Materi Tematik | Sandaran Hati

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 19 Shafar 1438 H / 19 November 2016 M
👤 Ustadz ‘Abdullāh Taslim, MA
📔 Materi Tematik | Sandaran Hati
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AT-SandaranHati

🌐 Sumber: https://yufid.tv/14480-ceramah-singkat-sandaran-hati-ustadz-abdullah-taslim-ma.html

SANDARAN HATI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوان

Ma’āsyiral Muslimīn Rahimakumullāh.

Banyak diantara kita yang tidak memahami tingginya kedudukan bersandar kepada Allāh dalam segala sesuatu yang kita inginkan. Baik dalam kebaikan-kebaikan urusan dunia apalagi dalam urusan agama.

Tidak sedikit diantara kita yang menganggap (misalnya) bertawakkal, berdo’a kepada Allāh, bergantung kepada-Nya itu adalah perkara yang dilakukan nomor dua, nomor tiga atau nomor empat. Pertama kita usaha dulu, lakukan dulu dengan anggota badan kita.

Biasanya orang-orang mengatakan ikhtiyār dulu baru tawakkal setelah itu.

⇒ Apakah ini benar?

Tentu ini bukan hal yang dibenarkan dalam agama.

Bertawakkal itu dilakukan dari awal, pertengahan dan sampai akhir, tidak dijadikan urusan kedua atau ketiga.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan dalam Al Qurān, hidayah tergantung dari i’tisham penyandaran diri kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Barang siapa yang selalu bersandar kepada Allāh, berpegang teguh dengan Allāh, maka dialah yang mendapatkan bimbingan, petunjuk untuk menempuh jalan yang lurus.”

(QS Ali ‘Imrān: 101)

Mengenai tawakkal, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam Al Qur’ān:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertawakkal (berserah diri) menyandarkan hatinya dengan benar kepada Allāh maka Allāh akan mencukupi segala urusan dan kebutuhannya.”

(QS Ath Thalāq: 3)

Coba lihat!

Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan tentang tawakkal itu yang harusnya diutamakan (didahulukan).

Memang kita diperintahkan untuk melakukan sebab.

Tapi siapa yang mengatakan sebab itu hanya usaha-usaha zhahir yang dilakukan manusia?

Hanya berdasarkan apa yang dipikirkan, strategi yang dirancang manusia atau kekuatan fisiknya, keterampilan badannya, siapa yang mengatakan demikian?

⇒ Do’a adalah sebaik-baik usaha, penyandaran hati adalah usaha yang paling utama.

Imām Ibnu Qayyim rahimahullāh mengatakan:

إن الدعاء من أقىوى الأسباب لجلبل مصاله ودفع المكرة

“Sesungguhnya do’a termasuk usaha yang paling kuat, sebab yang paling besar untuk bisa mendatangkan kebaikan-kebaikan dan menolak keburukan-keburukan (kejelekan-kejelekan).”

Jadi penyandaran hati, tawakkal, takut dan berharap kepada Allāh, yakin dengan pilihan-Nya, ridhā dengan ketentuan-Nya, selalu bersangka baik kepada Allāh, ini justru yang menentukan keberhasilan dan kebaikan. Ini justru yang menjadikan tenang hati hamba ketika bersandar kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karenanya, dalam hadīts qudsi Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

أَنَا عِندَظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku ini sesuai dengan persangkaan, sesuai dengan pengharapan hambaku kepadaku.”

(Muttafaqun ‘alaih)

Lihatlah, dalam hal pengampunan dosa, sebanyak apapun hamba berbuat dosa, Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam sebuah hadīts qudsi yang shahīh riwayat Tirmidzi dan yang lainnya:

يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ

“Wahai manusia, selama engkau masih berharap kepada Allāh, berdo’a kepada Allāh maka aku akan ampuni semua dosa-dosamu, tidak perduli sebanyak apapun dosa tersebut.”

(Hadīts shahīh riwayat Tirmidzi nomor 3540)

Salah seorang shahābat Nabi  shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika (sedang sakit) pernah dijengguk oleh Nabi  shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Ditanya oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam :

كَيْفَ تَجِدُك

“Apa yang kamu rasakan saat ini?”

Shahābat radhiyallāhu Ta’āla ‘anhum itu mengatakan:

إِنِّى أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّى أَخَافُ ذُنُوبِي.

“Wallāhi Yā Rasūlullāh, aku benar-benar mengharapkan rahmat Allāh dan mengkhawatirkan dosa-dosaku (takut dosa-dosaku).”

Ketika itu Rasūlullāh  shallallāhu ‘alayhi wa sallam  bersabda:

لاَ يَجْتَمِعَانِ فِى قَلْبِ عَبْدٍ فِى مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

“Demi Allāh yang jiwaku ditangan-Nya, tidaklah terkumpul dua perasaan (yaitu) takut dan berharap dalam hati seorang hamba dalam kondisi sakit seperti ini, kecuali Allāh akan berikan apa yang diharapkannya dan Allāh akan selamatkan dia dari apa yang dilakukannya.”

(Hadīts ini derajatnya hasan diriwayatkan oleh Tirmidzi nomor 983)

Luar biasa, pengaruh dari penyandaran hati.

Makanya a’āsyiral muslimīn rahimakumullāh, janganlah kita mempersempit yang luas, apalagi mengatakan:

“Kita dahulukan dulu usaha, menyusun strategi, perbuatan ketrampilan anggota badan, baru kita bertawakkal, baru kita berdo’a dan bersandar kepada Allāh.”

Subhānallāh.

√ Apakah pantas kita mengatakan pertolongan Allāh itu belakangan kita harapkan? Bukan dari awal?

√ Siapa yang akan memberikan bimbingan kepada kita dari awal untuk memulainya dengan tepat?

√ Untuk merencanakannya sesuai dengan sebab-sebab yang mendatangkan kebaikan, kalau bukan karena pertolongan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

⇒ Kenapa kita menjadikan, memohon pertolongannya itu nomor dua? Apalagi dalam urusan-urusan kebaikan yang berhubungan dengan agama?

Oleh karena itulah ma’āsyiral muslimīn rahimakumullāh, perkara tentang tawakkal, bersandar kepada Allāh tidak boleh kita remehkan. Sehingga sebelum berusaha, berbuat apa saja kita harus  berpikir:

→ Usaha ini bisa kita rancang strategi untuk menghasilkan yang baik.
→ Usaha ini mungkin dengan ketrampilan kita, hasil kursus kita, hasil bertanya kita, pengalaman kita, kita bisa memikirkan bagaimana caranya sebab-sebab untuk menghasilkan yang baik.

Tapi pertanyaannya, apakah kita tahu akibat kebaikan dari segala sesuatu ?

Apakah kita pastikan usaha yang kita anggap baik ini nanti juga akibatnya akan baik, dampaknya akan baik?

Utamanya bagi agama kita?

Pertanyaan yang lebih tinggi dari pada itu, apakah kamu yang lebih tahu dibandingkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla?

Siapa yang sempurna pengetahuannya, yang mengetahui segala sesuatu dengan akibat-akibatnya?

Siapa yang bisa memastikan kebaikan yang kita perkirakan ini benar-benar baik untuk agama kita?

⇒ Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang Maha mengetahui semuanya.

Makanya, perencanaan yang ada di dalam pikiran manusia bisa jadi dianggapnya baik, tapi bisa jadi setelah itu menimbulkan yang buruk.

Apa-apa yang tidak disukainya dianggap buruk, tapi ternyata bisa menghasilkan kebaikan. Karena manusia tidak tahu.

Bukankah Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman dalam Al Qur’ān:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُون

“Wahai manusia, bisa jadi kamu menyukai sesuatu (kamu membenci sesuatu) padahal itu mendatangkan kebaikan bagimu, atau kamu menyukai sesuatu padahal justru memberikan keburukan bagimu, dan Allāh Maha mengetahui sedangkan kalian (manusia) tidak mengetahui.”

(QS Al Baqarah: 216)

Maka tahu dirilah untuk kita kemudian mengatakan, “Setinggi apapun pengetahuan saya, saya tetap tidak mengetahui akibat dari segala sesuatu.”

Tahu dirilah untuk kita bersandar kepada sebaik-baik Dzat tempat kita pantas bersandar kepada-Nya, karena Dia sempurna ilmu-Nya, sempurna kebaikan-Nya, sempurna rahmat dan karunia-Nya.

Wallāhi, tentu pilihan-Nya lebih baik dari pada apa yang dipilih, dirancang dan direncanakan manusia itu untuk dirinya sendiri. Karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang Maha mengetahui dan Maha kuasa atas segala sesuatu.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan nasehat ini bermanfaat dan memahami bahwa penyandaran diri kita kepada Allāh dari awal sampai akhir justru yang merupakan penentu terbesar dari kebaikan, hasil yang baik, dan kesudahan yang baik dari segala urusan kita.

Demikianlah mohon maaf atas segala yang salah dan kurang.

Shallallāhu wa sallam wabārak ‘alā nabiyyinā Muhammad wa ‘alā alihi wa ashabihi waman tabi’ahum bi ihsanin ila yaumidīn, walhamdulillāhi rabbil’alamīn.

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah…
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

  1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh
  2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
  3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/

📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: