Dasar-Dasar Ilmu Faraid 5/5 (1)
5/51

Pada bab ini Anda akan mempelajari:

        Sumber Hukum Ilmu Faraid

        Sumber Hukum dari Al-Qur’an

        Penjelasan ayat-ayat waris

         Hukum Bagian Waris untuk Anak

         Hukum Bagian Waris untuk Orang Tua

         Hukum Bagian Waris untuk Suami atau Istri

         Hukum Bagian Waris untuk Saudara Seibu Lain Ayah

         Hukum Bagian Waris untuk Saudara Sekandung atau Seayah

        Sumber Hukum dari Hadits Rasulullah

        Sumber Hukum dari Ijma’ para Sahabat dan Ulama

        Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris

        Rukun-rukun Waris

        Hak-hak yang berkaitan dengan Pewaris

         Biaya untuk Keperluan Pemakaman Pewaris

         Hutang Pewaris

         Menunaikan Wasiat Pewaris

        Syarat-syarat Waris

        Sebab-sebab Mendapatkan Hak Waris

        Penggugur Hak Waris

        Ahli Waris Laki-Laki dan Perempuan Menurut Ijma’ para Ulama

         Ahli Waris Laki-laki

         Ahli Waris Perempuan

        Dalil-Dalil yang Menetapkan Ahli Waris Laki-laki dan Perempuan

         Dalil-Dalil yang Menetapkan Ahli Waris Laki-laki

         Dalil-Dalil yang Menetapkan Ahli Waris Perempuan

        Pengelompokan Ahli Waris

         Kelompok Ashhabul Furudh

         Kelompok Ashabah

         Kelompok Ashhabul Furudh atau Ashabah

         Kelompok Ashhabul Furudh dan Ashabah

        Bentuk-bentuk Waris

        Penghalang Hak Waris (al-Hajb)

         Macam-macam al-Hajb

         Ahli Waris yang Tidak Terkena Hajb Hirman

         Ahli Waris yang Dapat Terkena Hajb Hirman

         Kaidah-Kaidah yang Berlaku dalam Hajb Hirman

         Pengelompokan Hajb Hirman

        Pembagi

        Tashih

        Contoh-contoh Soal dan Jawabannya

Sumber Hukum Ilmu Faraid

Sumber hukum untuk ilmu faraid ini diambil dari tiga sumber, yaitu:

1.      Al-Qur’an

2.      Hadits Rasulullah

3.      Ijma’ para sahabat dan ulama

Satu hal yang harus diperhatikan bahwa tidak ada ijtihad dan qiyas di dalam ilmu faraid, kecuali jika ia telah menjadi kesepakatan atau ijma’ para ulama.

Sumber Hukum dari Al-Qur’an

Sumber hukum utama untuk perhitungan waris dari Al-Qur’an terdapat pada tiga ayat dalam surat yang sama, yaitu ayat 11, 12 dan 176 surat an-Nisaa’. Ayat-ayat inilah yang disebut sebagai ayat-ayat waris. Jika ingin cepat dalam mempelajari dan memahami ilmu faraid, maka saya menganjurkan agar kita menghafal dahulu ayat-ayat ini, minimal terjemahannya dan lebih utama dengan teks arabnya, karena sumber hukum utama pembagian waris berdasarkan ketetapan-ketetapan yang terdapat pada ayat-ayat ini. Ayat-ayat waris ini adalah sebagai berikut:


         Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh seperdua (dari) harta (yang ditinggalkannya). Dan untuk dua orang ibu-bapak bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. an-Nisaa’ – 11)


         Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan, yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (Q.S. an-Nisaa’ – 12)


         Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meningal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. an-Nisaa’ – 176)

Penjelasan ayat-ayat waris

Setelah membaca ayat-ayat waris diatas, maka terdapat lima hukum bagian waris yang sudah ditetapkan Allah secara jelas di dalam Al-Qur’an, berikut dengan kondisi-kondisinya yang mungkin terjadi, yaitu:

         Hukum bagian waris untuk anak

         Hukum bagian waris untuk orang tua

         Hukum bagian waris untuk suami atau istri

         Hukum bagian waris untuk saudara seibu lain ayah

         Hukum bagian waris untuk saudara sekandung atau seayah

Untuk lebih jelasnya, saya sertakan diagram hubungan antara pewaris dan ahli waris sebagaimana yang sudah Al-Qur’an jelaskan pada gambar sebagai berikut:


Hukum Bagian Waris untuk Anak

Dari firman Allah yang artinya “bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh seperdua (dari) harta (yang ditinggalkannya)” dapat dijelaskan hukum-hukumnya sebagai berikut:

1.      Apabila pewaris hanya mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, maka harta peninggalannya dibagi untuk keduanya. Anak laki-laki mendapat dua bagian, sedangkan anak perempuan satu bagian. Atau bisa juga langsung menggunakan format bilangan pecahan, yaitu anak laki-laki mendapat 2/3 bagian, sedangkan anak perempuan mendapatkan 1/3 bagian.

2.      Apabila jumlah anak lebih dari satu, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, maka bagian untuk anak laki-laki adalah dua kali bagian untuk anak perempuan. Dengan kata lain, pembagian seorang anak laki-laki diibaratkan/diumpamakan dengan dua orang anak perempuan, sehingga jika jumlah anak laki-laki ada 2 orang dan jumlah anak perempuan ada 4 orang, maka pewaris seakan-akan memiliki 8 orang anak perempuan, dimana jumlah 8 orang ini didapat dari:

(2 anak laki-laki x 2) + 4 anak perempuan = 8. Harap diperhatikan bahwa pada kondisi seperti ini tidak boleh menetapkan bahwa bagian anak laki-laki bersekutu di dalam 2/3 bagian dan bagian anak perempuan bersekutu di dalam 1/3 bagian, karena ketentuan ini hanya berlaku pada no.1 diatas, yaitu jika anak laki-laki dan anak perempuan masing-masing hanya berjumlah 1 orang saja.

3.      Apabila jumlah anak lebih dari satu, terdiri dari anak laki-laki dan anak perempuan, dan selain itu terdapat juga ahli waris lainnya yang sudah ditetapkan oleh Al-Qur’an secara tetap, yakni suami atau istri, ayah dan ibu, maka yang harus diberi terlebih dahulu adalah mereka, bukan anak-anak dahulu yang diberi, karena Al-Qur’an telah menetapkan hak bagian mereka secara tetap. Setelah itu barulah sisa harta peninggalan yang ada (setelah dibagikan kepada mereka), dibagikan kepada anak, yaitu dengan ketentuan bagian untuk anak laki-laki adalah dua kali bagian untuk anak perempuan.

4.      Apabila pewaris hanya meninggalkan anak-anak perempuan saja, dengan jumlah anak perempuan lebih dari seorang, maka mereka mendapat 2/3 bagian, dimana mereka bersekutu di dalam 2/3 bagian tersebut, yakni dibagi sama rata sesuai dengan jumlah anak perempuan tersebut. Dengan demikian, yang dimaksud dengan kalimat “fauqats-nataini” pada ayat 11 surat an-Nisaa’ ini bukanlah diartikan secara langsung “anak perempuan lebih dari dua”, melainkan “dua anak perempuan atau lebih”, hal ini merupakan kesepakatan (ijma’) para ulama. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang memberitahukan keputusan Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa’ad bin ar-Rabi’ ra. sebagaimana yang akan saya sampaikan pada bahasan setelah ini (silahkan lihat sub bab “Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris” di dalam bab ini). Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat “itsnataini” adalah “dua anak perempuan atau lebih”. Jadi, orang yang berpendapat bahwa maksud ayat tersebut adalah “anak perempuan lebih dari dua” jelas tidak benar dan menyalahi hadits Rasulullah dan ijma’ para ulama.

5.      Apabila pewaris hanya meninggalkan seorang anak perempuan saja, tanpa anak laki-laki, maka ia mendapatkan seperdua (1/2) bagian dari harta peninggalan pewaris.

6.      Apabila pewaris hanya meninggalkan seorang anak laki-laki saja, maka anak tersebut mewarisi seluruh sisa harta peninggalan yang ada, tentunya setelah dibagikan terlebih dahulu kepada ahli waris lainnya yang sudah ditetapkan oleh Al-Qur’an secara tetap, yakni suami atau istri, ayah dan ibu. Namun jika bersama anak laki-laki tersebut tidak ada ahli waris lainnya yang sudah ditetapkan oleh Al-Qur’an secara tetap, maka ia mendapatkan seluruh harta warisan yang ada. Meskipun ayat yang ada tidak secara tegas menyatakan demikian, namun pemahaman seperti ini dapat diketahui dari kedua ayat yang ada. Bunyi penggalan ayat “bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan” menunjukkan bahwa bagian seorang anak laki-laki adalah dua kali lipat bagian anak perempuan. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat “jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh seperdua harta“. Maka dari kedua penggalan ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa bila ahli waris hanya terdiri dari seorang anak laki-laki, maka ia mendapatkan seluruh harta peninggalan pewaris.

7.      Adapun bagian untuk keturunan dari anak laki-laki (cucu pewaris), maka jumlah bagian mereka adalah sama seperti anak, dengan syarat tidak ada anak pewaris yang masih hidup (misalnya meninggal terlebih dahulu) dan mereka harus berasal dari pokok yang laki-laki dengan tidak diselingi oleh pokok yang perempuan, misalnya cucu laki-laki dari anak laki-laki dan cucu perempuan dari anak laki-laki. Sebab penggalan ayat (artinya) “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu”, mencakup seluruh keturunan anak kandung, termasuk cucu, cicit dan seterusnya dengan syarat tidak ada ahli waris diatas mereka yang masih hidup, dan tidak terselingi oleh pokok yang perempuan. Inilah ketetapan yang telah menjadi ijma’ para ulama.

Hukum Bagian Waris untuk Orang Tua

Dari firman Allah (artinya): “Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam.” dapat dijelaskan hukum-hukumnya sebagai berikut:

1.      Ayah dan ibu masing-masing mendapatkan seperenam bagian apabila pewaris mempunyai keturunan. Keturunan ini mencakup anak dan keturunannya, yaitu keturunan dari anak yang laki-laki, yakni cucu, cicit dan seterusnya kebawah, asalkan pokok mereka tidak tercampur dengan unsur perempuan.

2.      Apabila pewaris tidak mempunyai keturunan, maka ibunya mendapat bagian sepertiga dari harta yang ditinggalkan. Sedangkan sisanya, yakni dua per tiga menjadi bagian ayah. Hal ini dapat dipahami dari redaksi ayat yang hanya menyebutkan bagian ibu, yaitu sepertiga, sedangkan bagian ayah tidak disebutkan. Jadi pengertiannya adalah bahwa sisanya merupakan bagian ayah.

3.      Jika selain kedua orang tua, pewaris mempunyai beberapa saudara, baik saudara sekandung, seayah maupun seibu dengan jumlah saudara lebih dari satu orang (dua orang atau lebih), dimana pewaris tidak meninggalkan keturunan, maka ibunya mendapat seperenam bagian. Ini adalah pengertian dari ayat “jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam“. Sedangkan ayah mendapatkan sisanya, yaitu lima per enamnya. Adapun saudara-saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dinyatakan sebagai hajb (penghalang).

4.      Jika selain kedua orang tua, pewaris hanya mempunyai seorang saudara, baik saudara sekandung, seayah maupun seibu dengan jumlah saudara tersebut hanya satu orang saja, dimana pewaris tidak meninggalkan keturunan, maka ibunya mendapat sepertiga bagian. Sedangkan ayah mendapatkan sisanya, yaitu dua per tiga. Ini adalah pengertian dari ayat “jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga” Adapun saudara itu tidaklah mendapat bagian harta waris dikarenakan adanya bapak, yang dalam aturan hukum waris dinyatakan sebagai hajb (penghalang).

Hukum Bagian Waris untuk Suami atau Istri

Dari firman Allah (artinya) “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu.” dapat dijelaskan hukum-hukumnya sebagai berikut:

Untuk Suami:

1.      Apabila seorang istri meninggal dan tidak mempunyai keturunan, maka suami mendapat bagian seperdua dari harta yang ditinggalkan istrinya.

2.      Apabila seorang istri meninggal dan ia mempunyai keturunan, maka suami mendapat bagian seperempat dari harta yang ditinggalkan.

Yang dimaksud keturunan istri di atas adalah semua anak istri, cucu laki-laki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki, dan seterusnya ke bawah, baik berasal dari suami yang terakhir, maupun yang berasal dari suami-suami nya yang sebelumnya.

Untuk Istri:

1.      Apabila seorang suami meninggal dan dia tidak mempunyai keturunan, maka bagian istri adalah seperempat.

2.      Apabila seorang suami meninggal dan dia mempunyai keturunan, maka istri mendapat bagian seperdelapan.

Yang dimaksud dengan keturunan suami di atas adalah semua anak suami, cucu laki-laki dan perempuan dari keturunan anak laki-laki, dan seterusnya ke bawah, baik yang berasal dari seluruh istri-istri nya, baik yang masih menjadi istrinya maupun yang sudah bercerai atau meninggal.

Hukum Bagian Waris untuk Saudara Seibu Lain Ayah

Dari firman-Nya (artinya): “Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan, yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris).” dapat dijelaskan hukum-hukumnya sebagai berikut:

1.      Apabila seseorang meninggal dan mempunyai satu orang saudara laki-laki seibu atau satu orang saudara perempuan seibu, maka bagian yang diperolehnya adalah seperenam. Harap diperhatikan, yang dimaksud dengan kalimat ini adalah bukan mempunyai dua orang saudara seibu, tapi hanya mempunyai satu orang saudara seibu, baik laki-laki ataupun perempuan, bagian mereka sama saja, yaitu 1/6 bagian.

2.      Jika yang meninggal mempunyai saudara seibu dengan jumlah dua orang atau lebih, baik laki-laki maupun perempuan, maka mereka mendapatkan satu per tiga (1/3) bagian secara bersekutu, yakni dibagi sama rata sesuai dengan jumlah saudara seibu tersebut. Dengan demikian, untuk saudara seibu tidak berlaku hukum “bagian untuk anak laki-laki sama dengan bagian untuk dua orang anak perempuan”. Dan dapat disimpulkan, bahwa untuk saudara seibu ini bagian warisnya tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan.

Harap diperhatikan bahwa ketentuan-ketentuan diatas hanya dapat dilaksanakan jika pewaris tidak mempunyai ayah dan tidak pula anak, baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Termasuk pula pokok dan cabang seterusnya, yaitu kakek, cucu perempuan dan cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki, dan seterusnya. Di dalam ilmu faraid kondisi seperti ini disebut juga kalalah, yaitu seseorang yang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun anak, atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. Para ulama telah sepakat (ijma’) bahwa kalalah ialah seseorang yang mati namun tidak mempunyai ayah dan tidak memiliki keturunan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lainnya dari asy-Sya’bi, bahwasanya Abu Bakar ash-Shiddiq ra. pernah ditanya mengenai kalalah, ia menjawab: “Saya mempunyai pendapat mengenai kalalah. Apabila pendapat saya ini benar maka hanyalah dari Allah semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Adapun bila pendapat ini salah, maka karena dariku dan dari setan, dan Allah terbebas dari kekeliruan tersebut. Menurut saya, kalalah adalah orang yang meninggal yang tidak mempunyai ayah dan anak.

Ketika Umar bin Khattab berkuasa, ia berkata: “Aku malu untuk menyelisihi pendapat Abu Bakar (mengenai makna kalalah tersebut).” Ibnu Katsir berkata di dalam tafsirnya, “Demikian pula yang dikatakan oleh Ali dan Ibnu Mas’ud, dan diriwayatkan dari beberapa orang dari Ibnu Abbas dan Zaid bin Tsabit. Demikian pula pendapat asy-Sya’bi, an-Nakha’i, al-Hasan, Qatadah, Jabir bin Zaid, dan al-Hakam. Begitu pula pendapat ulama-ulama Madinah, ulama-ulama Kufah dan Basrah. Begitu juga pendapat Fuqaha Tujuh dan Imam Empat serta jumhur ulama salaf dan khalaf, bahkan sudah merupakan ijma’ para ulama.

Hukum Bagian Waris untuk Saudara Sekandung atau Seayah

Firman Allah SWT, “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Sebagaimana pada hukum bagian waris untuk saudara seibu lain ayah, maka hukum bagian waris untuk saudara sekandung atau seayah diatas hanya dapat diterapkan jika terjadi kondisi kalalah, yaitu jika pewaris tidak mempunyai ayah dan tidak pula anak, khususnya anak laki-laki. Jika pewaris mempunyai anak lelaki walaupun hanya seorang, maka sudah dapat dipastikan saudara sekandung atau seayah ini tidak mendapatkan warisan, karena anak laki-laki merupakan ahli waris yang dapat menghalangi hak waris saudara sekandung atau seayah, dimana ia akan mengambil seluruh sisa warisan yang ada setelah dibagikan kepada ahli waris lainnya yang telah mendapatkan bagian tetap sebagaimana yang telah Al-Qur’an tetapkan ketentuannya secara pasti. Namun jika ia hanya mempunyai anak perempuan saja, baik seorang atau lebih, maka saudara sekandung atau seayah ini masih memungkinkan untuk mendapatkan hak waris secara ashabah (mendapat hak waris secara sisa). Dengan demikian, dari ayat diatas dapat disimpulkan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

1.      Apabila pewaris mempunyai seorang saudara laki-laki sekandung atau seayah dan mempunyai seorang saudara perempuan sekandung atau seayah, maka yang laki-laki mendapatkan 2/3 bagian, sedangkan 1/3 bagian lagi milik yang perempuan.

2.      Apabila pewaris meninggalkan banyak saudara laki-laki sekandung atau seayah (dua orang atau lebih) dan banyak saudara perempuan sekandung atau seayah (dua orang atau lebih), maka ketentuannya adalah bagian waris untuk yang laki-laki adalah dua kali bagian waris untuk yang perempuan.

3.      Apabila pewaris hanya mempunyai satu orang saudara perempuan sekandung ataupun seayah, maka ia mendapat seperdua harta peninggalan.

4.      Apabila pewaris mempunyai dua orang atau lebih saudara perempuan sekandung atau seayah, maka mereka mendapat dua per tiga bagian dibagi secara rata diantara mereka.

5.      Apabila pewaris hanya meninggalkan seorang saudara laki-laki sekandung atau seayah, tanpa ada saudara perempuan sekandung atau seayah, maka seluruh harta peninggalannya menjadi bagian saudara laki-laki sekandungnya atau seayah.  Apabila saudara laki-laki sekandung atau seayah nya banyak (dua orang atau lebih), maka dibagi secara rata sesuai jumlah kepala.

Harap diperhatikan bahwa saudara seayah tidak mendapatkan hak waris seandainya ada seorang atau lebih saudara sekandung, oleh karena itu kalimat-kalimat diatas menggunakan kata sambung “atau“. Jadi dengan kata lain, adanya saudara sekandung merupakan penghalang bagi saudara seayah untuk mendapatkan hak waris, kecuali untuk kondisi tertentu sebagaimana yang akan saya jelaskan pada pembahasan selanjutnya.

Sumber Hukum dari Hadits Rasulullah

Selain dari Al-Qur’an, terdapat pula hadits yang menerangkan tentang hukum pembagian harta warisan ini. Hadits tersebut adalah:


Artinya: “Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, ‘Berikanlah harta waris kepada orang-orang yang berhak. Sesudah itu, sisanya (kepada pihak) laki-laki yang lebih utama.'” (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapun yang dimaksud dengan “laki-laki yang lebih utama” pada hadits diatas adalah kerabat laki-laki yang terdekat kekerabatannya dengan pewaris, kemudian jika masih ada sisanya beralih ke kerabat laki-laki lain yang urutan kedekatannya setelah kerabat yang pertama, dan begitu seterusnya. Ada yang cukup menarik dari teks hadits diatas, yaitu pada akhir hadits diatas (lihatlah teks arab yang digaris bawahi dengan warna merah), yakni menggunakan kata dzakar (laki-laki) setelah kata rajul (seorang laki-laki). Penyebutan kata “dzakar” setelah penyebutan kata “rajul” tersebut merupakan penegasan yang menggantikan posisi pihak perempuan. Selain itu agar menghindari salah pengertian, jangan sampai menafsirkan kata ini hanya untuk laki-laki dewasa dan cukup umur saja. Sebab, janin dan bayi laki-laki pun berhak mendapatkan warisan jika ia memang termasuk ahli waris.

Selain hadits diatas, terdapat pula hadits-hadits lainnya yang berkenaan dengan hukum waris ini. Agar lebih mudah memahaminya, Insya Allah pada pelajaran selanjutnya akan saya bahas berikut dengan contoh-contohnya.

Sumber Hukum dari Ijma’ para Sahabat dan Ulama

Para sahabat nabi, tabi’in (generasi setelah sahabat), dan tabi’it tabi’in (generasi setelah tabi’in), telah berijma’ atau bersepakat tentang legalitas ilmu faraid ini dan tiada seorang pun yang menyalahi ijma’ tersebut.

Kalangan sahabat nabi yang terkenal dengan pengetahuan ilmu faraidnya ada empat. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, Zaid bin Tsabit, dan Abdullah ibnu Mas’ud. Apa yang mereka sepakati atas sebuah masalah faraid, maka umat Islam akan menyetujuinya, kendatipun terdapat perbedaan pendapat diantara mereka dalam satu masalah tertentu.

Imam Syafi’i dan sebagian ulama yang lainnya telah memilih mazhab Zaid bin Tsabit, karena sabda Rasulullah saw., “Zaid telah mengajarkan ilmu faraid kepada kalian.” Al-Qaffal berkata, “Pendapat Zaid bin Tsabit dalam masalah faraid tidak pernah diabaikan, bahkan semua pendapat-pendapatnya diterapkan. Hal ini berbeda dengan pendapat-pendapat yang diberikan oleh sahabat yang lain“. Insya Allah pada pelajaran selanjutnya akan saya sampaikan ijma’ para sahabat dan ulama tersebut berikut dengan contoh-contoh kasusnya.

Asbabun Nuzul Ayat-ayat Waris

Banyak riwayat yang mengisahkan tentang asbabun nuzul atau sebab musabab turunnya ayat-ayat waris, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Suatu ketika istri Sa’ad bin ar-Rabi’ datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa’ad bin ar-Rabi’ yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa’ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa’ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya, sedang keduanya itu tidak dapat menikah kecuali dengan harta” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Semoga Allah segera memutuskan perkara ini.” Maka turunlah ayat tentang waris yaitu surat an-Nisaa’ ayat 11. Rasulullah saw. kemudian mengutus seseorang kepada paman kedua putri Sa’ad itu dan memerintahkan kepadanya agar memberikan dua per tiga harta peninggalan Sa’ad kepada kedua putri itu. Sedangkan ibu mereka (istri Sa’ad) mendapat bagian seperdelapan, dan sisanya menjadi bagian saudara sekandung Sa’ad (paman kedua putri Sa’ad).

Dalam riwayat lain, yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabari, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Tsabit wafat dan meninggalkan seorang istri dan lima saudara perempuan. Namun, seluruh harta peninggalan Abdurrahman bin Tsabit dikuasai dan direbut oleh kaum laki-laki dari kerabatnya. Ummu Kahhah (istri Abdurrahman) lalu mengadukan masalah ini kepada Nabi saw., maka turunlah ayat waris sebagai jawaban persoalan itu.

Juga di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim disebutkan, “Jabir bin Abdullah ra. mengatakan bahwa Rasulullah mengunjunginya ketika ia sakit dan tidak sadarkan diri. Lalu orang-orang menuangkan bekas bekas air wudhu beliau kepadanya sehingga sadar. Kemudian ia katakan, “Ya Rasulullah! Yang akan mewarisi saya hanyalah kalalah.”
Maka, turunlah ayat tentang waris (hukum kalalah), yakni surah An-Nisaa’ ayat 176.”

Jika kita menyimak hadits-hadits diatas, terdapat suatu gambaran nyata bagaimana sesungguhnya kondisi sistem waris sebelum Islam datang, yaitu pada masa Arab jahilliyah dahulu. Orang-orang Arab jahilliyah hanya mengenal sistem kewarisan yang diturunkan hanya kepada anak laki-laki dewasa yang ditandai dengan kemampuannya menunggang kuda, bertempur dimedan perang, dan meraih harta rampasan perang. Apabila pewaris tidak mempunyai anak lelaki dewasa, maka mereka memberikan kepada para kerabat lelaki yang terdekat dengan pewaris, seperti saudara laki-laki dewasa dari pewaris, paman pewaris, dan seterusnya, yang penting mereka adalah laki-laki dewasa. Dengan demikian, mereka tidak memberikan waris kepada kaum wanita dan laki-laki yang masih anak-anak. Selain itu mereka pun memberikan hak waris kepada anak angkat (anak yang diadopsi), dan kedudukan anak angkat oleh mereka dianggap sama dengan kedudukan anak kandung dalam hal pembagian harta waris.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. disebutkan, “Ketika masalah faraid (warisan) diturunkan, yang di dalamnya Allah wajibkan bagian untuk anak laki-laki dan perempuan, serta ayah dan ibu, seluruh atau sebagian masyarakat membencinya. Mereka berkata, ‘Istri diberikan bagian warisan sebesar seperempat dan seperdelapan, anak perempuan mendapat bagian seperdua dan anak kecil juga mendapatkan bagian, padahal tidak seorang pun dari golongan mereka itu yang berperang demi membela suatu kaum dan memiliki harta rampasan perang. Acuhkanlah pembicaraan ini, semoga saja Rasulullah saw. menjadi lupa atau bila kita mengatakannya, pastilah beliau akan mengubahnya.’ Lalu sebagian dari mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kami harus memberikan seorang budak wanita setengah bagian harta waris yang ditinggalkan ayahnya, sedang dirinya tidak bisa memacu kuda dan tidak bisa membela kaumnya dalam peperangan? Kemudian kami memberi anak kecil harta waris pula, padahal harta itu tak berarti apa-apa baginya?’ Orang-orang Arab di masa Jahiliah melakukan hal seperti itu, dan tidak memberikan warisan, kecuali kepada orang yang berperang. Tentunya mereka akan memberikannya kepada yang lebih besar dan seterusnya.” (Tafsir Ibnu Jarir, juz VIII, hlm.32)

Namun setelah Islam datang dan iman mereka semakin kuat, mereka dengan segera meninggalkan adat istiadat dan kebiasaan mereka mengenai sistem pembagian waris arab jahilliyah tersebut, dan mereka pun membatalkan atau meniadakan hak waris bagi anak angkat, karena Allah telah berfirman: “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. al-Ahzab – 4,5)

Maka kita patut bersyukur kepada Allah Yang Maha Pemurah, yang telah menurunkan ketetapan dan peraturan sistem pembagian waris ini dengan sangat adil, sehingga kita mendapat petunjuk yang jelas bagaimana cara membagi harta waris yang Allah ridhai.

Rukun-rukun Waris

Rukun-rukun waris ada tiga, yang mana jika salah satu dari rukun waris ini tidak ada maka tidak akan terjadi pembagian warisan. Diantaranya adalah:

1.      Adanya pewaris, yaitu orang yang meninggal dunia yang meninggalkan sejumlah harta dan peninggalan lainnya yang dapat diwariskan.

2.      Adanya ahli waris, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan, atau lainnya.

3.      Adanya harta warisan, yaitu harta peninggalan milik pewaris yang ditinggalkan ketika ia wafat. Harta warisan ini dapat berbagai macam bentuk dan jenisnya, seperti uang, emas, perak, kendaraan bermotor, asuransi, komputer, peralatan elektronik, binatang ternak (seperti ayam, kambing, domba, sapi, kerbau, dan lain-lain), rumah, tanah, sawah, kebun, toko, perusahaan, dan segala sesuatu yang merupakan milik pewaris yang di dalamnya ada nilai materinya.

Hak-hak yang berkaitan dengan Pewaris

Dalam hal penggunaan harta warisan ini, terdapat beberapa hak yang harus ditunaikan terlebih dahulu berkaitan dengan hak-hak pewaris. Jika hak-hak ini sudah ditunakan, barulah sisa dari seluruh harta peninggalan pewaris tersebut dapat dibagikan kepada para ahli warisnya sesuai ketetapan Al-Qur’an, as-Sunnah, dan kesepakatan (ijma’) para ulama. Hak-hak yang berkaitan dengan pewaris dan harta warisannya tersebut diantaranya adalah:

         Biaya untuk keperluan pemakaman pewaris

         Hutang pewaris

         Menunaikan wasiat pewaris

Biaya untuk Keperluan Pemakaman Pewaris

Semua keperluan dan pembiayaan pemakaman pewaris hendaknya menggunakan harta miliknya tersebut dengan penggunaan yang sewajarnya, yakni tidak berlebihan dan tidak pula dikurang-kurangi. Keperluan-keperluan pemakaman tersebut menyangkut segala sesuatu yang dibutuhkan mayit, sejak wafatnya hingga pemakamannya. Di antaranya adalah: biaya memandikan, pembelian kain kafan, biaya pemakaman, dan sebagainya hingga mayit sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir. Segala keperluan tersebut bisa berbeda-beda biayanya, tergantung keadaan mayit, baik dari segi kemampuannya maupun dari jenis kelaminnya.

Apabila pewaris tidak meninggalkan warisan, maka hendaknya biaya pemakamannya dipikul oleh keluarga yang menjadi tanggungannya sewaktu masih hidup, yaitu anak-anak dan kerabat lainnya yang mampu. Jika pewaris tidak mempunyai kerabat yang dapat menanggung biaya penguburannya, maka biaya itu dapat meminta ke kas RT, kas RW atau bahkan baitulmal (kas negara). Di tempat saya tinggal dahulu, terdapat satu kebijaksanaan dari pengurus RT dan para warganya, yaitu menyediakan biaya pengurusan jenazah dari awal sampai ke tempat peristirahatannya yang terakhir (tidak termasuk biaya untuk pembelian tanah makam). Kas RT ini sebenarnya merupakan dana yang di dapat dari iuran bulanan warga itu sendiri.

Hutang Pewaris

Hutang yang masih ditanggung pewaris harus ditunaikan atau dibayarkan terlebih dahulu. Artinya, seluruh harta peninggalan pewaris tidak dibenarkan dibagikan kepada ahli warisnya sebelum hutangnya ditunaikan terlebih dahulu.

Berkaitan dengan hutang ini, terdapat hadits Rasulullah sebagai berikut, “Dari Abu Hurairah ra. bahwa ada jenazah yang mempunyai tanggungan hutang dibawa kepada Rasulullah, lalu beliau bertanya,
Apakah mayat ini meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi hutangnya?
Jika diberitahukan dia meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi hutangnya, maka beliau menshalatinya. Jika dia tidak meninggalkan harta yang cukup untuk melunasi hutangnya, maka beliau mengatakan kepada para sahabat,
Shalatilah sahabatmu ini!
Setelah Allah memberikan kemenangan berkali-kali kepada Rasulullah dalam pertempuran (sehingga banyak diperoleh harta rampasan perang), maka beliau bersabda,
Aku lebih berhak terhadap orang-orang mu’min daripada diri mereka sendiri. Barangsiapa yang mati dengan mempunyai tanggungan hutang, maka akulah yang melunasinya, dan barangsiapa yang meninggalkan harta, maka harta tersebut milik ahli warisnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits lainnya disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Roh (jiwa) seorang mu’min masih terkatung-katung (sesudah wafatnya) sampai hutangnya didunia dilunasi. (HR. Ahmad)

Di dalam hadits yang lain disebutkan bahwasanya Rasulullah bersabda, “Akan diampuni semua dosa orang yang mati syahid, kecuali hutangnya (yang belum dibayar). (HR. Muslim)

Mungkin diantara kita ada yang bertanya-tanya, bagaimana perihal seseorang yang wafat, yang masih mempunyai tanggungan hutang yang belum dilunasi, namun ia tidak meninggalkan harta warisan yang cukup untuk menutup hutangnya tersebut? Maka jika terjadi kondisi seperti ini, yaitu jumlah hutangnya tersebut lebih besar dari harta warisan yang ada, maka ahli warisnya harus berusaha melunasinya dari harta warisan yang ada ditambah dengan harta mereka sendiri sebagai bentuk tanggung jawab ahli waris terhadap kerabatnya yang telah wafat tersebut. Jika memang hartanya masih belum mencukupi, maka bisa meminta bantuan kepada kerabatnya yang lain. Jika memang masih belum mencukupi juga, maka bisa meminta bantuan kepada kaum muslimin lainnya, atau bahkan meminta bantuan kepada pemerintah atau negara dari harta baitulmal (kas negara).

Di dalam suatu hadits disebutkan, “Seorang hamba muslim yang membayar hutang saudaranya, maka Allah akan melepaskan ikatan penggadaiannya pada hari kiamat.” (HR. Mashabih Assunnah)

Di dalam hadits lainnya disebutkan, “Berlakulah lunak dan saling mengasihi (dalam hal menagih hutang). Hendaklah kamu saling mengalah terhadap yang lain. Apabila orang yang punya hak (yang menghutangkan) mengetahui kebaikan yang akan diperolehnya disebabkan menunda tuntutannya atas haknya (terhadap orang yang berhutang), pasti orang yang punya tuntutan atas haknya (yang menghutangkan) akan lari menjauhi orang yang dituntutnya (orang yang berhutang).” (HR. Bukhari)

Harap diperhatikan, bahwa hutang yang patut dibantu adalah hutang seseorang yang digunakan untuk amal kebaikan, seperti untuk memberi makan anak istrinya, membeli pakaian untuk menutup auratnya, dan lain sebagainya, karena memang dia berada dalam kondisi yang kekurangan. Adapun hutang seseorang yang digunakan untuk perbuatan dosa, seperti seseorang yang berhutang untuk berjudi, membeli minuman keras dan perbuatan dosa lainnya, maka tidak perlu dibantu, dan bahkan tidak boleh meminjamkan harta untuk perbuatan dosa dalam bentuk dan kondisi apapun. Wallahu’alam.

Menunaikan Wasiat Pewaris

Wasiat adalah permintaan pewaris terhadap ahli warisnya sebelum wafatnya. Wasiat ini sebenarnya tidak hanya berupa pesan yang sifatnya untuk membagikan sejumlah tertentu dari hartanya, namun ia bisa juga berbentuk pesan-pesan kebaikan yang diinginkan pewaris untuk ditunaikan oleh ahli warisnya.

Seorang muslim yang telah mengetahui ilmu faraid tentunya menginginkan ketika ia telah wafat, harta peninggalannya tersebut dapat dibagikan kepada ahli warisnya dengan benar sesuai dengan syariat (ketentuan) yang Allah turunkan. Juga terkadang mereka mempunyai keinginan tertentu sebelum wafatnya, diantaranya ia ingin seperbagian hartanya tersebut disedekahkan kepada fakir miskin, diinfakan di jalan Allah, disumbangkan untuk pembangunan masjid setempat, dibagikan kepada seseorang yang ia anggap telah berjasa kepadanya, dan lain sebagainya. Maka seluruh keinginannya tersebut dapat dituliskan di dalam suatu surat wasiat.

Penunaian wasiat pewaris dilakukan setelah pewaris wafat. Jika ia mewasiatkan harta, maka yang paling didahulukan untuk diselesaikan adalah biaya keperluan pemakamannya, kemudian pembayaran hutangnya. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim, disebutkan bahwa sesungguhnya Rasulullah saw memutuskan untuk mendahulukan penyelesaian hutang sebelum melaksanakan wasiat.

Wajib hukumnya menunaikan seluruh wasiat pewaris selama tidak melebihi jumlah sepertiga dari seluruh harta peninggalannya. Hal ini jika memang wasiat tersebut diperuntukkan bagi orang yang bukan ahli waris, serta tidak ada protes dari salah satu atau bahkan seluruh ahli warisnya. Para ulama telah sepakat bahwa pemberian wasiat kepada ahli waris hukumnya adalah haram, baik wasiat itu sedikit maupun banyak, karena Allah swt. telah menetapkan bagian ahli waris di dalam Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., dari Abu Umamah ra., ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Sungguh Allah telah memberikan hak (waris) kepada setiap yang berhak. Oleh karena itu, tidak ada wasiat (tambahan harta) bagi orang yang (telah) mendapatkan warisan‘”. (HR. al-Khamsah, kecuali an-Nasa’i)

Adapun mengenai ayat “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. al-Baqarah – 180), maka sesungguhnya ayat ini turun sebelum ayat-ayat waris. Maka setelah turun ayat-ayat waris, ditentukanlah batas-batas tertentu bagi para ahli waris sebagaimana yang sudah saya jelaskan pada sub bab “Penjelasan Ayat-ayat Waris” di atas. Oleh karena itu, setelah turun ayat-ayat waris, seseorang tidak boleh lagi berwasiat untuk membagikan sejumlah harta tertentu di luar haknya untuk para ahli warisnya. Adapun wasiat untuk selain ahli waris maka diperbolehkan. Ini adalah pendapat sebagian sahabat Nabi dan tabi’in.

Terkecuali khusus untuk istri-istri dari pewaris, terdapat satu ayat yang menjelaskan hak mereka, yakni “Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antaramu dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau ahli waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang makruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. al-Baqarah – 240). Jadi para istri hendaknya diberi nafkah selama setahun penuh dengan tidak disuruh pindah dari rumahnya, dimana semua itu harus sudah diwasiatkan oleh para suami yang telah kedatangan tanda-tanda maut. Nafkah setahun yang diwasiatkan ini adalah diluar harta warisan. Jika mereka (para istri pewaris) hendak pindah sendiri sebelum setahun (yakni setelah habis masa iddahnya [empat bulan sepuluh hari]), maka para wali atau ahli waris tidak berdosa membiarkan para istri itu untuk berbuat yang makruf, seperti misalnya menikah lagi dan lain sebagainya. Jadi tinggal selama setahun di rumah pewaris dan juga mendapatkan nafkahnya selama setahun merupakan hak bagi para istri yang ditinggal wafat suaminya.

Dalam berwasiat hendaknya ada saksi, sebagaimana diterangkan dalam ayat “Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah jika kamu ragu-ragu: “(Demi Allah) kami tidak akan menukar sumpah ini dengan harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa”.” (Q.S. al-Maaidah – 106)

Juga di dalam suatu hadits disebutkan, “Dari Salim, dari Ibnu Umar ra. bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda, ‘Seorang muslim yang memiliki sesuatu yang akan dia wasiatkan, hendaklah wasiat tersebut sudah tercatat padanya (selambat-lambatnya) tiga malam setelah berlangsungnya wasiat itu.‘”
Kata Abdullah bin Umar,
Sejak saya mendengar sabda Rasulullah tersebut, maka tidak terlewat satu malam pun melainkan surat wasiat saya telah ada pada saya.” (HR. Muslim)

Berkata imam Syafi’i, “Tidak ada kehati-hatian dan keteguhan bagi seorang muslim, kecuali bila wasiatnya itu sudah tertulis dan selalu berada disisinya bila dia mempunyai sesuatu yang hendak diwasiatkan, sebab dia tidak tahu kapan ajalnya akan menjemput. Sebab bila dia mati sedang wasiatnya belum tertulis dan tidak berada disisinya, maka mungkin wasiatnya tidak akan kesampaian (yakni tidak ada yang menunaikan, karena para ahli warisnya memang tidak ada yang tahu apa yang diinginkan oleh pewaris yang telah wafat tersebut)“.

Demikian pula, menunaikan wasiat hukumnya wajib bagi yang telah diamanahi atau dipercaya untuk menunaikan isi wasiat tersebut. Maka terhadap orang-orang yang merubah atau bahkan menelantarkan wasiat tersebut, maka sesungguhnya ia telah berdosa. Firman Allah di dalam Al-Qur’an: “Maka barang siapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah – 181)

Namun jika ia merasa pewaris telah berlebih-lebihan dalam berwasiat, berat sebelah, pilih kasih dan tidak adil, misalnya berwasiat agar memberikan harta warisan seluruhnya kepada seseorang, atau mungkin isi wasiat tersebut menyuruh berbuat dosa dan pelanggaran, maka ahli waris boleh untuk tidak melaksanakan wasiatnya, karena memang Allah melarang perbuatan dosa dan karena batas maksimal pemberian harta warisan pada wasiat itu adalah sepertiga dari harta milik pewaris, itupun jika tidak ada protes dari salah satu ataupun seluruh ahli waris yang ada. Firman Allah: “(Akan tetapi) barang siapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. al-Baqarah – 182).

Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw., beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang lelaki dan seorang perempuan benar-benar telah beramal dan taat kepada Allah selama enam puluh tahun, kemudian keduanya kedatangan ajalnya, sedangkan keduanya menyulitkan di dalam wasiatnya, maka keduanya wajib masuk neraka!
Kemudian Abu Hurairah membacakan ayat (Q.S. an-Nisaa’ – 12): “Sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat kepada ahli waris. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Jabir, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.: “Barang siapa yang mati dalam keadaan berwasiat (yang baik), maka dia telah mati di jalan Allah dan sunnah, mati dalam keadaan takwa dan syahid; dan mati dalam keadaan diampuni dosanya.”

Batas maksimum wasiat adalah sepertiga dari harta waris, dan tidak boleh melebihinya. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Sa’ad bin Abi Waqqash ra. telah menceritakan pengalamannya dengan Rasulullah seputar masalah batas maksimum wasiat yang diperbolehkan. Isinya adalah sebagai berikut: Sa’ad bin Abi Waqqash ra. mengatakan bahwa ia dijenguk oleh Rasulullah ketika Haji Wada’ karena ia sakit parah hampir mati. Ia katakan,”Ya Rasulullah! Anda lihat sendiri sakit saya yang parah ini, sedangkan saya tergolong orang yang berharta tetapi tidak ada yang mewarisi saya kecuali anak wanita saya. Bagaimana kalau saya sedekahkan dua pertiga harta saya?” Rasulullah menjawab, “Jangan.
Ia tanyakan lagi, “Bagaimana kalau saya sedekahkan seperduanya?
Beliau menjawab,
Jangan. Sepertiga saja. Sepertiga itu sudah banyak. Sungguh kau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya adalah lebih baik daripada kau tinggalkan mereka dalam keadaan kepapaan (kemiskinan), lalu mereka meminta-minta kesana kemari. Tidakkah kau berikan infak hanya karena Allah melainkan kau diberi pahala karena infak tersebut, termasuk sesuap makanan yang kau berikan untuk makanan istrimu.” (HR. Muslim)

Juga di dalam hadits lainnya diceritakan, “Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwa kalau orang-orang ingin mengurangi wasiat dari sepertiga menjadi seperempat harta, maka yang demikian itu lebih baik, karena Rasulullah bersabda,
Sepertiga saja maksimal, karena sepertiga itu sudah banyak.” (HR. Muslim)

Satu hal yang mesti diperhatikan adalah wasiat tidak sama dengan hibah (hadiah atau pemberian). Hibah menjadi milik orang yang dihibahkan pada saat itu juga. Sejak saat tersebut, orang yang memberikan hibah itu sudah berubah statusnya menjadi bukan lagi pemilik sesuatu yang dihibahkan tersebut, dan pemilik sesungguhnya menjadi orang yang diberi hibah tersebut. Orang yang sudah menghibahkan sesuatu kepada orang lain dilarang mengambil kembali hibahnya, apapun keadaannya. Di dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan, Umar ibnul Khattab ra. mengatakan bahwa ia telah menyedekahkan seekor kuda yang bagus untuk keperluan jihad fisabilillah, namun kemudian pemiliknya (yakni orang yang telah diberinya) menyia-nyiakan kuda itu. Lalu ia (Umar) menyangka bahwa pemiliknya (yakni orang yang telah diberinya) akan menjualnya dengan harga yang murah. Maka, hal itu ia tanyakan kepada Rasulullah, kemudian beliau bersabda, “Janganlah kau membelinya dan janganlah kau minta kembali sedekahmu, karena orang yang meminta kembali sedekahnya adalah seperti anjing yang menjilat kembali muntahnya.” Juga di dalam hadits Muslim lainnya disebutkan, dari Ibnu ‘Abbas ra. bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang meminta kembali pemberiannya adalah seperti anjing yang muntah lalu dijilatinya kembali.”

Adapun wasiat berbeda dengan hibah. Wasiat akan menjadi milik orang yang diwasiatkan dengan syarat jika orang yang berwasiat itu telah wafat, dan itupun perhitungannya setelah dikurangi dengan biaya pemakaman dan pembayaran hutang-hutangnya, karena memang hutang harus lebih didahulukan pembayarannya daripada wasiat. Jadi jika seseorang berwasiat, “Berikanlah seperdelapan hartaku untuk pembangunan masjid itu!“. Maka seperdelapan itu dihitung dari hartanya setelah dikurangi dengan biaya pemakaman dan pembayaran hutang-hutangnya, bukan dari pokok harta warisnya secara utuh. Setelah itu, baru sisanya diberikan kepada ahli warisnya sesuai dengan bagiannya masing-masing.

Syarat-syarat Waris

Syarat-syarat waris ada tiga, diantaranya adalah:

1.      Telah meninggalnya pewaris baik secara nyata maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal oleh hakim, karena setelah dinantikan hingga kurun waktu tertentu, tidak terdengar kabar mengenai hidup matinya). Hal ini sering terjadi pada saat datang bencana alam, tenggelamnya kapal di lautan, dan lain-lain.

2.      Adanya ahli waris yang masih hidup secara nyata pada waktu pewaris meninggal dunia.

3.      Seluruh ahli waris telah diketahui secara pasti, termasuk kedudukannya terhadap pewaris dan jumlah bagiannya masing-masing.

Sebab-sebab Mendapatkan Hak Waris

Ada tiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris, diantaranya adalah:

1.      Memiliki ikatan kekerabatan secara hakiki (yang ada ikatan nasab murni atau ikatan darah), seperti kedua orang tua, anak, saudara, paman, dan seterusnya.

2.      Adanya ikatan pernikahan, yaitu terjadinya akad nikah legal yang telah disahkan secara syar’i antara seorang laki-laki dan perempuan, sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersenggama) antar keduanya. Adapun pernikahan yang batil atau rusak, seperti nikah mut’ah, kawin kontrak dan sebagainya tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. Bagaimana bisa ada hak waris, sedangkan pernikahannya itu sendiri adalah tidak sah.

3.      Al-Wala, yaitu terjadinya hubungan kekerabatan karena membebaskan budak. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia yang merdeka. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi terhadap budak yang dibebaskan, dengan syarat budak itu sudah tidak memiliki satupun ahli waris, baik ahli waris berdasarkan ikatan kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan.

Penggugur Hak Waris

Tidak semua ahli waris bisa mendapatkan harta warisan. Terdapat beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang menjadi gugur untuk mendapatkan harta warisan. Penggugur hak waris ini ada tiga, diantaranya adalah:

1.      Budak. Seseorang yang berstatus sebagai budak (yang belum merdeka) tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak, secara langsung menjadi milik tuannya. Baik budak itu sebagai budak murni, budak yang akan dinyatakan merdeka seandainya tuannya meninggal, ataupun budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya, dengan persyaratan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Jadi bagaimanapun keadaannya, semua jenis budak merupakan penggugur hak untuk mewarisi dan hak untuk diwarisi disebabkan mereka tidak mempunyai hak milik, terkecuali jika ia telah merdeka. Hadits Rasulullah saw, “Siapa yang menjual seorang hamba (budak) sedangkan dia memiliki harta, maka hartanya tersebut menjadi milik pembelinya, kecuali bila hamba tersebut mensyaratkannya (yakni membuat perjanjian dahulu dengan pembelinya supaya hartanya tidak menjadi milik tuannya yang baru tersebut).” (HR. Ibnu Majah). Namun jika budak tersebut sudah benar-benar merdeka, misalnya karena dibebaskan oleh tuannya, maka barulah ia berhak untuk mendapatkan hak waris dan juga mewariskan, karena status dia sudah sebagai orang merdeka. Untuk di zaman kita sekarang ini, sudah banyak undang-undang di berbagai negara yang melarang perbudakan, oleh karena itu jarang sekali kita menemukan budak, atau mungkin sudah tidak ada sama sekali.

2.      Pembunuhan. Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya), maka ia tidak berhak mendapatkan warisan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.: “Seorang pembunuh tidak dapat mewarisi harta sedikitpun.” (HR Abu Daud). Juga di dalam hadits lainnya, Rasulullah bersabda, “Tidak ada hak bagi si pembunuh untuk mewarisi.” (HR Malik, Ahmad dan Ibnu Majah). Maka jika ada anak yang membunuh orang tuanya dengan jalan apapun karena ingin segera mendapatkan harta warisan, maka sesungguhnya ia telah berdosa besar, yakni dosa membunuh orang tua dan juga dosa mengambil harta warisan yang bukan merupakan haknya. Imam Malik memberi pengecualian untuk kasus pembunuhan yang tanpa disengaja, misal karena suami sedang memegang pisau yang hendak digunakan untuk menyembelih ternak, kemudian tiba-tiba istrinya jatuh terpeleset dan tepat mengenai pisau yang dibawa suaminya tersebut. Maka suami tersebut wajib membayar diyat kepada keluarga/wali istrinya, namun ia tetap mendapatkan waris dari harta milik istrinya tersebut (tidak termasuk dengan harta diyat-nya yang sudah ia berikan). Juga mengenai pembunuhan yang disengaja karena pembelaan diri, misal ia diserang dan terancam jiwanya, maka pembunuhan seperti ini tidak menghalangi hak warisan si pembunuhnya.

3.      Berlainan agama. Seorang muslim tidak dapat mewarisi harta warisan orang non
muslim walapun ia adalah orang tua atau anak, dan begitu pula sebaliknya. Hal ini telah ditegaskan Rasulullah saw. dalam sabdanya: “Orang Islam tidak dapat mewarisi harta orang kafir, dan orang kafir pun tidak dapat mewarisi harta orang Islam.” (HR Bukhari dan Muslim). Menurut pendapat syaikh Al-‘Utsaimin, khusus untuk orang munafik, jika ia terlihat jelas kemunafikannya, maka ia masuk ke dalam kategori orang kafir, sehingga ia tidak dapat saling waris-mewarisi bersama kerabatnya yang muslim. Namun jika kemunafikannya tidak terlihat secara zhahir, maka ia tetap dianggap sebagai seorang muslim. Pendapat ini berseberangan dengan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang berkata “Tidak ada penghalang saling waris-mewarisi antara seorang muslim dengan seorang munafik. Sebab seorang munafik dihukumi muslim secara zhahir.” Ia juga berpendapat, seorang muslim dapat mewarisi harta dari kerabatnya yang murtad dan kafir dzimmi, yakni orang kafir yang tidak memerangi umat Islam dan agama Islam, dan hidup/tinggal di negeri kaum muslimin yang diikat dengan perjanjian untuk tunduk dan patuh terhadap peraturan yang berlaku di negeri tersebut.

Ahli Waris Laki-Laki dan Perempuan Menurut Ijma’ para Ulama

Pada pembahasan sebelumnya, telah saya sampaikan bahwa ahli waris yang ditetapkan oleh Allah secara jelas di dalam Al-Qur’an adalah anak, orang tua, suami atau istri, saudara seibu, dan saudara sekandung atau saudara seayah. Namun para ulama telah menetapkan bahwa terdapat lima belas laki-laki dan sepuluh perempuan yang berhak untuk mendapatkan hak waris. Dalam hal ini tidak ada seorangpun yang menyalahi ijma’ para ulama tersebut, karena mereka bersandar kepada dalil Al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw. Saya gambarkan diagram seluruh ahli waris tersebut sebagai berikut:

[Untuk membaca lanjutannya, silahkan geser sedikit scrollbar ke bawah, lalu pada sebelah kanan label Pages, klik Page Number (Nomor Halaman) nya]

Beri Nilai Artikel Ini:

Istilah Percarian:
dasar ilmu faraid, pembahasan dari al quran dan hadist tentang ilmu faroidh, dasar ilmu fariit, OK Google dasar-dasar ilmu faraid, dasardasarparaid, hadits tentang faraid, hadits dasar ilmu faraid, Dasar mempelajari ilmu faroid, dasar ilmu faroid, dasar hukum ilmu faroid, dasar hukum faraid, dasar dasar ilmu faraidh, dalil tentang faraid, dalil temteng ilmu faroid

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: