BERTAMBAHNYA IMAN

Dasar agama adalah beriman kepada Allah SWT, yakin atas-Nya, dan yakin terhadap asma`, sifat, segala perbuatan, dan khazanah-Nya, janji dan ancaman-Nya. Semua amal dan segala macam ibadah dasarnya dan diterimanya dibangun di atas pondasi yang agung ini. Apabila iman ini lemah dan berkurang niscaya lemahlah amal perbuatan dan segala macam ibadah, lalu buruklah keadaan.

Agar iman datang di dalam kehidupan kita dan terus bertambah, harus diketahui beberapa perkara:

1, Kita mengetahui dan meyakini bahwa Sang Pencipta segala sesuatu adalah Allah SWT, nampak atau tersembunyi, kecil atau besar. Maka, yang menciptakan langit adalah Allah SWT. Yang menciptakan bumi adalah Allah SWT. Yang menciptakan arsy adalah Allah SWT. Yang menciptakan bintang-bintang dan planet-planet adalah Allah SWT. Yang menciptakan laut dan gunung-gunung adalah Allah SWT. Yang menciptakan manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda mati adalah Allah SWT. Dan yang menciptakan surga dan neraka adalah Allah SWT:


Allah SWT menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (QS. Az-Zumar :62)

Kita membicarakan hal tersebut, mendengarkannya, memikirkannya. Kita melihat pada ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat al-Qur`an dengan pandangan mengambil pelajaran dan berpikir, sehingga iman tertanam di dalam hati kita, dan Allah SWT telah memerintahkan kita dengan hal tersebut.

-Firman Allah SWT:


Katakanlah:”Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa’at tanda kekuasaan Allah SWT dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Yunus:101)

-Firman Allah SWT:


Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata :”Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?”. Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. (QS. At-Taubah:124)

2. Kita mengetahui dan meyakini bahwa Allah SWT menciptakan semua makhluk dan menciptakan pengaruhnya. Dia menciptakan mata dan menciptakan pengaruhnya, yaitu melihat. Menciptakan telinga dan menciptakan pengaruhnya, yaitu mendengar. Menciptakan lisan dan menciptakan pengaruhnya, yaitu berbicara. Menciptakan matahari dan menciptakan tandanya yaitu nur (cahaya, energi panas). Menciptakan api dan menciptakan tandanya, yaitu membakar. Dia SWT menciptakan pohon dan menciptakan tandanya, yaitu buah dan seterusnya.

3, Kita mengetahui dan meyakini bahwa yang memiliki semua makhluk, mendayagunakan padanya, dan mengaturnya adalah Allah SWT saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka, semua yang ada di langit dan di bumi dari segala makhluk, besar dan kecilnya, semuanya hamba dan faqir kepada Allah SWT. Tidak memiliki untuk diri mereka manfaat, tidak pula bahaya dan tidak pula pertolongan, tidak memiliki kematian, kehidupan, dan tidak memiliki kebangkitan. Allah SWT Yang memiliki mereka. Mereka membutuhkan-Nya, dan Dia Maha Kaya dari mereka. Allah SWT yang mengubah alam dan mengatur semua urusan makhluk-Nya. Maka, yang mengatur langit dan bumi, air dan laut, api dan angin, jiwa dan tumbuhan, planet dan benda-benda mati, para pemimpin dan menteri-menteri, orang-orang kaya dan orang-orang fakir, orang-orang kuat dan lemah, dan selain mereka adalah Allah SWT saja, tiada sekutu bagi-Nya.

Allah SWT mengatur dengan qudrat-Nya (kemampuan/kekuasaan-Nya), hikmah-Nya, dan ilmu-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki. Terkadang Dia menciptakan sesuatu dan mengambil pengaruhnya dengan kekuasaan-Nya. Terkadang Dia menciptakan mata dan tidak bisa melihat, menciptakan telinga tetapi tidak bisa mendengar, menciptakan lisan tetapi tidak bisa berbicara, menciptakan laut tetapi tidak menenggelamkan, menciptakan api tetapi tidak bisa membakar. Terkadang Allah SWT melakukan hal tersebut; karena Dia SWT yang mengatur perubahan makhluk bagaimana Dia menghendaki. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan. Dia Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Sebagian hati terpengaruh dengan sesuatu (hasil ciptaan) melebihi pengaruh dari Sang Pencipta sesuatu. Bergantung kepada sesuatu dan lupa Sang Pencipta sesuatu Yang Maha Suci. Yang wajib adalah dengan ilmu dan pengamatan terhadap makhluk ini agar kita mencapai kepada Penciptanya yang telah menciptakan dan membentuk rupanya. Kita hanya menyembah-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Firman Allah SWT:


Katakanlah:”Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka menjawab:”Allah SWT”. Maka katakanlah:”Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” Maka (Zat yang demikian) itulah Allah SWT. Rabb kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran) (QS. Yunus:31-32)

4, Kita mengetahui dan meyakini bahwa khazanah segala sesuatu hanya ada di sisi Allah SWT saja, tidak ada di sisi yang selain-Nya. Segala sesuatu yang ada, maka khazanahnya ada di sisi Allah SWT. Khazanah makanan dan minuman, biji-bijian dan buah-buahan, air dan angin, harta dan lautan, gunung dan yang lainnya, semuanya ada di sisi Allah SWT. Semua yang kita butuhkan, kita memohon dan memintanya kepada Allah SWT, serta memperbanyak ibadah dan taat. Dia SWT yang menunaikan hajat, mengabulkan segala doa. Dia SWT sebaik-baik yang diminta dan sebaik-baik yang memberi. Tidak ada yang bisa menghalangi bagi apa yang Dia berikan dan tidak ada yang bisa memberi bagi apa yang Dia halangi.

1- Firman Allah SWT:


Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu. (QS. Al-Hijr:21)

2- Dan firman Allah SWT:

ٰ

Padahal kepunyaan Allah SWT-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. (QS. Al-Munafiqunn:7)

Kekuasaan Allah SWT:

Allah SWT mempunyai kekuasaan yang mutlak (absolut, tanpa batas), terkadang Dia memberi dan melimpahkan rizqi dengan berbagai sebab seperti Dia menjadikan air menjadi sebab adanya tumbuhan, dan seperti menjadikan jima’ dengan istri menjadi sebab adanya kelahiran. Kita berada di alam sebab, maka kita mengambil sebab-sebab yang disyari’atkan dan tidak bertawakkal kecuali hanya kepada Allah SWT.

Terkadang Dia memberi dan melimpahkan rizqi tanpa adanya sebab. Dia berfirman ‘Jadilah’ maka terjadilah, sebagaimana Dia memberi rizqi makanan kepada Maryam tanpa ada pohon dan memberi anak kepadanya tanpa suami.

Terkadang Dia SWT menggunakan kekuasaan-Nya menjadikan kebalikan sebab, sebagaimana Dia menjadikan api menjadi dingin dan menjadi keselamatan atas Ibrahim a.s, dan sebagaimana Dia menyelamatkan Musa a.s dan menenggelamkan Fir’aun dan pengikutnya di laut Merah, dan sebagaimana Dia SWT menyelamatkan Yunus a.s di dalam kegelapan perut ikan (paus) dan kegelapan laut.

Firman Allah SWT:


Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:”Jadilah!” maka terjadilah ia. (QS. 36:82)

Ini yang berkaitan bagi segala makhluk, adapun yang berkaitan dengan kondisi:

1, Kita mengetahui dan meyakini bahwa pencipta segala keadaan hanya Allah SWT saja dari kaya dan miskin, sehat dan sakit, bahagia dan duka cita, tertawa dan menangis, mulia dan hina, hidup dan mati, aman dan takut, dingin dan panas, petunjuk dan sesat, bahagia dan celaka … maka ini dan keadaan-keadaan lainnya adalah diciptakan oleh Allah SWT.

2, Kita mengetahui dan meyakini bahwasanya yang mengatur perkara dan memalingkan semua kondisi ini adalah Allah SWT saja. Tidak berganti fakir menjadi kaya kecuali dengan perintah Allah SWT. Sakit tidak bisa berganti sehat kecuali dengan perintah Allah SWT. Kehinaan tidak bisa berganti kemuliaan kecuali dengan perintah Allah SWT. Tertawa tidak bisa berganti menjadi menangis kecuali dengan perintah Allah SWT. Yang masih hidup tidak bisa meninggal dunia kecuali dengan izin Allah SWT. Dingin tidak bisa berganti menjadi panas kecuali dengan adanya perintah Allah SWT. Sesat tidak berganti menjadi petunjuk kecuali dengan perintah Allah SWT, dan begitulah.

Semua keadaan datang dengan perintah Allah SWT, bertambah dengan perintah-Nya, berkurang dengan perintah-Nya, tetap dengan perintah-Nya, berubah dengan perintah-Nya. Kita harus memohon perubahan kondisi dari yang memiliki (menciptakan)nya dengan cara hanya mendekatkan diri kepada-Nya saja dengan apa yang Dia syari’atkan.


Katakanlah: “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di Tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 3:26)

3, Kita mengetahui dan meyakini bahwa semua khazanah (perbendaharaan) semua keadaan yang telah lalu dan yang lainnya hanya ada di sisi Allah SWT, tidak ada sekutu bagi-Nya. Jika Allah SWT memberi kesehatan atau kekayaan atau yang lainnya kepada semua manusia niscaya tidak mengurangi apa yang ada dalam khazanah-Nya SWT kecuali seperti menguranginya jarum jahit bila dimasukkan ke dalam laut. Tidak ada Ilah kecuali Dia Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Dari Abu Dzar r.a, dari Nabi SAW yang beliau riwayatkan dari Allah SWT, Dia SWT berfirman (dalam hadits qudsi): “Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan sifat aniaya atas diri-Ku dan Aku jadikan hal itu diharamkan di antaramu, maka janganlah saling berbuat aniaya. Hai hamba-Ku, kamu semua tersesat kecuali orang yang Ku-beri petunjuk, mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku memberi petunjuk kepadamu.

Hai hamba-Ku, kamu semua kelaparan kecuali orang yang Ku-beri makan, mintalah makan kepada-Ku, niscaya aku memberi makan kepadamu.

Hai hamba-Ku, kamu semua bertelanjang kecuali orang yang Ku-beri pakaian, mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku memberi pakaian kepadamu.

Hai hamba-Ku, sesungguhnya kamu semua melakukan kesalahan malam dan siang hari, dan Aku mengampuni semua dosa, mintalah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu.

Hai hamba-Ku, sesungguhnya kamu tidak bisa mencelakakan Aku lalu mencelakakan Aku, dan tidak akan pernah bisa memberi manfaat kepada-Ku lalu memberi manfaat kepada-Ku.

Hai hamba-Ku, jikalau generasi pertama dan terakhir kamu, bangsa jin dan manusia, mereka semua seperti orang yang paling taqwa dari kamu, niscaya hal itu tidak bisa menambah sedikitpun dalam kerajaan-Ku.

Hai hamba-Ku, jikalau generasi pertama dan terakhir kamu, bangsa jin dan manusia, mereka semua seperti orang yang paling fasik dari kamu, niscaya hal itu tidak bisa mengurangi sedikitpun dari kerajaan-Ku.

Hai hamba-Ku, jikalau generasi pertama dan terakhir kamu, bangsa jin dan manusia kamu, mereka berdiri di satu tempat, mereka memohon kepada-Ku, lalu Aku memberi kepada setiap manusia sesuai permintaan-Nya, niscaya hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari apa yang ada di sisi-Ku kecuali sebagaimana sebatang jarum bila dimasukkan ke laut.

Hai hamba-Ku, ia hanyalah amal perbuatanmu yang Ku-hitung, kemudian Ku-sempurnakan kepadamu. Barangsiapa menemukan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah SWT, dan barangsiapa yang mendapatkan selain hal itu, maka janganlah ia mencela selain kepada dirinya sendiri. HR.Muslim. (HR. Muslim no. 2577)

Yang beriman kepada Allah SWT, dan menjunjung segala perintah Allah SWT menurut petunjuk Rasulullah SAW, maka Allah SWT ridha kepadanya, memberikan kepadanya dari khazanah-Nya kaya atau fakir, memperkuat dan menolongnya, memasukkannya ke dalam surga, menjaganya, dan memuliakannya dengan iman, sama saja ia memiliki sebab-sebab kemuliaan seperti Abu Bakar r.a, Umar r.a, dan Utsman r.a, atau tidak memiliki sebab-sebab kemuliaan seperti Bilal r.a, ‘Ammar r.a, dan Salman r.a, serta selain mereka.

Dan siapa yang tidak beriman kepada Allah SWT, jika dia mempunyai sebab-sebab kemuliaan dari kerajaan dan harta niscaya Allah SWT menistakannya dengannya (harta dan kerajaan), seperti Allah SWT menistakan Fir’aun, Qarun, Haman dan selain mereka.

Dan jika dia mempunyai sebab-sebab kenistaan niscaya Allah SWT menistakannya dengannya seperti kaum musyrik yang fakir.

Allah SWT menciptakan manusia untuk beriman dan beramal shaleh, hanya menyembah Rabb-nya saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Dia tidak menciptakan untuk memperbanyak harta, segala sesuatu dan syahwat. Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan semua ini hingga meninggalkan ibadah kepada Rabb-nya niscaya Allah SWT menguasakannya atasnya dan menjadikannya penyebab celaka dan binasa serta meruginya di dunia dan akhirat.

Firman Allah SWT:


Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah SWT menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS. 9:55)

Sebab-sebab keberuntungan dan kesuksesan:

Allah SWT telah memberikan kepada setiap manusia sebab-sebab keberuntungan dan kesuksesan, tidak ada bedanya apakah dia seorang yang kaya atau miskin, dan (Dia SWT juga memberikan) sebab-sebab yang tidak mengandung keberuntungan dan kesuksesan seperti harta dan pangkat, Allah SWT memberikan darinya kepada sebagian manusia dan tidak memberikan kepada yang lain. Iman dan amal shaleh adalah penyebab satu-satunya untuk mencapai keberuntungan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Ia merupakan hak yang dianugerahkan kepada setiap orang. Demikian pula tempat iman, ia adalah hati yang dimiliki setiap orang, dan tempat amal-amal shaleh, ia adalah anggota-anggota tubuh yang dimiliki setiap orang. Maka, barang siapa yang di hatinya ada iman dan muncul dari anggota-anggota tubuhnya amal-amal shaleh niscaya ia beruntung di dunia dan akhirat, dan yang selainnya termasuk orang-orang yang rugi.

1, Keberuntungan di dunia dan akhirat hanya bisa diperoleh dengan iman dan amal shaleh. Nilai manusia di sisi Allah SWT hanya sekadar iman yang ada padanya dan amal-amal shaleh yang dilaksanakannya, bukan dengan apa-apa yang dimilikinya yaitu harta, benda, dan pangkat.

Satu kaum meyakini bahwa keberuntungan dan kesuksesan ada pada kerajaan dan negara seperti Namrud dan Fir’aun. Kaum yang lain meyakini bahwa hal itu ada pada kekuatan seperti kaum ‘Aad. Dan kaum yang lain meyakini bahwa keberuntungan ada di perdagangan seperti kaum Syu’aib. Kaum yang lain meyakini bahwa kesuksesan ada di pertanian seperti kaum Saba`. Yang lain meyakini bahwa kesuksesan ada pada perindustrian seperti kaum Tsamud. Dan yang lain meyakini bahwa kebahagiaan ada pada harta seperti Qarun.

Allah SWT telah mengutus para nabi dan rasul –‘alaihimush shalatuh was salaam– kepada kaum-kaum tersebut, mengajak mereka kepada menyembah Allah SWT saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, menjelaskan bagi mereka bahwa keberuntungan dan kesuksesan tidak terdapat dalam segala perkara ini, kecuali dengan beriman dan beramal shaleh.

1, Firman Allah SWT:


Dan barangsiapa yang taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah SWT dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. An-Nuur:52)

2, Firman Allah SWT:


(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Baqarah: 3-5)

2, Tatkala kaum-kaum tersebut mendustakan para rasul dan tetap di atas kekufuran, serta terperdaya dengan apa-apa yang mereka miliki, Allah SWT menghancurkan mereka dan menyelamatkan para Nabi SAW dan rasul-Nya serta para pengikut mereka, dan menolong mereka atas musuh-musuh mereka.

1- Firman Allah SWT:


Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah SWT sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Al-‘Ankabuut:40)

2, Firman Allah SWT:


Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka, (QS. Hud: 66-67)

Tingkatan orang-orang beriman:

1, Iman makhluk ada beberapa tingkatan:

1, Iman para malaikat bersifat tetap, tidak bertambah dan tidak berkurang. Mereka tidak pernah durhaka kepada Allah SWT terhadap apa yang Dia SWT perintahkan kepada mereka dan selalu melakukan apa yang diperintahkan, dan mereka ada beberapa tingkatan.

2, Iman para Nabi SAW dan rasul –‘alaihimush shalatuh was salaam– selalu bertambah dan tidak berkurang karena sempurnanya ma’rifah mereka kepada Allah SWT, dan mereka terdiri dari beberapa tingkatan.

3, Iman seluruh kaum muslimin, bertambah dengan taat dan berkurang dengan maksiat, dan mereka terdiri dari beberapa tingkatan dalam iman. Dan iman ada beberapa tingkatan:

Permulaan tingkatan iman adalah menjadikan seorang muslim menunaikan ibadah kepada Allah SWT, menikmati dan menjaganya. Dan untuk membina hubungan baik terhadap orang yang lebih tinggi derajatnya atau yang sederajat dengannya, ia membutuhkan keimanan yang lebih kuat yang menghalanginya dari berbuat zalim kepada dirinya sendiri dan orang lain. Dan untuk membina hubungan baik terhadap orang yang di bawahnya seperti pemimpin kepada rakyatnya dan laki-laki kepada keluarganya, dia membutuhkan iman yang lebih kuat yang menghalangi berbuat zalim kepada orang yang dibawahnya. Setiap kali iman bertambah niscaya keyakinan bertambah dan bertambah pula amal shaleh. Jadilah seorang hamba menunaikan hak Allah SWT dan hak hamba-hamba-Nya. Dia berakhlak baik bersama Yang Maha Pencipta (Allah SWT) dan bersama yang diciptakan (semua makhluk). Ini adalah kedudukan tertinggi di dunia dan akhirat.

2, Setiap hamba terus berjalan, tidak berhenti. Bisa ke atas, bisa pula ke bawah, bisa ke depan dan bisa pula ke belakang. Dalam tabiat dan syari’at tidak ada yang berhenti sama sekali. Maka bagi setiap hamba, ini merupakan tahapan yang dilintasi dengan cepat menuju ke surga atau neraka. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Ada yang berada di depan dan ada yang di belakang. Dan sama sekali tidak ada yang berhenti di tengah jalan. Tetapi mereka berbeda pada arah jalanan, dan pada kecepatan dan lambat. Barang siapa yang tidak bergerak maju ke surga dengan iman dan amal shaleh, maka dia pasti bergerak mundur ke belakang ke neraka dengan kufur dan amal-amal jahat. Firman Allah SWT:


sebagai ancaman bagi manusia. (yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. (QS. 74:36-37)

3, Orang-orang beriman saling berbeda padanya dengan perbedaan besar. Iman para nabi dan rasul bukan seperti iman selain mereka. Iman para sahabat bukan seperti iman selain mereka. Iman orang-orang beriman yang shaleh tidak seperti iman orang-orang fasik. Perbedaan ini menurut apa yang ada di dalam hati yaitu pengetahuan terhadap Allah SWT, asma`, sifat, perbuatan-Nya, dan apa yang Dia syari’atkan kepada hamba-hamba-Nya, takut dan taqwa kepada Allah SWT. Dan perbedaan nuur (cahaya) laa ilaaha illAllah SWT (tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah SWT) di hati para pemiliknya, tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah SWT.

4, Makhluk yang paling mengenal Allah SWT adalah yang paling cinta kepada-Nya. Karena inilah para rasul adalah yang paling besar cintanya kepada Allah SWT dan paling mengagungkan-Nya. Mencintai Allah SWT, zat, ihsan, keindahan, dan kebesaran-Nya adalah dasar ibadah. Setiap kali cinta bertambah kuat, niscaya taat lebih sempurna, pengagungan kepada-Nya lebih besar dan kesenangan dan dekat kepada Allah SWT lebih sempurna.

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: