Macam-Macam Ashabah

Pada bab ini Anda akan mempelajari:

        Ashabah bin Nafs

         Pengunggulan dari Segi Arahnya

         Pengunggulan dari Segi Derajatnya

         Pengunggulan dari Segi Kuatnya Kekerabatan

        Ashabah bil Ghair

         Syarat-syarat Ashabah bil Ghair

        Ashabah Ma’al Ghair

        Masalah Warisan Orang yang Memiliki Dua Jalur Keturunan

        Contoh-contoh Soal dan Jawabannya

Pada bab sebelumnya, kita sudah membahas sebagian besar contoh-contoh soal dan jawabannya yang di dalamnya banyak disertakan kasus ashabah, yakni kelompok ahli waris yang menerima sisa harta warisan setelah dibagikan kepada ashhabul furudh. Jika ternyata tidak ada ashabul furudh serta ahli waris lainnya, maka ashabah ini berhak mengambil seluruh harta peninggalan yang ada. Begitu juga, jika harta waris yang ada sudah habis dibagikan kepada ashabul furudh, maka para ashabah ini tidak mendapat bagian, kecuali untuk anak dan ayah yang selalu mendapat bagian, karena ia merupakan penghalang terkuat bagi ahli waris lainnya. Tidak peduli banyaknya ashabul furudh maupun ashabah, anak dan ayah selalu mendapatkan bagian.

Pada bab kali ini, saya mencoba membahas macam-macam ashabah lebih detail. Secara umum, ashabah terbagi menjadi dua macam, yaitu:

1.      Ashabah nasabiyah (karena nasab). Ashabah nasabiyah atau ashabah senasab ini adalah mereka yang menjadi kerabat si mayit dari laki-laki yang tidak diselingi antara dia dan pewaris oleh seorang perempuan, seperti anak, ayah, saudara sekandung atau saudara seayah dan paman sekandung atau paman seayah. Termasuk di dalamnya anak perempuan apabila ia menjadi ashabah dengan saudara laki-lakinya, saudara perempuan sekandung atau seayah yang menjadi ashabah karena bersama anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki, dan lain sebagainya. Ashabah nasabiyah ini terbagi lagi menjadi tiga macam, yaitu:

         Ashabah bin nafs (menjadi ashabah dengan dirinya sendiri, dan nasabnya tidak tercampur unsur wanita)

         Ashabah bil ghair (menjadi ashabah karena yang lain)

         Ashabah ma’al ghair (menjadi ashabah bersama-sama dengan yang lain)

Dalam ilmu faraid, apabila lafazh ashabah disebutkan tanpa diikuti kata lainnya (tanpa disertakan kata “bil ghair” atau “ma’al ghair”), maka yang dimaksud adalah ashabah bin nafs. Untuk penjelasan detail mengenai macam-macam ashabah nasabiyah di atas, insya Allah akan saya jelaskan berikut ini.

2.      Ashabah sababiyah (karena sebab). Jenis ashabah yang kedua ini disebabkan memerdekakan budak. Seorang bekas tuan (pemilik budak) dapat menjadi ahli waris bekas budak yang dimerdekakannya apabila budak tersebut tidak mempunyai keturunan dan kerabat lainnya. Saya tidak akan menjelaskan lebih jauh mengenai ashabah sababiyah ini, karena di zaman ini perbudakan sudah dihapus dan dilarang.

Ashabah bin Nafs

Ashabah bin nafs adalah laki-laki yang nasabnya kepada pewaris tidak tercampuri atau diselingi oleh kaum wanita. Jadi ashabah bin nafs ini harus dari kalangan laki-laki, sedangkan dari kalangan wanita hanyalah wanita pemerdeka budak. Ashabah bin nafs ini terdiri dari 4 arah, yaitu:

1.      Arah anak (furu’), yakni anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki dan seterusnya kebawah.

2.      Arah ayah (ushul), yakni ayah, kakek shahih, dan generasi seterusnya ke atas, yang pasti hanya dari pihak laki-laki.

3.      Arah saudara laki-laki, yakni saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki seayah, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung dan generasi seterusnya ke bawah, dan anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah dan generasi seterusnya ke bawah. Jadi  arah ini hanya terbatas pada saudara laki-laki sekandung dan yang seayah, termasuk keturunan mereka, namun hanya yang laki-laki. Adapun saudara laki-laki yang seibu tidak termasuk ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh.

4.      Arah paman, yakni paman sekandung, paman seayah, anak laki-laki dari paman sekandung dan generasi seterusnya ke bawah, anak laki-laki dari paman seayah dan generasi seterusnya ke bawah.Keempat arah ashabah bin nafs di atas kekuatannya adalah sesuai dengan urutan nomornya. Jadi arah anak lebih didahulukan daripada arah ayah, arah ayah lebih didahulukan daripada arah saudara laki-laki, dan arah saudara laki-laki lebih didahulukan daripada arah paman. Bila salah satunya menjadi ahli waris tunggal pewaris (yang meninggal dunia), maka ia berhak mengambil seluruh harta warisan yang ada. Namun bila ternyata pewaris mempunyai ahli waris dari ashhabul furudh, maka sebagai ashabah mendapat sisa harta setelah dibagikan kepada ashhabul furudh tersebut. Dan bila setelah dibagikan kepada ashhabul furudh ternyata tidak ada sisanya, maka para ashabah pun tidak mendapat bagian.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana jika para ashabah bin nafs tersebut lebih dari satu orang? Maka cara pengunggulannya atau pentarjihannya adalah sebagai berikut:

Pengunggulan dari Segi Arahnya

Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa ashabah bin nafs, maka pengunggulannya dilihat dari segi arah. Arah anak lebih didahulukan dibandingkan yang lain. Anak akan mengambil seluruh harta peninggalan yang ada, atau akan menerima sisa harta waris setelah dibagikan kepada ashhabul furudh bagian masing-masing. Apabila anak tidak ada, maka cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki dan seterusnya. Sebab cucu akan menduduki posisi anak bila anak tidak ada. Misalnya, seseorang wafat dan meninggalkan anak laki-laki, ayah, dan saudara sekandung. Dalam keadaan demikian, yang menjadi ashabah adalah anak laki-laki. Sebab arah anak lebih didahulukan daripada arah yang lain. Sedangkan ayah termasuk ashhabul furudh dikarenakan mewarisi bersama-sama dengan anak laki-laki. Sementara itu, saudara laki-laki sekandung tidak mendapatkan waris dikarenakan arahnya lebih jauh. Pengecualiannya, bila antara saudara laki-laki sekandung maupun saudara laki-laki seayah berhadapan dengan kakek. Rinciannya, insya Allah akan dijelaskan pada bab selanjutnya.

Pengunggulan dari Segi Derajatnya

Apabila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat beberapa orang ashabah bin nafs, kemudian mereka pun dalam satu arah, maka pengunggulannya dapat dilakukan dengan melihat derajat mereka, siapakah di antara mereka yang paling dekat derajatnya kepada pewaris. Misalnya, seseorang wafat dan meninggalkan anak serta cucu keturunan anak laki-laki. Dalam hal ini hak warisnya secara ashabah diberikan kepada anak, sedangkan cucu tidak mendapatkan bagian apa pun. Sebab, anak lebih dekat kepada pewaris dibandingkan cucu laki-laki. Contoh lain, bila seseorang wafat dan meninggalkan saudara laki-laki seayah dan anak dari saudara laki-laki sekandung, maka saudara seayahlah yang mendapat warisan. Sebab ia lebih dekat kedudukannya daripada anak dari saudara laki-laki sekandung. Keadaan seperti ini disebut pengunggulan menurut derajat kedekatannya dengan pewaris.

Pengunggulan dari Segi Kuatnya Kekerabatan

Pengunggulan ini hanya digunakan untuk arah saudara laki-laki dan arah paman. Bila dalam suatu keadaan pembagian waris terdapat banyak ashabah bi nafs yang sama dalam arah dan derajatnya, maka pengunggulannya dengan melihat manakah di antara mereka yang paling kuat kekerabatannya dengan pewaris. Sebagai contoh, saudara sekandung lebih kuat daripada saudara seayah, paman sekandung lebih kuat daripada paman seayah, anak dari saudara sekandung lebih kuat daripada anak dari saudara seayah, dan seterusnya.

Ashabah bil Ghair

Ashabah bil ghair hanya terbatas pada empat orang ahli waris yang kesemuanya wanita, yaitu:

1.      Anak perempuan, baik seorang ataupun lebih, akan menjadi ashabah bila bersamaan dengan anak laki-laki (saudara laki-lakinya).

2.      Cucu perempuan keturunan anak laki-laki, baik seorang ataupun lebih, akan menjadi ashabah bila berbarengan dengan cucu laki-laki keturunan anak laki-laki, baik ia saudara laki-lakinya atau anak laki-laki pamannya.

3.      Saudara perempuan sekandung, baik seorang ataupun lebih, akan menjadi ashabah bila bersama saudara laki-laki sekandung (saudara laki-lakinya).

4.      Saudara perempuan seayah, baik seorang ataupun lebih, akan menjadi ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-laki seayah (saudara laki-lakinya).

Ketentuan pembagian untuk ashabah bil ghair adalah bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan.

Syarat-syarat Ashabah bil Ghair

Ashabah bil ghair tidak akan terwujud kecuali dengan beberapa persyaratan berikut:

1.      Wanita-wanita tersebut harus yang tergolong ashhabul furudh. Bila wanita tersebut bukan dari ashhabul furudh, maka tidak akan menjadi ashabah bil ghair. Sebagai contoh, anak perempuan dari saudara laki-laki tidak dapat menjadi ashabah bil ghair dengan adanya saudara laki-laki sekandung dalam deretan ahli waris. Sebab dalam keadaan demikian, anak perempuan dari saudara laki-laki bukanlah termasuk ashhabul furudh.

2.      Laki-laki yang menjadi ashabah (penguat) harus yang sederajat. Misalnya, anak laki-laki tidak dapat menjadi penguat cucu perempuan, dikarenakan anak laki-laki tidak sederajat dengan cucu perempuan, bahkan ia menjadi penghalang hak waris cucu. Begitu juga anak laki-laki keturunan saudara laki-laki, tidaklah dapat menguatkan saudara perempuan sekandung disebabkan tidak sederajat.

3.      Laki-laki yang menjadi penguat harus sama kuatnya dengan ahli waris perempuan ashabul furudh. Misalnya, saudara laki-laki seayah tidak dapat menguatkan saudara perempuan sekandung. Sebab saudara perempuan sekandung lebih kuat kekerabatannya daripada saudara laki-laki seayah.

Setiap perempuan dari kelompok ahli waris ashabah bil ghair berhak mendapat bagian setengah jika sendirian, dan ia berhak mendapatkan bagian dua per tiga bila menerima bersama saudara perempuannya, dan akan menjadi ashabah bila mempunyai saudara laki-laki, yakni bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Kaidah ini hanya berlaku bagi keempat ahli waris dari kalangan wanita yang telah disebutkan diatas, yakni anak perempuan, cucu perempuan keturunan anak laki-laki, saudara perempuan sekandung, dan saudara perempuan seayah.

Adapun sebab penamaan ashabah bil ghair adalah karena hak ashabah keempat wanita itu bukanlah karena kedekatan kekerabatan mereka dengan pewaris, akan tetapi karena adanya ashabah bin nafs, yakni anak laki-laki, cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki, saudara laki-laki sekandung ataupun saudara laki-laki seayah mereka. Bila para ashabah bin nafs itu tidak ada, maka keempat wanita tersebut akan mendapat hak warisnya secara fardh.

Ashabah Ma’al Ghair

Ashabah ma’al ghair ini khusus bagi para saudara perempuan sekandung maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengan kelompok furu’ dari pihak perempuan, yakni anak perempuan, cucu perempuan keturunan anak laki-laki, dan generasi seterusnya ke bawah, dimana mereka (anak perempuan, cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan generasi seterusnya ke bawah tersebut) tidak mempunyai saudara laki-laki. Maka dalam hal ini, saudara perempuan sekandung ataupun saudara perempuan seayah akan menjadi ashabah. Jenis ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengan istilah ashabah ma’al ghair. Adapun saudara laki-laki seibu dan saudara perempuan seibu tidak berhak menjadi ahli waris bila pewaris mempunyai anak perempuan. Bahkan anak perempuan pewaris menjadi penggugur hak saudara (laki-laki atau perempuan) seibu sehingga tidak dapat menjadi ashabah.

Dalil untuk ashabah ma’al ghair adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari sebagai berikut: “Huzail bin Syarhabil berkata, ‘Abu Musa al-Asy’ari ra. ditanya tentang bagian warisan anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, dan saudara perempuan.’ Lalu Abu Musa menjawab, ‘Anak perempuan dan saudara perempuan mendapatkan bagian separuh, dan datanglah kepada Ibnu Mas’ud, niscaya dia akan mengikuti pendapatku. ‘Kemudian ibnu Mas’ud ra. ditanya tentang perihal yang sama dan diberitahukan mengenai pendapat Abu Musa, maka dia menjawab, ‘Sungguh, aku orang yang tersesat dan bukanlah termasuk orang yang memberikan petunjuk. Sesungguhnya, dalam masalah ini aku akan memberikan hukum sesuai dengan ketentuan yang disabdakan, ‘Anak perempuan memperoleh bagian separuh, cucu perempuan dari anak laki-laki memperoleh bagian seperenam sebagai penyempurna dua per tiga, dan sisanya, untuk saudara perempuan.’ Setelah itu, kami kembali mendatangi Abu Musa untuk mengabarkan pendapat Ibnu Mas’ud. Lalu Abu Musa berkata, ‘Janganlah kalian menanyakan kepadaku selama sang alim (Ibnu Mas’ud) ada pada kalian.'”

Dari penjelasan Ibnu Mas’ud di atas dapat disimpulkan bahwa hak saudara perempuan bila mewarisi bersama-sama dengan anak perempuan dan/atau cucu perempuan dari anak laki-laki, maka mengambil sisa harta pembagian yang ada. Hal ini berarti saudara perempuan sekandung atau saudara perempuan seayah sebagai ashabah ma’al ghair.

Di dalam kitab Hasyiyatul Bajuri halaman 108 dituliskan, “Adapun saudara perempuan (sekandung dan seayah) menjadi ashabah jika berbarengan dengan anak perempuan adalah agar bagian saudara perempuan terkena pengurangan, sedangkan bagian anak perempuan tidak terkena pengurangan. Sebab bila kita berikan hak waris saudara perempuan secara fardh, maka akan naiklah pokok pembagiannya dan hak bagian anak perempuan akan berkurang. Kemudian, di sisi lain tidaklah mungkin hak saudara perempuan itu digugurkan, karena itu dijadikanlah saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan seayah sebagai ashabah agar terkena pengurangan.”

Bila seorang saudara perempuan sekandung menjadi ashabah ma’al ghair, maka ia menjadi seperti saudara laki-laki sekandung sehingga dapat menghalangi hak waris saudara seayah, baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Selain itu, dapat pula menggugurkan hak waris yang di bawah mereka, seperti anak keturunan saudara sekandung ataupun seayah (keponakan), paman sekandung ataupun yang seayah. Begitu juga saudara perempuan seayah, apabila menjadi ashabah ma’al ghair ketika mewarisi bersama anak perempuan pewaris, maka kekuatannya sama seperti saudara laki-laki seayah hingga menjadi penggugur keturunan saudaranya dan seterusnya.

Contoh pertama, seseorang meninggal dunia dan meninggalkan anak perempuan, saudara perempuan sekandung, dan saudara laki-laki seayah. Maka bagian anak perempuan adalah setengah secara fardh, dan sisanya merupakan bagian saudara perempuan sekandung disebabkan ia menjadi ashabah ma’al ghair, yang kekuatannya sama seperti saudara laki-laki sekandung. Sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena adanya saudara perempuan sekandung.

Contoh kedua, seorang wanita meninggal dunia dan meninggalkan suami, cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki, dua orang saudara perempuan sekandung, dan saudara laki-laki seayah. Maka suami memperoleh seperempat bagian karena pewaris mempunyai cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki. Sedangkan cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat bagian setengah secara fardh, kemudian sisanya yaitu seperempat, menjadi hak dua saudara perempuan sekandung pewaris sebagai ashabah ma’al ghair. Sedangkan bagian saudara laki-laki seayah gugur karena adanya dua saudara perempuan sekandung.

Contoh ketiga, seseorang meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan, saudara perempuan seayah, dan anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung (kemenakan). Maka dua orang anak perempuan mendapatkan dua per tiga dan sisanya untuk saudara perempuan seayah disebabkan ia menjadi ashabah ma’al ghair. Sedangkan anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung terhalang oleh saudara perempuan seayah.

Contoh keempat, seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang anak perempuan, cucu perempuan keturunan anak laki-laki, seorang ibu, saudara perempuan seayah, dan paman sekandung. Maka anak perempuan mendapat bagian setengah sebagai fardh, cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapat seperenam bagian sebagai penyempurna dua per tiga, dan ibu mendapatkan seperenam. Sedangkan sisanya untuk saudara perempuan seayah sebagai ashabah ma’al ghair, karena kekuatannya seperti saudara laki-laki seayah sehingga ia menggugurkan paman sekandung.

Masalah Warisan Orang yang Memiliki Dua Jalur Keturunan

Terkadang ada seseorang yang mempunyai dua jalur keturunan, di mana setiap jalur yang ada membuat orang yang bersangkutan berhak mendapatkan warisan, misalnya ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai ashabah, atau ia sebagai ashhabul furudh dan juga sebagai dzawil arham. Kemudian timbul pertanyaan, apakah orang ini dapat mewarisi dua kali, dengan dua jalurnya itu atau hanya sekali saja?

Maka jawabannya adalah, hal tersebut sesuai dengan keadaannya. Semua itu dapat mengikuti kaidah-kaidah sebagai berikut:

1.      Apabila dalam diri seseorang terkumpul dua jalur keturunan atau lebih dan semuanya menjadikan ia sebagai ashabah, maka ia mewarisi melalui jalur yang lebih kuat. Contohnya, seorang anak laki-laki yang juga menjadi orang yang memerdekakan ayahnya. Maka ia akan mewarisi ayahnya dengan sifat sebagai anak bukan sebagai orang yang memerdekakan. Maka dapat disimpulkan, pada kasus ini seseorang tidak dapat mewarisi secara dua kali.

2.      Apabila dalam diri seseorang terkumpul bagian fardh dan juga bagian ashabah, maka ia dapat mewarisi melalui dua jalur tersebut. Misalnya, seseorang meninggal dunia dan meninggalkan seorang nenek, saudara laki-laki seibu, dan seorang suami, yang juga merupakan anak paman kandung pewaris. Maka untuk nenek seperenam, saudara laki-laki seibu seperenam, suami setengah sebagai fardh-nya, dan sisanya untuk suami sebagai ashabah karena ia anak paman kandung.

<

p style=”text-align: justify; margin-left: 18pt”>3.      Apabila jalur keturunan lebih dari satu yang tidak membawa banyak sifat bagi ahli waris, seperti nenek yang mempunyai dua jalur kekerabatan. Misalnya ibu dari ibunya ibu, yang pada saat bersamaan ia juga adalah ibu dari bapaknya bapak, maka pembagian warisan cukup satu kali, yaitu hanya mendapatkan seperenam.

Contoh-contoh Soal dan Jawabannya

Contoh 1

Seseorang meninggal dunia dan hanya meninggalkan ahli waris sebagai berikut:

Ahli Waris

Jumlah

Ayah

1

Anak perempuan

1

Anak laki-laki

1

Saudara sekandung perempuan

1

Berapakah bagian masing-masing ahli warisnya?

Jawaban:

Table pembagian awalnya adalah:

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Ayah

1/6

Mendapat hak waris secara fardh

Anak perempuan

Sisanya

Mendapat hak waris secara ashabah bil ghair

Anak laki-laki

Sisanya

Mendapat hak waris secara ashabah bin nafs

Saudara sekandung perempuan

Terhalang karena adanya anak laki-laki

Bagian anak laki-laki dan anak perempuan:

= 1 – Bagian ayah




Nilai di atas harus di tashih dahulu, yakni pembilang dan pembagi dikali dengan jumlah anak laki-laki dan anak perempuan, yakni 3 (ingat, anak laki-laki diibaratkan dengan dua anak perempuan). Maka pembagi yang baru adalah 6 x 3 = 18. Maka kini pembagian hak warisnya adalah sebagai berikut:

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Ayah

3/18

Mendapat hak waris secara fardh

Anak perempuan

5/18

Mendapat hak waris secara ashabah bil ghair

Anak laki-laki

10/18

Mendapat hak waris secara ashabah bin nafs

Contoh 2

Seseorang meninggal dunia dan hanya meninggalkan ahli waris sebagai berikut:

Ahli Waris

Jumlah

Suami

1

Saudara seibu laki-laki

1

Saudara sekandung laki-laki

1

Saudara sekandung perempuan

1

Berapakah bagian masing-masing ahli warisnya?

Jawaban:

Table pembagian awalnya adalah:

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Suami

1/2

Mendapat hak waris secara fardh

Saudara seibu laki-laki

1/6

Mendapat hak waris secara fardh

Saudara sekandung laki-laki

Sisanya

Mendapat hak waris secara ashabah bin nafs

Saudara sekandung perempuan

Sisanya

Mendapat hak waris secara ashabah bil ghair

Bagian saudara sekandung laki-laki dan saudara sekandung perempuan:

= 1 – Bagian suami – Bagian saudara seibu laki-laki




Nilai diatas ditashih menjadi 18. Maka kini pembagian hak warisnya adalah sebagai berikut:

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Suami

9/18

Mendapat hak waris secara fardh

Saudara seibu laki-laki

3/18

Mendapat hak waris secara fardh

Saudara sekandung laki-laki

4/18

Mendapat hak waris secara ashabah bin nafs

Saudara sekandung perempuan

2/18

Mendapat hak waris secara ashabah bil ghair

Contoh 3

Seseorang meninggal dunia dan hanya meninggalkan ahli waris sebagai berikut:

Ahli Waris

Jumlah

Anak perempuan

1

Cucu perempuan dari anak laki-laki

1

Cucu laki-laki dari anak laki-laki

1

Cicit laki-laki dari cucu laki-laki dari anak laki-laki

1

Berapakah bagian masing-masing ahli warisnya?

Jawaban:

Table pembagian awalnya adalah:

 
 

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Anak perempuan

1/2

Mendapat hak waris secara fardh

Cucu perempuan dari anak laki-laki

Sisanya

Mendapat hak waris secara ashabah bil ghair

Cucu laki-laki dari anak laki-laki

Sisanya

Mendapat hak waris secara ashabah bin nafs

Cicit laki-laki dari cucu laki-laki dari anak laki-laki

Terhalang karena adanya cucu perempuan dari anak laki-laki

Bagian cucu perempuan dari anak laki-laki dan cucu laki-laki dari anak laki-laki:

= 1 – Bagian anak perempuan




Nilai diatas ditashih menjadi 6. Maka kini pembagian hak warisnya adalah sebagai berikut:

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Anak perempuan

3/6

Mendapat hak waris secara fardh

Cucu perempuan dari anak laki-laki

1/6

Mendapat hak waris secara ashabah bil ghair

Cucu laki-laki dari anak laki-laki

2/6

Mendapat hak waris secara ashabah bin nafs

Contoh 4

Seseorang meninggal dunia dan hanya meninggalkan ahli waris sebagai berikut:

Ahli Waris

Jumlah

Cucu perempuan dari anak laki-laki

1

Saudara seayah perempuan

1

Anak laki-laki dari saudara sekandung laki-laki

1

Berapakah bagian masing-masing ahli warisnya?

Jawaban:

Table pembagian awalnya adalah:

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Cucu perempuan dari anak laki-laki

1/2

Mendapat hak waris secara fardh

Saudara seayah perempuan

Sisanya

Mendapat hak waris secara ashabah ma’al ghair

Anak laki-laki dari saudara sekandung laki-laki

Terhalang karena adanya cucu perempuan dari anak laki-laki

Bagian saudara seayah perempuan:

= 1 – Bagian cucu perempuan dari anak laki-laki




Maka kini pembagian hak warisnya adalah sebagai berikut:

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Cucu perempuan dari anak laki-laki

1/2

Mendapat hak waris secara fardh

Saudara seayah perempuan

1/2

Mendapat hak waris secara ashabah ma’al ghair

Contoh 5

Seseorang meninggal dunia dan hanya meninggalkan ahli waris sebagai berikut:

Ahli Waris

Jumlah

Suami

1

Anak perempuan

1

Nenek dari jalur ayah

1

Saudara sekandung perempuan

1

Berapakah bagian masing-masing ahli warisnya?

Jawaban:

Table pembagian awalnya adalah:

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Suami

1/4

Mendapat hak waris secara fardh

Anak perempuan

1/2

Mendapat hak waris secara fardh

Nenek dari jalur ayah

1/6

Mendapat hak waris secara fardh

Saudara sekandung perempuan

Sisanya

Mendapat hak waris secara ashabah ma’al ghair

Bagian saudara sekandung perempuan:

= 1 – Bagian suami – Bagian anak perempuan – Bagian nenek dari jalur ayah




Maka kini pembagian hak warisnya adalah sebagai berikut:

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Suami

3/12

Mendapat hak waris secara fardh

Anak perempuan

6/12

Mendapat hak waris secara fardh

Nenek dari jalur ayah

2/12

Mendapat hak waris secara fardh

Saudara sekandung perempuan

1/12

Mendapat hak waris secara ashabah ma’al ghair

Contoh 6

Seseorang meninggal dunia dan hanya meninggalkan ahli waris sebagai berikut:

Ahli Waris

Jumlah

Anak perempuan

1

Cucu perempuan dari anak laki-laki

1

Saudara sekandung perempuan

1

Saudara seayah laki-laki

1

Berapakah bagian masing-masing ahli warisnya?

Jawaban:

Table pembagian awalnya adalah:

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Anak perempuan

1/2

Mendapat hak waris secara fardh

Cucu perempuan dari anak laki-laki

1/6

Mendapat hak waris secara fardh

Saudara sekandung perempuan

Sisanya

Mendapat hak waris secara ashabah ma’al ghair

Saudara seayah laki-laki

Terhalang karena adanya saudara sekandung perempuan

Bagian saudara sekandung perempuan:

= 1 – Bagian anak perempuan – Bagian cucu perempuan dari anak laki-laki




Maka kini pembagian hak warisnya adalah sebagai berikut:

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Anak perempuan

3/6

Mendapat hak waris secara fardh

Cucu perempuan dari anak laki-laki

1/6

Mendapat hak waris secara fardh

Saudara sekandung perempuan

2/6

Mendapat hak waris secara ashabah ma’al ghair

Contoh 7

Seseorang meninggal dunia dan hanya meninggalkan ahli waris sebagai berikut:

Ahli Waris

Jumlah

Suami

1

Saudara sekandung perempuan

1

Saudara seayah perempuan

1

Saudara seayah laki-laki

1

Berapakah bagian masing-masing ahli warisnya?

Jawaban:

Table pembagian awalnya adalah:

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Suami

1/2

Mendapat hak waris secara fardh

Saudara sekandung perempuan

1/2

Mendapat hak waris secara fardh

Saudara seayah perempuan

Terhalang karena adanya saudara seayah laki-laki. Seandainya saudara seayah laki-laki tidak ada, maka saudara seayah perempuan ini akan mendapat warisan sebanyak 1/6 bagian, dan pembagi akan naik dari 6 menjadi 7.

Saudara seayah laki-laki

Terhalang karena sudah tidak ada sisa warisan

Maka kini pembagian hak warisnya adalah sebagai berikut:

Ahli Waris

Bagian

Keterangan

Suami

1/2

Mendapat hak waris secara fardh

Saudara sekandung perempuan

1/2

Mendapat hak waris secara fardh

Beri Nilai Artikel Ini:

Istilah Percarian:
ashabah bin nafsi, contoh ashabah bin nafsi, pertanyaan tentang ashabah

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: