Benarkah Salafiyah Adalah Fase Waktu ?

Kategori Mabhats

Senin, 28 Agustus 2006 06:52:43 WIB

BENARKAH SALAFIYAH ADALAH FASE WAKTU ?

Oleh
Syaikh DR Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Dr Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi dalam bukunya “As-Salafiyah Marhalatun Zamaniyyatun Mubarokah Laa Mazhabun Islaamiyun” berkata di halaman 23 ;

“Sesungguhnya Salafiyah tidak lain adalah bagian dari fase waktu, yang setidaknya hal ini telah diberi sifat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kebaikan, sebagaimana disifatinya setiap fase tertentu yang akan datang setelahnya labih baik dari yang datang kemudian, dan jika yang dimaksud adalah jama’ah Islam yang memiliki manhaj tertentu dan spesifik, maka ia tergolong bid’ah”.

Jawaban
Interpretasi penulis, bahwasanya Salafiyah adalah bagian dari fase tertentu dan juga bukan kelompok penafsir adalah termasuk penafsiran yang janggal dan bathil

Terlebih lagi, apakah setiap fase waktu tertentu selalu dikatakan sebagai Salafiyah? Tentunya, tidak seorang pun mengatakan demikian, karena tidak lain Salafiyah itu digunakan sebagai istilah bagi kelompok yang beriman, hidup pada masa periode awal dari periode-periode Islam, komitmen dengan Kitabullah dan Sunnah RasulNya, dari kelompok Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang setia mengikuti mereka dengan baik, sebagaimana disifati (dijelaskan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataannya.

“Artinya : Sebaik-baiknya zaman bagi kalian adalah zaman ku ini, kemudian selanjutnya zaman yang mengikuti mereka, kemudian selanjutnya lagi zaman yang mengikuti mereka….”

Hal tersebut tidak lain adalah kriteria bagi kelompok ini, dan bukan sifat bagi fase waktunya, dan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan akan terjadi perpecahan di tubuh umat ini setelahnya, Ia kemudian bersabda tentang semua golongan tersebut :

“Artinya : Sesungguhnya semua golongan itu ada di neraka kecuali satu saja”

Dan menjelaskannya, bahwa yang satu ini adalah golongan yang mengikuti manhaj Salaf dan berjalan di atasnya, sebagaimana sabdanya.

“Mereka adalah orang-orang yang berada di atas sesuatu yang aku dan para sahabatku berada diatasnya”.

Hal ini menunjukan adanya golongan Salafiyah terdahulu, dan ada juga golongan yang kemudian setia mengikuti manhajnya, sebagaimana ada golongan yang menyalahinya dan diancam dengan neraka, Hal itu tidak lain karena golongan tersebut sesat dan menyalahi golongan yang selamat.

Dan bukan seperti dinyatakan penulis (Dr Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi) pada halaman 20 dan 21.

“Dan dari hak pemilik dua pendapat atau lebih dalam masalah-masalah ijtihad nampak lebih tenang jika apa yang dipeganginya itu adalah pada posisi benar dan bukanlah haknya untuk memastikan bahwa orang-orang yang menyalahi pendapatnya adalah sesat, telah keluar dari koridor petunjuk”.

Kita katakan kepada penulis : “Tidaklah secara mutlak demikian, karena hal ini hanya dalam masalah furu’iyah di mana ia adalah tempat untuk ijtihad, sedangkan masalah aqidah tidak ada tempat untuk ijtihad, karena koridornya adalah taufiqi (berhenti pada nash saja). Dan siapa saja yang menyalahinya dalam masalah tersebut ia dinyatakan sesat dan kafir tergantung dengan tingkat penentangannya, sebagaimana golongan Salaf telah menyatakan sesat golongan Qadariah, Khawarij dan Jahmiyah, bahkan menghukumi sebagian dari mereka dengan kafir karena mereka menyalahi manhaj salaf

SALAFIYAH ADALAH FASE MASA TERTENTU YANG DIBERKAHI DAN IA BUKAN MADZHAB ISLAM

Pernyataan Dr Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi dalam judul “Salafiyah adalah fase masa tertentu yang diberkahi dan ia bukan madzhab Islam’.

Jawaban
Judul ini menandakan, bahwa salaf tidak memiliki madzhab yang membuat mereka dikenal dengan itu, dan dalam pandangan Dr Buthi, kaum salaf seolah-olah orang awam yang hidup pada masa tertentu tanpa madzhab apapun.

Pada dasarnya upaya pemisahan para ulama antara madzhab salaf dan madzhab khalaf adalah salah, dan jika demikian, maka tidak ada artinya perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Berpeganglah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku”

Sebagaimana tidak bermaknanya perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya siapakah kelompok yang selamat ? Rasul menjawab.

“Artinya : Mereka adalah orang-orang yang berada di atas sesuatu (manhaj) yang aku dan para sahabatku berada diatasnya”

Semua itu jadi tidak bermakna sedikitpun, karena salaf tidak memiliki madzhab.

Dapat dipastikan, bahwa yang dimaksud penulis adalah kritikan terhadap orang-orang yang berpegang teguh dengan madzhab salaf yang menolak kelompok bid’ah dan ahli khurafat.

[Disalin dari buku Salafi Digugat Salafi Menjawab, DR Shalih bin Fauzan Al-Fauzan dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Penerjemah M. Tasdiq, Lc, Rudy Hartono Lc, Penerbit Pustaka As-Sunnah]

Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1928/slash/0

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: