Materi Tematik | Menanamkan Akhlak Yang Mulia Kepada Anak (Bagian 2 dari 5)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 28 Rabi’ul Awwal 1438 H / 27 Desember 2016 M
👤 Ustadz Abdullāh Zaen MA
📔 Materi Tematik | Menanamkan Akhlak Yang Mulia Kepada Anak (Bagian 2 dari 5)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-AZ-AkhlakMulia-02

🌐 Sumber: https://youtu.be/rgdmJJrbxho

MENANAMKAN AKHLAQ YANG MULIA KEPADA ANAK BAGIAN 2 DARI 5

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إنَّ الـحَمْدَ لله نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون, َ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا الله الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ,فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allāh Tabāraka wa Ta’āla. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kepada para shahābatnya, keluarganya dan umatnya yang setia mengikuti tuntunannya, hingga diakhir nanti.

Para shahābat BiAS yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita akan melanjutkan pembahasan tentang fiqih pendidikan anak.

Kalau kita menginginkan anak kita baik, maka kita harus berusaha. Banyak orang tua yang ingin anaknya baik tetapi dia tidak pernah berusaha.

. Dia ingin anaknya bertutur kata lembut, tapi dia tidak pernah membiasakan anaknya bertutur kata lembut.

. Dia ingin anaknya punya unggah-ungguh tetapi dia tidak pernah mengajarkan anaknya unggah-ungguh.

. Dia ingin anaknya taat beribadah tetapi dia juga tidak memperhatikan, tidak pernah menegur tatkala anaknya tidak beribadah dengan baik.

Ini namanya jauh panggang dari api.

Bagaimana mungkin kita memiliki anak yang baik prilakunya kalau kita tidak pernah berusaha?

Kita sebenarnya sudah diberi bantuan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang luar biasa, yaitu berupa modal.

Apa itu modalnya?

Modalnya adalah anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, fitrah yang bersih.

Jadi, sebenarnya anak itu gampang untuk diarahkan.

Sehingga tidak benar bila ada ungkapan yang mengatakan, “Anakku memang susah sekali.”

Kenapa?

Karena kita sendiri yang tidak bisa memanfaatkan modal yang Allāh berikan.

Seharusnya ketika ada sesuatu yang bersih, fitrah yang bersih, seperti kertas yang putih. Kertas putih ini sudah merupakan modal. Bagaimana kita akan mengambar diatas kertas itu? Dengan gambar yang bagus atau dengan gambar yang jelek.

Sekarang, bila ada kertas yang putih kemudian kita menggambar disitu dengan gambar yang jelek, lalu yang salah siapa?

Yang salah yang mengambar atau kertasnya?

Yang salah adalah yang menggambar, bukan kertasnya.

Jadi, sebenarnya kita sudah diberi modal oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla anak itu lahir dalam keadaan fitrah.

Kata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah.”

(HR Abu Daud nomor 4093 versi Baitul Afkar Ad Dauliah nomor 4716)

Fitrah yang murni yang bersih mempunyai modal kecenderungan kepada sesuatu yang baik.

Sehingga keliru bila ada orang tua yang selalu menyalahkan anaknya ketika berperilaku jelek.

Anak itu sudah diberi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla kecenderungan untuk memilih sesuatu yang baik.

Sekarang bagaimana cara kita memolesnya?

Kita sudah diberi modal, kalau seandainya kita rugi di dalam berdagang padahal kita sudah punya modal, jangan disalahkan modalnya tapi salahkanlah diri kita.

Kenapa kita tidak baik-baik di dalam mengelola modal tersebut?

Apabila kita sudah diberi modal seharusnya kita sudah bisa menghasilkan keuntungan bukan kerugian.

Maka disinilah tugas kita sebagai orang tua adalah tugas yang cukup (sangat) mulia namun cukup berat.

Kenapa?

Karena banyaknya tantangan-tantangan. Perilaku-perilaku jelek yang ada disekeliling kita.

Tidak usah kita keluar rumah, di dalam rumah kita sendiri kadang-kadang kita menyuruh untuk berperilaku yang baik kepada anak kita tapi disisi lain kita menyediakan alat yang lebih kuat untuk merubah perilaku anak tersebut.

Apakah itu? Televisi

Sekarang kita menyuruh anak kita untuk berperilaku baik, tapi sebentar saja dia melihat televisi, disitu ada film tentang bagaimana orang bertutur kata dengan tutur kata yang jelek.

Yang namanya film terkadang ditampilkan kata-kata yang jelek sehingga semua itu melekat dalam benak anak kita. Anak kita kadang bisa meniru kata-kata yang tidak baik dari televisi tersebut.

Apa orang tuanya yang mengajarkan ini semua?

Saya pikir tidak, itu semua mereka lihat dari tontonan. Anak kita disuruh untuk menjaga auratnya ternyata di televisi yang dilihat adalah tontonan wanita-wanita yang membuka aurat.

Jadi disisi lain kita berusaha menanamkan, kita berusaha untuk merajut kemudian kita sendiri yang membongkar rajutan tersebut.

Itu baru berbicara di dalam rumah belum bila kita berbicara di luar rumah.

Ada tetangga yang tidak baik. Makanya ada ungkapan arab yang mengatakan:

الجَارُ قَبلَ الدَّارِ

“Tetangga sebelum rumah.”

Apa maksudnya?

Maksudnya kalau kita ingin mengontrak rumah atau membangun rumah sebelum memilih lokasi rumahnya, dilihat dulu siapa tetangganya.

Jadi jangan milih karena tanahnya cocok baru kemudian melihat tetangga, bukan!

Pertama kali kita harus survey dahulu tetangganya seperti apa.

Apakah kanan kirinya adalah orang-orang shālih yang baik-baik, rajin shalāt?

Perilaku anak-anaknya bagaimana?

Jadi, kita harus mewaspadai itu semua karena apa?

Karena kita punya tanggung jawab untuk mendidik anak kita.

Makanya Imām Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullāh dalam salah satu kitābnya yaitu Tuhfatul Maudud bi Ahkāmil Maulud, beliau menjelaskan bahwa salah satu yang sangat dibutuhkan oleh anak ketika masa kecil adalah memperhatikan akhlaknya.

Kenapa?

Karena anak itu akan tumbuh sesuai dengan kebiasaan.

Kalau misalnya dari kecil dia sudah terbiasa untuk emosi, untuk serampangan, untuk rakus, untuk tergesa-gesa, untuk keras kepala, apabila dari kecil dia sudah terbiasa seperti itu maka dia akan kesulitan untuk merubah prilaku jelek itu ketika dia sudah dewasa.

Sampai disini pengajian kita pada kesempatan kali ini, terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf atas segala kekurangannya.

Kita tutup dengan membaca:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته


◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah…
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

  1. Pembangunan & Pengembangan Rumah Tahfizh
  2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
  3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/

📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: