Himah di Balik Puasa

HIKMAH DI BALIK IBADAH PUASA

 

Sesungguhnya Allah عزّوجلّ mewajibkan bulan puasa kepada kita untuk suatu hikmah yang sangat mendalam maknanya yaitu meraih derajat takwa. Allah عزّوجلّ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. al-Baqarah [2]: 183)

Ayat ini sangat penting untuk kita cermati karena Allah عزّوجلّ memulainya dengan panggilan iman yang menunjukkan bahwa tuntutan dalam ayat tersebut termasuk konsekuensi keimanan seseorang. Seakan-akan Allah عزّوجلّ mengatakan: “Seandainya iman kalian benar-benar sejati maka kalian akan mengerjakan apa yang Kuperintahkan kepada kalian.”

Perlu kita pahami bersama bahwasanya puasa yang Allah عزّوجلّ wajibkan kepada kita tidak hanya menahan makan dan minum semata. Akan tetapi lebih dari itu, yaitu menahan anggota badan dari bermaksiat kepada Allah عزّوجلّ, menahan mata dari melihat yang haram, menjauhkan telinga dari mendengar yang haram, menahan lisan dari mencaci dan menggunjing (ghibah), serta menjaga kaki untuk tidak melangkah ke tempat maksiat. Dan kita bisa merenung sebentar; jika makan, minum dan jimak saja yang hukum asal-nya boleh diharamkan oleh Allah عزّوجلّ pada bulan puasa, lantas bagaimana dengan hal-hal yang memang pada asalnya adalah haram?!! Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya mendapat lapar belaka.” (HR. Ibnu Majah: 1690 dan dishahih-kan oleh Syaikh al-Albani)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah berkata ko-tor dan berbuat bodoh. Apabila ada yang memerangimu atau mencelamu, maka katakanlah: ‘Aku sedang puasa, aku sedang puasa.'” (HR. Bukhari 4/103, Muslim: 1151)

Dalam hadits yang lain Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya serta kebodohan, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari: 1903)

Hal ini menunjukkan bahwa tiga hal di atas mempengaruhi pahala puasa dan menguranginya, sekalipun tidak membatalkannya.

Dari sinilah kita mengetahui hikmah yang mendalam dari disyari’atkannya puasa. Andaikan kita terlatih dengan tarbiyah yang agung semacam ini, sungguh Ramadhan akan berlalu sedangkan manusia berada dalam akhlak yang agung, berpegang dengan akhlak dan adab, karena itu adalah tarbiyah yang nyata. Dan ini-lah hakikat puasa yang sebenarnya. Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah رحمه الله berkata:

“Orang berpuasa yang sebenarnya adalah orang yang menahan anggota badannya dari segala dosa, lisannya dari dusta, perutnya dari makanan dan minuman, dan farjinya dari jimak. Bila berbicara, dia tidak mengelu-arkan perkataan yang menodai puasanya. Jika berbuat, dia tidak melakukan hal yang dapat merusak puasanya. Sehingga ucapannya yang keluar adalah bermanfaat dan baik. Demikian pula amal perbuatannya, ibarat wewangian yang dicium baunya oleh kawan duduknya. Seperti itu juga orang yang puasa, kawan duduknya mengambil manfaat dan merasa aman dari kedustaan, kemaksiatan, dan kezalimannya. Inilah hakikat puasa sebenarnya, bukan hanya sekadar menahan diri dari makanan dan minuman.” (al-Wabilush Shayyib wa Rafi’ul Kalim ath-Thayyib hlm. 57)

Previous

Next

Leave a Reply

%d bloggers like this: