Bab 02 |Kondisi Jazirah Arab Sebelum Islam (Bag. 2 dari 8)

🌍 BimbinganIslam.com
Jum’at, 24 Rabi’ul Awwal 1438 H / 23 Desember 2016 M
👤 Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
📗 Sirah Nabawiyyah
📖 Bab 02 |Kondisi Jazirah Arab Sebelum Islam (Bag. 2 dari 8)
▶ Link Download Audio: bit.ly/BiAS-FA-Sirah-0202
~~~~~~

KONDISI JAZIRAH ARAB SEBELUM ISLAM (BAG 2 DARI 8)

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, ونتوب إليه وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ
مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لا نبي بعده.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
فإن اصدق الحديث كتاب الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَاتٍ بدعة وكلّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ وكلّ ضلالة في النار

Para Ikhwān dan Akhawāt yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Alhamdulillāh, kita masuk tentang sirah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Di zaman kabilah Khuza’ah inilah terjadi kesyirikan yang dibawa oleh pemimpin mereka yang bernama ‘Amr bin Luhay Al Khuzā’i (nanti akan kita sebutkan tentang kisahnya). Dan Khuzā’ah menguasai urusan Ka’bah sekitar 300 tahun atau sampai ada yang mengatakan 500 tahun.

Tatkala itu kemana anak-anaknya Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām?

Anak-anaknya Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām akhirnya menjadi orang-orang (suku) Quraisy.

Tatkala terjadi peperangan, anak-anaknya Ismā’īl ‘alayhissalām, mereka menjauh dan tidak mengikuti peperangan.

Di masa pemerintahan Khuzā’ah menguasai Ka’bah, maka mulailah ada seorang diantara mereka yang bernama Qushay bin Kilāb, nenek moyangnya Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

⇒ Nama Nabi Muhammad adalah Muhammad bin ‘Abdullāh bin ‘Abdil Muththalib bin Hāsyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilāb.

Jadi Qushay ini adalah orang yang pertama dari nenek moyang Nabi yang mengumpulkan orang-orang Quraisy untuk berkumpul di kota Mekkah menyusun kembali kekuatan mereka. Mereka adalah keturunan Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām yang tersebar kemudian dikumpulkan oleh kakek moyang mereka yang bernama Qushay bin Kilāb.

Akhirnya setelah mereka memiliki kekuatan kemudian mereka dibantu oleh Qudha’ah maka mereka mulai menyerang Bani Khuzā’ah untuk kembali merebut Ka’bah, karena sebenarnya yang berhak menguasai Ka’bah adalah Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām.

Bukankah Jurhum yang datang pertama kali menemui Hajar. Hajar mengatakan, “Ini air milik kami, kalian hanya bertamu ditempat kami.”

Jadi yang berhak menguasai adalah Hajar dan Ismail.

Oleh karenanya sebenarnya yang menguasai adalah anak-anak keturunan Ismā’īl ‘alayhissalām yaitu orang-orang Quraisy.

Maka tatkala Qushay berhasil mengumpulkan orang-orang Quraisy bersama dibantu kabilah yang lain maka mereka pun menyerang Khuzā’ah dan akhirnya Khuzā’ah pun terkalahkan saat itu.

Maka kepengurusan Mekkah beserta Ka’bah dipegang oleh orang-orang Quraisy yang dipimpin oleh Qushay bin Kilāb (kakek moyangnya Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Kemudian Qushay bin Kilāb membagi kepengurusan Ka’bah dengan bentuk pemerintahan kecil-kecilan, yaitu:

√ Ada bagian tentang siqāyah, memberi minuman kepada jama’ah haji.
√ Tentang rifadhah (memberi makanan kepada jama’ah haji).
√ Tentang hijabah (tentang Ka’bah, kapan Ka’bah dikasih Kiswah misalnya, kapan Ka’bah dibuka atau ditutup pintunya).
√ Tentang liwā’ (orang yang memegang kepemimpinan di dalam peperangan).

⇒ Qushay bin Kilāb membagi kepengurusan Ka’bah ini kepada anak-anaknya.

Tatkala Qushay bin Kilāb telah mencapai masa tua, maka dia memberikan kepengurusan kepada anaknya yang tertua yaitu ‘Abduddār.

Qushay bin Kilāb memiliki 4 orang anak:

⑴ ‘Abduddār
⑵ ‘Abdul Manāf (kakek moyang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam)
⑶ ‘Abdusysyams
⑷ ‘Abd

Tatkala ‘Abduddār meninggal dunia maka terjadi perselisihan diantara anak-anak mereka. Anak-anak ‘Abduddār berselisih dengan anak-anak ‘Abdul Manāf.

Maka merekapun  terpecah menjadi 2 golongan, sebagian mendukung anak-anak ‘Abduddār dan sebagian mendukung anak-anak ‘AbdulManaf dan mereka saling membuat sekutu, bahkan mereka bersumpah.

⇒ Ada yang disebut Halful Muthayyibīn, yaitu anak-anaknya ‘Abdul Manāf. Mereka berkumpul kemudian mereka mencelupkan tangan mereka di sebuah tempat yang berisi minyak wangi maka dikenal dengan Muthayyabīn. Kemudian bersumpah untuk berperang melawan saudara-saudara mereka sendiri.

⇒ Sementara anak-anak ‘Abduddār bersama kelompoknya mereka bersumpah juga dengan cara yang sama, namun bukan dengan minyak wangi, tetapi dengan darah, mencelupkan tangan mereka ke darah, dan bersumpah untuk melawan saudara mereka sendiri.

Terjadi perselisihan namun akhirnya merekapun damai dan mereka bersepakat bahwasanya rifadah dan siqāyah diberikan kepada Bani ‘Abdil Manāf.

Mereka tahu, kepengurusan terhadap Ka’bah adalah perkara yang mulia. Sejak dahulu mereka mengagungkan Ka’bah.

Padahal nanti kita bacakan sejarah mereka, bukan mereka mendapatkan uang dari Ka’bah tetapi mereka mengeluarkan uang untuk memberi makanan dan minuman kepada jama’ah haji dan ini kebanggaan, untuk mereka.

Bahkan mereka rela berbunuh-bunuhan demi memperoleh kebanggan ini. Ini terjadi sudah sejak zaman dahulu.

Karenanya, setelah mereka damai, maka pembagian tugas dibagi 2,

⑴ Bagian siqāyah dan rifadah (memberi makanan dan minuman) diberikan kepada Bani ‘Abdul Manaf.
⑵ Adapun mengenai kepengurusan Ka’bah, masalah peperangan, liwa’, sadana dan hijabah, kunci Ka’bah diserahkan kepada Bani ‘Abduddār.

Maka damailah mereka.

Di situlah muncul seorang yang bernama Hāsyim. Hāsyim adalah putranya ‘Abdul Manāf (kakek moyang Nabi). Hāsyimlah yang memegang siqāyah dan rifadah, maka diapun yang terkenal tatkala itu di Jazirah Arab. Namanya terkenal baik karena memberi makanan dan minuman. Hāsyim terkenal sebagai orang yang sangat baik.

Setelah Hāsyim meninggal dunia maka diserahkan kepada saudaranya Al Muthallib.

Jadi  ‘Abdul Manaf mempunyai 4 orang anak laki-laki, yaitu:

⑴ Hāsyim
⑵ Al Muththalib
⑶ ‘Abdusysyams
⑷ Naufal

Kemudian Al Muththalib, setelah meninggal dunia diberikan kepada anaknya ‘Abdul Muththalib (kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Waktu ‘Abdul Muththalib meninggal dunia, diserahkan kepada anaknya, Al ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib (paman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

Inilah sekilas tentang bagaimana sejarah kakek moyang Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Adapun kondisi keagamaan sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka penuh dengan kerusakan dan kesyirikan.

Memang ada sifat-sifat baik mereka, sebagaimana telah saya isyaratkan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang mengagungkan Ka’bah, bangga bisa membantu memberi makan kepada jama’ah haji.

Kita cukupkan sampai sini saja, In syā Allāh besok kita lanjutkan lagi.

Wabillāhi taufīq walhidayah.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة


◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah…
Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah

⑴ Pembangunan dan Pengembangan Rumah Tahfizh
⑵ Support Radio Dakwah dan Artivisi
⑶ Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia

📝 Silakan mendaftar di :

Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah
🌎www.cintasedekah.org
👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/

📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

Beri Nilai Artikel Ini:

Leave a Reply

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
%d bloggers like this: