HUKUM BERJABAT TANGAN ANTARA LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN

BERJABAT TANGAN ANTARA LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN
Dr. Yusuf Qardhawi
 
PERTANYAAN
 
Sebuah persoalan yang sedang saya hadapi, dan  sudah  barang
tentu  juga  dihadapi  orang  lain,  yaitu  masalah berjabat
tangan antara laki-laki dengan  wanita,  khususnya  terhadap
kerabat yang bukan mahram saya, seperti anak paman atau anak
bibi, atau istri saudara ayah atau istri saudara  ibu,  atau
saudara  wanita  istri saya, atau wanita-wanita lainnya yang
ada hubungan  kekerabatan  atau  persemendaan  dengan  saya.
Lebih-lebih  dalam momen-momen tertentu, seperti datang dari
bepergian, sembuh dari sakit, datang dari haji  atau  umrah,
atau  saat-saat lainnya yang biasanya para kerabat, semenda,
tetangga, dan teman-teman lantas menemuinya dan  bertahni'ah
(mengucapkan  selamat  atasnya)  dan  berjabat tangan antara
yang satu dengan yang lain.
 
Pertanyaan saya, apakah ada nash  Al-Qur'an  atau  As-Sunnah
yang  mengharamkan  berjabat  tangan antara laki-laki dengan
wanita,  sementara  sudah  saya  sebutkan  banyak   motivasi
kemasyarakatan atau kekeluargaan yang melatarinya, disamping
ada rasa saling percaya. aman dari  fitnah,  dan  jauh  dari
rangsangan  syahwat. Sedangkan kalau kita tidak mau berjabat
tangan, maka mereka memandang kita orang-orang beragama  ini
kuno   dan   terlalu   ketat,   merendahkan  wanita,  selalu
berprasangka buruk kepadanya, dan sebagainya.
 
Apabila ada dalil syar'inya, maka kami  akan  menghormatinya
dengan tidak ragu-ragu lagi, dan tidak ada yang kami lakukan
kecuali mendengar dan mematuhi, sebagai konsekuensi keimanan
kami  kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan jika hanya semata-mata
hasil ijtihad fuqaha-fuqaha kita terdahulu, maka  adakalanya
fuqaha-fuqaha   kita   sekarang   boleh   berbeda   pendapat
dengannya, apabila  mereka  mempunyai  ijtihad  yang  benar,
dengan  didasarkan  pada  tuntutan peraturan yang senantiasa
berubah dan kondisi kehidupan yang selalu berkembang.
 
Karena itu, saya menulis  surat  ini  kepada  Ustadz  dengan
harapan  Ustadz  berkenan membahasnya sampai ke akar-akarnya
berdasarkan  Al-Qur'anul  Karim  dan  Al-Hadits  asy-Syarif.
Kalau   ada  dalil  yang  melarang  sudah  tentu  kami  akan
berhenti; tetapi jika dalam  hal  ini  terdapat  kelapangan,
maka  kami  tidak  mempersempit  kelapangan-kelapangan  yang
diberikan Allah kepada kami, lebih-lebih  sangat  diperlukan
dan bisa menimbulkan "bencana" kalau tidak dipenuhi.
 
Saya  berharap  kesibukan-kesibukan  Ustadz  yang banyak itu
tidak menghalangi Ustadz  untuk  menjawab  surat  saya  ini,
sebab  -  sebagaimana  saya  katakan di muka - persoalan ini
bukan  persoalan  saya  seorang,  tetapi  mungkin  persoalan
berjuta-juta orang seperti saya.
 
Semoga  Allah  melapangkan  dada  Ustadz untuk menjawab, dan
memudahkan kesempatan bagi Ustadz  untuk  menahkik  masalah,
dan mudah-mudahan Dia menjadikan Ustadz bermanfaat.
 
JAWABAN
 
Tidak  perlu  saya  sembunyikan kepada saudara penanya bahwa
masalah  hukum  berjabat  tangan  antara  laki-laki   dengan
perempuan  -  yang  saudara tanyakan itu - merupakan masalah
yang amat penting, dan untuk menahkik  hukumnya  tidak  bisa
dilakukan  dengan  seenaknya.  Ia memerlukan kesungguhan dan
pemikiran yang optimal dan ilmiah sehingga  si  mufti  harus
bebas  dari  tekanan  pikiran  orang  lain atau pikiran yang
telah diwarisi dari masa-masa lalu, apabila  tidak  didapati
acuannya    dalam    Al-Qur'an    dan   As-Sunnah   sehingga
argumentasi-argumentasinya    dapat    didiskusikan    untuk
memperoleh  pendapat  yang  lebih  kuat  dan lebih mendekati
kebenaran menurut  pandangan  seorang  faqih,  yang  didalam
pembahasannya    hanya    mencari    ridha    Allah,   bukan
memperturutkan hawa nafsu.
 
Sebelum memasuki pembahasan  dan  diskusi  ini,  saya  ingin
mengeluarkan  dua  buah  gambaran  dari  lapangan  perbedaan
pendapat ini, yang saya percaya bahwa hukum  kedua  gambaran
itu  tidak  diperselisihkan  oleh  fuqaha-fuqaha  terdahulu,
menurut pengetahuan saya. Kedua gambaran itu ialah:
 
Pertama, diharamkan berjabat tangan  dengan  wanita  apabila
disertai  dengan  syahwat  dan  taladzdzudz (berlezat-lezat)
dari salah satu pihak, laki-laki atau wanita (kalau keduanya
dengan  syahwat  sudah  barang  tentu  lebih terlarang lagi;
penj.) atau dibelakang itu dikhawatirkan terjadinya  fitnah,
menurut dugaan yang kuat. Ketetapan diambil berdasarkan pada
hipotesis bahwa menutup jalan menuju  kerusakan  itu  adalah
wajib,  lebih-lebih  jika  telah  tampak  tanda-tandanya dan
tersedia sarananya.
 
Hal ini diperkuat lagi oleh apa yang dikemukakan para  ulama
bahwa  bersentuhan  kulit  antara laki-laki dengannya - yang
pada asalnya mubah itu - bisa berubah menjadi haram  apabila
disertai   dengan   syahwat  atau  dikhawatirkan  terjadinya
fitnah,1 khususnya dengan  anak  perempuan  si  istri  (anak
tiri), atau saudara sepersusuan, yang perasaan hatinya sudah
barang tentu tidak sama dengan perasaan  hati  ibu  kandung,
anak  kandung,  saudara  wanita sendiri, bibi dari ayah atau
ibu, dan sebagainya.
 
Kedua,  kemurahan  (diperbolehkan)  berjabat  tangan  dengan
wanita tua yang sudah tidak punya gairah terhadap laki-laki,
demikian pula dengan anak-anak kecil  yang  belum  mempunyai
syahwat  terhadap  laki-laki,  karena berjabat tangan dengan
mereka itu aman dari sebab-sebab fitnah. Begitu pula bila si
laki-laki sudah tua dan tidak punya gairah terhadap wanita.
 
Hal  ini  didasarkan  pada riwayat dari Abu Bakar r.a. bahwa
beliau pernah berjabat tangan dengan beberapa  orang  wanita
tua,  dan  Abdullah bin Zubair mengambil pembantu wanita tua
untuk  merawatnya,  maka  wanita  itu   mengusapnya   dengan
tangannya dan membersihkan kepalanya dari kutu.2
 
Hal  ini  sudah  ditunjukkan  Al-Qur'an  dalam  membicarakan
perempuan-perempuan tua yang sudah berhenti (dari  haid  dan
mengandung),  dan  tiada  gairah  terhadap laki-laki, dimana
mereka diberi keringanan dalam beberapa masalah pakaian yang
tidak diberikan kepada yang lain:
 
"Dan  perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid
dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas
mereka   dosa   menanggalkan  pakaian  mereka  dengan  tidak
(bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan  adalah
lebih  baik  bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui." (an-Nur: 60)
 
Dikecualikan  pula  laki-laki  yang  tidak  memiliki  gairah
terhadap wanita dan anak-anak kecil yang belum muncul hasrat
seksualnya.  Mereka  dikecualikan  dari   sasaran   larangan
terhadap   wanita-wanita   mukminah  dalam  hal  menampakkan
perhiasannya.
 
"... Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,
dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami
mereka, atau putra-putra suami mereka, atau  saudara-saudara
laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka,
atau   putra-putra   saudara    perempuan    mereka,    atau
wanita-wanita  Islam,  atau  budak-budak yang mereka miliki,
atau  pelayan-pelayan   laki-laki   yang   tidak   mempunyai
keinginan   (terhadap  wanita)  atau  anak-anak  yang  belum
mengerti tentang aurat wanita ..."(an-Nur: 31)
 
Selain dua kelompok yang disebutkan itulah yang menjadi tema
pembicaraan  dan  pembahasan serta memerlukan pengkajian dan
tahkik.
 
Golongan yang mewajibkan  wanita  menutup  seluruh  tubuhnya
hingga  wajah  dan  telapak  tangannya, dan tidak menjadikan
wajah dan tangan ini sebagai yang dikecualikan oleh ayat:
 
"... Dan janganlah mereka menampakkan  perhiasannya  kecuali
yang biasa tampak daripadanya ..." (an-Nur: 31)
 
Bahkan  mereka  menganggap bahwa perhiasan yang biasa tampak
itu adalah pakaian luar seperti baju  panjang,  mantel,  dan
sebagainya,   atau   yang   tampak  karena  darurat  seperti
tersingkap karena ditiup angin kencang dan sebagainya.  Maka
tidak   mengherankan   lagi  bahwa  berjabat  tangan  antara
laki-laki dengan wanita menurut mereka adalah haram.  Sebab,
apabila   kedua   telapak  tangan  itu  wajib  ditutup  maka
melihatnya adalah haram; dan apabila melihatnya saja  haram,
apa  lagi  menyentuhnya.  Sebab,  menyentuh  itu lebih berat
daripada melihat,  karena  ia  lebih  merangsang,  sedangkan
tidak ada jabat tangan tanpa bersentuhan kulit.
 
Tetapi  sudah dikenal bahwa mereka yang berpendapat demikian
adalah golongan minoritas, sedangkan mayoritas  fuqaha  dari
kalangan  sahabat,  tabi'in,  dan orang-orang sesudah mereka
berpendapat bahwa yang dikecualikan dalam ayat "kecuali yang
biasa  tampak  daripadanya" adalah wajah dan kedua (telapak)
tangan.
 
Maka apakah dalil mereka untuk mengharamkan berjabat  tangan
yang tidak disertai syahwat?
 
Sebenarnya  saya telah berusaha mencari dalil yang memuaskan
yang secara tegas menetapkan  demikian,  tetapi  tidak  saya
temukan.
 
Dalil  yang terkuat dalam hal ini ialah menutup pintu fitnah
(saddudz-dzari'ah), dan  alasan  ini  dapat  diterima  tanpa
ragu-ragu  lagi  ketika  syahwat tergerak, atau karena takut
fitnah  bila  telah  tampak  tanda-tandanya.  Tetapi   dalam
kondisi aman - dan ini sering terjadi - maka dimanakah letak
keharamannya?
 
Sebagian ulama ada yang berdalil dengan sikap Nabi saw. yang
tidak   berjabat   tangan  dengan  perempuan  ketika  beliau
membai'at mereka pada waktu penaklukan Mekah  yang  terkenal
itu, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Mumtahanah.
 
Tetapi ada satu muqarrar (ketetapan) bahwa apabila Nabi saw.
meninggalkan suatu urusan, maka hal itu tidak menunjukkan  -
secara   pasti   -   akan  keharamannya.  Adakalanya  beliau
meninggalkan sesuatu karena haram, adakalanya karena makruh,
adakalanya  hal  itu  kurang  utama,  dan  adakalanya  hanya
semata-mata karena beliau tidak berhasrat kepadanya, seperti
beliau tidak memakan daging biawak padahal daging itu mubah.
 
Kalau  begitu,  sikap Nabi saw. tidak berjabat tangan dengan
wanita itu tidak  dapat  dijadikan  dalil  untuk  menetapkan
keharamannya,  oleh  karena  itu  harus  ada dalil lain bagi
orang yang berpendapat demikian.
 
Lebih dari itu,  bahwa  masalah  Nabi  saw.  tidak  berjabat
tangan  dengan  kaum  wanita  pada  waktu  bai'at  itu belum
disepakati,   karena   menurut    riwayat    Ummu    Athiyah
al-Anshariyah  r.a.  bahwa  Nabi saw. pernah berjabat tangan
dengan wanita pada waktu bai'at, berbeda dengan riwayat dari
Ummul Mukminin Aisyah r.a. dimana beliau mengingkari hal itu
dan bersumpah menyatakan tidak terjadinya jabat tangan itu.
 
Imam Bukhari meriwayatkan dalam sahihnya dari  Aisyah  bahwa
Rasulullah   saw.   menguji   wanita-wanita   mukminah  yang
berhijrah dengan ayat ini, yaitu firman Allah:
 
"Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan  yang
beriman  untuk  mengadakan  janji  setia, bahwa mereka tidak
akan mempersekutukan sesuatu pun dengan  Allah;  tidak  akan
mencuri,   tidak   akan   berzina,   tidak   akan   membunuh
anak-anaknya,  tidak  akan   berbuat   dusta   yang   mereka
ada-adakan  antara tangan dengan kaki mereka3 dan tidak akan
mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka  terimalah  janji
setia  mereka  dan  mohonkanlah  ampunan  kepada Allah untuk
mereka.  Sesungguhnya  Allah  Maha   Pengampun   lagi   Maha
Penyayang." (al-Mumtahanah: 12)
 
Aisyah  berkata,  "Maka  barangsiapa  diantara wanita-wanita
beriman itu yang menerima syarat tersebut,  Rasulullah  saw.
berkata kepadanya, "Aku telah membai'atmu - dengan perkataan
saja - dan  demi  Allah  tangan  beliau  sama  sekali  tidak
menyentuh  tangan  wanita  dalam  bai'at  itu;  beliau tidak
membai'at mereka melainkan dengan  mengucapkan,  'Aku  telah
membai'atmu tentang hal itu.'" 4
 
Dalam  mensyarah  perkataan  Aisyah "Tidak, demi Allah ...,"
al-Hafizh Ibnu  Hajar  berkata  dalam  Fathul  Bari  sebagai
berikut:   Perkataan  itu  berupa  sumpah  untuk  menguatkan
berita,  dan  dengan  perkataannya  itu  seakan-akan  Aisyah
hendak   menyangkal   berita  yang  diriwayatkan  dari  Ummu
Athiyah.   Menurut   riwayat   Ibnu    Hibban,    al-Bazzar,
ath-Thabari,  dan  Ibnu  Mardawaih,  dari (jalan) Ismail bin
Abdurrahman dari  neneknya,  Ummu  Athiyah,  mengenai  kisah
bai'at, Ummu Athiyah berkata:
 
"Lalu  Rasulullah saw. mengulurkan tangannya dari luar rumah
dan kami mengulurkan tangan kami dari dalam rumah,  kemudian
beliau berucap, 'Ya Allah, saksikanlah.'"
 
Demikian  pula hadits sesudahnya - yakni sesudah hadits yang
tersebut dalam al-Bukhari - dimana Aisyah mengatakan:
 
"Seorang wanita menahan tangannya"
 
Memberi kesan seolah-olah  mereka  melakukan  bai'at  dengan
tangan mereka.
 
Al-Hafizh  (Ibnu  Hajar)  berkata:  "Untuk  yang pertama itu
dapat diberi jawaban bahwa  mengulurkan  tangan  dari  balik
hijab  mengisyaratkan telah terjadinya bai'at meskipun tidak
sampai berjabat tangan...  Adapun  untuk  yang  kedua,  yang
dimaksud  dengan  menggenggam  tangan  itu  ialah menariknya
sebelum  bersentuhan...  Atau  bai'at  itu  terjadi   dengan
menggunakan lapis tangan.
 
Abu Daud meriwayatkan dalam al-Marasil dari asy-Sya'bi bahwa
Nabi saw. ketika membai'at kaum wanita beliau  membawa  kain
selimut  bergaris  dari  Qatar  lalu beliau meletakkannya di
atas tangan beliau, seraya berkata,
 
"Aku tidak berjabat dengan wanita."
 
Dalam  Maghazi  Ibnu  Ishaq  disebutkan  bahwa   Nabi   saw.
memasukkan  tangannya  ke  dalam  bejana dan wanita itu juga
memasukkan tangannya bersama beliau.
Ibnu Hajar berkata: "Dan boleh  jadi  berulang-ulang,  yakni
peristiwa   bai'at   itu   terjadi  lebih  dari  satu  kali,
diantaranya ialah bai'at yang terjadi di mana  beliau  tidak
menyentuh tangan wanita sama sekali, baik dengan menggunakan
lapis maupun tidak, beliau membai'at hanya dengan  perkataan
saja,  dan  inilah  yang  diriwayatkan oleh Aisyah. Dan pada
kesempatan yang lain beliau  tidak  berjabat  tangan  dengan
wanita   dengan   menggunakan   lapis,   dan   inilah   yang
diriwayatkan oleh asy-Sya'bi."
 
Diantaranya lagi ialah dalam bentuk seperti yang  disebutkan
Ibnu  Ishaq, yaitu memasukkan tangan kedalam bejana. Dan ada
lagi dalam bentuk seperti yang  ditunjukkan  oleh  perkataan
Ummu Athiyah, yaitu berjabat tangan secara langsung.
 
Diantara      alasan     yang     memperkuat     kemungkinan
berulang-ulangnya bai'at itu ialah bahwa Aisyah membicarakan
bai'at   wanita-wanita   mukminah   yang  berhijrah  setelah
terjadinya peristiwa Perjanjian Hudaibiyah,  sedangkan  Ummu
Athiyah  -  secara  lahiriah  - membicarakan yang lebih umum
daripada itu dan  meliputi  bai'at  wanita  mukminah  secara
umum,  termasuk didalamnya wanita-wanita Anshar seperti Ummu
Athiyah  si  perawi  hadits.  Karena   itu,   Imam   Bukhari
memasukkan  hadits  Aisyah  di  bawah  bab  "Idzaa  Jaa  aka
al-Mu'minaat Muhaajiraat,"  sedangkan  hadits  Ummu  Athiyah
dimasukkan   dalam   bab   "Idzaa   Jaa  aka  al-  Mu'minaat
Yubaayi'naka."
 
Maksud pengutipan semua ini ialah bahwa apa  yang  dijadikan
acuan  oleh  kebanyakan  orang  yang  mengharamkan  berjabat
tangan antara laki-laki dengan perempuan - yaitu bahwa  Nabi
saw.   tidak   berjabat  tangan  dengan  wanita  -  belumlah
disepakati. Tidak seperti sangkaan  orang-orang  yang  tidak
merujuk  kepada  sumber-sumber  aslinya.  Masalah ini bahkan
masih diperselisihkan sebagaimana yang telah saya kemukakan.
 
Sebagian  ulama  sekarang  ada  yang  mengharamkan  berjabat
tangan dengan wanita dengan mengambil dalil riwayat Thabrani
dan Baihaqi dari Ma'qil bin Yasar  dari  Nabi  saw.,  beliau
bersabda:
 
"Sesungguhnya  ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu
dengan jarum besi  itu  lebih  baik  daripada  ia  menyentuh
wanita yang tidak halal baginya."5
 
Ada  beberapa  hal  yang perlu diperhatikan berkenaan dengan
pengambilan hadits di atas sebagai dalil:
 
1. Bahwa imam-imam ahli hadits tidak menyatakan secara jelas
akan kesahihan hadits tersebut, hanya orang-orang seperti
al-Mundziri dan al-Haitsami yang mengatakan,
"Perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan atau
perawi-perawi sahih."
Perkataan seperti ini saja tidak cukup untuk menetapkan
kesahihan hadits tersebut, karena masih ada kemungkinan
terputus jalan periwayatannya (inqitha') atau terdapat
'illat (cacat) yang samar. Karena itu, hadits ini tidak
diriwayatkan oleh seorang pun dari penyusun kitab-kitab yang
masyhur, sebagaimana tidak ada seorang pun fuqaha terdahulu
yang menjadikannya sebagai dasar untuk mengharamkan berjabat
tangan antara laki-laki dengan perempuan dan sebagainya.
2. Fuqaha Hanafiyah dan sebagian fuqaha Malikiyah mengatakan
bahwa pengharaman itu tidak dapat ditetapkan kecuali dengan
dalil qath'i yang tidak ada kesamaran padanya, seperti
Al-Qur'anul Karim serta hadits-hadits mutawatir dan masyhur.
Adapun jika ketetapan atau kesahihannya sendiri masih ada
kesamaran, maka hal itu tidak lain hanyalah menunjukkan
hukum makruh, seperti hadits-hadits ahad yang sahih. Maka
bagaimana lagi dengan hadits yang diragukan kesahihannya?
3. Andaikata kita terima bahwa hadits itu sahih dan dapat
digunakan untuk mengharamkan suatu masalah, maka saya dapati
petunjuknya tidak jelas. Kalimat "menyentuh kulit wanita
yang tidak halal baginya" itu tidak dimaksudkan semata-mata
bersentuhan kulit dengan kulit tanpa syahwat, sebagaimana
yang biasa terjadi dalam berjabat tangan. Bahkan kata-kata
al-mass (massa - yamassu - mass: menyentuh) cukup digunakan
dalam nash-nash syar'iyah seperti Al-Qur'an dan As-Sunnah
dengan salah satu dari dua pengertian, yaitu:
a. Bahwa ia merupakan kinayah (kiasan) dari hubungan
biologis (jima') sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas dalam
menafsirkan firman Allah: "Laamastum an-Nisat" (Kamu
menyentuh wanita). Ibnu Abbas berkata, "Lafal al-lams,
al-mulaamasah, dan al-mass dalam Al-Qur'an dipakai sebagai
kiasan untuk jima' (hubungan seksual). Secara umum,
ayat-ayat Al-Qur'an yang menggunakan kata al-mass
menunjukkan arti seperti itu dengan jelas, seperti firman
Allah yang diucapkan Maryam:
"Betapa mungkin aku akan mempunyai anak padahal aku belum
pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun ..." (Ali Imran:
47)
"Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu menyentuh
mereka..." (al-Baqarah: 237)
Dalam hadits diceritakan bahwa Nabi saw. mendekati
istri-istrinya tanpa menyentuhnya ....
b. Bahwa yang dimaksud ialah tindakan-tindakan dibawah
kategori jima', seperti mencium, memeluk, merangkul, dan
lain-lain yang merupakan pendahuluan bagi jima' (hubungan
seksual). Ini diriwayatkan oleh sebagian ulama salaf dalam
menafsirkan makna kata mulaamasah.
Al-Hakim mengatakan dalam "Kitab ath-Thaharah" dalam
al-Mustadrak 'al a ash-Shahihaini sebagai berikut :
Imam Bukhari dan Muslim telah sepakat mengeluarkan
hadits-hadits yang berserakan dalam dua musnad yang sahih
yang menunjukkan bahwa al-mass itu berarti sesuatu (tindakan)
dibawah jima':
(1) Diantaranya hadits Abu Hurairah:
"Tangan, zinanya ialah menyentuh..."
(2) Hadits Ibnu Abbas:
"Barangkali engkau menyentuhnya...?"
(3) Hadits lbnu Mas'ud:
"Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang
(pagi dan petang)..."6
Al-Hakim berkata, "Dan masih ada beberapa hadits sahih pada
mereka (Bukhari dan Muslim) mengenai tafsir dan lainnya ..."
Kemudian al-Hakim menyebutkan diantaranya:
(4) Dari Aisyah, ia berkata:
"Sedikit sekali hari (berlalu) kecuali Rasulullah saw.
mengelilingi kami semua - yakni istri-istrinya - lalu 
beliau mencium dan menyentuh yang derajatnya dibawah
jima'. Maka apabila beliau tiba di rumah istri yang
waktu giliran beliau di situ, beliau menetap di situ."
(5) Dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, "Au laamastum
an-nisa" (atau kamu menyentuh wanita) ialah tindakan
dibawah jima', dan untuk ini wajib wudhu."
(6) Dan dari Umar, ia berkata, "Sesungguhnya mencium itu
termasuk al-lams, oleh sebab itu berwudhulah
karenanya."7
 
Berdasarkan nash-nash yang telah disebutkan itu, maka mazhab
Maliki  dan  mazhab Ahmad berpendapat bahwa menyentuh wanita
yang  membatalkan  wudhu  itu  ialah  yang  disertai  dengan
syahwat.   Dan   dengan  pengertian  seperti  inilah  mereka
menafsirkan firman Allah, "au laamastum an-nisa'" (atau kamu
menyentuh wanita).
 
Karena  itu,  Syekhul  Islam  Ibnu Taimiyah dalam Fatawa-nya
melemahkan   pendapat   orang   yang    menafsirkan    lafal
"mulaamasah"  atau  "al-lams"  dalam  ayat  tersebut  dengan
semata-mata bersentuhan kulit walaupun tanpa syahwat.
 
Diantara yang beliau katakan mengenai  masalah  ini  seperti
berikut:
 
Adapun   menggantungkan   batalnya  wudhu  dengan  menyentuh
semata-mata (persentuhan kulit, tanpa syahwat), maka hal ini
bertentangan   dengan   ushul,   bertentangan  dengan  ijma'
sahabat, bertentangan dengan atsar, serta tidak ada nash dan
qiyas bagi yang berpendapat begitu.
 
Apabila  lafal  al-lams (menyentuh) dalam firman Allah (atau
jika  kamu  menyentuh  wanita  ...)  itu  dimaksudkan  untuk
menyentuh  dengan  tangan  atau  mencium  dan  sebagainya  -
seperti yang dikatakan Ibnu Umar dan lainnya  -  maka  sudah
dimengerti  bahwa  ketika hal itu disebutkan dalam Al-Qur'an
dan As-Sunnah, yang dimaksud  ialah  yang  dilakukan  dengan
bersyahwat,  seperti  firman  Allah dalam ayat i'tikaf: "...
Dan janganlah kamu me-mubasyarah mereka ketika  kamu  sedang
i'tikaf dalam masjid..." (al-Baqarah: 187)
 
Mubasyarah  (memeluk)  bagi orang yang sedang i'tikaf dengan
tidak  bersyahwat  itu  tidak  diharamkan,  berbeda   dengan
memeluk yang disertai syahwat.
 
Demikian   pula   firman   Allah:   "Jika  kamu  menceraikan
istri-istrimu   sebelum   kamu   menyentuh    mereka    ..."
(al-Baqarah:  237).  Atau  dalam ayat sebelumnya disebutkan:
"Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu,  jika  kamu
menceraikan istri-istrimu sebelum kamu menyentuh mereka ..."
(al-Baqarah: 236).
 
Karena  seandainya  si  suami  hanya   menyentuhnya   dengan
sentuhan  biasa  tanpa  syahwat,  maka tidak wajib iddah dan
tidak  wajib  membayar  mahar  secara   utuh   serta   tidak
menjadikan  mahram  karena  persemendaan menurut kesepakatan
ulama.
 
Barangsiapa menganggap bahwa  lafal  au  laamastum  an-nisa'
mencakup  sentuhan  biasa  meskipun tidak dengan bersyahwat,
maka ia  telah  menyimpang  dari  bahasa  Al-Qur'an,  bahkan
menyimpang   dari  bahasa  manusia  sebagaimana  yang  sudah
dikenal. Sebab, jika disebutkan  lafal  al-mass  (menyentuh)
yang  diiringi  dengan laki-laki dan perempuan, maka tahulah
dia bahwa yang dimaksud ialah menyentuh  dengan  bersyahwat,
sebagaimana  bila  disebutkan  lafal  al-wath'u  (yang  asal
artinya "menginjak") yang diikuti dengan kata-kata laki-laki
dan  perempuan,  maka  tahulah  ia bahwa yang dimaksud ialah
al-wath'u  dengan   kemaluan   (yakni   bersetubuh),   bukan
menginjak dengan kaki."8
 
Di  tempat lain lbnu Taimiyah menyebutkan bahwa para sahabat
berbeda pendapat mengenai maksud firman Allah  au  laamastum
annisa'. Ibnu Abbas dan segolongan sahabat berpendapat bahwa
yang dimaksud ialah jima'. dan mereka  berkata,  "Allah  itu
Pemalu  dan  Maha  Mulia.  Ia  membuat kinayah untuk sesuatu
sesuai dengan yang Ia kehendaki."
 
Beliau  berkata,  "Ini  yang  lebih  tepat  diantara   kedua
pendapat tersebut."
 
Bangsa  Arab dan Mawali juga berbeda pendapat mengenai makna
kata al-lams, apakah ia berarti jima' atau tindakan  dibawah
jima'.  Bangsa  Arab mengatakan, yang dimaksud adalah jima'.
Sedangkan Mawali (bekas-bekas budak yang telah dimerdekakan)
berkata:   yang  dimaksud  ialah  tindakan  di  bawah  jima'
(pra-hubungan  biologis).  Lalu  mereka  meminta   keputusan
kepada Ibnu Abbas, lantas Ibnu Abbas membenarkan bangsa Arab
dan menyalahkan Mawali.9
 
Maksud dikutipnya semua ini ialah untuk kita  ketahui  bahwa
kata-kata   al-mass  atau  al-lams  ketika  digunakan  dalam
konteks laki-laki dan perempuan tidaklah dimaksudkan  dengan
semata-mata  bersentuhan  kulit  biasa, tetapi yang dimaksud
ialah mungkin  jima'  (hubungan  seks)  atau  pendahuluannya
seperti  mencium,  memeluk,  dan  sebagainya  yang merupakan
sentuhan disertai syahwat dan kelezatan.
 
Kalau kita perhatikan riwayat  yang  sahih  dari  Rasulullah
saw.,  niscaya  kita  jumpai  sesuatu yang menunjukkan bahwa
semata-mata  bersentuhan  tangan  antara  laki-laki   dengan
perempuan  tanpa  disertai  syahwat  dan tidak dikhawatirkan
terjadinya  fitnah   tidaklah   terlarang,   bahkan   pernah
dilakukan  oleh  Rasulullah  saw.,  sedangkan  pada dasarnya
perbuatan Nabi saw. itu adalah tasyri' dan untuk diteladani:
 
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah saw.  itu  suri
teladan yang baik bagimu..." (al-Ahzab: 21)
 
Imam  Bukhari  meriwayatkan  dalam  Shahih-nya  pada  "Kitab
al-Adab" dari Anas bin Malik r.a., ia berkata:
 
"Sesungguhnya  seorang  budak  wanita  diantara  budak-budak
penduduk  Madinah  memegang  tangan  Rasulullah  saw.,  lalu
membawanya pergi ke mana ia suka."
 
Dalam riwayat Imam Ahmad dari Anas juga, ia berkata:
 
"Sesungguhnya  seorang  budak  perempuan  dari   budak-budak
penduduk  Madinah datang, lalu ia memegang tangan Rasulullah
saw.,  maka  beliau  tidak  melepaskan  tangan  beliau  dari
tangannya sehingga dia membawanya perg ke mana ia suka."
 
Ibnu Majah juga meriwayatkan hal demikian.
 
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari:
 
"Yang   dimaksud   dengan   memegang   tangan  disini  ialah
kelazimannya, yaitu kasih sayang  dan  ketundukan,  dan  ini
meliputi  bermacam-macam  kesungguhan dalam tawadhu', karena
disebutkannya perempuan bukan laki-laki,  dan  disebutkannya
budak  bukan  orang  merdeka,  digunakannya  kata-kata  umum
dengan lafal al-imaa' (budak-budak perempuan),  yakni  budak
perempuan yang mana pun, dan dengan perkataan haitsu syaa'at
(kemana saja ia  suka),  yakni  ke  tempat  mana  saja.  Dan
ungkapan    dengan    "mengambil/memegang   tangannya"   itu
menunjukkan apa saja yang dilakukannya, sehingga meskipun si
budak perempuan itu ingin pergi ke luar kota Madinah dan dia
meminta kepada beliau untuk membantu  memenuhi  keperluannya
itu niscaya beliau akan membantunya.
Ini  merupakan  dalil  yang  menunjukkan  betapa tawadhu'nya
Rasulullah saw.  dan  betapa  bersihnya  beliau  dari  sikap
sombong."10
 
Apa  yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar itu secara garis besar
dapat diterima, tetapi  beliau  memalingkan  makna  memegang
tangan  dari  makna  lahiriahnya  kepada  kelazimannya  yang
berupa kasih sayang dan ketundukan,  tidak  dapat  diterima,
karena  makna  lahir  dan  kelaziman itu adalah dua hal yang
dimaksudkan secara bersama-sama, dan pada asalnya  perkataan
itu harus diartikan menurut lahirnya, kecuali jika ada dalil
atau indikasi tertentu yang memalingkannya dari makna lahir.
Sedangkan  dalam  hal  ini  saya tidak menjumpai faktor yang
mencegah atau melarang dipakainya makna  lahir  itu,  bahkan
riwayat  Imam  Ahmad  yang  menyebutkan  "maka  beliau tidak
melepaskan tangan beliau dari tangannya sehingga ia  membawa
beliau  pergi  kemana saja ia suka" menunjukkan dengan jelas
bahwa makna lahir itulah  yang  dimaksud.  Sungguh  termasuk
memberat-beratkan diri dan perbuatan serampangan jika keluar
dari makna lahir ini.
 
Lebih banyak dan lebih mengena lagi  apa  yang  diriwayatkan
dalam  Shahihain dan kitab-kitab Sunan dari Anas "bahwa Nabi
saw. tidur siang hari di rumah bibi Anas yang  bernama  Ummu
Haram binti Milhan istri Ubadah bin Shamit, dan beliau tidur
di sisi  Ummu  Haram  dengan  meletakkan  kepala  beliau  di
pangkuan  Ummu  Haram,  dan  Ummu  Haram membersihkan kepala
beliau dari kutu ..."
 
Ibnu Hajar dalam menjelaskan hadits ini mengatakan,  "Hadits
ini  memperbolehkan  tamu  tidur  siang  di rumah orang lain
(yakni tuan rumah) dengan memenuhi  persyaratannya,  seperti
dengan adanya izin dan aman dari fitnah, dan bolehnya wanita
asing  (bukan  istri)  melayani  tamu  dengan  menghidangkan
makanan, menyediakan keperluannya, dan sebagainya.
 
Hadits  ini  juga  memperbolehkan  wanita  melayani  tamunya
dengan  membersihkan  kutu   kepalanya.   Tetapi   hal   ini
menimbulkan kemusykilan bagi sejumlah orang. Maka Ibnu Abdil
Barr berkata, "Saya kira Ummu Haram itu  dahulunya  menyusui
Rasulullah  saw.  (waktu  kecil), atau saudaranya yaitu Ummu
Sulaim, sehingga  masing-masing  berkedudukan  "sebagai  ibu
susuan"  atau  bibi susuan bagi Rasulullah saw.. Karena itu,
beliau tidur di sisinya, dan dia lakukan terhadap Rasulullah
apa yang layak dilakukan oleh mahram."
 
Selanjutnya   Ibnu  Abdil  Barr  membawakan  riwayat  dengan
sanadnya  yang  menunjukkan  bahwa  Ummu   Haram   mempunyai
hubungan  mahram  dengan  Rasul  dari  jurusan bibi (saudara
ibunya), sebab ibu Abdul Muthalib, kakek Nabi,  adalah  dari
Bani Najjar ...
 
Yang  lain  lagi berkata, "Nabi saw. itu maksum (terpelihara
dari  dosa  dan  kesalahan).  Beliau   mampu   mengendalikan
hasratnya  terhadap  istrinya,  maka  betapa  lagi  terhadap
wanita  lain  mengenai   hal-hal   yang   beliau   disucikan
daripadanya?  Beliau suci dari perbuatan-perbuatan buruk dan
perkataan-perkataan  kotor,  dan  ini  termasuk   kekhususan
beliau."
 
Tetapi  pendapat  ini  disangkal oleh al-Qadhi 'Iyadh dengan
argumentasi bahwa  kekhususan  itu  tidak  dapat  ditetapkan
dengan   sesuatu   yang   bersifat   kemungkinan.   Tetapnya
kemaksuman  beliau  memang  dapat  diterima,   tetapi   pada
dasarnya  tidak  ada  kekhususan dan boleh meneladani beliau
dalam  semua  tindakan  beliau,  sehingga  ada  dalil   yang
menunjukkan kekhususannya.
 
Al-Hafizh ad-Dimyati mengemukakan sanggahan yang lebih keras
lagi terhadap orang  yang  mengatakan  kemungkinan  pertama,
yaitu  anggapan  tentang  adanya  hubungan kemahraman antara
Nabi saw. dengan Ummu Haram. Beliau berkata:
 
"Mengigau orang yang menganggap  Ummu  Haram  sebagai  salah
seorang  bibi Nabi saw., baik bibi susuan maupun bibi nasab.
Sudah dimaklumi, orang-orang yang  menyusukan  beliau  tidak
ada  seorang  pun  di antara mereka yang berasal dari wanita
Anshar selain Ummu Abdil Muthalib, yaitu Salma binti Amr bin
Zaid  bin  Lubaid bin Hirasy bin Amir bin Ghanam bin Adi bin
an-Najjar; dan Ummu Haram adalah binti Milhan bin Khalid bin
Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir tersebut. Maka nasab Ummu
Haram tidak bertemu dengan nasab Salma kecuali pada Amir bin
Ghanam,  kakek  mereka yang sudah jauh ke atas. Dan hubungan
bibi (yang jauh) ini tidak menetapkan kemahraman, sebab  ini
adalah  bibi  majazi,  seperti  perkataan Nabi saw. terhadap
Sa'ad bin Abi Waqash, "Ini pamanku" karena Sa'ad  dari  Bani
Zahrah,  kerabat  ibu  beliau  Aminah, sedangkan Sa'ad bukan
saudara Aminah, baik nasab maupun susuan."
 
Selanjutnya beliau (Dimyati) berkata, "Apabila  sudah  tetap
yang  demikian,  maka terdapat riwayat dalam ash-Shahlh yang
menceritakan bahwa Nabi saw. tidak pernah  masuk  ke  tempat
wanita   selain  istri-istri  beliau,  kecuali  kepada  Ummu
Sulaim. Lalu beliau ditanya mengenai masalah itu, dan beliau
menjawab, 'Saya kasihan kepadanya, saudaranya terbunuh dalam
peperangan bersama  saya.'  Yakni  Haram  bin  Milhan,  yang
terbunuh pada waktu peperangan Bi'r Ma'unah."
 
Apabila  hadits  ini  mengkhususkan  pengecualian untuk Ummu
Sulaim,  maka  demikian  pula  halnya  dengan   Ummu   Haram
tersebut.   Karena  keduanya  adalah  bersaudara  dan  hidup
didalam  satu  rumah,  sedangkan  Haram  bin  Milhan  adalah
saudara  mereka  berdua.  Maka 'illat (hukumnya) adalah sama
diantara keduanya, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Hajar.
 
Dan ditambahkan  pula  kepada  'illat  tersebut  bahwa  Ummu
Sulaim  adalah  ibu Anas, pelayan Nabi saw., sedangkan telah
berlaku kebiasaan pergaulan antara pelayan,  yang  dilayani,
serta   keluarganya,   serta  ditiadakan  kekhawatiran  yang
terjadi diantara orang-orang luar.
 
Kemudian  ad-Dimyati  berkata,  "Tetapi  hadits  itu   tidak
menunjukkan  terjadinya khalwat antara Nabi saw. dengan Ummu
Haram,  kemungkinan  pada  waktu  itu  disertai  oleh  anak,
pembantu, suami, atau pendamping."
 
Ibnu  Hajar  berkata,  "Ini merupakan kemungkinan yang kuat,
tetapi masih  belum  dapat  menghilangkan  kemusykilan  dari
asalnya,  karena  masih adanya mulamasah (persentuhan) dalam
membersihkan kutu kepala, demikian pula tidur di pangkuan."
 
Al-Hafizh berkata, "Sebaik-baik jawaban mengenai masalah ini
ialah  dengan  menganggapnya sebagai kekhususan, dan hal ini
tidak dapat ditolak oleh keberadaanya yang tidak  ditetapkan
kecuali  dengan  dalil,  karena dalil mengenai hal ini sudah
jelas."11
 
Tetapi  saya  tidak  tahu  mana  dalilnya  ini,  samar-samar
ataukah jelas?
 
Setelah  memperhatikan  riwayat-riwayat  tersebut, maka yang
mantap dalam hati saya adalah bahwa semata-mata  bersentuhan
kulit  tidaklah  haram.  Apabila  didapati  sebab-sebab yang
menjadikan  percampuran  (pergaulan)  seperti  yang  terjadi
antara  Nabi  saw.  dengan  Ummu Haram dan Ummu Sulaim serta
aman  dari  fitnah  bagi  kedua  belah  pihak,  maka   tidak
mengapalah berjabat tangan antara laki-laki dengan perempuan
ketika diperlukan, seperti  ketika  datang  dari  perjalanan
jauh,  seorang  kerabat  laki-laki berkunjung kepada kerabat
wanita yang bukan mahramnya atau  sebaliknya,  seperti  anak
perempuan paman atau anak perempuan bibi baik dari pihak ibu
maupun dari pihak ayah, atau istri  paman,  dan  sebagainya,
lebih-lebih jika pertemuan itu setelah lama tidak berjumpa.
 
Dalam  menutup  pembahasan  ini  ada dua hal yang perlu saya
tekankan:
 
Pertama,  bahwa  berjabat  tangan   antara   laki-laki   dan
perempuan  itu  hanya  diperbolehkan  apabila tidak disertai
dengan syahwat serta aman dari fitnah. Apabila dikhawatirkan
terjadi fitnah terhadap salah satunya, atau disertai syahwat
dan taladzdzudz (berlezat-lezat)  dari  salah  satunya  (apa
lagi  keduanya;  penj.) maka keharaman berjabat tangan tidak
diragukan lagi.
 
Bahkan seandainya kedua syarat ini tidak terpenuhi  -  yaitu
tiadanya  syahwat  dan  aman  dari fitnah - meskipun jabatan
tangan  itu  antara  seseorang  dengan   mahramnya   seperti
bibinya,   saudara  sesusuan,  anak  tirinya,  ibu  tirinya,
mertuanya, atau lainnya, maka berjabat tangan  pada  kondisi
seperti itu adalah haram.
 
Bahkan  berjabat  tangan  dengan  anak  yang masih kecil pun
haram hukumnya jika kedua syarat itu tidak terpenuhi.
 
Kedua, hendaklah berjabat tangan itu sebatas  ada  kebutuhan
saja,  seperti  yang  disebutkan  dalam  pertanyaan di atas,
yaitu dengan  kerabat  atau  semenda  (besan)  yang  terjadi
hubungan yang erat dan akrab diantara mereka; dan tidak baik
hal ini diperluas kepada orang lain, demi  membendung  pintu
kerusakan,  menjauhi syubhat, mengambil sikap hati-hati, dan
meneladani  Nabi  saw.  -  tidak  ada  riwayat   kuat   yang
menyebutkan  bahwa  beliau  pernah  berjabat  tangan  dengan
wanita lain (bukan kerabat  atau  tidak  mempunyai  hubungan
yang erat).
 
Dan  yang  lebih  utama  bagi seorang muslim atau muslimah -
yang komitmen pada agamanya - ialah tidak  memulai  berjabat
tangan  dengan  lain  jenis. Tetapi, apabila diajak berjabat
tangan barulah ia menjabat tangannya.
 
Saya tetapkan keputusan ini untuk  dilaksanakan  oleh  orang
yang  memerlukannya tanpa merasa telah mengabaikan agamanya,
dan  bagi   orang   yang   telah   mengetahui   tidak   usah
mengingkarinya    selama   masih   ada   kemungkinan   untuk
berijtihad.
 
Wallahu a'lam.
 
Catatan kaki:
 
1 Lihat al-Ikhtiar li Mukhtar fi Fiqhil Hanafyah, 4: 155.
2 Ibid.,  4: 156-157
3 Perbuatan yang mereka ada-adakan antara tangan dengan
kaki mereka itu maksudnya ialah mengadakan
pengakuan-pengakuan palsu mengenai hubungan antara laki-laki
dengan wanita seperti tuduhan berzina, tuduhan bahwa anak si
Fulan bukan anak suaminya, dan sebagainya. (Al-Qur'an dan
Terjemahannya, catatan kaki nomor 1473; penj.)
4 HR Bukhari dalam sahihnya, dalam "Kitab Tafsir Surat
al-Mumtahanah," Bab "Idzaa Jaa'aka al-Mu'minaatu
Muhaajiraat."
5 Al-Mundziri berkata dalam at-Targhib: "Perawi-perawi
Thabrani adalah orang-orang tepercaya, perawi-perawi yang
sahih."
6 Beliau (al-Hakim) mengisyaratkan kepada riwayat
asy-Syaikhani dan lainnya dan hadits Ibnu Maswud, dan dalam
sebagian riwayat-riwayatnya: Bahwa seorang laki-laki datang
kepada Nabi saw. Lalu dia mengatakan bahwa dia telah berbuat
sesuatu terhadap wanita, mungkin menciumnya, menyentuh
dengan tangannya, atau perbuatan lainnya, seakan-akan ia
menanyakan kafaratnya. Lalu Allah menurunkan ayat (yang
artinya), "Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang
(pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam.
Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan
dosa perbuatan-perbuatan yang buruk..." (Hud: 114) (HR
Muslim dengan lafal ini dalam "Kitab at-Taubah," nomor 40)
7 Lihat, al-Mustadrak, 1: 135.
8 Majmu' Fatawa, Ibnu Taimiyah, terbitan ar-Riyadh, jilid
21, hlm. 223-224.
9 Ibid.
10 Fathul Bari, juz 13.
11 Fathul Bari 13: 230-231. dengan beberapa perubahan susunan
redaksional

Sumber: http://media.isnet.org

Leave a Reply

%d bloggers like this: