Kaedah Kedua

KAEDAH KEDUA

 

كُلُّ مَا وَصَلَ إِلَى الْـجَوْفِ مِنَ الأَنْفِ أَوِ الْفَمِّ فَهُوَ مُفْطِرٌ

Semua yang masuk ke badan dari jalan mulut dan hidung, maka dia membatalkan puasa.

 

Kaidah ini terambil dari makna makan yang membatalkan puasa. Makan adalah memasukkan sesuatu ke dalam tubuh melalui jalur mulut, baik sesuatu tersebut mengenyangkan atau tidak, memberi manfaat atau pun tidak — bahkan sampaipun yang membahayakan. Dan kalau yang masuk itu benda cair, maka itulah minum. (Lihat asy-Syarh al-Mumthi’ oleh Syaikh Ibnu Utsaimin 6/366)

Berangkat dari sini, maka apa pun yang masuk ke tubuh melalui mulut, maka dihukumi makan yang membatalkan puasa.

Lalu bagaimana dengan hidung? Hidung pada dasarnya alat anggota tubuh untuk bernafas. Namun, jalur antara hidung dan mulut itu bersambung. Oleh karena itu, kalau hidung seseorang tersumbat, maka ia bisa bernafas menggunakan mulut. Dan sebaliknya, jika orang makan lalu tersedak, maka terkadang bahkan sering ada sebagian makanan yang keluar dari hidung. Maka, karena bersambungnya jalur antara hidung dengan mulut, keduanya mengambil satu hukum pula bahwa apa pun yang masuk lewat jalur keduanya, maka dihukumi makan dan minum dan bisa membatalkan puasa.

 

Contoh Penerapan Kaidah

1.    Orang yang menelan obat (kapsul atau lainnya) meskipun tanpa satu setetes air pun, maka puasanya batal.

2.    Orang yang sengaja menelan kerikil, maka puasanya batal.

 

Faedah

Apa hukum orang yang pada saat sahur, mengkonsumsi obat atau suplemen tertentu, yang fungsi obat atau suplemen tersebut bisa untuk menahan lapar dan dahaga selama siang hari?

Jawabnya:

Boleh, karena dia mengkonsumsi obat atau suplemen tersebut pada saat sahur. Adapun fungsinya masih berlanjut sampai siang hari maka tidaklah mengapa. Hal ini mirip dengan seseorang yang mampu untuk makan tiga piring penuh makanan sekaligus, sehingga dia tidak lapar sama sekali, maka ini pun tidaklah mengapa. Wallohu A’lam.

Previous

Next

Leave a Reply

%d bloggers like this: