Hak Waris Kakek dan Saudara

Pada bab ini Anda akan mempelajari:

        Pengertian Kakek

        Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek dan Saudara

         Pendapat Madzhab Pertama

         Pendapat Madzhab Kedua

        Penjelasan Madzhab Kedua

        Hukum Keadaan Pertama

         Dengan Cara Pembagian

         Dengan Cara Mendapatkan 1/3 Dari Seluruh Harta Waris Yang Ditinggalkan Pewaris

        Hukum Keadaan Kedua

        Ketika Saudara Sekandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek

        Hak Waris Saudara Seibu dan Keturunan Para Saudara Sekandung ataupun Seayah

        Masalah al-Akdariyah

Pengertian Kakek

Yang dimaksud dengan kakek disini adalah kakek yang sahih, yakni kakek yang nasabnya terhadap pewaris tidak tercampuri unsur wanita, misalnya ayah dari bapak dan seterusnya keatas. Sedangkan kakek yang tercampuri unsur wanita disebut juga sebagai kakek yang rusak nasabnya, misalnya ayahnya ibu, atau ayah dari ibunya ayah.

Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Kakek dan Saudara

Baik Al-Qur’an maupun Al-Hadits tidak menjelaskan secara jelas tentang hukum waris bagi kakek yang sahih ketika bersamaan dengan saudara sekandung ataupun saudara seayah. Didalam Al-Qur’an hanya diterangkan mengenai hak waris ayah ketika bersamaan dengan para saudara. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra., disebutkan bahwa Umar berkhutbah di atas mimbar Rasulullah saw. Setelah membaca hamdalah dan memuji Allah, ia berkata: “Sesungguhnya telah diturunkan ayat tentang pengharaman khamar (minuman keras) yang terbuat dari lima jenis; gandum, jelai, kurma, anggur dan madu. Khamar adalah sesuatu yang menghilangkan kesadaran akal. Dan ada tiga perkara, wahai hadirin sekalian, yang aku ingin sekali Rasulullah saw. mewasiatkan kepada kita yaitu mengenai warisan kakek, kalalah dan perkara-perkara yang masuk dalam kategori riba.” (Shahih Muslim No.5360)

Oleh karena itu, mayoritas sahabat sangat berhati-hati dalam menentukan masalah ini, bahkan mereka cenderung sangat takut untuk memberi fatwa yang berkenaan dengan masalah ini. Ibnu Mas’ud r.a. dalam hal ini pernah mengatakan: “Bertanyalah kalian kepada kami tentang masalah yang sangat pelik sekalipun, namun janganlah kalian tanyakan kepadaku tentang masalah warisan kakek yang sahih dengan saudara.”

Para imam madzhab pun berbeda pendapat mengenai hak waris kakek bila bersamaan dengan para saudara, sama seperti perbedaan yang terjadi di kalangan para sahabat Rasulullah saw. Perbedaan tersebut dapat digolongkan ke dalam dua madzhab sebagai berikut:

Pendapat Madzhab Pertama

Mereka menyatakan bahwa para saudara, baik saudara sekandung, saudara seayah, ataupun seibu, terhalang (gugur) hak warisnya dengan adanya kakek. Mereka beralasan bahwa kakek akan mengganti kedudukan ayah bila telah tiada, karena kakek merupakan bapak yang paling tinggi. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kaidah yang masyhur di kalangan fuqaha, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Yakni, bila ternyata ashabah banyak arahnya, maka yang lebih didahulukan adalah arah anak (keturunan), kemudian arah ayah, kemudian saudara, dan barulah arah paman. Sekali-kali arah itu tidak akan berubah atau berpindah kepada arah yang lain, sebelum arah yang lebih dahulu hilang atau habis. Misalnya, jika ashabah itu ada anak dan ayah, maka yang didahulukan adalah arah anak. Bila ashabah itu ada arah saudara dan arah paman maka yang didahulukan adalah arah saudara, kemudian barulah arah paman. Oleh karena itu, golongan yang pertama ini menyatakan bahwa arah ayah, mencakup pula kakek, buyut (ayahnya kakek), dan seterusnya keatas, lebih didahulukan daripada arah saudara. Dengan demikian, hak waris para saudara akan terhalangi karena adanya arah kakek, sama seperti gugurnya hak waris oleh saudara bila ada ayah. Madzhab ini merupakan pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq, Abu Musa, Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan 14 sahabat yang lain. Pendapat ini diikuti oleh madzhab Hanafi, dan juga oleh syaikh Abdurrahman as-Sa’dy dan syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz.

Pendapat Madzhab Kedua

Mereka berpendapat bahwa para saudara sekandung dan saudara seayah, baik laki-laki maupun perempuan berhak mendapat hak waris ketika bersamaan dengan kakek. Kakek tidaklah menggugurkan hak waris para saudara sekandung dan yang seayah, sama seperti halnya ayah. Alasan yang dikemukakan golongan kedua ini ialah bahwa derajat kekerabatan saudara dan kakek dengan pewaris sama. Kedekatan kakek terhadap pewaris melewati ayah, demikian juga saudara. Kakek merupakan pokok dari ayah (ayahnya ayah), sedangkan saudara adalah cabang dari ayah (anak-anaknya ayah), karena itu tidaklah layak untuk mengutamakan yang satu dari yang lain karena mereka sama derajatnya. Bila kita mengutamakan yang satu dan mencegah yang lain berarti telah melakukan kezhaliman tanpa alasan yang dapat diterima. Hal ini sama dengan memberikan hak waris kepada para saudara sekandung kemudian di antara mereka ada yang tidak diberi.

Alasan lain yang dikemukakan madzhab ini ialah bahwa kebutuhan para saudara terhadap harta jauh lebih besar daripada kakek. Sebagai gambaran, misalnya saja warisan pewaris ini dibagikan atau diberikan hanya kepada kakek tanpa saudara diberi bagian, kemudian kakek ini wafat, maka harta peninggalannya akan berpindah kepada anak-anaknya kakek, yang berarti paman-paman para saudara. Dengan demikian para paman menjadi ahli waris, sedangkan para saudara tadi hanya menggigit jari dan kebagian tangis, tidak mendapat warisan dari saudaranya yang meninggal.

Pendapat ini dianut oleh ketiga imam, yaitu Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal, dan diikuti oleh kedua orang murid Abu Hanifah, yaitu Muhammad dan Abu Yusuf. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur sahabat dan tabi’in, yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, asy-Syi’bi, dan ahli Madinah ridhwanullah ‘alaihim.

Didalam buku “Pembagian Waris menurut Islam”, karya Muhammad Ali Ash-Shabuni, disebutkan bahwa pendapat madzhab kedua ini adalah pendapat jumhur ulama, artinya ini adalah pendapat yang paling rajih (kuat). Namun dalam buku “Panduan Praktis Hukum Waris Menurut Al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih”, karya Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, disebutkan bahwa pendapat yang paling rajih (kuat) adalah madzhab yang pertama. Wallahu’alam.

Penjelasan Madzhab Kedua

Untuk lebih menjelaskan pendapat madzhab yang kedua, maka ia mempunyai dua keadaan, dan masing-masing memiliki hukum tersendiri sebagai berikut:

         Keadaan pertama: kakek mewarisi hanya bersamaan dengan para saudara, tidak ada ahli waris lain dari ashhabul furudh, seperti istri atau ibu, atau anak perempuan, dan sebagainya.

         Keadaan kedua: kakek mewarisi bersama para saudara dan ashhabul furudh yang lain, seperti ibu, istri, suami, nenek, dan anak perempuan.

Hukum Keadaan Pertama

Bila seseorang wafat dan meninggalkan kakek serta saudara-saudara tanpa ashhabul furudh yang lain, maka bagi kakek dipilihkan perkara yang paling menguntungkan baginya dari dua pilihan yang ada, agar kakek lebih banyak memperoleh harta warisan. Terdapat dua metode dalam hal ini, yakni:

1.      Dengan cara pembagian.

2.      Dengan cara mendapatkan 1/3 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris.

Mana di antara kedua metode tersebut yang lebih baik bagi kakek, itulah yang menjadi bagiannya. Bila metode pembagian lebih baik baginya maka hendaklah kakek dibagi dengan cara pembagian, dan bila mendapatkan 1/3 harta warisan lebih baik maka itulah yang menjadi haknya. Dengan demikian, minimal bagian kakek adalah 1/3 bagian pada hukum untuk keadaan pertama ini.

Dengan Cara Pembagian

Yang dimaksud dengan cara pembagian adalah kakek dikategorikan seperti saudara sekandung, ia mendapatkan bagian yang sama dengan bagian saudara laki-laki sekandung. Apabila kakek berhadapan dengan saudara perempuan sekandung, maka ia menempati posisi yang sama seperti saudara laki-laki sekandung. Berarti kakek mendapatkan bagian dua kali lipat bagian para saudara perempuan sekandung.

Ada lima keadaan yang lebih menguntungkan kakek bila menggunakan cara pembagian. Kelima keadaan tersebut sebagai berikut:

1.      Kakek dengan seorang saudara perempuan sekandung. Pada keadaan ini, kakek mendapat 2/3.

2.      Kakek dengan dua orang saudara perempuan sekandung. Pada keadaan ini, kakek mendapat 1/2.

3.      Kakek dengan tiga orang saudara perempuan sekandung. Pada keadaan ini, kakek mendapat 2/5.

4.      Kakek dengan saudara laki-laki sekandung. Pada keadaan ini, kakek mendapat 1/2.

5.      Kakek dengan saudara laki-laki sekandung dan saudara perempuan sekandung. Pada keadaan ini, kakek mendapat 2/5.

Kelima keadaan di atas lebih menguntungkan kakek jika menggunakan cara pembagian. Bila menggunakan metode pembagian kemungkinan merugikan kakek, maka kakek mendapat bagiannya dengan cara mendapatkan 1/3 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris.

Selain itu, ada tiga keadaan yang menyebabkan kakek mendapatkan bagian yang sama baik secara pembagian ataupun dengan mengambil sepertiga harta waris yang ada. Ketiga keadaan itu adalah sebagai berikut:

1.      Kakek dengan dua orang saudara laki-laki sekandung.

2.      Kakek dengan empat orang saudara perempuan sekandung.

3.      Kakek dengan seorang saudara laki-laki sekandung dan dua orang saudara perempuan sekandung.

Dengan Cara Mendapatkan 1/3 Dari Seluruh Harta Waris Yang Ditinggalkan Pewaris

Selain dari delapan keadaan yang dikemukakan di atas, maka pemberian 1/3 dari harta waris kepada  kakek lebih menguntungkannya. Misalnya, seseorang wafat dan meninggalkan seorang kakek dan tiga orang saudara, atau seorang kakek dan lima saudara perempuan sekandung atau lebih. Dalam hal ini kakek mendapat 1/3, dan sisanya dibagikan kepada para saudara, yang laki-laki mendapat dua kali lipat bagian wanita. Kalau saja dalam keadaan seperti itu kita gunakan cara pembagian (metode pertama), maka kakek akan dirugikan karena akan menerima kurang dari 1/3 harta warisan.

Hukum Keadaan Kedua

Bila kebersamaan kakek dengan para saudara tersebut dibarengi pula dengan adanya ashhabul furudh yang lain, maka kakek dapat memilih salah satu dari tiga pilihan yang paling menguntungkannya, yaitu:

1.      Dengan metode pembagian.

2.      Dengan menerima 1/3 dari sisa harta waris yang ditinggalkan pewaris setelah diberikan kepada ashhabul furudh.

3.      Dengan menerima 1/6 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris.

Bagaimanapun keadaannya, pada hukum kedua ini, minimal kakek diberi bagian 1/6 secara fardh, dan para saudara sekandung bisa saja dikurangi haknya atau bahkan digugurkan sama sekali jika memang harta tersebut telah habis. Ketetapan ini telah menjadi kesepakatan bulat imam mujtahid.

Bila menggunakan metode pertama lebih menguntungkan kakek, maka hendaknya kakek dibagi dengan cara itu. Dan jika dengan 1/3 dari sisa harta waris yang ada malah lebih menguntungkannya, maka itulah bagian kakek. Yang pasti, bagian kakek tidaklah boleh kurang dari 1/6 bagaimanapun keadaannya, terkecuali jika terjadi ‘aul yang dalam hal ini hanya terjadi pada masalah al-akdariyah (insya Allah akan dijelaskan pada sub bab yang terakhir pada bab ini).

Contoh 1

Seseorang wafat dan meninggalkan suami, kakek, dan saudara laki-laki sekandung. Maka bagaimanakah pembagiannya? Untuk menjawabnya kita harus tahu dahulu metode mana yang harus kita ambil agar kakek mendapatkan bagian yang paling menguntungkan buatnya.

         Dengan metode pembagian:

Suami mendapatkan 1/2 karena pewaris tidak mempunyai anak, dan sisanya dibagi dua, yakni kakek 1/4 dan saudara laki-laki sekandung juga 1/4. Dengan demikian, suami mendapat 2/4, kakek 1/4 dan saudara laki-laki sekandung juga 1/4.

         Dengan menerima 1/3 dari sisa harta waris yang ditinggalkan pewaris setelah diberikan kepada ashhabul furudh:

Suami mendapatkan 1/2 karena pewaris tidak mempunyai anak, kakek mendapat 1/3 dari 1/2, yakni 1/6 dan saudara laki-laki sekandung mendapat sisanya, yakni 2/6. Dengan demikian, suami mendapat 3/6, kakek 1/6 dan saudara laki-laki sekandung 2/6.

         Dengan menerima 1/6 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris:

Maka ini sudah jelas hasilnya akan sama dengan menerima 1/3 dari sisa harta waris yang ditinggalkan pewaris setelah diberikan kepada ashhabul furudh, yakni suami mendapat 3/6, kakek 1/6 dan saudara laki-laki sekandung 2/6.

Dari ketiga metode diatas, manakah yang paling menguntungkan buat kakek? Mari kita check:

= 1/4 ? 1/6 ? 1/6

= 3/12 ? 2/12 ? 2/12

= 3/12 adalah yang paling besar

Setelah dibandingkan, ternyata 3/12 (1/4) lebih besar dari 1/6. Maka pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan metode pembagian, dan metode inilah yang digunakan dalam menentukan bagian waris buat kakek.

Contoh 2

Seseorang wafat dan meninggalkan ibu, kakek, dua orang saudara laki-laki sekandung dan dua orang saudara perempuan sekandung. Maka bagaimanakah pembagiannya? Untuk menjawabnya kita harus tahu dahulu metode mana yang harus kita ambil agar kakek mendapatkan bagian yang paling menguntungkan buatnya.

         Dengan metode pembagian:

Ibu mendapat 1/6 bagian, dan sisanya (5/6) dibagikan kepada kakek, dua orang saudara laki-laki sekandung dan dua orang saudara perempuan sekandung, dengan ketentuan bagian laki-laki mendapat dua kali lipat bagian perempuan. Karena kakek dianggap sama dengan saudara laki-laki sekandung, maka jumlah kepala saudara perempuan sekandung dianggap ada 8 orang, sehingga pembagi harus ditashih, dari 6 menjadi 48, karena 5 tidak bisa dibagi 8. Dengan demikian, bagian ibu adalah 8/48, kakek mendapat 10/48, dua orang saudara laki-laki sekandung mendapat 20/48 sehingga masing-masing saudara laki-laki sekandung mendapat 10/48, dan dua orang saudara perempuan sekandung mendapat 10/48, sehingga masing-masing saudara perempuan sekandung mendapat 5/48.

         Dengan menerima 1/3 dari sisa harta waris yang ditinggalkan pewaris setelah diberikan kepada ashhabul furudh:

Ibu mendapat 1/6 bagian, kakek mendapat 1/3 dari sisa harta yang ada, yakni 1/3 dari 5/6, dan sisanya dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan, dengan ketentuan bagian anak laki-laki mendapat dua kali lipat bagian anak perempuan. Dengan demikian, bagian ibu adalah 3/18, kakek mendapat 5/18, dan sisanya, yakni 10/18 adalah bagian dua saudara laki-laki sekandung dan dua saudara perempuan sekandung. Dua saudara laki-laki sekandung dan dua saudara perempuan sekandung dianggap berjumlah 6 kepala saudara perempuan sekandung. Karena 10 tidak bisa dibagi 6, maka nilai ini harus ditashih lagi, yakni dikalikan 3. Sehingga bagiannya menjadi:

         Ibu = 3/18 x 3/3 = 9/54

         Kakek = 5/18 x 3/3 = 15/54

         Masing-masing saudara laki-laki sekandung = 10/18 x 3/3 x 2/6  = 10/54

         Masing-masing saudara perempuan sekandung = 10/18 x 3/3 x 1/6 = 5/54

         Dengan menerima 1/6 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris:

Ibu mendapat 1/6 bagian, kakek mendapat 1/6 bagian, dan sisanya (4/6) dibagikan kepada saudara laki-laki dan perempuan, dengan ketentuan bagian anak laki-laki mendapat dua kali lipat bagian anak perempuan. Jumlah saudara laki-laki sekandung ada dua orang, maka jumlah kepala saudara perempuan sekandung dianggap ada 6 orang, sehingga pembagi harus ditashih, dari 6 menjadi 18, karena 4 tidak bisa dibagi 6. Dengan demikian, bagian ibu adalah 3/18, kakek mendapat 3/18, dua orang saudara laki-laki sekandung mendapat 8/18 sehingga masing-masing saudara laki-laki sekandung mendapat 4/18, dan dua orang saudara perempuan sekandung mendapat 4/18, sehingga masing-masing saudara perempuan sekandung mendapat 2/18.

Dari ketiga metode diatas, manakah yang paling menguntungkan buat kakek? Mari kita check:

= 10/48 ? 15/54 ? 3/18

= 5/24 ? 5/18 ? 1/6

= 15/72 ? 20/72 ? 12/72

= Maka didapatkan, nilai yang terbesar adalah 20/72.

Setelah dibandingkan, ternyata yang paling besar adalah 20/72 (15/54). Maka pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan menerima sepertiga (1/3) dari sisa harta waris yang ditinggalkan pewaris setelah diberikan kepada ashhabul furudh, dan metode inilah yang digunakan dalam menentukan bagian waris buat kakek.

Contoh 3

Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak perempuan, nenek, kakek, dan tiga orang saudara perempuan sekandung. Maka berapakah bagian waris masing-masing? Untuk menjawabnya kita harus tahu dahulu metode mana yang harus kita ambil agar kakek mendapatkan bagian yang paling menguntungkan buatnya.

         Dengan metode pembagian:

Anak perempuan 1/2, nenek 1/6, dan sisanya untuk kakek dan tiga orang saudara perempuan sekandung. Diketahui sisanya adalah 2/6, dimana pembagi ini harus ditashih, dari 6 menjadi 30. Maka bagian anak perempuan 15/30, nenek 5/30, kakek 4/30, dan tiga orang saudara perempuan sekandung 6/30, sehingga masing-masing saudara perempuan sekandung mendapat 2/30.

         Dengan menerima 1/3 dari sisa harta waris yang ditinggalkan pewaris setelah diberikan kepada ashhabul furudh:

Anak perempuan 1/2, nenek 1/6, kakek 1/3 dari 2/6, yakni 2/18 dan tiga orang saudara perempuan sekandung mendapat sisanya. Diketahui sisanya adalah 4/18, sehingga pembagi ini harus ditashih lagi, dari 18 menjadi 54. Maka bagian anak perempuan 27/54, nenek 9/54, kakek 6/54, dan tiga orang saudara perempuan sekandung 12/54, sehingga masing-masing saudara perempuan sekandung mendapat 4/54.

         Dengan menerima 1/6 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris:

Anak perempuan 1/2, nenek 1/6, kakek 1/6, dan sisanya dibagikan kepada tiga orang saudara perempuan sekandung dibagi secara rata. Dengan demikian anak perempuan mendapat 3/6, nenek 1/6, kakek 1/6, dan sisanya 1/6 dibagikan kepada tiga orang saudara perempuan sekandung dibagi secara rata. Nilai ini harus ditashih lagi, yakni dikalikan 3. Setelah ditashih, maka anak perempuan mendapat 9/18, nenek 3/18, kakek 3/18, dan masing-masing saudara perempuan sekandung mendapat 1/18.

Dari ketiga metode diatas, manakah yang paling menguntungkan buat kakek? Mari kita check:

= 4/30 ? 6/54 ? 3/18

= 2/15 ? 1/9 ? 1/6 Diketahui 15 x 9 x 6 = 810

= 108/810 ? 90/810 ? 135/810

= Maka didapatkan, nilai yang terbesar adalah 135/810.

Setelah dibandingkan, ternyata yang paling besar adalah 135/810 (3/18). Maka pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan dengan menerima 1/6 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris, dan metode inilah yang digunakan dalam menentukan bagian waris buat kakek.

Contoh 4

Seseorang wafat dan meninggalkan lima anak perempuan, suami, kakek, dan empat saudara laki-laki sekandung. Maka berapakah bagian waris masing-masing? Untuk menjawabnya kita harus tahu dahulu metode mana yang harus kita ambil agar kakek mendapatkan bagian yang paling menguntungkan buatnya.

         Dengan metode pembagian:

Suami mendapat 1/4, lima anak perempuan mendapat 2/3, dan sisanya (1/12) untuk kakek dan empat saudara laki-laki sekandung. Tanpa perlu dilanjutkan perhitungan masing-masing ahli waris, terlihat bahwa metode ini tidak menguntungkan bagi kakek jika dibandingkan dengan metode ketiga.

         Dengan menerima 1/3 dari sisa harta waris yang ditinggalkan pewaris setelah diberikan kepada ashhabul furudh:

Apalagi metode ini, kakek akan mendapatkan 1/3 dari 1/12, yakni 1/36. Ini lebih merugikan lagi dari metode pertama.

         Dengan menerima 1/6 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris:

Tidak diragukan lagi, bahwa metode ini yang paling menguntungkan bagi kakek, karena ia mendapat 1/6 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris dan metode inilah yang harus kita ambil dalam mencari bagian waris buat kakek. Maka suami mendapat 1/4, lima anak perempuan mendapat 2/3, dan kakek mendapat 1/6, sedangkan empat saudara laki-laki sekandung tidak mendapatkan apa-apa karena tidak ada bagian yang bersisa. Nilai pembagi di ‘aul kan lagi, dari 12 menjadi 13, sehingga suami mendapat 3/13, lima anak perempuan mendapat 8/13, dan kakek mendapat 2/13. Berhubung anak perempuan ada lima orang, maka harus dilakukan tashih, karena 8 tidak bisa dibagi 5. Setelah ditashih, maka suami mendapat 15/65, lima anak perempuan mendapat 40/65, sehingga masing-masing anak perempuan mendapat 8/65 dan kakek mendapat 10/65.

Contoh 5

Seseorang wafat dan meninggalkan dua orang istri, seorang anak perempuan, seorang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki, kakek, ibu, dan sepuluh saudara perempuan sekandung. Maka berapakah bagian waris masing-masing? Untuk menjawabnya kita harus tahu dahulu metode mana yang harus kita ambil agar kakek mendapatkan bagian yang paling menguntungkan buatnya.

         Dengan metode pembagian:

Kedua orang istri 1/8, anak perempuan 1/2, dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna dua per tiga 2/3, ibu mendapatkan 1/6, dan sisanya (1/24) untuk kakek dan sepuluh saudara perempuan sekandung. Tanpa perlu dilanjutkan perhitungan masing-masing ahli waris, terlihat bahwa metode ini tidak menguntungkan bagi kakek jika dibandingkan dengan metode ketiga.

         Dengan menerima 1/3 dari sisa harta waris yang ditinggalkan pewaris setelah diberikan kepada ashhabul furudh:

Apalagi metode ini, kakek akan mendapatkan 1/3 dari 1/24, yakni 1/72. Ini lebih merugikan lagi dari metode pertama.

         Dengan menerima 1/6 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris:

Tidak diragukan lagi, bahwa metode ini yang paling menguntungkan bagi kakek, karena ia mendapat 1/6 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris dan metode inilah yang harus kita ambil dalam mencari bagian waris buat kakek. Maka kedua orang istri 1/8, anak perempuan 1/2, dan cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki 1/6 sebagai penyempurna dua per tiga 2/3, ibu mendapatkan 1/6, dan kakek juga 1/6. Sedangkan sepuluh saudara perempuan sekandung tidak mendapatkan apa-apa sebab ashhabul furudh telah menghabiskan bagian yang ada. Nilai pembagi di ‘aul kan lagi, dari 24 menjadi 27, sehingga kedua orang istri mendapat 3/27, anak perempuan mendapat 12/27, cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat 4/27, ibu mendapat 4/27 dan kakek mendapat 4/27. Karena jumlah istri ada dua, maka harus dilakukan tashih, karena 3 tidak bisa dibagi 2. Setelah ditashih, maka kedua orang istri mendapat 6/54, sehingga masing-masing istri mendapat 3/54, anak perempuan mendapat 24/54, cucu perempuan keturunan dari anak laki-laki mendapat 8/54, ibu mendapat 8/54 dan kakek mendapat 8/54.

Hukum tentang hak waris saudara laki-laki dan/atau perempuan seayah ketika bersama dengan kakek, tanpa adanya saudara laki-laki dan/atau perempuan sekandung, maka hukumnya sama dengan kedua hukum yang telah dijelaskan di atas.

Ketika Saudara Sekandung dan Seayah Mewarisi bersama Kakek

Pembahasan di atas berkisar mengenai bagian kakek bila hanya bersamaan dengan saudara sekandung saja atau dengan saudara seayah saja, tanpa adanya saudara sekandung. Pada bagian ini akan dijelaskan bagian kakek jika ia tidak hanya bersama dengan saudara sekandung, tetapi sekaligus bersama dengan saudara seayah. Jadi mereka, kakek, saudara sekandung dan saudara seayah ada semua dalam satu keadaan.

Untuk keadaan seperti ini, ulama faraid menyatakan bahwa para saudara seayah dikategorikan sama dengan saudara sekandung, yakni mereka dianggap satu jenis. Jadi jika ada seorang saudara laki-laki sekandung dan seorang saudara laki-laki seayah, maka dianggap ada dua orang saudara laki-laki sekandung, dan seterusnya. Namun, walaupun mereka dianggap satu jenis, bukan berarti satu derajat, yakni tetap saja keberadaan saudara sekandung dapat menghalangi hak waris saudara seayah. Ketentuan mengenai hukum al-hajb ini tetap digunakan.

Mengenai tata cara pembagiannya, sama seperti pada hukum pertama dan hukum kedua diatas, sebagaimana yang sudah kita bahas sama-sama. Jika menggunakan metode pembagian, maka keberadaan saudara seayah ini membuat bagian saudara sekandung bertambah, sebab bagian untuk saudara laki-laki seayah diambil oleh saudara sekandung laki-laki, disebabkan saudara seayah terhalang oleh saudara sekandung. Dengan demikian, keberadaan saudara seayah ini bisa saja dalam satu keadaan terlihat merugikan kakek jika menggunakan metode pembagian, karena sisa bagian waris akan menjadi milik saudara sekandung saja, disebabkan saudara seayah terhalang oleh saudara sekandung. Jika terjadi demikian, maka harus menggunakan metode lainya dalam menentukan bagian waris untuk kakek, sehingga didapatkan bagian waris yang paling menguntungkan buat kakek. Silahkan pelajari contoh-contoh soal dibawah ini untuk lebih memperjelas.

Contoh 1

Seseorang wafat dan meninggalkan kakek, saudara laki-laki sekandung dan saudara laki-laki seayah. Berapakah bagian masing-masing ahli warisnya?

Berhubung disini tidak ada ashhabul furudh lainnya, maka kita harus menggunakan hukum pertama, bukan hukum kedua. Untuk menjawabnya kita harus tahu dahulu metode mana yang harus kita ambil agar kakek mendapatkan bagian yang paling menguntungkan buatnya.

         Dengan metode pembagian:

Dianggap jumlah saudara laki-laki sekandung ada 3 orang, maka kakek mendapat 1/3 bagian, dan saudara laki-laki sekandung memperoleh 2/3 bagian, sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena adanya saudara laki-laki sekandung.

         Dengan cara mendapatkan 1/3 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris:

Maka kakek mendapat 1/3, dan saudara laki-laki sekandung memperoleh 2/3 bagian, sedangkan saudara laki-laki seayah terhalang karena adanya saudara laki-laki sekandung.

Pada contoh 1 ini terlihat kedua metode yang digunakan menghasilkan nilai yang sama buat kakek, yakni 1/3. Karena itu kita dapat menggunakan kedua metode ini untuk menentukan pembagian waris bagi kakek.

Contoh 2

Seseorang wafat dan meninggalkan seorang saudara perempuan sekandung, kakek, seorang saudara laki-laki seayah, dan dua orang saudara perempuan seayah. Berapakah bagian masing-masing ahli warisnya?

Berhubung disini tidak ada ashhabul furudh lainnya, maka kita harus menggunakan hukum pertama, bukan hukum kedua. Untuk menjawabnya kita harus tahu dahulu metode mana yang harus kita ambil agar kakek mendapatkan bagian yang paling menguntungkan buatnya.

         Dengan metode pembagian:

Pertama-tama, mari kita jumlahkan total orangnya:

=    Seorang saudara perempuan sekandung + kakek + seorang saudara laki-laki seayah + dua orang saudara perempuan seayah

=    1 + 2 + 2 + 2

=    7

Maka kakek akan mendapat bagian 2/7, saudara perempuan sekandung mendapat 1/2 dari 7, dan sisanya untuk seorang saudara laki-laki seayah dan dua orang saudara perempuan seayah. Tanpa perlu kita lanjutkan, sudah jelas 2/7 lebih kecil dari 1/3, karena itu kita tidak dapat menggunakan metode ini.

         Dengan cara mendapatkan 1/3 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris:

Metode ini adalah yang paling menguntungkan bagi kakek, dan metode inilah yang akan kita gunakan untuk mencari bagian seluruh ahli waris. Saudara perempuan sekandung mendapat 1/2 bagian, kakek mendapat 1/3 bagian, sedangkan sisanya diberikan kepada seorang saudara laki-laki seayah dan dua orang saudara perempuan seayah, dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Nilai pembagi ditashih, dari 6 menjadi 24. Maka saudara perempuan sekandung mendapat 12/24 bagian, kakek mendapat 8/24 bagian, seorang saudara laki-laki seayah mendapat 2/24 dan dua orang saudara perempuan seayah mendapat 2/24, sehingga masing-masing saudara perempuan seayah mendapat 1/24.

Contoh 3

Seseorang wafat dan meninggalkan ibu, kakek, seorang saudara laki-laki sekandung, dan seorang saudara perempuan seayah. Berapakah bagian masing-masing ahli warisnya?

Berhubung disini ada ashhabul furudh lainnya, maka kita harus menggunakan hukum kedua, bukan hukum pertama. Untuk menjawabnya kita harus tahu dahulu metode mana yang harus kita ambil agar kakek mendapatkan bagian yang paling menguntungkan buatnya.

         Dengan metode pembagian:

Mari kita hitung jumlah kepalanya terlebih dahulu:

=    Kakek + seorang saudara laki-laki sekandung + seorang saudara perempuan seayah

=    2 + 2 + 1

=    5

Maka ibu mendapat 1/6, kakek 2/6, dan seorang saudara laki-laki sekandung mendapat 3/6, karena saudara perempuan seayah terhalang oleh dia.

         Dengan menerima 1/3 dari sisa harta waris yang ditinggalkan pewaris setelah diberikan kepada ashhabul furudh:

Maka kakek akan menerima 1/3 dari 5/6, yakni 5/18. Kita lihat, nilai 5/18 lebih kecil dari nilai yang dihasilkan pada metode pertama diatas, yakni 2/6 atau 1/3. Maka kita tidak dapat menggunakan metode ini untuk mencari bagian waris seluruh ahli waris.

         Dengan menerima 1/6 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris:

1/6 lebih kecil dari 2/6, maka kita tidak dapat menggunakan metode ini untuk mencari bagian waris seluruh ahli waris.Bila kita lihat ketiga hasil diatas, maka akan tampak oleh kita bahwa yang lebih menguntungkan bagi kakek dalam hal ini adalah dengan metode pembagian, bukan dengan cara menerima 1/3 dari sisa harta waris setelah diambil ashhabul furudh, ataupun dengan cara menerima 1/6 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris.

Contoh 4

Seseorang wafat dan meninggalkan seorang ibu, kakek, saudara perempuan sekandung, dan dua orang saudara laki-laki seayah. Berapakah bagian masing-masing ahli warisnya?

Berhubung disini ada ashhabul furudh lainnya, maka kita harus menggunakan hukum kedua, bukan hukum pertama. Selain itu, karena hanya ada seorang saudara perempuan sekandung tanpa ada satupun saudara laki-laki sekandung, maka saudara perempuan sekandung harus mendapat bagian 1/2 secara fardh, karena itu kita harus hati-hati dalam menentukan metode mana yang paling tepat agar kakek mendapatkan bagian yang paling menguntungkan buatnya.

         Dengan metode pembagian:

Mari kita hitung jumlah kepalanya terlebih dahulu:

=    Kakek + seorang saudara perempuan sekandung + dua orang saudara laki-laki seayah

=    2 + 1 + 4

=    7

Maka ibu mendapat 1/6, kakek 2/7, seorang saudara perempuan sekandung mendapat 1/2 secara fardh, dan sisanya untuk dua orang saudara laki-laki seayah. Pembagi yang digunakan adalah 42, maka ibu mendapat 7/42, kakek 12/42, seorang saudara perempuan sekandung mendapat 21/42, dan sisanya 2/42 untuk dua orang saudara laki-laki seayah, sehingga masing-masing saudara laki-laki seayah mendapat 1/42.

         Dengan menerima 1/3 dari sisa harta waris yang ditinggalkan pewaris setelah diberikan kepada ashhabul furudh:

Ibu memperoleh 1/6 bagian, kakek 1/3 dari 5/6, yakni 5/18, dan saudara kandung perempuan mendapat 1/2, sedangkan bagian dua orang saudara laki-laki seayah sisanya. Maka ibu memperoleh 3/18 bagian, kakek 5/18, saudara kandung perempuan mendapat 9/18, dan dua orang saudara laki-laki seayah mendapat 1/18. Nilai pembagi harus ditashih lagi, dari 18 menjadi 36, karena jumlah saudara laki-laki seayah ada dua orang. Maka ibu memperoleh 6/36 bagian, kakek 10/36, saudara kandung perempuan mendapat 18/36, dan dua orang saudara laki-laki seayah mendapat 2/36, sehingga masing-masing saudara laki-laki seayah mendapat 1/36.

         Dengan menerima 1/6 dari seluruh harta waris yang ditinggalkan pewaris:

1/6 lebih kecil dari 10/36, maka kita tidak dapat menggunakan metode ini untuk mencari bagian waris seluruh ahli waris.

Dari ketiga metode diatas, manakah yang paling menguntungkan buat kakek? Mari kita check:

= 12/42 ? 10/36 ? 1/6

= 2/7 ? 5/18 ? 1/6 Diketahui KPK dari 7, 18, dan 6 adalah 126.

= 36/126 ? 35/126 ? 21/126

= Maka didapatkan, nilai yang terbesar adalah 36/126.

Setelah dibandingkan, ternyata yang paling besar adalah 36/126 (12/42 atau 2/7). Maka pada contoh kasus ini kakek lebih beruntung untuk menerima warisan metode pembagian, dan metode inilah yang digunakan dalam menentukan bagian waris buat kakek.

Hak Waris Saudara Seibu dan Keturunan Para Saudara Sekandung ataupun Seayah

Telah menjadi ijma’ seluruh fuqaha ialah bahwa hak waris anak-anak dan seluruh keturunannya dari para saudara sekandung ataupun seayah menjadi gugur karena adanya kakek. Misalnya, bila seseorang meninggal dan hanya meninggalkan kakek serta anak dari saudara sekandung ataupun saudara seayah pewaris, maka seluruh warisannya menjadi hak kakek. Jadi hanya saudara sekandung atau seayah saja yang memungkinkan untuk mendapat bagian waris ketika bersama dengan kakek, namun seluruh keturunan mereka terhalang dengan adanya kakek.

Begitu juga, apabila pewaris hanya meninggalkan kerabat seperti kakek dan saudara-saudara seibu, baik laki-laki maupun perempuan, maka seluruh warisan merupakan bagian kakek. Sebab, seperti yang telah disepakati seluruh imam mujtahid, kakek dapat menggugurkan hak waris saudara seibu. Hak waris saudara seibu hanyalah bila terjadi kondisi kalalah, yakni pewaris tidak mempunyai pokok (ayah, kakek dan seterusnya ke atas) dan tidak pula mempunyai cabang (anak, cucu, cicit, dan seterusnya ke bawah).

Masalah al-Akdariyah

Masalah al-akdariyah adalah masalah waris antara kakek dan saudara perempuan sekandung, dimana disana terdapat pula suami dan ibu. Istilah al-akdariyah ini muncul karena masalah ini berkaitan dengan salah seorang wanita dari bani Akdar. Sedangkan sebagian ulama mengatakan bahwa penyebutan masalah ini dengan istilah al-akdariyah, yang artinya “kotor” atau “mengotori”, disebabkan masalah ini dianggap mengotori madzhab Zaid bin Tsabit (sosok sahabat yang telah dipuji Rasulullah akan kemahirannya dalam ilmu faraid). Hal ini karena beliau memvonis masalah waris ini dengan melakukan sesuatu yang bertentangan (menyimpang) dari kaidah-kaidah faraid yang masyhur.

Permasalahannya adalah: seseorang wafat dan meninggalkan seorang suami, ibu, kakek, dan seorang saudara perempuan sekandung. Apabila berpegang pada kaidah yang telah disepakati seluruh fuqaha, termasuk di dalamnya Zaid bin Tsabit sendiri, maka pembagiannya adalah dengan menggugurkan hak saudara perempuan sekandung, karena disana sudah tidak ada sisa harta waris. Sebab, suami mendapat 1/2 bagian, ibu mendapat 1/3 bagian, dan sisanya hanya 1/6 yang tidak lain sebagai bagian kakek yang tidak mungkin digugurkan, karena merupakan haknya secara fardh. Oleh sebab itu, sudah semestinya bagian saudara perempuan sekandung digugurkan karena tidak ada sisa harta waris.

Akan tetapi, dalam kasus ini Zaid bin Tsabit memvonis dengan menyalahi kaidah yang ada. Dia memberi saudara sekandung 1/2 bagian, dan menaikkan (meng-‘aul-kan) pembaginya dari 6 menjadi 9. Kemudian ia menyatukan hak saudara perempuan sekandung dengan saham kakek, dan membaginya menjadi bagian laki-laki dua kali lipat bagian wanita. Setelah ditashih, pembaginya menjadi 27, sehingga pembagiannya adalah sebagai berikut: Suami mendapat 9/27, ibu 6/27, kakek 8/27, dan saudara perempuan sekandung 4/27. Perhatikan cara mencarinya sebagai berikut:

= Bagian suami + bagian ibu + bagian saudara perempuan sekandung + bagian kakek




Setelah melihat nilai diatas, maka pembagi harus di’aulkan dari 6 menjadi 9, agar hasilnya 1. Maka bagian suami 3/9, bagian ibu 2/9, bagian saudara perempuan sekandung 3/9, dan bagian kakek 1/9. Lalu bagian saudara perempuan sekandung 3/9 dan bagian kakek 1/9 ini dijumlahkan, yaitu 4/9. Kemudian nilai 4/9 ini dibagi dua antara mereka, dengan ketentuan bagian kakek dua kali lipat bagian untuk saudara perempuan sekandung. Maka karena 4 tidak bisa dibagi 3, nilai pembagi harus ditashih, dari 9 menjadi 27. Sehingga suami mendapat 9/27, ibu 6/27, kakek 8/27, dan saudara perempuan sekandung 4/27.

<

p style=”text-align: justify”>Dalam hal ini Imam Malik dan Imam Syafi’i mengikuti apa yang pernah dilakukan Zaid bin Tsabit, sehingga menjadikannya sebagai keputusan ijtihad dalam fiqih kedua imam tersebut. Dalam masalah al-akdariyah ini sosok ahli waris mutlak tidak dapat diubah. Bila ada salah satu yang diubah, maka berarti telah keluar dari hukum tersebut. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: