Materi Tematik | Meet And Greet Ramadhan (Bagian 5)

🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 23 Sya’ban 1437 H / 30 Mei 2016 M
👤 Ustadz Nuzul Dzikri, Lc
📔 Materi Tematik | Meet And Greet Ramadhan (Bagian 5)
⬇ Download Audio: bit.ly/BiAS-Tmk-Ramadhan1437-UND-05
📺 Video Source: https://youtu.be/yvJZJnlckCQ
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

MEET AND GREET RAMADHAN (BAG. 5)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن سرى على نهده باحسن إلى يوم الدين. وبعد:

Apa yang harus kita lakukan, agar kita bisa bertemu dengan Ramadhan, agar Ramadhan benar-benar menjadi rahmat bagi kita.

(6) Yang keenam

Sebelum 1 Ramadhan buat target.

Buat target lalu buat schedule untuk Ramadhan dan berani meng-cancel dan mengorbankan sebagian aktivitas dunia kita.

Target penting, kalau kita tidak punya target repot kita. Kita akan menunda dan menunda.

Misalnya membaca Al Qurānul karīm, kita harus buat target.

“Saya harus khatam Al Qurānul karīm. Kalau bisa lebih baik dari tahun lalu, minimal satu kali khatam. Harus satu kali khatam.”

وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa membaca 1 huruf dalam Al Qur’an maka Allāh akan berikan pahala. Dan satu pahala Allāh kalikan 10. Aku tidak pernah mengatakan  الم itu satu huruf. Namun alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.”

(HR Tirmidzi nomor 2835, versi Maktabatu al Ma’arif Riyadh nomor 2910)

Masa kita tidak tertarik?

Ini promo dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, الم itu 30 pahala lho.
Harus sekali khatam.

Nah, setelah kita pastikan satu kali khatam, maka berikutnya buat schedule (jadwal).

Satu kali khatam berarti satu hari satu juz. Satu juz itu ada 10 lembar, maka antum bagi.

Misalnya, ini contoh saja:

√ sebelum sahur 1 lembar,
√ ba’da subuh 2 lembar, jadi 3,
√ nanti dhuha misalnya 2 lembar, jadi 5,
√ ba’da dzuhur biasanya kita makan siang 2 lembar lagi, jadi 7,
√ lalu ashar bikin 1 lembar, jadi 8,
√ magrib, isya, selesai.

Jika tidak maka akan kita tunda terus. Harus ada schedule, tidak bisa tidak.

Para ulama mengatakan:

التَّزْوِيْزُ مِنْ جُنُوْدِ إِبْلِيْس

“Menunda-nunda itu adalah bala tentara iblis.”

Jadi harus pakai schedule.

Infaq, sedekah misalnya, antum harus punya target.

Misalnya, “Sehari, 50.000 harus hilang dari dompet saya.”

Harus begitu. Tidak mau tahu caranya, 50.000 harus hilang.

Jadi, jika maghrib, 50.000 masih utuh, antum sudah panik, antum galau.

Jika tidak ada target, kita akan nunda lagi, “Besok aja, pasti in syā Allāh ketemu faqir miskin.”

Tapi kalau sudah target 50.000 harus hilang, kita akan cari.

Ada tukang ketoprak, “Nih bang 50.000.” Tukang ketoprak tidak ada, ada satpam komplek kasih 50.000. Tidak ada semuanya, tetangga lagi nyiram bunga, kasih 50.000. Pokoknya siapa aja kasihlah.

Atau ada pembantu, kasih 50.000. Istri kita ada itu, kasih 50.000, atau istri kasih suaminya 50.000. Pokoknya 50.000 harus hilang.

Nah itu baru Ramadhan,  harus ada target. Tanpa target, tidak bisa. 30 hari itu sebentar.

Harus berani memperioritaskan akhirat dan mengorbankan sebagian aktivitas dunia kita.

Ini Ramadhan, bukan bulan yang lain. Cancel yang bisa di cancel.

Para ulama itu liburnya 2 bulan, satu bulan TC (training center) Sya’ban, satu bulan Ramadhan, total 2 bulan. Itu toko tutup, usaha berhenti dan masuk lagi Syawal.

Ini luar biasa. Belum tentu kita ketemu lagi. Maksimalkan 1 bulan ini. Yang bisa di cancel, di cancel. Selama kita tidak melalaikan kewajiban kita dan tanggung jawab kita.

Berkah Ramadhan pas kita benar-benar berusaha beribadah kepada Allāh.

Saya punya kenalan, dia pingin ‘itikaf. Tapi di ultimatum oleh kampungnya, disuruh pulang, dusuruh mudik. Orangnya pas-pasan, biasa-biasa saja. Galau sekali, karena dia ingin malam-malam terakhir, prime timenya (puncaknya) Ramadhan, dia bisa beribadah, tapi dia disuruh mudik.

Akhirnya dia putuskan saya mudik dengan jalur udara, padahal dia tidak punya uang.

Terus saya bilang, “Kan mahal Pak?”

“Daripada saya naik mobil, malam 27 saya di pantura Pak, macet segala macam dan seterusnya, mendingan saya naik pesawat saja.”

Eh, ketika dia beli tiket pesawat, ekonomi class habis, dia beli bisnis, dia, istrinya, anak-anaknya bisnis semua. Padahal saya tau kemampuannya tuh biasa-biasa aja, tidak nutuplah.

Tapi itu Ramadhan, para ulama, para sahabat rādiallahuta’ala anhum, mereka bisa sehari khatam.

Jika Ustman sibuk dengan tokonya bagaimana sehari khatam? Tidak mungkinlah.

Itu menurut para ulama. Itu Ramadhan. Kalau cuma kongkow, cuman ngumpul, cuman curhat, itu bukan Ramadhan.

Ramadhan, fastabiqul khairāt.

Ini yang perlu kita camkan hadirin hadirat yang dirahmati oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala. Berani.

Ada sebagian ibu-ibu kalau Ramadhan katering, tidak mau masak.

“Habis waktu saya.”

Katering dan suaminya ridhā. Saur dibawa, buka puasa dan makan malam katering. Jadi dia bisa baca Qurān. Itu yang harus kita pikirkan.

Kenapa ahli dunia berani mengorbankan uang untuk dunia mereka, kita tidak berani mengorbankan uang untuk akhirat kita?

Allāh akan ganti, tidak mungkin Allāh tidak ganti.

Jika kita korbankan dunia, di Sya’ban, di Rājab Allāh akan ganti. Tidak mungkin di Ramadhan tidak diganti.

Ingat sekali lagi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh salah seorang sahabat:

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah ‘Azza wa Jalla, kecuali Allah akan menggantikannya bagimu dengan yang lebih baik bagimu.”

(HR Ahmad)

(7) Yang ketujuh

Dan yang terakhir, doktrin diri kita, bangun perasaan bisa jadi Ramadhan ini, Ramadhan terakhir kita.

Ramadhan terakhir, tiada Ramadhan di tahun depan. Tidak ada Ramadhan di 2 tahun yang akan datang.

Ini kesempatan terakhir kita:

√ Kesempatan terakhir kita berpuasa.

√ Kesempatan terakhir kita merasakan syahdunya sahur bersama pasangan tercinta kita, dengan anak-anak kita.

√ Kesempatan terakhir melihat gelak tawa cucu kita, anak-anak kita ketika berbuka, ini kesempatan terakhir.

√ Kesempatan terakhir membaca Al Qur’an di bulan Qur’an.

√ Kesempatan terakhir mencatatkan nama kita sebagai pengkhatam-pengkhatam Al Qur’an dibulan suci Ramadhan.

√ Kesempatan terakhir untuk qiyamul lail.

√ Kesempatan terakhir untuk tahajud dibulan yang penuh berkah ini.

Tanamkan perasaan ini, doktrin diri kita, ini bisa jadi kesempatan terakhir, ini kesempatan terakhir.

Dan ini bukan sugesti belaka, ini riil, persentasenya 50% 50%. Karena kita tidak tahu kapan kita meninggal dunia.

Dan kita buktikan betapa banyak diantara kita yang Ramadhan tahun lalu ditemani oleh salah satu orang terdekatnya sekarang sudah tidak ada, sekarang sudah masuk bersama hewan-hewan di dalam tanah.

Seseorang yang merasakan bahwa ini adalah Ramadhan terakhirnya, maka dia akan luar biasa beribadah. Orang akan mengeluarkan seluruh potensinya ketika dia merasa ini adalah kesempatan terakhir.

Ini “The Last Chance”.

Dipertandingan final piala dunia, kalau sudah perpanjangan waktu, itu keeper maju lho. Dia sudah tidak peduli lagi, dia akan habis-habisan. Apalagi kalau dia ketinggalan.

Kita ini ketinggalannya banyak banget lho. Masa lalu kita berlumuran dosa dan maksiat.

Keeper maju, dia tidak peduli lagi tuh gawang. Apalagi kalau tendangan sudut, tendangan bebas, dia akan maju sampai kotak pinalti lawan.

Ini saatnya kita mengejar ketinggalan kita. Ini kelas akselerasi. Dimana amal ibadah dilipatgandakan oleh Allāh Subhanahu Wa Ta’ala. Dan bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita.

Nabi shālallahu ‘alayhi wassalam bersabda:

فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ

“Shālatlah anda seperti anda mengerjakan shālat terakhir di muka bumi ini.”

(Hasan. Dikeluarkan oleh Ahmad (5/412), Ibnu Majah(4171), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (1/462) Al Mizzi (19/347) dan Lihat Ash Shahihah (401))

Kita akan khusyu’, kita akan menangis kepada Allāh Subhanahu wa Ta’ala, kita akan merintih, kita akan sujud selama-lamanya.

Ramadhan ini bisa jadi kesempatan terakhir rekan-rekan sekalian. Perjumpaan kita dengan Ramadhan tahun ini, insya Allāhu Ta’ala adalah sebuah momentum dan pengalaman emas dalam kehidupan kita.

Dan bisa jadi ini adalah kesempatan terakhir kita untuk berinteraksi dengan Ramadhan, maka siapkanlah perbekalan kita dan siapkanlah seluruh amunisi kita untuk fight di Ramadhan.

Dan jangan lupa berdo’a kepada Allāh agar Allāh pertemukan kita dengan Ramadhan tahun ini. Karena walaupun sudah di depan mata kita, tetapi tidak ada yang tahu ajal. Betapa banyak orang yang meninggal H-1 Ramadhan, betapa banyak orang yang meninggal sebelum matahari terbenam masuknya bulan suci Ramadhan.

Maka berdo’alah kepada Allāh Subhanahu wa Ta’ala agar Allāh berikan kesempatan kita untuk mencuci segala dosa-dosa kita.

Dan sekali lagi kalau Allāh sudah berikan kita kesempatan, maka itu nikmat dari Allāh. Hendaklah kita bersyukur dengan memaksimalkannya sebaik dan sebaik-baik mungkin sehingga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang divonis celaka oleh Nabi kita shālallahu ‘alayhi wassalam.

Dan Allāh akan menguji kita mana yang akan kita pilih, apakah akhirat atau dunia?

Dan betapa banyak orang yang Allāh katakan:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا

“Namun kalian lebih memilih dunia.”

(QS Al A’lā: 16)

Saya harap rekan-rekan sekalian benar-benar bisa berpikir jernih dan bisa memaksimalkan Ramadhan tahun ini.

Semoga bermanfa’at.

Wa’alikumsalam Warāhmatullāāh Wabarākaatuh


📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: