Keluar Menuju Mushalla (Tanah Lapang)

Kelima

KELUAR MENUJU MUSHALLA (TANAH LAPANG YANG DIGUNAKAN UNTUK SHALAT ‘IED)

 

Dari Abu Said Al Khudri رضي الله عنه, ia berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاة

“Rasulullah صلي الله عليه وسلم biasa keluar menuju mushalla (tanah lapang) pada hari Idul Fithri dan Idul Adha, maka pertama kali yang beliau lakukan adalah shalat …” (HR. Bukhari 956, Muslim 889 dan An-Nasaa’i 3/187) 

Berkata Al-Alamah Ibnul Hajj Al Maliki:  “Sunnah yang telah berlangsung dalam pelaksanaan shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah di mushalla (tanah lapang), karena Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda :

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

 “Shalat di masjidku ini (masjid Nabawi -pent) lebih utama dari seribu shalat yang dilaksanakan di masjid lainnya kecuali masjid Al-Haram”. (HR. Bukhari 1190 dan Muslim 1394) 

Kemudian, walaupun ada keutamaan yang besar seperti ini, beliau صلي الله عليه وسلم tetap keluar ke mushalla (tanah lapang) dan meninggalkan masjidnya. (Al-Madkhal 2/283). 

Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi1 menyatakan:  “Sunnah untuk melaksanakan shalat Id di tanah lapang, Ali رضي الله عنه memerintahkan yang demikian dan dianggap baik oleh Al-Auza’i dan Ashabur Ra’yi. Inilah ucapan Ibnul Mundzir.2  

Siapa yang tidak mampu untuk keluar ke tanah lapang karena sakit atau umur tua, boleh shalat di masjid dan tidak ada dosa baginya Insya Allah. (Al-Mughni 2/229-230). 

Di sini harus diberikan peringatan  bahwa tujuan dari pelaksanaan Shalat Id di tanah lapang adalah agar terkumpul kaum muslimin dalam jumlah yang besar di satu tempat.  Namun yang kita lihat pada hari ini di banyak negeri berbilangannya mushalla (tanah lapang yang digunakan untuk shalat Id) meski tidak ada kebutuhan. Ini merupakan perkara makruh yang telah diperingatkan oleh ulama. (Lihat Nihayah Al Muhtaj 2/375 oleh Ar-Ramli)  

Bahkan sebagian mushalla telah menjadi mimbar-mimbar hizbiyyah untuk memecah belah persatuan kaum muslimin. 

Maka dari itu, tiada kata yang pantas untuk diucapkan kecuali: Laa haula wa laa quwwata illa billah (Tiada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah.) 




1. Al-Mughni 2/283

2. Untuk mengetahui dalil-dalil permasalahan ini secara mendetail, disertai bantahan terhadap syubhat orang-orang yang menyelisihi, silakan merujuk pada tulisan Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah dalam Syarhu Sunan Tirmidzi  (2/421-424). Dan Syaikh kami Al-Albani memiliki risalah tersendiri yang berjudul Shalat Al-Iedain fii Mushalla Kharijal Balad Hiya Sunnah cetakan Damaskus, silakan melihatnya, karena risalah tersebut sangat berharga.

 

Previous

Next

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: