POINT 3. TUJUH HURUF AL-QUR’AN

POINT 3.
TUJUH HURUF AL-QUR’AN
“Rasulullah berkata : Jibril membacakan (Qur’an) kepadaku dengan satu huruf. Kemudian berulang kali aku mendesak dan meminta agar huruf itu ditambah dan ia pun menambahnya kepadaku dengan tujuh huruf.”
(HR. Bukhari & Muslim)
POINT 3. TUJUH HURUF AL-QUR’AN

 

A.  Al-Qur’an Diturunkan dengan Tujuh Huruf

Hadits yang mengatakan bahwa Qur’an itu turun dengan tujuh huruf adalah banyak sekali & sebagian besar telah diselidiki oleh Ibnu Jarir didalam pengantar tafsirnya. Imam As-Suyuthi dalam Al-Itqan jilid I hal 41 menyebutkan bahwa hadits-hadits tersebut diriwayatkan dari dua puluh orang shahabat. Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam menetapkan kemutawwatiran hadits mengenai masalah ini.[1]

Berikut ini adalah hadits yang menggambarkan bahwa Al-Qur’an turun dengan tujuh huruf :

1.       Dari Ibnu Abbas, ia berkata :

“Rasulullah berkata : Jibril membacakan (Qur’an) kepadaku dengan satu huruf. Kemudian berulang kali aku mendesak & meminta agar huruf itu ditambah, dan ia pun menambahnya kepadaku sampai dengan tujuh huruf.” (HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain)

2.       Dari Ubai bin Ka’ab :

“Ketika Nabi berada didekat parit Bani Gafar, ia didatangi Jibril seraya mengatakan : Allah memerintahkanmu agar membacakan Qur’an kepada umatmu dengan satu huruf. Ia menjawab : Aku memohon kepada Allah ampunan & magfirah-Nya karena umatku tidak dapat melaksanakan perintah itu. Kemudian Jibril datang lagi untuk yang kedua kalinya dan berkata : Allah memerintahkanmu agar membacakan Qur’an kepada umatmu dengan dua huruf. Aku memohon kepada Allah ampunan & magfirah-Nya karena umatku tidak dapat melaksanakan perintah itu. Kemudian Jibril datang lagi untuk yang ketiga kalinya dan berkata : Allah memerintahkanmu agar membacakan Qur’an kepada umatmu dengan tiga huruf. Aku memohon kepada Allah ampunan & magfirah-Nya karena umatku tidak dapat melaksanakan perintah itu. Kemudian Jibril datang lagi untuk yang keempat kalinya dan berkata : Allah memerintahkanmu agar membacakan Qur’an kepada umatmu dengan tujuh huruf, dengan huruf mana saja mereka baca, mereka tetap benar.” (HR. Muslim)

3.       Dari Umar bin Khatab, ia berkata :

“Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surah Al-Furqan dimasa hidup Rasulullah. Aku perhatikan bacaannya. Tiba-tiba ia membacanya dengan huruf yang belum pernah dibacakan Rasulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku melabraknya disaat ia shalat, tetapi aku berusaha sabar menunggunya sampai salam. Begitu salam aku tarik selendangnya dan bertanya : Siapakah yang membacakan surah itu kepadamu ? Ia menjawab : Rasulullah yang membacakan kepadaku. Lalu aku katakan kepadanya : Dusta kau ! Demi Allah, Rasulullah telah membacakan juga kepadaku surah yang aku dengar tadi engkau membacanya (tapi tidak seperti bacaanmu). Kemudian aku bawa ia menghadap Rasulullah dan aku ceritakan kepadanya bahwa aku telah mendengar orang ini membaca surah Al-Furqan dengan huruf-huruf yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku padahal engkau sendiri telah membacakan surah Al-Furqan kepadaku. Maka Rasulullah berkata : Lepaskan dia wahai Umar. Bacalah surah tadi wahai Hisyam ! Hisyam pun kemudian membacanya dengan bacaan seperti yang kudengar tadi. Maka kata Rasulullah : Begitulah surah itu diturunkan. Ia berkata lagi : Bacalah, wahai Umar ! Lalu aku membacanya dengan bacaan sebagaimana diajarkan Rasulullah kepadaku. Maka kata Rasulullah : Begitulah surah itu diturunkan. Dan katanya lagi : Sesungguhnya Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu diantaranya.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i, Tirmidzi, Ahmad & Ibnu Jarir)

 

B.   Seputar Pendapat yang Beredar

Menurut Imam As-Suyuthi[2], para ulama berselisih pendapat tentang pengertian ‘tujuh huruf’ tersebut. Perselisihan ini hingga mencapai 20 pendapat.[3] Ibnu Hayyan berkata, “Ahli ilmu berpendapat tentang arti kata tujuh huruf menjadi 35 macam pendapat”. Pendapat itu banyak yang timpang tindih & yang dianggap paling mendekati kebenaran ada 6 (enam) pendapat.[4] Enam pendapat itu adalah :

1.       Tujuh bahasa (dialek) dari bahasa Arab mengenai satu makna.

Dengan pengertian bahwasanya dialek orang-orang Arab dalam mengungkapkan suatu maksud itu berbeda-beda, sedangkan Al-Qur’an datang dengan menggunakan lafazd-lafzd menurut dialek tersebut. Dan jika tidak terdapat perbedaan, maka Qur’an hanya mendatangkan satu lafadz atau lebih saja. Bahasa ini adalah Quraisy, Hudzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim & Yaman. Ada juga yang mengatakan Quraisy, Hudzail, Azad, Hawazin, Rabi’ah, Tamim & Sa’ad bin Bakar.[5] Pendapat pertama ini dipilih oleh Sufyan bin ‘Uyainah, Ibn Jarir At-Tabari, Ibn Wahb dan lainnya.[6]

2.       Tujuh macam bahasa (dialek) dari bahasa Arab dengan mana Qur’an diturunkan.

Dengan pengertian bahwa kata-kata dalam Qur’an secara keseluruhan tidak keluar dari ketujuh macam bahasa tadi, yaitu bahasa yang paling fasih dikalangan bangsa Arab & bahasa Quraisy yang dominan. Bahasa yang lain adalah Hudzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim atau Yaman. Sebagian ulama mengatakan bahwa pendapat ini adalah pendapat yang paling benar yang didukung oleh Al-Baihaqi & Al-Bukhari serta pengarang kitab kamus pun memilih pendapat ini.[7]

3.       Tujuh wajah

Yaitu amr, nahyu, wad, wa’id, jadal, qasas & masal atau disebut amr, nahyu, halal, haram, muhkam, mutasyabih & amsal. Dalilnya adalah :

“Dari Ibnu Mas’ud, Nabi berkata : Kitab umat terdahulu diturunkan dari satu pintu & dengan satu huruf. Sedang Qur’an diturunkan melalui tujuh pintu dengan tujuh huruf, yaitu zajr (larangan), amr, halal, haram, muhkam, mutasyabih & amsal.” (HR. Hakim & Baihaqi dari Ibnu Mas’ud)

4.       Tujuh hal yang didalamnya terjadi ikhtilaf (perbedaan)

Ulama menyebutkan tujuh ikhtilaf itu adalah (1) Iktilaful asma (perbedaan kata benda), dalam bentuk mufrad, muzakkar & cabang-cabangnya seperti tasniyah, jamak dan ta’nis, (2) Perbedaan dalam segi i’rab, (3) Perbedaan dalam tasrif, (4) Perbedaan dalam taqdim & ta’khir yang terjadi baik pada huruf maupun pada kata, (5) Perbedaan dalam segi ibdal (penggatian) yang terjadi baik huruf dengan huruf, lafadz dengan lafadz ataupun penggantian yang terjadi pada sedikit perbedaan makhraj, (6) Perbedaan karena adanya penambahan & pengurangan, (7) Perbedaan lahjah, seperti bacaan tafkhim & tarqiq, fatah & imalah, izhar & idgam, hamzah & tashil, isymam dan lainnya

5.       Tujuh huruf tidak diartikan secara harfiah tapi diartikan sebagai kesempurnaan

Kata tujuh adalah isyarat bahwa bahasa & susunan Qur’an merupakan batas dan sumber utama bagi perkataan semua orang Arab yang telah mencapai puncak kesempurnaan tertinggi.

6.       Merupakan Qira’at yang tujuh

 

C.   Pembahasan

1.       Pendapat pertama dikuatkan dengan hadits yang menjelaskan bahwa tujuh huruf adalah perbedaan lafadz untuk satu makna yang sama, yakni :

“Jibril mengatakan : Wahai Muhammad, bacalah Qur’an dengan satu huruf. Lalu Mika’il mengatakan : Tambahlah. Jibril berkata lagi : Dengan dua huruf ! Jibril terus menambahnya hingga sampai dengan enam huruf atau tujuh huruf. Lalu ia berkata : Semua itu obat penawar yang memadai, selama ayat azab tidak ditutup dengan ayat rahmat & ayat rahmat tidak ditutupi dengan ayat azab. Seperti kata halumma, ta’ala, izhab, asra & ‘ajal.” (HR. Ahmad & Tabarani dari Abu Bakrah dengan isnad jayyid)

Ibnu ‘Abdil Barr berkata,“Maksud hadits ini hanyalah sebagai contoh bagi huruf-huruf yang dengannya Qur’an diturunkan. Ketujuh huruf itu mempunyai makna yang sama pengertiannya tetapi berbeda bunyi pengucapannya.” [8]

Kemudian hadits :

“Abu Juhaim Al-Ansari mendapat berita bahwa dua orang lelaki berselisih tentang suatu ayat Qur’an. Yang satu mengatakan, ayat itu diterima dari Rasululllah dan yang lain pun mengatakan demikian. Maka kata Rasulullah : Sesungguhnya Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka jangan kamu saling berdebat tentang Qur’an karena perdebatan mengenainya merupakan suatu kekafiran. Sesungguhnya Allah telah menyuruh aku agar membaca Qur’an atas tujuh huruf.” (HR. Ahmad dan Thabari dari Busr bin Sa’id dengan para perawi hadits shahih)

Ibnu Jarir At-Tabari mengatakan, “Tujuh huruf yang dengannya qur’an diturunkan adalah tujuh dialek bahasa dalam satu huruf & satu kata karena perbedaan lafadz tetapi sama maknanya”. At-Tabari melanjutkan bahwa saat ini tidak kita jumpai dalam Al-Qur’an satu huruf yang dibaca dengan tujuh bahasa yang berbeda-beda lafadznya tetapi sama maknanya. Karena umat Islam diberi kebebasan untuk memilih dalam bacaan & hafalannya salah satu dari ketujuh huruf itu sesuai dengan keinginannya sebagaimana diperintahkan. Dimasa Ustman ra bacaan itu ditetapkan dengan salah satu huruf saja, karena dikhawatirkan akan timbul fitnah. Hal ini diterima secara bulat oleh umat Islam dimasa itu.[9]

2.      Pendapat kedua tertolak karena Umar ra & Hisyam bin Hakim adalah sama-sama orang Quraisy yang mempunyai bahasa yang sama & kabilah yang sama, tetapi qira’at (bacaan) keduanya berbeda & mustahil Umar ra mengingkari bahasa Hisyam ra (namun itu justru terjadi). Semua itu menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan tujuh huruf adalah perbedaan lafadz mengenai makna yang sama.

3.      Pendapat ketiga tertolak karena sesuatu yang satu tidak mungkin dinyatakan halal & haram didalam satu ayat & keleluasaan pun tidak dapat direfleksikan dengan pengharaman yang halal atau sebaliknya. Kita tahu jika perselisihan & sikap saling meragukan antar shahabat adalah menyangkut yang halal, haram, janji, ancaman dll yang ditunjukkan oleh bacaan mereka, maka mustahil Rasul SAW akan membenarkan semuanya & memerintahkan setiap orang untuk tetap pada bacaannnya.

4.      Pendapat keempat ini telah populer & diterima banyak ulama seperti Ar-Razi yang didukung oleh Syaikh Muhammad Bakhit Al-Muti’i & Syaikh Muhammad ‘Abdul ‘Azim Az-Zarqani dari kalangan muta’akhirin. Namun pendapat ini tertolak karena hanya mengemukakan perubahan atau perbedaan yang hanya (sebagian besar) terdapat dalam qira’at-qira’at ahad (tidak mutawwatir). Padahal segala sesuatu yang berupa Al-Qur’an haruslah mutawwatir.

At-Tabari di dalam tafsirnya jilid 1 hal 65 mengatakan, “Adapun perbedaan bacaan seperti me-rafa’-kan sesuatu huruf, men-jar-kan, me-nasab-kan, men-sukun-kan, meng-harakat-kan & memindahkannya ketempat lain dalam bentuk yang sama, semua itu tidak termasuk dalam pengertian ucapan Nabi : ‘Aku diperintahkan untuk membaca Qur’an dengan tujuh huruf.’ Sebab sebagaimana diketahui, tidak ada satu huruf pun dari Qur’an yang perbedaan bacaannya, menurut pengertian ini yang menyebabkan seorang dipandang telah kafir karena meragukannya, berdasarkan pendapat salah seorang ulama – padahal Nabi mensinyalir keraguan tentang huruf itu sebagai suatu kekafiran- itu termasuk salah satu segi yang dipertentangkan oleh mereka yang berselisih seperti yang dijelaskan dalam banyak riwayat.” [10]

5.      Pendapat kelima ditolak karena nash-nash hadits menunjukkan hakikat bilangan itu dengan tegas. Sehingga jelas sekali ia menunjukkan hakikat bilangan tertentu yang terbatas pada angka tujuh.

6.      Pendapat keenam ditolak karena Qur’an bukanlah qira’at tetapi wahyu Allah SWT.

Didalam Al-Itqan jilid 1 hal 80 dituliskan Abu Syamah berkata,“Suatu kaum mengira bahwa qira’at tujuh yang ada sekarang ini, itulah yang dimaksud dengan tujuh huruf dalam hadits. Asumsi ini sangat bertentangan dengan kesepakatan ahli ilmu & yang beranggapan seperti itu hanyalah sebagian orang-orang bodoh saja.” [11]

Ibn ‘Imar berkata,“Orang yang menginterpretasikan qira’at tujuh dengan kata sab’ah dalam hadits ini telah melakukan apa yang tidak sepantasnya dilakukan & membuat kesulitan bagi orang awam dengan mengesankan kepada setiap orang yang berwawasan sempit bahwa qira’at-qira’at itulah yang dimaksud oleh hadits. Alangkah baiknya adaikata qira’at yang masyhur itu kurang dari tujuh atau lebih, tentu kekaburan & kesalahan ini tidak perlu terjadi.” [12]

Maka jelaslah bagi kita pendapat pertama lebih sesuai dengan zahir nash-nash & didukung oleh bukti-bukti yang shahih.

 

D.  Hikmah Tujuh Huruf Qur’an

Hikmah diturunkannya Al-Qur’an dengan tujuh huruf adalah :

1.       Memudahkan bacaan & hafalan bagi bangsa yang ummi, yang setiap kabilahnya mempunyai dialek masing-masing. Dari sebuah hadits disebutkan :

“Rasulullah bertemu dengan Jibril di Ahjarul Mira’, sebuah tempat di Kuba, lalu berkata : Aku diutus kepada umat yang ummi. Diantara mereka ada anak-anak, pembantu, kakek-kakek tua & nenek-nenek jompo. Maka kata Jibril : Hendaklah mereka membaca Qur’an dengan tujuh huruf.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi & Tabari dengan isnad yang shahih dari Ubay)

2.       Bukti kemukjizatan Qur’an bagi naluri atau watak dasar kebahasaan orang Arab.

3.       Kemukjizatan Qur’an dalam aspek makna & hukum-hukumnya. Sebab perubahan-perubahan bentuk lafadz pada sebagian huruf & kata-kata memberikan peluang luas untuk dapat disimpulkan dari padanya berbagai hukum.

 

E.   Keberadaan Tujuh Huruf dalam Mushaf Usmani

Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah tujuh huruf Al-Qur’an itu masih terdapat dalam Mushaf Usmani. Muhammad Ali Ash-Shabuny [13] mengetengahkan tiga pendapat :

1.       Sebagian ulama fiqh, qurra’ & mutakallimin berpendapat bahwa semua huruf tersebut terdapat pada Mushaf Usmani.

2.       Jumhur ulama dari kalangan salaf, khalaf & imam-imam muslimin berpendapat bahwa Mushaf Usmani mencakup huruf-huruf yang tujuh yang terkandung dalam bentuk tulisan saja.

3.       Ibnu Jarir Ath-Thabari & yang sealiran serta sependapat mengatakan bahwa Mushaf Usmani itu hanya melambangkan satu bentuk huruf dari ketujuh huruf tersebut.

 

Pembahasan

M. Ali Ash-Shabuny memegang pendapat kedua dengan mengutip pendapat Az-Zarqany dalam Manahilul Irfan hal 662 yang berkata,“Bila kita kembalikan tujuh wajah ini kepada Mushaf Usmani & bacaan yang ditulisnya menurut apa adanya, kami akan menarik kesimpulan yang tidak bisa dibantah & akan sampai pada pemisah pada bab ini yaitu bahwasanya Mushaf Usmani adalah mencangkup semua wajah yang tujuh, tetapi dengan arti masing-masing dari mushaf mengandung huruf yang sesuai dengan khat Usman baik secara menyeluruh maupun sebagiannya. Dimana mushaf itu secara langsung keseluruhannnya tidak kurang dari satu huruf pun.” [14]

M. Husain Abdullah berkata, “Perbedaan itu (tujuh huruf) disebabkan oleh perbedaan lahjat (dialek) pada masing-masing suku di Arab, serta perbedaan mereka dalam gaya bertutur. Kodifikasi Al-Qur’an, yakni Khat Al-Qur’an, telah mengakomodir setiap lahjat ini. Penulisan (Qur’an) semacam ini telah mencakup qira’at al-imalah atau qira’at fatah. Tujuh huruf ini hadir dengan lahjat yang beragam & juga hadir dalam bentuk rasm yang berbeda-beda”. [15]

As-Suyuthi[16] didalam Al-Itqan mengutip perkataan Ibnu Tin yang mengatakan,“… Karena khawatir akan timbul bencana, Usman segera memerintahkan menyalin lembaran-lembaran itu (lembaran Abu Bakar ra) ke dalam mushaf dengan menertibkan surah-surahnya & membatasinya hanya pada bahasa mereka (Quraisy) sekalipun pada mulanya memang diizinkan membacanya dengan bahasa selain Quraisy guna menghindari kesulitan.” Ibnu Tin melanjutkan perkataannya :Al-Haris Al-Muhasibi mengatakan : “… Usman hanyalah berusaha menyatukan umat pada satu macam (wajah) qira’at. Sebelum itu mushaf-mushaf tersebut dibaca dengan berbagai macam qira’at yang didasarkan pada tujuh huruf dengan mana Qur’an diturunkan.” [17]

Manna’ Al-Qattan mengambil pendapat ketiga dengan mengatakan,“… Sedangkan pengumpulan yang dilakukan Usman adalah menyalinnya dalam satu huruf diantara ketujuh huruf itu, untuk mempersatukan kaum muslimin dalam satu mushaf & satu huruf yang mereka baca tanpa keenam huruf lainnya.” [18] Manna melanjutkan, katanya : “Para pendukung pendapat keempat [19] memandang bahwa Mushaf Usmani mencakup tujuh huruf tersebut seluruhnya, dengan pengertian bahwa mushaf itu mengandung huruf-huruf yang dimungkinkan oleh bentuk tulisannya. Andai huruf-huruf itu masih terdapat dalam mushaf Usmani, tentulah mushaf itu tidak dapat meredam pertikaian dalam hal perbedaan bacaan. Usman berpendapat bahwa membaca Qur’an dengan ketujuh huruf itu hanyalah untuk menghilangkan kesempitan & kesusahan di masa-masa awal & kebutuhan akan hal itu pun sudah berakhir”.[20]

˜™




[1] Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an hal 229.

[2] Apa Itu Al-Qur’an hal 79.

[3]Dicatatan kaki Kitab Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an hal 229 dikatakan As-Suyuthi menyebutkan hingga 40 pendapat.

[4] Lihat Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’anhal 229-234 bandingkan dengan Pengantar Studi Al-Qur’an hal 305-310.

[5] Muhammad Husain Abdullah dalam Studi Dasar-dasar Pemikiran Islamhal 44. bahkan menyebutkan tujuh huruf itu berasal dari 8 (delapan) dialek kabilah dengan menambahkan kabilah Qabas.

[6] Ash-Shabunidalam Pengantar Studi Al-Qur’anhal 306menambahkan nama Ath-Thahawy. Muhammad Husain Abdullahmengambil pendapat ini dengan mengatakan bahwa perbedaan tujuh huruf disebabkan oleh perbedaan lahjat (dialek) pada masing-masing suku yang ada di Arab serta perbedaan mereka dalam gaya bertutur. (Studi Dasar-dasar Pemikiran Islamhal 44).

[7] Pengantar Studi Al-Qur’anhal 306

[8] Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an hal 235.

[9] Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an hal 238.

[10] Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an hal 242-243.

[11] Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an hal 242.

[12] Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an hal 243.

[13] Pengantar Studi Al-Qur’an hal 310.

[14] Pengantar Studi Al-Qur’anhal 310.

[15] Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam hal 44.

[16] Imam As-Suyuthi mengatakandalam Tarikh Khulafa’hal 192 bahwa Utsman adalah orang yang pertama kali menyatukan Al-Qur’an dalam satu bacaan.

[17] Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an hal 198-199.

[18] Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an hal 198.

[19] Yakni yang berpendapat bahwa tujuh huruf adalah tujuh macam hal yang didalamnya terjadi perbedaan.

[20] Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an hal 240-241.

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: