Khutbah Jum’at Meneladani Khalifah Iii Utsman Bin Affan Radhiyallahu ‘anhu 5/5 (1)
5/51

Meneladani Khalifah III Utsman Bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu

oleh: Musthafa Aini, Lc.
KHUTBAH PErTAMA

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

 

Para Hadirin, Jama’ah Shalat Jum’at Sekalian
Pada kesempatan yang mulia ini, kami selaku khatib berpesan kepada diri kami sendiri dan kepada para Jama’ah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan dan kualitas ibadah kita kepada Allah Ta’ala, dengan cara sering dan selalu menghadiri majelis-majelis ilmu dan mengamalkan dengan tulus dan ikhlas ilmu-ilmu yang telah kita pelajari itu. Sebab hanya dengan cara seperti itulah keri-dhaan Allah dan RahmatNya makin mudah kita Raih, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Para Hadirin Kaum Muslimin yang Berbahagia
Allah Ta’ala di dalam al-Qur`an al-Karim menyebutkan banyak sekali sejarah atau kisah-kisah umat-umat terdahulu dan para Rasul beserta para pengikutnya, agar kita yang membacanya mendapat-kan ibrah dan pelajaran berharga darinya, sebagaimana Allah Ta’ala firmankan,

َقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111).

Sejarah Nabi kita, nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya pun bila dibaca dan dihayati dengan seksama sangat sarat dengan ibrah dan pelajaran yang patut kita teladani. Bahkan di antara para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu pun ada sosok-sosok manusia yang istimewa karena iman, takwa, ibadah, pengorbanan, jihad, infak fi sabilillah, zuhud, dan amal-amal kebajikan lainnya yang mereka kerjakan, sehingga di antara mereka ada yang telah mendapat kabar gem-bira dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu busyra biljannah atau “kabar gembira menjadi ahli surga”. Di antara sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah mendapatkan busyra biljannah itu adalah Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dan imam Muslim, dari sumber hadits Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, dia meriwayatkan, bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki suatu kebun, dan beliau menyuruhnya untuk menjaga pintu kebun tersebut. Dan ternyata datanglah seseorang dan minta izin (agar diperbolehkan masuk). Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اِئْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ.

Izinkan ia, dan sampaikanlah kabar gembira padanya, dengan surga.”

Ternyata orang itu adalah Abu Bakar. Lalu datang lagi orang lain dan juga minta izin. Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Izinkan dia, dan sampaikanlah kabar gembira kepadanya dengan surga.”
Dan ternyata orang itu adalah Umar bin al-Khaththab. Lalu datang lagi orang ketiga, juga meminta izin. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diam sejenak, lalu bersabda, “Izinkan ia, dan sampaikanlah kabar gembira padanya dengan surga di atas bala (bencana) yang menimpanya.” Dan ternyata orang itu adalah Utsman bin ‘Affan.

Hadirin, Jama’ah Shalat Jum’at yang Berbahagia
Yang perlu kita pertanyakan di sini adalah, kenapa dan bagaimana Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu sampai memperoleh “busyra” atau berita gembira seperti itu?
Inilah yang akan kita ungkap pada kesempatan khutbah kali ini, agar kita bisa mengambil hikmahnya.

Hadirin, Jama’ah Shalat Jum’at yang Berbahagia,
Nasab beliau:

a) Dari pihak silsilah nasab ayahnya, Utsman bin ‘Affan bertemu dengan silsilah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada Abdi Manaf.

b) Dari pihak ibunya, ibunya Arwa binti Kuraiz, yaitu putri dari Ummu Hukaim al-Baidha’ binti Abdul Muththalib, saudari kandung ayah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu Abdullah bin Abdul Muththalib.

Beliau masuk Islam:
Beliau termasuk as-Sabiqun al-Awwalun, termasuk golongan orang-orang yang pertama masuk Islam, bahkan beliau adalah orang laki-laki keempat yang masuk Islam, setelah Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Beliau masuk Islam melalui ajakan Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu.

Ciri-ciri fisik beliau:
Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu adalah seorang lelaki yang berperawakan sedang, tegap dan lebar, berkulit putih kemerah-merahan dengan wajah yang cukup tampan dan manis. Beliau juga berjenggot tebal, dan berambut keriting. Siapa saja yang melihatnya akan terpesona karena ketampanannya.

Hadirin, Jama’ah Shalat Jum’at, yang Berbahagia
Sifat-sifat kepribadian beliau:
Beliau adalah sosok manusia yang sangat pemalu, sehingga segan untuk berbicara. Namun apabila beliau berbicara, maka ucapan dan pembicaraan beliau sangat indah dan tepat, sehingga Abdur-rahman bin Hathib mengatakan, “Saya tidak pernah melihat seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang apabila berbicara lebih indah bahasanya dan lebih baik tutur katanya daripada Utsman bin ‘Affan, hanya saja be-liau adalah tipe lelaki yang takut berbicara.” (Thabaqat Ibnu Sa’ad).

Akan tetapi, jika beliau telah berbulat tekad melakukan sesuatu, tidak seorang pun yang dapat menghalanginya, dan beliau sama sekali tidak takut mati dalam menghadapi kematian. Ini terbukti pada saat beliau dibujuk dan dipaksa untuk melepaskan jabatannya sebagai “khalifah”, beliau mengatakan kepada para pemberontak “Saya tidak akan menanggalkan pakaian yang telah Allah pakaikan kepadaku, akan tetapi saya hanya menanggalkan apa yang kalian tidak suka”. (Thabaqat Ibnu Sa’ad: 3/66).

rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah bersabda, “orang yang benar-benar pemalu di antara umatku adalah Utsman.” (Ibnu Sa’ad: 3/60).
Dan beliau juga bersabda tentang Utsman bin ‘Affan, “Ketahuilah, aku malu kepada seorang lelaki yang para malaikat malu kepadanya.” (Muttafaq ‘alaih).
Ungkapan ini beliau ucapkan kepada istrinya, Aisyah yang bertanya kepada beliau, “Kenapa ketika Abu Bakar masuk, dan kemudian Umar masuk, engkau tetap seperti keadaan semula, tidak menutup pahamu yang terbuka, sedangkan ketika Utsman masuk malah engkau menutupnya?” Beliau menjawab, “Ketahuilah, aku malu kepada lelaki yang para malaikat pun malu kepadanya.”

Ibadah beliau:
Hadirin, Jama’ah Shalat Jum’at, yang Berbahagia
Utsman bin ‘Affan adalah sosok hamba Allah yang benar-benar patuh dan taat kepada Allah dan RasulNya, beliau adalah manusia yang sangat merindukan keridhaan Allah Ta’ala. Sikap beliau ini tampak dari perjalanan hidup beliau setelah masuk Islam.

  • Beliau adalah orang pertama yang berhijrah bersama keluarganya ke Habasyah (Etiopia) lalu ke Madinah, karena memenuhi perintah Allah dan RasulNya. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai hal ini, “Mereka berdua (Utsman dan istrinya) disertai oleh Allah, dan sesungguhnya Utsman adalah orang pertama yang berhijrah kepada Allah bersama istrinya sesudah Nabi Luth.” (Tarikh al-Khulafa`, karya as-Suyu-thi, hal. 151).

  • Beliau adalah salah seorang sahabat Nabi yang hafal al-Qur`an di luar kepala. Dan ada Riwayat yang menyebutkan bahwa beliau menamatkan al-Qur`an dalam satu malam pada saat shalat tahajjud. Bahkan disebutkan pula bahwa beliau selalu mengkhatamkan bacaan al-Qur`an di bulan suci Ramadhan tiga hari satu kali khatam.

  • Beliau juga adalah hamba Allah Ta’ala yang suka melakukan shaum (puasa), bahkan pada saat beliau dikepung oleh para pemberontak di kediamannya di Madinah dan beliau dibunuh dengan cara mengenaskan, beliau dalam keadaan berpuasa.

Kedermawanan beliau:
Utsman bin ‘Affan adalah salah satu hamba Allah yang berkecukupan dan diberi kemudahan mendapat Rizki, sehingga beliau dikenal sebagai salah seorang sahabat Nabi yang cukup kaya harta. Namun beliau tidak terlena dengan kekayaan tersebut. Beliau justru menjadikan kekayaannya sebagai sarana untuk mencari keridhaan Allah dan RasulNya. Maka dari itu, beliau dikenal sangat dermawan, suka berinfak fi sabilillah. Sebagai contohnya:

  • Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhijrah bersama para sahabatnya ke Madinah, di sana mereka kesulitan untuk mendapatkan air minum. Dan yang ada saat itu hanya sumur milik seorang dari Bani Ghifar, yang dikenal dengan sumur Rumah. Lelaki itu menjual airnya satu qirbah (galon sedang) dengan satu mud (kurma atau gandum). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta untuk memberikannya kepada kaum Muslimin dengan imbalan satu sumur di surga. Namun orang itu mengatakan, “Saya tidak punya apa-apa lagi selain sumur ini.” Dan ketika berita ini sampai kepada Utsman, maka beliau segera membelinya dengan harga 35.000 dirham, harga yang sangat tinggi saat itu. Lalu beliau datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengatakan, “Apakah engkau janjikan untukku pada sumur tersebut sebagaimana yang engkau janjikan pada orang itu?” Nabi menjawab, “Ya”. Dan Utsman mewakafkan sumur tersebut. (Fath al-Bari: 5/407-408).

  • Ketika kaum Muslimin berada dalam masa paceklik, sementara mereka harus berjihad fi sabilillah, dan tidak ada perbekalan (logistik) yang cukup untuk itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghimbau para sahabatnya untuk mendermakan hartanya. Maka Utsman bin ‘Affan bangkit dan mengatakan, “Ya Rasulullah, saya menanggung 300 ekor unta dengan segala perlengkapan di atasnya.” (Hr. at-Tirmidzi).

Di dalam Riwayat Ahmad disebutkan, bahwa beliau mendermakan sebanyak 1000 dinar yang beliau bungkus dalam ikatan kainnya lalu meletakkannya di pangkuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا ضَرَّ ابْنَ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ.

Tidak membahayakan bagi Utsman apa yang dia kerjakan setelah hari ini.” Beliau mengucapkannya berulang-ulang.

  • Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin memperluas wilayah Masjid Nabawi, Utsman bin Affan-lah yang membebaskan tanahnya dan membelinya kepada pemiliknya dengan harga 25.000 dirham (riwayat an-Nasa`i).

  • Beliau juga selalu menginfakkan hartanya kepada kaum kerabatnya dan juga suka membebaskan hutang orang yang berhutang kepada beliau. Dan beliau juga selalu menebus kemerdekaan budak sahaya setiap Jum’at. (Lihat lebih lanjut di Aqidah Ahlus-sunnah fi ash-Shahabah: 259-274).

Hadirin, Kaum Muslimin Sekalian
Jihad dan perjuangan beliau:
Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang mujahid yang selalu ikut serta di dalam perjuangan dan peperangan untuk menegakkan kalimatullah. Beliau terlibat langsung dalam perang Khandaq dan Hudaibiyah, Khaibar, Fathu Makkah dan lain-lain. Bahkan sumpah setia yang dikenal dengan “Bai`at ar-ridhwan” dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena Utsman bin ‘Affan.
Ketika beliau menjadi khalifah, beliau mengirimkan pasukan-nya untuk melanjutkan perjuangan menegakkan agama Allah Ta’ala, dan pada masa pemerintahan beliau banyak wilayah-wilayah di belahan bumi yang ditaklukkan, seperti Armania, Afrika, Qubrus, negeri bangsa Turki dan lain-lain.

Hadirian, Kaum Muslimin Sekalian
Serba-serbi mengenai keutamaan beliau:
Tidak hanya itu keutamaan Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu. Masih banyak lagi yang belum disebutkan, yang di antaranya saja:

  • Beliau termasuk ke dalam barisan syuhada’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendaki gunung uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Tiba-tiba gunung uhud bergetar, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ber-sabda, “Diamlah (tenanglah) wahai uhud, karena sesungguhnya di atasmu hanyalah seorang Nabi, shiddiq, dan dua orang syahid.”

  • Beliau adalah manusia satu-satunya yang menikahi dua putri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Ketika Ruqayyah Radhiyallahu ‘anha wafat, Nabi menikahkan Utsman dengan putrinya Ummi Kultsum. Dan setelah ummu Kultsum wafat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalau seandainya aku masih punya anak perempuan yang lain niscaya akan aku nikahkan kamu dengannya.”
    Karena pernikahan dengan dua putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam inilah Utsman dijuluki “Dzun Nurain” (pemilik dua cahaya).

  • Beliau juga adalah salah satu dari empat Khulafa` Rasyidin, yang wajib dipatuhi dan diteladani. Menurut pendapat yang Rajih di kalangan ulama Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah bahwa Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu menduduki urutan ketiga sebagai manusia terbaik dan paling utama setelah Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

 

Semoga kita semua pandai memetik ibrah dan hikmah dari para pendahulu kita yang shalihin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ, إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah yang kedua

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Setiap Muslim wajib menjadi seorang Muslim sejati yang ber-pegang teguh kepada kitab sucinya, yaitu al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta mempelajari sejarah dan perjalanan hidup Nabinya dan para sahabatnya, juga mempelajari sejarah para ulama pendahulunya, agar kecintaan kepada mereka makin tumbuh di dalam hati, dan agar bisa meneladani mereka dalam mengarungi kehidupan dunia ini.

Apabila seorang Muslim semakin mengetahui sifat-sifat terpuji para pendahulunya, perbuatan-perbuatan, dan amal shalih yang telah mereka lakukan, seperti kepatuhan mereka kepada Allah dan RasulNya, kezuhudan mereka, perjuangan mereka yang telah mengukir sejarah, kepahlawanan mereka fi sabilillah dan budi pekerti nan luhur yang menjadi daya tarik bagi orang-orang kafir untuk masuk Islam, maka dorongan untuk meneladani mereka semakin kuat di dalam jiwa kita.

Hadirin Jama’ah Shalat Jum’at yang Berbahagia
Marilah, sebelum kita menghadap kepada Allah menunaikan Shalat Jum’at, kita bermunajat dan merendahkan diri kepadaNya memohon kebaikan dunia dan akhirat kita,

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.

 

(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq Jakarta. Telp. 021-84998039. Diposting oleh: Abu Nabiel).

 

 

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: