Khutbah Jum’at Jangan Jadi Manusia Spons

Jangan Jadi Manusia Spons

oleh: Kholif Mutaqin Djawari.
KHUTBAH PErTAMA:

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Di antara adab menuntut ilmu sebagaimana diungkapkan oleh para ulama adalah bahwa seorang penuntut ilmu itu jangan sampai menjadi spons. Maksudnya adalah bahwa penuntut ilmu itu jangan mengambil sembarang ucapan dan informasi apa saja yang masuk ke telinganya, ibarat spons yang menyerap cairan apa saja tanpa pandang bulu. Ada air jernih diserap, ada air teh atau kopi diserap, ada air kotor diserap bahkan cairan beracun pun akan diserap juga. Maka seorang penuntut ilmu -bahkan juga setiap muslim- harus selektif dalam mengambil ucapan dan Rujukan, sebagaimana diisyaratkan dalam sejumlah ayat dalam al-Qur`an.
Artinya, orang yang mendengarkan ucapan harus berhati-hati dan hanya mengambil yang baik-baik dari ucapan tersebut.

Hadirin yang Dirahmati Allah
Dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim pun hendaknya bersikap demikian, selektif dalam menerima dan mengambil informasi. Jangan gampang menerima ucapan ataupun informasi yang disampaikan oleh sembarang orang, apalagi jika informasi tersebut terkait dengan Agama dan Syari’at, terkait dengan nama baik orang dan masalah-masalah sensitif lainnya. Sebab informasi yang diberikan oleh orang kepada kita sangatlah beragam. Ada se-bagian yang baik, tetapi banyak pula yang tidak baik, bahkan me-nyesatkan. Ada yang memberikan manfaat, namun tak jarang pula merugikan banyak pihak. Tidak semua orang ketika ia berbicara adalah ikhlas bertujuan untuk memberikan kebaikan dan manfaat kepada kita. Apalagi kalau kita perhatikan kondisi masyarakat di masa ini, banyak orang yang ketika berbicara, mereka tidak memiliki motivasi dan tujuan yang jelas. Masih banyak di antara mereka yang berbicara hanya sekedar untuk memperoleh keuntungan harta, jabatan, kedudukan, popularitas, agar orang tertarik mendengarkan ucapannya, agar orang tertawa, atau hanya sekedar bersandiwara belaka. Tidak peduli apakah yang diucapakan itu benar atau salah, haq atau batil, dusta atau kejujuran, bermanfaat atau merusak, berdosa atau berpahala, yang penting bisa bikin he-boh, menarik perhatian dan membuat orang-orang tertawa.

Saudaraku Kaum Muslimin
Jangan sampai telinga dan hati kita, kita jadikan keranjang sampah yang menerima apa pun yang dilemparkan orang. Sebab hati kita sangatlah lemah dan Rapuh, mudah goyah dan gampang terbolak balik sesuai namanya: الْقَلْبُ (hati) yang berasal dari akar kata قَلَبَ – يَقْلِبُ yang arti dasarnya adalah membolak atau membalik.

Dalam hal makanan saja kita sangat selektif, kita tidak mau menerima sembarang makanan yang ditawarkan orang, karena tentu khawatir badan kita akan sakit. Kita tentu akan menolak makanan yang mangandung zat berbahaya, makanan yang basi dan busuk, makanan yang tidak bermanfaat bahkan merusak badan dan ma-kanan-makanan yang merugikan atau membahayakan tubuh. Kita hanya mau makanan-makanan yang jelas baik, halal, bermanfaat, bergizi dan menyehatkan. Maka tentu kita wajib ekstra hati-hati dan lebih selektif dengan makanan hati kita, santapan Ruh kita. Apa-kah sembarang santapan kita terima? Apakah semua yang ditawar-kan dan diucapkan orang kita ambil? Kita telan bulat-bulat? Kita pegang bahkan kita jadikan kayakinan hidup (akidah)? Kalau ya, maka seperti apakah jadinya hati dan akal kita akhirnya?

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Terkait dengan masalah informasi dari pihak lain ini, Allah c telah berfirman memperingatkan kita agar melakukan tabayun, cek dan Recek terhadap sebuah berita.
Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa menge-tahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat: 6).

Sebuah perumpamaan Islami telah memperingatkan kita agar jangan menjadi seperti “hathibul lail” (pencari kayu bakar di kege-lapan malam), yang tidak bisa membedakan antara kayu dengan yang lainnya, apa saja yang dia dapat dia ambil, apa saja yang dia pegang dia sangka kayu bakar, bahkan ular sekalipun dianggap sebagai kayu bakar yang ketika dia memegangnya justru menggi-gitnya dengan bisanya.

Jangan sekali-kali demikian wahai kaum muslimin! Namun hendaknya kita menyikapi dan menerima informasi dengan panda-ngan yang terang dan jernih, kita lihat dan kita teliti terlebih dahulu, apakah benar atau tidak, apakah haq atau batil, apakah kebaikan atau keburukan. Inilah sikap yang seharusnya kita pegang, jangan sampai kita terpedaya dengan kemasan kata, jangan sampai kita tertipu dengan bungkus semata tanpa melihat apa isi dalamnya.

Hadirin yang Dirahmati Allah!
Kalau demikian, maka kita mungkin akan bertanya-tanya, “Ucapan siapakah yang paling berhak untuk diambil?”
Jawaban untuk pertanyaan di atas sangatlah jelas, yaitu Kita-bullah dan Sunnah Nabi a, yang keduanya merupakan petunjuk jalan, obat penyakit hati, dan santapan Ruhani yang paling berman-faat yang dapat membuat hidup hati manusia. Tentu sudah terlalu sering kita mendengarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan senantiasa diulang-ulang oleh para khatib atau penceramah dalam mukaddimahnya,

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ

Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Hr. Muslim).

Inilah ucapan yang paling berhak untuk diambil dan dipegang secara mutlak, inilah yang paling layak untuk didengarkan dan di-taati, dan inilah yang harus dijadikan sumber pengambilan ilmu. Jika seseorang enggan dengan Kitab Allah dan Sunnah RasulNya dan mengesampingkan keduanya, maka pasti akan menemui kege-lapan dalam menempuh jalan hidupnya. Dia pasti akan mengisi hatinya dengan selain keduanya, akan mengalami kekacauan dalam sikap dan pemikirannya, karena tidak mengambil sumber yang jelas dan terang, tetapi mengambil segala macam sumber dan ucapan manusia tanpa kecuali.

rasulullah telah mencela orang yang mengambil setiap ucapan lalu menceritakannya begitu saja kepada orang lain apa yang dia dengar itu, tanpa melakukan tabayun. Sabda beliau,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ.

Cukuplah pada diri seseorang yaitu dia menceritakan setiap apa saja yang didengarnya.” (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 5).

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Selain kitabullah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, masih ada lagi ucapan yang layak untuk kita jadikan Rujukan dalam Agama dan kebaikan. Yaitu ucapan dan pendapat Khulafa` ar-rasyidin, yang direkomendasikan oleh Rasulullah dengan sabdanya,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ؛ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ.

Wajib atas kalian untuk berpegang pada Sunnahku dan sunnah Khulafa’ ar-rasyidun yang telah mendapatkan petunjuk (sepeninggalku), gigitlah ia dengan gigi geraham(mu).” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 16692, Abu Dawud no. 44607, dan Ibnu Majah no. 42, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Sha-hihah, no. 2735 dan lainnya).

Sunnah adalah jalan hidup, berupa ucapan perbuatan mau-pun ketetapan. Jalan hidup Khulafa’ ar-rasyidun adalah jalan yang juga ditempuh oleh Rasulullah, dan pantang bagi mereka menam-bah atau mengurangi sunnah Nabi mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah menyebut jalan Khulafa’ ar-rasyidun juga sebagai sunnah. Mereka adalah para khalifah atau pengganti Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mengemban dakwah Islam, penerus Risalah, penegak Syariat dan Tauhid, ulama sekaligus mujahid, dan mujtahid paling utama. Mereka adalah Amirul Mukminin, imam kaum muslimin yang Allah mewajibkan ketaatan kepada mereka setelah menaati Allah dan rasul. Mereka mendapatkan ilmu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan begitu lengkap dan utuh. Demikian juga dengan ucapan para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain, lebih-lebih yang telah menjadi ijma’ (konsensus) mereka, yang Allah Ridha kepada mereka, dan mereka Ridha kepada Allah, serta telah dijanjikan dengan surga.

Selanjutnya kita juga dianjurkan untuk mengambil ucapan para penerus shahabat dari kalangan tabi’in, tabiut tabi’in dan para ulama umat dari masa ke masa di setiap zamannya, yang menempuh manhaj as-Salaf ash-Shalih tadi. Para ulama adalah pewaris Nabi, maka yang layak disebut ulama adalah yang mempunyai banyak bekal ilmu (warisan) yang bersumber dari Kitabullah dan Hadits Nabi, memahami kalam Allah dan ucapan rasulNya, mengetahui hukum-hukum syariat, dapat mengambil istinbat (kesimpulan) hukum, paham teori dan praktiknya. Kemudian secara umum kita juga mengambil ucapan-ucapan yang baik dari sesama muslim, ucapan yang bermanfaat dan membawa maslahat.

Dari mereka itulah kalau kita ingin mengambil perkataan dan ilmu, bukan dari sembarang orang. Apalagi orang yang tidak jelas akidahnya, tidak jelas manhajnya, tidak diketahui kepada siapa dia mengambil ilmu, tidak perhatian terhadap agama dan syariat, tidak perhatian terhadap halal haram, melakukan kebid’ahan, banyak meninggalkan sunnah Nabi dan banyak melakukan kemak-siatan bahkan dengan terang-terangan melakukannya di muka umum.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

KHUTBAH KEDUA :

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah
Sebelum khatib mengakhiri khutbah ini, khatib ingin menekankan secara khusus tentang pengambilan sumber dalam masalah akidah. Untuk sebuah keyakinan atau akidah, pantang bagi seorang muslim mengambil sumber dari selain al-Qur`an dan as-Sunnah. Seluruh ulama sepakat bahwa sumber pangambilan akidah bagi seorang muslim adalah al-Qur`an dan as-Sunnah, tidak ada ijtihad dalam masalah akidah. Apabila seorang ulama tidak berhak berijtihad dalam masalah akidah, maka apalagi selain ulama?

Di masa ini tidak sedikit manusia-manusia yang melemparkan berbagai wacana, teori-teori dalam agama, pendapat-pendapat dan ide yang tidak jelas sumbernya. Ada di antaranya yang bersumber dari non muslim kaum kufar atau dari orang-orang yang memiliki keyakinan menyimpang dari akidah yang shahihah. Ada yang mengambil akidah dari mimpi ataupun apa yang disebut orang sebagai wangsit alias bisikan ghaib. Ada pula yang cukup berbahaya yakni mengambil dari nash ayat atau hadits namun di-pahami dan ditakwilkan secara salah. Keahlian mereka sebenarnya bukan dalam hal agama dan ilmu syar’i, namun dalam bersilat lidah, berdebat, pemutarbalikan fakta, mantiq dan berfilsafat. Dengan modal ini segala sesuatu menjadi mungkin, ayat dan hadits bisa dimentahkan, al-haq dan syariat Islam dapat disingkirkan, kemantapan menjadi keragu-raguan, orang benar dapat disalahkan, yang salah dianggap benar, kayakinan dapat dikaburkan. Mereka adalah manusia-manusia yang lihai mengemas kata dan kalimat, untuk menjauhkan dan menjerumuskan manusia dari Agama Allah.

Memang demikian ciri khas kebatilan dan pengikut kebatilan, di mana mereka mendapati syariat Allah maka dengan serta merta mereka cari kelemahan dan celah-celah untuk bisa dijatuhkan. Di mana mereka mendapati kaum muslimin yang konsisten dengan ajaran Islam maka dengan cepat dicarikan istilah-istilah yang buruk dan menyeramkan. Sedangkan kebatilan yang mereka pegang di-kemas sedemikian menarik untuk menghilangkan kecurigaan. Oleh sebab itu, jangan sampai kita tertipu dengan permainan kata, pe-ngemasan istilah, dan keindahan bungkus. Ingat! Iblis pun menga-takan kepada Nabi Adam ’Alaihi wasallam, bahkan dengan bersumpah, sebagaimana diabadikan Allah dalam al-Qur`an dengan FirmanNya,

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya (Adam dan Hawa), ‘Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua’.” (Al-A’raf: 21).
Begitu pula Fir’aun ketika menjawab kaumnya. Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman mengabadikan perkataannya,

قَالَ فِرْعَوْنُ مَا أُرِيكُمْ إِلَّا مَا أَرَى وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ الرَّشَادِ

Fir’aun berkata, ‘Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar’.” (Ghafir 29).

Begitu pula orang-orang munafik yang digambarkan oleh Allah dengan FirmanNya,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat ke-rusakan di muka bumi’. Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’.” (Al-Baqarah:11).

Maka sekali lagi, janganlah seorang muslim menjadi spons, yang mengambil nasihat versi iblis, kebaikan dan jalan benar versi Fir’aun atau perbaikan menurut pandangan kaum munafik. Jika se-seorang mengambil semua informasi yang dia dengar, mengambil ucapan semua orang yang baik dan yang buruk, ataupun perkataan-perkataan yang jauh dan tidak sejalan dengan al-Qur`an dan as-Sunnah, maka ketika dia berbicara pun akan mengeluarkan apa yang selama ini dia serap. Dan akhirnya yang terjadi adalah “dhallu wa adhallu” (sesat dan menyesatkan). Wallahul musta’an, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ

(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq Jakarta).



 

Leave a Reply

%d bloggers like this: