Bab 215. Keutamaan Bersiwak -Sikat Gigi- dan Perkara-Perkara Kefitrahan

 

Bab 215. Keutamaan Bersiwak -Sikat Gigi- dan Perkara-Perkara Kefitrahan

 

 

1193. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Andaikata tidak akan menjadikan keberatan bagi umatku atau atas sekalian manusia, sesungguhnya mereka itu akan saya perintah untuk bersiwak pada tiap-tiap akan bershalat.” (Muttafaq ‘alaih)

 

1194. Dari Hudzaifah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila bangun dari tidur, beliau menggosok-gosok mulutnya -yakni gigi-giginya- dengan siwak.” (Muttafaq ‘alaih)

 

1195. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Kita semua menyediakan untuk Rasulullah s.a.w. akan siwaknya serta air untuk berwudhu’nya, lalu ia dibangkitkan oleh Allah sekehendak waktu yang diinginkan olehNya untuk membangkitkannya di waktu malam, lalu beliau s.a.w. bersiwak lalu berwudhu’ dan terus shalat.” (Riwayat Muslim)

 

1196 Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Saya perbanyakkan benar -untuk menyuruh- engkau semua dalam hal bersiwak.” (Riwayat Bukhari)

 

1197. Dari Syuraih bin Hani’, katanya: “Saya berkata kepada Aisyah radhiallahu ‘anha: “Dengan amalan apakah yang dimulai oleh Nabi s.a.w., jikalau beliau s.a.w. memasuki rumahnya?” Ia menjawab: “Dengan bersiwak.” (Riwayat Muslim)

 

1198. Dari Abu Musa r.a., katanya: “Saya masuk ketempat Nabi s.a.w. sedang ujung siwak itu ada di lisan beliau s.a.w.” (Muttafaq ‘alaih) Dan ini adalah lafaznya Imam Muslim.

 

1199. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Siwak itu adalah menyebabkan sucinya mulut dan menyebabkan adanya keridhaan Tuhan.” Diriwayatkan oleh Imam-imam Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya dengan isnad-isnad shahih. Imam Bukhari Rahimahullah menyebutkan hadits ini dalam kitab shahihnya sebagai ta’liq dengan shiqat jazam, beliau mengatakan: “Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Siwak itu dan seterusnya.”

 

Keterangan:

Ta’liq maksudnya dengan membuang awal sanad dalam hadits di atas. Hadits yang dita’liqkan itu disebut hadits Mu’allaq. Persoalan ini termasuk dalam Musthalah hadits atau ilmu untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan macam-macam nama Hadis, tingkatannya serta yang lain-lain lagi. Adapun maksudnya dengan shighat jazam itu ialah bahwa hadits di atas itu diberi hukum yang mantap perihal keshahihannya.

 

1200. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya; “Kefitrahan -kemurnian sejak kejadian manusia diciptakan pertama kali- itu ada lima hal, atau lima hal ini termasuk dalam kefitrahan, yaitu berkhitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabuti rambut ketiak dan mencukur kumis.” (Muttafaq ‘alaih) Alistihdad ialah mencukur ‘anah yaitu rambut yang ada di sekitar kemaluan -baik pada lelaki ataupun wanita-.

 

1201. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada sepuluh hal termasuk kefitrahan -kemurnian sejak kejadian manusia-, yaitu: mencukur kumis, membiarkan tumbuhnya janggut, bersiwak, menghirup air dalam hidung, memotong kuku, membasuh ruas-ruas jari-jari, mencabuti rambut ketiak, mencukur rambut kemaluan dan bercebok.” Yang meriwayatkan hadits ini berkata: “Saya lupa pada yang kesepuluh, kecuali kalau yang kesepuluh itu ialah berkumur.” Waki’ berkata dan orang ini adalah salah seorang dari yang meriwayatkan hadits ini: Intiqashulma’ ialah beristinja’ -bercebok-.” (Riwayat Muslim) Albarajim dengan ha’ muwahhadah dan jim yaitu ruas-ruas jari-jari dan i’faut-lihyah artinya ialah tidak mencukurnya sedikitpun daripada rambut janggut.”

 

1202. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., katanya: “Guntinglah kumis -yang memanjang melebihi dua bibir- dan biarkanlah tumbuhnya janggut.” (Muttafaq ‘alaih)


Sumber:

Leave a Reply

%d bloggers like this: