Khutbah ‘Ied dan Anjuran Menghadirinya

Keenam Belas

KHUTBAH ‘IED DAN ANJURAN UNTUK MENGHADIRINYA

 

Abi Said Al-Khudri رضي الله عنه berkata: 

كَانَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوصِيهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ

“Nabi صلي الله عليه وسلم biasa keluar menuju mushalla pada hari Idul Fithri dan Adha. Maka yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia sedangkan mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf mereka. Beliau lalu memberi pelajaran, wasiat dan perintah”1 

Khutbah Id sebagaimana khutbah-khutbah yang lain, dibuka dengan pujian dan sanjungan kepada Allah Yang Maha Mulia. 

Berkata Ibnul Qoyyim رحمه الله:  “Beliau صلي الله عليه وسلم biasa membuka semua khutbahnya dengan pujian untuk Allah. Tidak ada satu hadits pun yang dihafal (hadits shahih yang menyatakan) bahwa beliau membuka khutbah Idul Fithri dan Adha dengan takbir. Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya2  dari Sa’ad Al-Quradhi muadzin Nabi صلي الله عليه وسلم, bahwa beliau memperbanyak bacaan takbir dalam khutbah dua Id, hal itu tidaklah menunjukkan bahwa beliau membuka khutbahnya dengan takbir”. (Zadul Ma’ad 1/447-448) 

Tidak ada yang shahih dalam sunnah bahwa khutbah Id dilakukan dua kali dengan dipisah antara keduanya dengan duduk.  Riwayat yang ada tentang hal ini lemah sekali. Al-Bazzar meriwayatkan dalam Musnadnya (no. 53-Musnad Sa’ad) dari gurunya Abdullah bin Syabib dengan sanadnya dari Sa’ad رضي الله عنه bahwa Nabi صلي الله عليه وسلم berkhutbah dengan dua khutbah dan beliau memisahkan di antara keduanya dengan duduk. 

Bukhari berkata tentang Abdullah bin Syabib: “Haditsnya mungkar” 

Dengan demikian, maka khutbah Ied itu tetap satu kali seperti asalnya. 

Menghadiri khutbah Ied tidaklah wajib seperti menghadiri shalat Id (yang hukumnya wajib), karena ada riwayat dari Abdullah bin Saib, ia berkata:  “Aku menghadiri Ied bersama Nabi صلي الله عليه وسلم. Ketika selesai shalat, beliau bersabda:

إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ

“Sesungguhnya kami akan berkhutbah, barangsiapa yang ingin tetap duduk untuk mendengarkan maka duduklah dan siapa yang hendak pergi maka dipersilahkan untuk pergi”3

Berkata Ibnul Qoyyim رحمه الله:4  “Nabi صلي الله عليه وسلم memberi keringanan bagi yang meghadiri shalat Id untuk duduk mendengarkan khutbah atau pergi (tidak mendengarkan khutbah)”5




1. HR. Bukhari  956,  Muslim 889, An-Nasa’i 3/187, Al-Baihaqi 3/280 dan Ahmad 3/36 dan 54

2. Dengan  nomor  1287,  dan  diriwayatkan  juga  oleh  Al-Hakim  3/607, Al-Baihaqi 3/299 dari Abdurrahman bin Sa’ad bin Ammar bin Sa’ad  muadzin. Abdurrahman berkata: “Telah menceritakan kepadaku bapakku dari bapaknya dari kakeknya …” lalu ia menyebutkannya. Riwayat ini isnadnya lemah, karena Abdurrahman bin Sa’ad rawi yang dhaif, sedangkan bapak dan kakeknya adalah rawi yang majhul (tidak dikenal).

3. HR. Abu Daud 1155,  An-Nasa’i 3/185,  Ibnu Majah 1290, dan Al-Hakim 1/295, dan isnadnya Shahih. Lihat Irwaul Ghalil 3.96-98

4. Zadul Ma’ad 1/448

5. Lihat pula Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam 24/214

 

Previous

Next

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: