Hewan Kurban

Kesembilan Belas

HEWAN KURBAN

 

Hewan kurban yang dimaksud adalah kambing yang disembelih setelah shalat ‘Iedul Adh-ha, sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Allah سبحانه و تعالي berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لاَ شَرِيكَ لَهُ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, kurbanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tidak ada sekutu baginya….” (QS. Al-An’aam/6: 162-163)

Kata an-nusuk di sini berarti penyembelihan hewan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Jalla Sya’nuhu.1

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Dari beberapa dalil yang ada, muncul yang rajih (kuat), yaitu wajib. Berikut ini, beberapa hadits yang menjadi dalil landasan bagi mereka yang mewajibkannya:

Pertama: Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dia berkata, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا

“Barang siapa memiliki keluasan (rizki) namun dia tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami.”2

Letak penggunaan dalil hadits di atas adalah bahwasanya beliau melarang orang yang memiliki keluasan rizki mendekati tempat pelaksanaan shalat jika dia tidak berkurban. Hal itu menunjukkan bahwa dia telah meninggalkan suatu kewajiban. Seakan-akan tidak ada manfaatnya mendekatkan diri kepada Allah سبحانه و تعالي jika dibarengi dengan tindakan meninggalkan hal yang wajib.

Kedua: Dari Jundub bin ‘Abdillah al-Bajali رضي الله عنه, dia berkata: “Aku menyaksikan Nabi صلي الله عليه وسلم pada hari kurban bersabda:

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَي، وَمَنْ لَـمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ

“Barang siapa menyembelihnya (kurban) sebelum shalat, hendaklah dia menggantinya dengan yang lain. Sedangkan barang siapa yang belum menyembelih, hendaklah dia menyembelihnya.”3

Masalah ini sudah sangat jelas, yaitu menunjukkan hukum wajib, tidak ada4 yang memalingkan dari lahiriahnya.

Ketiga: Dari Mikhnaf bin Sulaim رضي الله عنه, bahwasanya dia menyaksikan Nabi صلي الله عليه وسلم berkhutbah pada hari ‘Arafah, beliau bersabda:

عَلَى أَهْلِ كُلِّ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةٌ وَعَتِيرَةً، أَتَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ؟ هَذِهِ الَّتِي يَقُولُ عَنْهَا  النَّاسُ: الرَّجَبِيَّةُ

“Kepada penghuni setiap rumah pada setiap tahunnya berkewajiban untuk berkurban dan ‘atiirah.5 Tahukah kalian, apa ‘atiirah itu? Yaitu, apa yang oleh orang-orang disebut dengan rajabiyah (kambing yang disembelih pada bulan Rajab).”6

Dalam hadits tersebut terkandung pengertian hukum wajib. Adapun ‘atiirah telah dihapuskan, tetapi penghapusannya tidak mengharuskan penghapusan kurban, maka hukumnya masih terus berlaku sampai sekarang.

Ibnul Atsir berkata: “Al-‘Atiirah telah dihapuskan. Yang demikian itu telah berlangsung pada awal-awal Islam.”7

Sementara orang-orang yang menentang hal tersebut memiliki syubhat terbesar sehingga menjadikan mereka berpendapat bahwa berkurban itu sunnah, yaitu sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم:

إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَـمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ وَلاَ مِنْ بَشَرِهِ شَيْئًا

“Jika sudah masuk hari kesepuluh, lalu ada salah seorang di antara kalian ingin berkurban, maka hendaklah dia tidak mencukur rambut atau bulunya sedikit pun.”8

Mereka berkata:9 “Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa berkurban itu tidak wajib, karena Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

فَإِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ

Jika seorang di antara kalian ingin berkurban…

Seandainya berkurban itu wajib, niscaya beliau tidak akan menyerahkan kepada kehendak orang tersebut.”

Syubhat ini telah dibantah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله setelah men-tarjih (menguatkan) hukum wajib berkurban seraya berkata:10  “Penafian (peniadaan) hukum wajib yang mereka lakukan tidak disertai dengan nash dan yang menjadi sandaran mereka hanyalah sabda Rasulullah ‘Jika salah seorang di antara kalian hendak berkurban. Mereka mengatakan: ‘Suatu hal yang wajib itu tidak akan berhubungan dengan kehendak.’

Ungkapan ini bersifat global karena wajib tidak selalu diserahkan kepada kehendak seorang hamba sehingga dapat dikatakan: ‘Jika kamu mau, kerjakan saja.’ Bahkan, terkadang suatu hal yang wajib dihubungkan dengan syarat untuk menjelaskan salah satu dari beberapa hukum yang ada, misalnya firman Allah سبحانه و تعالي:

… إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ…

“… Jika kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah…” (QS. Al-Maa’idah/5: 6)

Dalam firman di atas ditetapkan: ‘Jika kalian hendak mengerjakan…. ‘ dan ditetapkan juga ‘Jika kalian hendak membaca al-Qur an, maka mohonlah perlindungan.’11 Padahal, thaharah (bersuci) dan membaca ta’awudz dalam shalat hukumnya wajib.

Allah عزّوجلّ pun berfirman:

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَالَمِينَ. لِمَن شَاء مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ

“Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwiir: 27-28)

Sebagaimana diketahui bahwa menempuh jalan yang lurus adalah suatu hal yang wajib.”

Lebih lanjut, Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata:12 “Selain itu, tidak setiap orang wajib menyembelih kurban, tetapi hanya bagi yang mampu. Orang yang mampu itulah yanghendak menyembelih kurban, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah صلي الله عليه وسلم:

مَنْ أَرَادَ الْحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ فَإِنَّهُ قَدْ تَضِلُّ الضَّالَّةُ وَتَعْرِضُ الْحَاجَةُ

“Barang siapa hendak menunaikan ibadah haji, hendaklah dia menyegerakannya karena bisa saja ia tertunda dengan sebab hilangnya harta atau adanya kebutuhan yang tidak diduga”.13

Berhaji itu wajib bagi orang yang mampu. Dengan demikian, sabda beliau: ‘Barang siapa yang hendak menyembelih kurban’ sama seperti sabda beliau: ‘Barang siapa hendak menunaikan haji’.

Penggunaan dalil mereka (yang berpendapat sunnah) dijawab pula oleh Imam al-‘Aini رحمه الله;14 sambil menjelaskan ungkapan penulis kitab al-Hidaayah:15 “Yang dimaksud dengan iradah (kehendak) pada apa yang diriwayatkan, walaahu a’lam, adalah lawan dari lupa, bukan pemberian pilihan.” Maka al-‘Aini رحمه الله berkata: “Bukanlah yang dimaksudkan di sini pemberian pilihan antara meninggalkan dan boleh mengerjakan sehingga seakan-akan beliau bersabda: ‘Barang siapa di antara kalian yang sengaja hendak menyembelih kurban.’ Hal itu tidak menunjukkan pada penafian hukum wajibnya, sebagaimana yang terdapat dalam sabda beliau:

مَنْ أَرَادَ الصَّلاَةَ فَلْيَتَوَضَأْ

“Barang siapa yang ingin mengerjakan shalat, hendaklah dia berwudhu.”16

Demikian pula sabda beliau yang lain:

مَنْ أَرَادَ مِنْكُمْ الْـجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ

“Barang siapa di antara kalian ingin mengerjakan shalat Jum’at, hendaklah dia mandi.”17

Maksudnya, orang yang ingin menunaikannya, bukan bermaksud memberikan pilihan. Demikian pula selanjutnya.”

Adapun penggunaan dalil orang-orang yang tidak mewajibkan kurban dengan kurban yang dilakukan Nabi صلي الله عليه وسلم untuk ummatnya, sebagaimana disebutkan di dalam kitab Sunan Abi Dawud (2810), Sunan at-Tirmidzi (1574), dan Musnad Ahmad (111/356) dengan sanad shahih dari Jabir, maka penggunaan dalil tersebut tidak benar. Sebab, ia diarahkan dengan menggabungkan dalil-dalil yang ada atas orang yang tidak mampu dari ummat ini.

Jadi, bagi yang tidak mampu untuk berkurban, maka hukum asalnya, yakni kewajiban tersebut, gugur dari dirinya. Wallaahu a ‘lam.




1.  Lihat Minhaajul Muslim (hlm. 355-356).

2.  HR. Ahmad  (1/321), Ibnu Majah (3123).  ad-Daraquthni (IV/ 277),  dan al-Hakim (II/349 dan IV/231) dengan sanad hasan.

3.  HR.  Al-Bukhari  (5562),  Muslim (I960), an-Nasa-i (VII/224), Ibnu Majah (3152). ath-Thayalisi (936), dan Ahmad (IV/312 dan 313).

4. Akan ada bantahan terhadap dalil terpenting yang dijadikan landasan oleh orang-orang yang menganggap sunnahnya kurban. Silakan tunggu pembahasannya.

5.  Di dalam kitab Ghariibul Hadits (1/195), Abu ‘Ubaid berkata: “Yaitu, penyembelihan hewan pada bulan Rajab, yang dipergunakan oleh kaum Jahiliyyah untuk bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah). Setelah itu, Islam datang ketika kebiasaan itu masih berlaku, kemudian menghapuskannya.

6.  HR. Ahmad (IV/215). Ibnu Majah (3125). Abu Dawud (2788), al-Baghawi (1128), at-Tirmidzi (1518), dan an-Nasa-i (VII/167). Dalam sanadnva terdapat Abu Ramlah, seorang yang majhul (tidak dikenal). Hadits mi memiliki jalan lain yang ada pada Ahmad (V/76), namun sanadnya dha’if. Oleh karena itu, hadits ini dinilai hasan oleh at-Tirmidzi di dalam kitab Sunannya, serta diperkuat oleh al-Hafidz ibnu Hajar di dalam kitab Fat-hul Baari (X/4). Lihat juga kitab al-Ishaabah (IX/151).

7.  Jaami’ al-Ushuul (III/317).  Lihat  kitab  al-Adillah al-Mutma-‘innah ‘alaa Tsubuuti an-Naskh fii al-Kitab wa as-Sunnah (hlm. 103-105) dan kitab al-Mughni (VIII/650-651).

8. HR. Muslim (1977), Abu Dawud (2791), an-Nasa-i (VII/211 dan 212), al-Baghawi (1127), Ibnu Majah (3149), al-Baihaqi (IX/266), Ahmad (VI/289) dan (VI/301 dan 311), al-Hakim (IV/220), dan arh-Thahawi di dalam kitab Syurh Ma’aani al-atsar(IV/181) melalui beberapa jalan dari Ummu Salamah رضي الله عنها. Yang di maksudkan dengan kata al-asyr adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

9.  Al-Majmuu’  (VIII/301),  al-Muhallaa  (VIII/3),  Mughni al-Muhtajj  (IV/282)   dan Syarhus Sunnah (IV/348).

10. Majmuu’al-Fataawaa (XXIII/162-164).

11.Yakni firman Allah عزّوجلّ dalam Surat ke-16 An-Nahl Ayat: 98 yang berbunyi:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu membaca Al Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk” ~Ibnu Majjah

12. Majmuu’al-Fataawaa (XXIII/162-164).

13. HR. Ahmad (1/214, 323, 355), Ibnu Majah (3883), dan Abu Nu’ aim di dalam kitab al-Hilyah(I/14) dari al- dari jalan lain yang ada pada Abu Dawud (1732), ad-Darimi (11/28), al-Hakim Fadhal, namun di dalam sanadnya terdapat kelemahan. Akan tetapi, hadits ini juga disebutkan (1/448), dan Ahmad (1/225) yang di dalamnya masih terdapat kelemahan juga. Meskipun demikian, dengan kedua jalan tersebut, hadits ini menjadi hasan, insya Allah. Lihat kitab Irwaa-ul Ghaliil karya guru kami, al-Albani (IV/168-169).

14. Al-Binaayah Syarhil’ Hidaayah (IX/106-114).

15. Maksudnya  kitab  al-Hidaayah  Syarh al-Bidaayah  dalam  fiqih  madzhab  Hanafi. Kitab ini termasuk salah satu kitab yang berlaku di dalam madzhab tersebut, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Kasyf azh-Zhunun (II/2031-2040) karya Imam ‘Ali bin Abi Bakar al-Marghinani yang meninggal dunia pada tahun 593 H. Biografinya ada di dalam kitab al-Fawaa-id al-Bahiyyah (hlm. 141) karya al-Laknawi.

16. Saya  (penulis)  tidak  mendapatkan  hadits dengan lafazh mi sehingga hadits itu tidak bisa dijadikan dalil. Mungkin juga hal itu tidak disebutkan sebagai hadits.

17. HR. Muslim  (844)  dengan  lafazh  seperti itu dan Ibnu ‘Umar. Telah diriwayatkan juga oleh al-Bukhari dengan lafazh lain (no. 877 dan 894 serta 919).

Previous

Next

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: