Kajian 22 | Mandi Yang Disunnahkan Di Dalam Syariat (Ghusl)

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 23 Jumādal Akhir 1437H / 01 April 2016M
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📗 Matan Abū Syujā’ | Kitab Thahārah
🔊 Kajian 22 | Mandi Yang Disunnahkan Di Dalam Syariat (Ghusl)
⬇ Download audio: https://goo.gl/wDxgxd
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

(فصل) والاغتسالات المسنونة سبعة عشر غسلا غسل الجمعة والعيدين والاستسقاء والخسوف والكسوف والغسل من غسل الميت والكافر إذا أسلم والمجنون والمغمى عليه إذا أفاقا والغسل عند الإحرام ولدخول مكة وللوقوف بعرفة وللمبيت بمزدلفة ولرمي الجمار الثلاث وللطواف.

Mandi mandi yang disunnahkan ada 17 keadaan yaitu: mandi untuk Jum’at, 2 (dua) hari raya, shalat minta hujan (istisqa’), gerhana bulan, gerhana matahari, setelah memandikan mayit, orang kafir apabila masuk Islam, orang gila dan ayan (epilepsi) apabila sembuah, saat akan ihram, akan masuk Makkah, wukuf di Arafah, mabit (menginap) di Muzdalifah, melempar Jumrah yang tiga, tawaf. (Fiqh AtTaqrib Matan Abi Syuja’)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

MANDI YANG DISUNNAHKAN DI DALAM SYARI’AT (GHUSL)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و بعد.

Para Sahabat penuntut ilmu yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, pada halaqah yang ke-22 ini kita akan memasuki pembahasan tentang “Mandi Yang Disunnahkan Di Dalam Syari’at”

قال المصنف رحمه الله :
((والاغتسالات المسنونة سبعة عشر غسلا))

((Dan mandi-mandi yang disyari’atkan (disunnahkan) ada 17 macam))

Namun yang disebutkan oleh Penulis disini hanya ada 16 saja, wallāhu a’lam.

● ⑴

((غسل الجمعة))

((Mandi untuk shalat Jum’at))

Bagi seseorang yang akan berangkat untuk shalat Jum’at maka disunnahkan untuk mandi. Dan ini adalah pendapat jumhur pendapat Syāfi’i yang mengatakan bahwa hukumnya adalah sunnah. Adapun pendapat ulama zhāhiriyyah mengatakan hukumnya adalah wajib berdasarkan hadits Riwayat Muslim.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى مِنْكُمْ الْجُمُعَة فَلْيَغْتَسِلْ

“Barangsiapa yang hendak datang untuk menunaikan shalat Jum’at maka mandilah.” (HR Muslim)

Dan di dalam hadits tersebut ada kalimat perintah dan kalimat perintah menunjukkan bahwasanya hukumnya adalah wajib.

Namun pendapat jumhur adalah pendapat yang rajih (benar) karena di sana ada dalil-dalil yang lain yang memalingkan makna perintah tadi dari wajib menjadi sunnah. Diantaranya adalah sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنْ اغْتَسَلَ فَهُوَ أَفْضَلُ

“Barangsiapa yang berwudhū’ di hari Jum’at, maka sudah cukup dan barang siapa yang mandi maka itu lebih baik.” (HR. Ash-hābus Sunān dan dihasankan oleh Imam Tirmidzi)

● ⑵ & ⑶
((والعيدين))

((Mandi untuk shalat dua ‘Īd: ‘Īdul Fithri & ‘Īdul Adha))

Berkata Imam Nawawi di dalam Majmū’ Syarh Al-Muhadzdzab:

وقال الشافعيّ وأصحابه: يستحب الغسل في العيدين، وهذا لا خلاف فيه والمعتمد فيه أثر ابن عمر، والقياس على الجمعة

Berkata Imām Syāfi’i dan Ash-hāb: “Disunnahkan untuk mandi untuk kedua shalat ‘id dan ini tidak ada perbedaan pendapat didalamnya dan yang menjadi sandaran dalam masalah itu adalah contoh perbuatan Ibnu ‘Umar juga qiyās terhadap shalat Jum’at.”

● ⑷

((والإستسقاء))

((Mandi untuk shalat istisqa/shalat untuk meminta hujan))

Dan ini dalilnya adalah qiyās atau disamakan dengan dalil shalat Jum’at (qiyās terhadap shalat Jum’at. Dan merupakan moment (saat-saat) berkumpulnya manusia disatu tempat, oleh karena itu disunnahkan untuk mandi.

● ⑸

((والخسوف))

((Mandi untuk melaksanakan shalat khusūf/gerhana bulan))

● ⑹

((والكسوف))

((Mandi untuk melaksanakan shalat kusūf/gerhana matahari))

Dalilnya pun sama yaitu qiyās terhadap shalat Jum’at dan juga tempat berkumpulnya manusia, oleh karena itu disunnahkan untuk mandi.

● ⑺

((والغسل من غسل الميت))

((Mandi karena memandikan mayyit))

Dalil: Sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Barangsiapa yang memandikan mayit, maka mandilah. Dan barangsiapa yang mengusung mayat, maka berwudhū’lah.” (HR Abū Dāwud, Tirmidzi dan beliau menghasankan hadits ini)

⇒ Dan perintah disitu maksudnya adalah sunnah sebagaimana diterangkan (dijelaskan) atau ada qarāin dari hadits yang lain yang menunjukkan bahwasanya perintah disana bukan bermaksud wajib namun bermaksud sunnah.

● ⑻

((والكافر إذا أسلم))

((Orang kafir apabila masuk Islam))

Maka disunnahkan untuk mandi, berdasarkan hadits Qays bin ‘Āshim, beliau berkata:

أَنَّهُ أَسْلَمَ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Qays bin ‘Āshim masuk Islam, kemudian Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam menyuruhnya untuk mandi dengan air dan daun sidr (daun bidara).” (HR Ash-hābus Sunān dengan sanad yang hasan)

● ⑼

((والمجنون))

((Orang yang gila lalu kemudian tersadar))

● ⑽

((والمغمى عليه إذا أفاقا))

((Orang yang pingsan yang kemudian siuman))

Maka disunnahkan bagi keduanya untuk mandi. Dan keduanya disamakan hukumnya karena sama-sama hilang akalnya. Dan ini berdasarkan hadits ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā didalam Riwayat Bukhāri dan Muslim yang menceritakan tentang manakala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sakit di akhir hayat Beliau. Kemudian Beliau pingsan dan manakala siuman Beliau meminta air untuk mandi.

● ⑾

((والغسل عند الإحرام))

((Mandi manakala akan mulai ihram))

Berdasarkan hadits dari Zayd bin Tsābit beliau berkata:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله َّ-صلى الله عليه وسلم- تَجَرَّدَ لإِهْلاَلِهِ فَاغْتَسَلَ

“Saya melihat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melepaskan pakaiannya untuk memulai ihram dan Beliau mandi.” (HR Tirmidzi dan beliau menghasankan)

● ⑿

((و لدخول مكة))

((Mandi karena masuk ke dalam Mekkah))

Berdasarkan perbuatan Ibnu ‘Umar dan beliau menyebutkan bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melakukan hal itu. (HR Al-Khamsah kecuali Imam Tirmidzi)

● ⒀

((وللوقوف بعرفة))

((Mandi karena wuqūf di ‘Arafah))

Dan inipun berdasarkan perbuatan Ibnu ‘Umar dan juga diqiyaskan bahwasanya hal ini adalah tempat berkumpulnya manusia, oleh karena itu disunnahkan untuk mandi.

● ⒁

((للمبيت بمزدلفة))

((Mandi karena mabit di Muzdalifah))

● ⒂

((ولرمى الجمار الثلاث))

((Mandi karena melempar jumrah yang tiga))

Dalilnya adalah qiyās bahwasanya ini adalah tempat berkumpulnya manusia di dalam ibadah.

● ⒃

((وللطواف))

((Mandi untuk melaksanakan thawāf))

Yang dimaksud disini oleh Penulis adalah seluruh thawāf (baik thawāf qudūm, thawāf ifādhah dan thawāf yang lainnya).

Ini adalah pendapat Imam Syāfi’i dalam Qawlul Qadīm (pendapat Beliau yang lama), yang mana mengatakan bahwasanya: “Mandi untuk thawāf adalah sunnah.”

Namun pendapat beliau yang baru dalam Qawlul Jadīd bahwasanya: “Tidak disunnahkan mandi untuk thawāf.” Berdasarkan hadits ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā beliau mengatakan:

أن النَّبِيَّ صلى اله عليه وسلم أَوَّلَ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ حِينَ قَدِمَ مَكَّةَ أَنَّهُ تَوَضَّأَ ثُمَّ طَافَ بِالْبَيْتِ (رواه الشيخان)

“Bahwasanya hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Shallallāhu ‘Alayhi wa Sallam tatkala masuk ke dalam Mekkah adalah Beliau berwudhū’ kemudian thawāf di Ka’bah.”

Demikian yang bisa kita sampaikan dalam pasal ini.

Kita tutup dengan wasiat dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dari Abī Sa’īd Al-Khudriy radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا, فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ؟ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا, وَاتَّقُوا النِّسَاءَ, فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ, كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Bahwasanya dunia adalah manis dan hijau (indah) dan sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan jadikan kalian untuk mewarisinya (menggantikan satu orang dari orang-orang sebelumnya), maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan melihat apa yang akan kalian lakukan?

Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan berhati-hatilah kalian dari fitnah para wanita karena sesungguhnya awal terjadinya fitnah (musibah) dikalangan Bani Isrāil adalah pada wanita.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, Para Sahabat sekalian, semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita sebagai orang-orang yang tidak tertipu dengan gemerlapnya kehidupan dunia dan dengan tipuan dunia.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita orang-orang yang senantiasa istiqamah untuk kemudian menghadap Allāh dalam keadaan yang selamat.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم


📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

ate-jvmvomcjcvwr9mfsb9acu6b3mwibe6t26elmufmn

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: