Hadits 03 | Perintah untuk Wara’ kepada Dunia (Bagian 1)

🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 28 Jumādal Akhir 1437H / 06 April 2016M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Az-Zuhd Wal Wara’
🔊 Hadits 03 | Perintah untuk Wara’ kepada Dunia (Bagian 1)
⬇ Download Audio: https://goo.gl/wEJdEE
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

PERINTAH UNTUK WARA’ KEPADA DUNIA (BAGIAN 1)

بسم الله الرحمن الرحيم

Kita masuk pada hadits yang ke-3.

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم بِمَنْكِـبَيَّ، فَقَالَ: “كُنْ فِيْ الدُّنْـيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ.”

وَكَانَ اِبْنُ عُمَرَ رضي الله عنهما يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِسَقَمِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ .

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallãhu ‘anhumā ia berkata:

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memegang kedua pundakku dan berkata:
“Jadilah di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang numpang lewat.”

Dan Ibnu ‘Umar radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu ‘anhuma berkata:
“Jika engkau telah tiba di sore hari, maka jangan tunggu waktu pagi hari.
Dan jika engkau berada di pagi hari maka jangan kau tunggu tibanya sore hari.
Maka gunakanlah (manfaatkanlah) kesehatanmu sebelum datang sakitmu.
Dan manfaatkanlah kehidupanmu sebelum kematianmu (beramallah di kehidupanmu sebelum tiba wafatmu).”

(HR Imām Al Bukhāri)

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar yang termasuk “sighārush shahābat” (shahābat junior).

Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tatkala menyampaikan wasiat ini kepada seorang yang masih muda.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan perhatian (sambil) memegang kedua pundaknya.

⇒ Ini berarti Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam serius tatkala menyampaikan nasihat ini, namun dengan penuh kasih sayang sambil memegang kedua pundak Ibnu ‘Umar.

Apa nasihat Rasulullah sallallāhu ‘alayhi wasallam kepada pemuda ini?

كُنْ فِيْ الدُّنْـيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Wahai Ibnu ‘Umar, hiduplah engkau di dunia seakan-akan engkau adalah orang yang asing atau orang yang numpang lewat.”

Apa maksud Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam?

⇒ Maksudnya:
⑴ Janganlah engkau terpedaya dengan dunia ini.
⑵ Jadilah engkau seperti orang asing di suatu kota.

Misalnya ada orang asing yang tinggal di suatu kota, bagaimanakah sikap orang asing tersebut?

Orang asing tersebut, dia hanya tinggal di kota tersebut seperlunya.

Dia ada keperluan; mungkin karena ada pekerjaan atau mencari sesuatu sehingga dia tidak terlalu tertarik dengan apa-apa yang ada di kota tersebut.

Kenapa?
Karena dia tahu bahwa dia tidak akan tinggal di kota ini.

Tatkala dia melihat penduduk kota tersebut memiliki rumah-rumah yang mewah, dia tidak terlalu peduli.

Kenapa? Karena buat apa dia bangun rumah di situ?

Dia hanya orang asing di situ.
Dia tahu dia tidak akan tinggal selama-lamanya di kota itu.
Dia punya tugas (di kota tersebut) dan akan kembali ke kampung tempat tinggalnya.

Jadi, seseorang hidup di dunia ini seperti orang asing.

Yang dia perhatikan (adalah) bagaimana membangun rumah di kampungnya, kampung akhirat, kampungnya yang sesungguhnya.

Dia rindu untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya, kekasih-kekasihnya, orang-orang yang dia cintai di kampung tersebut.

Adapun di kota ini, dia hanyalah asing; tidak begitu mengenal orang, tidak tertarik dengan kelebihan yang mereka miliki, tidak hasad kepada mereka.

Kenapa?
Karena dia tahu bahwasannya semua itu akan dia tinggalkan, dia akan pulang ke kampungnya yang sesungguhnya.

Maka demikianlah seseorang tatkala hidup di dunia, (hendaklah) yang dia perhatikan adalah bagaimana membangun istananya di kampung akhirat. Karena itulah tempat tinggalnya yang sesungguhnya.

Banyak orang yang terpedaya mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, menghabiskan waktu, tenaga dan energi dalam rangka untuk membangun istana di dunia.

Namun lupa untuk membangun istana di akhirat. Padalah di dunia dia hanyalah seperti orang asing, dia akan tinggalkan dunia ini.

Betapapun rumah mewah yang dia bangun, berapapun uang banyak yang dia kumpulkan, akan dia tinggalkan.

Kalau tidak dia jadikan itu semua sebagai bekal untuk membangun istananya di akhirat maka di akan merugi.

Kenapa? Karena akan dia tinggalkan.

Coba kalau ada orang asing yang tinggal di suatu kota, dia bangun rumah besar-besar kemudian dia tinggalkan.

Apa fungsinya rumah tersebut? Ini orang yang kurang waras.
Yang waras adalah orang yang membangun istana di kampung yang sesungguhnya.

Dia jadikan dunia ini sebagai sarana untuk bisa mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk membangun istananya di akhirat.

Kata Nabi sallallāhu ‘alayhi wasallam:

أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Atau orang yang numpang lewat.”

Orang yang numpang lewat (itu) bagaimana?

Orang yang numpang lewat masih punya tujuan yang akan dia lanjutkan (tempuh) dan dia cuma singgah sebentar.

Mungkin untuk makan secukupnya atau ingin mengambil bekal untuk dia gunakan melanjutkan perjalanan.

Demikianlah kondisi (hakikat) dari kehidupan dunia; hanya numpang lewat dan benar-benar dunia ini hanyalah numpang lewat.

Waktu kita hidup di dunia hanya sebentar dibandingkan dengan kehidupan abadi yang selama-lamanya.

Oleh karenanya, ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allãh Subhānahu wa Ta’āla,

Jadilah Anda di dunia ini seperti orang asing atau orang yang numpang lewat. Jangan terpedaya dengan kilauan dan keindahan dunia. Toh akan Anda tinggalkan ini semua !

Siapkanlah bekal Anda untuk membangun istana seindah-indahnya di kampung Anda yang sesungguhnya, yaitu kampung akhirat.

والله تعالى أعلم بالصواب
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته


📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

aljifys0hxepa_a0hg4gncdjnowtvfma7tzqhd0bswrb

Leave a Reply

%d bloggers like this: