HUKUM MENGGUGURKAN KANDUNGAN YANG DIDASARKAN PADA DIAGNOSIS PENYAKIT JANIN

PENGGUGURAN KANDUNGAN YANG DIDASARKAN PADA DIAGNOSIS PENYAKIT JANIN
 
Dr. Yusuf Qardhawi
 
Segala  puji  kepunyaan  Allah.  Shalawat  dan  salam   semoga
tercurahkan kepada Rasulullah. Wa ba'du.
 
Diantara kewajiban ahli fiqih muslim ialah berhenti di hadapan
beberapa persoalan yang dihadapinya untuk menetapkan  beberapa
hakikat penting, antara lain:
 
Bahwa kehidupan janin (anak dalam kandungan) menurut pandangan
syariat Islam merupakan kehidupan yang harus dihormati, dengan
menganggapnya  sebagai  suatu  wujud  yang  hidup  yang  wajib
dijaga, sehingga syariat  memperbolehkan  wanita  hamil  untuk
berbuka  puasa  (tidak  berpuasa)  pada bulan Ramadhan, bahkan
kadang-kadang  diwajibkan  berbuka  jika  ia   khawatir   akan
keselamatan    kandungannya.    Karena   itu   syariat   Islam
mengharamkan tindakan melampaui  batas  terhadapnya,  meskipun
yang   melakukan   ayah   atau   ibunya   sendiri  yang  telah
mengandungnya dengan susah payah.  Bahkan  terhadap  kehamilan
yang  haram --yang dilakukan dengan jalan perzinaan-- janinnya
tetap tidak boleh  digugurkan,  karena  ia  merupakan  manusia
hidup yang tidak berdosa:
 
"... Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa
orang lain ..." (al-Isra': 15)
 
Selain itu,  kita  juga  mengetahui  bahwa  syara'  mewajibkan
penundaan pelaksanaan hukum qishash terhadap wanita hamil yang
dijatuhi jenis hukuman ini demi menjaga janinnya,  sebagaimana
kisah  wanita  al-Ghamidiyah  yang  diriwayatkan  dalam  kitab
sahih. Dalam hal ini syara' memberi jalan kepada  waliyul-amri
(pihak  pemerintah)  untuk  menghukum  wanita tersebut, tetapi
tidak memberi jalan untuk menghukum janin yang  ada  di  dalam
kandungannya.
 
Seperti  kita lihat juga bahwa syara' mewajibkan membayar diat
(denda) secara sempurna kepada seseorang  yang  memukul  perut
wanita  yang  hamil, lalu dia melahirkan anaknya dalam keadaan
hidup, namun akhirnya mati karena akibat pukulan  tadi.  Ibnul
Mundzir mengutip kesepakatan ahli ilmu mengenai masalah ini.2
 
Sedangkan  jika  bayi  itu  lahir dalam keadaan mati, maka dia
tetap dikenakan denda karena kelengahannya (ghirrah),  sebesar
seperdua puluh diat.
 
Kita  juga melihat bahwa syara' mewajibkan si pemukul membayar
kafarat --disamping  diat  dan  ghirrah--  yaitu  memerdekakan
seorang  budak  yang  beriman,  jika tidak dapat maka ia harus
berpuasa dua bulan berturut-turut. Bahkan hal  itu  diwajibkan
atasnya, baik janin itu hidup atau mati.
 
Ibnu  Qudamah  berkata, "Inilah pendapat kebanyakan ahli ilmu,
dan pendapat ini juga  diriwayatkan  dari  Umar  r.a..  Mereka
berdalil dengan firman Allah:
 
"... dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena
tersalah (tidak sengaja) hendaklah ia memerdekakan
seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat
yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu),
kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah.
Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu,
padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh)
memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si
terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai)
antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh)
membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si
terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yangmukmin.
Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia
(si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai
cara tobat kepada Allah; dan adalah Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (an-Nisa': 92)
 
Mereka berkata,  "Apabila  wanita  hamil  meminum  obat  untuk
menggugurkan kandungannya, maka ia wajib membayar denda, tidak
boleh mewarisi sesuatu daripadanya (sebab orang yang  membunuh
tidak  boleh  mewarisi  sesuatu  dari yang dibunuh), dan wajib
memerdekakan seorang budak. Denda tersebut hendaklah diberikan
kepada ahli waris si janin. Semua sanksi itu dikenakan padanya
karena ia telah melakukan perbuatan jahat  yaitu  menggugurkan
janin.  Sedangkan  memerdekakan  budak  merupakan kafarat bagi
tindak kejahatannya.  Demikian  pula  jika  yang  menggugurkan
janin  itu  ayahnya  maka  si ayah harus membayar denda, tidak
boleh mewarisi sesuatu  daripadanya,  dan  harus  memerdekakan
budak."3
 
Jika  tidak  mendapatkan  budak (atau tidak mampu memerdekakan
budak),   maka   ia   harus   berpuasa   selama   dua    bulan
berturut-turut, sebagai cara tobat kepada Allah SWT.
 
Lebih  dari  itu  adalah  perkataan Ibnu Hazm dalam al-Muhalla
mengenai pembunuhan  janin  setelah  ditiupkannya  ruh,  yakni
setelah  kandungan berusia seratus dua puluh hari, sebagaimana
disebutkan dalam hadits sahih. Ibnu Hazm  menganggap  tindakan
ini  sebagai  tindak  kejahatan pembunuhan dengan sengaja yang
mewajibkan pelakunya menanggung segala risiko,  seperti  hukum
qishash dan lain-lainnya. Beliau berkata:
 
"Jika  ada  orang  bertanya, 'Bagaimana pendapat Anda mengenai
seorang  perempuan  yang  sengaja  membunuh  janinnya  setelah
kandungannya  berusia  seratus dua puluh hari, atau orang lain
yang  membunuhnya  dengan  memukul  (atau  tindakan  apa  pun)
terhadap perut si perempuan itu untuk membunuh si janin?' Kami
jawab bahwa sebagai hukumannya wajib dikenakan hukum  qishash,
tidak  boleh  tidak, dan ia tidak berkewajiban membayar denda.
Kecuali jika dimaafkan, maka dia wajib membayar  ghirrah  atau
denda  saja  karena  itu  merupakan  diat,  tetapi tidak wajib
membayar kafarat karena hal itu  merupakan  pembunuhan  dengan
sengaja.  Dia  dikenakan hukuman qishash karena telah membunuh
suatu  jiwa  (manusia)  yang  beriman  dengan  sengaja,   maka
menghilangkan  (membunuh)  jiwa  harus  dibalas dengan dibunuh
pula. Meski  demikian,  keluarga  si  terbunuh  mempunyai  dua
alternatif,  menuntut  hukum  qishash  atau  diat, sebagaimana
hukum yang ditetapkan  Rasulullah  saw.  terhadap  orang  yang
membunuh orang mukmin. Wa billahit taufiq."
 
Mengenai   wanita   yang   meminum   obat  untuk  menggugurkan
kandungannya, Ibnu Hazm berkata:
 
"Jika anak itu belum ditiupkan  ruh  padanya,  maka  dia  (ibu
tersebut)  harus membayar ghirrah. Tetapi jika sudah ditiupkan
ruh padanya --bila wanita itu tidak sengaja membunuhnya-- maka
dia  terkena  ghirrah  dan kafarat. Sedangkan jika dia sengaja
membunuhnya, maka dia dijatuhi  hukum  qishash  atau  membayar
tebusan dengan hartanya sendiri."4
 
Janin  yang  telah  ditiupkan  ruh  padanya,  oleh  Ibnu  Hazm
dianggap sebagai sosok  manusia,  sehingga  beliau  mewajibkan
mengeluarkan   zakat   fitrah   untuknya.  Sedangkan  golongan
Hanabilah hanya memandangnya mustahab, bukan wajib.
 
Semua itu menunjukkan kepada  kita  betapa  perhatian  syariat
terhadap   janin,   dan   betapa  ia  menekankan  penghormatan
kepadanya, khususnya  setelah  sampai  pada  tahap  yang  oleh
hadits  disebut  sebagai  tahapan  an-nafkhu fir-ruh (peniupan
ruh). Dan ini merupakan perkara gaib yang  harus  kita  terima
begitu  saja,  asalkan  riwayatnya  sah,  dan  tidak usah kita
memperpanjang pembicaraan tentang hakikatnya, Allah berfirman:
 
"... dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit." (al-Isra': 85)
 
Saya kira, hal itu bukan semata-mata  kehidupan  yang  dikenal
seperti   kita   ini,   meskipun  para  pensyarah  dan  fuqaha
memahaminya  demikian.  Hakikat  yang  ditetapkan  oleh   ilmu
pengetahuan  sekarang  secara meyakinkan ialah bahwa kehidupan
telah terjadi sebelum itu, hanya saja bukan kehidupan  manusia
yang  diistilahkan  oleh hadits dengan "peniupan ruh." Hal ini
ditunjuki oleh isyarat Al- Qur'an:
 
"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam
(tubuh)-nya ruh (ciptaan)-Nya ..." (as-Sajdah: 9)
 
Tetapi  diantara  hadits-hadits  sahih  terdapat  hadits  yang
tampaknya   bertentangan   dengan   hadits  Ibnu  Mas'ud  yang
menyebutkan diutusnya malaikat untuk meniup ruh  setelah  usia
kandungan  melampaui  masa  tiga  kali  empat  puluh hari (120
hari).
 
Imam  Muslim  meriwayatkan  dalam   Shahih-nya   dari   hadits
Hudzaifah  bin  Usaid,  ia  berkata: "Aku mendengar Rasulullah
saw. bersabda:
 
"Apabila nutfah telah berusia empat puluh dua malam,
maka Allah mengutus malaikat, lalu dibuatkan bentuknya,
diciptakan pendengarannya, penglihatannya, kulitnya,
dagingnya, dan tulangnya. Kemudian malaikat bertanya,
ra Rabbi, laki-laki ataukah perempuan?' Lalu Rabb-mu
menentukan sesuai dengan kehendak-Nya, dan malaikat
menulisnya, kemudian dia (malaikat) bertanya, Ya Rabbi,
bagaimana ajalnya?' Lalu Rabb-mu menetapkan sesuai
dengan yang dikehendaki-Nya, dan malaikat menulisnya.
Kemudian ia bertanya, 'Ya Rabbi, bagaimana rezekinya?'
Lalu Rabb-mu menentukan sesuai dengan yang
dikehendaki-Nya, dan malaikat menulisnya. Kemudian
malaikat itu keluar dengan membawa lembaran catatannya,
maka ia tidak menambah dan tidak mengurangi apa yang
diperintahkan itu."5
 
Hadits ini menjelaskan diutusnya malaikat dan dibuatnya bentuk
bagi  nutfah  setelah  berusia  enam  minggu  (empat puluh dua
hari)6  bukan  setelah  berusia   seratus   dua   puluh   hari
sebagaimana  disebutkan dalam hadits Ibnu Mas'ud yang terkenal
itu.  Sebagian  ulama  mengompromikan  kedua  hadits  tersebut
dengan  mengatakan  bahwa  malaikat  itu diutus beberapa kali,
pertama pada waktu nutfah berusia empat puluh hari,  dan  kali
lain  pada waktu berusia empat puluh kali tiga hari (120 hari)
untuk meniupkan ruh.7
 
Karena  itu  para   fuqaha   telah   sepakat   akan   haramnya
menggugurkan kandungan setelah ditiupkannya ruh padanya. Tidak
ada seorang  pun  yang  menentang  ketetapan  ini,  baik  dari
kalangan salaf maupun khalaf.8
 
Adapun  pada  tahap  sebelum  ditiupkannya  ruh, maka diantara
fuqaha ada yang memperbolehkan menggugurkan kandungan  sebelum
ditiupkannya   ruh   itu,  sebagian  saudara  kita  yang  ahli
kedokteran dan anatomi mengatakan,  "Sesungguhnya  hukum  yang
ditetapkan  para  ulama  yang  terhormat  itu  didasarkan atas
pengetahuan mereka pada waktu itu. Andaikata mereka mengetahui
apa  yang  kita  ketahui  sekarang  mengenai  wujud hidup yang
membawa ciri-ciri  keturunan  (gen)  kedua  orang  tuanya  dan
keluarganya serta jenisnya, niscaya mereka akan mengubah hukum
dan fatwa mereka  karena  mengikuti  perubahan  'illat  (sebab
hukum),  karena  hukum  itu  berputar menurut 'illat-nya, pada
waktu ada dan tidak adanya 'illat."
 
Diantara kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya ialah bahwa
di  kalangan  ahli  kandungan  dan  anatomi  sendiri  terdapat
perbedaan pendapat --sebagaimana halnya para fuqaha-- di dalam
menetapkan kehidupan janin pada tahap pertama: sebelum berusia
42 hari dan sebelum 120 hari. Perbedaan  diantara  mereka  ini
juga memperkokoh perbedaan pendapat para fuqaha mengenai janin
sebelum berusia 40 hari dan sebelum 120 hari.
 
Barangkali ini merupakan  rahmat  Allah  kepada  manusia  agar
udzur dan darurat itu mempunyai tempat.
 
Maka   tidak   apalah  apabila  saya  sebutkan  sebagian  dari
perkataan fuqaha mengenai persoalan ini:
 
Syekhul  Islam  al-Hafizh  Ibnu  Hajar   didalam   Fathul-Bari
menyinggung    mengenai    pengguguran   kandungan   --setelah
membicarakan  secara  panjang  lebar  mengenai  masalah   'azl
(mencabut  zakar  untuk menumpahkan sperma di luar vagina pada
waktu ejakulasi) serta perbedaan pendapat ulama tentang  boleh
dan  tidaknya  melakukan  hal  itu,  yang pada akhirnya beliau
cenderung memperbolehkannya karena tidak kuatnya  dalil  pihak
yang melarangnya. Beliau berkata:
 
"Dan terlepas dari hukum 'azl ialah hukum  wanita  menggunakan
obat  untuk  menggugurkan  (merusak)  nutfah  (embrio) sebelum
ditiupkannya  ruh.  Barangsiapa  yang   mengatakan   hal   ini
terlarang,  maka  itulah  yang  lebih  layak;  dan  orang yang
memperbolehkannya, maka hal itu dapat disamakan  dengan  'azl.
Tetapi  kedua  kasus  ini dapat juga dibedakan, bahwa tindakan
perusakan nutfah itu lebih berat, karena  'azl  itu  dilakukan
sebelum  terjadinya  sebab  (kehidupan),  sedangkan  perusakan
nutfah  itu  dilakukan  setelah  terjadinya  sebab   kehidupan
(anak)."9
 
Sementara  itu,  diantara  fuqaha  ada  yang membedakan antara
kehamilan yang berusia kurang dari empat puluh hari  dan  yang
berusia   lebih   dari   empat   puluh   hari.   Lalu   mereka
memperbolehkan menggugurkannya bila belum berusia empat  puluh
hari,  dan  melarangnya  bila  usianya  telah lebih dari empat
puluh hari. Barangkali yang menjadi pangkal perbedaan pendapat
mereka  adalah  hadits  Muslim  yang  saya  sebutkan  di atas.
Didalam kitab Nihayah al-Muhtaj, yang  termasuk  kitab  mazhab
Syafi'i, disebutkan dua macam pendapat para ahli ilmu mengenai
nutfah sebelum genap empat puluh hari:
 
"Ada yang  mengatakan  bahwa  hal  itu  tidak  dapat  dihukumi
sebagai  pengguguran  dan pembunuhan. Ada pula yang mengatakan
bahwa nutfah harus dihormati, tidak boleh dirusak,  dan  tidak
boleh melakukan upaya untuk mengeluarkannya setelah ia menetap
di dalam rahim (uterus)."10
 
Diantara fuqaha ada pula yang membedakan antara tahap  sebelum
penciptaan  janin  dan tahap sesudah penciptaan (pembentukan).
Lalu  mereka  memperbolehkan  aborsi   (pengguguran)   sebelum
pembentukan dan melarangnya setelah pembentukan.
 
Didalam  an-Nawadir,  dari  kitab  mazhab  Hanafi, disebutkan,
"Seorang  wanita  yang   menelan   obat   untuk   menggugurkan
kandungannya,    tidaklah    berdosa   asalkan   belum   jelas
bentuknya."11
 
Didalam kitab-kitab  mereka  juga  mereka  ajukan  pertanyaan:
bolehkah  menggugurkan kandungan setelah terjadinya kehamilan?
Mereka menjawab: Boleh, asalkan belum berbentuk.
 
Kemudian di tempat  lain  mereka  berkata,  "Tidaklah  terjadi
pembentukan   (penciptaan)  melainkan  setelah  kandungan  itu
berusia seratus dua puluh hari. "
 
Muhaqqiq (ulama ahli menetapkan hukum) mazhab Hanafi, al-Kamal
bin  al-Hammam, berkata, "Ini berarti bahwa yang mereka maksud
dengan penciptaan atau pembentukan itu ialah ditiupkannya ruh,
sebab  jika  tidak demikian berarti keliru, karena pembentukan
itu telah dapat disaksikan sebelum waktu itu."12
 
Perkataan al-Allamah (al-Kamal) ini adalah benar, diakui  oleh
ilmu pengetahuan sekarang.
 
Sedangkan pernyataan mereka yang mutlak itu memberi pengertian
bahwa kebolehan menggugurkan kandungan  itu  tidak  bergantung
pada  izin  suami. Hal ini dinyatakan di dalam kitab ad-Durrul
Mukhtar:   "Mereka   berkata,   'Diperbolehkan    menggugurkan
kandungan  sebelum  berusia  empat  bulan, meskipun tanpa izin
suami.'"
 
Namun demikian, diantara  ulama  Hanafiyah  ada  yang  menolak
hukum  yang  memperbolehkan  pengguguran  secara  mutlak  itu,
mereka berkata, "Saya tidak  mengatakan  halal,  karena  orang
yang  sedang  ihram  saja  apabila memecahkan telur buruan itu
harus  menggantinya,  karena  itulah   hukum   asal   mengenai
pembunuhan.  Kalau  orang  yang melakukan ihram saja dikenakan
hukuman pembalasan, maka tidak kurang dosanya bagi orang  yang
menggugurkan kandungan tanpa udzur."
 
Diantara  mereka  ada  pula yang mengatakan makruh, karena air
(sperma) setelah masuk ke rahim belumlah hidup tapi  mempunyai
hukum  sebagai  manusia  hidup,  seperti halnya telur binatang
buruan  pada  waktu  ihram.  Karena  itu  ahli  tahqiq  mereka
berkata,  "Maka  kebolehan  menggugurkan  kandungan  itu harus
diartikan karena dalam keadaan udzur, atau  dengan  pengertian
bahwa ia tidak berdosa seperti dosanya membunuh."13
 
Akan tetapi, kebanyakan ulama menentang pendapat ini dan tidak
memperbolehkan pengguguran, meskipun sebelum ditiupkannya ruh.
 
Hal ini disebabkan adanya segolongan ulama yang melarang  'azl
dan  mereka  anggap  hal  ini sebagai "pembunuhan terselubung"
sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits. Mereka beralasan
bahwa  'azl  berarti  menghalangi  sebab-sebab kehidupan untuk
menuju realitas atau perwujudannya. Karena itu mereka melarang
menggugurkan  kandungan dan mengharamkannya dengan jalan qiyas
aulawi (maksudnya, kalau 'azl saja terlarang, maka pengguguran
lebih  terlarang  lagi),  karena  sebab-sebab kehidupan disini
telah terjadi dengan bertemunya sperma  laki-laki  dengan  sel
telur  perempuan  dan  terjadinya  pembuahan  yang menimbulkan
wujud makhluk baru yang  membawa  sifat-sifat  keturunan  yang
hanya Allah yang mengetahuinya.
 
Tetapi  ada  juga  ulama-ulama yang memperbolehkan 'azl karena
alasan-alasan yang berhubungan dengan ibu atau  anaknya  (yang
baru  dilahirkan), atau bisa juga karena pertimbangan keluarga
untuk  kebaikan  pendidikan  anak-anak,  atau  lainnya.  Namun
demikian, mereka tidak memperbolehkan aborsi (pengguguran) dan
menyamakannya dengan pembunuhan terselubung, meskipun  tingkat
kejahatannya berbeda.
 
Diantara  yang  berpendapat begitu ialah Imam al-Ghazali. Saya
lihat beliau  --meskipun  beliau  memperbolehkan  'azl  dengan
alasan-alasan  yang  akurat menurut beliau-- membedakan dengan
jelas   antara   menghalangi   kehamilan   dengan   'azl   dan
menggugurkan kandungan setelah terwujud, dengan mengatakan:
 
"Hal  ini --mencegah kehamilan dengan 'azl-- tidak sama dengan
pengguguran dan pembunuhan terselubung;  sebab  yang  demikian
(pengguguran  dan  pembunuhan  terselubung)  merupakan  tindak
kejahatan terhadap suatu wujud yang telah ada, dan  wujud  itu
mempunyai  beberapa  tingkatan.  Tingkatan  yang pertama ialah
masuknya nutfah (sperma) ke dalam rahim, dan bercampur  dengan
air   (mani)  perempuan  (ovum),  serta  siap  untuk  menerima
kehidupan.  Merusak  keadaan  ini   merupakan   suatu   tindak
kejahatan. Jika telah menjadi segumpal darah atau daging, maka
kejahatan terhadapnya  lebih  buruk  lagi  tingkatannya.  Jika
telah  ditiupkan  ruh  padanya dan telah sempurna kejadiannya,
maka tingkat kejahatannya bertambah tinggi pula.  Dan  sebagai
puncak  kejahatan  terhadapnya  ialah  membunuhnya  setelah ia
lahir dalam keadaan hidup."14
 
Perlu  diperhatikan,  bahwa   Imam   al-Ghazali   rahimahullah
menganggap pengguguran sebagai tindak kejahatan terhadap wujud
manusia  yang  telah  ada,  tetapi  beliau   juga   menganggap
pertemuan   sperma   dengan   ovum   sebagai   "siap  menerima
kehidupan."
 
Nah, bagaimanakah persepsi beliau seandainya beliau  tahu  apa
yang  kita  ketahui  sekarang  bahwa  kehidupan  telah terjadi
semenjak bertemunya sel  sperma  laki-laki  dengan  sel  telur
wanita?
 
Karena  itu  saya  katakan, "Pada dasarnya hukum aborsi adalah
haram, meskipun keharamannya bertingkat-tingkat sesuai  dengan
perkembangan kehidupan janin."
 
Pada usia empat puluh hari pertama tingkat keharamannya paling
ringan, bahkan kadang-kadang  boleh  digugurkan  karena  udzur
yang  muktabar  (akurat); dan setelah kandungan berusia diatas
empat puluh hari maka keharaman menggugurkannya semakin  kuat,
karena  itu  tidak  boleh digugurkan kecuali karena udzur yang
lebih kuat lagi menurut ukuran  yang  ditetapkan  ahli  fiqih.
Keharaman  itu  bertambah  kuat  dan  berlipat  ganda  setelah
kehamilan berusia seratus dua puluh  hari,  yang  oleh  hadits
diistilahkan telah memasuki tahap "peniupan ruh."
 
Dalam  hal  ini  tidak  diperbolehkan  menggugurkannya kecuali
dalam  keadaan  benar-benar  sangat  darurat,  dengan   syarat
kedaruratan  yang  pasti, bukan sekadar persangkaan. Maka jika
sudah pasti, sesuatu yang  diperbolehkan  karena  darurat  itu
harus diukur dengan kadar kedaruratannya.
 
Menurut  pendapat  saya, kedaruratan disini hanya tampak dalam
satu bentuk saja, yaitu  keberadaan  janin  apabila  dibiarkan
akan   mengancam   kehidupan  si  ibu,  karena  ibu  merupakan
pangkal/asal kehidupan janin, sedangkan  janin  sebagai  fara'
(cabang). Maka tidak boleh mengorbankan yang asal (pokok) demi
kepentingan cabang. Logika ini disamping sesuai dengan  syara'
juga cocok dengan akhlak etika kedokteran, dan undang-undang.
 
Tetapi  ada juga diantara fuqaha yang menolak pendapat itu dan
tidak memperbolehkan tindak kejahatan  (pengguguran)  terhadap
janin  yang  hidup  dengan alasan apa pun. Didalam kitab-kitab
mazhab Hanafi disebutkan:
 
"Bagi wanita hamil yang posisi anak didalam perutnya melintang
dan     tidak     mungkin     dikeluarkan    kecuali    dengan
memotong-motongnya,  yang  apabila  tidak  dilakukan  tindakan
seperti ini dikhawatirkan akan menyebabkan kematian si ibu ...
mereka  berpendapat,  'Jika  anak  itu  sudah  dalam   keadaan
meninggal, maka tidak terlarang memotongnya; tetapi jika masih
hidup maka tidak boleh memotongnya karena  menghidupkan  suatu
jiwa  dengan  membunuh jiwa lain tidak ada keterangannya dalam
syara'.'"15
 
Meskipun demikian, dalam hal ini sebenarnya terdapat peraturan
syara',  yaitu memberlakukan mana yang lebih ringan mudaratnya
dan lebih kecil mafsadatnya.
 
Sementara itu, sebagian ulama masa kini membuat gambaran  lain
dari kasus di atas, yaitu:
 
"Adanya  ketetapan  secara  ilmiah yang menegaskan bahwa janin
--sesuai dengan sunnah Allah Ta'ala-- akan menghadapi  kondisi
yang  buruk dan membahayakan, yang akan menjadikan tersiksanya
kehidupannya dan keluarganya, sesuai dengan kaidah:
 
"Bahaya itu ditolak sedapat mungkin."
 
Tetapi  hendaknya  hal  ini  ditetapkan  oleh  beberapa  orang
dokter, bukan cuma seorang.
 
Pendapat  yang  kuat  menyebutkan  bahwa  janin  setelah genap
berusia empat bulan adalah manusia hidup yang  sempurna.  Maka
melakukan  tindak  kejahatan terhadapnya sama dengan melakukan
tindak kejahatan terhadap anak yang sudah dilahirkan.
 
Adalah merupakan kasih sayang Allah bahwa janin yang mengalami
kondisi  yang  sangat  buruk  dan  membahayakan biasanya tidak
bertahan hidup setelah  dilahirkan,  sebagaimana  sering  kita
saksikan,  dan  sebagaimana  dinyatakan oleh para spesialisnya
sendiri.
 
Hanya saja para dokter sering tidak tepat dalam menentukannya.
Saya  kemukakan  disini  suatu  peristiwa  yang  saya terlibat
didalamnya, yang  terjadi  beberapa  tahun  silam.  Yaitu  ada
seorang  teman  yang  berdomisili  di  salah satu negara Barat
meminta  fatwa  kepada  saya  sehubungan  para  dokter   telah
menetapkan  bahwa janin yang dikandung istrinya --yang berusia
lima bulan-- akan lahir dalam  kondisi  yang  amat  buruk.  Ia
menjelaskan  bahwa  pendapat  dokter-dokter  itu hanya melalui
dugaan yang kuat, tidak  ditetapkan  secara  meyakinkan.  Maka
jawaban  saya  kepadanya, hendaklah ia bertawakal kepada Allah
dan menyerahkan ketentuan  urusan  itu  kepadaNya,  barangkali
dugaan  dokter  itu  tidak  tepat. Tidak terasa beberapa bulan
berikutnya saya menerima sehelai kartu dari Eropa yang  berisi
foto  seorang  anak  yang  molek  yang  disertai komentar oleh
ayahnya yang berbunyi demikian:
 
"Pamanda yang terhormat,
 
Saya berterima kasih kepadamu sesudah bersyukur  kepada  Allah
Ta'ala,  bahwa  engkau telah menyelamatkanku (keluargaku) dari
pisau  para  dokter  bedah.  Fatwamu   telah   menjadi   sebab
kehidupanku,  karena  itu saya tidak akan melupakan kebaikanmu
ini selama saya masih hidup."
 
Kemajuan  ilmu  kedokteran  sekarang  telah  mampu  mendeteksi
kerusakan  (cacat)  janin  sebelum berusia empat bulan sebelum
mencapai tahap  ditiupkannya  ruh.  Namun  demikian,  tidaklah
dipandang  akurat  jika  dokter  membuat  dugaan bahwa setelah
lahir nanti si janin (anak)  akan  mengalami  cacat  --seperti
buta,  tuli, bisu-- dianggap sebagai sebab yang memperbolehkan
digugurkannya  kandungan.  Sebab   cacat-cacat   seperti   itu
merupakan  penyakit  yang  sudah  dikenal  di  masyarakat luas
sepanjang kehidupan manusia dan disandang banyak  orang,  lagi
pula  tidak  menghalangi  mereka  untuk bersamasama orang lain
memikul  beban  kehidupan  ini.  Bahkan  manusia  banyak  yang
mengenal  (melihat)  kelebihan para penyandang cacat ini, yang
nama-nama mereka terukir dalam sejarah.
 
Selain itu, kita tidak boleh mempunyai  keyakinan  bahwa  ilmu
pengetahuan  manusia  dengan segala kemampuan dan peralatannya
akan dapat mengubah tabiat kehidupan manusia yang diberlakukan
Allah sebagai ujian dan cobaan:
 
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan
setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya
..." (al-Insan: 2)
 
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada
dalam susah payah." (al-Balad: 4)
 
Sesungguhnya ilmu pengetahuan dan teknologi  pada  zaman  kita
sekarang  ini  telah  turut  andil  dalam memberikan pelajaran
kepada   orang-orang   cacat   untuk   meraih   keberuntungan,
sebagaimana   keduanya  telah  turut  andil  untuk  memudahkan
kehidupan mereka.  Dan  banyak  diantara  mereka  (orang-orang
cacat) yang turut menempuh dan memikul beban kehidupan seperti
orang-orang yang normal. Lebih-lebih dengan  sunnah-Nya  Allah
mengganti  mereka  dengan  beberapa karunia dan kemampuan lain
yang luar biasa.
 
Allah berfirman dengan kebenaran,  dan  Dia-lah  yang  memberi
petunjuk ke jalan yang lurus.
 
CATATAN KAKI:
 
1 Fatwa ini sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang
diajukan oleh Yayasan Islam untuk Ilmu-ilmu Kedokteran,
di Kuwait, dalam suatu diskusi yang dihadiri oleh para
fuqaha dan para dokter tentang berbagai masalah
kedokteran yang bersentuhan dengan pandangan syara'.
 
2 Al-Mughni ma'a asy-Syarh al-Kabir, juz 9, hlm. 550.
 
3 Ibid., juz 6, hlm. 556-557.
 
4 Al-Muhalla, juz 11.
 
5 Diriwayatkan oleh Muslim dalam shahih-nya, "Kitab
al-Qadar," "Bab Kaifiyyatu Khalqil-Adamiyyi fi Bathni
Ummihi," hadits nomor 2645.
 
6 Yang mengagumkan, ilmu kandungan dan anatomi setelah
mengalami kemajuan seperti sekarang menetapkan bahwa
janin setelah berusia empat puluh dua malam memasuki
tahap baru dan perkembangan yang lain.
 
7 Fathul-Bari juz 14, hlm. 284, terbitan al-Halabi.
 
8 Sebagian ulama Syafi'iyah --sebagaimana disebutkan
dalam Hasyiyah asy-Syarwani 'ala Ibni Qasim, juz 9 hlm.
4-- menganggap bahwa Imam Abu Hanifah memperbolehkan
menggugurkan kandungan setelah ditiupkannya ruh. Ini
benar-benar kekeliruan terhadap beliau dan mazhab
beliau. Kitab-kitab mazhab Hanafi menentang pendapat
ini.
 
9 Fathul-Bari, juz 11, hlm. 222, terbitan al-Halabi.
 
10 Nihayah al-Muhta; karya ar-Ramli, juz 8, hlm. 416
terbitan al-Halabi.
 
11 Al-Bahrur-Ra'iq, Ibnu Najim, juz 8, hlm 233
Darul-Ma'rifah, Beirut.
 
12 Fathul-Qadir, juz 2 hlm 495, terbitan Bulaq.
 
13 Ad-Durrul-Mukhtar wa Hasyiyah Ibnu Abidin 'Alaih,
juz 2, hlm. 380. terbitan Bulaq.
 
14 Ihya 'Ulumuddin, "Bagian Ibadat," "Kitab Nikah,"
hlm. 737, terbitan Asy-Sya'b.
 
15 Al-Bahrur Ra'iq, Ibnu Najim, juz 8, hlm. 233.
 

Sumber: http://media.isnet.org

Leave a Reply

%d bloggers like this: