HUKUM PENCANGKOKAN ORGAN TUBUH

SEPUTAR MASALAH PENCANGKOKAN ORGAN TUBUH
Dr. Yusuf Qardhawi
 
PENGANTAR
 
Fatwa ini saya tulis sejak  lama  sebagai  jawaban  terhadap
beberapa   pertanyaan  seputar  masalah  pencangkokan  organ
tubuh.
 
Masalah  ini  merupakan  masalah  ijtihadiyah  yang  terbuka
kemungkinan  untuk  didiskusikan, seperti halnya semua hasil
ijtihad  atau  pemikiran   manusia,   khususnya   menyangkut
masalah-masalah  kontemporer  yang belum pernah dibahas oleh
para ulama terdahulu.
 
Dalam kaitan ini, tidak seorang pun ahli  fiqih  yang  dapat
mengklaim  bahwa  pendapatnyalah  yang  benar secara mutlak.
Paling-paling ia hanya  boleh  mengatakan  sebagaimana  yang
dikatakan   Imam   Syafi'i,  "Pendapatku  benar  tetapi  ada
kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah tetapi  ada
kemungkinan benar."
 
Karena itu saya menganggap aneh terhadap kesalahpahaman yang
muncul akhir-akhir ini yang menentang  seorang  juru  dakwah
yang  agung,  Syekh  Muhammad Mutawalli asy-Sya'rawi, karena
beliau memfatwakan tidak bolehnya pencangkokan  organ  tubuh
dengan didasarkan atas pemikiran beliau.
 
Sebenarnya  Syekh  Sya'rawi --mudah-mudahan Allah melindungi
beliau-- tidak  menulis  fatwa  tersebut  secara  bebas  dan
detail.  Beliau  hanya  mengatakannya dalam suatu mata acara
televisi, ketika menjawab pertanyaan  yang  diajukan.  Dalam
acara-acara  seperti  itu  sering  muncul  pertanyaan secara
tiba-tiba, dan jawabannya pun bersifat sepintas  lalu,  yang
tidak  dapat  dijadikan  acuan  pokok  sebagai  pendapat dan
pandangan  ulama   dalam   persoalan-persoalan   besar   dan
masalah-masalah  yang  sukar.  Yang dapat dijadikan pegangan
dalam hal ini adalah pendapat  yang  tertuang  dalam  bentuk
tulisan,  karena  pendapat dalam bentuk tulisan mencerminkan
pemikiran yang akurat  dari  orang  yang  bersangkutan,  dan
tidak ada kesamaran padanya.
 
Namun  demikian,  setiap  orang  boleh  diterima dan ditolak
perkataannya, kecuali Nabi saw. Sedangkan seorang  mujtahid,
apabila  benar  pendapatnya  maka  dia  akan mendapatkan dua
pahala; dan jika keliru maka diampuni  kesalahannya,  bahkan
masih mendapatkan satu pahala.
 
Wa  billahit  taufiq,  dan  kepada-Nya-lah tujuan perjalanan
hidup ini.
 
PERTANYAAN
 
Bolehkah seorang muslim mendonorkan sebagian organ  tubuhnya
sewaktu  dia hidup untuk dicangkokkan pada tubuh orang lain?
Kalau boleh, apakah kebolehannya itu bersifat mutlak ataukah
terikat    dengan    syarat-syarat    tertentu?    Dan   apa
syarat-syaratnya itu?
 
Jika mendonorkan organ tubuh itu diperbolehkan,  maka  untuk
siapa saja donor itu? Apakah hanya untuk kerabat, atau hanya
untuk orang muslim, ataukah boleh untuk sembarang orang?
 
Apabila  mendermakan  atau  mendonorkan  organ   tubuh   itu
diperbolehkan, apakah boleh memperjualbelikannya?
 
Bolehkah  mendonorkan  organ  tubuh setelah meninggal dunia?
Apakah hal ini tidak bertentangan dengan  keharusan  menjaga
kehormatan mayit?
 
Apakah  mendonorkan  itu  merupakan  hak  orang bersangkutan
(yang  punya   tubuh   itu)   saja?   Bolehkah   keluarganya
mendonorkan organ tubuh si mati?
 
Bolehkah  negara  mengambil  sebagian organ tubuh orang yang
kecelakaan misalnya, untuk menolong orang lain?
 
Bolehkah mencangkokkan organ tubuh orang nonmuslim ke  tubuh
orang muslim?
 
Bolehkah   mencangkokkan  organ  tubuh  binatang  --termasuk
binatang itu najis, seperti babi misalnya-- ke tubuh seorang
muslim?
 
Itulah  sejumlah  pertanyaan  yang  dihadapkan  kepada fiqih
Islam dan  tokoh-tokohnya  beserta  lembaga-lembaganya  pada
masa sekarang.
 
Semua  itu  memerlukan  jawaban, apakah diperbolehkan secara
mutlak,  apakah  dilarang  secara  mutlak,  ataukah   dengan
perincian?
 
Baiklah  saya  akan mencoba menjawabnya, mudah-mudahan Allah
memberi pertolongan dan taufiq-Nya.
 
JAWABAN
 
BOLEHKAH ORANG MUSLIM MENDERMAKAN ORGAN TUBUHNYA KETIKA  DIA
MASIH HIDUP?
 
Ada   yang   mengatakan   bahwa  diperbolehkannya  seseorang
mendermakan  atau  mendonorkan  sesuatu  ialah  apabila  itu
miliknya.  Maka,  apakah  seseorang  itu  memiliki  tubuhnya
sendiri  sehingga  ia  dapat   mempergunakannya   sekehendak
hatinya,  misalnya dengan mendonorkannya atau lainnya? Atau,
apakah tubuh itu merupakan titipan  dari  Allah  yang  tidak
boleh  ia  pergunakan  kecuali  dengan izin-Nya? Sebagaimana
seseorang tidak boleh memperlakukan  tubuhnya  dengan  semau
sendiri  pada  waktu  dia  hidup  dengan  melenyapkannya dan
membunuhnya  (bunuh  diri),  maka  dia  juga   tidak   boleh
mempergunakan  sebagian  tubuhnya jika sekiranya menimbulkan
mudarat buat dirinya.
 
Namun demikian, perlu  diperhatikan  disini  bahwa  meskipun
tubuh  merupakan  titipan  dari Allah, tetapi manusia diberi
wewenang   untuk    memanfaatkan    dan    mempergunakannya,
sebagaimana   harta.   Harta  pada  hakikatnya  milik  Allah
sebagaimana  diisyaratkan  oleh  Al-Qur'an,  misalnya  dalam
firman Allah:
 
     "... dan berikanlah kepada mereka sebagian dari
     harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu ..."
     (an-Nur: 33)
 
Akan tetapi, Allah memberi  wewenang  kepada  manusia  untuk
memilikinya dan membelanjakan harta itu.
 
Sebagaimana  manusia  boleh  mendermakan  sebagian  hartanya
untuk  kepentingan  orang  lain  yang  membutuhkannya,  maka
diperkenankan  juga  seseorang mendermakan sebagian tubuhnya
untuk orang lain yang memerlukannya.
 
Hanya perbedaannya adalah  bahwa  manusia  adakalanya  boleh
mendermakan  atau membelanjakan seluruh hartanya, tetapi dia
tidak boleh mendermakan seluruh anggota badannya. Bahkan  ia
tidak boleh mendermakan dirinya (mengorbankan dirinya) untuk
menyelamatkan orang sakit dari  kematian,  dari  penderitaan
yang sangat, atau dari kehidupan yang sengsara.
 
Apabila  seorang  muslim  dibenarkan  menceburkan dirinya ke
laut untuk menyelamatkan orang yang tenggelam, atau masuk ke
tengah-tengah  jilatan  api untuk memadamkan kebakaran, maka
mengapakah tidak diperbolehkan seorang muslim mempertaruhkan
sebagian    wujud   materiilnya   (organ   tubuhnya)   untuk
kemaslahatan orang lain yang membutuhkannya?
 
Pada zaman sekarang kita melihat adanya  donor  darah,  yang
merupakan   bagian  dari  tubuh  manusia,  telah  merata  di
negara-negara kaum muslim tanpa ada seorang ulama  pun  yang
mengingkarinya,  bahkan  mereka  menganjurkannya  atau  ikut
serta menjadi donor. Maka ijma'  sukuti  (kesepakatan  ulama
secara  diam-diam)  ini --menurut sebagian fatwa yang muncul
mengenai masalah ini-- menunjukkan bahwa donor  darah  dapat
diterima syara'.
 
Didalam  kaidah syar'iyah ditetapkan bahwa mudarat itu harus
dihilangkan sedapat mungkin. Karena itulah kita disyariatkan
untuk  menolong  orang yang dalam keadaan tertekan/terpaksa,
menolong  orang  yang  terluka,  memberi  makan  orang  yang
kelaparan,  melepaskan  tawanan, mengobati orang yang sakit,
dan  menyelamatkan  orang  yang  menghadapi   bahaya,   baik
mengenai jiwanya maupun lainnya.
 
Maka  tidak  diperkenankan seorang muslim yang melihat suatu
dharar  (bencana,  bahaya)  yang  menimpa   seseorang   atau
sekelompok  orang,  tetapi  dia tidak berusaha menghilangkan
bahaya itu padahal dia mampu  menghilangkannya,  atau  tidak
berusaha menghilangkannya menurut kemampuannya.
 
Karena   itu   saya  katakan  bahwa  berusaha  menghilangkan
penderitaan  seorang  muslim  yang  menderita  gagal  ginjal
misalnya,  dengan  mendonorkan  salah  satu  ginjalnya  yang
sehat, maka tindakan demikian diperkenankan  syara',  bahkan
terpuji  dan  berpahala bagi orang yang melakukannya. Karena
dengan demikian berarti dia menyayangi orang yang  di  bumi,
sehingga  dia  berhak  mendapatkan kasih sayang dari yang di
langit.
 
Islam tidak membatasi sedekah pada harta semata-mata, bahkan
Islam menganggap semua kebaikan (al-ma'ruf) sebagai sedekah.
Maka mendermakan  sebagian  organ  tubuh  termasuk  kebaikan
(sedekah).  Bahkan  tidak  diragukan  lagi, hal ini termasuk
jenis sedekah yang paling tinggi dan  paling  utama,  karena
tubuh  (anggota  tubuh)  itu  lebih  utama  daripada  harta,
sedangkan seseorang mungkin saja menggunakan  seluruh  harta
kekayaannya untuk menyelamatkan (mengobati) sebagian anggota
tubuhnya.  Karena  itu,  mendermakan  sebagian  organ  tubuh
karena Allah Ta'ala merupakan qurbah (pendekatan diri kepada
Allah) yang paling utama dan sedekah yang paling mulia.
 
Kalau kita katakan orang hidup  boleh  mendonorkan  sebagian
organ  tubuhnya,  maka  apakah kebolehan itu bersifat mutlak
atau ada persyaratan tertentu?
 
Jawabannya,  bahwa  kebolehannya   itu   bersifat   muqayyad
(bersyarat). Maka seseorang tidak boleh mendonorkan sebagian
organ  tubuhnya  yang  justru   akan   menimbulkan   dharar,
kemelaratan,   dan   kesengsaraan  bagi  dirinya  atau  bagi
seseorang yang punya hak tetap atas dirinya.
 
Oleh sebab itu, tidak  diperkenankan  seseorang  mendonorkan
organ  tubuh yang cuma satu-satunya dalam tubuhnya, misalnya
hati atau jantung, karena  dia  tidak  mungkin  dapat  hidup
tanpa   adanya   organ  tersebut;  dan  tidak  diperkenankan
menghilangkan dharar  dari  orang  lain  dengan  menimbulkan
dharar  pada  dirinya.  Maka kaidah syar'iyah yang berbunyi:
"Dharar (bahaya,  kemelaratan,  kesengsaraan,  nestapa)  itu
harus dihilangkan," dibatasi oleh kaidah lain yang berbunyi:
"Dharar  itu  tidak  boleh  dihilangkan  dengan  menimbulkan
dharar pula."
 
Para   ulama   ushul   menafsirkan  kaidah  tersebut  dengan
pengertian:  tidak   boleh   menghilangkan   dharar   dengan
menimbulkan   dharar   yang   sama  atau  yang  lebih  besar
daripadanya.
 
Karena itu tidak boleh mendermakan organ tubuh bagian  luar,
seperti  mata,  tangan,  dan  kaki. Karena yang demikian itu
adalah menghilangkan dharar orang  lain  dengan  menimbulkan
dharar  pada  diri  sendiri  yang  lebih besar, sebab dengan
begitu dia mengabaikan kegunaan organ itu bagi  dirinya  dan
menjadikan buruk rupanya.
 
Begitu pula halnya organ tubuh bagian dalam yang berpasangan
tetapi salah satu dari pasangan  itu  tidak  berfungsi  atau
sakit, maka organ ini dianggap seperti satu organ.
 
Hal  itu merupakan contoh bagi yang dharar-nya menimpa salah
seorang yang mempunyai hak tetap terhadap penderma  (donor),
seperti  hak  istri, anak, suami, atau orang yang berpiutang
(mengutangkan sesuatu kepadanya).
 
Pada suatu hari pernah ada seorang  wanita  bertanya  kepada
saya bahwa dia ingin mendonorkan salah satu ginjalnya kepada
saudara     perempuannya,     tetapi     suaminya      tidak
memperbolehkannya, apakah memang ini termasuk hak suaminya?
 
Saya  jawab  bahwa suami punya hak atas istrinya. Apabila ia
(si istri) mendermakan salah satu  ginjalnya,  sudah  barang
tentu  ia  harus  dioperasi  dan  masuk  rumah  sakit, serta
memerlukan perawatan khusus.  Semua  itu  dapat  menghalangi
sebagian  hak  suami  terhadap  istri,  belum  lagi ditambah
dengan beban-beban lainnya. Oleh karena itu, seharusnya  hal
itu dilakukan dengan izin dan kerelaan suami.
 
Disamping itu, mendonorkan organ tubuh hanya boleh dilakukan
oleh orang dewasa dan berakal sehat. Dengan demikian,  tidak
diperbolehkan  anak  kecil mendonorkan organ tubuhnya, sebab
ia tidak tahu  persis  kepentingan  dirinya,  demikian  pula
halnya orang gila.
 
Begitu  juga  seorang wali, ia tidak boleh mendonorkan organ
tubuh anak kecil dan orang gila yang  dibawah  perwaliannya,
disebabkan  keduanya  tidak  mengerti. Terhadap harta mereka
saja wali tidak boleh mendermakannya,  lebih-lebih  jika  ia
mendermakan  sesuatu  yang  lebih  tinggi  dan  lebih  mulia
daripada harta, semisal organ tubuh.
MEMBERIKAN DONOR KEPADA ORANG NON-MUSLIM
 
Mendonorkan organ tubuh itu seperti menyedekahkan harta. Hal
ini  boleh  dilakukan  terhadap  orang muslim dan nonmuslim,
tetapi tidak boleh diberikan kepada orang kafir  harbi  yang
memerangi  kaum  muslim.  Misalnya,  menurut  pendapat saya,
orang kafir yang memerangi kaum muslim lewat perang  pikiran
dan yang berusaha merusak Islam.
 
Demikian  pula  tidak  diperbolehkan mendonorkan organ tubuh
kepada  orang  murtad  yang   keluar   dari   Islam   secara
terang-terangan.   Karena  menurut  pandangan  Islam,  orang
murtad berarti telah mengkhianati agama dan umatnya sehingga
ia  berhak  dihukum bunuh. Maka bagaimana kita akan menolong
orang seperti ini untuk hidup?
 
Apabila ada dua orang yang membutuhkan bantuan  donor,  yang
satu  muslim  dan  satunya  lagi nonmuslim, maka yang muslim
itulah yang harus diutamakan. Allah berfirman:
 
     "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan
     perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi
     penolong  bagi sebagian yanglain ..." (atTaubah:
     71)
 
Bahkan seorang  muslim  yang  saleh  dan  komitmen  terhadap
agamanya lebih utama untuk diberi donor daripada orang fasik
yang mengabaikan kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Karena
dengan  hidup  dan sehatnya muslim yang saleh itu berarti si
pemberi donor telah membantunya  melakukan  ketaatan  kepada
Allah  dan memberikan manfaat kepada sesama makhluk-Nya. Hal
ini  berbeda  dengan   ahli   maksiat   yang   mempergunakan
nikmat-nikmat  Allah  hanya  untuk bermaksiat kepada-Nya dan
menimbulkan mudarat kepada orang lain.
 
Apabila si muslim itu kerabat atau tetangga si  donor,  maka
dia  lebih  utama  daripada yang lain, karena tetangga punya
hak yang kuat dan kerabat punya hak yang  lebih  kuat  lagi,
sebagaimana firman Allah:
 
     "... Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat
     itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya
     (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah
     ..." (al-Anfal: 75)
 
Juga diperbolehkan seorang muslim mendonorkan organ tubuhnya
kepada   orang   tertentu,   sebagaimana   ia   juga   boleh
mendermakannya kepada suatu yayasan seperti bank yang khusus
menangani  masalah  ini  (seperti bank mata dan sebagiannya;
Penj.), yang merawat dan memelihara  organ  tersebut  dengan
caranya  sendiri,  sehingga sewaktu-waktu dapat dipergunakan
apabila diperlukan.
 
TIDAK DIPERBOLEHKAN MENJUAL ORGAN TUBUH
 
Perlu   saya   ingatkan   disini   bahwa    pendapat    yang
memperbolehkan   donor   organ   tubuh   itu  tidak  berarti
memperbolehkan memperjualbelikannya. Karena  jual  beli  itu
--sebagaimana   dita'rifkan  fuqaha--  adalah  tukar-menukar
harta secara suka rela, sedangkan tubuh  manusia  itu  bukan
harta   yang   dapat  dipertukarkan  dan  ditawar-menawarkan
sehingga organ tubuh manusia menjadi objek  perdagangan  dan
jual beli. Suatu peristiwa yang sangat disesalkan terjadi di
beberapa daerah miskin, di sana terdapat  pasar  yang  mirip
dengan  pasar  budak.  Di  situ diperjualbelikan organ tubuh
orang-orang miskin dan orang-orang  lemah  --untuk  konsumsi
orang-orang  kaya--  yang  tidak  lepas  dari  campur tangan
"mafia  baru"  yang  bersaing  dengan  mafia  dalam  masalah
minum-minuman keras, ganja, morfin, dan sebagainya.
 
Tetapi,  apabila  orang  yang memanfaatkan organ itu memberi
sejumlah uang kepada donor  --tanpa  persyaratan  dan  tidak
ditentukan   sebelumnya,   semata-mata  hibah,  hadiah,  dan
pertolongan-- maka yang demikian itu hukumnya jaiz  (boleh),
bahkan  terpuji dan termasuk akhlak yang mulia. Hal ini sama
dengan pemberian orang yang  berutang  ketika  mengembalikan
pinjaman    dengan    memberikan    tambahan    yang   tidak
dipersyaratkan sebelumnya. Hal ini diperkenankan syara'  dan
terpuji,  bahkan  Rasulullah saw. pernah melakukannya ketika
beliau mengembalikan pinjaman (utang)  dengan  sesuatu  yang
lebih baik daripada yang dipinjamnya seraya bersabda:
 
     "Sesungguhnya sebaik-baik orang diantara kamu
     ialah yang lebih baik pembayaran utangnya." (HR
     Ahmad, Bukhari, Nasa'i, dan Ibnu Majah dari Abu
     Hurairah)
 
BOLEHKAH MEWASIATKAN ORGAN TUBUH SETELAH MENINGGAL DUNIA?
 
Apabila seorang muslim  diperbolehkan  mendonorkan  sebagian
organ  tubuhnya yang bermanfaat untuk orang lain serta tidak
menimbulkan mudarat pada dirinya sendiri, maka bolehkah  dia
berwasiat  untuk  mendonorkan  sebagian  organ  tubuhnya itu
setelah dia meninggal dunia nanti?
 
Menurut pandangan saya, apabila seorang muslim diperbolehkan
mendonorkan  organ tubuhnya pada waktu hidup, yang dalam hal
ini mungkin saja akan  mendatangkan  kemelaratan  --meskipun
kemungkinan   itu   kecil--   maka  tidaklah  terlarang  dia
mewasiatkannya setelah meninggal  dunia  nanti.  Sebab  yang
demikian  itu akan memberikan manfaat yang utuh kepada orang
lain tanpa menimbulkan mudarat  (kemelaratan/  kesengsaraan)
sedikit  pun  kepada dirinya, karena organ-organ tubuh orang
yang meninggal  akan  lepas  berantakan  dan  dimakan  tanah
beberapa  hari  setelah  dikubur. Apabila ia berwasiat untuk
mendermakan organ tubuhnya itu dengan niat mendekatkan  diri
dan mencari keridhaan Allah, maka ia akan mendapatkan pahala
sesuai dengan niat dan amalnya. Dalam hal ini tidak ada satu
pun  dalil syara' yang mengharamkannya, sedangkan hukum asal
segala sesuatu adalah mubah, kecuali  jika  ada  dalil  yang
sahih  dan  sharih (jelas) yang melarangnya. Dalam kasus ini
dalil tersebut tidak dijumpai.
 
Umar r.a. pernah berkata kepada  sebagian  sahabat  mengenai
beberapa  masalah,  "Itu adalah sesuatu yang bermanfaat bagi
saudaramu  dan  tidak  memberikan  mudarat  kepada   dirimu,
mengapa engkau hendak melarangnya?" Demikianlah kiranya yang
dapat  dikatakan  kepada   orang   yang   melarang   masalah
mewasiatkan organ tubuh ini.
 
Ada  yang  mengatakan bahwa hal ini menghilangkan kehormatan
mayit  yang  sangat  dipelihara  oleh  syariat  Islam,  yang
Rasulullah saw. sendiri pernah bersabda:
 
     "Mematahkan tulang mayit itu seperti mematahkan
     tulang orang yang hidup."1
 
Saya tekankan disini bahwa  mengambil  sebagian  organ  dari
tubuh  mayit  tidaklah  bertentangan dengan ketetapan syara'
yang menyuruh menghormatinya.  Sebab  yang  dimaksud  dengan
menghormati tubuh itu ialah menjaganya dan tidak merusaknya,
sedangkan mengoperasinya (mengambil organ  yang  dibutuhkan)
itu  dilakukan  seperti  mengoperasi orang yang hidup dengan
penuh  perhatian  dan  penghormatan,  bukan  dengan  merusak
kehormatan tubuhnya.
 
Sementara  itu,  hadits  tersebut hanya membicarakan masalah
mematahkan tulang mayit, padahal pengambilan organ ini tidak
mengenai tulang. Sesungguhnya yang dimaksud hadits itu ialah
larangan  memotong-motong  tubuh  mayit,   merusaknya,   dan
mengabaikannya  sebagaimana  yang  dilakukan  kaum  jahiliah
dalam peperangan-peperangan --bahkan  sebagian  dari  mereka
masih   terus  melakukannya  hingga  sekarang.  Itulah  yang
diingkari dan tidak diridhai oleh Islam.
 
Selain itu, janganlah seseorang menolak dengan alasan  ulama
salaf  tidak  pernah  melakukannya,  sedangkan  kebaikan itu
ialah dengan mengikuti jejak langkah mereka.  Memang  benar,
andaikata  mereka memerlukan hal itu dan mampu melakukannya,
lantas mereka tidak mau melakukannya. Tetapi  banyak  sekali
perkara  yang  kita  lakukan  sekarang ternyata belum pernah
dilakukan oleh ulama salaf  karena  memang  belum  ada  pada
zaman  mereka.  Sedangkan  fatwa  itu  sendiri dapat berubah
sesuai dengan perubahan zaman, tempat, tradisi, dan kondisi,
sebagaimana   ditetapkan   oleh   para   muhaqqiq.  Meskipun
demikian,  dalam  hal  ini  terdapat  ketentuan  yang  harus
dipenuhi  yaitu  tidak  boleh  mendermakan  atau mendonorkan
seluruh tubuh atau sebagian banyak anggota  tubuh,  sehingga
meniadakan hukum-hukum mayit bagi yang bersangkutan, seperti
tentang     kewajiban      memandikannya,      mengafaninya,
menshalatinya,  menguburnya  di  pekuburan  kaum muslim, dan
sebagainya.
 
Mendonorkan  sebagian  organ   tubuh   sama   sekali   tidak
menghilangkan semua itu secara meyakinkan.
BOLEHKAH  WALI  DAN  AHLI  WARIS  MENDONORKAN SEBAGIAN ORGAN
TUBUH MAYIT?
 
Apabila seseorang sebelum meninggal diperkenankan  berwasiat
untuk  mendonorkan sebagian organ tubuhnya, maka jika ia (si
mayit) tidak berwasiat sebelumnya bolehkah bagi  ahli  waris
dan walinya mendonorkan sebagian organ tubuhnya?
 
Ada  yang  mengatakan  bahwa  tubuh si mayit adalah milik si
mayit itu sendiri, sehingga wali atau  ahli  warisnya  tidak
diperbolehkan mempergunakan atau mendonorkannya.
 
Namun  begitu,  sebenarnya seseorang apabila telah meninggal
dunia  maka  dia  tidak  dianggap  layak  memiliki  sesuatu.
Sebagaimana  kepemilikan hartanya yang juga berpindah kepada
ahli warisnya, maka mungkin dapat dikatakan bahwa  tubuh  si
mayit  menjadi  hak  wali atau ahli warisnya. Dan boleh jadi
syara'  melarang  mematahkan  tulang  mayit   atau   merusak
tubuhnya  itu  karena hendak memelihara hak orang yang hidup
melebihi hak orang yang telah mati.
 
Disamping itu, Pembuat Syariat telah memberikan  hak  kepada
wali untuk menuntut hukum qishash atau memaafkan si pembunuh
ketika  terjadi  pembunuhan  dengan   sengaja,   sebagaimana
difirmankan oleh Allah:
 
     "... Dan barangsiapa dibunuh secara zhalim, maka
     sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada
     ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu
     melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia
     adalah orang yang mendapat pertolongan."
     (al-Isra': 33)
 
Sebagaimana halnya ahli waris mempunyai hak melakukan  hukum
qishash  jika  mereka menghendaki, atau melakukan perdamaian
dengan menuntut pembayaran diat, sedikit atau  banyak.  Atau
memaafkannya  secara  mutlak  karena  Allah,  pemaafan  yang
bersifat menyeluruh atau sebagian, seperti  yang  disinyalir
oleh Allah dalam firmanNya:
 
     "... Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan
     dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan)
     mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah
     (yang dlben maaf) membayar (diat) kepada yang
     memben maaf dengan cara yang baik (pula) ..."
     (al-Baqarah: 178)
 
Maka tidak menutup kemungkinan bahwa  mereka  mempunyai  hak
mempergunakan  sebagian organ tubuhnya, yang sekiranya dapat
memberi manfaat kepada orang lain dan tidak memberi  mudarat
kepada si mayit. Bahkan mungkin dia mendapat pahala darinya,
sesuai  kadar  manfaat  yang  diperoleh  orang  sakit   yang
membutuhkannya  meskipun si mayit tidak berniat, sebagaimana
seseorang yang hidup itu mendapat pahala  karena  tanamannya
dimakan  oleh  orang  lain, burung, atau binatang lain, atau
karena ditimpa musibah, kesedihan,  atau  terkena  gangguan,
hingga  terkena  duri  sekalipun  ... Seperti juga halnya ia
memperoleh manfaat  --setelah  meninggal  dunia--  dari  doa
anaknya  khususnya dan doa kaum muslim umumnya, serta dengan
sedekah mereka  untuknya.  Dan  telah  saya  sebutkan  bahwa
sedekah  dengan  sebagian  anggota  tubuh  itu  lebih  besar
pahalanya daripada sedekah dengan harta.
 
Oleh karena itu, saya berpendapat tidak terlarang bagi  ahli
waris mendonorkan sebagian organ tubuh mayit yang dibutuhkan
oleh  orang-orang  sakit  untuk  mengobati  mereka,  seperti
ginjal, jantung, dan sebagainya, dengan niat sebagai sedekah
dari si mayit, suatu sedekah yang berkesinambungan pahalanya
selama  si  sakit  masih  memanfaatkan organ yang didonorkan
itu.
 
Sebagian saudara di Qatar  menanyakan  kepada  saya  tentang
mendermakan  sebagian  organ  tubuh  anak-anak  mereka  yang
dilahirkan dengan menyandang suatu penyakit sehingga  mereka
tidak  dapat  bertahan  hidup. Proses itu terjadi pada waktu
mereka di rumah sakit, ketika anak-anak itu meninggal dunia.
Sedangkan  beberapa  anak  lain  membutuhkan  sebagian organ
tubuh  mereka   yang   sehat   --misalnya   ginjal--   untuk
melanjutkan kehidupan mereka.
 
Saya  jawab  bahwa  yang  demikian itu diperbolehkan, bahkan
mustahab, dan mereka akan mendapatkan pahala,  insya  Allah.
Karena  yang  demikian  itu  menjadi  sebab terselamatkannya
kehidupan beberapa orang anak dalam beberapa hari disebabkan
kemauan  para  orang  tua untuk melakukan kebaikan yang akan
mendapatkan pahala  dari  Allah.  Mudah-mudahan  Allah  akan
mengganti  untuk mereka -- karena musibah yang menimpa itu--
melalui anak-anak mereka.
 
Hanya saja, para ahli waris tidak  boleh  mendonorkan  organ
tubuh  si mayit jika si mayit sewaktu hidupnya berpesan agar
organ tubuhnya tidak didonorkan, karena  yang  demikian  itu
merupakan   haknya,  dan  wasiat  atau  pesannya  itu  wajib
dilaksanakan selama bukan berisi maksiat.
 
BATAS HAK NEGARA MENGENAI PENGAMBILAN ORGAN TUBUH
 
Apabila kita memperbolehkan ahli waris dan para  wali  untuk
mendonorkan  sebagian organ tubuh si mayit untuk kepentingan
dan pengobatan orang yang masih hidup, maka bolehkah  negara
membuat undang-undang yang memperbolehkan mengambil sebagian
organ tubuh orang mati yang  tidak  diketahui  identitasnya,
dan   tidak   diketahui   ahli   waris  dan  walinya,  untuk
dimanfaatkan guna menyelamatkan orang lain, yang  sakit  dan
yang terkena musibah?
 
Tidak   jauh   kemungkinannya,   bahwa   yang  demikian  itu
diperbolehkan dalam batas-batas darurat, atau  karena  suatu
kebutuhan yang tergolong dalam kategori darurat, berdasarkan
dugaan kuat bahwa si mayit tidak mempunyai wali. Apabila dia
mempunyai wali, maka wajib meminta izin kepadanya. Disamping
itu, juga tidak didapati  indikasi  bahwa  sewaktu  hidupnya
dulu   si   mayit   berwasiat   agar  organ  tubuhnya  tidak
didonorkan.
 
MENCANGKOKKAN ORGAN TUBUH ORANG KAFIR KEPADA ORANG MUSLIM
 
Adapun mencangkokkan  organ  tubuh  orang  nonmuslim  kepada
orang  muslim  tidak  terlarang,  karena organ tubuh manusia
tidak diidentifikasi sebagai  Islam  atau  kafir,  ia  hanya
merupakan  alat  bagi  manusia  yang  dipergunakannya sesuai
dengan akidah dan pandangan hidupnya.  Apabila  suatu  organ
tubuh dipindahkan dari orang kafir kepada orang muslim, maka
ia menjadi bagian dari wujud si muslim itu dan menjadi  alat
baginya  untuk  menjalankan  misi hidupnya, sebagaimana yang
diperintahkan Allah Ta'ala. Hal ini sama dengan orang muslim
yang  mengambil  senjata  orang  kafir  dan mempergunakannya
untuk berperang fi sabilillah.
 
Bahkan kami katakan bahwa organ-organ di dalam  tubuh  orang
kafir  itu adalah muslim (tunduk dan menyerah kepada Allah),
selalu bertasbih  dan  bersujud  kepada  Allah  SWT,  sesuai
dengan  pemahaman yang ditangkap dari Al-Qur'an bahwa segala
sesuatu  yang  ada  di  langit  dan  di  bumi  itu  bersujud
menyucikan Allah Ta'ala, hanya saja kita tidak mengerti cara
mereka bertasbih.
 
Kalau begitu, maka yang benar adalah  bahwa  kekafiran  atau
keislaman   seseorang   tidak   berpengaruh  terhadap  organ
tubuhnya termasuk terhadap hatinya (organnya) sendiri,  yang
oleh  Al-Qur'an  ada  yang diklasifikasikan sehat dan sakit,
iman dan ragu, mati dan hidup. Padahal yang dimaksud  disini
bukanlah  organ  yang  dapat diraba (ditangkap dengan indra)
yang  termasuk  bidang  garap  dokter  spesialis  dan   ahli
anatomi,  sebab  yang demikian itu tidak berbeda antara yang
beriman dan yang kafir, serta  antara  yang  taat  dan  yang
bermaksiat.  Tetapi  yang  dimaksud  dengannya  adalah makna
ruhiyahnya yang dengannyalah manusia merasa,  berpikir,  dan
memahami sesuatu, sebagaimana firman Allah:
 
     "... lalu mereka mempunysi hati yang dengan itu
     mereka dapat memahami ..." (al-Hajj: 46)
     
     "... mereka mempunyai hati, tetapi tidak
     dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)
     ..." (al-A'raf: 179)
 
Dan firman Allah:
 
     "... sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis
     ..." (at-Taubah: 28)
 
Kata najis dalam ayat tersebut  bukanlah  dimaksudkan  untuk
najis indrawi yang berhubungan dengan badan, melainkan najis
maknawi yang berhubungan dengan hati dan akal (pikiran).
 
Karena itu tidak terdapat larangan syara' bagi orang  muslim
untuk memanfaatkan organ tubuh orang nonmuslim.
 
PENCANGKOKAN ORGAN BINATANG YANG NAJIS KE TUBUH ORANG MUSLIM
 
Adapun  pencangkokan  organ  binatang  yang  dihukumi  najis
seperti babi misalnya, ke dalam  tubuh  orang  muslim,  maka
pada  dasarnya  hal  itu tidak perlu dilakukan kecuali dalam
kondisi  darurat.  Sedangkan  darurat   itu   bermacam-macam
kondisi  dan  hukumnya  dengan  harus  mematuhi kaidah bahwa
"segala sesuatu yang diperbolehkan karena darurat itu  harus
diukur  menurut  kadar  kedaruratannya,"  dan pemanfaatannya
harus melalui ketetapan dokter-dokter muslim yang tepercaya.
 
Mungkin  juga  ada  yang  mengatakan   disini   bahwa   yang
diharamkan dari babi hanyalah memakan dagingnya, sebagaimana
disebutkan   Al-Qur'an   dalam   empat    ayat,    sedangkan
mencangkokkan sebagian organnya ke dalam tubuh manusia bukan
berarti memakannya, melainkan hanya memanfaatkannya.  Selain
itu,  Nabi saw. memperbolehkan memanfaatkan sebagian bangkai
--yaitu   kulitnya--   padahal   bangkai   itu    diharamkan
bersama-sama dengan pengharaman daging babi dalam Al-Qur'an.
Maka apabila syara' memperkenankan memanfaatkan bangkai asal
tidak    dimakan,    maka   arah   pembicaraan   ini   ialah
diperbolehkannya memanfaatkan babi asalkan tidak dimakan.
 
Diriwayatkan dalam kitab sahih bahwa Rasulullah saw.  pernah
melewati  bangkai seekor kambing, lalu para sahabat berkata,
"Sesungguhnya  itu  bangkai  kambing   milik   bekas   budak
Maimunah." Lalu beliau bersabda:
 
     "Mengapa tidak kamu ambil kulitnya lalu kamu
     samak, lantas kamu manfaatkan?" Mereka menjawab,
     "Sesungguhnya itu adalah bangkai." Beliau
     bersabda, "Sesungguhnya yang diharamkan itu
     hanyalah memakannya."2
 
Permasalahannya sekarang, sesungguhnya babi itu najis,  maka
bagaimana akan diperbolehkan memasukkan benda najis ke dalam
tubuh orang muslim?
 
Dalam hal ini saya akan menjawab: bahwa yang dilarang syara'
ialah  mengenakan benda najis dari tubuh bagian luar, adapun
yang  didalam  tubuh  maka   tidak   terdapat   dalil   yang
melarangnya.  Sebab  bagian  dalam  tubuh manusia itu justru
merupakan tempat benda-benda najis, seperti darah,  kencing,
tinja,  dan  semua  kotoran;  dan  manusia  tetap  melakukan
shalat, membaca Al-Qur'an, thawaf di Baitul Haram,  meskipun
benda-benda  najis  itu  ada  di  dalam  perutnya  dan tidak
membatalkannya sedikit pun, sebab tidak ada hubungan  antara
hukum najis dengan apa yang ada didalam tubuh.
 
TIDAK BOLEH MENDONORKAN BUAH PELIR
 
Akhirnya  pembahasan ini merembet kepada pembicaraan seputar
masalah pencangkokan buah pelir seseorang kepada orang lain.
Apakah  hal itu diperbolehkan, dengan mengqiyaskannya kepada
organ tubuh yang lain? Ataukah khusus untuk buah  pelir  ini
tidak  diperkenankan  memindahkannya  dari  seseorang kepada
orang lain?
 
Menurut  pendapat  saya,  memindahkan   buah   pelir   tidak
diperbolehkan.  Para  ahli telah menetapkan bahwa buah pelir
merupakan perbendaharaan yang  memindahkan  karakter  khusus
seseorang  kepada  keturunannya,  dan  pencangkokan pelir ke
dalam  tubuh  seseorang,  yakni   anak   keturunan   --lewat
reproduksi--   akan   mewariskan   sifat-sifat   orang  yang
mempunyai  buah  pelir  itu,  baik  warna  kulitnya,  postur
tubuhnya,  tingkat  inteligensinya,  atau  sifat  jasmaniah,
pemikiran, dan mental yang lain.
 
Hal ini dianggap semacam  percampuran  nasab  yang  dilarang
oleh  syara'  dengan jalan apa pun. Karena itu diharamkannya
perzinaan, adopsi dan pengakuan kepada  orang  lain  sebagai
bapaknya,   dan   lainnya,   yang   menyebabkan   terjadinya
percampuran keluarga atau kaum yang  tidak  termasuk  bagian
dari  mereka.  Maka  tidaklah  dapat  diterima pendapat yang
mengatakan bahwa buah pelir bila  dipindahkan  kepada  orang
lain  berarti telah menjadi bagian dari badan orang tersebut
dan mempunyai hukum seperti hukumnya dalam segala hal.
 
Demikian pula jika otak seseorang dapat  dipindahkan  kepada
orang  lain,  maka  hal itu tidak diperbolehkan, karena akan
menimbulkan percampuran dan kerusakan yang besar.
 
Wa billahit taufiq.
 
Catatan kaki:
1 HR Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Aisyah
  sebagaimana disebutkan dalam al-Jami' ash-Shaghir.
  Dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ummu Salamah
  dengan lafal: "Seperti memecahkan tulang orang
  yang hidup tentang dosanya."
2 Muttafaq 'alaih, sebagaimana disebutkan dalam
  al-Lu'lu' wal-Marjan, nomor 205.

Sumber: http://media.isnet.org

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: