Hak Waris Janin

Pada bab ini Anda akan mempelajari:

        Definisi Janin

        Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan

        Keadaan Janin

         Keadaan Pertama

         Keadaan Kedua

         Keadaan Ketiga

         Keadaan Keempat

         Keadaan Kelima

Definisi Janin

Janin menurut istilah fuqaha adalah janin yang dikandung dalam perut ibunya, baik laki-laki maupun perempuan. Salah satu syarat bahwa seorang ahli waris dapat mewarisi harta pewaris adalah keberadaannya masih hidup ketika pewaris wafat. Dengan demikian, bagi janin yang masih di dalam kandungan ibunya belum dapat ditentukan hak waris yang diterimanya, karena belum dapat diketahui secara pasti keadaannya, apakah bayi tersebut akan lahir dengan selamat atau tidak, berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, dan berjumlah satu atau kembar.

Seandainya bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup, maka kita nyatakan bahwa ahli waris dalam keadaan hidup pada saat pewaris wafat. Begitu juga jika ia lahir dalam keadaan mati, maka kita nyatakan bahwa ahli waris tidak ada ketika pewaris wafat. Secara ringkas dapat dikatakan, selama janin yang dikandung belum dapat diketahui dengan pasti keadaannya, maka mustahil bagi kita untuk menentukan jumlah bagian waris yang harus diterimanya. Karena itu, untuk mengetahui secara pasti kita harus menunggu setelah bayi itu lahir.

Namun, bisa saja kita membagi-bagikan dahulu sebagian harta waris kepada seluruh ahli waris, dengan catatan jumlah harta waris yang dibagikan tersebut tidak seluruhnya, yakni ada yang kita bekukan sebagiannya agar ketika bayi tersebut lahir, ia mendapatkan hak warisnya secara sempurna, begitu juga dengan ahli waris lainnya. Jika bayi tersebut telah lahir, maka barulah kita bagikan kepada masing-masing ahli waris secara lengkap setelah kelahiran bayi. Berkaitan dengan hal ini, para ulama faraid menjelaskan hukum-hukum khusus secara rinci dengan menyertakan berbagai pertimbangan demi menjaga kemaslahatan ahli waris yang ada.

Syarat Hak Waris Janin dalam Kandungan

Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan:

1.      Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat. Bayi tersebut dilahirkan maksimal 4 tahun setelah kematian pewaris, dan ibu yang mengandung tersebut tidak pernah melakukan hubungan intim dengan laki-laki lain selain pewaris wafat, hingga bayi tersebut lahir. Aisyah r.a. berpendapat bahwa janin tidak akan menetap dalam rahim ibunya melebihi dari dua tahun sekalipun berada dalam falkah mighzal, sedangkan Imam Ahmad berpendapat maksimal 4 tahun. Namun menurut pendapat lain, jika setelah kematian pewaris tidak ada seorang laki-lakipun yang berhubungan intim dengan wanita tersebut, kemudian setelah 4 tahun tiba-tiba ia melahirkan bayinya, maka bayi tersebut adalah anak dari pewaris.

2.      Bayi tersebut dilahirkan dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya, sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan. Tanda-tanda bahwa bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup diantaranya adalah bayi tersebut menangis, bersin, mau menyusu ke ibunya, atau yang semacamnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw., “Apabila seorang bayi sudah menangis, maka ia berhak mendapatkan warisan.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)  Bahkan, menurut mazhab Hanafi, hal ini bisa ditandai dengan gerakan apa saja dari bayi tersebut. Adapun menurut mazhab Syafi’i dan Hambali, bayi yang baru keluar dari dalam rahim ibunya dinyatakan hidup bila melakukan gerakan yang lama hingga cukup menunjukkan adanya kehidupan. Bila gerakan itu hanya sejenak, seperti gerakan hewan yang dipotong, maka tidak dinyatakan sebagai bayi yang hidup. Dengan demikian, ia tidak berhak mewarisi. Namun, apabila bayi yang keluar dari rahim ibunya dalam keadaan mati, atau ketika keluar separo badannya hidup tetapi kemudian mati, atau ketika keluar dalam keadaan hidup tetapi tidak stabil, maka tidak berhak mendapatkan waris, dan ia dianggap tidak ada. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Apabila bayi yang baru keluar dari rahim ibunya menangis (kemudian mati), maka hendaklah dishalati dan berhak mendapatkan warisan.” (HR. An-Nasa’i dan Tirmidzi).

Keadaan Janin

Ada lima keadaan bagi janin dalam kaitannya dengan hak mewarisi. Kelima keadaan tersebut:

1.      Bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun, baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan.

2.      Sebagai ahli waris dalam keadaan memiliki kelamin (laki-laki atau perempuan), dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin banci.

3.      Sebagai ahli waris dalam segala keadaannya baik sebagai laki-laki maupun perempuan.

4.      Sebagai ahli waris yang tidak berbeda hak warisnya, baik sebagai laki-laki ataupun perempuan.

5.      Sebagai ahli waris tunggal, atau ada ahli waris lain namun ia majhub (terhalang) hak warisnya karena adanya janin.

Keadaan Pertama

Jika janin tersebut bukan sebagai ahli waris dalam keadaan apa pun, baik janin tersebut berkelamin laki-laki ataupun perempuan, maka seluruh harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris lainnya secara langsung, tanpa harus menunggu kelahiran janin yang ada di dalam kandungan, disebabkan janin tersebut tidak termasuk ahli waris dalam segala kondisi.

Sebagai misal, seseorang wafat dan meninggalkan istri, ayah, dan ibu yang sedang hamil dari ayah tiri pewaris. Berarti bila janin itu lahir ia menjadi saudara laki-laki seibu pewaris. Maka dalam keadaan demikian, janin tersebut terhalang hak warisnya oleh adanya ayah pewaris. Dengan demikian harta waris yang ada hanya dibagikan kepada istri sebesar 1/4, ibu 1/3 dari sisa setelah diambil hak istri, yakni 1/4, dan sisanya (2/4) menjadi bagian ayah sebagai ashabah.

Keadaan Kedua

Jika janin tersebut dapat mewarisi dalam keadaan memiliki kelamin tertentu (laki-laki atau perempuan), dan bukan sebagai ahli waris dalam keadaan berkelamin banci, maka sebagian tertentu harta waris yang ada dibagikan kepada ahli waris yang ada dengan menganggap bahwa janin yang dikandung adalah salah satu dari ahli waris, namun untuk sementara bagian tertentu dari harta waris dibekukan hingga kelahirannya. Setelah janin lahir dengan selamat, maka hak warisnya secara sempurna diberikan kepadanya dan kepada ahli waris lainnya. Namun, bila lahir dan ternyata bukan termasuk dari ahli waris, maka harta yang dibekukan tadi dibagikan lagi kepada ahli waris yang ada.

Sebagai misal, seseorang wafat dan meninggalkan istri, paman sekandung, dan istri saudara laki-laki sekandung yang sedang hamil. Maka pembagiannya adalah sebagai berikut: istri mendapat 1/4, dan sisanya 3/4 dibekukan hingga janin yang ada di dalam kandungan itu lahir. Bila yang lahir anak laki-laki, maka dialah yang berhak untuk mendapatkan seluruh sisa harta yang dibekukan tadi. Sebab kedudukannya sebagai anak laki-laki keturunan saudara laki-laki sekandung, oleh karenanya ia lebih utama dibanding kedudukan paman kandung. Namun, apabila yang lahir anak perempuan, maka sisa harta waris yang dibekukan itu menjadi hak paman. Sebab anak perempuan keturunan saudara laki-laki sekandung termasuk dzawil arham.

Keadaan Ketiga

Apabila janin yang ada di dalam kandungan sebagai ahli waris dalam segala keadaannya, hanya saja hak waris yang dimilikinya bisa berbeda-beda nilainya (hal tersebut tergantung dengan jenis kelaminnya), maka dalam keadaan demikian hendaknya kita berikan dua ilustrasi, dan kita bekukan untuk janin dari bagian yang maksimal. Sebab, boleh jadi, jika bayi itu masuk kategori laki-laki, ia akan lebih banyak memperoleh bagian daripada bayi perempuan. Atau terkadang terjadi sebaliknya. Jadi, hendaknya kita berikan bagian yang lebih banyak dari jumlah maksimal kedua bagiannya, dan hendaknya kita lakukan pembagian dengan dua cara dengan memberikan bagian ahli waris yang ada paling sedikit dari bagian-bagian masing-masing.

Sebagai contoh, seseorang wafat dan meninggalkan istri yang sedang hamil, ibu, dan ayah. Dalam keadaan demikian, bila janin dikategorikan sebagai anak laki-laki, berarti kedudukannya sebagai anak laki-laki pewaris, dan pembagiannya sebagai berikut: ibu 1/6, ayah 1/6, istri 1/8, dan sisanya merupakan bagian anak laki-laki sebagai ashabah. Namun bila janin dikategorikan sebagai anak perempuan, berarti kedudukannya sebagai anak perempuan pewaris, dan pembagiannya sebagai berikut: ibu 1/6, ayah 1/6, istri 1/8, anak perempuan 1/2, dan sisanya 1/24 merupakan bagian ayah sebagai ashabah. Maka dari dua ilustrasi tersebut, kita lihat bagian untuk ibu, ayah, dan istri tidak pernah berubah baik janin tersebut laki-laki maupun perempuan. Maka mereka dapat mengambil bagiannya secara sempurna, sedangkan sisanya dibekukan sementara. Seandainya janin tersebut laki-laki maka ia akan mengambil seluruh sisa tersebut. Jika ia anak perempuan, maka ia akan mendapatkan 1/2 dari harta waris, sedangkan sisanya (1/24) adalah buat ayah.

Keadaan Keempat

Bila bagian janin dalam kandungan tidak berubah baik sebagai laki-laki maupun perempuan, maka kita sisihkan bagian warisnya, dan kita berikan bagian para ahli waris yang ada secara sempurna.

Sebagai misal, seseorang wafat dan meninggalkan saudara kandung perempuan, saudara perempuan seayah, dan ibu yang hamil dari ayah lain (ayah tiri pewaris). Apabila janin telah keluar dari rahim ibunya, maka bagian warisnya tetap 1/6, baik ia laki-laki ataupun perempuan. Sebab kedudukannya sebagai saudara laki-laki seibu atau saudara perempuan seibu dengan pewaris. Dengan demikian, kedudukan bayi akan tetap mendapat hak waris sebesar 1/6, dalam kedua keadaannya, baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan.

Keadaan Kelima

Apabila tidak ada ahli waris lain selain janin yang di dalam kandungan, atau ada ahli waris lain akan tetapi terhalang haknya karena adanya janin, maka dalam keadaan seperti ini kita tangguhkan pembagian hak warisnya hingga tiba masa kelahiran janin tersebut. Bila janin itu lahir dalam keadaan hidup, maka dialah yang akan mengambil seluruh harta waris, namun jika ia lahir dalam keadaan mati, maka harta waris yang ada akan dibagikan kepada seluruh ahli waris lainnya yang berhak untuk menerimanya.

<

p style=”text-align: justify”>Sebagai misal, seseorang wafat dan meninggalkan menantu perempuan yang sedang hamil (istri dari anak laki-lakinya) dan saudara laki-laki seibu. Maka janin yang masih dalam kandungan merupakan cabang ahli waris, baik ia sebagai laki-laki atau perempuan. Karenanya, janin terebut kelak jika lahir akan menggugurkan hak waris saudara laki-laki pewaris yang seibu tadi. Sebab, bila janin tadi lahir sebagai laki-laki berarti kedudukannya sebagai cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki, dengan begitu ia akan mengambil seluruh sisa harta waris yang ada karena ia sebagai ashabah. Dan bila janin tadi lahir sebagai perempuan, maka ia sebagai cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki, dan akan mendapatkan 1/2 harta waris yang ada, dan sisanya akan dibagikan kepadanya sebagai tambahan (ar-radd), sebab disana tidak ada ashabah lainnya.

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: