BAB III. KONSEPSI EKONOMI ISLAM

 

BAB III

KONSEPSI EKONOMI ISLAM

 

A.   PENGERTIAN EKONOMI ISLAM

Pengertian ekonomi Islam menurut bahasa (terminologi) sudah diterangkan dalam bab II, sedangkan pengertian ekonomi Islam menurut istilah (terminologi) terdapat beberapa pengertian menurut beberapa ahli ekonomi Islam sebagai berikut :

1.    Yusuf Qardhawi1 memberikan pengertian ekonomi Islam adalah ekonomi yang berdasarkan ketuhanan. Sistem ini bertitik tolak dari Allah, bertujuan akhir kepada Allah, dan menggunakan sarana yang tidak lepas dari syari’at Allah.

2.    M.A. Mannan2 memberikan pengertian Ekonomi Islam adalah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam.

3.    M. Syauqi Al-Faujani3 memberikan pengertian ekonomi Islam dengan segala aktivitas perekonomian beserta aturan-aturannya yang didasarkan kepada pokok-pokok ajaran Islam tentang ekonomi.

4.    Monzer Kahf4 memberikan pengertian ekonomi Islam dengan kajian tentang proses dan penangguhan kegiatan manusia yang berkaitan dengan produksi, distribusi dan konsumsi dalam masyarakat muslim.

 

Dari pengertian-pengertian itu tampaklah suatu konklusi bahwa yang dimaksud dengan ekonomi Islam adalah segala bentuk aktivitas manusia yang menyangkut persoalan harta kekayaan, baik dalam sektor produksi, distribusi maupun konsumsi yang didasarkan pada praktek-praktek ajaran Islam. Walaupun perlu juga diperhatikan apa yang disebut dengan ilmu ekonomi sebagai suatu sains murni dan ekonomi sebagai suatu sistem. Karena itu perlu diperhatikan, sekalipun ilmu ekonomi dan sistem ekonomi masing-masing membahas tentang ekonomi, akan tetapi ilmu ekonomi dan sistem ekonomi itu merupakan dua hal yang berbeda sama sekali5 .

Karena kajian ilmu ekonomi terfokus kepada mekanisme (teknis) berproduksi, distribusi dan konsumsi, sedangkan pembahasan sistem ekonomi berhubungan dengan pemikiran (konsep) yang menjadi azas kegiatan ekonomi itu sendiri.

Menurut Monzer Kahf6 setiap sistem ekonomi pasti didasarkan atas ideologi yang memberikan landasan dan tujuannya disatu sisi dan aksioma-aksioma serta prinsip-prinsipnya pada sisi lainnya. Oleh karena itu setiap sistem ekonomi membuat kerangka dimana suatu komunitas sosio-ekonomik dapat memanfaatkan sumber-sumber alam dan manusia untuk kepentingan produksi dan mendistribusikan hasil-hasil produksi itu untuk kepentingan konsumsi. Dengan demikian dalam sistem ekonomi tidak akan pernah didapat jawaban tentang bagaimana cara memperbanyak hasil panen (produksi), tetapi sistem ekonomi akan memberikan jawaban tentang bagaimana cara memperoleh produksi dan mendistribusikannya untuk dikonsumsi. Hal inilah kemungkinan yang tersirat dari hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Anas R.A. sebagai berikut :

أنتم أعلم بأمر دنياكم (رواه مسلم).    7

“Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian”7

 

B.   NORMA-NORMA EKONOMI ISLAM

Apabila pembicaraan tentang norma-norma ekonomi dan muamalat Islam, maka akan ditemukan empat sendi utama, yaitu ketuhanan, etika, kemanusiaan, dan sikap pertengahan. Keempatnya merupakan ciri khas ekonomi Islam, bahkan dalam kenyataan merupakan milik ummat Islam dan tampak dalam segala hal kegiatan yang berbentuk Islami. “Setiap norma ini mempunyai cabang-cabang, buah dan pengaruh bagi aspek ekonomi dan sistem keuangan Islam, baik dalam hal produksi, konsumsi, distribusi, masalah ekspor, maupun impor yang semuanya diwarnai dengan norma ini. Jika tidak demikian maka bisa dipastikan bahwa Islam hanya sekedar simbol atau slogan dan pengakuan belaka8 .

 

1.    Ekonomi Bercirikan Islam.

Ekonomi Islam adalah ekonomi yang bercirikan ketuhanan, bertitik tolak dari Allah, bertujuan akhir kepada Allah dan melaksanakan sarana yang tidak lepas dari syari’at Islam. Kegiatan ekonomi produksi, distribusi, konsumsi maupun ekspor, kesemuanya bertitik tolak demi Allah dan bertujuan akhir untuk Allah. Jika seorang muslim bekerja dalam bidang produksi, maka niatnya tidak lain kecuali hendak memenuhi perintah Allah SWT. Hal ini dijelaskan firman Allah dalam surat al Mulk, ayat 15 :

هُوَ الَّذِى جَعَلَ لَكُمُ اْلأَرْضَ ذَلُوْلاً فَامْشُوْا فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ (الملك: 15).

“Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali) setelah dibangkitkan”

 

Seorang muslim, ketika sedang bercocok tanam, membajak, menganyam dan berdagang, ia merasa bahwa yang ia kerjakan itu adalah ibadah karena Allah. Makin tekun bekerja, makin taqwa kepada Allah. Demikian juga apabila ia menggunakan atau menikmati sesuatu yang ada di dunia ini, secara tidak langsung ia juga telah beribadah dan memenuhi perintah Tuhan.

Seorang muslim ketika ia memanfaatkan kenikmatan dunia ini secukupnya, tidak berlebihan dan tidak pula kikir. Sikap pertengahan, dan ia mensyukuri atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Hal ini dijelaskan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat al-A’raf, ayat 31 :

… وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلاَ تُسْرِفُوآ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ  (الاعرف: 31).

“… makan dan minumlah serta janganlah berlebihan, sesungguhnya Allah tidak suka dengan orang yang berlebih-lebihan”

 

Banyak ayat yang menunjukkan bahwa rizki yang diperoleh seorang muslim dari Allah bertujuan agar ia bersyukur. Diantaranya ayat yang menyatakan : “…Dan diberikan-Nya kamu rizki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur”. 9

Seorang muslim seharusnya sangat memahami terhadap segala perintah dan larangan Allah. Seperti halnya jual beli dan haramnya riba10 , serta haramnya memakan harta manusia secara bathil11 .

Ketika seorang muslim hendak membeli dan menjual, menyimpan dan meminjam, atau menginvestasikan uang, ia selalu melaksanakan pada batas-batas yang telah ditetapkan Allah. Ia tidak memakan uang haram, memonopoli milik rakyat, korupsi, mencuri, berjudi, ataupun melakukan suap-menyuap. Seorang muslim secara tegas menjauhi daerah yang diharamkan Allah, disamping berusaha semaksimal mungkin meninggalkan daerah syubhat. Ketika seorang muslim memiliki harta, ia tidak memakannya sendiri, tidak pelit terhadap orang lain, dan tidak menggunakannya untuk kemaksiatan. Atau dengan kata lain, ia tidak kikir terhadap kebenaran dan tidak boros terhadap kebathilan. Yusuf Qardhawi mengungkapkan bahwa: “Pemilikan harta kekayaan bagi seorang muslim, bukanlah secara mutlak, sehingga ia tidak berhak untuk membelanjakan harta itu sesuka hatinya 12 .

Dari uraian di atas, menjadi jelas bahwa walaupun terkumpulnya, harta kekayaan itu secara lahiriyah dapat usaha manusia, tetapi manusia tidak dibenarkan mendistribusikan kekayaannya menurut kehendaknya. Pengeluarannya itu hendaknya harus dikondisikan sesuai dengan aturan agamanya. Manusia tidak dibahas mengembangkan diri, bahwa harta kekayaannya itu diperoleh dari hasil usahanya sendiri. Hendaknya ia ingat bahwa kekayaannya sebenarnya pemberian dari Allah SWT kepada melalui usahanya. Jelasnya bagi muslim, di samping usaha, maka ibadah kepada Allah jangan ditinggalkan.

 

2.    Ekonomi Penunjang Aqidah dan Aqidah Merupakan Asas

a.    Ekonomi Penunjang Aqidah

Menurut tinjauan Islam ekonomi bukanlah tujuan akhir dari kehidupan manusia, tetapi merupakan suatu kelengkapan dalam kehidupannya, sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, penunjang dan pelayanan bagi aqidah dan bagi misi yang diembannya.

Islam adalah agama yang mengatur tatanan hidup dengan sempurna, kehidupan individu dan masyarakat, baik aspek ratio, materi, maupun spiritual, yang didampingi oleh ekonomi, sosial dan politik13 .

 

b.    Aqidah Merupakan Asas

Percaya kepada Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan14 . Dialah yang memiliki penciptaan dan segala masalah kembali kepada-Nya. Kepada-Nya tempat memuji dan kepada-Nya diserahkan segala urusan. Tidak ada yang patut disembah kecuali Dia. Tidak ada tempat bergantung kecuali kepada-Nya. Dan tidak ada tempat minta hidayah selain dari pada-Nya.

“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”15

Tidak boleh satu makhluk pun menjadikan selain Allah sebagai pelindung16 . Tak patut selain-Nya dijadikan tempat pengambilan hukum17 dan tidak memohon hidayah selain kepada Allah18 .

 

c.    Allah mengutus untuk manusia, Rasul-rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan penjelasan.

Hal itu dijelaskan Al-Qur’an dalam surat An-Nisaa, ayat, 165.

رُسُلاً مُبَثِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلاَّيَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ.

“Mereka Kami utus selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira, pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu”.

 

Manusia dalam kehidupannya di dunia di samping untuk makan dan menikmati kehidupannya sebagaimana makhluk lainnya, juga ada tugas menyembah Allah yang satu, berbuat kebajikan untuk mendapatkan ridha-Nya, melarang kemunkaran dan berpegang teguh dengan tali yang kuat, yaitu Islam, serta sabar dalam menghadapi segala cobaan. Aqidah, merupakan dasar keseluruhan tatanan kehidupan dalam Islam, termasuk ekonomi. Tatanan dalam Islam merupakan gabian dari aqidah. Tugas tatanan adalah melindungi aqidah, memperdalam akar-akarnya, menyebar luaskan cahayanya, dan membentenginya dari segala rintangan, serta merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Tatanan kehidupan dalam Islam bersifat sempurna dan spesifik, mencakup ibadah yang menjadikan manusia meningkat derajat rohaninya dan dapat menjalin hubungan dengan Tuhannya. Etika yang meletakkan insting pada tempatnya dan membersihkan jiwa, sopan santun yang meniggikan karakter dan menghiasi kehidupan; serta syari’at yang mengatur masalah-masalah halal dan haram dan nilai-nilai keadilan. Dengan demikian manusia menjauhi maksiat atau kedzaliman, dan mengatur hubungan antar sesama, individu dengan keluarga dan masyarakat dengan masyarakat atas dasar persahabatan, persamaan dan keadilan. Syari’at juga menerangkan hak dan kewajiban, termasuk di dalamnya sanksi-sanksi atas penyelewengan.

Ekonomi Islam yang berlandaskan ketuhanan, bekerja sekuat tenaga untuk mewujudkan kehidupan yang baik dan sejahtera bagi manusia, walaupun demikian Islam tidak setuju kalau kehidupan ini dijadikan tujuan akhir. Islam hanya setuju apabila kehidupan ini merupakan tangga untuk mencapai kehidupan yang lebih tinggi dan lebih kekal.

Ekonomi Islam bertitik tolak dari Allah dan memiliki tujuan akhir kepada Allah. Tujuan ekonomi Islam membantu manusia untuk menyembah Allah yang “telah memberi makan kepada mereka untuk menghilangkan lapar serta mengamankan mereka dari ketakutan”19 .

Juga untuk menyelamatkan manusia dari kemiskinan yang bisa mengkafirkan akibat kelaparan yang bisa mendatangkan dosa, dan juga merendahkan suara orang-orang yang berbuat aniaya di atas suara orang-orang yang beriman. 20

 

d.    Beriman Sebelum Berkuasa

Dalam ekonomi Islam yang berlandaskan ketuhanan, penting adanya “perasaan selalu ada yang mengawasi”. Sikap itu timbul dari seorang muslim karena imannya kepada Allah. Dengan adanya perasaan demikian itu, seorang muslim tidak akan mengambil barang yang bukan miliknya. Karena imannya seorang muslim tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan orang lain, contoh-contohnya, dikala dunia sedang dilanda krisis sandang, pangan dan papan, seorang pengusaha muslim yang beriman tidak akan mencekik konsumen dengan mengambil laba sebanyak-banyaknya. Hadirnya Allah dalam imajinasinya sudah cukup baginya sebagai pengawas. Ia juga tidak akan suka, apabila di dalam hartanya terdapat sekalipun satu dirham yang didapat dengan jalan haram, walaupun pengadilan menyatakan ia berhak atas harta itu sebab, pengadilan biasanya hanya melihat yang tampak dalam kenyataan, sedangkan Allah Maha Tahu segala sesuatu yang tersembunyi. Di sinilah perasaan dan keimanan seorang muslim berperan sebagai jaksa dan hakim, walaupun manusia menuliskan lain.

Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 188 :

وَلاَ تَأْكُلُوْآ اَمْوَلِكُمْ بِالْبَطِلِ وَتُدْلَوْابِهَا اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِنْ أَمْوَلِ النَّاسِ بِاْلإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ (البقرة: 188).

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari pada harta benda orang lain dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui”.

Seorang muslim yang takut kepada Allah, ia akan meninggalkan segala perbuatan yang hukumnya masih diragukan, menjauhi segala yang syubhat, dan ia takut terjerumus pada perbuatan haram. Sabda Rasulullah SAW riwayat dari an-Nu’man ibnu Basyir R.A. :

فمن اتقى الشبهات استبرألدينه وعرضه، ومن وقع فى الشبهات وقع فى الحرام كالراعى يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه … (رواه البخارى ومسلم والترمذى)

“…Barangsiapa yang takut dari syubhat, maka ia telah menyelamatkan diri dan agamanya; dan barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia telah terjerumus dalam haram, sebagaimana penggembala kambing yang menggembala kambing-kambingnya di sekitar serigala” (Hadits telah diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan at-Turmudzi). 21

Pemikiran halal dan haram adalah pemikiran yang selalu menyertai akal dan hati kecil setiap muslim. Ia yakin bahwa pada hari kemudian (kiamat) kelak ia akan ditanya oleh Allah tentang hartanya. Dari mana ia memperolehnya dan kemana ia belanjakan. Dalam hal ini Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa: “Islam tidak mengizinkan seseorang bekerja dengan cara haram, walaupun tujuan akhirnya baik dan terpuji, seperti mengadakan pertunjukan tari perut atau malam hura-hura untuk mengeruk dana yang akan disumbangkan kepada panti asuhan. Atau mengambil riba untuk mendirikan masjid, sekolah yatim piatu, madrasah tahfidz Qur’an, atau mendirikan rumah sakit bagi orang-orang tak mampu”. 22

 

e.    Pemikiran Istikhlaf dalam Kehidupan Ekonomi

Pemikiran istikhlaf, baik langsung maupun tidak telah membawa dampak positif terhadap kehidupan perekonomian dan sosial ummat Islam. Diantaranya, pertama mengurangi sikap sombong dan membanggakan diri. Harta itu tidak membuat pemiliknya lupa daratan dan tidak bertindak semena-mena, karena mereka yakin bahwa harta itu adalah milik Allah, sedangkan kepemilikan oleh manusia hanya bersifat sementara.

Sebagai muslim tidak akan mengatakan dengan sombong bahwa “ini hartaku”. Ia tidak akan berkata dengan congkak bahwa harta kekayaan yang banyak itu adalah hasil usahanya sendiri.

Kedua, seorang muslim tidak pernah menahan hartanya untuk dikeluarkan demi menegakkan agama Allah. Harta dianggap masalah yang ringan baginya, apabila diminta ia dengan mudah mengeluarkan harta itu sebagai infaq. Ia segera mengeluarkan hartanya untuk membantu fakir miskin, karena yang ia nafkahkan itu adalah harta Allah, dikeluarkan untuk kepentingan keluarga Allah dan di jalan Allah.

Yusuf Qardhawi mengutip dari Al-Khatib, dalam kitab sejarahnya menceritakan bahwa setiap tahun Abu Hanifah pergi ke Baghdad. Di kota itu ia membeli barang dan membawanya ke Kufah. Maka terkumpullah laba tahun demi tahun. Dari laba itu ia membeli berbagai kebutuhan, baik sandang maupun pangan, untuk para syekh muhadditsin. Ketika memberikan barang itu kepada syekh, Abu Hanifah berkata: “Jangan memuji kecuali kepada Allah, sebab aku tak memberikan sedikitpun hartaku kepada kalian. Tapi yang aku berikan adalah apa yang dilebihkan Allah kepadaku atas kalian”.23

Ketiga, muslim kaya mudah untuk menerima perintah dan patuh terhadap undang-undang, karena perintah itu datangnya (turun) dari pemilik harta yang sebenarnya. Contoh pada zaman Rasulullah SAW, bukan sesuatu yang aneh, apabila kaum mu’min (saudagar mu’min) yang kaya datang kepada Rasulullah SAW lalu bertanya “Apa yang dapat kami perbuat dengan harta kami?” Berapa yang kami nafkahkan? Dan kepada siapa saja harta ini kami bagikan?”.

Dalam sebuah hadits dari Anas Ibn Malik r.a diceritakan bahwa seorang dari Bani Tamim datang kepada Rasulullah SAW dan berkata :”Ya Rasulullah, saya seorang kaya raya, juga memiliki keluarga besar. Beritahu saya apa yang harus saya perbuat dan bagaimana cara menafkahkannya?”, Rasulullah bersabda :

تخرج الزكاة من مالك فإنها طهرة تطهرك، وتصل أقرباءك، وتعرف حق المسكين والجار والسائل. (رواه احمد).

“Keluarkan zakat dari hartamu, karena ia membersihkan hartamu, santunilah kerabatmu dan berikan hak orang miskin, tetangga, dan peminta-minta” (Hadits telah diriwayatkan oleh Ahmad).24

 

Keempat, pemikiran teori ekonomi yang demikian ini (istikhlaf), dapat dijadikan dasar bagi negara Islam untuk penetapan undang-undang cukai serta pajak terhadap orang yang mampu, untuk disalurkan kepada golongan yang tidak mampu, atau untuk mewujudkan kemaslahatan umum.

Kelima, memberikan penjelasan kepada masyarakat muslim untuk mengawasi hartawan yang melampaui batas dalam melakukan harta yang dimilikinya.

Masyarakat mempunyai wewenang untuk memberi peringatan, apabila orang kaya itu tidak melaksanakan batasan-batasan yang ditetapkan oleh pemilik harta yang sebenarnya, yakni Allah SWT. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat An Nisaa, ayat 5 sebagai berikut :

وَلاَتُؤْتُوا السُّفَهَآءَ أَمْوَلَكُمُ الَّتِى جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَمًا وَارْزُقُوْهُمْ فِيْهَا وَاكْسُوْهُمْ فِيْهَا وَقُوْلُوْالَهُمْ قَوْلاً مَعْرُوْفًا (النساء: 5).

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik”.

Keenam, supaya hati fakir miskin menjadi kuat dan membenarkan tindakan mereka dalam meminta hak dari orang kaya atau dari negara. Jika golongan ini tidak memberikan bagian mereka, orang-orang miskin dapat berjalan dengan tegak dan penuh percaya diri dalam meminta bagiannya dari harta Allah, karena mereka bukan pengemis, tetapi meminta hak yang secara nyata ditulis Allah dalam harta orang kaya. Firman Allah dalam surat al-Ma’arij, ayat 24-25, sebagai berikut :

وَالَّذِيْنَ فِى أَمْوَلِهِمْ حَقٌّ مَعْلُوْمٌ لِلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُوْمِ (المعارج: 35-34).

“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”.

“Sesungguhnya orang kaya pada pandangan si miskin tidak jauh berbeda dengan bendahara ummat. Oleh karena itu, ketika berhadapan dengan orang kaya, si miskin tidak harus merasa rendah diri ataupun kecil hati”. 25

 

f.     Sanksi Hartawan yang Tidak Mengindahkan Istikhlaf

Hartawan yang tidak mengindahkan istikhlaf akan mendapat hukuman (sanksi) dari pemilik harta yang sebenarnya, yakni Allah SWT. Pertama hukuman itu dapat berbentuk musibah alam, seperti ditariknya kekayaan itu, Allah memusnahkan hartanya atau memindahkannya kepada orang lain yang lebih berhak. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Rasulullan SAW bersabda :

إن لله تعالى أقواما اختصهم بالنعم لمنافع العباد، يقرهم فيها مابذلوها، فإذا منعوها نزع منهم فحولها إلى غيرهم (رواه الطبرانى).

“Allah memiliki kaum yang dikhususkan dengan nikmat agar bermanfaat bagi seluruh ummat manusia. Lalu ditetapkan bagi mereka apa yang diwajibkan untuk dikeluarkan. Jika mereka menahan harta tersebut dengan jalan tidak mengeluarkannya, Allah menarik harta itu dari mereka dan digantikannya kepada orang lain”. (Hadits telah diriwayatkan oleh Thabrani).26

 

Al-Qur’an juga menceritakan contoh-contoh hartawan yang tidak mengindahkan prinsip istikhlaf dalam harta Allah, karena itu Allah memutuskan nikmat-Nya, yang selama ini diberikan kepada mereka. Contoh pertama adalah kisah hidup Qarun, dan kemudian dibinasakannya. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat al-Qashash, ayat 76-81, yang artinya sebagai berikut :

“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Qarun berkata, ’Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmunya yang ada padaku. ‘Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan ummat-ummat sebelumnya yang lebih kuat daroipadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta ? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka.

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dala kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia. ‘Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, ‘kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bgi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh; dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang shabar’.

“Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap Allah dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang dapat membela (dirinya)”.

Contoh kedua adalah kisah pemilik dua kebun buah, sebagaimana digambarkan Al-Qur’an dalam surat Al Kahfi, ayat 32-43, yang artinya sebagai berikut :

“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki. Kami jadikan seorang diantara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan diantara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buanya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai dicelah-celah kedua kebun itu, dan ia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu’min) ketika ia bercakap-cakap dengan dia, ‘Hartaku lebih banyak dari hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat’. Dan dia memasuki kebunnya sedangkan ia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata, ‘Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu’.

Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya, ‘Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna ? tetapi aku (percaya bahwa) Dia lah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mangatakan waktu kamu memasuki kebunmu, ‘Masya Allah, tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah ? Jika kamu anggap aku lebih kurang daripada kamu dalam hal harta dan anak, maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini), dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin, atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi’.

Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan ia berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku’. Dan tidak ada bagi dia segolongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya”.

 

Kedua, hukuman bagi orang kaya yang tidak menegakka istikhlaf yang dijatuhkan oleh penguasa Islam sedangkan jama’ah Muslim sebagai pengawas untuk menegakkan hukum Allah. Hukuman itu bisa berupa sanksi yuridis yang ditetapkan lembaga pemerintah seperti hukuman cambuk bagi orang yang mengeluarkan harta untuk membeli dan meminum khamer atau menghisap narkotik. Atau tindakan tegas bagi lelaki yang meggunakan emas dan sutra, alat-alat dapur dari emas dan perak dan membeli patung-patung yang diharamkan, setidaknya ada undang-undang sebagai landasan sanksi untuk pelanggaran tersebut.27

Ketiga, yang lebih parah dan berat dari pada hukuman itu adalah hukuman akhirat. Pada hari itu Allah akan menanyakan setiap orang yang memiliki harta tentang hartanya : dari mana ia peroleh dan kemana ia salurkan? Hal ini dijelaskan oleh firman Allah dalam Al-Qur’an surat at Takatsur, ayat 8 :

ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ (التكاثر: 8).

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan yang kamu megah-megahkan di dunia ini”.

Bagi yang menyeleweng, Allah akan memberi balasan yang sangat berat. Hal ini dijelaskan Firman Allah dalam Al-Qur’an surat At Taubah, ayat 34-35, sebagai berikut :

وَالَّذِيْنَ يَكْنِزُوْنَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَيُنْفِقُوْنَهَا فِى سَبِيْلِ اللهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ. يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىبِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوْبُهُمْ وَظُهُوْرُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ ِلأَنْفُسِكُمْ فَذُوْقُوْا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُوْنَ (التوبة: 35-34).

…”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukan kepada mereka (bahwa mereka) akan mendapat siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengan dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.

 

3.    Ekonomi Berlandaskan Etika

Yang membedakan Islam dan materialisme adalah bahwa Islam tidak pernah memisahkan antara ekonomi dengan etika, seperti halnya Islam tidak pernah memisahkan antara ilmu dan akhlak, politik dengan etika, perang dengan etika dan kerabat sedarah sedaging dengan kehidupan Islam. Islam adalah risalah yang diturunkan Allah melalui Rasulnya untuk memperbaiki akhlak manusia. Nabi SAW bersabda dalam hadits yang telah diriwayatkan oleh Abi Hurairah RA., sebagai berikut:

إنّما بعثت لأتـمّم مكارم الأخلاق  (رواه البخارى).

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” (Hadits telah diriwayatkan oleh Bukhari).28

 

Islam juga tidak memisahkan agama dengan negara dan materi dengan spiritual, seperti halnya yang dilakukan Eropa dengan konsep sekulerismenya. Islam juga berbeda dengan konsep kapitalisme yang memisahkan akhlak dengan ekonomi.29

Kegiatan ekonomi sebenarnya adalah kegiatan manusia untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Dalam rangka melaksanakan kegiatan inilah diperlukan aturan-aturan main yang mestinya sarat dengan muatan moral agar tidak timbul kekacauan dan kesulitan. Sejalan dengan berkembangnya kegiatan ekonomi, berkembang pula ilmu ekonomi yang melahirkan sistem-sistem ekonomi. Sampai dengan Thomas Aquinos, kegiatan ekonomi masih diingatkan akan adanya bahaya bunga atau riba yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral.30

Islam menempuh cara praktis dalam mendidik dan melatih ummatnya agar memelihara keseimbangan dalam sistemnya itu, dan berusaha mengendalikan naluri mementingkan diri sendiri serta menyelaraskan kebutuhan spiritual dan ekonomi melalui pendidikan moral. Penekanan tersebut dititik beratkan pada perbaikan moral dan pembinaan sikap moral yang benar dalam kehidupan bersama antar sesama ummat, sehingga kejahatan dan keserakahan dalam pikiran mereka bukan hanya dapat ditekan melainkan dapat disalurkan untuk mencapai tingkat keluhuran ruhani serta sukses dibidang materi. Disamping itu Islam juga mengendalikan hawa nafsu yang berlebihan dan ambisi-ambisi syaithoni yang terdapat dalam masyarakat. Dari kesemuanya itu Islam mengandalkan kepada pendidikan (Allah bagi) ummat-Nya dan pengendalian (sistem) eksternal yang dilakukan secara hati-hati  sepanjang benar-benar diperlukan untuk memelihara sistem sosial Islam.31

Dalam ekonomi Islam, kegiatan ekonomi itu, meskipun sifatnya material, akan tetapi juga ia bercorak spiritual. Asasnya dari corak ini ialah kesadaran dan taqwa kepada Allah SWT dan mengharapkan akan ridho-Nya. Sendinya, menurut Islam bahwa manusia itu tidak hanya sekedar berhubungan antara satu sama lainnya, tetapi juga ia berhubungan dengan Allah SWT. Apabila dalam sistem ekonomi yang positif hanya terfokus pada asas material, dan asas itu yang membentuk hubungan antara individu-individu, maka dalam ekonomi Islam tidak demikian, asasnya adalah ketaqwaan kepada Allah SWT, harapan akan mendapat ridho-Nya, dan menjalankan ajaran-ajaran-Nya. Hal yang demikian itulah yang membentuk hubungan diantara individu-individu.

Sebagai akibat dari keistimewaan sistem ekonomi Islam, yang bertumpu pada asas kesadaran akan Allah SWT dan pengawasan-Nya dalam kegiatan ekonomi, maka terdapat tiga hal utama yang hanya dimiliki oleh Islam.

Kesalahan dari sistem ekonomi, baik yang kapitalis maupun yang sosialis adalah karena memandang manusia hanya sebagai materi semata, hakekat alam terbatas karena materi, dan penghasilan material atau kecukupan materi itu merupakan seluruh kehidupan manusia. Karena itu, maka kekosongan jiwa dan keambrukanlah yang dialami oleh masyarakat-masyarakat yang menganut sistem-sistem ini.

Adapun ekonomi Islam, disamping adanya kecenderungan kepada materi, karena aktivitas ekonomi itu harus tertuju kepada materi, tetapi tidak terlepas kaitannya dengan spiritual dalam eksistensi manusia. Yang dilakukan Islam dalam hal ini ialah mengarahkan manusia dengan kegiatan ekonominya kepada Allah SWT untuk memperoleh ridho-Nya. Yang demikian itu menambah corak imani dan rohani, perasaan ridho dan bahagia kepada kegiatan tersebut.

Dari uraian di atas penulis berpendapat bahwa ekonomi Islam adalah tidak mengenal pemisahan antara yang material dan spiritual, juga tidak memisahkan antara yang duniawi dan ukhrawi. Segala aktivitas material (duniawi) yang dilakukan manusia itu dalam pandangan Islam adalah ibadah, selama aktivitas itu syah (diasyari’atkan) dan ditujukan kepada Allah SWT. Islam tidak membenarkan adanya pemisahan antara kebutuhan-kebutuhan tersebut, baik yang material maupun spiritual.

Yusuf Qardhawi mengemukakan bahwa para pakar ekonomi non muslim mengakui keunggulan sistem ekonomi Islam. Menurut mereka, Islam telah sukses menggabungkan etika dan ekonomi, sedangkan sistem kapitalis dan sosialis memisahkan keduanya. Yusuf Qardhawi juga mengutip pendapat Jack Austri, seorang Perancis, dalam bukunya Islam dan Pengembangan Ekonomi, mengatakan: “Islam adalah pertalian antara tatanan kehidupan praktis dan sumber etika yang mulia. Antara keduanya terdapat ikatan yang kuat yang tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang-orang muslim tidak akan menerima ekonomi kapitalis dan sosialis. Karena ekonomi yang kekuatannya berdasarkan wahyu itu tidak dapat diragukan lagi, adalah ekonomi yang berdasarkan etika.

Seperti dikutip Yusuf Qardhawi, Brooks juga mengkritik kebudayaan barat, karena memberikan hasil yang menyengsarakan masyarakat. Ia juga merasa cemas terhadap ekonomi dewasa ini yang dikuasai oleh kapitalisme di atas norma-norma yang hakiki. Islam tidak mengabaikan kenyataan ini dan siap mengantisipasi kebudayaan barat, khususnya di bidang ekonominya. Caranya yaitu dengan memasukkan nilai etika ke dalam ekonomi. 32 Selanjutnya Qardhawi juga mengutip pendapat J. Perth, gabungan antara ekonomi dan etika itu bukanlah masalah di dalam Islam. Sejak permulaan Islam tidak mengenal antara keduanya. Prinsip sekularisme di Eropa tidak dikenal dalam sejarah Islam. Karena, keuniversalan syari’at Islam melarang berkembangnya ekonomi tanpa etika. Di dalam sejarah Islam, ditemukan perilaku bisnis yang bergandengan antara etika dan ekonomi, terutama sekali dikala Islam betul-betul dijadikan pedoman utama dalam kehidupan sehari-hari. 33

Dari uraian di atas penulis berpendapat bahwa sistem ekonomi Islam adalah menggabungkan antara etika dan ekonomi, sehingga akan menghasilkan dampak yang baik dalam kehidupan masyarakat dan mensejahterakannya. Sedangkan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis tidak demikian. Keduanya memisahkan antara etika dan ekonomi sehingga menghasilkan dampak yang negatif dan menjadikan kehidupan masyarakat menjadi fakir dan miskin, serba kekurangan. Itulah di antara sistem ekonomi Islam dan sistem kapitalis dan sosialis, di mana di antara orang-orang barat pun mengakui akan keunggulan sistem ekonomi Islam.

 

C.   SISTEM EKONOMI ISLAM DAN TUJUANNYA

1.    Sistem Nilai Ekonomi Islam

Membicarakan tentang masalah ekonomi Islam, berarti bagi seorang muslim akan siap menerima kenyataan bahwa di dalamnya terdapat kaidah-kaidah moral yang dijiwai dari semangat Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah SAW, dimana keduanya mencerminkan jiwa dari setiap kebaikan dan beribadah. Karena secara filosofis, kegiatan perekonomian yang dilakukan oleh seorang muslim di dalam ajaran Islam adalah merupakan manifestasi dari pengabdiannya kepada Allah SWT atas anugerah yang diberikan kepadanya. Dengan demikian sebagai konsekuensinya ia juga akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

Nilai-nilai yang diinginkan Islam dalam sistem ekonomi Islam, diantaranya sebagai berikut :

a.    Keseimbangan

Keseimbangan adalah merupakan nilai pokok yang mempengaruhi berbagai aspek tingkah laku ekonomi seorang muslim. Karena keseimbangan ini dalam konsep Islam mengandung arti bahwa Islam berada di jalan tengah antara konsep kapitalisme dan sosialisme dalam sistem ekonominya.

Nilai-nilai keseimbangan akan menjadi terhambat dengan adanya kemiskinan, kelaparan, kemarau panjang dan pengangguran yang pada gilirannya akan menimbulkan ketidak stabilan dalam bidang ekonomi dan menimbulkan kejahatan. Apabila hal itu terjadi, maka jalan yang dapat ditempuh adalah dengan mengambil tindakan seperti kebijaksanaan khalifah Umar bin Khattab, yaitu mendistribusi harta kekayaan dengan mengambil kelebihan-kelebihan harta orang-orang kaya untuk orang-orang yang membutuhkannya.

 

b.    Keadilan

‘Adil’ merupakan kata yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an, setelah kata ‘Allah’ dan ‘ilmu pengetahuan’ yang memperjelas betapa nilai dasar ini memiliki bobot yang sangat dimuliakan dalam Islam, baik yang berkait dengan aspek sosial politik, maupun sosial ekonomi.34

Keadilan memiliki arti yang sangat luas, diantaranya ialah :

1)    Adil merupakan norma yang paling utama dalam seluruh aspek perekonomian.35 Dengan demikian kebebasan yang tidak terbatas akan mengakibatkan ketidakadilan antara perkembangan produksi dengan hak-hak istimewa sekelompok kecil golongan untuk mengumpulkan kekayaan secara melimpah. Dengan demikian akan terjadi jarak pemisah antara yang kaya dan yang miskin, antara yang kuat dan yang lemah dan pada akhirnya akan menghancurkan tatanan sosial.

Keadilan harus diterapkan dalam semua sektor kegiatan ekonomi, terutama sekali dalam sektor produksi dan konsumsi sebagai alat efisiensi dan memberantas pemborosan. Merupakan suatu perbuatan dzalim, jika seseorang dibiarkan berbuat sesuka hatinya melampaui batas yang telah ditetapkan terhadap hartanya dan bahkan sampai merampas hak orang lain. Dalam hal ini Al-Qur’an dalam surat an-Nisaa, ayat 160-161, sebagai berikut:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوْا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَـيّـِبَاتٍ اُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبـِيْـلِ اللهِ كَثِيْرًا وَأَخْذِهِمُ الرِّبَوا وَقَدْنُهُوْاعَنْهُ وَأَكْلِهِمْ اَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَفِرِيْنَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيْمًا (النساء: 161-160).

“Maka disebabkan kedzaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang dari padanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih”.

 

Sedangkan keadilan dalam distribusi merupakan perangkat, penilai yang tepat bagi faktor produksi dan kebijaksanaan harga, sehingga hasilnya akan sama dengan takaran yang wajar serta ukuran yang tepat, sama halnya dengan ketentuan yang sebenarnya, tidak boleh menguranginya.

2)    Keadilan juga berarti kebijaksanaan dalam mengalokasikan semua hasil kegiatan ekonomi tertentu bagi orang-orang yang tidak mampu memasuki pasar, lebih-lebih dengan adanya perbedaan pendapatan dan kemakmuran. Adanya perbedaan ini tidak konsisten dengan cita-cita Islam, karena pada hakekatnya hak tersebut mencerminkan ketidakadilan dalam masyarakat, padahal peredaran kekayaan harus seimbang dalam masyarakat. Hal ini disebutkan al-Qur’an dalam surat Adz Dzariyaat, ayat 19 menjelaskan sebagai berikut :

وَفِى أَمْوَلِهِمْ حَقٌّ لِلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُوْمِ (الذريات: 19).

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang-orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian (orang miskin yang tidak meminta)”.

 

Dari uraian ayat di atas menjadi jelas bagi seorang muslim dalam berbisnis dilarang berbuat aniaya (dzalim) kepada sesamanya. Di antara perbuatan dzalim dalam bisnis adalah memakan harta orang lain dengan cara bathil, mengurangi takaran dan timbangan. Bagi seorang muslim dalam usahanya hendaklah berbuat adil tidak menyimpang dari aturan baik aturan agama maupun negara. Begitu juga dalam memasarkan semua hasil kegiatan ekonomi harus dilokasikan tertentu bagi orang-orang yang tidak mampu memenuhi pasar sifatnya tidak adanya perbedaan pendapatan di antara mereka. Adanya perbedaan tersebut menjadikan tidak adil dalam masyarakat dan tidak konsisten dengan cita-cita Islam.

Menurut A.M. Saifuddin36 karakter pokok dari nilai keadilan ini adalah bahwa masyarakat harus memiliki sifat makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran.

 

2.    Tujuan Ekonomi Islam

Islam mengharapkan hendaknya agar kehidupan setiap individu muslim, aqidahnya kuat dan selamat, sempurna akhlaqnya dan tenang kehidupan ekonominya. Dengan demikian seorang muslim dapat melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kehidupan ekonomi yang baik pada setiap individu muslim akan menjadikan masyarakat dalam kehidupannya merupakan pangkal tolak ketinggian martabat dan etika suatu bangsa.

Islam tidak menghendaki jika seorang muslim di tengah-tengah masyarakat Islam ia hidup menderita kelaparan, telanjang dan menggelandang. Ia tidak mampu menghadapi tantangan hidup dan tidak mampu menjaga dirinya dari bahaya kemelaratan dan kemiskinan karena krisis ekonomi.

Karena itu Islam mengharuskan setiap muslim berusaha meningkatkan taraf hidupnya secara layak dalam masyarakat, yaitu dengan memiliki sarana-sarana kehidupan yang primer, sandang, pangan dan papan, dan memiliki sarana fasilitas usaha untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Dalam mengantarkan dan memberikan jaminan terhadap para pemeluknya untuk mencapai taraf kehidupan ekonomi yang layak dan terhormat, Islam memberikan petunjuk dan jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan itu.

Di antara tujuan ekonomi Islam adalah sebagai berikut:

a.    Membangkitkan semangat untuk bekerja dan berusaha.

Bekerja adalah merupakan senjata utama dalam mengatasi problema kesulitan atau kemiskinan dan kefakiran. Berusaha adalah modal pokok untuk mencapai kekayaan dan faktor dominan dalam mencapai kemakmuran. Tugas mencapai kemakmuran ini telah dipilih manusia sebagai pengelola kekayaan alam.

Hal itu dijelaskan dalam Al-Qur’an surat al-A’raf (7), ayat 10:

وَلَقَدْ مَكَنَّكُمْ فِى اْلأَرْضِ وَجَعَلْنَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ قَلِيْلاً مَا تَشْكُرُوْنَ (الاعمران: 7).

“Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami jadikan lapangan (sumber) penghidupan kamu padanya, tetapi sedikit sekali diantara kamu yang bersyukur”

 

Dengan adanya tugas untuk mencapai kemakmuran yang dilengkapi dengan potensi alam yang terdapat di muka bumi itu, maka Islam adalah merupakan agama yang telah membuka lapangan kerja. Terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits secara eksplisit banyak menyebutkan perihal macam-macam pembagian dan pengaturan lapangan kerja.

 

Di antara sekian banyak macam lapangan kerja dapat disebutkan sebagai berikut:

1)    Pertanian dan peternakan

Dalam al-Qur’an surat ‘Abasa (80), ayat 24 – 32:

فَلْيَنْظُرِ اْلإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ. أَنَّا صَبَبْنَا الْمَآءَ صَبَّا. ثُمَّ شَقَقْنَا اْلأَرْضَ شَقًّا. فَأَنْبَتْنَافِيْهَا حَبًّا. وَعِنَبًا وَقَضْبًا. وَزَيْتُوْنًا وَنَخْلاً. وَحَدَآئِقَ غُلْبًا. وَفَاكِهَةً وَأَبًّا. مَتَاعًالَكُمْ وَِلأَنْعَامِكُمْ … (عبس: 23-24).

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makan-annya, sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya. Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, pohon anggur dan sayur-mayur, zaitun dan pohon kurma, dan taman-taman yang rimbun dan buah-buahan serta rumput-rumputan untuk kesenangan bagimu dan binatang-binatang ternakmu”.

 

Dalam Al-Qur’an surat An-Nahl (16), ayat 5 dan 14:

وَاْلأَنْعَامِ خَلَقَهَالَكُمْ فِيْهَادِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُوْنَ (النحل: 14).

“Dan (Allah menjadikan) ternak untuk kamu; dari padanya terdapat bulu yang menghangatkan dan berbagai manfa’at, dan dari padanya pula kamu makan”.

 

Dari beberapa ayat Al-Qur’an tersebut di atas, maka jelaslah bahwa Allah SWT tidak hanya menyebut berbagai macam ni’mat yang diperoleh dari bumi, baik tumbuh-tumbuhan, binatang ternak, binatang darat maupun laut, tetapi juga mengandung suatu acuan tentang lapangan kerja berupa pertanian, peternakan, perikanan, perburuhan dan pertambangan.

 

2)    Kerajinan dan perindustrian.

Terdapat ayat-ayat dalam Al-Qur’an ayat-ayat yang mendorong untuk bekerja di bidang kerajinan dan perindustrian, untuk dapat memperoleh kecukupan kebutuhan pakaian, perumahan, berbagai macam alat rumah tangga dan sebagainya. Diantaranya disebutkan sebagai berikut:

Dalam al-Qur’an surat An-Nahl (16), ayat 80 dan surat al-Hadid (57), ayat 25:

وَاللهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُوْدِ اْلأَنْعَامِ بُيُوْتًا تَسْتَخِفُّوْنَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَآ أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىحِيْنٍ  (النحل: 80).

“Dan Allah telah menjadikan rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal; dan Allah menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawanya) di waktu kamu berjalan dan di waktu kamu bermukim, dan (dijadikannya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu)”.

 

3)    Perdagangan

Usaha untuk memenuhi kecukupan dalam kehidupan dapat dilakukan melalui jalan perdagangan, disertai sarana dan perlengkapan yang dibutuhkan, seperti alat transport, alat pengukur dan timbangan barang, alat pembayaran dan administrasi perdagangan.

 

Dalam al-Qur’an surat Al-Muzzammil (73) ayat 20, sebagai berikut:

… وَأَخَرُوْنَ يَضْرِبُوْنَ فِى اْلأَرْضِ يَبْتَغُوْنَ مِنْ فَضْلِ اللهِ … (الزمر: 20).

“… Dan yang lain kerjakan di muka bumi, mencari karunia (rezeki) Allah…”.

Dalam al-Qur’an surat Al-Baqarah (2), ayat 282:

يَآيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْآ إِذَا  تَدَ يَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوْهُ … (البقراة: 282).

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu ber-mu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya”.

 

Islam banyak memberikan petunjuk dan pedoman secara global dalam lapangan kerja. Ada yang secara jelas dan ada pula yang secara isyarat, contoh: dilarangnya jual beli barang-barang yang haram, dilarangnya perdagangan yang ada unsur-unsur riba dan penganiayaan serta tidak terjadi spekulasi dan manipulasi yang mengakibatkan penyesalan dan hilangnya prinsip suka sama suka.

 

4)    Perburuhan dan Jasa

Dalam kehidupan masyarakat, hubungan terbesar adalah hubungan kerja, di mana para anggotanya melakukan perbuatan-perbuatan untuk orang lain dengan menerima imbalan jasa. Dengan demikian segala macam pekerjaan yang menghasilkan imbalan jasa, baik yang berbentuk kegiatan-kegiatan jasmaniah (material) maupun moral, contohnya jabatan kenegaraan dan jabatan profesional, kesemuanya itu merupakan lapangan kerja dan jasa.

Islam telah membuka semua lapangan kerja ini. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits Rasulullah, diantaranya:

Dalam al-Qur’an surat Al-Qashas (28), ayat 26:

قَالَتْ إِحْدَهُمَا يَأَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ اْلقَوِيُّ اْلأَمِيْنُ  (القصص: 26).

“Salah seorang dari dua gadis itu berkata: `Wahai ayahku, pakailah orang ini untuk menjadi pembantu kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pembantu ini ialah orang yang kuat dan terpercaya”.

 

ثلاثة أنا خصمهم يوم القيانة: رجل أعطىبى ثم غدر، ورجل باع حرّا فأكل ثمنه، ورجل استأجرأجيرا فاستوفىمنه ولم يوفه أجره  (رواه البخارى واحمد).

“Tiga orang yang akan aku musuhi di hari kiamat: orang yang menerima tugas atas namaku lalu berkhianat, orang yang menjual orang merdeka lalu memakan hasilnya, dan orang yang menyuruh buruh upahan, dia suruh menyelesaikan pekerjaan tetapi tidak diberi upah”. (HR. Bukhari dan Ahmad).37

 

Riwayat Ibn Taimiyah, bahwa pada suatu waktu ‘Abu Muslim Al-Khaulani masuk ke tempat Khalifah Mu’awiyah Ibn Abu Sufyan dengan mengucapkan: السلام عليك أيها الأجير (semoga keselamatan atas anda wahai sang buruh penyewa). Sehingga orang-orang yang ada di sekitar Khalifah memperingatkan berulang-ulang agar Abu Muslim mengucapkan أيّها الأمير (wahai sang pemimpin). Teguran itu tidak merubah pendirian Abu Muslim. Sebab ia berpendapat bahwa Kepala Negara pun termasuk buruh, yaitu orang yang bekerja untuk orang lain dengan menerima imbalan jasa”.38

Kebutuhan hidup manusia itu beraneka ragam, karena itu diperlukan adanya kerja sama antara satu dengan yang lainnya. Di samping itu bahwa kodrat pembawaan dan bakat manusia itu tidak sama dan juga kekuatan antara seorang dengan yang lainnya berbeda. Karena itu pembagian spesialisasi lapangan kerja, dimungkinkan terdapat adanya perbedaan tingkat para pekerja. Hal demikian itu akan terjadi perbedaan imbalan jasa atas kerja yang dilakukannya.

Hal itu Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaaf (46) ayat 19, sebagai berikut:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوْا وَلِيُوَفِّيَهُمْ اَعْمَلَهُمْ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُوْنَ 

“Dan masing-masing diberikan derajat menurut perbuatan yang dilakukannya dan supaya (Allah) memberikan pahala atas perbuatan-perbuatannya, sedang merekapun tidak akan dirugikan”.

 

Hal demikian tidak berarti bahwa Islam memberikan legitimasi adanya kelas-kelas dalam masyarakat. Seperti hal itu dijumpai juga dalam fikiran kapitalisme dan sosialisme. Ketidaksamaan bakat dan berlainan kekuatan antara sesoorang dengan yang lainnya merupakan dasar adanya perbedaan dalam tingkatan bekerja. Hal demikian itu, justeru untuk mewujudkan kerja sama dan saling tolong-menolong antara satu sama lainnya.

Pada hakekatnya bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih lapangan kerja yang disenangi dan sesuai dengan profesinya. Namun demikian dalam keadaan tertentu, atas dasar kemaslahatan umum pemerintah dibenarkan mela-kukan pengaturan kepada sebagian anggota masyarakat untuk bekerja dalam lapangan tertentu.

Dalam hal ini Islam memberikan dorongan dan pemikiran praktis guna aktivitas serta membangkitkan gairah kerja dan usaha.

a)    Sumbangan pemikiran Islam bagi mereka yang enggan bekerja, karena alasan bertawakkal kepada Allah SWT.

Sebaiknya mereka mengetahui bahwa bertawakkal kepada Allah, bukanlah berarti mesti diam, berserah diri tidak bekerja dan berusaha. Tetapi dahulukan dengan bekerja dan berusaha, lalu bertawakkal, menyerahkan hasil usahanya itu kepada Allah SWT. Hal itu Rasulullah SAW pernah menyatakan dalam suatu hadis yang telah diriwayatkan dari Anas R.A. sebagai berikut :

… أعقلها وتوكّل  (رواه الترمذى وابن ماجه).

“Ikatlah untamu itu, kemudian barulah kamu bertawakkal” (H.R. Tarmidzi dan Ibnu Majah).39

 

Juga Hadits Rasulullah SAW, riwayat dari Umar lbn Khattab R.A:

إنكم كنتم توكلون على الله حق توكله لرزقكم ترزق الطير تغذوخماصا وتروح بطانا  (رواه الترمذى).

“Sesungguhnya kalian, jika kamu benar-benar bertawakkal kepada Allah SWT, pasti Allah SWT memberi rizki kepada kalian, seperti halnya burung-burung diberi rizki, di pagi hari meninggalkan sarangnya dalam keadaan lapar, dan di sore hari pulang dalam keadaan kenyang” (H.R. Turmudzi).40

 

Penjelasan Rasulullah SAW tersebut merupakan peringatan kepada mereka yang tidak mau berusaha dengan alasan bertawakkal kepada Allah SWT dan sekaligus merupakan teguran kepada mereka yang menganggur dan tidak mau bekerja.

Imam Ahmad Ibn Hambal (wafat tahun 241 H.) pernah ditanya oleh seseorang tentang orang yang kerjanya duduk-duduk saja, sambil mengharapkan rizki datang;

“Apa yang akan anda katakan terhadap orang yang kerjanya hanya duduk di rumah atau di masjid, seraya mengatakan: ‘Aku tidak akan melakukan sesuatu apapun, sampai rizki datang kepadaku’. Maka Ahmad menjawab: ‘Orang tersebut amatlah bodoh. Bukankah dia pernah mendengar sabda Nabi saw, bahwa dijadikan rizkiku ini di bawah naungan panahku”.41

b)    Pemikiran Islam terhadap orang yang tidak mau bekerja karena ingin memurnikan keta’atannya kepada Allah SWT.

Islam memberikan jalan, bahwa ibadah kepada Allah SWT, tidak seharusnya melepaskan diri dari semua urusan dunia, melainkan semua amalan yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan disertai niat yang suci dan tidak menyimpang dari hukum-hukum Islam, adalah merupakan ibadah. Kerja keras seseorang dalam mempertahankan hidupnya demi kehormatan diri dan keluarganya atau menegakkan kebenaran, termasuk kategori jihad fi sabilillah.

Dalam hal ini Umar Ibn Khattab menyatakan sebagai berikut:

“Tidak ada suatu pengorbanan yang lebih aku cintai, sesudah jihad fi sabilillah, melainkan mencari karunia Allah SWT.Lalu Umar membaca ayat: Dan yang lain akan bepergian di bumi mencari karunia Allah, dan yang lain berperang di jalan Allah SWT’.42

 

Untuk meningkatkan usaha mencari karunia Allah SWT, di atas dunia, Rasulullah mengemukakan jaminan ampunan dari Allah SWT. Hadits telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas R.A.:

من أمسى كلا من عمل يده أمسى مغفوراله (رواه الطبرانى).

من بات كلامن طلب الحلال بات مغفورا  (رواه ابى عساكر)

“Barangsiapa bersusah payah pada sore hari, karena kerja tangannya, maka terampuni dosanya”. (H. R Tabrani.) “Barangsiapa bersusah payah pada malam hari mencari penghidupan yang halal, maka terampuni dosanya”. (H.R Ibnu Asakir). 43

c)    Islam mendorong orang yang beranggapan bahwa bekerja itu akan merendahkan martabat dirinya, bahwa bagi seorang muslim sekalipun menjadi buruh atau penjaja barang itu berat dan dinilai sebagai kerja murahan serta penghasilannya tidak seberapa besar, namun Islam memandang bahwa pekerjaan itu adalah mulia dan lebih baik dari pada menjadi pengemis kepada orang lain.

Dengan demikian tidak heran apabila banyak ditemukan para pemimpin dan ulama Islam yang terkenal namanya, diabadikan dengan peninggalan-peninggalan atau hasil karya mereka menjadi usahanya, bukan disandarkan kepada orang tua atau bangsanya.

 

d)    Islam memberikan motivasi kepada mereka yang tidak bekerja atau malas, karena tempat tinggalnya gersang, tetapi ia tidak mau transmigrasi.

Mereka seharusnya mengetahui bahwa bumi tempat tinggalnya itu luas. Islam memberi jaminan kepada mereka yang bertransmigrasi, di sana akan menemukan perlindungan dan kekuasaan. Firman Allah dalam al-Qur’an surat An-Nisa’ (4) ayat 100, sebagai berikut:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِى سَبِيْلِ اللهِ يَجِدْ فِى اْلأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيْرًا  (النساء: 100).

“Barangsiapa berpindah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi rizki yang banyak dan tempat yang luas”.

Bahkan di samping mereka akan berbahagia dalam hidupnya, juga di akhirat kelak mereka pun akan mendapat kenikmatan, jika meninggal dunia di perantauan. Rasulullah SAW menjelaskan jaminan itu dalam suatu Hadits riwayat dari Ibn Amrin RA sebagai berikut:

إن الرجل إذا مات بغير مولده قيس له من مولده الى منقطع أثره فى الجنة  (رواه النساء وابن ماجه).

“Sesungguhnya seseorang bila meninggal dunia di perantauan, maka sejak ia berangkat dari tempat tinggalnya sampai saat meninggalnya dinilai dengan kenikmatan syurga” (HR. Nasa’i dan Ibn Majah). 44

 

e)    Sumbangan pemikiran Islam terhadap orang yang hidupnya hanya mengharapkan zakat, shadaqah dan bantuan orang lain.

Islam menjelaskan bagi kaum muslimin, bahwa selama masih mampu berusaha, mereka tidak dibenarkan menerima sumbangan itu dan mereka diperingatkan bahwa pekerjaan itu tidak mulia. Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Hakim Ibn Hizam R.A.:

اليد العليا خير من اليد السفلى  (رواه البخارى ومسلم).

“Tangan di atas adalah lebih baik dari pada tangan yang di bawah”. (HR. Bukhari dan Muslim). 45

 

Rasulullah SAW menjelaskan tentang cela yang ada pada pengemis dalam suatu Hadits yang diriwayatkan dari Samurata Ibn Jundubin R.A.:

انما المسائل (الذى يسأل الناس) كدوح يكدح بها الرجل وجهه فمن شاء أبقى على وجهه، ومن شاء ترك الا أن سأل ذاسلطان أوفى أمر لا يجد منه ابدا  (رواه ابو داود والنسائى والترمذى)

“Pengemis (yaitu meminta-minta kepada manusia) adalah noda (yaitu `aib dan cela) yang diletakkan pada wajahnya, maka barangsiapa suka menodai wajahnya, lakukanlah mengemis, dan barangsiapa tidak suka, tinggalkanlah mengemis, kecuali meminta pada penguasa atau meminta dalam keadaan yang tidak bisa dihindari” (HR. Abu Dawud, An Nasa’i dan At Tairmidzi). 46

 

Dari beberapa peringatan Rasulullah SAW dan gambaran ketidakbaikan perilaku pengemis, tampak jelas bahwa Islam memandang terhadap orang yang meminta-minta itu akan menurunkan martabat dan kehormatan manusia dan menodai wajahnya.

Islam hanya membenarkan bagi orang-orang yang minta itu dalam dua hal : Pertama, meminta kepada penguasa, dan Kedua, meminta karena dalam situasi terpaksa.

Karena itu menjadi kewajiban bagi pihak penguasa untuk melakukan tindakan:

“Mendidik kepada orang-orang yang sehat dan kuat berusaha, agar ia mampu menempuh hidupnya yang terhormat, tidak menjadi beban masyarakat. Dan menyadarkan kepada orang-orang yang menjadikan pengemis sebagai mata pencahariannya serta menggantungkan hidupnya kepada pembagian zakat dengan dalih bahwa ia termasuk orang yang berhak menerimanya. Sesungguhnya zakat terhadap yang semacam itu haram. Dan setiap kedurhakaan tidak selamanya dapat ditebus dengan had dan kafarat. Karena itu penguasa boleh mengenakan hukuman ta’zin kepadanya”.47

 

b.    Memberi nafkah keluarga yang lemah

Keluarga yang tidak mampu bekerja, dan berusaha sama sekali, orang-orang yang lanjut usia, cacat abadi, sakit atau lumpuh, anak-anak kecil dan orang-orang yang ditimpa bencana alam sehingga kehilangan harta dan pekerjaannya, kesemuanya itu termasuk keluarga yang lemah yang memerlukan bantuan dan merupakan kewajiban untuk membantu bagi keluarga mereka yang mampu. Islam tidak akan membiarkan mereka terlantar dalam kehidupannya yang tidak menentu. Islam berusaha mengentaskan kemiskinan serta berusaha menghindarkan mereka dari perbuatan hina, mengemis dan meminta-minta.

Agama Islam dalam menanggulangi segala kesulitan itu adalah, adanya jaminan antar anggota keluarga.

1) Dasar hukum adanya jaminan bagi yang diwajibkan memberi jaminan.

Hubungan keluarga adalah saling menjamin dan saling membantu dan mencukupi, saling meringankan anggota keluarga yang lain, saling kasih mengasihi dan saling tolong-menolong antara satu sama lainnya. Kebenaran itu telah dijelaskan oleh firman Allah SWT dalam al-Qur’an surat al-Anfal (8) ayat 75, sebagai berikut:

وَأُولُواْلأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِى كِتَابِ اللهِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ (الانفال: 75).

“… orang-orang yang mempunyai ikatan darah kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (dari pada yang bukan kerabat) menurut ketentuan al-Kitab. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Syaikh al Maraghi48 menjelaskan tafsir ayat tersebut sebagai berikut:

“Sesungguhnya kerabat yang mempunyai hubungan keluarga itu lebih berhak dari pada kaum mu’min yang lainnya dalam segala hubungan perwalian dan kebaikan, dan didahulukan dalam segala perwaliannya yang berkaitan dengan hak tersebut seperti dalam wali nikah, shalat jenazah dan lainnya. Apabila terdapat keluarga yang dekat dan jauh, yang sama-sama berhak berbuat baik, maka keluarga dekatlah yang diutamakan seperti dijelaskan dalam firman Allah SWT: Hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua, keluarga dekat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin”.

Dalam al-Qur’an dan al-Hadits, banyak ditemukan juga yang menunjukkan bahwa anggota keluarga terhadap anggota keluarga yang lainnya mempunyai hak dan kewajiban yang lebih banyak dari pada terhadap orang lain, karena adanya hubungan keluarga dan keturunan diantara mereka.

Dalam al-Qur’an surat An-Nahl (16), ayat 90:

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَآءِذِى اْلقُرْبَى (النحل: 90).

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan (kepada orang lain), memberi apa-apa kepada kaum kerabat…”

Menghubungkan keluarga, melaksanakan hak dan berbuat kebajikan kepada keluarga dekat, dalam hal ini Ibn al-Qayyim berpendapat sebagai berikut:

“… Adakah kasus putus hubungan keluarga yang lebih hebat dari pada seorang yang menyaksikan keluarganya merintih kelaparan dan kehausan terlantar kepanasan dan kedinginan, sedangkan ia tidak memberi sesuap makanan, setetes minuman, selembar pakaian yang menutupi auratnya sebagai penahan panas dan dingin dan tidak mencari rumah sebagai tempat tinggalnya. Padahal mungkin ia saudara kandungnya, saudara seibu seayah atau mungkin pamannya yang sekedudukan dengan ayahnya, atau bibinya yang sekedudukan dengan ibunya …

Maka kalau kasus semacam ini tidak memutuskan hubungan keluarga, maka saya tidak mengerti kasus putus hubungan manakah yang diperintahkan Allah untuk menyambungnya, dan diharamkan masuk surga bagi yang memutuskannya”.49

Keterangan yang diuraikan oleh Ibnu al-Qayyim ini menunjukkan bahwa realisasi hubungan keluarga dan menunaikan haknya serta berbuat kebajikan kepadanya itu adalah memberi nafkah. Pendapatnya itu berdasarkan kepada Rasulullah SAW yang memastikan adanya nafakah terhadap keluarga. Hal itu dijelaskan Hadits Nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Thariq al Muharibi:

يد المعطى العلى وابدأ بمن تعول أمك وأياك فأختك وأخاك ثم أدناك وأدناك

“Tangan si pemberi adalah di atas, oleh sebab itu mulailah kamu kepada keluarga yang terdekat (yang diatasmu), yaitu: Ibumu, ayahmu, saudara perempuanmu, saudara laki-laki, kemudian kerabat yang paling dekat denganmu”.50

 

Kemudian Rasulullah SAW menjawab pertanyaan Mu’awiyah Al-Qusyairi mengenai seseorang yang paling berhak diutamakan:

قال: أمك، قلت ثم من؟ قال أمك، فقلت ثم من؟ قال: أباك ثم الأقرب فالأقرب (رواه مسلم).

“Rasulullah saw menjawab: Ibumu, Aku bertanya : Kemudian siapa? Nabi menjawab : Ibumu, Kemudian aku bertanya: Lalu siapa? Nabi menjawab : Ayahmu, lalu kerabatmu yang terdekat, kemudian yang terdekat”. (H.R. Muslim).51

 

Juga Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Jabir lbn Abdillah sebagai berikut:

إبدأ بنفسك فتصدق عليها فإن فضل شيئ فلأهلك فإن فضل شيئ عن أهلك لذوى قرابتك فإن فضل شيئ عن ذى قرابتك فهكذا وهكذا (رواه مسلم).

“Mulailah bernafkah untuk dirimu kemudian selebihnya untuk ahlimu, dan selebihnya dari ahlimu engkau nafkahkan kepada kerabatmu, kemudian selebihnya dari kerabatmu, kamu nafkahkan kepada keluarga berikutnya, lalu berikutnya” (H.R. Muslim).52

 

Demikian juga Umar Ibn Khattab pernah menetapkan tentang kewajiban nafkah yang dibebankan kepada keluarga terdekat:

“Seorang wali anak yatim menghadap Umar Ibn Khattab, lalu ia berkata: Aku memberi nafkah kepadanya. Kemudian Umar berkata: Kalaulah saya tidak menjumpai keluarganya, kecuali familinya yang jauh, maka niscaya saya bebankan kepada mereka”.53

Penjelasan Rasulullah SAW di atas sejalan dengan ketetapan Allah SWT, bahwa seorang pewaris berkewajiban memberi nafkah, sama halnya juga seorang bapak terhadap isteri dan anak-anaknya.

Al-Hasan memberikan pengertian. وعلى الوارث مثل ذلك dengan:

“Terhadap seseorang yang menjadi pewaris wajib memberi nafkah kepada orang yang diwarisi, sampai ia menjadi cukup. Dengan pendapat ini, Jumhur Salaf sepakat dalam penafsiran ayat tersebut”.54

Demikian juga Muhammad Abu Zahrah setuju dalam penafsiran ayat tersebut, bahwa:

“Sesungguhnya hak dan kewajiban itu saling berkaitan. Apabila harta warisan seseorang yang meninggal dunia itu menjadi hak pewaris, maka tentu wajib bagi pewaris memberi nafkah seandainya yang meninggal dunia itu tidak mampu”.55

 

Dari ayat-ayat dan Hadits dengan segala keterangan dan tafsirannya, maka menjadi jelas bahwa penetapan hukum wajib adanya jaminan atau nafakah terhadap keluarga terdekat itu berdasarkan: Adanya perintah untuk berlaku baik dan menunaikan haknya terhadap keluarga terdekat, adanya kewajiban menghubungkan silaturrahmi kepada keluarga yang telah diperintahkan Rasulullah SAW, dan adanya ketentuan waris, yang telah dinashkan oleh Al-Qur’an. Sedangkan orang yang berkewajiban memberi jaminan itu ialah anggota keluarga yang terdekat dari jalur keturunan, baik ia termasuk ahli waris ataupun bukan ahli waris.

 

2)    Persyaratan wajib nafkah

Sebagai dasar kewajiban nafkah kepada keluarga adalah memberikan pertolongan dengan dukungan adanya hubungan keturunan. Dengan demikian para fuqaha sepakat dalam menetapkan syarat-syarat yang harus menyertai adanya kewajiban memberi nafakah sebagai berikut:

a)    Pihak penerima merupakan keluarga miskin.

Memberikan nafkah kepada keluarga itu berdasarkan atas pertolongan. Karena itu, nafakah tidak berhak diterimakan kepada yang hidupnya berkecukupan, memiliki sejumlah kekayaan dan usaha yang tetap.

b)    Pihak pemberi memiliki kelebihan harta.

Kewajiban memberi nafkah kepada keluarga itu bisa dikenakan, apabila pihak pemberi memiliki kelebihan dari kebutuhan pokok untuk dirinya, isteri dan keluarganya (anak-anaknya), Rasulullah SAW bersabda dalam masalah ini, hadits yang diriwayatkan oleh Abi Huzaimah R.A.:

إبدأ بنفسك ثم بمن تعول  (رواه ابو داود).

“Dahulukan (menafkahi) dirimu, kemudian kepada orang yang menjadi tanggunganmu” (H. R. Abu Dawud).56

c)    Antara pemberi dan penerima ada kesamaan agama.

Perbedaan agama menjadi penghalang dalam perwalian dan pewarisan. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an surat Ali Imron (3), ayat 28:

لاَ يَتَّخِذُ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكَافِرِيْنَ اَوْلِيَاءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Janganlah orang-orang mu’min memilih orang-orang kafir menjadi wali’.

 

Juga sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh perawinya Usamah Ibnu Zaid R.A.:

لايرث المسلم الكافر والكافر المسلم  (رواه ابوداود).

“Orang muslim tidak berhak mewaris orang kafir, dan orang kafir tidak berhak mewaris orang muslim” (HR. Abu Daud).57

 

Perbedaan agama menghalangi juga adanya hubungan saling membantu dan dalam hal ini Ibnu Qudamah menjelaskan pendapatnya, sebagai berikut:

“Maka tidak wajib atas manusia memberikan belanja kepada orang yang berbeda agama, karena perbedaan agama menjadikan hilangnya saling memimpin dan saling mewarisi antara satu dengan yang lainnya. Dan karena nafkah itu diwajibkan atas dasar pertolongan dan menghubungkan keluarga, maka tidak wajib bagi yang berbeda agama”.58

Sedangkan ulama madzahib, seperti Syafe’i, Hanafi dan Ahmad Ibn Hambal, mereka berpendapat bahwa mengecualikan perbedaan agama itu bagi keluarga terdekat yang mempunyai jalur keturunan, contohnya anak atau cucu, ayah atau kakek:

Sesungguhnya wajib nafkah itu khusus kepada yang mempunyai jalur keturunan, disamping itu mereka harus adanya persesuaian agama … Pendapat ini menurut mazhab Syafe’i.

Sesungguhnya nafkah itu wajib terhadap setiap yang mempunyai hubungan keluarga, seperti anak atau cucu, ayah atau kakek, baik mereka itu seagama atau berbeda agama. Namun selain mereka itu, tidak wajib, kecuali adanya kesamaan agama … Menurut pendapat Hanafiyah.

Antara pemberi dan penerima nafakah, diharuskan adanya kesamaan agama, kecuali bila terdapat jalur keturunan … Ini menurut pendapat Imam Ahmad“.59

 

d)    Cakupan nafkah kepada keluarga terdekat

Islam tidak menentukan secara terperinci ukuran nafkah wajib kepada keluarga dekat. Seperti kepada isteri dan anak, akan tetapi secara global ukuran nafkah itu dinyatakan dengan yang patut. Hal yang demikian itu merupakan karakteristik Islam, yang fleksibel dan kapabel. Kebutuhan manusia itu tidak sama, sesuai dengan kondisi dan tempat dan kemampuan material yang ada dari pihak pemberi yang senantiasa tidak sama.

Cara yang baik dan mempunyai wawasan pengertian yang luas, yaitu dengan cara yang dapat diakui oleh perasaan yang jujur, dapat dibenarkan oleh fikiran yang sehat dan sejalan dengan pandangan orang yang arif dan bijaksana di kelangan masyarakat. Hal yang demikian itu telah digambarkan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an surat ath-Thalaq (65) ayat 7:

لِيُنْـفِقُ ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَعَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُـنْفِقْ مِمَّآ أَتَاهُ اللهُ لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ مَآ اَتَهَا (الطلق: 7).

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan barang siapa telah disempitkan rizkinya, maka hendaklah ia memberi nafkah menurut apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memaksakan seseorang kecuali apa yang telah diberikan kepadanya …”

 

Dari ayat di atas secara ringkas dapat diketahui bahwa cara yang patut ialah: Yang sesuai dengan kemampuan dan sekedar untuk mencukupi kebutuhan. Hal yang demikian itu sejalan dengan yang telah diperintahkan Rasulullah SAW kepada Hindun isteri Abu Sufyan untuk mengambil sebagian dari harta suaminya, sekedar untuk mencukupi keperluan dirinya dan anak-anaknya. HR. Aisyah R.A.:

خذى مايكفيك وولدك بالمعروف (رواه البخارى).

“Ambillah apa yang mencukupimu dan anakmu dengan cara yang patut” (H.R. Bukhari).60

Dalam hal ini lbnu Qudamah menjelaskan pendapatnya tentang kebutuhan yang wajib dipenuhi oleh keluarga terdekat sebagai berikut:

“Kewajiban nafkah kepada keluarga itu diukur menurut kemampuannya. Karena nafakah itu diwajibkan untuk mengatasi kebutuhan, maka harus diusahakan untuk mencukupi kebutuhan itu. Apabila yang bersangkutan memerlukan kepada pelayan, maka iapun berkewajiban memberi nafakah kepada pelayan itu. Dan juga apabila yang bersangkutan itu mempunyai isteri, maka juga wajib memberi nafkah kepada isterinya itu, karena hal yang demikian itu termasuk kesempumaan mencukupi nafkah”.61

Para ulama fiqih telah menetapkan bahwa:

“Sesungguhnya nafkah keluarga itu mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. Makanan dan minuman, 2. Pakaian untuk musim panas dan dingin, sesuai dengan kebutuhannya, 3. Perumahan dan segala perlengkapannya, terdiri dari alat-alat rumah tangga dan tempat tidur, 4. Pelayan bagi yang memerlukannya, 5. Mengawinkan bagi orang yang membutuhkan kawin, 6. Mencukupi nafkah isteri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya”.62

Pada masa sekarang ini kebutuhan dan kemampuan seseorang selalu berkembang. Karena itu penjelasan-penjelasan tentang kebutuhan yang dikemukakan oleh ulama fiqih itu merupakan kebutuhan pokok (primer) yang ada pada manusia, bukanlah sesuatu kebutuhan terbatas yang tidak dapat mengembang dan menciut. Hal demikian itu merupakan gambaran kenyataan dalam kehidupan masyarakat Islam sebagai realisasi dari eratnya hubungan kekeluargaan dan semangat tolong-menolong di lingkungan keluarga dengan ketentuan aturan Islam, dalam membendung munculnya fuqara dan kemiskinan di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Musthafa Husni Assiba’i mengemukakan pendapatnya sebagai berikut:

“Salah satu kenyataan yang menonjol pula dalam lingkungan masyarakat Islam hingga saat ini ialah eratnya perhubungan kekeluargaan dan getaran jiwa bergotong-royong di lingkungan keluarga itu. Anak dengan senang hati menafkahi ayah dan ibunya dan dicampurnya dengan isteri dan anak-anaknya dalam rumahnya, bahkan ia sendiri masih suka berkhidmat dan melayani keperluannya sampai keduanya itu dipanggil kembali ke hadirat Allah SWT. Bagi keluarga muslim hal ini dianggap sebagai suatu kewajiban keagamaan dan suatu amalan ibadat yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Demikian juga, banyak di antara seorang saudara yang tertua menafkahi adik-adiknya, mendidik dan mengajarnya serta mengawinkannya pula dan inipun dipandangnya suatu kewajiban yang harus mereka pikul untuk memenuhi hak adik-adiknya itu, tidak ada suatupun yang diharapkannya sebagai balasan di kemudian harinya dan tidak pula karena menginginkan pujian. Begitu pula halnya dengan kewajibannya terhadap keluarganya yang lain-lain dilindunginya jangan sampai kebutuhannya tidak terpenuhi, apalagi sampai meminta-minta, karena memang lemah atau miskin”.63

Karena itulah, usaha mencukupi ekonomi keluarga yang tidak mampu oleh keluarga yang dekat yang berkecukupan merupakan salah satu jalan yang ditempuh Islam dalam mengatasi ketidak-seimbangan antara yang kaya dan miskin di lingkungan masyarakat Islam.

 

c.    Mencari kehidupan akhirat yang diridhoi Allah.

Maksud dan tujuan utama dari ekonomi Islam adalah berbakti kepada Allah SWT. Tujuan itu telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, surat al Qashash (29) ayat 77 yang berbunyi sebagai berikut:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اَتَكَ اللهُ الدَّارَ اْلأَخِرَةَ … (القصص:77).

“Dan usahakanlah pada segala benda yang dianugerahkan Allah kepadamu untuk kebahagiaan kampung akhirat…”

Penjelasan ayat di atas maksudnya adalah supaya manusia ingat bahwa di balik kehidupannya yang sekarang, masih adalagi kehidupan yang kekal dan abadi. Di dalam kehidupan itu, hanyalah ada hukuman Tuhan yang berlaku, di mana tiap-tiap manusia harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama ia hidup di dunia di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Untuk menempuh hidup yang abadi itu, masing-masing harus menyiapkan bekal. Sebaik-baiknya bekal adalah taqwa atau berbakti kepada Tuhan.

Hal itu dijelaskan Al-Qur’an surat al Baqarah (2), ayat 197:

وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التـَّقْوَى وَاتَّـقُـــوْنِ يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ  (البقرة: 197).

“Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa kepada Allah, dan bertaqwalah kamu kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”.

 

Karena itu di dalam berusaha dan membangunkan pereko-nomian, haruslah orang mengingat tujuan akhir, yaitu tujuan mengutamakan Ketuhanan.

Tujuan itu mempengaruhi pekerjaan ekonomi, baik di lapangan produksi, maupun di lapangan konsumsi dan di lapangan distribusi. Di lapangan produksi ia tidak akan mengambil dan mengerjakan sesuatu yang haram, juga tidak akan melakukan cara-cara yang haram. Sehingga ekonomi yang dijalankan, baik oleh masing-masing individu maupun tiap-tiap organisasi dan negara, adalah di dalam lingkungan batas-batas hukum yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Di lapangan distribusi setiap hasil-hasil yang telah dicapai manusia dalam bidang ekonomi, dapat disalurkan sesuai dengan ridho Allah, menurut tujuannya yaitu mengutamakan Ketuhanan. Maka di lapangan ini, apa yang dinamakan ‘infaq’ orang harus berani memilih mengeluarkan dan mempergunakan mana yang lebih menunjukkan baktinya kepada Tuhan. Di lapangan konsumsi, baik untuk kepentingan sendiri, maupun keluarga dan lainnya harus membatasi diri, tidak berlebihan. Sekalipun untuk kepentingan yang bersifat dharury (primer). Contoh makan, minum, pakaian dan kediaman, atau untuk kepentingan pelengkap (sekunder) seperti sepatu, perabot rumah tangga dan lain sebagainya, maupun untuk kepentingan kesempurnaan hidup (tertier/tahsiniyah) yang bersifat perhiasan atau kemewahan seperti dasi, perhiasan rumah dan lainnya. Kesemuanya itu haruslah bersifat begitu sederhana, sehingga tidak melupakan tujuan utama, yaitu mengutamakan baktinya kepada Tuhan. Dengan perkataan lain ekonomi materi itu harus diisi dengan jiwa kerohanian yang luhur dan semangat Ketuhanan yang tinggi.64

Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa “salah satu moral yang tidak boleh dilupakan ialah, meskipun seorang muslim telah meraih keuntungan jutaan dollar lewat perdagangan dan transaksi, ia tidak lupa kepada Tuhannya. Ia tidak lupa menegakkan syari’at agama, terutama shalat yang merupakan hubungan abadi antara manusia dan Tuhannya”.65

Karena itu, bagi orang yang ta’at kepada Allah SWT dan keterkaitannya dengan masjid, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat an-Nur (24), ayat : 36 – 37:

فِىْ بُيُوْتِ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَفِيْهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ. رِجَالٌ لاَ تُلْهِيْهِمْ تِجَرَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلَوةِ وَإِيْتَآءِ الزَّكَوةِ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَاْلأَبْصَارُ (النور: 37-36).

“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dia mendirikan sembahyang dan membayar zakat. Mereka takut kepada sesuatu yang di hari itu hati dan penglihatan mereka menjadi guncang”.

 

Dari uraian tersebut di atas, penulis berpendapat bahwa bagi manusia muslim, sekalipun dia berhasil dalam bidang ekonomi dan dia menjadi konglomerat, akan tetapi dia konsisten atau istiqomah melaksanakan perintah Allah SWT, karena semua yang telah dimilikinya pada hakekatnya amanat dari Allah SWT.

Oleh karena itu, ia berkewajiban membangun mesjid, menyebut nama-Nya, meramaikannya, mensucikannya pada waktu pagi dan sore. Sehingga perdagangan dan hartanya tidak menjadi penghalang untuk melaksanakan shalat atau beribadat kepada Allah SWT dan mengeluarkan zakat. Mereka takut terhadap apa yang akan terjadi pada hari pembalasan yang pasti akan terjadi, di mana hati dan penglihatan menjadi guncang.

 

 

 

 




1               Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, (Jakarta, Gema Insani Press, 1997), penerjemah Zainal Arifin, halm.31.

2               M.A. Mannan, Ekonomi Islam Teori dan Praktek, (Jakarta Internusa, 1992), penerjemah Paton Arif Harahap, h. 19.

3               M. Syauqi Al-Faujani, Ekonomi Islam Masa kini, (Bandung, Mizan, 1988), penerjemah Husaini, h. 3.

4               Monzer Kahf, Ekonomi Islam, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar), penerjemah Machnun Husein, h. 6.

5               An-Nabhani, Op Cit, h. 47.

6               Monzer Kahf, Op Cit, h. 5.

7               Muslim Al-Hajiya, Shahih Muslim (Mesir, Matba’ah Misriyah wa Maktabuha, 1924), II, h. 340.

8               Yusuf Qardhawi, Op Cit, h. 30.

9               QS al Anfal : 26 dan Ibrahim : 37.

10             QS al-Baqarah : 275, 278-279.

11             QS al-Baqarah : 188 dan an-Nisaa : 29.

12             Yusuf Qardhawi, Op Cit, h. 32.

13             Ibid, h. 33.

14             QS Al-Fatihah : 2-4.

15             QS Al-Fatihah : 5.

16             QS Al-An’am  :14.

17             QS Al-An’am : 114.

18             QS Al-An’am : 164.

19             QS Al-Quraisy : 4.

20             Lihat Yusuf Qardhawi, Op Cit, h. 36.

21             Ibn ‘Abd. Al Qowi Al Munziri, At Targhib Wa at Tarhib, (Kairo, Daaru al Hadits, 1987), Jilid II, h. 554.

22             Yusuf Qardhawi, Op Cit, h. 38.

23             Ibid., h. 45

24             Ibn ‘Abdi al Qowi al Munziri, At Tagrib Wa At Tahrib, (Kairo, Daaru al hadits, 1987), Jilid I, h. 516.

25             Yusuf Qardhawi, Op Cit, h. 47.

26             Abi Bakr As Suyuthi,Op.Cit, h. 93.

27             Yusuf Qardhawi, Op Cit, h. 49.

28             Abi Bakr As Suyuthi, I,  Op.Cit., h.

29             Yusuf Qardhawi, Op Cit, h. 51.

30             Lihat Paul Samuelson, Economics, edisi ke 21 (New York : Mc Graw Hill Book Company, 1973), h. 840.

31             Abul A’la Al Maududi, Economic Problem of Man and Its Islamic Solution, 1955, h.  45-47.

32             Yusuf Qardhowi, Op Cit, h.  55.

33             Ibid. h. 55..

34             A.M. Saifuddin, Op.Cit. h. 59

35             Yusuf Qarlawi, Op.Cit., h. 182

36             A.M. Saifuddin, Ibid, h. 64.

37             As Syaukani, OpCit, h. 35

38             Ibn Taimiyah, As Siyasah Asy Syar’iyah fi Ishlahi Ar Ra’i wa Ar-Ri’yah (Mesir, Dar Al- Kitab Al-Arabi, 1969), h. 12

39             Abi Bakr As Suyuthi, I, Op Cit, h. 47

40             Imam At-Tirmidzi, Sunan At Tirmidzi (Mesir, Dar al-Fikr, 1978), h. 4

41             Yusuf Qardlawi, Musykilah al-Faqr wa Kaifa ‘Ala jaha Al-Islam (Mesir, Maktabah Wahabah, 1975), h. 43

42             Ibid., h. 45

43             As Sayuthi, Op Cit., Juz II. h. 167

44             As Sayuthi, Op Cit., Juz 1, h. 80.

45             Ibnu Hajar al Asqalani, Op Cit., h. 126

46             Ibnu Abdi al Qawi al Mundziri, I, Op Cit., h. 572

47             Yusuf Al-Qardlawi, Op Cit., h. 51

48             Ahmad Musthafa at Maraghi, Tafsir al-Maraghi (Mesir, Musthafa al Babi al Halabi, 1970) Jilid 4, h. 45

49             Ibn Al-Qayyim, Zaad Al-Ma’ad (Beirut, Daru al Fikr, 1977), Juz 4, h.166

50             At Tirmidzi, Op Cit., Juz 3, h. 206

51             Imam Muslim, Op Cit., Juz 1, h. 400

52             Ibid. h. 400

53             Yusuf Qardlawi, Op Cit., h. 62

54             Ibn Al-Qayyim, Loc Cit., h. 164

55             Muhammad Abu Zahrah, Fi Al Mujtama’ Al-Islami, (Sa’udi, Daru al Fikr, t.t) h. 78

56             Abi Dawud, Sunan Abi Dawud, (Sa’udi, Daru Al-Fikr, t.t), Juz 2, h. 129

57             Ibid, III, h. 125

58              Ibnu Qudamah, Al-Kafi (Beirut, Al-Maktabah Al-Islami, 1979), Juz 3, h. 375

59             Ibn Qayyim, Op Cit., Juz 4, h. 165

60             Imam Bukhari, Op Cit., Juz 7, h. 289

61             Ibnu Qudamah, Op Cit., Juz 3, h. 378

62             Yusuf Qardlawi, Op Cit., h. 65

63             Lihat Musthafa Husni Assiba’i, Isytirakiah Al Islami, alih bahasa : M Abdai Ratomy, (Bandung, CV. Diponegoro, 1981), h. 403

64             Lihat Dasar-dasar Ekonomi Islam oleh Zainal Abidin Ahmad (Jakarta, Bulan Bintang, 1979) h. 153-154

65             Yusuf Qardlawi, Op Cit., h. 193

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: