Bab 129. Adab-adab Kesopanan Dalam Majelis Dan Kawan Duduk

 

Bab 129. Adab-adab Kesopanan Dalam Majelis Dan Kawan Duduk

 

 

822. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah seorang diantara engkau semua itu menyuruh berdiri pada seorang dari tempat duduknya kemudian ia sendiri duduk di situ, tetapi berikanlah keluasan tempat serta kelapangan -pada orang lain yang baru datang-.” Ibnu Umar itu apabila ada seorang yang berdiri dari tempat duduknya karena menghormatinya, ia tidak suka duduk di tempat orang tadi itu. (Muttafaq ‘alaih)

 

823. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jikalau seorang diantara engkau semua itu berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia kembali ke situ, maka ia memang lebih berhak untuk menempati tempat duduknya tadi.” (Riwayat Muslim)

 

824. Dari Jabir bin Samurah radhiallahu’anhuma, katanya: “Kita semua itu apabila mendatangi Nabi s.a.w., maka setiap seorang dari kita itu duduk di tempat mana ia berakhir -maksudnya tidak sampai melangkahi bahu orang lain untuk menuju ke tempat yang lebih dekat dengan Rasulullah s.a.w.” Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

 

825. Dari Abu Abdillah yaitu Salman al-Farisi r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidaklah seorang itu mandi pada hari Jum’at dan ia bersuci sekuasa yang dapat ia lakukan, juga berminyak dari minyaknya ataupun mengenakan sesuatu dari minyak harum yang ada di rumahnya, kemudian ia keluar -ke masjid-, lalu ia tidak memisah-misahkan antara dua orang -yang sedang duduk-, selanjutnya ia bershalat apa yang ditentukan atasnya -yakni shalat sunnah tahiyyatul masjid- dan seterusnya ia mendengarkan jikalau imam berbicara -atau berkhutbah-, melainkan orang yang melakukan semua itu tentu diampunkan -dosanya- untuknya antara hari Jum’at yang dilakukan itu dengan hari Jum’at yang lainnya -yaitu hari Jum’at berikutnya-.”

 

826. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari nenek lelakinya r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak halallah bagi seorang itu kalau memisahkan tempat duduk antara dua orang, melainkan dengan izin kedua orang itu.” Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan. Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda: “Janganlah seorang itu duduk antara dua orang -yang sudah duduk lebih dulu-, melainkan dengan izin keduanya.”

 

827. Dari Hudzaifah al-Yaman r.a. bahwasanya Rasulullah melaknat kepada orang yang duduk di tengah lingkaran -maksudnya orang-orang banyak duduk di tepi melingkari sesuatu tempat lalu orang itu datang belakangan terus melangkahi bahu mereka dan duduk di tengah-tengah orang banyak-. (Riwayat Abu Dawud dengan isnad hasan) Imam Tirmidzi juga meriwayatkan dari Abu Mijlaz bahwasanya ada seorang lelaki duduk di tengah lingkaran, lalu Hudzaifah berkata: “Dilaknat atas lisannya Muhammad s.a.w. atau Allah melaknat atas lisannya Muhammad s.a.w. pada orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran.” Imam Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih. [Baca Status Hadits Disini]

 

828. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik tempat duduk -yakni majelis- ialah yang terlebar -terluas ruangannya-.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih menurut syarat Imam Bukhari.

 

829. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang duduk di dalam suatu majelis, lalu banyak senda guraunya yang tidak bermanfaat dalam majelis tadi, lalu ia mengucapkan sebelum berdiri meninggalkan majelis itu, demikian -yang artinya-: “Maha Suci Engkau, ya Allah dan saya mengucapkan puji-pujian padaMu. Saya menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Engkau, saya mohon ampun serta bertaubat padaMu“, melainkan orang tersebut pasti diampunkan untuknya apa-apa -yakni dosa- yang diperolehnya dari majelis yang sedemikian tadi.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih

 

830. Dari Abu Barzah r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda pada penghabisannya jikalau beliau s.a.w. hendak berdiri dari majelis -yang artinya-: “Maha Suci Engkau ya Allah dan saya mengucapkan pujian-pujian padaMu. Saya menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Engkau, saya mohon ampun serta bertaubat padaMu.” Kemudian ada seorang lelaki berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya Tuan mengucapkan sesuatu ucapan yang tidak pernah Tuan ucapkan sebelum ini?” Beliau s.a.w. bersabda: “Yang sedemikian itu adalah sebagai penebus dari apa saja -yakni kekurangan-kekurangan atau kesalahan-kesalahan- yang ada di dalam majelis itu.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, juga diriwayatkan oleh Imam Hakim yaitu Abu Abdillah dalam kitab Al-Mustadrak dari riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha dan ia mengatakan bahwa hadits ini adalah shahih isnadnya.

 

831. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Jarang sekali Rasulullah s.a.w. itu berdiri meninggalkan sesuatu majelis, sehingga lebih dulu beliau s.a.w. berdoa dengan doa-doa di bawah ini -yang artinya-: “Ya Allah, bagikanlah kepada kita dari takut kita padaMu sesuatu yang menghalang-halangi antara kita dengan bermaksiat padaMu. juga dari taat kita padaMu sesuatu yang dapat menyampaikan kita kepada syurgaMu. Demikian pula dari keyakinan yang dapat meringankan kita menghadapi bencana-bencana di dunia ini. Ya Allah, berikanlah kenikmatan kepada kita dengan adanya pendengaran, penglihatan dan kekuatan kita, selama Engkau masih menghidupkan kita dan jadikanlah semua itu sebagai yang tertinggal dari kita -yakni sampai di akhir hayat hendaklah masih dapat digunakan sebaik-baiknya-. Jadikanlah pembalasan kita itu tertuju kepada orang yang menganiaya kepada kita. Berilah kita pertolongan kepada orang yang memusuhi kita dan janganlah dijadikan bencana kita ini menimpa agama kita. Jangan pula menjadikan dunia ini sebagai sebesar-besar perhatian yang kita menuju padanya atau puncak dari ilmu pengetahuan kita -sehingga tidak memberikan kemanfaatan sama sekali untuk urusan akhirat-. Demikian pula janganlah memberikan kekuasaan untuk memerintah kita kepada orang yang tidak belas kasihan kepada kita.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

 

832 Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada sesuatu kaum pun yang berdiri meninggalkan sesuatu majelis dan tidak sama-sama berdzikir kepada Allah Ta’ala dalam majelis itu, melainkan semua orang itu berdiri bagaikan bangkai keledai dan mereka semuanya memperoleh penyesalan.” (Riwayat Abu Dawud dengan isnad shahih)

 

833. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Tiada sesuatu kaumpun yang duduk di suatu majelis yang mereka itu tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala dalam majelis tadi, juga tidak mengucapkan bacaan shalawat kepada Nabi mereka didalamnya, melainkan atas mereka itu ada kekurangannya. Jikalau Allah berkehendak, maka Allah akan menyiksa kepada mereka dan jikalau Allah berkehendak, maka Allah akan mengampunkan pada mereka.” Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

 

834. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: Barangsiapa yang duduk di suatu tempat duduk dan ia tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala dalam duduknya itu, maka atasnya adalah kekurangan dari Allah dan barangsiapa yang berbaring di suatu tempat pembaringan dan ia tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala dalam berbaringnya itu, maka atasnya adalah kekurangan dari Allah.” (Riwayat Abu Dawud) Sudah terdahulu uraian perihal arti Attirah baru-baru ini -yakni dalam Hadis no.813-.


Sumber:

Beri Nilai Artikel Ini:

Istilah Percarian:
mengapa kita tidak boleh duduk ditengah tengah lingkaran orang banyak

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: