Malam Keberapa Lailatul Qadar Turun?

 

Kemudian ada juga yang berpendapat bahwa Lailatul Qadr itu terdapat pada malam keduapuluh satu. Yang demikian itu didasarkan pada hadits Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata: “Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah beri’tikaf pada sepuluh pertama dari bulan Ramadhan. Dan kami juga pernah beri’tikaf bersama beliau, lalu Jibril mendatangi beliau seraya berkata, ‘Sesungguhnya apa yang engkau minta sudah berada di depanmu. Oleh karena itu, beri’tikaflah pada sepuluh pertengahan.’ Maka kami pun beri’tikaf bersama beliau. Lalu Jibril mendatangi beliau dan berkata, ‘Sesungguhnya apa yang engkau minta sudah ada di depanmu.’ Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم berdiri untuk menyampaikan khutbah pada pagi hari kedua puluh dari bulan Ramadhan seraya berucap, ‘Barangsiapa yang beri’tikaf bersamaku maka hendaklah dia pulang kembali, karena sesungguhnya aku telah melihat Lailatul Qadr. Dan sesungguhnya aku melupakannya, dan sesungguhnya ia ada pada sepuluh terakhir pada malam ganjil. Dan aku melihat seakan-akan aku bersujud di tanah dan air.’ Dan pada waktu itu atap masjid masih berupa pelepah kurma dan kami tidak bisa melihat sesuatu di langit. Lalu Lailatul Qadr itu datang secara tiba-tiba sehingga hujan turun menyiram kami. Selanjutnya, Nabi صلى الله عليه وسلم mengerjakan shalat bersama kami sehingga aku melihat bekas tanah dan air pada dahi Rasulullah صلى الله عليه وسلم, sebagai bentuk pembenaran mimpi beliau.”

Dan dalam sebuah lafazh disebutkan; yaitu pada pagi hari keduapuluh satu. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab ash-Shahihain. Asy-Syafi’i mengatakan: “Dan hadits ini merupakan riwayat yang paling shahih dari riwayat-riwayat mengenai hal ini.” Dan ada juga yang mengatak “Malam keduapuluh tiga.” Yang demikian itu didasarkan pada hadits ‘Abdullah  bin Unais di dalam kitab Shahih Muslim, yang siyaq (redaksi)nya berdekatan dengan riwayat Abu Sa’id. Waallahu a’lam. Dan ada juga yang mengatak “Malam keduapuluh lima.” Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatk oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Abbas bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda:

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan, pada sembilan hari yang tersisa, pada tujuh hari yang tersisa dan pada lima hari yang tersisa.”

Banyak orang yang menafsirkannya sebagai malam-malam ganjil. Dan yang ini lebih jelas dan lebih populer. Ulama lain membawanya kepada malam-malam genap, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Si di dalam kitab Shahihnyu bahwa dia membawanya pada hal tersebut. Wallahu a’lam.

Dan ada juga yang berpendapat bahwa Lailatul Qadr itu jatuh pada malam keduapuluh tujuh. Hal tersebut didasarkan pada hadits Muslim di dalam Shahihnya. dari Ubay bin Ka’ab, dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم bahwasanya ia adalah malam keduapuluh tujuh. Selain itu, ada juga yang menyatakan bahwa Lailatul Qadr itu ada pada malam keduapuluh sembilan. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari ‘Ubadah bin ash-Shamit bahwa dia pernah bertanya kep: Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengenai Lailatul Qadr, lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

فِي رَمَضَانَ فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَإِنَّهَا فِي وَتْرٍ فِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ أَوْ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ أَوْ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ أَوْ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ أَوْ تِسْعٍ وَعِشْرِينَ أَوْ فِي آخِرِ لَيْلَةٍ

“Pada bulan Ramadhan, carilah ia (Lailatul Qadr) pada malam sepuluh : akhir, karena ia ada di malam ganjil; malam keduapuluh satu, atau keduapu. tiga, atau keduapuluh lima, atau keduapuluh tujuh, atau keduapuluh semb:. atau pada malam terakhir.”

Mengenai riwayat-riwayat ini Imam asy-Syafi’i mengatakan: “Pernah terlontar jawaban dari Nabi صلى الله عليه وسلم ketika seseorang bertanya kepada beliau, ‘Apakah kami harus mencari malam qadr pada malam tertentu?’ Beliau menjawab, ‘Benar.’ Sesungguhnya Lailatul Qadr itu merupakan malam tertentu yang tidak berpindah-pindah.'” Dinukil oleh at-Tirmidzi darinya sekaligus pengertiannya. Dan diriwayatkan dari Abu Qilabah bahwasanya dia pernah berkata, “Lailatul Qadr itu berpindah-pindah pada sepuluh malam terakhir.” Dan inilah yang diriwayatkan dari Abu Qilabah yang dinashkan oleh Malik, ats-Tsauri, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Abu Tsaur, al-Muzani, Abu Bakar bin Khuzaimah, dan lain-lain. Dan juga diriwayatkan dari asy-Syafi’i yang dinukil oleh al-Qadhi. Dan inilah yang paling mendekati kebenaran. Wallaahu a’lam.

Pendapat ini disandarkan pada hadits di dalam kitab ash-Shahihain dari ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما bahwasanya ada beberapa orang dari Sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم diperlihatkan Lailatul Qadr melalui mimpi pada malam keduapuluh tujuh dari bulan Ramadhan. Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ

“Aku melihat mimpi kalian itu telah terjadi pada malam tujuh terakhir. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin memperolehnya maka hendaklah dia mengejarnya pada tujuh malam terakhir.”

Dan disunnahkan untuk memperbanyak do’a di sepanjang waktu dan di bulan Ramadhan, perbanyaklah pada sepuluh malam terakhir di bulan yang sama, kemudian pada malam-malam ganjil. Dan yang disunnahkan dalam do’a ini adalah membaca do’a berikut ini:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemaaf yang menyukai maaf, karenanya berikanlah maaf kepadaku.”

Yang demikian itu didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Abdullah bin Buraidah bahwa ‘Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, jika aku bisa mendapatkan Lailatul Qadr, apakah do’a yang sebaiknya aku panjatkan?” Beliau menjawab, “Bacalah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemaaf Yang menyukai maaf, karenanya berikanlah maaf kepadaku.'”

Dan diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan Ibnu Majah serta al-Hakim di dalam Mustadrak-nya, dan dia mengatakan: “Hadits ini shahih dengan syarat Syaikhani (al-Bukhari dan Muslim). Dan juga diriwayatkan oleh an-Nasa-i.

Previous

Next

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: