Puasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah

PUASA DAN BERHARI RAYA BERSAMA PEMERINTAH

 

 

Pendapat yang kuat menurut keyakinan kami adalah pendapat yang menyatakan bahwa apabila telah tetap ru’yah di suatu negeri maka hukumnya berlaku bagi negeri tersebut dan negeri yang semisalnya dalam mathla’ hilal, sebab— menurut kesepakatan ahli ilmu falak—mathla’ hilal itu berbeda-beda. Pendapat ini sangat kuat dan didukung oleh nash dan qiyas.

Hal ini juga akan membawa kemaslahatan persatuan kaum muslimin.

Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syaukani tatkala mengatakan: “Persatuan hati dan persatuan barisan kaum muslimin serta membendung segala celah perpecahan merupakan tujuan syari’at yang sangat agung dan pokok di antara pokok-pokok besar agama Islam. Hal ini diketahui oleh setiap orang yang mempelajari petunjuk Nabi صلي الله عليه وسلم yang mulia dan dalil-dalil al-Qur’an dan sunnah.”1

Syaikh Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di رحمه الله berkata: “Sesungguhnya kaidah agama yang paling penting dan syari’at para Rasul yang paling mulia adalah memberikan nasihat kepada seluruh umat dan berupaya untuk persatuan kalimat kaum muslimin dan kecintaan sesama mereka, serta berupaya menghilangkan permusuhan, pertikaian dan perpecahan di antara mereka. Kaidah ini merupakan kebaikan yang sangat diperintahkan dan melalaikannya merupakan kemungkaran yang sangat dilarang. Kaidah ini juga merupakan kewajiban bagi setiap umat, baik ulama, pemimpin maupun masyarakat biasa.

Kaidah ini harus dijaga, diketahui ilmunya, dan diamalkan karena mengandung kebaikan dunia dan akhirat yang tiada terhingga.”2

Masalah ini adalah masalah yang diperselisihkan ulama sejak dahulu hingga sekarang, hanya saja ada beberapa poin yang ingin kami tekankan di sini:

·         Masalah ini bukan masalah pribadi, melainkan berkaitan dengan jama’ah dan syi’ar. Oleh karenanya, masalah ini dikembalikan kepada pemerintah dan jama’ah, dan hendaknya pribadi (tiap orang) mengikuti jama’ah.

·         Hendaknya bagi semuanya untuk bertakwa kepada Alloh dalam ibadah mereka dan ibadah manusia, dan hendaknya pedoman mereka dalam memilih pendapat adalah karena dalil, bukan karena fanatik golongan, negara, atau madzhab.

·         Hendaknya semuanya memahami bahwa masalah ini adalah masalah perselisihan ulama yang mu’tabar, maka janganlah perselisihan ini menyebabkan permusuhan dan perpecahan dan hendaknya semuanya memahami bahwa persatuan kalimat dan barisan adalah pokok penting dalam agama Islam.

·         Anggaplah seandainya suatu negara memilih pendapat yang lemah dalam masalah ini, maka hendaknya bagi kaum muslimin untuk tidak menampakkan perbedaan pendapat apabila hal itu akan menyulut perselisihan dan janganlah kaum muslimin mencela pemerintah dalam pilihan mereka.

Sungguh sangat disayangkan, bila ibadah yang mulia ini dijadikan alat untuk fanatik golongan, fanatik negara, atau membela pendapat, sehingga masing-masing berusaha agar pendapatnya didengar oleh masyarakat dengan embel-embel agama, tanpa menjaga kaidah maslahat dan mengamalkan dalil terkuat!!!

Kita memohon kepada Alloh agar memberi kita ilmu pengetahuan dalam agama dan mengikuti Nabi صلي الله عليه وسلم secara sempurna serta kesungguhan dalam persatuan kaum muslimin di atas petunjuk yang lurus.3

___________________

1. Al-Fathur Rabbani 6/2847-2848

2. Risalah fil Hatstsi ‘ala Ijtima’ Kalimatil Muslimin wa DzammitnTafarruq wal Ikhtilaf hlm. 21

3.  Lihat Hakadza Kana Nabi fi Ramadhan hlm. 19-21 Faishal bin Ali al-Ba’dani

 

Previous

Next

Leave a Reply

%d bloggers like this: