Hadits 06| Tanda-Tanda Orang Munafik (Bagian 1)

🌍 BimbinganIslam.com
Kamis, 02 Rabi’ul Awwal 1438 H / 01 Desember 2016 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 06| Tanda-Tanda Orang Munafik (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H06-1
~~~~~~~~

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “آيَةُ اَلْمُنَافِقِ ثَلاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
وَلَهُمَا مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: “وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.”

Dari Abu Hurairah Radiyallāhu ‘anhu ia berkata: Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; ⑴ jika berkata ia bohong, ⑵ jika berjanji ia menyelisihi, dan ⑶ jika diberi amanah (kepercayaan) ia berkhianat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Diriwayatkan pula dalam shahih Bukhari dan Muslim dari hadits ‘Abdullāh bin ‘Umar: “Apabila ia bermusuhan (bersengketa) ia berbuat kefajiran (keluar dari jalan kebenaran).”
〰〰〰〰〰〰〰

TANDA-TANDA ORANG MUNAFIK  (BAGIAN 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kita masih dalam bab tentang “Peringatan tentang Akhlaq yang Buruk”, kita masuk pada hadīts yang ke-6.

Dari shahābat Abū Hurairah beliau berkata, Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

آيَةُ اَلْمُنَافِقِ ثَلاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).
وَلَهُمَا مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: “وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ.”

Tanda-tanda orang Munāfiq ada tiga:

⑴ kalau dia berbicara dia berdusta ⑵ kalau dia berjanji dia menyelisihi ⑶ kalau diberi amanah (diberi kepecayaan) dia berkhianat.

(Diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Imām Muslim)

Dan diriwayatkan juga dalam Shahīh Bukhāri dan Shahīh Muslim dari hadīts Abdullāh bin Umar dalam hadīts yang lain dengan tambahan:

وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Kalau dia bermusuhan/bersengketa maka dia berbuat kefajiran (yaitu) keluar dari jalan kebenaran”.

Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kemunāfiqan ada 2 (dua), yaitu :

⑴ Nifaq besar
⑵ Nifaq kecil

Perbedaan nya,

Nifaq besar/Nifaq Al Akbar mengeluarkan seseorang dari Islam (yaitu) dia sebenarnya kufur dalam arti batinnya kufur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, namun dia menampakkan keislamannya secara zhahir.

Dan inilah kemunāfikannya orang-orang Munāfiq di zaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang Allāh hukum mereka.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang Munāfiq berada di dasar neraka Jahannam.”

(QS An-Nisā’ : 145)

Mereka inilah yang Allāh sifati dengan firman-Nya:

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka menipu (melakukan makar/ melakukan penipuan) Allāh dan orang-orang yang beriman, namun sebenarnya mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri dan mereka dalam kondisi tidak sadar.”

(QS Al Baqarah : 9)

Dan orang Munāfiq lebih parah dari orang kāfir yang asli, kenapa bisa demikian? Karena,

√ Orang kāfir asli dia menampakkan kekufurannya.
√ Orang Munāfiq dia melakukan dua kesalahan :

① pertama dia kufur
② kedua dia menipu Allāh (padahal Allāh maha mengetahui isi hati mereka)

Oleh karenanya, pantas jika mereka dimasukkan (فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ ) di paling dasar bawah dari neraka Jahannam, karena apa yang mereka lakukan lebih parah.

Dan dari sini kita tahu bahwa hidayah itu di tangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, karena kalau Allāh tidak memberi hidayah kepada kita maka kita tidak akan dapat hidayah, sebagaimana telah berkata Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لَوْلا اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلا تَصَدَّقْنَا وَلا صَلَّيْنَا

“Kalau bukan karena Allāh, maka kita tidak tidak dapat hidayah, kita tidak bisa sedekah, kita tidak shalāt.”

(HR Bukhari 4104)

Semuanya dari Allah Subhānahu wa Ta’āla”

Lihat orang-orang Munāfiq!

Sebab-sebab hidayah datang kepada mereka sudah terkumpulkan.

√ Mereka pandai bahasa arab mereka
√ Mereka mengerti isi Al Qurān
√ Mereka di zaman Nabi  mendengarkan langsung wejangan-wejangan Nabi.
√ Mereka tahu ayat-ayat Al Qurān turun
√ Mereka lihat langsung mukjizat-mukjizat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam
√ Mereka mendengarkan ceramah-ceramah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam  (karena orang Munāfiq zaman dahulu juga shalāt)

Oleh karenanya, dalam hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :

أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ

“Shalāt yang paling berat bagi orang Munāfiq yaitu shalāt Fajar dan shalāt Isya.”

√ Ini menunjukkan orang Munāfiq di zaman Nabi shalāt berjama’ah
√ Kalau shalāt Zhuhur mereka datang
√ Kalau shalāt Ashar mereka datang
√ Kalau shalāt Maghrib mereka datang.

Kenapa?

⇒ Karena mereka ingin menunjukkan bahwa mereka Islam. Kalau mereka tidak shalāt tentu akan ketahuan.
⇒ Berbeda tatkala Shubuh dan Isya (gelap) sehingga kalau mereka tidak datang maka tidak ketahuan.

Oleh karenanya, sangat berat bagi mereka untuk shalāt Shubuh dan shalāt Isya, selain karena mereka mendahulukan kenikmatan dunia (tidur) kalaupun mereka tidak datang pun tidak ketahuan.

Oleh karenanya Allāh menyebutkan sifat orang-orang Munāfiq ketika shalāt,

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Kalau mereka shalāt, shalāt dengan bermalas-malasan, mereka hanya riya’, ingin agar amalan mereka dilihat oleh manusia dan mereka tidak mengingat Allāh kecuali hanya sedikit.”

(QS An-nissā’ : 142)

Ini menunjukkan bahwa orang Munāfiq juga shalāt , bahkan shalāt berjama’ah, mereka juga berdzikir kepada Allāh. Tetapi semuanya mereka lakukan hanya sekedar penipuan, batin mereka berisi dengan kekufuran, ini kemunāfikan akbar.

Dan mereka sudah dibukakan di hadapan mereka sebab-sebab hidayah, namun mereka tidak beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan semisal mereka (orang Munāfiq zaman dahulu) adalah orang Munāfiq zaman sekarang.

Kita dapati sebagian orang Munāfiq dalam diri kemunāfikan (nifaq akbar) dia benci kepada syari’at Allah Subhānahu wa Ta’āla, tidak beriman dengan syari’at Allāh Subhānahu wa Ta’āla, benci dengan syari’at islam, bahkan tidak mau kalau syari’at Islam tegak.

Mengejek orang-orang yang beragama, kemudian mengejek syari’at Allah Subhānahu wa Ta’āla,

Mengejek hadīts-hadits  Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Namun katanya mereka Islam.

Ada juga orang seperti ini di zaman kita, KTP mereka Islam, terkadang memiliki gelar dalam bidang agama, tapi benci terhadap syari’at Islam, bahkan menghalalkan perkara-perkara yang harām (jelas), menghalalkan homoseksual misalnya, ini sebenarnya adalah orang Munāfiq , hati mereka benci dengan Islam tetapi KTP-nya Islam.

Ini adalah kemunāfikan yang pertama, kemunāfikan (nifaq) akbar.

In syā Allāh kita akan melanjutkan bagian yang kedua yaitu nifaq ashgar, pada kajian berikutnya.

والله تعال أعلمُ بالصواب


Mari bersama mengambil peran dalam dakwah…
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

  1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh
  2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
  3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/

📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: