BAB I. PENDAHULUAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Sejak manusia bergaul atau bermu’amalah, timbullah suatu masalah yang harus diselesaikan bersama-sama; bagaimana caranya memenuhi kebutuhan hidup masing-masing. Kebutuhan seseorang tidak mungkin dapat dipenuhi sendiri tanpa hubungan dengan yang lainnya. Semakin luas pergaulan, semakin bertambah pula ketergantungannya satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan itu.

Peribahasa Yunani mengatakan, bahwa manusia itu makhluk yang suka bergaul atau zoon politikon. Peribahasa itu menggambarkan bagaimana eratnya hubungan antara sesamanya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kebutuhan manusia itu, bukan hanya untuk kepentingan pribadi atau individual, tetapi juga kebutuhan hidup bersama, kebutuhan masyarakat, kebutuhan negara (nasional) dan akhirnya kebutuhan internasional, yang meliputi manusia sedunia. Dengan berkat kemajuan alat-alat transportasi yang mutakhir atau modern, pertukaran barang kebutuhan antara manusia itu berjalan dengan sangat cepat, yang tidak pernah dapat digambarkan oleh otak manusia sebelumnya. Kebutuhan hidup manusia, memenuhi, menghasilkan dan membagi-bagikannya, adalah dinamakan ‘ekonomi’. Perubahan besar yang sangat meggoncangkan dunia telah berlaku dalam ekonomi, sejak terjadinya revolusi industri di Eropa, yang diikuti oleh revolusi teknik dalam abad yang silam. Jarak perjalanan ratusan ribu mil yang dahulu dijalani berbulan-bulan lamanya untuk kepentingan transportasi, sekarang dapat ditempuh dalam beberapa hari saja[1].

Zainal Abidin Ahmad[2] mengutip dari apa yang digambarkan oleh Emery Revers dalam “Anatomy of Peace” tentang dahsyatnya perubahan besar dalam dunia angkutan sebagai berikut :

“Sejak permulaan sejarah tertulis, selama ribuan tahun, perhubungan adalah mempergunakan hewan. Pada waktu revolusi Amerika dan Perancis, pengangkutan hampir tidak lebih cepat dari pengangkutan dizaman Pharao, pada zaman Budha dan lain sebagainya. Setelah melalui zaman ribuan tahun dengan tidak mengalami perubahan, perubahan itu berubah dalam satu abad yang singkat saja dari tenaga hewan atau binatang menjadi tenaga stroom dan listrik, automobil dengan alat pembakar sendiri, dan pesawat terbang jet dengan kecepatan ratusan mil dalam satu jam”.

Sesudah ribuan tahun manusia hidup dalam kampung halaman yang primitif, dimana semua orang hampir tidak ada kecualinya, memeras tenaga sekuat tenaga untuk menghasilkan makanan, pakaian dan perumahan yang sederhana, hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup semata-mata. Selama waktu kurang dari satu abad, penduduk dari hampir seluruh dunia Barat telah menjadi pemakai dari hasil produksi barang-barang dagangan. Perubahan yang diciptakan oleh industrialisasi, adalah demikian revolusioner, sehingga agak sulit membandingkan dalam sejarah kebudayaan yang maju sebelumnya. Didalam suatu hadits yang panjang lebar diceritakannya, telah diriwayatkan dari Anas Ibn Malik sebagai berikut :[3]

أن رجلا من الأنصار أتى النبى صلى الله عليه وسلم يسأله فقال: أما فى بيتك شئ؟ قال بلى حلس نلبس بعضه ونبسط بعصه وقعب نشرب فيه من الماء قال: ائتنى بهما، فأخذهما رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده وقال من يشترى هذين؟ قال رجل أنا اخذهما بدرهم قال من يزيد على درهم؟ مرتين او ثلاثا قال رجل أنا اخذهما بدرهمين بأعطاهما إياه وأخذ الدرهمين وأعطاهما الأنصارى وقال اشتر بأحدهما طعاما فانبذه ألى أهلك واشتر بالأخر قدوما فأتنىبه فشدفيه رسول الله صلى الله عليه وسلم عودا بيده ثم قال له اذهب فاحتطب وبع ولا أرينك خمسة عشر يوما فذهب الرجل يحتطب ويبيع، فجاء وقد اصاب عشرة دراهم، فاشترى ببعضها ثوبا وببعضها طعاما فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم هذا خيرلك من أن تجئ المسئلة نكتة فى وجهك يوم القيامة. ان المسئلة لاتصلح الا لثلاثة لذى فقر مدقع اولذى غرم مفظع اولذى دم موجع. (رواه ابو داود).

Seorang laki-laki Anshar datang menghadap Nabi SAW. Maka Nabi SAW bertanya: Apakah engkau tidak memiliki sesuatu di rumahmu?”. Laki-laki menjawab : Ada yang aku miliki, yaitu sebuah permadani, sebagian kami pakai dan sebagiannya kami gunakan untuk tempat duduk, dan aku juga memiliki sebuah bejana yang kami gunakan tempat minum. Nabi bersabda, Bawalah kedua barang itu ke sini. Laki-laki itu pun mengambil kedua barang itu dan membawanya ke hadapan Nabi. Lalu Nabi mengambilnya, seraya bersabda: Siapakah diantara kalian yang bersedia membeli kedua barang itu? Salah seorang sahabat menjawab: Akulah yang akan membeli keduanya satu dirham. Nabi bersabda lagi berulang-ulang sampai dua tiga kali: Siapakah yang berani membeli keduanya dengan dua dirham? seorang sahabat menjawab: Akulah yang akan membelinya dua dirham. Kemudian Nabi SAW menyerahkan kedua barang itu dengan dan mengambil pembayarannya dua dirham. Lalu Nabi memberi tuntunan: Belanjakanlah uang ini, satu dirham untuk membeli makanan kemudian bawalah kepada keluargamu, dan satu dirham lagi kamu gunakan untuk membeli kapak, kemudian bawalah ke sini. Kemudian Nabi SAW menggunakan kapak itu untuk membelah kayu dengan tangannya sendiri, lalu ia bersabda kepada laki-laki itu: Pergilah engkau mencari kayu dan juallah kayu itu. Dan sungguh saya tidak akan bertemu denganmu selama lima belas hari. Berangkatlah laki-laki Anshar itu mencari kayu dan menjualnya. Beberapa hari kemudian ia datang kepada Nabi SAW dan telah mendapat uang sebanyak sepuluh dirham. Ia gunakan sebagian uang itu untuk membeli pakaian dan sebagian lagi untuk membeli makanan. Kemudian Nabi SAW bersabda: Usaha semacam ini lebih baik bagimu daripada datang ke sana-sini meminta-minta, yang akan menjadikan noda hitam pada wajahmu di hari kiamat. Sesungguhnya kerja meminta-minta tidaklah diperbolehkan, kecuali pada tiga saat yang genting: pada saat kemiskinan (kelaparan) yang bersangatan, pada saat utang yang sangat memberatkan, atau pada pembayaran denda yang menyedihkan. (Hadits riwayat Abu Daud).

 

Terhadap hadits yang telah dipaparkan di atas, Yusuf Qardhawi, memberi komentar sebagai berikut : “Di dalam hadits yang amat jelas itu dapat diperoleh bahwa Nabi Muhammad SAW, sebagai kepala negara dan agama, tidaklah ia memberikan harta negara dari baitul mal kepada laki-laki dari Anshar yang datang meminta-minta kepadanya bagi orang yang badannya kuat untuk bekerja dan berusaha. Manusia tidak diperbolehkan demikian, kecuali bila segala jalan atau usaha sudah sempit baginya dalam hidupnya, segala usahanya sudah tertutup. Dalam hal ini pihak penguasa (Nabi Muhammad SAW), membantunya dengan memberi kesempatan untuk mencari usaha yang halal dan membuka pintu untuk bekerja di hadapannya”. Hadits tersebut melakukan beberapa langkah maju, langkah-langkah dimana agama Islam mendahului segala sistem-sistem (ekonomi) yang belum dikenal oleh kemanusiaan, kecuali sesudah berabad-abad yang panjang kemudiannya, sesudah munculnya agama Islam. Nabi Muhammad SAW telah membimbing tangan orang yang meminta-minta itu supaya mencoba menyelesaikan sendiri sejumlah persoalan kesulitan hidupnya dan menunjukkannya suatu jalan yang amat baik.

Diajarkannya kepada shahabat Anshor itu supaya menggunakan segala kemampuannya walaupun betapa kecilnya dan mempertaruhkan segala yang ia miliki yang ada pada dirinya, meskipun sesuatu yang dimiliki itu jumlahnya kecil sekali. Dengan demikian ia tidak melakukan meminta-minta, selama ia masih memiliki kemampuan untuk memanfaatkan sesuatu demi pekerjaan yang akan membantu meringankan kebutuhan hidupnya. Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa segala pekerjaan untuk mencari nafkah atau rizki yang halal, adalah ‘amal yang mulia dan terhormat, meskipun dengan memotong kayu dan mencari kayu api untuk dijualnya, sekedar menghin-darkan kejatuhan air mukanya karena hidup meminta-minta (mengemis). Ditunjukkan kepadanya suatu pekerjaan yang sesuai untuknya, kesanggupan dan keadaan tempat, dan dibekalinya dengan alat untuk bekerja yang ditunjukkannya itu, sehingga orang itu tidak ditinggalkan dalam keadaan keheranan dan keragu-raguan. Nabi Muhammad SAW memberinya waktu selama 15 hari untuk menggunakan kesempatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang akhirnya: apakah ia tetap dalam pekerjaannya, ataukah ia mencari usaha yang lainnya. Sesudah memberikan penjelasan yang “praktis” untuk menyelesaikan persoalannya, diberinya pula pelajaran yang “teoritis” didalam bahasa yang singkat tetapi berisi, untuk melarang dan mencegahnya dari hidup meminta-minta atau mengemis. Kemudian ia menegaskan batas-batas atau waktu-waktu yang diperbolehkan untuk meminta bantuan yaitu karena pembayaran denda yang menyedihkan, utang yang melilit pinggang atau kemiskinan yang bersangatan[4].

Zainal Abidin Ahmad mengemukakan bahwa agama ialah mu’amalah, yang mengatur perhubungan manusia di dalam segala kebutuhannya, baik yang bersifat perorangan, berbangsa, beragama, maupun sebagai manusia internasional. Manusia tidak terlepas dari pergaulan dan dari mu’amalah, karena itu agama Islam, adalah membawa suatu tuntunan dan sistem mu’amalah yang mengatur dengan rapi akan pergaulan di dalam segala kebutuhan mereka. Maka jelaslah, bahwa titik berat dari ajaran Islam diletakkan di dalam soal mu’amalah. Disamping ajarannya yang pokok tentang ‘keimanan’ dan ‘ibadat’ kepada Tuhan, maka ajarannya tentang mu’amalah untuk mengatur hubungan sesama manusia, termasuk masalah yang sangat penting. Ukuran iman seorang muslim bukanlah cukup dengan ibadatnya saja, tetapi juga masalah mu’amalah, masalah sosial dan ekonomi dijadikan pula oleh Nabi Muhammad SAW sebagai ukuran yang sangat tepat bagi iman dan tidaknya seorang muslim[5].

 

Setelah perang dunia kedua, gejala yang menarik yang terdapat di negara-negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam terlihat kecenderungan mengintrospeksi dirinya sendiri, yaitu melihat pada kekayaan rohani yang ada pada mereka, dengan harapan kekayaan rohani itu atau nilai-nilai yang ada pada diri mereka bisa dipergunakan untuk mengatur hidup mereka dalam bermasyarakat dan bernegara. Sejak tahun 1870 M, kalangan cendekiawan muslim, baik yang berdomisili di dalam negeri sendiri, maupun yang berada di luar negeri, seperti di Eropa dan Amerika, masing-masing atau bersama-sama berusaha menggali nilai-nilai Islam yang selama penjajahan Barat berabad-abad di tanah air, mereka tertutup oleh nilai-nilai lain atau oleh suatu sebab tidak dapat dipergunakan. Demikianlah semenjak itu, terlihat arus yang kuat mengalir dikalangan cendekiawan muslim untuk kembali keidentitasnya sebagai muslim, karenanya untuk menemukan kembali identitas dirinya itu mereka mengadakan berbagai simposium, seminar dan loka karya mengenai berbagai persoalan yang dihadapi oleh dunia dan masyarakat Islam, dilihat dari sudut pandangan Islam atau Islamic point of view [6].

Pada tahun 1970 M, oleh MSA (The Moslem Students Assisiation of The United States and Canada) telah diterbitkan kumpulan tulisan sarjana-sarjana muslim yang ahli mengenai bidang ekonomi dengan judul Contemporary Aspect of Economic and Social Thinking in Islam (Taken Park Madison, MSA, 1970). Setelah itu banyak tulisan ilmiah soal ekonomi yang diterbitkan, baik dalam bentuk makalah maupun dalam bentuk buku. Pada tahun 1977, oleh AMSS (The Assosiation of Moslem Social Scientist) diadakan The First Symposium of Islamic Economics.

Dalam simposium itu diajukan empat belas makalah yang ditulis oleh tokoh-tokoh ekonomi yang beragama Islam. Pendapat mereka ini kemudian dikumpulkan dalam buku : Outlines of Islamic Economics. Setahun sebelumnya yaitu tahun 1976 M atas dorongan sarjana-sarjana yang berorientasi pada ajaran Islam, di Makkah telah diadakan pula International Confrence of Islamic Economics. Diantara hasil keputusannya, Universitas King Abdul Aziz di Jeddah dijadikan sebagai salah satu pusat penelitian mengenai perekonomian, dilihat dari sudut pandangan Islam[7].

Kegiatan untuk menumbuhkan, mengembangkan suatu ajaran Islam, disamping terjadi di luar negeri, tetapi juga terjadi di dalam negeri. Sebagai contoh, pada awal bulan Juni 1982 M, di Ujung Pandang diselenggarakan suatu pertemuan untuk membicarakan sistem ekonomi Islam. Berbeda dengan masa lampau, dimana masalah kehidupan ekonomi biasanya dilihat oleh para fuqoha (ahli fiqih Islam), dari sudut hukum Islam saja, maka pada pertemuan itu telah dihadirkan pula beberapa tokoh yang faham tentang hukum Islam dan ilmu ekonomi, diantaranya H. Halide, Doktor Ilmu Ekonomi. Menurut pendapatnya, yang dimaksud dengan ekonomi Islam adalah kumpulan dasar-dasar umum ekonomi yang disimpulkan dari Al-Qur’an dan As-Sunah yang ada hubungannya dengan masalah ekonomi. Menurutnya, sebagai suatu sistem, ekonomi Islam menarik untuk dikaji, karena (1) diharapkan dapat memecahkan masalah-masalah yang melanda ekonomi dunia. Timbulnya berbagai kepincangan dalam neraca pembayaran negara-negara, resesi dan lain sebagainya pada akhir-akhir ini semakin terasa bahwa teori dan sistem ekonomi yang ada mungkin tidak berdaya lagi menemukan alternatif penyelesaian, (2) ekonomi Islam sebagai satu sistem adalah cabang ilmu pengetahuan yang dijiwai oleh ajaran agama Islam[8].

Syafrudin Prawiranegara[9] mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sistem ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang terjadi setelah prinsip ekonomi yang menjadi pedoman kerjanya dipengaruhi atau dibatasi oleh ajaran-ajaran Islam. Atau dengan perkataan lain, pertanyaan mengenai ekonomi Islam adalah pertanyaan tentang pengaruh yang dipancarkan oleh ajaran-ajaran Islam terhadap prinsip ekonomi yang menjadi pedoman bagi setiap kejadian ekonomi, yang bertujuan menciptakan alat-alat atau barang dan jasa untuk memuaskan berbagai keperluan manusia.

Yusuf Qardhawi[10] mengemukakan bahwa berbicara tentang ekonomi dan mu’amalat Islam akan ditemui empat sendi utama. Keempat sendi itu adalah ketuhanan, etika, kemanusiaan dan sikap pertengahan. Keempatnya merupakan ciri khas ekonomi Islam, bahkan dalam realita merupakan milik bersama umat Islam dan tampak dalam segala hal yang berbentuk Islami. Selanjutnya ia mengatakan bahwa dalam Islam tidak pernah memisahkan ekonomi dengan etika, sebagaimana halnya Islam tidak memisahkan ilmu dengan akhlak, politik dan etika, perang dengan etika dan kerabat sedarah sedaging dengan kehidupan Islam. Islam adalah risalah yang diturunkan Allah SWT melalui Rasulullah SAW untuk menyempurnakan akhlak manusia.

 

Ali Fikri[11] menyimpulkan dua lapangan yang luas dalam kehidupan manusia yaitu :

1.        معاملة مادية  (mu’amalah madiyah), ialah hubungan kaitan hidup yang dipertalikan dengan materi, dan inilah yang disebut dengan ekonomi.

2.        معاملة أدبية (mu’amalah adabiyah), ialah pergaulan hidup yang ada kaitannya dengan kepentingan moral, rasa kemanusiaan dan inilah yang dinamakan ‘sosial’. Dua pembahasan yang diungkapkan olehnya ialah ‘hiduplah cinta-mencintai sebagai saudara kandung, tetapi bergaulah secara jakelijk sebagai orang lain’ dan bergaulah kepada manusia dengan cara yang kamu sendiri menghendaki supaya kamu digauli dengan demikian pula.

Kebijakan-kebijakan tertentu sangat diperlukan untuk memanfaatkan pertumbuhan pendapatan yang tinggi guna meningkatkan martabat manusia. Pemenuhan kebutuhan pokok adalah sasaran yang sangat utama, namun selanjutnya perlu melangkah lebih jauh tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok saja, melainkan harus melangkah ketingkat pemenuhan kebutuhan berupa peningkatan martabat dan kualitas[12].

Salah satu untuk memenuhi kebutuhan pokok tersebut yang terpenting adalah masalah ekonomi. Sedangkan dalam masalah ekonomi Islam perlu diketahui obyek yang perlu dipertimbangkan, setidaknya dapat diketahui melalui proses transportasi dari kultur masyarakat itu sendiri dalam hal sosial ekonominya. Ciri kehidupan manusia ditakdirkan Allah SWT untuk hidup bermasyarakat, berbudaya serta bermoral. Penataan kehidupan yang demikian sifatnya menjamin suatu kualitas kehidupan yang dapat mewujudkan martabat kemanusiaan (al-Karamah al-Insaniyah), tentunya dalam hal ini merupakan bagian yang terpenting dalam kehidupan sosial ekonomi. Adanya fardhu kifayah dan fardhu ‘ain menandai ada perhatian ajaran Islam yang tinggi, peduli terhadap masalah-masalah kemasyarakatan dalam kehidupan manusia di dunia ini. Dalam rangka inilah terkait masalah sumber daya alam yang merupakan harta kekayaan, sumber daya manusia yang pada mulanya merupakan keluarga rumah tangga, lalu berkembang menjadi keluarga bangsa dan keluarga dunia atau kemanusiaan.

Diantara permasalahan yang terpenting adalah dalam perawatan, pengembangan, pelestarian, pengelolaan, pemanfaatan, pemerataan dan pengaturan yang baik, serta adil untuk memenuhi kebutuhan yang lengkap, kesejahteraan yang baik, jangka pendek maupun jangka panjang dari kehidupan manusia untuk menjamin kepuasan lahir, maupun bathin dalam batas-batas pengendalian moral (iman dan ketakwaan), yang berpola amanah dilaksanakan dalam bentuk taklif.

Dalam mengkaji tentang kerangka sosial ekonomi telah dijelaskan dengan luas dalam Al-Qur’an surat Ali Imran, ayat 14, sebagai berikut  :

زُيِّنَ لِلَنّاسِ حُبُّ الشَّهَوتِ مِنَ الِنّسَآءِ وَالبَنِيْنَ وَالْقَنطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ (ال عمران: 14).

“Telah menjadi naluri manusia kecintaan kepada lawan jenisnya, anak-anak, serta harta yang banyak, berupa emas dan perak, kuda peliharaan, binatang ternak, sawah dan ladang”.

Yusuf Qardhawi[13] mengatakan, tidak diragukan lagi bahwa berbisnis tanpa mengenal waktu akan mendatangkan keuntungan besar dan dapat memper-cepat berputarnya roda perekonomian. Namun Al-Qur’an mewajibkan ummat Islam meninggalkan aktivitas bisnisnya dalam bersegera mengingat Allah SWT, jika mereka mendengar suara adzan pada hari Jum’at. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam surat al-Jumu’ah, ayat 9, sebagai berikut :

يآَيَّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلَوةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمْعَةِ فَاسْعَوْا اِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا اْلبَيْعَ ذلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ (الجمعة: 3).

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah SWT dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahui”.

Dan ayat Al-Qur’an, dalam surat al-Jumu’ah, ayat 10, juga menjelaskan sebagai berikut :

فَإِذَا قُضِيَةِ الصَّلوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى اْلأَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللهِ …

“Apabila kamu telah selesai shalat (Jum’at), maka bertebaranlah di atas bumi, dan carilah karunia (kelebihan rizki) Allah SWT…

 

Dari uraian di atas, melihat luasnya ruang lingkup ekonomi, penulis ingin mengkaji tentang permasalahan yang berkaitan dengan perilaku kegiatan manusia dalam etika ekonomi Islam dan sekaligus mengamati pula pendapat para cendekiawan muslim tentang ekonomi Islam.

 

Untuk menghindari terjadinya salah pengertian dalam pemahaman terhadap penulisan ini, yang dimaksud Etika Ekonomi Islam adalah dimaksudkan bahwa moral dan material harus berjalan bersama-sama, untuk mencapai susunan sosial ekonomi yang sehat dan teratur. Jika material berjalan sendiri, dan segala hubungan manusia hanya diukur dengan ukuran materi, sebagai halnya dengan susunan ekonomi dunia yang kapitalis, niscaya hancurlah hubungan yang baik, manusia akan berubah sifat moralitasnya menjadi hewan yang rendah. Begitu juga sebaliknya, moral berjalan sendiri dengan tidak memikirkan material, hilanglah pula kebutuhan hidup manusia yang sangat dihajatinya di dalam dunia ini. Etika dan moral  adalah sesuatu yang praktis harus diselenggarakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dan buruknya suatu masyarakat dalam pergaulan tergantung moral dan akhlaknya.

Adapun yang dimaksud dengan ulama adalah, mereka yang mempunyai daya fikir (ulul albab), daya tanggap yang peka, daya banding yang tajam, daya analisis yang tepat, daya cipta yang orisinil, baik yang tradisional maupun yang modern dan supaya mereka mampu membaca apa yang terjadi dalam lingkungannya, dari lingkungan yang dekat, sampai lingkungan yang luas di ruang angkasa. Yang dimaksud ulul albab menurut Ibnu Katsir[14] adalah mereka yang mempunyai “Pemikiran yang sempurna dan bersih yang dapat menemukan segala sesuatu secara nyata dan jelas. Bukanlah mereka itu seperti orang yang tuli dan bisu yang tidak berakal …

Kebutuhan manusia bisa diartikan sebagai hasrat manusia yang perlu dipenuhi atau dipuaskan. Kebutuhan itu bermacam-macam dan bertingkat-tingkat, namun secara garis besarnya dapat dibagi dalam tiga jenis sesuai dengan tingkat kepentingannya, antara lain :

1.    Primer atau Dharuriyah.

2.    Sekunder atau Hajiah.

3.    Tertier atau Tahsiniyah

Yang dimaksud dengan primer atau dlaruriyah adalah memikirkan kebutuhan-kebutuhan yang pokok (essensial), yaitu memelihara agama, jiwa, keturunan, harta dan akal. Kesemuanya itu dipelihara dalam setiap agama, jangan sampai eksistensi kelimanya itu terancam. Adapun kebutuhan sekunder atau hajiah tidak termasuk kebutuhan pokok, melainkan kebutuhan yang menghindarkan manusia dari kesulitan dalam hidupnya. Tidak terpenuhinya kebutuhan ini akan menimbulkan kesulitan bagi mukallaf tetapi tidak mengancam eksistensi kepentingan kelima pokok di atas, dan kerusakan itu tidak sampai terhadap kerusakan yang terjadi menurut kebiasaan dalam kemashlahatan yang umum. Hal ini terjadi dalam ibadah (seperti rukhsah shalat dalam musafir), dalam adat (seperti kebolehan bersenang-senang memakan yang halal), dalam mu’amalat (seperti qiradl dan salam), dan dalam jinayat (seperti mengenakan membayar diyat kepada keluarga).[15]

Adapun tertier atau tahsiniyat adalah suatu kebutuhan mengambil yang patut dari kebaikan-kebaikan menurut adat kebiasaan dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang baik menurut agama, maupun menurut akal yang sehat.[16]

Jenis kebutuhan kedua dan ketiga sangat beraneka ragam dan dapat berbeda-beda dari satu orang dengan kepentingan orang yang lainnya. Namun kebutuhan primer ini sejak dulu hingga sekarang dapat dikatakan sama, telah dirumuskan oleh para pakar sebagai kebutuhan sandang, pangan dan papan[17].

Al-Qur’an secara tegas menyebutkan ketiga macam kebutuhan primer itu dan mengingatkan manusia pertama tentang keharusan pemenuhannya sebelum manusia itu menginjakkan kakinya di Bumi. Ketika Adam dan isterinya Hawa masih berada di surga Allah SWT telah mengingatkan mereka berdua, Al-Qur’an surat Thaha, ayat 117-118 dan 119, sebagai berikut:

قُلْنَا يآَدَمُ إِنَّ هذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلاَ يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى اِنَّ لَكَ اَنْ لاَّ تَجُوْعَ فِيْهَا وَلاَ تَعْرَى وَأَنَّكَ لاَ تَظْمَؤُا فِيْهَا وَلاَ تَضْحَى (طه: 118-119).

“Maka Kami berkata, hai Adam sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah ia sampai mengeluarkan kamu berdua dari surga karena (jika demikian), engkau akan bersusah payah, sesungguhnya engkau tidak akan lapar di surga, dan tidak akan dahaga, tidak pula disengat matahari di sana (surga)”.

 

Maksud ayat di atas dengan bersusah payah adalah, bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka di dunia dan tidak akan diperoleh kebutuhan itu tanpa bekerja, tetapi di surga telah disediakan, yaitu pangan atau bahasa ayat di atas “tidak lapar dan tidak dahaga” sandang dilukiskan dengan “tidak telanjang” sedangkan papan diisyaratkan dengan kalimat “tidak disengat matahari”[18].

Diantara para ulama menganalisa mengapa peringatan itu ditujukan kepada mereka berdua selaku suami isteri, tetapi pernyataan-pernyataan bersusah payah dikemukaan dalam bentuk tunggal, yang ditujukan kepada suami (Adam) saja. Jawabannya menurut mereka adalah karena kebutuhan sandang, pangan dan papan merupakan kebutuhan pria dan wanita (suami isteri), tetapi kewajibannya yang bersusah payah mencari nafkah berada di pundak suami, sehingga merupakan kewajiban suami isteri untuk mengikhtiarkannya[19].

Adapun Ibnu Katsir[20] menjelaskan “tidak akan kelaparan di surga dan tidak akan telanjang adalah sebagai berikut :

…Sesungguhnya Allah menggandeng antara lapar dan telanjang karena lapar itu adalah kehinaan bathin sedangkan telanjang adalah menunjukkan kehinaan dhahir …

 

dan dalam penjelasan “tidak akan merasa dahaga dan tidak disengat matahari”

… Dahaga adalah panas yang terjadi di dalam, sedang disengat matahari adalah panas yang terjadi di luar …

Ketiga kebutuhan tersebut di atas, itulah yang mengantar manusia untuk berikhtiar dan memproduksi alat-alat pemenuhannya, baik berupa barang maupun jasa. Demikian juga aktivitas manusia termasuk dalam hal aktivitas ekonomi, terjadi melalui apa yang diistilahkan oleh ulama dengan mu’amalah (interaksi), hal ini dikelaskan Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah, ayat 188 :

يَآَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا لاَ تَأْكُلُوْآ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ … (البقرة: 188).

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan atau melakukan interaksi keuangan diantara kamu secara bathil …”

 

Kata bathil diartikan melanggar ketentuan nilai agama, kaitannya dalam masalah ekonomi, karena pendorong bagi kegiatan dan kebutuhan serta keinginan manusia yang tidak mungkin diperoleh secara mandiri, untuk memenuhi kebutuhannya manusia terpaksa melakukan kerja sama, dan seringkali juga terpaksa harus mengorbankan sebagian keinginannya, atau mengantarnya menetapkan prioritas dalam melakukan pilihan. Namun diantara manusia ada juga yang sukar mengendalikan keinginannya, sehingga ia terdorong untuk menganiaya, baik terhadap sesama manusia maupun makhluk lain, disini memerlukan peraturan serta etika yang mengatur kegiatan ekonomi[21]. Dengan kata lain, dimaksudkan adanya prinsip-prinsip etika ekonomi Islam yang mampu meningkatkan kesejahteraan sosial di masyarakat.

Ibnu Ahmad al Mukhalla[22] dalam penjelasannya ia mengemukakan sebagai berikut :

… Sebagian di antara kamu dilarang memakan harta sebagian yang lain dengan cara bathil (haram) menurut syara’ seperti mencuri dan mengambil harta orang lain secara paksa.

 

Dalam praktek, etikalah yang berperan terhadap pengembangan sosial ekonomi di masyarakat untuk membedakan antara ekonomi yang dianjurkan Al-Qur’an dan ekonomi yang lainnya, harus diakui bahwa Al-Qur’an tidak menyajikan rincian, tetapi hanya mengamanatkan nilai-nilai atau prinsipnya saja. Sedangkan pandangan para ulama mengemukakan sebagian dari rincian dalam rangka operasionalnya, mereka mengklasifikasi-kannya kepada:

a.    Jenis dan jasa yang diproduksi serta sistemnya.

b.    Sistem distribusi atau siapa barang jasa itu.

c.    Efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi.

d.    Inflasi, resesi dan depresi[23]

Menempuh jalan hidup bermoral pada dasarnya bukanlah merupakan keharusan yang dipaksakan dari luar diri manusia, sebaliknya ia merupakan bagian dari sifat manusia itu sendiri. Hal ini disebabkan manusia menurut kejadian asalnya adalah makhluk fithrah yang suci dan baik, dan karenanya (kebaikan dan kesuciab itu fithri) membawa manusia kepada rasa aman dan tentram, namun disamping fithrahnya, manusia juga memiliki sifat kelemahan. Kelemahan itu bukanlah kejahatan an sich, tetapi menjadi pintu masuknya kejahatan pada manusia karena kelemahannya itu, manusia tidak selalu kepada fithrahnya sendiri, meskipun kejahatan selalu disebabkan oleh faktor-faktor yang datang dari luar. Karena kejahatan itu masuk kepada manusia melalui suatu kualitas yang in heren pada dirinya sendiri, yaitu kelemahan, maka kejahatannyapun merupakan bagian dari hakekat manusia, sekalipun hakekat sekundernya, namun hakekat primernya tetap fithrahnya suci. Firman Allah SWT, surat 4 (An Nisaa’), ayat 28 :

يُرِيْدُ اللهُ اَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ اْلاِنْسَانُ ضَعِيْفَا (النساء: 28).

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia dijadikan bersifat lemah”.

Untuk mengantisipasi kelemahan manusia, kemustahilan menguasai seluruh informasi yang diperlukan bagi kehidupan, keterbatasan kemampuan intelektual ini, pada muatannya sendiri itu membuat semakin parah kelemahan in heren itu. Karena itu manusia mustahil mencapai pengetahuan hakiki tentang wujud mutlak[24].

Kesulitan untuk menghadapi tantangan dihadapan manusia, bagaimana ia bisa mengangkat dirinya mengatasi batasan kultural-kultural yang memperkecil kemungkinan ia melakukan pilihan sejati jalan hidup dengan penuh tanggung jawab. Kecenderungan alami manusia untuk mengarahkan diri kepada pemberi hidup yang mengatur dalam suatu nukhtoh, adalah melalui hakekat iman, karena dengan iman manusia meningkatkan nilai individualnya melalui penajaman rasa tanggung jawab pribadi, ia mewujudkan tugasnya memikul beban suci kehidupan bersama antara sesamanya (menjalin cinta kasih) yang melandasi kesadaran sosial dan nilai luhur yang mendalam, sebagai khalifah di bumi[25].

Menerapkan peranan moral dalam ekonomi Islam, harus melihat kepada perilaku manusia sebagai subjek, karena moral merupakan peranan yang terpenting bagian dari sifat manusia dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya yang terkait dengan sosial ekonomi yang penting pada masa sekarang ini. Dimana sumber daya manusia, yang mulanya merupakan keluarga rumah tangga, lalu berkembang menjadi keluarga bangsa dan keluarga dunia (kemanusiaan), membutuhkan dari perwujudan dalam menciptakan suatu kesejahteraan dan kemamuran, baik jangka panjang maupun jangka pendek dengan peraturan yang baik dan adil, untuk memenuhi kehidupan manusia[26].

Menurut Imam Rofi’i, bahwa urutan atau upaya menyeluruh yang berkaitan dengan kepentingan dan kebutuhan hidup atau kemaslahatan, baik yang bersifat keagamaan, maupun yang bersifat keduniaan itu tergantung kepada penataan kehidupan manusia, antara lain upaya-upaya yang terpenting itu adalah sebagai berikut :

Upaya menghindarkan kemelaratan rakyat dengan memenuhi kebutuhan sandang pangan dari sumber pembiayaan zakat dan baitul mal belum mampu teratasi.

Upaya menegakkan berbagai macam pekerjaan dan mata pencaharian, pertukangan dan industri, semuanya itu merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Di sini terkait pula makna kewajiban bersama untuk menyediakan lapangan kerja sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pengawasan umum (kontrol) sosial dalam bentuk ‘amar ma’ruf dan nahi munkar, untuk memelihara tegaknya moral, norma kehidupan yang baik dan etika kehidupan bersama.

Pendidikan dan pengajaran, bimbingan dan penyuluhan untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat[27].

Dengan beberapa upaya itu, maka kebutuhan dan kepentingan moral kehidupan manusia dalam etika ekonomi Islam tercipta dengan baik. Para ulama dan cendikiawan muslim berbeda pendapat dalam pekerjaan apa yang paling utama dilakukan oleh manusia, apakah pertanian, perindustrian atau perdagangan yang berkaitan dengan perilaku (moral), demi meningkatkan ekonomi, khususnya bagi kesejahteraan masyarakat pada umumnya.

Dalam memberikan pemikiran menghadapi persoalan pelaksanaan ekonomi menjadikan prioritas absolut dalam waktu, tempat pribadi dan kondisi betapapun mempunyai rumusan yang disepakati pada waktu tertentu. Pengaruh lingkungan dan sosial kemasyarakatan perlu dipertimbangkan karena sumber daya manusia sangat vital dan perlu diperhitungkan. Setiap keutamaan dalam melakukan masing-masing amal perbuatan yang dikerjakan oleh manusia terdapat dasar keutamaannya, contoh tentang perindustrian terdapat dalam hadits Rasulullah SAW, yang telah diriwayatkan oleh al Miqdad R.A. Ibn Ma’di Yakriba sebagai berikut :

ما أكل احد طعاما قط خير من عمل يده وان نبى الله داود عليه السلام كان يأكل من عمل يده (رواه احمد فى مسنده).28

“Seseorang tidak makan makanan, lebih baik ia memakan dari hasil tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Daud a.s  makan dari hasil tangannya sendiri” (Hadits telah diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya). [28]

 

Dan juga hadits tentang pertanian, yang telah diriwayatkan oleh Anas.ra :

مامن مسلم يغرش غرشا او يزرع زرعا فيأكل منه طير أو إنسان اوبهيمة الاكان له به صدقة (رواه مسلم).29

“Tidak ada seorang muslim yang menanam tanaman atau menyemaikan semaian, lalu dimakan burung, manusia atau binatang ternak, kecuali hal itu baginya merupakan shadaqah” (Hadits telah diriwayatkan oleh Muslim). [29]

 

Demikian juga tentang hadits Nabi Muhammad SAW mengenai perdagangan, telah diriwayatkan oleh Abi Sa’ad sebagai berikut :

التاجر الصدوق يحشر مع النبييّن والشهدآء (رواه الترمذى والحاكم). 30

“Seorang pedagang yang jujur akan dikumpulkan (di alam akhirat kelak) bersama para Nabi, shiqqidin dan para syuhada” (Hadits telah diriwayatkan oleh At Turmudzi dan al Hakim). [30]

 

Berdasarkan hadits di atas ditemukan bahwa diantara para ulama dan cendekiawan muslim ada yang mengutamakan salah satu dari ketiga hadits tersebut yang keutamaannya sejauh mana pekerjaan (‘amal) itu dibutuhkan oleh masyarakat. Misalnya kalau dalam kondisi kekurangan pangan, maka pertanian lebih diutamakan dari pada perindustrian dan perdagangan untuk menanggulangi (mencegah) masyarakat dari kelaparan.

Selain untuk mengamankan sektor pangan khususnya dalam krisis bahan pangan disuatu negara, mempertahankan sektor pertanian dalam kondisi seperti ini merupakan ‘amal yang utama. Demikian juga sebaliknya, sekiranya pangan sudah melimpah, sektor pertanian berkembang dengan baik, masyarakat membutuhkan dalam produksi industri untuk mencukupi kebutuhan ummat Islam, supaya jangan terus menerus tergantung pada negara lain, menyerap tenaga kerja, mempertahankan kehormatan bangsa dan membutuhkan guna peralatan perang. Maka dalam kondisi yang demikian sepatutnya perindustrian perlu diutamakan dan inipun mewrupakan bagian dari ‘amal perbuatan yang utama pula[31].

Sektor perdagangan dalam ekonomi Islam, merupakan lahan yang sangat vital dalam perkembangan dan kemajuan, kedua setelah sektor perindustrian. Disamping masyarakat membutuhkan pengangkutan hasil-hasil produksi dari suatu daerah ke daerah yang lain atau dari suatu negara ke negara lainnya. Sektor ini merupakan mediator yang baik antara industrialisasi dan konsumen. Demikian juga jika barang-barang dipasaran dikuasai oleh pedagang-pedagang yang tidak dapat dipertanggungjawabkan moralnya, ia ingin menguasai sendiri dengan mempermainkan harga barang yang tidak sesuai dengan apa yang telah digariskan, baik oleh agama, maupun negara[32].

Setelah diuraikan mengenai permasalahan etika ekonomi Islam, maka dalam hal ini para ulama dan cendekiawan muslim belum dapat memberikan penjelasan secara tegas, peranan etika atau moral yang bagaimana yang diutamakan dalam ekonomi Islam. Karena dalam Al-Qur’an dan hadits hanya menjelaskan secara global bahwa manusia, aakah ia akan memperoleh semua yang ia dambakan dan yang ia inginkan di dunia ini dapat tercapai, ataukah ia akan mencapainya di akhirat kelak. Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam surat Fushshilat, ayat 31, sebagai berikut :

نَحْنُ أَوْلِيَآؤُكُمْ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى اْلأَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيْهَا مَاتَشْتَهِى أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيْهَا مَاتَدَّعُوْنَ (فصلت: 31).

“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya yang kamu minta”.

Mengapa manusia tidak pernah bisa mendapatkan semua yang diinginkannya di dunia.

M. Nawawi al Jawi[33] menjelaskan tafsir ayat tersebut dalam bukunya Tafsir al ‘Adzim sebagai berikut :

… Kami paling dekatnya kerabat-kerabat kepadamu, Kami bangunkan kamu dari tidur, Kami bebankan kepadamu shalat dan puasa, Kami jauhkan perbuatan-perbuatanmu atas dosa-dosa dalam kehidupan di dunia, Kami menolak segala kesulitan yang menimpa dirimu dan juga Kami datangkan segala kesenangan bagimu di dalam akhirat, karena mendapat syafa’at,… Di dalam syurga, kamu memperoleh apa yang diinginkan dari sejumlah kenikmatan, karena kamu menahan segala kenikmatan itu sewaktu berada di dalam kehidupan dunia dari segala nafsu serakah yang menggodanya. Dan di dalam syurga kamu memperoleh pula apa yang kamu minta (yang dibutuhkan)

 

Dalam ayat lainnya Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an, surat As-Shura’, ayat 27, sebagai berikut :

وَلَوْ بَسَطَ اللهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِى اْلأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَايَشَآءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيْرٌ بَصِيْرٌ (الشورى: 27).

“Dan jikalau Allah SWT melapangkan rizki kepada hamba-hambaNya tentulah mereka akan melampaui batas d muka bumi, tetapi Allah SWT menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (kedaan) hamba-hambaNya lagi Maha Melihat”.

 

Dari penjelasan ayat tersebut, jelas bahwa sesungguhnya harta benda itu sangatlah sedikit untuk ditempatkan di dalam kebenaran dan selain kebenaran, setiap kelebihan itu akan selalu menimbulkan hal yang terabaikan.

M. Nawawi al Jawi[34] dalam menjelaskan tafsir ayat tersebut sebagai berikut :

…Dan andaikata Allah menyamakan rizki semua manusia, maka tidak akan terjadi seseorang menjadi khadam (bekerja) pada sebagian yang lainnya, dan jika urusan itu menjadi demikian, maka dunia akan hancur dan juga tidak adanya kemaslahatan di dunia ini”…

Selanjutnya ia mengatakan :

…”Sesungguhnya Allah SWT mengetahui keadaan manusia sampai dengan akhir kehidupan mereka, maka Allah SWT (Dia) menentukan rizkinya sesuai dengan kemas-lahatannya”.[35]

 

Kemaslahatan kehidupan hamba-hambaNya, baik di dunia maupun di akhirat nanti adalah merupakan tujuan syari’at Islam. Hal itu diungkapkan Syatibi dalam bukunya sebagai berikut :

…”Sesungguhnya tujuan syari’ah, adalah sekaligus hanya untuk kemaslahatan hamba-hambaNya, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat”.[36]

Selanjutnya As Syatibi[37] menjelaskan tujuan syari’ah sebagai berikut :

“Dan tujuan syari’ah tidak melampaui tiga bagian. Pertama dharuriyah. Kedua Hajiah dan ketiga tahsiniyah”

 

Jelasnya dalam masalah ruang lingkup etika ekonomi Islam, harus dibatasi sejauh mana kemampuan berbagai sumber yang ada untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia itu terletak pada tiga hal, antara lain : 1. Tingkat dharuri (primer), 2. Tingkat khajiyah (sekunder) dan 3. Tingkat tahsiniyah (pelengkap).

A.M. Saefudin[38] mengatakan bahwa dalam sistem ekonomi Islam ada lima instrumental yang strategis yang mempengaruhi tingkah laku ekonomi seorang muslim, masyarakat dan pembangunan ekonomi pada umumnya, yaitu zakat, larangan riba, kerjasama ekonomi jaminan sosial dan peranan negara. Dalam hal ini akan dijelskan secara singkat dua diantaranya. Pertama kerjasama ekonomi. Kerjasama merupakan watak masyarakat ekonomi menurut ajaran Islam. Kerjasama itu harus tercermin dalam segala bidang kegiatan ekonomi produksi, distribusi baik barang maupun jasa. Salah satu bentuk kerjasama yang sesuai dengan ajaran Islam adalah qirad, yaitu kerjasama antara pemilik modal atau uang dengan pengusaha yang mempunyai keahlian, keterampilan atau tenaga dalam melaksanakan unit-unit ekonomi atau usaha.[39] Dalam dunia ekonomi, qirad dikenal dengan sebutan penyertaan modal (participatory loan) tanpa beban bunga. Kerjasama ini didasarkan pada profit-loss sharing (penyertaan untung-rugi) atas satu usaha kegiatan ekonomi yang disepakati bersama. Karena itu dalam qirad, pemilik modal adalah mitra (partner) pengusaha, bukan pihak yang meminjamkan uangnya dengan imbalan bunga.[40] Kedua pelarangan riba. Dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah (2), ayat 275 Allah SWT berfirman:

وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَوا … (البقرة: 275).

“Allah menghalalkan jual beli dan melarang riba …”

Demikianlah beberapa pendapat mengenai masalah bunga dalam hubungannya dengan riba. Karena bervariasinya pendapat-pendapat itu, maka Bank Pembangunan Islam yang mulai berjalan sejak 20 Oktober 1975, tidak lagi menyebut interest atau bunga untuk jasa yang dipinjam dari padanya, tetapi administration fee, yakni biaya administrasi yang akan dipergunakan untuk gaji pegawai dan pengeluaran-pengeluaran lain yang berhubungan dengan kegiatan bank tersebut.[41] Sejak tahun 1974 terdapat usaha yang sungguh-sungguh di kalangan cendekiawan muslim dan pemeluk agama Islam untuk menegakkan dan mengamalkan hukum dan peraturan Islam dalam bidang perbankan. Para ahli hukum Islam, ahli ekonomi baik teoritisi maupun praktisi, terutama mereka dipandang ahli dalam perbankan bersatu dan bekerja keras untuk melakukan percobaan mendirikan bank tanpa bunga (banking without interest).[42]

Dalam syari’at Islam juga membahas hukum, baik usaha dalam bidang ekonomi, maupun makanan dan minuman diperintahkan hendaknya, yang baik-baik dan halal. Hal itu ditegaskan berdasarkan firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah (2) ayat 177 :

يَآَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَارَزَقْنَاكُمْ (البقرة: 177).

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami telah berikan kepadamu”.

 

Dari ayat tersebut, maka jelas bahwa untuk manusia muslim diperintahkan dalam usahanya, baik dalam bidang ekonomi, maupun yang lainnya hendaklah di jalan yang baik, supaya dipergunakan serta makan dan minumnya adalah yang didapat dari jalan yang halal.

Dari uraian di atas dapat dipahami, bahwa sistem ekonomi Islam adalah bersumber dari syari’at Islam (al-Qur’an dan al-Hadits) dan dikembangkan oleh pemikiran ulama yang memenuhi syarat dalam bidangnya.

Karena etika dan ketidakmampuan berbagai sarana pemenuhan kebutuhan manusia itu timbul akibat manusianya belum dan tidak dibekali berbagai kebutuhan yang cukup memadai, maka dengan demikian dapat dinyatakan, jika manusia itu diibaratkan sebagai ornamen-ornamen yang mandiri dan independen secara sempurna, yang setiap satuannya mencerminka individualistis, maka ornamen-ornamen yang independen itulah yang membentuk diri manusia yang dapat melaksanakan ekonomi Islam yang baik.

Jika keadaan itu sebaliknya, maka tidak akan diharapkan manusia-manusia yang demikian melaksa-nakan ekonomi Islam dengan secara baik. Hal demikian itu dijelaskan Al-Qur’an dalam surat al-A’raf ayat 96, sebagai berikut :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى اَمَنُوْا وَتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكتٍ مِنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ (الاعراف: 96).

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman, bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.


 

 

 

 




[1] Zainal Abidin Ahmad, Dasar-dasar Ekonomi Islam (Jakarta, Bulan Bintang, 1979), hal. 17-18.

[2] Ibid, hal.19

[3] Abi Daud Sulaiman Ibn Al-Asy’at,  Sunan Abi Daud (Qahirah, Daru al-Fikr, t.t.) jilid II, h. 120-121.

[4] Yusuf Qardhawi, Musykilatul Faqri wa Kaifa’alajaha’l Islam, (Beirut) hal. 57-59.

[5] Op Cit, hal.24.

[6] M. Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf, (Jakarta, UI Press, 1989), hal.1.

[7] Ibid, hal. 2.

[8] Ibid, hal. 4.

[9] Syafrudin Prawiranegara, Sistem Ekonomi Islam (Jakarta, Publicita, t.t), hal. 10-15.

[10] Yusuf Qardhawi, Norma dan etika Ekonomi Islam (Jakarta, Gema Insani Press, 1997), hal.2.

[11] Ali Fikri, Al Mu’amalah al Madiyah wa al Adabiyah (Mesir, Musthâfâ al Bâbî al-Halâbi, 1938), jilid I, h. 3.

[12] M. Djumhana, Hukum Ekonomi Sosial di Indonesia (Bandung, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1944), hal. 4.

[13] Op Cit, h. 52.

[14] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al Adzim (Beirut, Libanon, Daaru al Fikr, 1987), jilid I, hal. 447.

[15] Al-Syatibi, Al-Muwafaqat fi Ushul al-Ahkam, (Daru al-Fikr, t.t.), Jilid II, h. 4-

[16] Ibid, h. 15.

[17] M. Quraisy Syihab, Wawasan Al-Qur’an (Jakarta, Mizan, 1996), hal. 407.

[18] Ibid, hal. 407.

[19] Ibid, hal. 408.

[20] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al Adzim, (Beirut Libanon, Daaru al Fikr, 1987), jilid III, hal. 176.

[21] Op Cit, hal. 408.

[22] Op Cit, hal. 402.

[23] Op Cit, hal. 403.

[24] Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta, Yayasan Paramadina, 1995), hal. 306.

[25] Ibid, hal. 307.

[26] K.H. Ali Yafie, Menggagas Fiqh Sosial (Jakarta, Mizan, 1994), hal. 202.

[27] Ibid, hal. 203.

[28] Abi Bakr As Suyuthi, Al-Jami As Shaghir, (Beirut, Daaru al Fikr, t.t), jilid II, hal. 143.

[29] Imam Muslim, Shahih Muslim, ( ___, Daru al-Sya’bi, t.t.), Jilid IV, h. 6.

[30] Abi Bakr As Suyuthi, Al-Jami As Shaghir, (Beirut, Daaru al Fikr, t.t), jilid I, hal. 134.

[31] Yusuf Qardhawi, Fiqh Prioritas Urutan ‘Amal Yang Terpenting dari Yang Penting (Jakarta, Gema Insani Press, 1996), hal. 135.

[32] Ibid, hal. 136

[33] M. Nawawi al Jawi, Tafsir al Munir Lima’alimi al Tauzih, (Kairo, Daaru Ihyaa al Kutubu al Arabiyah, t.t), Jilid II, hal. 262.

[34] Ibid, hal. 270.

[35] Ibid, hal. 270

[36] As Syatibi, Op.cit., h. 2.

[37] Ibid, hal. 5.

[38] A.M. Saefudin, Op.cit., h.. 66.

[39] M.Daud, Op.cit., h. 15.

[40] Ibid, h. 15.

[41] Ibid, h. 14.

[42] Ibid, h. 14.

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: