Bab 233. Haji

 

Bab 233. Haji

 

 

Allah Ta’ala berfirman: “Allah mewajibkan atas semua manusia melakukan ibadah haji Baitullah, yaitu kepada orang yang kuasa mengadakan perjalanan ke situ. Barangsiapa yang kafir, maka sesungguhnya Allah itu Maha kaya -yakni tidak membutuhkan- dari alam semesta.” (Ali-Imran: 97)

 

1268. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Islam didirikan atas lima perkara, yaitu menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah dan berpuasa dalam bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

 

1269. Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya: “Rasulullah s.a.w. berkhutbah kepada kita lalu bersabda: “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan atasmu semua akan beribadah haji, maka kerjakanlah ibadah haji itu.” Kemudian ada seorang lelaki bertanya: “Apakah itu untuk setiap tahun, ya Rasulullah?” Beliau s.a.w. berdiam saja -yakni tidak menjawab pertanyaannya tadi- kemudian orang itu menanyakannya sampai tiga kali. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Jikalau saya menjawab: “Ya,” sesungguhnya beribadah haji akan menjadi wajib setiap setahun sekali, dan tentu engkau semua tidak akan kuasa mengerjakannya.” Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda: “Tinggalkanlah aku -yakni janganlah menanyakan padaku- apa-apa yang saya tinggalkan untukmu semua -yakni apa-apa yang tidak saya sebutkan-. Sesungguhnya yang menyebabkan rusaknya orang-orang yang sebelummu semua itu ialah karena mereka terlampau banyak bertanya dan senantiasa menyalahi pada Nabi-nabi mereka. Maka dari itu, apabila saya memerintahkan kepadamu semua dengan sesuatu perkara, lakukanlah itu sekuat tenaga yang ada padamu semua dan jikalau saya melarang engkau semua dari sesuatu perkara, maka tinggalkanlah itu.” (Riwayat Muslim)

 

1270. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. ditanya: “Amalan manakah yang lebih utama?” Beliau s.a.w. menjawab: “Beriman kepada Allah dan RasulNya.” Ditanya lagi: “Kemudian apakah?” Beliau s.a.w. menjawab: “Jihad fisabilillah.” Ditanya pula: “Kemudian apakah?” Beliau s.a.w. menjawab: “Haji yang mabrur.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Keterangan:

Mabrur artinya ialah orang yang mengerjakan haji itu tidak melakukan sesuatu kemaksiatan di dalamnya, dan amal ibadah setelah berhaji lebih baik daripada keadaannya sebelum berhaji.

 

1271. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa mengerjakan haji, lalu ia tidak berbuat kelalaian dan tidak pula mengerjakan dosa -yakni kemaksiatan besar atau yang kecil secara berulang kali-, maka ia akan kembali dari ibadah hajinya itu sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya -yakni tidak ada dosa dalam dirinya sama sekali-.” (Muttafaq ‘alaih)

 

1272. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Umrah ke umrah yang berikutnya adalah menjadi penutup dosa dalam waktu antara dua kali umrahan itu, sedang haji mabrur -lihat keterangannya dalam hadits 1270 diatas-, maka tidak ada balasan bagi yang melakukannya itu melainkan syurga.” (Muttafaq ‘alaih)

 

1273. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, kita mengetahui bahwa jihad adalah seutama-utama amalan. Maka dari itu, apakah kita -kaum wanita- tidak baik mengikuti jihad?” Beliau s.a.w. lalu menjawab: “Bagi engkau semua -kaum wanita-, maka sebaik-baiknya jihad ialah mengerjakan haji yang mabrur” -lihat hadits no.1270 diatas tentang arti mabrur-. (Riwayat Bukhari)

 

1274. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada suatu haripun yang di situ Allah lebih banyak memerdekakan hambaNya dari siksa api neraka daripada hari Arafah.” (Riwayat Muslim)

 

1275. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Mengerjakan umrah dalam bulan Ramadhan itu menyamai pahalanya dengan sekali haji atau sekali haji beserta saya.” (Muttafaq ‘alaih)

 

1276. Dari Ibnu Abbas r.a. pula bahwasanya ada seorang wanita berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya kewajiban dari Allah atas sekalian hamba-hambaNya yang berhubungan dengan ibadah haji itu telah menemui ayahku dan beliau sudah menjadi seorang tua yang lanjut usianya, juga tidak dapat menetap untuk duduk dalam kendaraan -maksudnya tidak kuat mengadakan perjalanan-. Maka apakah boleh saya mengerjakan haji untuknya -yakni saya yang beribadah haji, sedang pahalanya ayah yang mendapatkan-.” Beliau s.a.w. menjawab: “Ya, boleh.” (Muttafaq ‘alaih)

 

1277. Dari Laqith bin ‘Amir r.a. bahwasanya ia mendatangi Nabi s.a.w., lalu berkata: “Sesungguhnya ayahku itu seorang yang sudah tua lagi lanjut usianya. Ia tidak dapat mengerjakan haji dan tidak dapat melakukan umrah serta tidak kuasa berpergian, bagaimanakah itu?” Beliau s.a.w. bersabda: “Beribadah hajilah untuk ayahmu itu serta berumrah pulalah!” Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

 

1278. Dari as-Saib bin Yazid r.a., katanya: “Saya diikutkan untuk beribadah haji beserta Rasulullah s.a.w. dalam haji wada’ -haji Nabi s.a.w. yang terakhir sebagai mohon diri- dan saya di waktu itu berusia tujuh tahun.” (Riwayat Bukhari)

 

1279. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w. bertemu sekelompok para penaik kendaraan di Rawha’, lalu beliau s.a.w. bertanya: “Siapakah kaum -yakni orang-orang- ini?” Mereka menjawab: “Kita kaum Muslimin.” Mereka bertanya: “Siapakah Anda?” Beliau s.a.w. menjawab: “Saya Rasulullah.” Kemudian ada seorang wanita yang mengangkat seorang anak bayi lalu bertanya: “Apakah anak ini boleh beribadah haji -maksudnya: Kalau beribadah haji, apakah sudah dapat pahala?-” Rasulullah s.a.w. lalu menjawab: “Ya dan untukmu -yakni untuk orangtuanya- juga ada pahalanya.” (Riwayat Muslim)

 

1280. Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. beribadah haji di atas kendaraan dan itu adalah unta muatan milik beliau.” (Riwayat Bukhari) Zamilah adalah unta yang digunakan untuk membawa beban atau muatan, jadi bukan untuk perahan, sembelihan dan lain-lain. Pada umumnya yang digunakan untuk membawa beban digunakan pula untuk ditunggangi orang, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi s.a.w. yang diceritakan dalam hadits di atas.

 

1281. Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, katanya: ‘”Ukadz, Mijannah dan Zulmajaz adalah merupakan pasar-pasar di zaman Jahiliyah, lalu orang-orang sama merasa akan memperoleh dosa jikalau berdagang pada musim-musim pasaran itu, kemudian turunlah ayat -yang artinya-: “Tidak ada dosanya atas engkau semua jikalau engkau semua mencari keutamaan rezeki dari Tuhan mu semua,” -yakni berdagang dalam musim-musim haji-. (Riwayat Bukhari)


Sumber:

Leave a Reply

%d bloggers like this: