Beberapa hadits dha’if dalam Riyadus Shalihin – Bab250

Bab 250. Tentang Doa-doa 

 

 

48/1495. Imran bin Al Hushain RA berkata,

 

 أنَّ النبيّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَّمَ أبَاهُ حُصَيْناً كَلِمَتَيْنِ يَدْعُو بهما : (( اللَّهُمَّ ألْهِمْني رُشْدِي ، وأعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسي )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن ))

 

“Nabi SAW mengajarkan bapaknya Al Hushain dua kalimat untuk berdoa dengannya, ‘Allahumma alhimni rusydi wa aidzni min syarri nafsi'”. (Ya Allah, ilhamkan kepadaku hidayahku dan lindungilah dari kejahatan diriku). (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).

 

Keterangan:

 

Sanad hadits tersebut dha’if, bahkan At-Tirmidzi sendiri mendha’ifkannya hadits tersebut pada kesempatan lainnya, dengan mengatakan, Hadits gharib, yaitu dha ‘if karena ada perawi yang bernama Syabib bin Syaibah, orang yang jujur tapi banyak kebimbangan pada dirinya (wahm) dalam periwayatan suatu hadits, begitu ada perawi lainnya pada hadits tersebut (yaitu Al Hasan), ia melakukan tadlis (hadits yang disembunyikan cacat sanadnya, sehingga seakan-akan tidak ada aib di dalamnya. -Peny.) Ia juga meriwayatkan hadits tersebut dengan mu’an’an (hadits yang disanadkan dengan kata ‘an Namun ada riwayat hadits dengan jalur lain yang sanadnya shahih menurut syarat Bukhari-Muslim, yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Nabi SAW mengajarkan doa:

 

Ya Allah, jauhkan kejahatan pada diriku dan tetapkan bagiku segala kebenaran untuk urusanku”. (HR. Imam Ahmad)

 

Begitu pula hadits dengan jalur lain yang sanadnya Jayyid, Nabi SAW mengajarkan doa:

 

“Ya Allah, ampunilah aku akan dosaku, kesalahanku, dan perbuatanku yang disengaja. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon petunjuk-Mu, agar segala kebenaran ada pada urusanku, dan aku mohon perlindungan-Mu dari segala kejahatan yang ada pada diriku”. (HR. Imam Ahmad).

 

Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 690, Dha’if Al Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 4098, Al Misykah hadits no. 2476, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1487, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1487.

 

49/1498. Abu Darda’ RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

 

 كَانَ مِنْ دُعاءِ دَاوُدَ : اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ حُبَّكَ ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ ، وَالعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أحَبَّ إلَيَّ مِنْ نَفْسِي ، وأهْلِي ، وَمِنَ الماءِ البارِدِ )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن ))

 

“‘Diantara doa nabi Daud AS adalah, ‘Allahumma ini asaluka hubbaka, wahubba man yuhibbuka, wa ‘amal al-ladu yuballighuni hubbaka. Allahumaj’al hubbaka ahabba ilayya min nafsi wa ahli wa minal ma il baridi.(Ya Allah, aku mohon kepada-Mu untuk dapat mencintai-Mu,, dan cinta pada siapa yang cinta pada-Mu, dan amal perbuatan yang dapat menyampaikan agar aku mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cintaku pada diriku sendiri dan keluargaku, dan pada air yang dingin (simbol kecintaan duniawi, -peny)’.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan”).

 

Keterangan:

 

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi yang bernama Abdullah bin Rabi’ah bin Yazid, orang yang tidak diketahui identitasnya (majhul), sebagaimana ditegaskan oleh Ai Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani di dalam At-Taqrib.

 

Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 691, Dha’if Al Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 4153, Bahjatun-Nazhirin hadits no 1490, dan Takhrij Riyadhus-shalihin hadits no.1490.

 

50/1500. Abu Umamah RA berkata,

 

 دعا رسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – ، بدُعاءٍ كَثيرٍ ، لَمْ نَحْفَظْ مِنْهُ شَيْئاً ؛ قُلْنَا : يَا رسول الله ، دَعَوْتَ بِدُعاءٍ كَثِيرٍ لَمْ نَحْفَظْ مِنْهُ شَيْئاً ، فَقَالَ : (( ألا أدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَجْمَعُ ذَلِكَ كُلَّهُ ؟ تقول : اللَّهُمَّ إنِّي أسَألُكَ مِنْ خَيْر مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ محمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم – ؛ وأعوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا استَعَاذَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ – صلى الله عليه وسلم -، وأنتَ المُسْتَعانُ ، وَعَليْكَ البَلاَغُ ، وَلاَ حَولَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ باللهِ )) . رواه الترمذي ، وقال : (( حديث حسن ))

 

“Rasulullah SAW berdoa dengan doa yang banyak, sehingga kami tidak dapat menghafalnya, maka kami berkata, ‘Ya Rasulullah, engkau berdoa dengan doa yang sangat banyak, sehingga kami tidak dapat kami menghafal sedikitpun’. Lalu Nabi SAW bersabda, ‘Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu doa yang dapat menghimpun (mencakup) semua itu? yaitu membaca: Allahumma inni as aluka min khari maa saalaka minhti nabiyyuka Muhammad Saw wa audzu bika min syarri mas ta’adzaka minhu nabiyyuka Muhammad SAW wa antal musta’an wa’alaikal balaghu walaa haula walaa guwwata illaa billaah. (Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh Nabi Muhammad SAW dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang Nabi Muhammad SAW minta perlindungan-Mu daripadanya. Engkaulah tempat meminta pertolongan dan Engkau pula yang menyampaikan. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah)” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, “‘Hadits ini hasan’).

 

Keterangan:

 

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada seorang perawi bernama Laits bin Abu Salim, orang yang hafalannya buruk dan sering melakukan tadlis (hadits yang disembunyikan kecacatan sanadnya, sehingga seakan-akan tidak ada aib di dalamnya. -peny).

 

Namun ada riwayat hadits lain yang shahih, yaitu riwayat Ibnu Majah dan Imam Ahmad dari Aisyah RA, Nabi SAW mengajarkan doa:

 

Ya Allah aku mohon kepada-Mu dari semua kebaikan yang segera maupun yang tertunda, dari yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dari kebaikan yang diminta oleh hamba-Mu dan Nabi-Mu. Aku juga berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang Hamba-Mu dan Nabi-Mu minta perlindungan-Mu daripadanya. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu untuk masuk surga dan dari apa-apa yang dapat mendekatkannya, baik dari suatu ucapan maupun perbuatan. Aku berlindung kepada-Mu dari api neraka dan apa-apa yang mendekatkannya, baik dari suatu ucapan maupun perbuatan. Aku juga mohon kepada-Mu agar Engkau jadikan setiap ketetapan yang telah Engkau tetapkan itu baik untukku.’ (HR. oleh Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

 

Riwayat hadits tersebut shahih, sebagaimana terdapat di dalam Silsilah Al Ahadits Ash-Shahihah hadits no. 1542 dan Shahih Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 1276.

 

Lihat Dha’if Sunan At-Tirmidzi hadits no. 703, Silsilah Al Ahadits Adh-Dha’ifah hadits no. 3356. Dha’if Al Jami’ Ash-Shaghir hadits no. 2165, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1492, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1492.

 

51/1501. Ibnu Mas’ud berkata,

 

 كَانَ من دعاءِ رسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم – : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، والسَّلامَةَ مِنْ كُلِّ إثْمٍ، والغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ ، والفَوْزَ بالجَنَّةِ ، والنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ )) . رواه الحاكم أَبُو عبد الله ، وقال : (( حديث صحيح عَلَى شرط مسلمٍ ))

 

 Diantara doa Rasulullah SAW adalah: ‘Allahumma inni as-aluka mujibati rahmatika wa aza-ima maghfiratika wassalaamata min kulli itsmin wal ghaniimata min kulli birrin walfauza biljannati wan-najaata minannaari. (Ya Allah, aku mohon kepada-Mu yang dapat mendatangkan rahmat-Mu, dan yang menentukan untuk mendapat ampunan-Mu, dan keselamatan dari semua dosa dan mencapai segala kebaikan, dan mendapat surga serta selamat dari api neraka)’.” (HR. Al Hakim, ia berkata, “Hadits shahih menurut syarat Muslim”).

 

Keterangan:

 

Sanad hadits tersebut dha’if, karena ada perawi yang bernama Humaid bin Al A’raj, sebagaimana dikatakan oleh Adz-Dzahabi (di dalam kitab AI Mizan) “Dia orang yang matruk (hadits yang diriwayatkan oleh orang yang dituduh berdusta dan hadits serupa tidak diriwayatkan oleh perawi lain yang terpercaya.-peny)”. Sedangkan Imam Ahmad berkata, “Dia orang yang dha’if”, Abu Zur’ah berkata, “Dia adalah orang yang lemah.” Ad-Daruquthni berkata, “Dia orang yang matruk”

 

Lihat Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah hadits no. 2908 Dha’if Al Jami’ hadits no. 1184, Bahjatun-Nazhirin hadits no. 1493, dan Takhrij Riyadhush-Shalihin hadits no. 1493.

 

 

 

Sumber: Hadits-hadits Dhaif Dalam Riyadus Shalihin – Muhammad Nashiruddin Al-Albani – Pustaka Azam (CHM file oleh : Yoga Buldozer)

Leave a Reply

%d bloggers like this: