Hadits 05| Riyā’ (Bagian 4)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa,29 Shafar 1438 H / 29 November 2016 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 05| Riyā’ (Bagian 4)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Bab04-H5-4
~~~~~~~~

وَعَنْ مَحْمُوْدِ بْنِ لَبِيْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ: اَلرِّيَاءُ.” أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ حَسَنٍ.

Dari Mahmud bin Labid radhiyallāhu ‘anhu ia berkata: Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpa kalian ialah syirik kecil, yaitu riya’.”

(HR Ahmad dengan sanad yang hasan).
〰〰〰〰〰〰〰

R I Y Ā ‘  (BAGIAN 4)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan Akhwāt yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Diantara hal yang menjadikan Nabi shallallāhu ‘alayhi wasallam sangat mengkhawatirkan Riyā’ menimpa kaum muslimin diantaranya adalah karena pintu-pintu Riyā’ (hal-hal yang menimbulkan riyā’) sangatlah banyak.

Oleh karenanya  riyā’ bisa muncul dalam berbagai bentuk.

Namun perlu saya ingatkan kepada para  Ikhwān dan Akhwāt, tatkala kita ingin menjelaskan bentuk-bentuk riyā’ bukan bertujuan untuk menuduh orang riyā’.

Kita tidak boleh menuduh orang lain riyā’, karena riyā’ adalah masalah hati dan hati adalah urusan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Kita tidak boleh menerka-nerka, kita tidak mengetahui isi hati manusia.

Namun Kita membicarakan bentuk-bentuk riyā’ adalah untuk memperingatkan diri kita sendiri agar jangan sampai terjerumus ke dalam bentuk-bentuk riyā’.

Diantara yang disebutkan oleh para ulamā, diantara bentuk-bentuk riyā’ adalah :

√ Riyā’ yang jelas
√ Riyā’ tersembunyi

▪ Riyā’ yang nampak jelas,

Contohnya:

↝ Menampakkan badan dalam kondisi lemas dipagi hari agar orang tahu bahwa dia semalam telah shalāt malam.
↝Atau sengaja menampakkan bibir dalam kondisi kering untuk menunjukkan bahwa dia sedang berpuasa sunnah.

Sekali lagi saya ingatkan, kita tidak sedang menuduh orang, tapi kita ingatkan diri kita jangan sampai melakukan demikian.

Adapun orang lain, mungkin ada yang benar-benar dalam kondisi lemas di pagi hari, dia bukan karena riyā’ tetapi karena kondisinya seperti itu.

Atau bibirnya kering bukan untuk menunjukkan dirinya berpuasa, tetapi memang kondisinya seperti itu, sehingga dia tidak bermaksud menunjukan tetapi memang waktu dia puasa bibirnya dalam kondisi kering.

Namun pembicaraan kita adalah agar kita tidak melakukannya karena riyā’.

Contoh lain:

↝Seseorang yang sengaja menunjukkan ibadahnya dengan kondisi tubuhnya, misalnya sengaja menghitamkan jidatnya supaya orang tahu bahwa dia banyak sujud dan lain sebagainya.
↝Atau dia sengaja misalnya membawa tasbih dengan selalu berdzikir supaya orang tahu bahwasannya dia suka berdzikir.
↝Atau dia menggerakkan lisannya di hadapan banyak orang supaya orang tahu bahwa dia rajin berdzikir.

Ingat ! Kembali lagi saya ingatkan bahwa ini semua berkaitan dengan diri kita, dan kita tidak boleh menuduh orang lain. Karena orang lain melakukannya bisa jadi ikhlas karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Diantaranya juga misalnya,

↝ Tatkala melihat kemungkaran maka (dia) menunjukkan kemarahan agar orang tahu bahwasanya dia benci dengan kemungkaran akan tapi dia lakukan karena riyā’.

Ini semua adalah riyā’ yang nampak jelas.

▪Ada riyā’ yang juga berbahaya yaitu riyā’ yang tersembunyi.

Ini adalah cara halus dari syaithān untuk menjerumuskan seseorang ke dalam riyā’.

Contohya seperti:

↝Seseorang menceritakan keburukan orang lain (misalnya) orang lain itu pelit atau malas shalāt malam, malas nuntut ilmu sehingga pendengar (orang yang diajak berbicara) tahu bahwasannya dia tidak seperti orang yang sedang dia bicarakan (cela) tersebut.

Dia mengatakan bahwa orang itu malas shalāt malam, tidak pernah shalāt berjama’ah, setiap shalāt subuh saya tidak pernah lihat dia. Tetapi maksud dia berbicara seperti itu untuk riyā’ untuk menunjukkan:

√ Kalau saya shalāt subuh berjama’ah
√ Kalau saya rajin shalāt malam
√ Kalau saya rajin menuntut ilmu

Orang yang mencela saudaranya seperti ini dalam rangka riyā’ maka dia terjerumus ke dalam 2 kesalahan:

① Dia mengghībah saudaranya. Saudaranya menjadi korban dalam rangka untuk mengangkat dirinya.

② Pendengar akan memahami bahwa orang ini tidak seperti orang yang dia cela dan ini namanya riyā’ terselubung.

Riyā’ terselubung lainnya adalah:

↝ Menceritakan kenikmatan dunia yang banyak dan berlebih-lebihan yang dia dapat.

Seperti,

Dia mengatakan, “Alhamdulillāh, saya dimudahkan oleh Allāh.”

Kita bersyukur kepada Allāh bagus, akan tetapi, kalau kita menceritakan kenikmatan, dimudahkannya dan macam-macam karena ingin menunjukkan seakan-akan kita orang shalih, sekan-akan kita wali Allāh Subhānahu wa Ta’āla sehingga dimudahkan, ini juga adalah riyā’

Kalau niatnya karena benar-benar bersyukur tidak mengapa, tetapi jika ada udang dibalik batu, niatnya  menceritakan semua ini agar orang tahu bahwa dia wali, dia dimuliakan oleh Subhānahu wa Ta’āla, ingin mengangkat derajatnya, ini juga adalah riyā’.

· Contoh riya’ terselubung lainnya adalah:

↝ Seseorang memuji gurunya setinggi langit dengan mengatakan bahwa gurunya orang shalih, alim dan macam-macam dengan maksud agar dia mendapat imbasnya yaitu mengangkat derajat dirinya.

“Itu guru saya, saya muridnya.”

Dia mengangkat derajat gurunya setinggi langit agar dia sebagai murid juga terangkat. Ini juga riyā’ secara terselubung.

↝ Atau sebaliknya, seseorang merendahkan diri dengan mengatakan, “Saya ini begini dan begitu,” terkadang menyebutkan sebagian kekurangannya. Tujuannya agar dia dikatakan sebagai orang yang tawadhu.

↝Seseorang menyampaikan bahwa dia berhasil berdakwah dan yang menghadiri dakwah banyak.

Sebenarnya, kalau kita senang tatkala berdakwah yang mendengar dakwah kita banyak ini tidak apa-apa karena ini merupakan kenikmatan dari Allāh. Akan tetapi terkadang ada niat buruk dalam diri kita, (yaitu) ingin menyampaikan bahwa saya pandai dalam menyampaikan, banyak yang datang itu karena sayanya, bukan karena Allāh.

Ini juga riyā’ yang terselubung dan banyak lagi bentuk-bentuk riyā’ terselubung.

Oleh karenanya  kita berdo’a kepada Allāh, semoga kita dijauhkan dari segala pintu-pintu riyā’ karena Syaithān membuka pintu-pintu riyā’ sangatlah banyak.

Itulah kenapa Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengkhawatirkan orang-orang shalih terjerumus kedalam riyā’.

Hanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang bisa menjauhkan kita dari penyakit riyā’.

Wallāhu Ta’ala A’lam bish shawab


Mari bersama mengambil peran dalam dakwah…
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

  1. Pembangunan & Pengembangan 100 Rumah Tahfizh
  2. Support Radio Dakwah dan Artivisi
  3. Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jamaah di Indonesia

Silakan mendaftar di :
http://cintasedekah.org/ayo-donasi/

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/

📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: