Bab 194. Keutamaan Shaf Pertama Dan Perintah Menyempurnakan Shaf-shaf Yang Permulaan -Yakni Jangan Berdiri Di Shaf Kedua Sebelum Sempurna Shaf Pertama Dan jangan Berdiri Di Shaf Ketiga Sebelum Sempurna Shaf Kedua Dan Seterusnya-, Serta Meratakan Shaf-shaf Dan Merapatkannya

 

 

Bab 194. Keutamaan Shaf Pertama Dan Perintah Menyempurnakan Shaf-shaf Yang Permulaan -Yakni Jangan Berdiri Di Shaf Kedua Sebelum Sempurna Shaf Pertama Dan jangan Berdiri Di Shaf Ketiga Sebelum Sempurna Shaf Kedua Dan Seterusnya-, Serta Meratakan Shaf-shaf Dan Merapatkannya

 

 

1079. Dari Jabir bin Samurah radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. keluar pada kita semua, lalu bersabda: “Tidak dapatkah engkau semua berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat disisi Tuhannya?” Kita lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah cara para malaikat itu berbaris disisi Tuhannya?” Beliau s.a.w. bersabda: “Mereka menyempurnakan shaf-shaf permulaan -yakni tidak berdiri di shaf kedua sebelum sempurnanya shaf pertama dan tidak di shaf ketiga sebelum sempurnanya shaf kedua dan seterusnya-, juga mereka itu saling rapat merapatkan shaf-shaf itu.” (Riwayat Muslim)

 

1080. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Andaikata para manusia itu mengetahui betapa besarnya pahala adzan dan menempati shaf pertama, kemudian tidak dapat memperoleh jalan untuk itu melainkan dengan mengadakan undian, sesungguhnya mereka itu akan mengadakan undian.” (Muttafaq ‘alaih)

 

1081. Dari Abu Hurairah r.a. pula katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sebaik-baiknya shaf bagi kaum lelaki ialah shaf pertamanya, sedang sejelek-jeleknya shaf bagi mereka ialah shaf yang penghabisan -terakhir atau paling belakang-. Adapun sebaik-baiknya shaf bagi kaum wanita ialah shaf penghabisan, sedang sejelek-jeleknya shaf bagi mereka ialah shaf pertamanya.” (Riwayat Muslim)

 

1082. Dari Abu Said r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. melihat di kalangan sahabat-sahabatnya ada kemunduran -yakni ada orang-orang yang suka berdiri di shaf belakang saja-, lalu beliau s.a.w. bersabda kepada mereka: “Majulah engkau semua lalu ikutilah saya dan hendaknya mengikuti engkau semua orang-orang yang sesudahmu itu. Tidak henti-hentinya sesuatu kaum itu suka membelakang, sehingga mereka akan dibelakangkan pula oleh Allah.” Maksudnya kalau orang itu gemar membelakang dalam kemuliaan, tentu dibelakangkan oleh Allah dalam pemberian kerahmatan. (Riwayat Muslim)

 

1083. Dari Abu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. pernah mengusap bahu-bahu kita dalam shalat lalu bersabda: “Ratakanlah olehmu semua -shaf-shaf itu- dan jangan berselisih -seperti ada yang lebih maju atau lebih mundur-, sebab hati-hatimupun akan berselisih pula. Hendaknya mendampingi saya orang-orang yang dewasa dan yang berakal cukup diantara engkau semua itu, kemudian orang-orang yang mendekati mereka -yakni yang tarafnya ada di bawahnya-, kemudian orang-orang yang mendekati mereka -yakni yang tarafnya di bawah mereka lagi-.” (Riwayat Muslim)

 

1084. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ratakanlah shaf-shafmu semua itu, karena sesungguhnya meratakan shaf-shaf itu termasuk tanda kesempurnaan shalat.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan: “Karena meratakan shaf-shaf itu adalah termasuk tanda didirikannya shalat.”

 

1085. Dari Anas r.a. pula, katanya: “Shalat telah diiqamati, kemudian Rasulullah s.a.w. menghadap kepada kita semua dengan wajahnya lalu bersabda: “Tetaplah engkau semua mendirikan shaf-shafmu semua itu dan rapatkanlah shaf-shaf tadi, karena sesungguhnya saya ini dapat melihat engkau semua dari belakang punggungku.” Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan lafaznya dan juga oleh Imam Muslim yang semakna dengan itu. Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan pula: “Seorang dari kita menempelkan bahunya dengan bahu kawannya dan juga kakinya dengan kaki kawannya -yakni amat rapat sekali-.”

 

1086. Dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya engkau semua harus meratakan shaf-shafmu itu atau -kalau tidak suka meratakan shaf-shaf-, maka sesungguhnya Allah akan memperselisihkan antara muka-muka hatimu -yakni menjadi umat yang suka bercerai-cerai-.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: Bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu meratakan antara shaf-shaf kita, sehingga seolah-olah diratakannya barisan anak panah. Demikianlah sehingga beliau meyakinkan bahwa kita semua telah mengerti benar-benar akan cara meratakan shaf-shaf itu. Selanjutnya pada suatu hari beliau s.a.w. keluar lalu berdiri sehingga hampir saja akan bertakbir, lalu melihat ada seorang yang dadanya menonjol ke muka shaf, kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Hai hamba-hamba Allah, sesungguhnya engkau semua harus meratakan shaf-shafmu atau -kalau tidak melakukan demikian maka- sesungguhnya Allah akan memperselisihkan antara muka-muka hatimu.”

 

1087. Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. mengisikan sela-sela shaf dari arah sini ke arah situ, sehingga dada-dada dan bahu-bahu kita saling mengusap -antara yang seorang dengan lainnya-. Beliau s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau semua berselisih -yakni terlampau maju atau terlampau mundur dari shaf, maka hal itu akan menyebabkan berselisihnya hati-hatimu semua.” Beliau s.a.w. juga bersabda: “Sesungguhnya Allah dan malaikatnya menyampaikan kerahmatan pada shaf-shaf permulaan.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.

 

1088. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tetaplah mendirikan shaf-shaf dengan rata, samakanlah letaknya antara bahu-bahu, tutuplah semua sela yang kosong dan bersikap haluslah dengan tangan saudara-saudaramu -yakni jikalau diajak maju atau mundur untuk meratakan shaf-shaf-. Janganlah engkau semua meninggalkan kekosongan-kekosongan untuk diisi oleh syaitan. Barangsiapa yang merapatkan shaf, maka Allah akan merapatkan hubungan dengannya dan barangsiapa yang memutuskan shaf -yakni tidak suka mengisi mana-mana yang tampak kosong-, maka Allah memutuskan hubungan dengannya.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih

 

1089. Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Rapatkanlah shaf-shaf kamu semua, perdekatkanlah jarak antara shaf-shaf itu -yang sekiranya antara kedua shaf itu kira-kira tiga hasta- dan samakanlah letaknya antara leher-leher. Maka demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya saya niscayalah dapat melihat syaitan itu masuk di sela-sela kekosongan shaf, sebagaimana halnya kambing kecil.” hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad menurut syarat Imam Muslim. Alhadzaf dengan ha’ muhmalah dan dzal mu’jamah yang keduanya difathahkan, lalu fa’ ialah kambing kecil, hitam warnanya yang ada di Yaman.

 

1090. Dari Anas r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sempurnakanlah shaf yang termuka dahulu, kemudian yang ada di belakangnya itu -lalu yang ada di belakangnya lagi-. Maka mana yang masih kurang rapatnya, hendaklah itu ada di shaf yang terbelakang sendiri.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan,

 

1091. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah dan malaikatNya menyampaikan kerahmatan pada shaf-shaf yang sebelah kanan.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad menurut syaratnya Imam Muslim, tetapi di dalamnya ada seorang lelaki yang masih diperselisihkan dapatnya dipercaya oleh para ahli Hadis. [Baca Status Hadits Disini]

 

1092. Dari al-Bara’ r.a., katanya: “Kita semua apabila shalat di belakang Rasulullah s.a.w., maka kita semua senang kalau berada di sebelah kanannya. Beliau menghadap kepada kita dengan wajahnya, lalu saya mendengar beliau s.a.w. mengucapkan ” doa -yang artinya-: “Ya Tuhan, lindungilah saya dari siksaMu pada hari Engkau menghidupkan -sesudah mati yakni pada hari kiamat- atau pada hari Engkau mengumpulkan hamba-hambaMu.” (Riwayat Muslim)

 

1093. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Pertengahkanlah imam -yakni antara ma’mum yang berdiri di sebelah kanan dan di sebelah kiri hendaklah sama banyaknya, sehingga imam itu tempatnya ada di tengah seluruh ma’mum- dan tutuplah sela-sela yang kosong.” (Riwayat Abu Dawud) [Baca Status Hadits Disini]


Sumber:

Leave a Reply

%d bloggers like this: