Percaya kepada Qadar Allah

Qadar: yaitu ilmu Allah SWT
terhadap segala sesuatu, dan tentang apa saja yang dikehendakiNya ada atau dikehendaki terjadi dari setiap makhluk, alam semesta, segala sesuatu, dan Allah SWT
mentaqdirkan hal itu, serta menulisnya di Lauhul Mahfudz. Al-Qadar adalah rahasia Allah SWT
terhadap makhluk-Nya, yang tidak diketahui oleh malaikat yang dekat dan tidak pula nabi yang diutus.

Iman kepada qadar:

Yaitu meyakini dengan keyakinan yang pasti bahwa segala kebaikan, keburukan segala sesuatu yang terjadi, adalah dengan qadha dan qadar Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:


49. Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. QS. Al-Qamar: 49

Beriman kepada qadar mencakup Empat perkara:

1. Pertama: percaya bahwa Allah SWT
mengetahui segala sesuatu secara umum dan terperinci. Baik yang berhubungan dengan perbuatan-Nya, seperti menciptakan, mengatur, menghidupkan, mematikan, dan semisal dengan yang demikian itu. Atau mengetahui perkara yang berhubungan dengan perbuatan makhluk, seperti semua ucapan, perbuatan dan keadaan manusia dan keadaan seluruh hewan, tumbuhan dan benda-benda padat serta segala sesuatu. Allah SWT
mengetahuinya, seperti firman Allah SWT:

ٰ

12. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”.(QS. Ath-Thalaq: 12

2. Kedua: percaya bahwa Allah SWT
telah menulis taqdir (ketentuan) segala sesuatu di Lauhul Mahfuzh, yaitu ketentuan segala makhluk, keadaan, rizqi. Allah SWT
menulis jumlahnya, tata caranya, waktunya dan tempatnya. Maka ketentuan itu tidak berubah dan tidak berganti. Tidak bertambah dan tidak berkurang, kecuali dengan perintah-Nya.

a. Firman Allah SWT:


70. “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. QS. Al-Hajj: 70

b. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Amr berkata: aku mendengar Rasulullah SAW
bersabda:


“Allah SWT
telah menetapkan ketentuan-ketentuan makhluk limapuluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” Rasulullah bersabda: Dan arsy-Nya berada di atas air.”

3. Ketiga: Percaya bahwa semua makhluk tidak ada kecuali dengan kehendak dan keinginan Allah SWT. Maka semua itu terjadi dengan kehendak Allah SWT, apapun yang dikehendaki oleh Allah SWT
pasti terjadi, dan yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi., baik yang berhubungan dengan perbuatan-Nya , seperti menciptakan, mengatur, menghidupkan, mematikan dan semisal yang demikian itu, atau yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan makhluk berupa tingakh lakunnya, ucapan, dan keadaannya.

a. Firman Allah SWT:


68. Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihnya. QS. Al-Qashash: 68

b. Firman Allah SWT:


27. “..dan memperbuat apa yang dia kehendaki”.(QS. Ibrahim: 27

c. Firman Allah SWT:


112. “Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. QS. Al-An’aam: 112

d. Firman Allah SWT:


28. “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. 29. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. QS. At-Takwiir: 28-29

4. Keempat: percaya bahwa Allah SWT
menciptakan segala sesuatu, menciptakan semua alam dengan zat, sifat, dan geraknya. Tidak ada pencipta dan Rabb selain-Nya.

a. Firman Allah SWT:

ٰ

62. “Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu”. QS. Az-Zumar: 62

b. Firman Allah SWT:


49. “Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. QS. Al-Qamar: 49

c. Firman Allah SWT:


96. “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. QS. Ash-Shaaffat: 96

Berhujjah (beralasan) dengan qadar

Apa yang telah ditentukan oleh Allah SWT
bagi manusia terbagi menjdi dua:

Pertama: Sesuatu yang ditaqdirkan dan ditentukan oleh Allah SWT
berupa perbuatan dan keadaan yang keluar dari kehendak manusia: baik seperti tinggi dan pendeknya seseorang, baik dan buruknya (dalam penampilan lahiriyahnya), hidup dan matinya, atau apa saja yang terjadi atas dirinya di luar kehendaknya, seperti terjadinya musibah, penyakit, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan musibah-musibah lainnya yang terkadang sebagai hukuman terhadap hamba, dan terkadang sebagai cobaan baginya, dan terkadang pula untuk mengangkat derajatnya. Perbuatan-perbuatan ini atau yang terjadi atas dirinya tanpa kehendaknya, maka seseorang tidak akan ditanya dan dihisab atasnya. Ia harus beriman kepadanya bahwa semua itu terjadi dengan ketentuan dan taqdir Allah SWT. Ia harus sabar, ridha, dan berserah diri. Tidak ada satu peristiwa apapun yang terjadi di alam semesta melainkan ada hikmah yang telah ditentukan oleh Yang Maha Mengetahui padanya.

a. Firman Allah SWT:


’22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. QS. Al-Hadid: 22.

b. Dari Ibnu Abbas , ia berkata, ‘Aku berada di belakang Rasulullah SAW
pada suatu hari, maka Beliau SAW
bersabda:


“Wahai gulam, sesungguhnya aku mengajarkanmu beberapa kalimah: jagalah Allah SWT
niscaya Allah SWT
menjagamu. Jagalah Allah SWT
niscaya engkau mendapatkan-Nya di hadapanmu. Apabila engkau meminta maka memintalah kepada Allah SWT, dan apabila engkau memohon pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah SWT. Ketahuilah, sesungguhnya jika seluruh umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak bisa memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah SWT
untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk membahayakanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak bisa membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah SWT
bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering. HR. Ahmad dan at-Tirmidzi. (Shahih/ HR. Ahmad no 2669. dan at-Tirmidzi no. 2516. ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no 2043.)

c. Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah SAW
bersabda:


“Allah SWT
berfirman: Manusia menyakiti-Ku, ia mencela masa, padahal Akulah masa itu. Ditangan-Ku semua perkara, Aku membalikkan malam dan siang.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 4826. dan Muslim no. 2246.)

2. Kedua: Sesuatu yang ditentukan dan taqdirkan oleh Allah SWT
berupa segala perbuatan yang mampu dan bisa dilakukan oleh manusia, dengan bekal yang telah diberikan oleh Allah SWT
berupa akal, kemampuan dan kebebasan memilih, seperti memilih antara iman dan kafir, antara taat dan maksiat, juaga memilih antara perbuatan baik dan perbuatan buruk. Maka hal ini dan semisalnya manusia dihisab atasnya, dan dengan hisab itulah diadakannya pahala dan hukuman, karena Allah SWT
telah mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, mendorong kepada iman dan ketaatan dan memperingatkan dari perbuatan kafir dan maksiat. Allah SWT
telah membekali manusia dengan akal dan memberikannya kemampuan untuk memilih dengannya. Maka ia sebenarnya menempuh jalan yang dikehendaki menurut pilihannya. Namun, pilihan apapun yang diambilnya, ia termasuk dalam kehendak dan taqdir Allah SWT, karena tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam kerajaan Allah SWT
tanpa pengetahuan dan kehendak Allah SWT.

a. Firman Allah SWT:


29. Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir. QS. Al-Kahfi: 29

b. Firman Allah SWT:


46. Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya”. QS. Fushshilat: 46

c. Firman Allah SWT:


44. Barangsiapa yang kafir Maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barangsiapa yang beramal saleh Maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan). QS. Ar-Ruum: 44

d. Firman Allah SWT:


27. Al Qur’aan itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta Alam, 28. (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. 29. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. QS. At-Takwiir: 27-29)

Kapan boleh berhujjah dengan qadar:

1. Manusia boleh berhujjah dengan qadar pada musibah (yang menimpanya), seperti yang dijelaskan pada bagian pertama. Apabila seseorang sakit, atau meninggal dunia, atau mendapat musibah di luar kehendaknya, maka ia boleh berhujjah dengan taqdir Allah SWT, Hendaklah dia mengucapkan:


“Allah SWT
telah menentukannya dan apa yang dikehendakiNya mesti terjadi”. Maka dia harus bersabar dan ridha jika ia mampu, demi untuk mendapatkan pahala. Seperti firman Allah SWT:


155. “… Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”[101]. 157. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. QS. Al-Baqarah: 155-157

2. Manusia tidak boleh beralasan dengan taqdir atas kemaksiatan yang dilakukannya, sebab mengakibatkan seseorang meninggalkan kewajiban, atau melakukan apa yang diharamkan, karena Allah SWT
menyuruh berbuat taat dan meninggalkan maksiat, menyuruh bekerja dan melarang berpegang kepada taqdir. Jika taqdir boleh menjadi hujjah bagi seseorang, tentu Allah SWT
tidak menyiksa orang-orang yang mendustakan para rasul, seperti kaum nabi Nuh , kaum ‘Aad, kaum Tsamud, dan semisal mereka, dan tentu Allah SWT
tidak memerintahkan untuk menegakkan hukum kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran. Dan barangsiapa yang menganggap taqdir sebagai hujjah bagi pelaku maksiat, maka hal itu berarti akan menghapuskan kebolehan mencela dan menghukum manusia (yang berbuat buruk). Sehingga seseorang tidak boleh mencela dan menghukum orang yang melakukan aniaya terhadap dirinya, dan tidak pula boleh membedakan di antara orang yang melakukan perbuatan baik atau perbuatan jahat. Dan ini jelas merupakan pendapat yang batil. Sesuatu yang telah ditaqdirkan oleh Allah SWT
bagi para hamba, berupa kebaikan atau keburukan, tergantung pada sebab-sebabnya. Suatu kebaikan memiliki sebab-sebabnya yaitu keimanan dan ketaatan, dan bagi keburukan ada sebab-sebabnya, yaitu kufur dan maksiat. Dan manusia beramal menurut kehendak yang telah ditentukan Allah SWT
baginya, dan berhak memilih apa yang telah diberikan Allah SWT
untuknya. Dan seorang hamba tidak bisa mencapai ketentuan Allah SWT
yang telah ditaqdirkan baginya, baik berupa keberuntungan atau kecelakaan, kecuali setelah menjalani sebab-sebab yang telah dilakukannya dengan ikhtiar yang telah diberikan Allah SWT
kepadanya. Oleh karenanya, untuk memasuki surga ada sebab-sebabnya dan untuk memasuki neraka ada sebab-sebabnya.

1. Firman Allah SWT:


148. “Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” demikian pulalah orang-orang sebelum mereka Telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta”. QS. Al-An’aam:148

2. Firman Allah SWT:


132. “Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat”. QS. Ali ‘Imraan: 132

3. Dari Ali bin Abi Thalib , sesungguhnya Rasulullah SAW
bersabda: “Tidak ada satu jiwapun darimu kecuali telah diketahui tempatnya, surga atau neraka.’ Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita mesti beramal?”. Tidakkah kita berserah diri tanpa beramal?. Beliau menjawab: ‘Tidak, beramallah, sebab setiap orang dimudahkan untuk sesuatu yang ia diciptakan untuknya. Kemudian Rasulullah SAW
membaca:


5. “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, 6. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), 7. Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. 8. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, 9. Serta mendustakan pahala terbaik, 10. Maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”. QS. Al-Lail: 5-10

Disyari’atkan menolak taqdir dengan taqdir:

1. Menolak taqdir yang sungguh tersimpul sebab-sebabnya dan belum terjadi dengan sebab-sebab lain dari taqdir yang berlawanan, seperti menolak musuh dengan memeranginya, menolak panas dan dingin serta semisal yang demikian itu.

2. Menolak taqdir yang telah terjadi dengan sesuatu yang ditaqdirkan bisa mengangkat dan menghilangkannya, seperti menolak taqdir sakit dengan taqdir

berobat, menolak taqdir dosa dengan taqdir bertaubat, menolak taqdir berbuat jahat dengan taqdir berbuat baik dan seterusnya.

3. Perbuatan baik dan buruk yang muncul dari hamba tidak menafikan penyandarannya kepada Allah SWT
dalam menciptakan dan mengadakan. Allah SWT
menciptakan segala sesuatu, yaitu menciptakan manusia dan perbuatannya. Namun, adanya kehendak Allah SWT
(pada sesuatu) bukan sebagai bukti atas keridhaan-Nya.

Kekafiran, perbuatan maksiat, dan kerusakan terjadi dengan kehendak Allah SWT, akan tetapi Allah SWT
tidak menyukainya, tidak meridhainya, dan tidak pula memerintahkannya. Bahkan, Dia membenci dan melarangnya. Keadaan bahwa sesuatu hal dibenci dan tidak diredhai tidak mengeluarkannya dari kehendak Allah SWT
yang meliputi penciptaan semua makhluk. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah SWT
mengadung hikmah sesuai dengan apa yang diatur-Nya pada kerajaan dan ciptaan-Nya .

Manusia yang paling sempurna dan paling utama adalah manusia yang mencintai apa-apa yang dicintai oleh Allah SWT
dan Rasul-Nya , membenci apa saja yang dibenci Allah SWT
dan Rasul-Nya . Mereka tidak mempunyai rasa cinta dan benci kepada selainnya. Mereka menyuruh kepada apa yang diperintahkan oleh Allah SWT
dan Rasul-Nya dan tidak memerintahkan kepada selain itu, begitulah seterusnya. Setiap saat, hamba selalu membutuhkan perintah Allah SWT
yang mesti dijunjungnya dan larangan yang dijauhinya, serta taqdir yang diridhainya.

Ridha terhadap taqdir terbagi menjadi tiga:

1. Ridha dalam melaksanakan ketaatan. Hal ini diperintahkan.

2. Ridha dengan musibah yang menimpa. Perkara dianjurkan.

3. Kekafiran, kefasikan dan maksiat. Hal ini tidak diperintahkan untuk meridhainya. Bahkan diperintahkan membencinya, karena sesungguhnya Allah SWT
tidak menyukai dan tidak meridhainya. Sekalipun Allah SWT
telah menciptakannya dan tidak menyukainya, namun sesungguhnya hal itu membawa kepada sesuatu yang Dia cintai, sebagaimana Dia telah menciptakan syetan. Maka kita redha dengan apa yang telah diciptakan oleh Allah SWT.

Adapun terhadap perbuatan yang tercela dan orang yang melakukannya, maka kita tidak ridha dan tidak menyukainya.

Oleh karenanya, suatu perkara, disukai dari satu sisi dan dibenci dari sisi yang lain, seperti obat yang tidak disukai, dia zat yang dibenci, akan tetapi membawa kepada hal yang disukai. Dan jalan kepada Allah SWT
adalah dengan membuat Allah redha (kepada kita), dengan melaksanakan apa yang disukai dan diridhai, bukan ridha dengan segala yang terjadi dan terwujud. Kita tidak diperintahkan untuk meridhai setiap apa yang ditentukan dan ditaqdirkanNya. Akan tetapi kita diperintahkan untuk meridhai apa-apa yang diperintahkan oleh Allah SWT
dan rasul-Nya untuk meridhainya.

Ketentuan Allah SWT
yang baik dan buruk mempunyai dua sisi:

1. Salah satunya: Hubungan dan penisbatannya kepada Allah. Dari sisi ini seorang hamba mesti ridha dengannya, sebab semua qadha Allah SWT
adalah baik, adil, dan bijaksana.

2. Kedua: Hubungan dan penisbatannya kepada hamba. Dalam hal ini, ada yang diridhai, seperti keimanan dan ketaatan, dan di antaranya ada yang tidak diridhai seperti kekafiran dan kemaksiatan. Demikian pula Allah SWT
tidak meridhai, tidak menyukai, dan tidak pula memerintahkannya.

a. Firman Allah SWT:


68. Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). QS. Al-Qashash: 68

b. Firman Allah SWT:


7. Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu. QS. Al-Zumar: 7

c. Firman Allah SWT:


96. Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. QS. Ash-Shaaffat: 96

Perbuatan hamba adalah makhluk:

Allah SWT
menciptakan hamba dan menciptakan segala perbuatannya, Dia mengetahui hal itu, serta menulisnya sebelum terjadinya. Maka apabila hamba melakukan kebaikan atau keburukan, maka terbukalah bagi kita apa yang telah diketahui oleh Allah SWT, apa yang telah diciptakan dan ditulis-Nya. Pengetahuan Allah SWT
terhadapperbuatan hamba adalah pengetahuan yang bersiafat menyeluruh. Ilmu Allah SWT
meliputi segala sesuatu, tidak ada yang terlupakan dari-Nya seberat biji sawi di bumi dan tidak pula di langit.

1. Firman Allah SWT:


96. Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. QS. Ash-Shaaffat: 96

2. Firman Allah SWT:


59. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”. QS. Al-An’aam: 59

3. Firman Allah SWT:


61. Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). QS. Yunus: 61

4. Dari Abdullah bin Mas’ud , ia berkata, ‘Rasulullah SAW
menceritakan kepada kami, dan beliau adalah yang benar dan dibenarkan;


“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah seperti itu. Kemudian menjadi segumpal daging seperti itu. Kemudian diutus kepadanya malaikat, lalu meniupkan padanya ruh dan dia disuruh dengan empat kalimat: menulis rizqinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau beruntung. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan penghuni surga, sehingga tidak ada di antaranya dan di antara surga kecuali satu hasta, namun catatan taqdir mendahuluinya lalu ia berbuat dengan perbuatan penghuni neraka, sehingga ia memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian berbuat dengan perbuatan penghuni neraka, sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan neraka kecuali satu hasta, namun catatan taqdir mendahuluinya lalu dia beramal dengan amalan penghuni surga, sehingga dia memasukinya.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. al-Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643. ini adalah lafazhnya.)

Adil dan Ihsan:

Perbuatan Allah SWT
beredar antara adil dan ihsan. Mustahil Allah SWT
berbuat zalim kepada seseorang. Bisa jadi Allah SWT
memperlakukan hamba-Nya dengan adil, dan bisa jadi Dia memperlakukan mereka dengan ihsan. Terhadap orang yang jahat, Dia perlakukan dengan keadilanNya, sebagaimana dalam firman-Nya:


40. “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa”. QS. Asy-Syura: 40

Sementara itu, Dia
memperlakukan orang yang baik dengan karunia dan sifat ihsan, sebagaimana firman Allah SWT:


160. “Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya”. QS. Al-An’aam: 160

Perintah-perintah syar’iah dan kauniah:

Allah SWT
mempunyai dua macam perintah: Perintah yang bersifat kauniyah dan perintah yang bersifat syari’iyah.

Perintah-perintah kauniayh terbagi menjadi tiga:

1. Perintah untuk menciptakan dan mengadakan. Perintah ini berasal dari Allah SWT
kepada semua makhluk, sebagaimana firman Allah SWT:

ٰ

62. Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu. QS. Az-Zumar: 62

2. Perintah untuk tetap. Perintah ini berasal dari Allah SWT
kepada semua makhluk untuk berada dalam kondisi tetap.

Firman Allah SWT:


41. Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. QS. Fathir: 41

Firman Allah SWT:


25. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). QS. Ar-Ruum: 25

3. Perkara manfaat dan mudharat, gerak dan diam, hidup dan mati, …dst, adalah perintah berasal dari Allah SWT
kepada semua makhluk.

a. Firman Allah SWT:


188. Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. QS. Al-A’raaf: 188

b. Firman Allah SWT:


22. Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka Telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, Pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”. QS. Yunus: 22

c. Firman Allah SWT:


68. Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Maka apabila dia menetapkan sesuatu urusan, dia Hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, Maka jadilah ia. QS. Ghafir: 68

Adapun perintah-perintah syari’iyah Ilahiyah, hanya berasal dari Allah SWT
yang ditujukan kepada bangsa jin dan manusia, itulah (tuntunan) agama . Yaitu meliputi iman, ibadah, mu’amalah, pergaulan, dan akhlak. Setingkat tingginya keyakinan terhadap perintah-perintah Allah SWT
yang bersifat kauniyah, setingkat itu pula akan tertanam sisi hamba rasa rindu, senang, dan nikmat dalam melaksanakan perintah-perintah Allah SWT
yang bersifat syar’i. Orang paling beruntung dengan hal itu adalah orang yang paling besar ma’rifahnya kepada Rabb mereka. Mereka adalah para nabi, kemudian orang yang berjalan di atas petunjuk mereka. Dan dengan menjunjung perintah-perintah Allah SWT
yang bersifat syar’i, semoga Allah SWT
membukakan kepada kita berkah langit dan bumi di dunia dan memasukkan kita ke dalam surga di akhirat.

Perintah-perintah Allah SWT
terbagi dua:

Perintah-perintah syar’iah yang kadang terjadi, dan terkadang manusia menyalahinya dengan izin Allah SWT, di antaranya:


23. “Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. QS. Al-Isra`: 23.

Perintah-perintah kauniyah yang harus terjadi dan manusia tidak mungkin menghindarinya, dan ia terbagi dua:

Perintah Rabbani yang bersifat langsung yang harus terjadi, seperti firman Allah SWT:


82. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah Berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia. QS. Yasiin: 82

Perintah-perintah Rabbani yang bersifat kauniyah, adalah sunnah kauniyah berupa hubungan sebab dan akibat yang saling mempengaruhi satu sama lain, dan bagi setiap sebab yang bersifat kauni akan menimulkan akibat. Dan termasuk sunnah kauniyah adalah:

Firman Allah SWT:


53. (Siksaan) yang demikian itu adalah Karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang Telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri”. QS. Al-Anfaal: 53

Firman Allah SWT:


16. Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. QS. Al-Israa`: 16)

Iblis dan para pengikutnya berusaha menundukkan sunnah kauniyah ini agar menjadi sebab bagi kebinasaan sebagian manusia. Dan Allah SWT
mensyari’atkan bagi kita untuk berdo’a dan beristigfar agar selamat dari kebinasaan tersebut. Dan tidak ada yang bisa menolak qadha kecuali do’a. Do’a adalah kembali kepada Allah SWT
yang telah menciptakan sunnah kauniyah. Maka Dialah Allah SWT
Yang Maha Kuasa menggagalkan suatu reaksi atau merubah sebuah akibat di saat yang dikehendakiNya dan bagaimana Dia menghendakinya, sebagaimana Dia menggagalkan reaksi panas api terhadap nabi Ibrahim :


69. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, QS. Al-Anbiyaa`: 69

Jenis-jenis kebaikan dan keburukan

Kebaikan yang penyebabnya adalah keimanan dan amal shalih, yaitu ketaatan kepada Allah SWT
dan Rasul-Nya .

Kebaikan yang penyebabnya adalah nikmat Ilahi kepada manusia, yaitu apa-apa yang telah diberikan oleh Allah SWT
berupa harta, kesehatan, pertolongan, kemuliaan, dan semisal dengannya.

Dan keburukan terbagi dua:

Keburukan yang penyebabnya adalah kesyirikan dan kemaksiatan, yaitu apa yang muncul dari manusia dari perbuatan syirik dan maksiat. Keburukan yang penyebabnya adalah cobaan atau siksaan Ilahi, seperti penyakit tubuh, hilangnya harta, kekalahan, dan semisal dengannya. Maka kebaikan dalam arti taat, tidak disandarkan kecuali hanya kepada Allah SWT. Maka Dia
yang menyari’atkannya bagi hamba, mengajarkannya kepadanya, memerintahkan melaksanakannya dan menolongnya atasnya. Keburukan dalam arti maksiat kepada Allah SWT
dan Rasul-Nya , apabila hamba melakukan dengan kehendak dan pilihannya mengutamakan maksiat atas taat. Maka keburukan ini disandarkan kepada hamba sebagai pelakunya dan tidak disandarkan kepada Allah SWT, karena Allah SWT
tidak mensyari’atkannya, tidak memerintahkannya. Bahkan Dia mengharamkannya dan memberikan ancaman atasnya. Sebagaimana firman Allah SWT:


79. Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi. QS. An-Nisaa`: 79

Adapun kebaikan dalam pengertian nikmat seperti harta, anak, sehat, pertolongan dan kemuliaan, dan kebaikan dalam arti siksaan dan cobaan seperti berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan, kekalahan dan semisalnya, maka kebaikan dan keburukan dengan pengertian ini berasal dari Allah SWT, karena Allah SWT
menguji hamba-Nya sebagai cobaan dan siksaan serta meninggikan sebagai pendidikan bagi hamba-hamba-Nya, seperti firman Allah SWT:


78. “Dan jika mereka memperoleh kebaikan mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka Mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraansedikitpun?”. QS. An-Nisaa`: 78

Menolak akibat keburukan:

Apabila seorang mukmin melakukan kesalahan, maka hukumannya tertolak darinya dengan yang berikut ini:

Bisa jadi ia bertaubat, lalu Allah SWT
menerima taubatnya, atau ia meminta ampun lalu Allah SWT
mengampuninya, atau ia melakukan kebaikan yang menghapusnya, atau saudara-saudaranya yang beriman mendoakan dan memohon ampunan untuknya, atau menghadiahkan untuknya dari pahala amal perbuatan mereka yang Allah SWT
memberikan manfaat dengannya, atau Allah SWT
mengujinya di dunia dengan berbagai macam musibah yang menjadi penebus darinya, atau Allah SWT
mengujinya di alam barzakh dengan teriakan lalu Dia
menebusnya dengannya, atau mengujinya di hari kiamat yang menjadi penebus darinya, atau nabi Muhammad SAW
memberi syafaat padanya, atau Allah SWT
yang paling pengasih memberi rahmat kepadanya, dan Allah SWT
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Taat dan maksiat:

Taat melahirkan manfaat dan membuahkan akhlak yang baik, dan maksiat melahirkan kemudharatan dan membuahkan akhlak yang buruk. Maka matahari, bulan, tumbuhan, hewan, daratan dan lautan taat kepada Rabb-nya, maka keluarlah darinya manfaat yang banyak, tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah SWT. Dan para nabi tatkala taat kepada Allah SWT, keluarlah dari mereka kebaikan yang tidak bisa menghitungnya selain Allah SWT. Dan iblis, tatkala durhaka kepada Rabb-nya, enggan, dan sombong, karena sebab itu keluarlah keburukan dan kerusakan di bumi yang tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah SWT. Seperti inilah manusia, apabila taat kepada Rabb-nya, keluarlah darinya kebaikan dan manfaat untuknya dan orang lain, tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah SWT. Dan apabila ia durhaka kepada Rabb-nya, keluarlah darinya keburukan dan mudharat baginya dan bagi orang lain, tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah SWT.

Dampak taat dan maksiat:

Allah SWT
menjadikan bagi taat dan kebaikan dampak-dampak yang nikmat, baik lagi dicintai. Kenikmatannya di atas kenikmatan maksiat berlipat ganda. Dan Dia
menjadikan bagi maksiat dan keburukan dampak-dampak dan rasa sakit yang tidak disukai, yang mewariskan kerugian dan penyesalan, dan menambah kenikmatan mengecapnya berlipat ganda. Tidak pernah terjadi kondisi yang dibenci kecuali karena dosa dan yang dimaafkan Allah SWT
jauh lebih banyak.

Dan dosa-dosa membahayakan hati seperti racun membahayakan badan. Dan Allah SWT
menciptakan manusia di atas fitrah sebagai kebaikan yang sangat indah. Maka jika ia tercemar dengan segala dosa dan kesalahan niscaya diambil darinya kebaikan dan keindahannya. Dan apabila ia bertaubat kepada Allah SWT
niscaya kembalilah kepadanya kebaikan dan keindahannya, dan mencapai kesempurnaannya di surga.

Petunjuk dan penyesatan:

Milik Allah SWT
penciptaan dan perkara, Dia
melakukan apa yang Dia kehendaki dan memantapkan apa yang Dia
kehendaki, memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan menyesatkan orang yang dikehendakinya. Kerajaan adalah kerajaan-Nya dan ciptaan adalah ciptaan-Nya. Dia
tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan dan mereka akan ditanyakan. Dan termasuk rahmat Allah SWT
bahwa Dia mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab, menjelaskan segala jalan, menyingkirkan berbagai ‘illah, dan menekankan berbagai sebab petunjuk dan taat dengan pendengaran, penglihatan, dan akal, dan setelah hal itu:

1. Maka barangsiapa yang mengutamakan hidayah, mendorong padanya, mencarinya, mengerjakan sebab-sebabnya, dan berusaha untuk memperolehnya, niscaya Allah SWT
menuntunnya kepadanya, menolongnya untuk memperolehnya dan menyempurnakannya. Ini adalah rahmat dan karunia Allah kepada hamba-hamba-Nya. Firman Allah SWT:


69. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. QS. Al-‘Ankabuut: 69

2. Dan barangsiapa yang mengutamakan kesesatan, mendorong padanya, mencarinya, dan mengerjakan sebab-sebab-Nya niscaya sempurnalah baginya, dan Allah SWT
menguasakan kepadanya apa-apa yang dikuasainya, dan ia tidak mendapatkan dari Allah SWT
yang memalingkan darinya. Dan ini adalah keadilan dari Allah SWT. Firman Allah SWT:


115. Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang Telah dikuasainya itu[348] dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. QS. An-Nisaa`: 115

Buah beriman kepada qadar:

Beriman kepada qadha` dan qadar adalah sumber kesenangan, ketenangan, dan keberuntungan bagi setiap muslim. Maka denganya dia mengetahui bahwa segala sesuatu terjadi dengan qadar Allah SWT. Dia tidak merasa bangga dengan dirinya sendiri saat memperoleh keinginannya dan tidak gelisah saat tidak mendapatkan apa yang disukai atau terjadi (sesuatu) yang dibencinya, karena dia mengetahui bahwa semua itu terjadi dengan qadar Allah SWT, suatu hal yang pasti terjadi, tidak mustahil.

1. Firman Allah SWT:


22. “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. 23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. QS. Al-Hadidid : 22-23

2. Dari Shuhaib berkata: Rasulullah SAW
bersabda:


Sungguh mengagumkan perkara orang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah baik dan hal itu tidak pernah terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur, maka itu lebih baik baginya. Dan jika ia mendapatkan kesusahan, ia bersabar, dan hal itu lebih baik baginya.” HR. Muslim. (HR. Muslim no. 2999)

3. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash , ia berkata, ‘Rasulullah SAW
bersabda:


“Aku merasa kagum terahdap perkara orang mukmin, jika ia mendapatkan kebaikan, ia memuji Allah SWT
dan bersyukur kepada-Nya. Dan jika dia mendapat musibah, dia memuji Allah SWT
dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam semua perkaranya, bahkan diberi pahala pada suapan (makanan) yang diberikannya pada mulut istrinya.” HR. Ahmad dan Abdurrazzaq. (Hasan/ HR. Ahmad no 1492. dan ini adalah lafazhnya. Al-Arna’uth berkata: Sanadnya hasan. Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq no. 20310.) Setelah selesainya pembahasan ini dengan karunia Allah SWT, maka selesailah pembahasan tentang enam rukun iman, yaitu beriman kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan qadar baik dan buruk-Nya. Dan setiap rukun tersebut memberikan faedah yang bermanfaat bagi seorang mukmin.

Buah-buah rukun iman:

1. Beriman kepada Allah SWT: membuahkan cinta kepada Allah SWT, mengagungkan-Nya, bersyukur kepada-Nya, menyembah-Nya, taat dan takut kepada-Nya, dan menjunjung perintah-perintah-Nya.

2. Beriman kepada malaikat: membuahkan cinta kepada mereka, merasa malu terhadap mereka, dan mengambil pelajaran dengan ketaatan mereka.

3-4. Beriman kepada kitab-kitab dan rasul-rasul: Membuahkan kekuatan iman kepada Allah SWT
dan mencintai-Nya, mengenal syari’at-syari’at Allah SWT, apa-apa yang dicintai Allah SWT, dan apa-apa yang dibenci-Nya, mengenal negeri akhirat, dan mencintai rasul-rasul Allah SWT
dan mentaati kepada mereka.

5. Beriman kepada hari akhir: membuahkan keinginan untuk melakukan taat dan kebaikan, dan berlari dari maksiat dan kemungkaran.

6. Beriman kepada qadar: membuahkan ketenangan jiwa dan ridha dengan apa yang ditaqdirkan Allah SWT. Dan apabila hal itu terealisasikan dalam kehidupan seorang muslim, tentu ia berhak masuk surga, dan hal itu tidak sempurna

kecuali dengan taat kepada Allah SWT
dan rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah SWT:


13. “Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar”. QS. An-Nisaa: 13

Segala apa yang dilakukan, ditentukan, dan ditaqdirkan- oleh Allah SWT
bagi makhluk-Nya mengandung mashlahat dan hikmah. Maka apa yang dilakukan-Nya berupa yang ma’ruf dan kebaikan menunjukkan atas rahmat-Nya. Dan apa yang dilakukan-Nya berupa siksaan dan hukuman menunjukkan murka-Nya. Dan apa yang dilakukan-Nya berupa kelembutan dan kemuliaan menunjukkan cinta-Nya. Dan apa yang dilakukan-Nya berupa penghinaan menunjukkan kemurkaan dan kebenciaan-Nya. Dan apa yang dilakukan-Nya terhadap semua makhluk yang berwal dari sebuah kekurangan, kemudian berubah menjadi sempurna menunjukkan akan terjadinya hari kebangkitan.

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: