Materi Tematik | Syarat Meraih Ampunan di Bulan Ramadhan

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 13 Ramadhan 1437 H / 18 Juni 2016 M
👤 Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam
📔 Materi Tematik | Syarat Meraih Ampunan di Bulan Ramadhan
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UAI-01

📺 Video Source: https://yufid.tv/3621-ceramah-ramadhan-2013-syarat-meraih-ampunan-di-bulan-ramadhan-ustadz-abu-isa.html

SYARAT MERAIH AMPUNAN DI BULAN RAMADHAN

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Kaum muslimin rāhimani rāhimakumullāh

Nabi kita Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhān karena imān dan mengharapkan pahala, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri nomor 37, versi Fathul Bari nomor 38 dan Muslim nomor 1268, versi Syarh Muslim nomor 760)

Kalau kita cermati dari sabda Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam diatas, maka betapa besar pahala yang dijanjikan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bagi yang berpuasa Ramadhān

Betapa tidak bahwa dia akan mendapatkan ganjaran berupa ampunan dosa dari seluruh dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

Namun kalau kita cermati lebih dalam bahwa ternyata untuk mendapatkan ampunan dosa dengan sebab puasa tidak semudah yang dibayangkan. Karena di dalamnya ada dua persyaratan yang disyaratkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yaitu :

√ Imānan (dengan landasan keimānan)
√ Ihtisāban

Apakah yang dimaksud dengan 2 (dua) persyaratan tersebut ?

⑴ Keimānan

Maka untuk dikatakan seseorang itu bahwa puasanya dilandasi dengan keimānan yang bersama dia berimān secara umum dalam arti bahwa orang yang berpuasa tersebut harus orang yang berimān.

Artinya secara pribadi dia memiliki keimanan yang sah.

√ Jadi dia bukan orang kāfir, bukan orang yang telah batal imānnya disebabkan tindakan atau perilaku.
walaupun dia asalnya muslim (misalnya) tapi ternyata pada dirinya ada kekāfiran sehingga tidak layak dia mendapatkan predikat orang yang berimān.

√ Dia beriman tentang wajibnya puasa Ramadhān tersebut.

Ini terkait dengan syarat keimānan.

⑵ Ihtisāban

Ihtisaban yaitu mengharapkan ganjaran.

Bahwa yang dimaksudkan seseorang yang berpuasa meniatkan dengan puasanya mendapatkan pahala, yaitu pahala akhirat.

Dan pahala akhirat yang terbesar adalah melihat Allāh Ta’āla di surga.

Jadi dia mengharapkan ganjaran dimana Allāh Ta’āla  mengganjarnya di akhirat.

Maka bukanlah puasanya hanya semata-mata dia mengikuti kebanyakan kaum muslimin berpuasa. Tidak enak kalau tidak puasa atau berpuasa dalam rangka untuk supaya sehat atau berpuasa demi mendapatkan kenikmatan duniawi tetapi dia berpuasa untuk mengharapkan pahala akhirat.

Ganjaran yang disediakan oleh Allāh diakhirat. Di surga kelak. Dan apabila ternyata dia puasanya tidak memenuhi dua persyaratan diatas, maka dia tidak mendapatkan ampunan dosa.

Apakah ada disana orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan ganjaran ? Banyak.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam :

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Raafi’, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Al-Mubaarak, dari Usaamah bin Zaid, dari Sa’iid Al-Maqburiy, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Berapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar, dan berapa banyak orang yang shalat malam namun tidak mendapatkan apa-apa dari shalat malamnya selain menahan kantuk.”

[Sunan Ibnu Maajah no. 1690] – Sanadnya hasan. Syaikh Al-Albaaniy berkata “hasan shahih” dalam Shahiih Ibnu Maajah no. 1380.

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidaklah dia dapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”

(Hadīts Riwayat At- Tabrani dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Syaikh Al-Albāniy rahimahullāh dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadīts ini shahīh ligoirihi –yaitu shahīh dilihat dari jalur lainnya).

Sebagaimana juga beliau bersabda :

Laisa ilaihadza

لَيْسَ الي هدا

Atau beliau menyampaikan :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang dusta, yang buruk dan mengamalkan amalan yang buruk, maka tidak ada kepentingan terkait dengan dia meninggalkan makan dan minumnya.”

(Hadīts Riwayat Bukhāri nomor 1770, versi Fathul Baru nomor 1903)

Artinya tidak mendapatkan sedikitpun dari makan dan minumnya, tidak mendapatkan ganjaran sama sekali.

Ini menunjukan bahwa di sana ada orang-orang yang dia telah lapar dan dahaga dengan puasanya tapi yang dia dapatkan, hanya lapar dan dahaga.

Di samping dua syarat di atas tentang keimanan dan juga ihtisāb dengan penjelasan yang telah disampaikan tentunya dia juga harus memenuhi syarat dan rukunnya puasa sehingga dia sah secara fiqih dan juga dia layak untuk mendapatkan ganjaran yang besar yaitu berupa ampunan Allāh Ta’ala atas dosa-dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang.

Mudah-mudahan kita bisa menyiapkan diri untuk menghadapi Ramadhān dengan keimanan yang benar dan dengan betul-betul mengharapkan pahala dari sisi Allāh Ta’ala.

Demikian mudah-mudahan bermanfa’at bagi kita semuanya.

Wa billāhi taufiq wal hidayah

وعليكـمــ اﻟسّلامــ ورحمـۃ اﻟلّـہ وبركاتہ


🌺 Program CINTA RAMADHAN ~ Cinta Sedekah

  1. Tebar Ifthar Ramadhan
  2. Program I’tikaf Ramadhan
  3. Bingkisan Lebaran u/ Yatim Dhu’afa

📦 Salurkan Donasi anda melalui :
Rekening Yayasan Cinta Sedekah
| Bank Muamalat Cabang Cikeas
| No.Rek  3310004579
| Kode Bank 147

Konfirmasi donasi sms ke
📱0878 8145 8000
dengan format :
Donasi Untuk Program#Nama#Jumlah Transfer#TglTransfer

🌐 www.CintaSedekah.Org
👥 Fb.com/GerakanCintaSedekah
📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: