Penetapan Awal Bulan Dengan Ilmu Hisab

PENETAPAN AWAL BULAN DENGAN ILMU HISAB

 

 

Telah kita ketahui bersama bahwa syari’at Islam hanya menggunakan dua cara yang meyakinkan untuk mengetahui masuk dan berakhirnya bulan Romadhon yaitu ru’yah1 (melihat hilal) atau ikmal (menyempurnakan 30 hari apabila bulan sabit tidak kelihatan), karena hal itu lebih mudah dan lebih meyakinkan.

Adapun hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam dimulainya awal bulan hijriah.2 Nah, persoalannya, bolehkah penentuan puasa dan hari raya dengan hisab?

Bila kita cermati dalil-dalil tentang masalah ini berdasarkan al-Qur’an, hadits, dan keterangan para ulama, niscaya akan kita dapati bahwa penentuan awal dan akhir bulan Romadhon dengan ilmu hisab adalah pendapat yang lemah dan tidak dibangun di atas kekuatan dalil.

Cukuplah bagi kita bahwa para ulama telah bersepakat tentang tidak bolehnya penggunaan hisab dalam penentuan ini telah dinukil oleh sejumlah ulama seperti al-Jashash dalam Ahkamul Qur’an 1/280, al-Baji dalam al-Muntaqo Syarh Muwatho’ 2138, Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid 1/283-284, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa 25/132-207, as-Subuki dalam al-Ilmu al-Mantsur hlm. 6, Ibnu Abidin dalam Hasyiyah-nya. 2/387, dan lain-lain.3

Sebagian orang yang menyangka bahwa alat-alat modern untuk ilmu hisab sekarang bisa dikatakan pasti dan yakin. Namun, pada kenyataan di lapangan, ternyata itu hanyalah prasangka belaka saja.4  Berikut ini beberapa buktinya:

·     Banyak fakta di lapangan yang membuktikan terjadinya beberapa kesalahan dalam perhitungan ilmu hisab, di mana seringkah diberitakan di media bahwa ahli hisab mengatakan tidak mungkin terlihat bulan, tetapi ternyata bulan dapat dilihat dengan jelas oleh beberapa saksi yang terpercaya.5

·     Kegoncangan ilmu hisab, di mana sebagian negara berpedoman pada ilmu hisab, namun aneh bin ajaibnya bahwa jarak selisihnya sampai 2 hingga 3 hari. Nah, apakah ada di dunia ini selisih jarak seperti ini dalam kelender hijriah?!!

·     Adanya perbedaan kalender antara sesama ahli hisab sendiri dalam satu negara.

·     Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa ilmu kedokteran sekarang telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dan peralatan-peralatan yang sangat canggih. Namun demikian, tetap saja terjadi kesalahan di sana-sini, padahal berkaitan langsung dengan panca indra manusia. Lantas, bagaimana dengan ilmu hisab yang sangat tersembunyi hasilnya?! Akankah kita meninggalkan sesuatu yang yakin dan mengambil yang ragu-ragu?!

·     Ilmu hisab dibangun di atas alat-alat modern yang seperti halnya alat-alat lainnya terkadang terjadi kesalahan, baik penggunanya merasakan atau tidak.6

Demikianlah beberapa masalah kontemporer yang dapat kita bahas. Semoga Alloh menambah ilmu yang bermanfaat bagi kita. Amin. []

_______________________

 

1.   Ru’yah adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang tampak pertama kali setelah terjadinya ijtima’ (bulan baru). Ru’yah dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Majelis Ulama Arab Saudi membolehkan penggunaan alat ini dalam rapat yang mereka gelar pada bulan Dzulqa’dah 1403 H. (Lihat Fiqih Nawazil 2/279 al- Jizani)

2.   Pilih Hisab atau Ru’yah? hlm. 29

3.   Lihat pula Awa’il Syuhur al-Arabiyyah hlm. 4 Ahmad Syakir, Fiqhu Nawazil 2/200 Bakr Abu Zaid, Ahkamul Ahillah hlm. 111-112 Ahmad al-Furaih.

4.   Sebagian ahli falak juga mengakui bahwa mustahil membuat kalender yang paten untuk tahun qamariyyah karena bulan silih berganti antara tahun ke tahun berikutnya. (Lihat ta’liq Ibrahim al-Hazimi terhadap risalah Ru’yatul Hilal wal Hisab al-Falaki hlm. 43-44 Ibnu Taimiyyah)

5.   Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Fiqhu Nawazil 2/217 mencontohkan kasus hilal bulan Syawal tahun 1406 H, di mana para ahli hisab telah mengumumkan di media hasil penelitian mereka bahwa hilal Syawal tidak mungkin bisa dilihat pada malam Sabtu 30 Ramadhan, tetapi ternyata dapat dilihat oleh dua puluh saksi di berbagai penjuru Arab Saudi. Kasus-kasus serupa juga banyak kawannya sebagaimana dalam buku Ahkamul Ahillah hlm. 144-145. Di Indonesia, organisasi Muhammadiyah misalnya terpaksa mengubah penetapan tanggal 1 Syawal dari hari Minggu tanggal 27 Maret 1991. Organisasi Muhammadiyah juga merevisi keputusan tanggal 1 Syawal yang semula jatuh pada hari Sabtu menjadi hari Ahad tahun 1992. Kasus yang sama terulang lagi pada tahun 1994, sekalipun kasus terakhir ini tidak terjadi dalam lingkungan Muhammadiyah. (Majalah Qiblati Vol. 02/No. 01/10-2006 M/09-1427 H)

6. Lihat Fiqhu Nawazil 2/216-218 Bakr Abu Zaid dan Ahkamul Ahillah hlm. 144-145 Ahmad al-Furaih. Dan lihat juga pembahasan masalah ini secara lebih detail dalam buku “Bid’ahkah Ilmu Hisab”? oleh akhuna Al-Ustadz Abu Yusuf Ahmad Sabiq, cet Pustaka Al Furqon.

Previous

Next

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: