Mengambil Jalan yang Berlainan…

Keenam

MENGAMBIL JALAN YANG BERLAINAN KETIKA PERGI DAN KEMBALI DARI MUSHALLA

 

 

Dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنه, ia berkata : 

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

“Nabi صلي الله عليه وسلم pada hari raya biasa mengambil jalan yang berlainan (ketika pergi dan ketika kembali dari mushalla-pen)” (HR. Bukhari 986). 

Berkata  Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah:  “Beliau صلي الله عليه وسلم biasa mengambil jalan yang berbeda pada hari raya. Beliau pergi ke mushalla melewati satu jalan dan kembali dengan melewati jalan lain.

Ada yang mengatakan bahwa hikmahnya adalah agar beliau dapat memberi salam kepada orang-orang yang berada di dua jalan itu.

Ada yang mengatakan: Agar mendapatkan barakahnya dua jalan yang berbeda.

Ada pula yang mengatakan: Agar beliau dapat memenuhi hajat orang yang butuh pada beliau di dua jalan itu. Ada pula yang mengatakan tujuannya agar dapat menampakkan syi’ar Islam ….

Dan ada yang mengatakan -inilah yang paling benar- : Beliau melakukan perbuatan itu untuk semua tujuan tersebut dan hikmah-hikmah lain yang memang perbuatan beliau صلي الله عليه وسلم tidak kosong dari hikmah”. (Zadul Ma’ad 1/449). 

Imam Nawawi رحمه الله setelah menyebutkan perkataan-perkataan di atas, beliau mengomentari: ” Kalau pun tidak diketahui apa sebabnya beliau mengambil jalan yang berbeda, disunahkan untuk meneladaninya secara pasti, wallahu a’lam.1 

Ada dua Peringatan yang perlu disampaikan: 

Pertama: Berkata Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (4/302-303): “Disunnahkan agar manusia berpagi-pagi (bersegera) ke mushalla (tanah lapang) setelah melaksanakan shalat shubuh untuk mengambil tempat duduk mereka dan mengumandangkan takbir. Sedangkan keluarnya imam adalah pada waktu akan ditunaikannya shalat”. 

Kedua: At-Tirmidzi meriwayatkan (530) dan Ibnu Majah (161) dari Ali رضي الله عنه bahwa ia berkata: “Termasuk sunnah untuk keluar menunaikan shalat Id dengan jalan kaki”. (Dihasankan oleh Syaikh kami Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi).   




1. Raudhatuth Thaalibiin (2/77). Lihat perkataan Imam Baghawi dalam kitab Syarhus Sunnah (4/314)

Previous

Next

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: