim,
    juz 1, hlm. 565, dari Ma'qil bin Yasar. Hadits ini
    dinilai cacat oleh Ibnul Qaththan dan dilemahkan oleh
    Daruquthni, sebagaimana diterangkan dalam
    Talkhishul-Habir karya al-Hafizh Ibnu Hajar, juz 2, hlm.
    104.
 
100 HR Hakim dan disahkannya. Pengesahan Hakim ini
    disetujui oleh adz-Dzahabi (1: 353-354), sedangkan
    al-Hafizh tidak berkomentar dalam at-Talkhish.
 
101 Sebagian ulama berdalil dengan hadits Ubaid bin
    Umair dari ayahnya dari Abu Daud dan Nasa'i mengenai
    al-Baitul-Haram bahwa Rasulullah saw. bersabda:
    "Al-Bairul-Haram itu kiblatmu pada waktu hidup dan pada
    waktu mati." Tetapi Imam Syaukani mengomentari bahwa
    yang dimaksud dengan kepada waktu hidup" ialah ketika
    shalat, dan "pada waktu mati" ialah dalam lahad,
    sedangkan orang yang hampir mati di sini tidak sedang
    melakukan shalat, karena itu ia tidak tercakup oleh
    hadits ini. Maka yang lebih sesuai ialah berdalil dengan
    hadits Abi Qatadah di atas. (Nailul-Authar, juz 4, hlm.
    50).
 
102 Al-Majmu', juz 5, hlm. 116- 117.
 
103 Muttafaq 'alaih dalam Al-Lu'lu' wal-Marjan, hadits
    nomor 1734.
 
104 Lihat, Nailul-Authar, juz 4, hlm. 50-51, terbitan
    Darul Jail, Beirut.
 
105 HR Muslim dalam "al-Jana'iz," hadits nomor 920.
 
106 Ibid., nomor 942.
 
107 Fathul-Aziz fi Syarhil-Wajiz, karya ar-Rafi'i yang
    diterbitkan bersama dengan al-Majmu' (Imam Nawawi), juz
    5, hlm. 112-114.


Sumber: http://media.isnet.org

Beri Nilai Artikel Ini:

Istilah Percarian:
kewajiban keluarga yg ditimpa sakit

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: