Kaidah-kaidah Pembatal Puasa (2)

KAIDAH-KAIDAH PEMBATAL PUASA_Lanjutan

 

4.      Maa Kaana fii Ma’na al Akli wa asy Syurbi (ما كان في معني الأكل و الشرب) atau segala sesuatu yang semakna dengan makan dan minum, seperti menggunakan cairan infus yang berfungsi menggantikan makan dan minum, dan semisalnya; hal ini lantaran termasuk memasukkan sesuatu yang sama dengan makanan dan minuman ke dalam rongganya, walaupun tidak melalui mulut dan hidungnya.

 

5.      Al Qai-u Amdan (القيء عمدا) atau muntah dengan sengaja. Adapun kalau tidak sengaja, tidak membatalkan puasanya, sebagaimana Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ ذَرَعَهُ قَيْءٌ وَ هُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ فَإِنْ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

“Barangsiapa muntah secara tidak sengaja sedangkan dia berpuasa, maka tidak ada qadha baginya; dan barangsiapa menyengaja muntah, maka dia harus meng-qadha-nya.”1 .

Hadits di atas mengatakan bahwa orang yang muntah dengan sengaja harus meng-qadha puasa. Ini menunjukkan bahwa puasanya tidak sah, sehingga harus di-qadha (diganti).

 

6.      Khuruju dammi al haidh wan nifas (خروج دم الحيض و النّفاس) atau keluarnya darah haid dan nifas, sebagaimana hadits Aisyah رضي الله عنها tatkala ditanya tentang masalah haid, beliau mengatakan:

كَانَ يُصِيْبُنَا ذَالِكَ فَنُئْمَرُ بِقَضَاءِ الصَوْمِ وَ لَمْ نُئْمَرْ ِقَضَاءِ الصَلاَةِ

“Hal itu (haid) telah kami alami juga, maka kami diperintah meng-qadha puasa dan tidak meng-qadha shalat.” (HR. Bukhari 4/329 dan Muslim; 335).

Adapun nifas juga termasuk pembatal puasa. Hal ini didasari oleh hadits Ummu Salamah رضي الله عنها dalam riwayat Abu Dawud: 311-312, Tirmidzi: 139, Ibnu Majah: 648, dan telah dishahihkan oleh al Albani.

 

Demikianlah kaidah pembatal-pembatal puasa sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah dalam al Qur’an dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam berbagai sabdanya. Adapun masalah-masalah baru yang tidak terdapat dalilnya secara khusus, maka para ulama meng-qiyas-kan (menggabungkan kepada dalil/kaidah di atas kemudian menarik hukumnya) disesuaikan dengan masalah tersebut.


1.      HR. Tirmidzi 3/79, Abu Dawud 2/310, Ibnu Majah 1/536, dan dishahihkan oleh al Albani dalam Misykatul Mashahih; 2007, dan lihat Silsilah Shahihah: 923

Previous

Next

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: