I’tikaf

I’TIKAF

 

1.    Makna I’tikaf secara syariat adalah: mendiami Masjid dan menetap di dalamnya dengan niat bertaqorrub kepada Alloh Ta’ala.

2.    Disyariatkannya: Para ulama bersepakat akan pensyariatannya. ”Karena Nabi صلى الله عليه وسلم dulu pernah beri’tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan sampai Alloh عزّوجلّ mewafatkan beliau. Kemudian isteri-isteri beliau beri’tikaf setelah wafatnya beliau.”

3.    Macam-macam i’tikaf :

a.     I’tikaf yang wajib: yaitu apabila seseorang mewajibkan atas dirinya untuk melakukan-nya dengan sebab nadzar.

b.     I’tikaf yang sunnah: yaitu apabila seorang muslim melaksanakannya dengan maksud mendekatkan diri kepada Alloh dan meneladani Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ditekankan pelaksanannya pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.

4.    Waktu i’tikaf : ”Adalah Nabi صلى الله عليه وسلم apabila bermaksud untuk melaksanakan i’tikaf, beliau sholat fajar lalu memasuki tempat i’tikaf beliau.” (muttafaq ’alaihi)

[Yaitu pada pagi hari kesepuluh bulan Ramadhan].

“Nabi pernah beri’tikaf pada sepuluh hari di bulan Syawwal.” (muttafaq ’alaihi).

5.    Syarat mu’takif (orang yang beri’tikaf): Dia haruslah seorang yang mumayyiz (berakal sehat dan baligh) dan suci dari janabat, haidh dan nifas.

6.    Rukun I’tikaf : Menetap di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala.

Yang dibolehkan bagi orang yang beri’tikaf :

a.     Keluar dari tempat i’tikaf-nya untuk mengantarkan keluarganya.

b.     Menyisir rambut, mencukur rambut, menggunting kuku, membersihkan badan (mandi), berparfum dan menggunakan pakaian yang bagus.

c.     Keluar dari masjid untuk menunaikan hajat yang mendesak, seperti buang air besar dan kecil, makan dan minum apabila tidak ada yang mengantarkan makanannya.

d.     Bagi seorang yang beri’tikaf, ia haruslah makan, minum dan tidur di Masjid dengan tetap harus menjaga kebersihannya.

7.    Etika di dalam I’tikaf: Dari ’Aisyah رضي الله عنها beliau berkata : ”Tuntunan di dalam i’tikaf yaitu tidak keluar kecuali untuk menunaikan hajat yang mendesak, tidak mengunjungi orang sakit, tidak menyentuh dan berkumpul (jima’) dengan isterinya, dan tidak ada i’tikaf kecuali di Masjid Jama’ah. Juga merupakan tuntunan adalah bagi orang yang beri’tikaf tetap harus berpuasa.” (Shahih, HR al-Baihaqi).

8.    Yang membatalkan i’tikaf: Jima’, keluar dari masjid tanpa ada keperluan secara sengaja, hilangnya ingatan karena gila atau mabuk, dan mengalami haidh dan nifas.

9.    Yang disunnahkah bagi mu’takif: Memperbanyak ibadah-ibadah nafilah seperti sholat, membaca Al-Qur`an, berdzikir dan membaca buku-buku agama.

10.    Yang dibenci bagi mu’takif: Menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat baik berupa perkataan maupun perbuatan, dan menahan diri dari berbicara dengan anggapan hal ini sebagai pendekatan diri kepada Alloh. (Lihat Fiqhus Sunnah).

Previous

Next

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: