Hadits 02| Sifat Pemarah (Bagian 3)

🌍 BimbinganIslam.com
Selasa, 06 Dzulqa’dah 1437 H / 09 Agustus 2016 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
🔊 Hadits 02| Sifat Pemarah (Bagian 3)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS01-FA-Bab04-H2-3
~~~~~~

SIFAT PEMARAH (BAGIAN 3 DARI 3)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dam akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Telah disebutkan pada pembahasan yang lalu bahwasannya diantara tips mengahadapi kemarahan kata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika salah seorang dari kalian sedang marah maka diamlah.”

(HR Ahmad)

Telah kita sebutkan juga bahwa banyak terjadi perceraian gara-gara kemarahan.

Kenapa?

Karena tidak bisa mengontrol jiwanya sehingga dia menceraikan istrinya.

Terkadang seseorang sedang emosi langsung dia menjatuhkan talak tiga, dan akibatnya apa?
Hanyalah penyesalan.

Tatkala dia sedang marah, syaitan datang tentunya untuk membuat dia semakin emosi, sehingga dia menjatuhkan talak dengan talak tiga.

Dan banyak yang datang kepada saya dengan menyesal telah menjatuhkan talak tiga karena emosi kepada istrinya.

Seharusnya dia menjatuhkan talak satu saja, tetapi karena emosi langsung menjatuhkan talak tiga.

Dan ingat perkataan sebagian salaf dan hafalkan:

الغضب أوله جنون وآخره ندم

“Bahwasanya kemarahan itu awalnya adalah kegilaan dan kesudahannya adalah penyesalan.”

Dan benar, kalau seseorang sedang marah kemudian kita shooting, sikapnya seperti orang gila.

Seseorang yang terpelajar menjadi seperti tidak terpelajar, seseorang yang tadinya bijak seperti tidak bijak.

Kenapa ?

Karena emosi, kayak orang gila. Kemudian ujung-ujungnya penyesalan.

Jarang, hampir tidak ada yang datang kepada saya kemudian mengatakan:

“Ustadz, saya telah menceraikan istri saya. Alhamdulillāh, saya bahagia bisa menceraikan istri saya.”

Jarang yang seperti itu, kenapa?

Kebanyakan mereka setelah menceraikan istrinya menyesal telah menjatuhkan cerai.

Kenapa ?

Karena perceraian yang mereka jatuhkan kebanyakan dibangun di atas emosi.

Padahal Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Jika salah seorang dari kalian sedang marah maka jangan berbicara (diam).”

Kemudian, banyak terjadi dari pembicaraan tersebut, ketika salah seorang sedang marah kemudian dia berbicara, pembicaraan ini akhirnya bisa menimbulkan dampak-dampak yang lain seperti terjadinya perkelahian dan pembunuhan.

Awalnya berbicara, karena seseorang tatkala berbicara sedang emosi, pembicaraannya tidak terkontrol dan ngawur sehingga orang di depannya pun tidak bisa terima, akhirnya beranjak pada tingkatan berikutnya akhirnya terjadi pemukulan atau pembunuhan dan yang lainnya. Awalnya gara-gara berbicara.

Oleh karena, tatkala seseorang sedang emosi, jangan dia berbicara. Jangan kita ikut pendapat sebagian orang yang mengatakan:

“Kalau kamu sedang emosi lampiaskanlah emosi tersebut:”

Jangan!!

Justru kalau seorang sedang emosi kemudian dilampiaskan maka api emosi tersebut semakin terbakar dalam jiwanya, semakin parah dan semakin bahaya.

Oleh karenanya, api yang sedang mau menyala kita pendam dengan sikap diam. Kita jauhkan dari sikap tersebut.

Kemudian, Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Diantara tips yang lain yang bisa kita lakukan ketika tatkala sedang marah adalah:

  1. Mengingat ayat-ayat dalam Al Qur’an yang memuji orang-orang yang meredam kemarahannya.

Seperti firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla diantara sifat-sifat penghuni surga:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

“..yaitu orang-orang yang meredam amarah.”

(QS Ali Imran: 134)

Ini ayat yang sangat luar biasa, maka hendaknya seseorang ingat akan ayat ini.

وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

“…dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.”

(QS Asy Syūra: 37)

Dalam ayat lainnya juga Allāh Subhānahu wa Ta’āla sebut-sebut orang yang beriman kalau mereka sedang marah maka mereka memaafkan:

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

“..orang yang memaafkan orang lain yang bersalah kepada dia.”

(QS Ali Imran: 134)

Maka kita ingat ayat seperti ini bahwasanya Allāh berikan surga bagi orang yang meredam amarah, tidak melampiaskan amarahnya.

Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi dari Mu’adz bin Anas dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa yang meredam amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskan, maka Allāh akan panggil dia pada hari kiamat dihadapan khalayak, sampai Allāh membuat dia memilih bidadari mana yang dia sukai.”

Perhatikan, dia meredam amarah bukan karena tidak mampu melampiaskan, tapi dia mampu melampiaskannya.

Oleh karenanya, seseorang ingat akan hal ini, ketika dia meredam marah maka Allāh buat dia memilih bidadari yang dia suka di hari kiamat kelak.

Dari sini kita tahu bahwasanya mengontrol diri tatkala sedang marah mendapatkan pahala yang besar dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

والله أعلمُ بالصواب


📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: