Hak Waris Banci

Pada bab ini Anda akan mempelajari:

        Definisi Banci

        Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Banci

        Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya

        Beberapa Contoh Pembagian Hak Waris Banci

Definisi Banci

Definisi banci menurut para fuqaha ialah orang yang mempunyai alat kelamin laki-laki dan kelamin wanita dalam satu tubuh, atau bahkan tidak mempunyai alat kelamin sama sekali. Jadi, yang dimaksud banci disini, bukan para banci laki-laki yang sering kita lihat di jalan-jalan, yang berprofesi sebagai penghibur, sebab mereka sebenarnya mempunyai jenis kelamin satu, hanya saja mereka bertingkah laku menyerupai wanita. Maka banci seperti ini dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana di dalam suatu hadits disebutkan, “Ada empat kelompok orang yang pada pagi dan petang hari dimurkai Allah. Para sahabat lalu bertanya, ‘Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?’ Beliau lalu menjawab, ‘Laki-laki yang menyerupai perempuan, perempuan yang menyerupai laki-laki, orang yang menyetubuhi hewan, dan orang-orang yang homoseks‘.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).

Setiap manusia yang normal seharusnya mempunyai alat kelamin yang jelas, bila tidak berkelamin laki-laki berarti berkelamin perempuan. Kejelasan jenis kelamin seseorang akan mempertegas status hukumnya sehingga ia berhak menerima harta waris sesuai bagiannya. Dengan adanya dua jenis kelamin pada seseorang, atau bahkan sama sekali tidak ada, disebut sebagai musykil. Keadaan ini membingungkan karena tidak ada kejelasan, kendatipun dalam keadaan tertentu kemusykilan tersebut dapat diatasi, misalnya dengan mencari tahu dari mana ia buang air kecil. Bila urinenya keluar dari penis, maka ia divonis sebagai laki-laki dan mendapatkan hak waris sebagaimana kaum laki-laki. Sedangkan jika ia mengeluarkan urine dari vagina, ia divonis sebagai wanita dan memperoleh hak waris sebagai kaum wanita. Namun, bila ia mengeluarkan urine dari kedua alat kelaminnya (penis dan vagina) secara berbarengan, maka inilah yang dinyatakan sebagai khuntsa munsykil. Dan ia akan tetap musykil hingga datang masa akil baligh.

Di samping melalui cara tersebut, dapat juga dilakukan dengan cara mengamati pertumbuhan badannya, atau mengenali tanda-tanda khusus yang lazim sebagai pembeda antara laki-laki dengan perempuan. Misalnya, bagaimana cara ia bermimpi dewasa, yakni mimpi dengan mengeluarkan air mani. Apakah ia tumbuh kumis, apakah tumbuh payudaranya, apakah ia haid atau hamil, dan sebagainya. Bila tanda-tanda tersebut tetap tidak tampak, maka ia divonis sebagai khuntsa musykil.

Perbedaan Pendapat Mengenai Hak Waris Banci

Ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama mengenai pemberian hak waris kepada banci musykil ini:

1.      Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hak waris banci adalah yang paling sedikit bagiannya di antara keadaannya sebagai laki-laki atau wanita. Dan ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi’i serta pendapat mayoritas sahabat.

2.      Mazhab Maliki berpendapat, pemberian hak waris kepada para banci hendaklah tengah-tengah di antara kedua bagiannya. Maksudnya, mula-mula permasalahannya dibuat dalam dua keadaan, kemudian disatukan dan dibagi menjadi dua, maka hasilnya menjadi hak bagian banci.

3.      Mazhab Syafi’i berpendapat, bagian setiap ahli waris banci diberikan dalam jumlah yang paling sedikit. Karena pembagian seperti ini lebih meyakinkan bagi tiap-tiap ahli waris. Sedangkan sisanya (dari harta waris yang ada) untuk sementara tidak dibagikan kepada masing-masing ahli waris hingga telah nyata keadaan yang semestinya. Inilah pendapat yang dianggap paling rajih (kuat) di kalangan mazhab Syafi’i.

Hukum Banci dan Cara Pembagian Warisnya

Untuk banci, menurut pendapat yang paling rajih, hak waris yang diberikan kepadanya hendaklah yang paling sedikit di antara dua keadaannya, yakni keadaan bila ia sebagai laki-laki dan sebagai wanita. Kemudian untuk sementara sisa harta waris yang menjadi haknya dibekukan sampai statusnya menjadi jelas, atau sampai ada kesepakatan tertentu di antara ahli waris, atau sampai banci itu meninggal hingga bagiannya berpindah kepada ahli warisnya.

Makna pemberian hak banci dengan bagian paling sedikit menurut kalangan ahli faraid adalah jika banci dinilai sebagai wanita bagiannya paling sedikit, maka hak waris yang diberikan kepadanya adalah hak waris wanita; dan bila dinilai sebagai laki-laki dan bagiannya ternyata paling sedikit, maka divonis sebagai laki-laki. Bahkan, bila ternyata dalam keadaan di antara kedua status harus ditiadakan haknya, maka diputuskan bahwa banci tidak mendapatkan hak waris.

Bahkan dalam mazhab Imam Syafi’i, bila dalam suatu keadaan salah seorang dari ahli waris gugur haknya dikarenakan adanya banci dalam salah satu dari dua status (yakni sebagai laki-laki atau wanita), maka gugurlah hak warisnya.

Beberapa Contoh Pembagian Hak Waris Banci

1.      Seseorang wafat dan meninggalkan seorang anak laki-laki, seorang anak perempuan, dan seorang anak banci. Maka pembagiannya adalah sebagai berikut, bila anak banci ini dianggap sebagai anak laki-laki, maka pembaginya dari 5, sedangkan bila dianggap sebagai wanita maka pembaginya dari 4. Kemudian kita satukan antara dua pembagi tersebut, seperti dalam masalah al-munasakhat yang sudah kita pelajari sebelumnya. Maka didapat KPK dari 5 dan 4 adalah 20. Dengan demikian, bagian anak laki-laki adalah 8/20, sedangkan bagian anak perempuan 4/20, dan bagian anak banci 5/20. Nilai 5 ini didapat dari bagian terkecil untuk banci tersebut, dikali pembagi jami’ah dibagi pembagi awal, yakni 1 x (20/4) = 5. Sisa harta waris, yaitu 3, dibekukan untuk sementara hingga keadaannya secara nyata telah terbukti. Jika suatu saat ia terbukti sebagai laki-laki, maka sisa harta waris diberikan kepadanya. Dan jika ia perempuan, maka 2/20 untuk anak laki-laki, dan 1/20 untuk anak perempuan.

2.      Seseorang wafat meninggalkan seorang suami, ibu, dan saudara sekandung banci. Maka pembagiannya adalah sebagai berikut, bila banci itu dikategorikan sebagai wanita, maka pembaginya dari 6, kemudian di-‘aul-kan menjadi 8. Sedangkan bila banci tersebut dianggap sebagai laki-laki, maka pembaginya dari 6 tanpa harus di-‘aul-kan. Kemudian kita satukan antara dua pembagi tersebut, maka didapat KPK dari 8 dan 6 adalah 24. Dengan demikian, pembagiannya adalah: suami mendapat 9/24, ibu mendapat 6/24, damn saudara sekandung banci 4/24, lalu sisanya (5/24) dibekukan untuk sementara. Jika suatu saat ia terbukti sebagai laki-laki, maka sisa harta waris diberikan kepada suami dan ibu, dimana suami mendapat 3/24 dan ibu mendapat 2/24. Dan jika ia perempuan, maka ia mendapat seluruh sisa tersebut.

<

p style=”text-align: justify; margin-left: 18pt”>3.      Seseorang wafat dan meninggalkan suami, saudara kandung perempuan, dan saudara seayah banci. Maka pembagiannya adalah sebagai berikut, bila banci ini dikategorikan sebagai laki-laki, maka pembaginya 2, sedangkan bila dikategorikan sebagai perempuan maka pembaginya 7, dan KPK dari keduanya adalah 14. Bagian suami 6/14, saudara kandung perempuan 6/14, sedangkan yang banci belum diberikan haknya, karena sisanya, yakni 2/14 dibekukan untuk sementara. Jika suatu saat ia terbukti sebagai laki-laki, maka sisa harta waris diberikan kepada suami dan saudara kandung perempuan, dimana suami mendapat 1/14 dan saudara kandung perempuan mendapat 1/14. Dan jika ia perempuan, maka ia mendapat seluruh sisa tersebut.

Beri Nilai Artikel Ini:

Istilah Percarian:
hak waris orang banci

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: