Hadits 05| Riya’ (Bagian 2)

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 13 Muharram 1438 H / 14 Oktober 2016 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 05| Riya’ (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS02-FA-Bab04-H05-2
~~~~~~~~

وَعَنْ مَحْمُوْدِ بْنِ لَبِيْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ: اَلرِّيَاءُ.” أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ بِسَنَدٍ حَسَنٍ.

Dari Mahmud bin Labid Radhiyallāhu ‘anhu ia berkata: Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpa kalian ialah syirik kecil, yaitu riya’.”

(HR Ahmad dengan sanad yang hasan).
〰〰〰〰〰〰〰

R I Y A ‘  (BAGIAN 2)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwān dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Kita melanjutkan pembahasan kita tentang Akhlaq yang buruk yang diantaranya adalah riya’.

Telah kita sebutkan bahwasanya riya’ adalah dosa besar.

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa riya’ adalah dosa besar adalah banyak namun diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Imām Muslim dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu.

Beliau berkata:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَي اسْتُشْهِدَ

Aku mendengar Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

Orang-orang yang pertama kali akan disidang oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla (diberi hukuman kepadanya) adalah :

▪ YANG PERTAMA | SEORANG YANG MATI SYAHID

فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا

“Orang yang mati syahīd inipun dihadirkan di hadapan Allāh kemudian Allāh mengingatkan dia tentang nikmat-nikmat yang pernah Allāh berikan kepada dia. Maka diapun ingat akan nikmat-nikmat tersebut.”

↝Seperti misalnya: hebat dalam bertempur, tubuh yang kuat, keberanian, pandai (lihai) dalam menggunakan senjata, ini semua nikmat bagi seorang mujahid.

Kemudian Allāh bertanya:

فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟

(Karena nikmat-nikmat itu perlu disyukuri/wajib di syukuri dengan digunakan untuk perkara-perkara yang bermanfaat. Misalnya, keberanian, kejantanan, kehebatan, kekuatan  tubuh ini harus di salurkan kepada perkara yang baik untuk bersyukur kepada Allāh).

Maka Allāh bertanya tentang nikmat tersebut, “فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا ?”  / “Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat yang aku berikan kepadamu ?”

Ia menjawab:

قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ

“(Yā Allāh) aku berperang karena Engkau sampai aku mati syahīd.”

Allāh berkata:

كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ

“Engkau dusta, engkau berperang supaya dikatakan sebagai pemberani, dan telah dikatakan itu.”

Perhatikan disini!
Orang ini berperang untuk dikatakan bahwa dia adalah pemberani (pahlawan) dan tujuan dia terpenuhi, Allāh kabulkan.

Oleh karenanya, tatkala seseorang itu tersohor bukan berarti amal dia diridhai oleh Allāh, bisa jadi itu adalah istidraj.

Lihatlah orang ini, dia berperang supaya dikatakan pemberani dan Allāh kabulkan.

Orang yang melakukan amal shalih karena riya’, tujuannya ingin  tersohor terkadang dikabulkan terkadang tidak dikabulkan.

Allāh telah mengatakan dalam Al Qurān :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

“Barangsiapa yang melakukan amal shalih karena mengharapkan dunia dan perhiasannya maka Kami akan berikan tujuan tersebut, dan mereka tidak akan dikurangi.”

(QS Hud :15)

Jadi Allāh mengatakan, barangsiapa beramal shalih mengharapkan dunia dan perhiasannya, maka kami akan penuhi ganjarannya di dunia apa yang mereka inginkan tersebut, dan mereka tidak ada dirugikan.

Lihatlah orang ini tatkala dia berjihad niatnya agar dikatakan sebagai pemberani dikabulkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini semua menunjukkan bahwasanya riya’ adalah perkara yang berbahaya, ketenaran adalah perkara yang berbahaya.

Bayangkan, orang ini rela mengorbankan perkara yang paling mahal dalam dirinya yaitu nyawanya, sekedar untuk diakui, dikatakan sebagai pahlawan.

Ini juga menunjukkan bahwa tatkala orang ingin dipuji ini adalah syahwat, sebagaimana yang Ibnu Taimiyyah katakan:

“Ketenaran itu adalah syahwat (syahwat khafiyah) yaitu syahwat yang tersembunyi.”

Sebagaimana seseorang mempunyai syahwat untuk makan, seorang lelaki punya syahwat terhadap wanita, demikian juga dengan riya’ (ingin terkenal) juga termasuk syahwat.

Sehingga orang rela untuk mengorbankan hartanya bahkan nyawanya untuk memenuhi syahwatnya supaya dikenal sebagai pahlawan.

Padahal diapun akan terkenal setelah dia meninggal mungkin sebelum meninggal dia dikenal juga.

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ,

“Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan malaikat, maka malaikat pun menyeret di atas wajahnya (dihinakan) kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam.”

▪YANG KEDUA | SESEORANG YANG BELAJAR ILMU AGAMA

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ

“Seseorang yang belajar ilmu (maksudnya ilmu agama) kemudian dia mengajarkan ilmu tersebut dan dia (juga) membaca Al Qurān.”

↝Yang kedua ini adalah seorang ustadz, orang yang berilmu, ini adalah amalan-amalan yang rawan untuk riya’

Seorang ustadz juga sangat mudah untuk terkena riya’, apalagi jika pandai membaca Al Qurān, cerdas, pandai berbicara (berorasi), suaranya bagus dan mungkin hapalannya kuat.

فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا,

“Maka Allāh hadirkan dia kemudian Allāh ingatkan dengan nikmat-nikmat yang Allāh berikan kepadanya tersebut dan dia pun ingat.”

Allāh bertanya:

فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟

“Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut.”

قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ,

Ia mengatakan:

“Aku belajar ilmu, akupun mangajarkannya, aku membaca Al Qurān, semua aku lakukan karena Engkau, Yā  Allāh.”

Dia akui semua nikmat tersebut dan mengatakan, “Saya ceramah, saya mengajarkan ilmu, semua kerena Engkau, Yā Allāh.

قَال :َكَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ:عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ،
Maka Allāh berkata:

“Engkau dusta, engkau belajar ilmu supaya engkau dikenal sebagai orang alim dan engkau belajar Al Qurān supaya dikenal sebagai seorang qāri dan telah dikatakan itu.”

Ini berbahaya, ternyata seorang ustadz juga bisa masuk neraka Jahannam, bahkan yang pertama kali masuk.

Kenapa?

Karena niatnya tidak beres, dan seorang penuntut ilmu rawan atau mudah untuk sombong dan angkuh, mudah untuk riya’, mudah untuk bangga akan dirinya, untuk dikenal, maka ini menyebabkan dia masuk kedalam neraka.

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ,

“Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan malaikat, maka malaikat pun menyeret di atas wajahnya (dihinakan) kemudian dilemparkan ke dalam neraka Jahannam.”

▪YANG KETIGA | SEORANG YANG ALLĀH BERI KELAPANGAN HARTA

وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا,

“Seorang yang Allāh beri kelapangan harta. Allāh berikan kepada dia segala jenis harta mungkin rumah mewah, mobil mewah, kebun luas, sawah ladang, istana dan emas perak. Lalu orang ini dihadirkan lantas Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengingatkan tentang nikmat-nikmat tersebut, kemudian dia pun ingat.”

Pertanyaan berikutnya

فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟

“Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut.”

Kita ingat ! Seluruh kenikmatan yang kita miliki akan ditanya oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Sungguh kalian akan ditanya tentang nikmat yang kalian dapatkan”

(QS At Takasur : 08)

Dia menjawab:

قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ

“Yā Allah, tidak ada satu jalan kebaikan pun yang Engkau suka agar aku berinfaq di dalamnya kecuali aku infaq-kan kerena Engkau”.

Artinya jika ada orang yang membangun mesjid dia bantu, sedekah kepada anak yatim dan fakir miskin, ada orang bikin pondok dia bantu seluruhnya, dan dia katakan semua ini karena Allāh.

قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ,

“Engkau dusta, engkau melakukan semua ini supaya engkau dikatakan sebagai seorang yang dermawan, dan telah dikatakan itu (engkau sudah dikenal sebagai seorang yang dermawan).”

ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِِ

“Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan malaikat, maka malaikat pun menyeret di atas wajahnya (dihinakan) dan dilemparkam ke neraka Jahannam.”

(Hadīts riwayat Muslim no 1905)

Ikhwān dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Hadīts ini sangat mengerikan, yaitu memberikan peringatan kepada orang-orang  yang riya’, orang yang riya’ adalah orang yang akan  sengsara di akhirat kelak.

Dan ini menunjukkan bahwa riya’ merupakan dosa besar karena bisa menyebabkan seseorang diseret ke dalam neraka Jahannam.

Demikian Ikhwān dan akhwat, kita lanjutkan pada pembahasan berikutnya.

والله أعلمُ بالصواب


Info Program Cinta Sedekah Bulan ini :
1. Pendirian Rumah Tahfidz di 5 Kota
2. Membantu Operasional Radio Dakwah di 3 Kota

📦 Salurkan Infaq terbaik anda melalui
| Bank Syariah Mandiri Cab. Cibubur
| No. Rek : 7814500017
| A.N : Cinta Sedekah (infaq)
| Konfirmasi Transfer :
+62878-8145-8000

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎www.cintasedekah.org

📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: