Materi Tematik | Mendidik Anak Pandai Berdzikir 5/5 (1)
5/51

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 16 Rabi’ul Akhir 1438 H / 14 Januari 2017 M
👤 Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, Lc
📔 Materi Tematik | Mendidik Anak Pandai Berdzikir

🌐 Sumber: Baituna-Majalah As-Sunnah edisi 05 tahun XIX, Dzulqa’dah 1436H

MENDIDIK ANAK PANDAI BERDZIKIR DAN BERSYUKUR

Dzikir dan syukur merupakan dua hal yang sangat penting yang bertalian erat satu sama lain dalam kehidupan beragama seorang Muslim. Seorang Muslim tidak boleh lalai dari dua hal ini.

Imam ibnu Al Qayyim rahimahullāh menegaskan bahwa keduanya merupakan asas agama. Beliau rahimahullāh mengatakan:

“Bangunan agama didirikan berdasarkan dua asas: dzikir dan syukur.”

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka berdzikirlah (ingatlah) kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu. Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah engkau mengingkari nikmat-Ku.”

(QS Al Baqarah: 152)

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhumā:

” يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّكَ ” . فَقَالَ ” أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ”

“Wahai Mu’adz, demi Allāh sesungguhnya aku mencintaimu, demi Allāh sesungguhnya aku mencintaimu.”

_Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, sungguh janganlah engkau tinggalkan di belakang setiap shalāt, untuk membaca doa:_

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allāh, tolonglah aku untuk senantiasa berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan untuk menjadi baik dalam beribadah kepada-Mu.”

(Hadits riwayat Abu Daud nomor 1522 dan Nasā’i nomor 1303)

==> Dzikir kepada Allāh berarti mencakup ingat terhadap nama-nama Allāh serta sifat-sifat-Nya (serta selalu menyebutnya dengan lisan).

Dua nash di atas menunjukkan betapa penting kedudukan dzikir dan syukur dalam Islam bagi kabaikan agama seorang Muslim.

Oleh sebab itu, jika semangat dzikir dan syukur ini ditanamkan ke dalam jiwa anak-anak semenjak dini melalui pendidikan yang baik, niscaya dengan taufik Allāh anak-anak tersebut kelak akan menjadi orang yang iman dan amaliyahnya sangat baik. Karena ia merupakan orang yang pandai dan terbiasa brdzikir serta bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Namun apa yang sebenarnya yang dimaksud dzikir dan syukur?

Imam ibnu Al Qayyim rahimahullāh selanjutnya menjelaskan:

▪Yang dimaksud dengan dzikir, bukan sekedar dzikir secara lisan, tetapi dzikir secara hati (ingat) dan secara lisan.

Dzikir kepada Allāh berarti mencakup:

(-) Ingat terhadap nama-nama-Nya, serta sifat-sifat-Nya (serta selalu menyebut-nyebutnya dengan lisan).

(-) Demikian pula ingat akan perintah dan larangan-Nya, mengimani sifat-sifat sempurna-Nya, mengimani keagungan-Nya, dan memuji-Nya dengan berbagai macam pujian.

Dan semua itu tidak mungkin terjadi dengan sempurna kecuali harus dengan mentauhidkan-Nya.

Jadi, dzikir kepada Allāh mengharuskan itu semua. Ditambah harus pula mengingat nikmat-nikmat serta karunia-karunia Allāh dan kebaikan-kebaikan-Nya kepada seluruh makhluk.

▪Adapun yang dimaksud dengan syukur adalah melaksanakan ketaatan kepada Allāh serta senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan bermacam-macam hal yang dicintai-Nya, baik secara lahir maupun bathin. (Al Fawā’id halaman 234 dengan terjemah bebas).

Dari keterangan Imam ibnu Al Qayyim rahimahullāh di atas, dapat disimpulkan bahwa:

Dzikir bukan sekedar ucapan lidah, tetapi mencakup ingat dengan hati kepada Allāh, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, keagungan-Nya, perintah serta larangan dan titah-titah-Nya.

Dan itu berarti harus hanya kepada Allāh semata.

Di samping itu, juga mengingat akan nikmat-nikmat serta kebaikan-kebaikan Allāh kepada semua makhluk. Sehingga seseorang akan banyak memuji-muji dan mengagungkan-Nya, baik dengan lidah maupun dengan hati.

Akibat dari semua itu adalah senantiasa bersyukur kepada-Nya dengan menjalankan ketaatan kepada-Nya dalam semua hal.

Konsekuensinya, seorang Muslim akan merasa malu dan takut untuk mempersekutukan-Nya dengan makhluk atau menambah-nambahkan suatu tata cara ibadah atau pendekatan diri, yang tidak dicontohkan dalam syariat-Nya.

Seorang Muslim pun akan malu dan takut berbuat maksiat kepada-Nya. Sebab, ia selalu ingat  dan bersyukur akan nikmat-nikmat-Nya.

Itulah (kata Imam ibnu Al Qayyim rahimahullâh malanjutkan), dua perkara yang menjadi tujuan mengapa Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan jin dan manusia, menciptakan langit-langit dan bumi, menetapkan adanya pahala dan hukuman, menurunkan kitab-kitab-Nya, serta mengutus rasul-rasul-Nya.

Tujuan inilah yang disebut al haq (kebenaran dan kesungguhan) ketika Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan langit-langit dan bumi beserta segala apa yang ada di antara keduanya.

Bukan kesia-siaan dan main-main seperti yang disangkakan oleh orang-orang kafir, musuh-musuh Allāh.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya hanya untuk kesia-siaan (tanpa hikmah). Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.”

(QS Ash Shad: 27)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينََ (٣٨) مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (٣٩)

“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya hanya untuk main-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq (benar), akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

(QS Ad Dukhan: 38-39)

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu hanya untuk main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?”

(QS Al Mukminūn: 115)

Dan masih banyak nash-nash lain yang menerangkan kesungguhan dari maksud diciptakannya alam semesta ini.

Wujud kesungguhan yang dimaksud adalah berbentuk peribadahan kepada Allāh saja. Yang itu hanya bisa akan terjadi jika seseorang senantiasa dzikir dan syukur.

Dzikir dalam arti ingat akan segala keagungan Allāh, keperkasaan-Nya, kebaikan-kebaikan-Nya serta kedahsyatan siksa-Nya dan kemudian selalu memuji-muji-Nya, baik dengan hati, lidah maupun tindakan.

Kesimpulannya, sangat penting mendidik anak-anak semenjak dini akan arti penting dari dzikir dan syukur. Sebab tanpa itu, ibadah yang dilakukan oleh anak-anak kelak mungkin akan menjadi tanpa penghayatan dan hambar. Akibatnya keyakinan, tauhid, keikhlasan dan kesungguhan ibadahnya akan rapuh.

Wal-‘iyādzu billāh, wa nas-alullāha at taufiq.


◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah…
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

  1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
  2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
  3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/

📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: